Senin, Februari 20

Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 2)


11-17 Agustus 2013
“Selamat Pagi Kakak”

               Kanikeh memang sudah tampak lebih modern. Terdapat bangunan Sekolah Dasar, balai desa, dan gereja. Semua penduduk disini sudah beragama kristen. Berbeda dengan Huaulu yang masih Animisme, padahal Kanikeh berada lebih jauh di pedalaman. Dua hari pertama kami habiskan dengan berbagai persiapan, pembagian rumah tinggal, penjelasan maksud dan tujuan kepada sekretaris desa, Bapak Sonri. Lucunya, Raja Kanikeh tidak tinggal di sini, justru di Desa Wai Putih-putih yang terletak di dekat pantai. Desa Wai putih-putih adalah pecahan desa Kanikeh yang berada di bawah, penduduknya juga berasal dari Kanikeh. Konon banyak orang yang tadinya tinggal di Kanikeh setelah turun ke Waiputih-putih tidak kembali lagi ke atas. Wah, mungkin Kanikeh bisa punah jika begini terus.
                Hari ketiga kami melakukan upacara adat, yang wajib dilakukan pendatang yang akan berkegiatan apapun di sekitar sini, termasuk pendakian Gunung Binaiya. Upacarnya disebut upacara sirih pinang yang dilakukan di rumah adat, upacara yang saya pikir dihadiri orang sekampung ternyata hanya kami dan bapak ibu adat. Ditemani pak Son dan bapak guru. Upacara hanya sebatas “perestuan” akan kegiatan yang kami lakukan. Bapak adat memegang kain merah dan mengucap “doa” dalam bahasa mereka. Setelahnya kami dipersilahkan mengunyah sirih dan pinang beserta bubuk kapur yang membuatnya menjadi berwarna merah. Ugh, rasanya aneh, daripada berlama-lama di mulut langsung saja saya telan tanpa dikunyah halus. Setelahnya ludah saya memang jadi berwarna merah, padahal hanya beberapa kunyahan. Dan beberapa saat saya menertawakan apa yang telah kami lakukan, teman-teman saya juga tampak berekspresi aneh ketika mengunyahnya. Kebiasaan masyarakat pegunungan sini adalah “nginang” sperti merokok, mereka harus menginang setiap waktu, hingga banyak bekas ludahan yang berwarna merah di tanah tanah. Awalnya tampak menyeramkan setiap melihat mereka meringis karena gigi yang kemerah-merahan lebih terlihat seperti darah.

Upacara adat yang ditutup dengan menyantap sirih pinang
                Suatu sore kami diundang ke rumah Pak Son untuk menikmati sebuah cemilan bernama Kana, terbuat dari sagu dan kelapa yang dibakar sehingga terasa renyah. Entahlah, ketika itu rasanya enak, mungkin sedang lapar. Padahal rasanya hambar. Lalu kami bernyanyi bersama-sama dengan seorang musisi lokal yang pandai bermain sejenis ukulele padahal ia buta. Masyarakat timur memang memiliki suara yang merdu. Kami bernyanyi dari lagu timur hingga lagi wajib nasional (supaya sama-sama bisa bernyanyi), kami bernyanyi hingga larut malam, hingga semua warga kampung berkerumun di depan rumah. Mungkin suara kami memang terdengar seluruh desa dan membuat mereka penasaran dengan orang-orang asing yang baru datang ini.

Candle Light dinner: pesta papeda di rumah Pak Sonri
   
                 Menjelang 17 Agustus, setiap rumah mendirikan tiang bendera di depan rumahnya masing-masing. Sekolah memang sedang libur, namun pada tanggal 17 kami berupacara di  halaman sekolah, begitu pula seluruh warga kampung. Halaman sekolah cukup untuk seisi desa berbaris dengan hikmat. Padahal sebelumnya tidak pernah dilakukan upacara 17-an, tahun ini memang sedikit istimewa karena kehadiran seorang bapak guru dan seorang nona guru yang mempersiapkan pelaksanaan upacara ini. Saya pribadi juga telah lama tidak merasakan upacara betulan setelah lulus SMA. Melihat bocah-bocah SD yang menjadi petugas upacara, pemimpin upacara yang grogi, dan kami berbaris tepat di samping barisan kelas satu yang kecilnya minta ampun. Saya ingin selalu tertawa melihat wajah-wajah mereka, wajah-wajah generasi penerus Kanikeh. Dengan seragam yang lusuh, ada yang bersepatu ada yang tanpa alas kaki. ada yang takut-takut ketika kami berusaha senyum ke arah mereka. Setelah upacara barulah pesta dimulai. Ada beberapa pentas seni dari anak-anak, joget poco-poco, juga tari-tarian lucu dengan kostum jerami-jerami. Lalu kami diminta nona guru untuk menjadi panitia perlombaan. Dengan senang hati kami mengurusi anak-anak itu. lomba balap karung, sendok kelereng, memasukkan paku ke dalam botol, dan lomba joget balon. Dan membuat kami berkeringat karena matahari begitu terik, tapi kami senang melihat tingkah mereka yang kocak. Barulah setelah diumumkan pemenang lomba, kami dipersilahkan menyantap hidangan yang dibuat oleh mama-mamanya. Pisang goreng tanpa rasa karena masih muda, ubi-ubian dan daging rusa. Sayangnya sebagian anggota tim tidak bisa mengikuti perayaan ini karena sedang melakukan program summit Binaiya.

Upacara 17 Agustus bersama seluruh penduduk desa
Pengibaran bendera merah putih
Lomba kelereng. Salah satu anak yang wajahnya mengingatkan saya pada tokoh kartun
Lomba balon joget
                Beruntung seorang pendamping dari Taman Nasional, Bang Ato, menyusul kami di Kanikeh. Dan mari saya perkenalkan tokoh baru, Bang Ato ini banyak membantu kami dalam pelaksanaan kegiatan ini. Beliau seorang polisi hutan yang sering berpatroli ke lapangan. Beliau juga pernah bertemu saya dalam sebuah kursus speleologi di Yogyakarta (diklat ASC XVI). Jadi kami memang sudah saling kontak sejak sebelum pelaksanaan ekspedisi.

18-23 Agustus 2013

“Dunia Lumut”
                Setelah perayaan 17-an, saya dengan 4 anggota tim lain serta Bang Ato berangkat ke atas dengan tujuan puncak. Tim yang lain melakukan kegiatan di Kanikeh. Perjalanan ke puncak memakan waktu 3 hari karena barang bawaan yang cukup berat sedikit menghambat kecepatan (terutama) saya. Rencana setelah memuncak ini saya bersama anggota tim caving akan melanjutkan kegiatan di camp Waihuhu untuk kegiatan survei goa dan pemetaan. Sebelum menuju puncak, akan ada 3 camp yang harus dilewati, camp Waisanutuni, camp Waensela, dan camp Waihuhu. Jadi barang bawaan kepentingan caving seperti logam-logaman yang amat berat ini kami bawa hingga Waihuhu. 2 hari pertama kami habiskan di camp Waensela dan Waihuhu. Medan perjalanan tidak jauh-jauh dari yang namanya lumpur. Baru keluar dari kanikeh saja saya sudah kotor berlumuran lumpur karena sering jatuh. Baru di hari ketiga kami lanjutkan perjalanan ke puncak tanpa membawa beban berat yang kami tinggal di Waihuhu.


Perjalanan ke puncak
                Perjalanan ke puncak lebih menyenangkan daripada 2 hari sebelumnya, tentu selain karena ringan tidak membawa beban, pemandangan juga lebih menarik karena ketinggian telah mencapai 2000 meter ke atas. Kiri kanan terlihat cantik karena tanah dan pohon diselimuti oleh berbagai macam jenis lumut. Lumutnya empuk, dan secara alami terbentuk bentukan-bentukan mirip sofa, atau kasur yang kadang dengan seenaknya kita tidurin. Kata Bang Ato jalur pendakian selatan lebih kaya akan lumutnya, lebih bagus dari yang kita lihat sekarang. Lain kali harus dicoba. Sesekali juga terdengar cicitan burung nuri yang ramai karena tahu ada manusia-manusia sedang berjalan di bawah mereka. Medan semakin terjal karena sudah dekat dengan puncak, yang tadinya vegetasi pohon dan lumut berubah menjadi bebatuan yang mudah tergelinding, harus super hati-hati melewatinya. Kami melihat bangkai seekor anak rusa yang belum membusuk.
                Binaiya memiliki 2 buah puncak yang biasa didatangi pendaki. Puncak 3027 dan 3035, 2 puncak ini berbeda ketinggiannya hanya 8 meter namun terpisah cukup jauh. Dan tujuan kami hanya puncak 3027. Beberapa meter sebelum sampai di puncak 3027, terdapat sebuah kolam besar atau lebih tepatnya genangan air yang jarang kering. Di sekitar genangan air adalah hamparan rumput yang luas. Cukup luas bagi saya untuk bisa berguling-guling di atasnya. Lokasi ini dinamakan camp Waifuku. Genangan air ini terbentuk karena bentukan lahan yang cekung, sehingga setiap kali hujan terkumpullah air dari segala sisi area puncak ini. Juga sebagai sumber air makhluk hidup di sekitarnya, kabarnya rusa-rusa juga akan berdatangan untuk minum jika tidak ada pendaki di sekitarnya. Tidak sampai 5 menit dari Waifuku kami mencapai puncak 3027. Dari situ bisa terlihat puncak 3035 dengan jelas. Kami berfoto ria tak sampai 1 jam turun kembali ke Waifuku untuk makan siang. Lalu turun kembali ke Waihuhu dengan riangnya karena tanah yang empuk oleh lumut membuat kami bisa senantiasa bermain-main.

Area puncak 3027, dengan background genangan air
               

24-31 Agustus 2013

“Antah Berantah”
Konsep kegiatan survei goa ini terbagi menjadi 3 termin. Termin pertama kami habiskan 5 hari di Waihuhu, termin kedua 5 hari di Waensela, dan ketiga 4 hari di Waisanutuni. Setelah pemuncakan dimulailah kegiatan survei goa di Waihuhu. Tim dibagi 2, saya kebagian dengan Bang Ato. Tentunya dilengkapi peralatan navigasi seperti kompas, GPS, peta. Kami berjalan ke belantara betulan yang kata Bang Ato belum pernah ada yang kesitu selain kami. Saya memang pernah berangan-angan untuk bisa berjalan di hutan yang ‘beneran’ hutan. Biasanya kan hanya sebatas jalan di jalur pendakian, lewat begitu saja tidak benar-benar mengeksplorasi isi dalam hutan. Agak horor ketika kami menemukan tulang belulang rusa, Bang Ato memprediksi rusa itu bekas dimakan binatang buas, kemungkinan ular besar. Saya langsung parno dan ga berani jauh-jauh dari Bang Ato yang sudah berpengalaman. Tapi lama-lama toh tidak muncul juga hewan-hewan aneh yang saya bayangkan. Malah hutan lebih sepi dari yang saya kira (yaiyalah!). Saya berharap melihat rusa berjalan karena banyak sekali kami melihat jejak-jejak dan kotoran rusa yang masih fresh. Kata Bang Ato rusa berlari lebih cepat dari yang kita kira, bahkan sebelum kita sadar mereka telah kabur mengetahui ada manusia yang akan lewat. Hutan di ketinggian 2000-an sungguh cantik, pepohonan yang tinggi diselimuti lumut hijau juga hawa yang sejuk. Tidak lama kemudian saya mendengar suara deras air. Setelah kami dekati ternyata sungai dengan air terjun yang tidak terlalu tinggi tapi cantik! Kami makan siang disamping air terjun tersebut. Di penghujung hari barulah kami menemukan satu entrance goa di sebuah dolin kecil. Goa tidak terlalu dalam dan banyak reruntuhan batu. Hanya mengecek dan mendata lalu kembali lagi ke camp. Tim satunya juga menemukan 3 buah entrance.


Lebatnya hutan di area Waihuhu.

Barulah sisa hari kami di Waihuhu dihabiskan untuk memetakan 3 buah goa yang telah dipilih. Masuk goa di ketinggian lebih dari 2000 mdpl itu bagai masuk kulkas, batu-batuannya sedingin es. Rasanya kebelet pipis terus. Di atas tanah saja sudah dingin minta ampun, gimana di bawah tanah. Goa di Waihuhu ini rata-rata tidak terlalu dalam, tidak sedalam goa di daerah pantai Seram. Mungkin karena daerah gunung Binaiya ini berusia tua, sehingga sudah banyak tertutup sedimen-sedimen. Sedang di daerah pantai Seram yang masih lebih muda, banyak sekali goa-goa vertikal dalam seperti Hatusaka yang kedalamannya mencapai 300 meter.

Memasuki Gua di Waihuhu.
Selesai di Waihuhu, kami pindah ke camp Waensela yang ketinggiannya lebih rendah. Kondisi hutannya juga sedikit berbeda, lebih banyak semak-semak dan hawa yang tidak terlalu dingin. Kami memutuskan untuk libur pada hari pertama di Waensela. Jadi seharian kerjaannya hanya bersantai dan menikmati suasana hutan. 
Tim Satu Bumi, di depan mulut Gua
Hari kedua di Waensela, juga bertepatan dengan hari lahir saya yang kini mencapai 21 tahun. Di hutan, dan hanya ada tiga orang teman. Mungkin ulang tahun teraneh saya. No signal, no electricity, no facebook, no twitter, tanpa harus khawatir dan harap-harap cemas menghitung berapa orang yang mengucapkan selamat. Bebas. Hutan Waensela yang menunggu untuk dieksplorasi menjadikan saya bersemangat hari itu. Saya dan bang Ato berjalan ke arah puncakan di dekat camp, lalu menjelang puncak kami menemukan suatu hamparan luas tanaman paku-pakuan yang tampaknya terlihat sebagai tempat tinggal rusa. Banyak sekali jejak-jejak kaki rusa yang masih baru, seperti baru saja berlari meninggalkan kami. Dan ketika saya memandangi seluruh kawasan, tanpa sengaja menangkap dua sosok besar bertanduk kokoh yang berdiri sekitar 20 m disamping saya. Yap, saya melihat dua ekor rusa yang juga sedang memerhatikan gerak-gerik kami berdua. Tidak bisa menyembunyikan kekagetan saya, saya berteriak “rusa!” yang sayangnya membuat mereka langsung lari terbirit-birit menjauh. Bang Ato pun hanya sempat melihat sebentar mendngar teriakan saya, dia bilang coba saya tidak berteriak mereka juga akan tetap berdiri santai. Yaah, sedikit menyesal harusnya bisa melihat mereka lebih lama lagi. Tapi, terimakasih Tuhan, akhirnya saya benar-benar melihat rusa liar, saya anggap ini hadiah ulang tahun saya.
Selama berada di Waensela, kami berempat menemukan sekitar 5 buah gua dan memetakannya. Dari 5 gua tersebut, kami katakan mungkin hanya 2 gua yang benar benar ‘cukup panjang’ untuk bisa dieksplorasi. Ada sebuah peristiwa bodoh, dimana pada sebuah gua dengan bentuk vertikal, kami memetakannya hingga hari benar-benar gelap. Karena mungkin lelah dan kurang berhati-hati, ketika sampai di camp kami menyadari data yang saya tuliskan di kertas kodaktris anti air tersebut terhapus pada bagian yang paling penting: arah kompas. Meskipun hanya empat angka yang terhapus, namun sangat fatal akibatnya karena tidak dapat kami gambar secara benar nantinya. Lebih-lebih, itu gua yang paling ‘bagus’ (ornamen dan fauna yang lebih variatif) selama kami menemukan gua dalam kegiatan ini. Sehingga malam itu kami habiskan dengan penyesalan, haha, karena besok adalah jadwal kami berpindah area survey. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan esok hari kami terpisah menjadi 2, 2 orang kembali mengambil data di gua tersebut, dan 2 orang langsung berpindah camp ke lokasi berikutnya: Waisanutuni.
Medan di area ketiga ini lebih datar ketimbang sebelumnya. Ketinggiannya memang lebih rendah sehingga hawanya lebih sumuk. Vegetasi area ini didominasi oleh semak belukar dan rotan! Kami harus lebih berhati-hati karena lebih sulit untuk melewati rotan berduri. Saya pribadi baru merasakan berjalan-jalan di hutan penuh dengan rotan, tanaman yang banyak manfaatnya ini. Saya sempat takjub dengan bentuk tanaman rotan yang sangat panjang melungker-lungker, satu tanaman saja rotannya bisa mencapai panjang puluhan meter. Satu hal yang menarik, di area ini terdapat air terjun Waisanutuni yang memang cukup sering didatangi pendaki. Air terjun ini tingginya 20 meter. Kami diajak Bang Ato melihat air terjun tersebut, dan rekan-rekan lelaki saya langsung mandi-mandi. Saya sih kepengen, tapi nggak punya temen wanita haha. Jadi mending besok saja saya melipir sendirian cari spot di sungai. Harus berani.

Salah satu air terjun yang ditemui.
Hari kedua di Waisanutuni, seperti biasanya kami berpencar untuk mencari gua. Sepanjang penelusuran, hingga siang hari saya dan Bang Ato tidak berhasil menemukan satu gua pun. Kami melihat sebuah tebing dan menduga ada gua pada bagian atasnya karena kami seperti melihat bercak-bercak kotoran kelelawar di tepiannya, namun apadaya kami tidak mengeceknya karena cukup tinggi. Hingga akhirnya kami hanya menelusuri sungai, ke arah atas dan selalu takjub ketika menemukan air terjun-air terjun mini di sepanjang alirannya. Sampai-sampai saya berpikiran untuk membuat divisi susur sungai saja ketimbang susur gua, haha. Ketika hari mulai sore, kami mengeplot posisi kami di peta dan ternyata kami jalan cukup jauh dan hampir masuk area termin sebelumnya di Waensela. Akhirnya kami putuskan kembali lagi ke camp. Di perjalanan pulang Bang Ato mengambil rebung untuk makan malam kami nanti. Sampai di camp, saya melipir ke sungai menjauhi camp untuk mandi yang tetep aja bikin parno meskipun saya tahu tidak akan ada orang di hutan belantara ini yang bakalan mengintip, haha. Malamnya kami pesta makan rebung (bambu muda) dan sayur paku. Kata Bang Ato kami kalo boker bisa-bisa keluarnya pagar (got this joke eh?).
Hari-hari terakhir kami survey gua tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Waisanutuni rupanya masih belum berbaik hati untuk menyingkapkan gua-guanya kepada kami. Karena tidak menemukan satu pun gua, kami memutuskan kembali ke Desa Kanikeh untuk rehat sejenak sebelum lanjut lagi ke Hatu Mere-Mere, area di bawahnya Kanikeh dimana kami melihat bentukan alam yang cukup unik: batu besar di tengah hutan. Teman teman kami yang di Desa Kanikeh heran karena kami kembali lebih cepat dua hari daripada jadwal. Kami pun grasak-grusuk cuci alat dulu di sungai dan packing-packing untuk kembali survey esok harinya ke Hatu Mere-Mere. Perjalanan ke Hatu Mere-Mere tidak lama, satu jam dari Kanikeh kami langsung dapat melihat batuan besar yang langsung kami eksplorasi bagian dalamnya. Lagi-lagi kami tidak menemukan apapun. Hanya batuan besar yang ada di tengah hutan, aneh dan nampak seperti alien. Walhasil hari itu kami langsung kembali lagi ke Kanikeh, dan bergabung bersama tim untuk membantu kegiatan yang mereka lakukan. Masih ada hari besok dimana mereka akan memasang pipa-pipa untuk mengalirkan air dari sungai menuju keran air yang berada di tengah desa.
Ohiya, saya tidak menceritakan dengan lengkap kegiatan yang dilakukan teman-teman di luar tim caving karena saya memang tidak melakukannya langsung. Lebih khususnya kegiatan di desa Kanikeh yang hari-harinya diisi dengan kegiatan belajar mengajar, penelitian arsitektur desa, penelitian sungai, sosialisasi porter, sosialisasi bambu, dan pemasangan pipa air. Pada hari-hari terakhir di Kanikeh di mana persediaan makanan telah habis, dua orang teman saya dibantu anak anak desa berburu bekicot 2 plastik, hoek. Saya sendiri tidak doyan, dan tidak turut memakannya yang berujung dimarahin tim konsumsi yang sudah bersusah payah memasakkannya, haha maafkan saya.


Bagian Sebelumnya:





Senin, Desember 12

Teaser


Oke, awalnya saya malas memberi judul postingan-postingan tidak berfaedah macem gini, tapi ya harus dikasih judul. Masa tinggal ngasih barang satu kata doang susah. Mau jadi apa saya. Nah kan malah mbulet sendiri. Sebenernya malu udah gede gini kualitas tulisannya kok nggak meningkat ya. Tapi ya kenapa banget saya mesti mikirin, hadapilah kenyataan bahwa memang tulisanmu masih begini-gini aja. Ckck. Baiklah. Sebelum saya berantem sama diri sendiri perihal judul, saya mulai saja tulisan tidak berfaedahnya. Dan akhirnya saya nemu judul: teaser. Apalah, haha, agak nggak nyambung.

Jadi, saya mau memperkenalkan blog baru saya (kayak nggak cukup satu aje lu tam). Satu ini aja jarang ngisi banget. HAHA. Tapi ini bukan blog-blog berisi tulisan sih. Jadi lebih kepada photoblog, visual diary, dengan caption yang singkat-singkat saja. Oke sampai detik ini saya masih menolak untuk membuat akun instagram. Tapi saya ternyata pingin ikut-ikutan posting foto. Maklumi saya ya guys, saya juga produk anak milenial. Ya, alasan utama lebih karena saya punya beberapa koleksi gambar yang menurut saya bisa merepresentasi hidup saya tanpa harus secara gamblang mengekspose diri. Karena untuk membuat akun instagram, saya agak malas jikalau harus tertuntut untuk follow orang ketika saya difollow orang. Huaha. Suombong betul.

Orang-orang dekat saya, atau yang sering kepoin blog ini, pasti tahu kalau platform blospot ini media sosial yang paling saya update secara tulus ketimbang yang lain. Jadi saya iklan blog baru di sini pun yang akan langsung menuju kesana adalah kalian kalian yang setia melihat laman ini. Saya akhirnya memilih platform tumblr sebagai sarana photoblog saya, hehe, baiklah maka saya perkenalkan saja photoblog saya (best viewed on desktop). Rada nggak kreatif sih ngasih nama domainnya, tapi ya saya nggak ngerti lagi mesti kasih domain apaan.

Teaser kedua adalah, saya akan melanjutkan cerita perjalanan ekspedisi saya di tahun 2013 lalu. Kurang lama tam, ngelanjutinnya haha. Oke, dilihat-lihat traffic yang paling tinggi selalu ada di postingan catper ekspedisi part satu. Catatan itu adalah hampir sepertiga total cerita utuhnya. Jujur waktu itu saya telah menulis lebih dari setengah. Tapi memang baru sempat posting part satu, waktu itu niatnya bakal diposting lagi jika saya telah menyelesaikan cerita utuhnya, yang tidak pernah terjadi. Hingga akhirnya pas beberes file di hardisk saya menemukannya kembali tulisan yang terlupakan itu. Lalu saya mulai tergerak untuk melanjutkannya lagi. Karena mungkin banyak juga orang nyasar kemari ketika googling dengan kata kunci trip ke Binaiya. udah baca eh nanggung cuma ada part 1 doang. Kan kasian haha. So, I'm still working on this. Semoga nggak terlalu basi karena bagian-bagian akhir saya nulisnya baru baru ini.


Sekian

Sabtu, November 12

Cerita Pagi

Pagi yang dingin tadi saya memutuskan untuk lari pagi di GSP. Pagi tadi Jogja dingin, dan saya harus bergerak. Jadi bersiap-siaplah saya setelah sholat subuh yang memang sudah agak telat karena langit sudah terang, haha.
Lalu saya keluar kamar dan mulai membuka gembok pintu gerbang kosan. Pintu terbuka dan saya dikejutkan oleh dua ekor kucing di dekat pintu yang juga terkejut dan melotot ke arah saya. Lucu! haha. Mereka jadi patung sejenak sebelum akhirnya menghindari saya beberapa meter. Ah, kucing punya tetangga yang lucu tapi sayangnya sombong. Tidak mau dipegang yang bukan pemiliknya. Baru kemudian saya sadar ada banyak laron beterbangan ke segala penjuru. Kucing-kucing ini sedang bermain dan menangkapi laron rupanya.

Saya lanjutkan perjalanan sambil mengamati jalanan. Tampaknya pesta tangkap laron ini juga dimeriahkan oleh peserta lainnya. Selain kucing, ayam-ayam juga bergerombol mematuki laron tanpa sayap yang telah jatuh di tanah. Maju lagi ada rombongan kucing lain yang sedang lompat-lompat. Di lapak yang lain saya juga melihat anak-anak kecil berbekal kantong plastik kresek sedang memunguti laron. Wah, menang banyak dong pakai plastik dik, kucing dan ayam harus kerja lebih keras lagi nih. Ngomong-ngomong ini bocah-bocah nggak pada persiapan sekolah apa? Oh, masih pagi ya, tak ada salahnya menyempatkan diri bermain laron terlebih dahulu.

Jadi tadi pagi cukup meriah, hanya melihat ayam-kucing-anak kecil saja cukup membahagiakan pagi saya. Saya lupa kapan terakhir kali bahagia karena laron. Yang ada sih sering mengeluh karena laron yang bertebaran bikin kotor teras rumah. Atau kesal karena harus repot mematikan lampu yang mengundang ratusan laron. Cuma orang dewasa saja ini yang sekarang hidupnya pada nggak nyantai.

Postingan singkat ini saya dedikasikan untuk laron, yang hidupnya cuma sebentar. Tadinya saya mau update di timeline line tentang pagi tadi. Tapi saya urungkan karena dipikir-pikir nggak penting isinya, haha. Mending tulis di sini saja deh itung-itung menuh-menuhin blog lagi. Anyway, saya mulai uninstall aplikasi path di ponsel pintar saya. Selain karena boros paketan data, hidup saya ternyata lebih tenang tanpa melihat-lihat kehidupan orang. Nanti deh kalo saya mulai kangen dengan teman-teman baru saya install lagi. haha.

Semoga orang-orang dewasa bisa lebih sering berbahagia, juga mampu membuat bahagia tanpa harus mereka sadari.

Kamis, November 10

Overcoming Fear: Sleep Paralyze, and How I Deal With It

Yang sering tindihan atau sleep paralyze mana suaranyaaaaa?

Saya mau cerita, penting nggak penting sih, tentang serba-serbi alam bawah sadar yang pernah saya alami. Ini mungkin kisah singkat saya dalam menangani masalah sleep paralyze atau yang disebut tindihan oleh orang lokal. Saya yakin ada banyak orang pernah mengalami sleep paralyze. Apa yang jika terjadi, otak atau pikiran akan merasa sadar padahal tubuh tidak bisa bergerak. Bagi anda yang tidak pernah mengalaminya, congratulation! karena ini sangat mengerikan. Sangat mengerikan sampai-sampai ketika mengalaminya saya seperti dekat dengan maut dan akan diambil nyawanya. Berlebihan ya? haha.

Sebutlah sejak SD saya mulai mengalami tindihan ini. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain berusaha untuk bangun ketika sleep paralyze terjadi. Artinya saya harus melawan dengan bersusah payah menggerakkan tubuh saya yang notabene masih dalam keadaan off. Tidak mudah, bahkan menggerakkan satu jari saja beratnya minta ampun. Yang pernah mengalaminya pasti paham maksud saya. Nafas seolah tersengal. Ingin berteriak tapi tercekat di tenggorokan, kadang teriakan-teriakan tersebut hanya muncul sebagai suara aneh yang oleh orang disebut mengigau. Menjadi lebih buruk ketika saat kejadian saya berpikir yang aneh-aneh karena sungguh hal yang dipikirkan kala itu menjadi dilipatgandakan. Contohnya, ketika saya tindihan saya mulai berpikir mengenai suara-suara aneh di sekitar saya, dan suara-suara tersebut menjadi demikian nyata terdengar. Jadi jika saya memikirkan suara perempuan tertawa, maka suaranya akan jelas masuk ke telinga saya. Pikiran saya kala tindihan terjadi adalah saya nggak mau mati.

Sebagian orang mengaitkan peristiwa seperti tindihan ini dengan hal-hal mistis. Beruntung sejak dimulainya tindihan saya sudah bisa berpikir lebih rasional untuk mengaitkannya dengan hal-hal logis. Saya dahulu percaya peristiwa ini bisa dijelaskan secara medis meski tidak tahu apa tepatnya. Yang jelas, kondisi otak/syaraf dan tubuh yang tidak sinkron.

Bagaimanapun, selogis-logisnya saya waktu itu TETEP AJA NGERI setiap kali fase-fase tindihan datang. Meski tidak setiap hari, tapi relatif sering untuk kejadian yang tidak saya inginkan. Seringnya terjadi ketika saya memulai tidur malam saya. Kadang muncul di waktu-waktu saya merasa lelah. Bahkan waktu saya mengantuk dan tertidur dalam posisi duduk seusai menjalankan ibadah sholat. Satu dua kali ketika tidur di kelas masa SMP/SMA, haha.

Saya cerita bagian seremnya dulu ya. Ada masa-masa saya cukup lelah dan mulai mengaitkannya dengan hal yang nggak rasional. Sebagai catatan, indra yang sering terasa nyata ketika tindihan adalah pendengaran, lalu penglihatan, dan jika sedang sial, indra peraba pun bisa merasakannya! kenapa sial? karena siapa di dunia ini yang mau ada benda asing muncul dan tersentuh ketika kita bahkan tidak bisa menggerakkan tubuh dan tidak bisa berteriak minta tolong? Sebutlah saya sedang tidur siang di asrama ketika kelas satu. Entah kenapa saya mulai paham akan terjadi tindihan. Saya setengah sadar tanpa bisa bergerak, seperti biasa. Ada yang aneh ketika saya merasa bagian tangan kiri saya terasa sangat berat dan tertindih sesuatu. Saya bahkan tidak dapat menengok untuk melihatnya, namun terasa ada sesuatu yang asing. Saya tidak menyebutnya sosok karena tidak cukup besar untuk itu, tapi semakin saya memikirkan 'itu' adalah sebuah sosok, maka semakin tersirat bayang-bayang rambutnya! saya semakin kencang berdoa, karena tangan kiri saya sungguh merasakan tertindih sesuatu. Entah bagaimana saya berhasil bangun dan turun dari kasur tingkat (posisi kasur saya di atas) lalu langsung keluar kamar dan menangis! teman-teman kamar saya tidak ada di kamar waktu itu. Yang saya heran proses saya berdamai dengan ketakutan tersebut bisa begitu cepat. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menjadi normal kembali dan beraktifitas seperti biasa. Mungkin saking seringnya ya?

Saya ambil dua peristiwa lagi ya yang cukup berkesan. Flashback ke masa SMP yang juga di asrama. Saya sekamar dengan tiga teman saya. Ketika sudah waktunya tidur kami berempat tertib mengenai waktu tidur, sekitar jam 10 malam. Kala itu saya punya kebiasaan aneh menutup mata dengan bantal jika saya menginginkannya. Mungkin juga semacam perlindungan diri agar tidak melihat apapun ketika tindihan. Setelah meletakkan bantal di muka, saya mulai terlelap dan mungkin telah melewati beberapa fase mimpi. Lalu mulailah tindihannya, dimulai dengan suara pintu yang perlahan terbuka (you know how terrible that sound is!). Sayangnya, posisi kasur saya menghadap ke arah pintu, sehingga tubuh saya membujur ke arah pintu dan tidak ada halangan bagi saya untuk memandang langsung ke arah pintu. Babak berikutnya adalah ada sosok yang mengintip. Mari mulai kisah horornya, sosok itu tampak menggunakan mukena selayaknya mukena yang kami gunakan ke masjid. Bisa saja saya berpikir itu pembimbing asrama yang sedang mengecek. Namun saja saya langsung tahu dia bukan mbak-mbak yang saya kenal karena dia seperti menggunakan bedak tebal putih di mukanya. Lalu saya teringat, perasaan tadi saya menaruh bantal di muka saya, seharusnya saya tidak melihat apa-apa kan? Lalu momen itu seperti beku sekian lamanya, kalo boleh bilang, terasa berjam-jam. Saya tidak melakukan hal lain selain berdoa dan berusaha sekuat tenaga untuk bergerak, sementara mbak-mbak asing itu mengintip saya melalui pintu yang setengah terbuka. What the f. Lalu beberapa saat kemudian saya berhasil bangun hanya untuk melihat, saya baru saja tertidur selama 15 menit! dan bantal masih menutup muka saya. Saya masih harus melalui malam yang panjang sebelum hari menjadi normal kembali. Tanpa pikir panjang, saya memutuskan tidur bersebelahan satu kasur dengan teman saya tanpa membangunkannya, karena saya begitu tidak ingin mengganggunya. Barulah pagi harinya saya cerita karena keheranannya menemukan saya di sampingnya.

Oke, satu kisah lagi. Saya sudah kuliah, dan tindihan masih menjadi teman akrab saya. Waktu itu dalam rangka menjadi anggota organisasi pecinta alam, saya bersama teman satu angkatan melakukan perjalanan panjang ke Sulawesi Selatan. Pada malam pertama kedatangan di Makassar, kami menginap di rumah kerabat senior. Saya yakin kejadian kali ini disebabkan karena kelelahan yang sangat karena siangnya mobilitas kami begitu luar biasa. Kami tidur beramai-ramai dalam ruang tengah, berjejer seperti pindang. Kanan kiri saya teman-teman perempuan saya yang langsung tertidur lelap. Beberapa orang masih mengobrol di ruang tamu. Saya langsung tahu saya belum masuk ke alam mimpi yang indah ketika terlihat sosok gelap, seperti bayangan, di depan saya. Tiba-tiba dia mulai mengeluarkan tangannya ke arah saya. Seolah-olah mau mengambil sesuatu. Sudah pasti saya tidak mau 'diajak' sosok terebut, dan saya berusaha teriak sekencang yang saya bisa. Teriakan saya rupanya betul-betul keluar sehingga terdengar teman-teman yang masih mengobrol. Saya teriak 'Jangan!' (jangan diambil). Saya langsung terbangun dan beberapa yang mendengar menanyakan saya. Teman sebelah pun ikutan terbangun dan menenangkan saya. Saya menahan tangis sepanjang malam, hehe, hingga akhirnya benar-benar tertidur. Paginya, igauan saya cukup menjadi lelucon. Semua maklum karena kami banyak memforsir tenaga sebelumnya, mimpi buruk saya adalah salah satu dampaknya. Mungkin teman-teman saya sudah melupakannya, namun sampai sekarang masih teringat jelas di benak saya.

Menurut teman saya, peristiwa semacam tindihan ini disebabkan oleh keadaan-keadaan di dunia nyata yang cukup menekan saya. Ketika alam sadar saya tidak terlalu meresponnya dan cenderung menyembunyikan dampak-dampak tekanan hidup inilah yang akhirnya muncul di dalam alam bawah sadar saya. Sehingga terjadilah momen-momen tindihan. Entah harus membenarkan atau tidak, karena alam sadar saya sendiri masih merasa baik-baik saja. Bisa saja benar karena mungkin saya langsung menyembunyikannya ke alam bawah sadar tanpa bisa saya sadari? Ah tidak tahulah..

Cukup terbayang kan, bagaimana saya harus berurusan dengan mimpi buruk yang terasa nyata selama bertahun-tahun? Hingga akhirnya saya terdampar di forum kaskus pada pertengahan kuliah, sekitar akhir tahun 2012, mungkin?

Harusnya saya bisa mencari tahu secara dalam mengenai fenomena sleep paralyze ini lebih awal lagi. Berhubung saya tidak terlalu update masalah dunia maya, di mana kaskus sudah ngetrend bertahun-tahun sebelumnya, saya hanya kebetulan saja mencet link ke forum kaskus tersebut. Saya tidak memiliki akun kaskus dan hanya menjadi silent reader, namun saya menemukan banyak informasi mengenai apa yang disebut Lucid Dream. Membacanya saja seperti membaca modul kuliah. Penjelasan lengkap beserta metode-metode yang saya juga nggak baca semuanya. Yang jelas, sleep paralyze ini masuk ke dalam penjelasan logis mengenai fase-fase tertentu yang harus dihadapi otak menjelang tertidur. Oke penjelasannya sudah banyak tersebar di mana-mana. Intinya, saya dapat satu kunci bahwa ketika sleep paralyze terjadi yang harus dilakukan adalah rileks dan tidak melawan. Awalnya saya pikir bagaimana mungkin? bisa-bisa kebablasan? namun akhirnya saya mau mecobanya ketika tindihan berikutnya terjadi.

Yang mengejutkan, metode ini berhasil!
Dalam penjelasan, disebutkan bahwa sleep paralyze adalah salah satu cara untuk memasuki lucid dream, di mana ketika bermimpi seseorang akan menyadari bahwa ia sedang bermimpi. Hebatnya ia bisa melakukan kontrol atas mimpi tersebut. Ketika ingin merasakan terbang, atau berjalan-jalan di awan, dan hal-hal menakjubkan lainnya yang tidak akan pernah terjadi di dunia nyata dapat terjadi ketika lucid dream. How awesome is that?

Saya sendiri sudah merasa puas dengan metode rileks dan tidak melawan ketika sleep paralyze terjadi. Karena hanya itu yang selama ini saya butuhkan, bagaimana saya tidak perlu merasa resah akan datangnya momen buruk dalam tidur-tidur saya. Saya simpulkan saya telah sembuh dari tindihan, meski tidak sepenuhnya. (Tetap merasa ngeri ketika merasakan sensasi menyeramkan dalam kepasrahan, halah)

Mengenai lucid dream, ini bonus bagi saya. Beberapa anggota forum kaskus begitu rajin mempraktikkan lucid dream tersebut. Saya baru benar-benar merasakannya ketika dalam tindihan berikutnya saya berniat untuk masuk ke dalam lucid dream. Saya tidak akan cerita detail karena tampaknya tulisan ini mulai bertele-tele nantinya, haha. Lalu ketika fase Sleep Paralyze terlalui saya memulai mimpi sadar saya dengan melihat telapak tangan saya sendiri dan secara ajaib (kok ajaib sih, memangnya sulap?) kesadaran dalam mimpi saya menjadi tahan lama. Metode lainnya adalah dengan menutup hidung dan menyadari saya masih bisa bernafas. Sensasinya kocak aneh. Yang membuat bahagia, ketika saya akhirnya berhasil mencoba terbang. Sesungguhnya masih bisa dihitung jari pengalaman lucid dream saya. Tidak terlalu memiliki obsesi menjadi lucid dreamer juga sih. Tetapi setidaknya saya bisa memanfaatkan hal yang menakutkan untuk sesuatu yang memungkinkan untuk menjadi hal yang menyenangkan. Lalu apakah saya masih sering tindihan? jawabannya: tidak sesering dahulu. Jika yang dikatakan teman saya mengenai tekanan dalam hidup itu benar, apakah artinya saya mulai tidak tertekan? semoga saja demikian, hehe..

Ah, ada satu yang lupa saya ceritakan. Bagaimana ternyata ibu saya sendiri pun mengalami peristiwa sleep paralyze yang lebih ekstrim dari apa yang saya alami. Tapi saya tidak ingin menakut-nakuti diri saya karena sudah tengah malam. Sekian.


Selasa, November 8

Arsitektur Untuk Siapa?

Setelah memaksakan diri beberapa waktu terakhir untuk menulis, di tengah-tengah minat menulis yang kian menghilang saya mencoba memilih topik ini, hehe.
Mungkin pertanyaannya bukan ‘Arsitektur Untuk Siapa?’ Mestinya sebelum ke sana, diawali dulu dengan ‘Arsitektur Untuk Apa?’ Hmm, Kalau boleh jujur saya selalu menghindari pertanyaan-pertanyaan filsafat semacam ini, haha. Selayaknya ada pertanyaan ‘Kamu hidup di dunia itu untuk apa?’ mending pura-pura amnesia aja deh sambil berbinar-binar memandang bintang-bintang di langit. Saya nggak pernah merasa pintar untuk bisa mengurai jawaban yang bisa membuat saya terlihat keren. Jadi rasanya jawaban-jawaban yang muncul hanya berulang-ulang berputar di benak saya tanpa pernah bisa keluar baik melalui verbal maupun tulisan. Lalu akhirnya tersesat dan mentok. Sekian.
Semoga kali ini tidak.
Jadi, setelah hampir 2 tahun dinyatakan lulus dari universitas itu sebagai sarjana arsitektur, saya belum benar-benar mengenal dunia ini. Nggak tau sih ya kalau yang lain.
Sepengamatan saya terhadap orang-orang di sekitar, arsitektur itu selalu dianggap eksklusif, sophisticated, hanya bisa diraih kalangan tertentu. Saya rasa itu benar! Berapa persen dari seluruh masyarakat kita menggunakan jasa arsitek untuk membangun rumahnya? Jika skalanya sudah gedung tiga lantai ke atas atau fasilitas publik skala besar, okelah sudah pasti menggunakan jasa arsitek, setidaknya ada campur tangan ahli bangunan. Faktanya yang mampu membangun gedung di atas dua lantai sudah pasti memiliki uang untuk tukang gambar bukan?
Lalu bagaimana untuk rumah tinggal?
Saya teringat seorang ibu juragan toko bahan bangunan di suatu daerah. Suatu ketika kantor saya sedang ada proyek di dekat tempat ibu tersebut. Otomatis semua material untuk proyek dipesan ke toko beliau. Beberapa kali ibu ikut mengantar material ke proyek dan melihat perkembangan rumah yang sedang dibangun. Ketika sedang transaksi, ibu berkata: “Gimana sih kok bisa bagus gitu rumahnya? saya bikin rumah kok jelek ya” yang kemudian oleh teman saya dijawab “Iya Bu, soalnya kami memakai jasa arsitek, jadi bisa bagus”
Dari percakapan sederhana itu, saya menyimpulkan bahwa sang ibu menganggap rumah dalam proyek tersebut masuk dalam kategori ‘bagus’. Sebagai catatan, rumah yang sedang dibangun tersebut adalah rancangan rumah ala-ala developer, bentuk kavling dengan tipe tertentu. Terbayang kan? Baguskah? Relatif, sebagian orang akan menganggap bagus dan sebagian tidak. Sebagian orang bermimpi memiliki rumah di salah satu kavling tersebut, sebagian mengutuki pembukaan lahan untuk kavling-kavling perumahan baru. Biasa terjadi bukan? yang iya dan yang tidak. Yang senang dan yang benci.
Sejujurnya saya sedikit bersimpati karena ibu yang notabene juragan tajir di wilayahnya dan harusnya mampu membayar jasa arsitek, tidak mendapatkan rumah yang diinginkannya karena dirasa jelek. Ibu yang mestinya bisa memiliki rumah dengan kualitas ruang yang baik tidak mendapatkannya karena ketidakpahaman beliau mengenai jasa arsitek. Padahal ibu ini paham betul masalah material bangunan.
Saya sering web-walking, melihat-lihat website para arsitek atau konsultan yang sudah terkenal di Indonesia, atau yang menuju terkenal. Sok atuh googling daftar konsultan arsitektur Indonesia dan buka websitenya satu persatu. Karya-karyanya keren, tampilan websitenya dengan desain yang sangat masa kini -simple yet elegant. Sungguh terpoles dengan sempurna! Yang saya amati, hampir semuanya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama websitenya. Syukur-syukur jika ada pilihan bahasa Indonesianya. Jadi siapakah kemungkinan calon klien yang akan menggunakan jasa mereka?
Saya memahami bahasa Inggris membuat kesan yang modern, futuristik, dan berkelas. Saya juga masih sok keminggris kok pada tulisan-tulisan di blog ini, hehe. Juga saya akui dalam berbahasa setengah Inggris ini saya memiliki tujuan-tujuan politis untuk terlihat lebih berkelas. Positif saya, penggunaan bahasa Inggris ini memang sebuah upaya untuk maju, agar tak tertinggal zaman, dan agar dunia internasional mengakui arsitektur Indonesia pantas bersaing di kancah global. Agar karya anak bangsa kita diakui dunia!
Sampai sini saya semakin bingung. Jadi berarsitektur itu untuk siapa? ‘for everyone’ kata salah satu website. Betulkah? Or ‘for those who can afford to pay’?
Sebentar, sepertinya perlu dibalik pertanyaannya, siapa yang butuh berarsitektur?
Singkat saya berlaku arsitektur maknanya juga tidak sesempit berprofesi arsitek. Manusia awal yang pertama kali membangun rumah, tidak sekedar numpang neduh di gua, juga sudah berlaku arsitektur bukan? Sejak kapan akhirnya muncul jasa perencana bangunan ya? Atau mungkin lama kelamaan manusia merasa kurang puas dan jenuh dengan ruang yang mereka tinggali lalu membutuhkan tambahan estetika sehingga bam! Muncullah terminologi arsitektur. Toh pada akhirnya dalam suatu kelompok masyarakat, yang mampu membangun sebuah rumah terspesialisasi kepada orang-orang tertentu. Jika pada masa purba tiap kepala rumah tangga mampu membuat rumahnya sendiri, semakin kemari hanya tukang yang mampu membuatnya.
Jadi kelihatan sekali ini jika saya masih kurang banyak membaca sejarah tentang dunia arsitektur, haha.
Hmm, jadi sementara bisa saya simpulkan di sini, semua orang berlaku arsitektur tapi masih terbagi-bagi lagi menjadi pelaku dalam profesi arsitek sebagai jasa perencana bangunan dan pelaku dalam bentuk masyarakat yang membangun rumahnya berdasarkan pengalaman (entah itu turun menurun, tradisi, atau meniru dari bentuk-bentuk rumah di sekitarnya).
Pertanyaan berikutnya menjadi siapa yang butuh jasa arsitek? (masih dalam lingkup rumah tinggal)
Pertama, orang yang menginginkan rumahnya terbangun secara berkualitas. Kedua, dia memiliki modal untuk tidak hanya sekedar membangun rumah, tetapi juga menyewa jasa arsitek. Untuk yang ini masih saling berkesinambungan, arsitek juga akan menyesuaikan budget klien dalam merancang rumahnya. Ketiga, hmm mungkin dia mesti paham mengenai adanya arsitek sebagai penyedia jasa perancangan rumah.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pasar jasa arsitek hanya ramai di area urban. Kebutuhan begitu besar di sana. Terlihat persentase teman angkatan saya yang memilih untuk bekerja  (tentunya yang belum keluar dari jalur profesi arsitek) di Jakarta ketimbang di daerah. Mungkin yang membutuhkan memang hanya masyarakat urban, kaum menengah ke atas. Masyarakat yang masih menjaga tradisi dalam pembangunan rumah tinggalnya sesungguhnya tidak memerlukan jasa arsitek, karena mereka sudah turun temurun memiliki tata cara pembangunan rumahnya sendiri. Dengan catatan tradisi tersebut belum tercampuri unsur-unsur modern.

Sedikit intermezzo, saya teringat ketika mengikuti ekspedisi ke Pulau Seram bersama mapala Satu Bumi, kami mengunjungi desa bernama Huaulu di kaki Gunung Binaiya. Penduduk desa tersebut tergolong penganut animisme dan memiliki bentuk rumah yang masih tradisional. Bentuk rumah berupa rumah panggung kayu setinggi kurang lebih satu meter. Dindingnya terbuat dari susunan pelepah pohon sagu yang ditumpuk vertikal. Atapnya menggunakan rumbai. Penataan ruangnya hampir seragam, ruang depan sangat bersifat publik dengan dinding yang terbuka (orang dari luar dapat melihat aktifitas di dalamnya). Ruang yang tertutup hanyalah ruang untuk tidur. Seperti terlihat pada gambar berikut:





Lalu, tersebutlah seorang keluarga pendatang yang akan membangun rumah di antara rumah-rumah penduduk asli desa. Keluarga terebut kabarnya berasal dari Papua. Saya pribadi hanya sempat melihat namun tidak mengobrol dengan mereka, jadi tidak tahu menahu cerita kenapa akhirnya mereka datang ke Huaulu. Keluarga pendatang ini sedang dalam proses membangun rumahnya yang notabene memiliki bentuk berbeda dari rumah penduduk asli:


Saya langsung dapat menilai rumah keluarga pendatang ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Dindingnya tidak menggunakan pelepah sagu melainkan papan kayu yang menutup full sehingga dari luar orang tidak dapat melihat aktifitas di dalamnya. Perkuatan strukturnya menggunakan paku. Setelah sekian tahun lamanya desa Huaulu ini memiliki konfigurasi rumah-rumah tradisional yang tipikal, kemudian di waktu yang sama tepat ketika saya dan teman-teman mengunjunginya di tengah tahun 2013 muncullah satu rumah yang berbeda. Saya bertanya-tanya, apa yang akan terjadi setelahnya ya? apakah satu rumah ini akan membawa dampak bagi orang-orang setempat? Mungkinkah kehadirannya dapat membuat penduduk lain meniru apa yang dibawa oleh pendatang tersebut karena rumah dengan papan kayu terbukti lebih kuat ketimbang menggunakan pelepah pohon sagu? Ego pribadi saya, dampak yang terlihat adalah ketidakserasian antara rumah yang baru dengan rumah yang sudah ada terlebih dahulu. Sehingga rasanya ada yang mengganjal ketika memandang hamparan rumah-rumah tersebut, ada satu yang berbeda. Saya agak kurang paham sih teori-teori apa yang dapat menjelaskannya. Di luar itu semua, perubahan tampaknya akan selalu terjadi. Positif negatifnya, silahkan dinilai masing-masing saja.

Selain itu menurut saya ada golongan lain lagi, yakni masyarakat daerah dari kalangan berada yang berkeinginan untuk menjadi modern, namun belum sepenuhnya memiliki pengetahuan perihal arsitektur. Yang kemudian terjadi adalah mereka mengadaptasi bentuk-bentuk megah tanpa benar-benar menerapkan prinsip-prinsip arsitektural. Beberapa saya temui rumah megah besar, namun sirkulasi udara tidak berjalan maksimal sehingga begitu pengap ketika malam hari semua pintu ditutup.
Golongan masyarakat lainnya, nanti saya pikirkan lagi.
Sekarang mari kita lihat dari sisi para arsiteknya. Saya rasa merupakan pilihan  masing-masing arsitek untuk menentukan arah mana jasa arsitek yang mereka tawarkan. Pasar mana yang akan mereka sasar. Objek arsitektur apa yang akan mereka buat. Banyak tokoh-tokoh besar arsitektur di negara ini yang telah melahirkan karya-karya luar biasa. Dari aliran futuristik hingga yang melokal. Dari yang nilai proyeknya miliaran hingga yang super hemat di bawah 100 jutaan atau bahkan puluhan juta. Dari yang kliennya hanya kalangan elit hingga yang rela membantu tanpa bayaran. Saya salut dengan arsitek yang mampu membuat karya yang baik tanpa harus mengeluarkan biaya banyak. Jadi permasalahan arsitektur untuk siapa tidak lepas dari peran para arsitek itu sendiri. Tinggal seberapa bijaksanakah keputusan yang diambil arsitek dalam berlaku arsitektur.
Hmm, sepertinya saya sudahi saja tulisan ini. Lalu apakah sudah terjawab pertanyaan dalam judul di atas? Saya sendiri masih belum benar-benar tahu dan tampak akan terus mencari jawabannya. Setidaknya rindu menulis saya sedikit terbayar, hehe. Semoga berkenan.
Sudah ah, saya mau membaca ulang buku pengantar arsitektur dulu..


Jumat, September 16

Yang Kadang-Kadang diabaikan

Saya hanya perlu membunuh waktu selama 5 jam ini sebelum jemputan datang.
Jadi saya melangkah ke tempat paling ampuh untuk menyingkat waktu: toko buku.

Seraya berjalan, saya langsung dihadapkan pada rak buku best seller. Masih saja buku-buku instan picisan yang dipajang. Konsumsi yang paling mudah ditelan masyarakat. Oh, bahkan saya tidak tahu apa itu arti picisan. Kemudian judul-judul buku di rak motivasi menarik perhatian saya. Permainan kata yang ampuh untuk para makhluk yang kehilangan pijakan hidupnya, yang ketika saya lihat sekilas isinya, masihlah tidak akan membakar semangat saya. Ah, saya tidak percaya buku motivasi. Hanya membuat saya semakin lihai mencibir. Seenaknya saja menyuruh orang berubah. Memangnya dia (penulis) tau yang saya lakukan selama ini?

(Lalu ditimpukin tomat busuk sama para penggemarnya Mario Teguh)

(Karena saya tidak mengikuti berita pak mario belakangan ini, anggap saja beliau masihlah sosok yang ditunggu-tunggu siarannya di tv, siapa yang bisa menggantikan ikon super ini?)

Bergeser sedikit ada bukunya merry riana telah berulang kali dicetak. Pun ada versi jilidan yang isinya motivasi semua.

Ugh, saya rindu menulis.

Lalu saya mengutuki pencuri laptop milik saya dan adik beberapa bulan lalu. Membuat saya tidak produktif berkarya di luar jam-jam kantor saya. Lantas menyalahkan diri karena tidak sepenuhnya pencurinya bersalah, mengapa saya tidak berusaha saja memutar otak melakukan hal-hal produktif tanpa harus punya laptop? Ah, nggak mau berbohong juga, saya tetap mengutukinya.

Berulang kali tulisan tulisan saya hanya setengah matang dan numpuk di draft. Hanya karena saya tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Berulang kali saya berjanji untuk melanjutkan tulisannya, atau mempostingnya. Namun terlalu lama mengendap, niatan juga tidak akan sebesar ketika pertama kali mencetuskannya. Basi.

Selain faktor pencuri, hal hal yang membuat saya tidak produktif adalah rasa insecure saya sendiri. 24 tahun hidup, masih seperti jalan di tempat.

Bagi siapa yang mencoba mencari tahu menganai hidup saya, hell yeah, tidak akan banyak menemukannya. Saya tidak banyak bercerita terhadap siapapun bahkan terhadap diri saya sendiri pun saya tidak merasa jujur. Apakah blog ini jujur? Ya biar Tuhan saja yang menilai. Yang jelas, apapun yang disajikan untuk umum, tetaplah butuh polesan dan saringan yang bagus. Selayaknya ribuan foto selfie, yang paling terlihat kurus semampailah yang akan diunggah. Saya tetap punya rahasia rahasia yang akan saya simpan sendiri, atau saya bagikan dengan orang yang saya percayai kelak.

Oh, saya tidak selamanya jalan di tempat. Bahkan meski berkali-kali lari pagi saya selalu tidak lebih cepat daripada orang-orang, saya pernah berhasil mengalahkan rekor saya sendiri barang sekian detik.

Satu lagi, saya berhasil menulis ini semua hanya lewat ponsel pintar saya. Lalu langsung diposting. Hey, pencuri laptop, ini bukan salahmu.

Selamat menjadi misteri.

Sabtu, Februari 20

Meet Oreté

Suatu ketika pada masa tengah perkuliahan entah bagaimana saya mendapat sebuah link tentang sebuah artikel dari buzzfeed yang judulnya 10 Incredible Indonesian Bands You Should Listen to. Lalu saya membacanya dan tersebutlah 10 band indie asal Indonesia dengan sebuah lagu dari akun soundcloud yang disertakan dan bisa langsung didengarkan pada masing-masing list band tersebut.

Pada urutan ketiga, munculah band berikut:



Inilah perkenalan pertama saya dengan band yang bernama Aurette And The Polska Seeking Carnival (duh panjang betul ya namanya) yang biasa disingkat AATPSC, atau panggilannya Orete (nggak tau kenapa, mungkin dari kata Aurette jadi Orete). Sebelum saya ngomongin band-nya, saya mau menulis mengenai lagu yang saya dengarkan di artikelnya buzzfeed tersebut.

Saya langsung jatuh cinta dengan versi coverannya Postcard From Italy yang dinyanyikan mbak tea, vokalisnya AATPSC. Sebelumnya saya hanya mendengarkan beberapa lagu Beirut dan menikmatinya tanpa bisa menyanyikannya karena susah bo'. Mungkin karena yang nyanyi cowok dan bagian lagu Postcard From Italy ini bagi saya nadanya agak rendah jadi rada susah buat di sing along-in, emang nggak berbakat nyanyi banget kali ya hmm. Lalu muncul coveran lagunya yang dinyanyikan mbak-mbak. Dan yeah, bahagia, akhirnya saya bisa ikut nyanyi-nyanyi juga pake versinya AATPSC haha. Duh alasan yang absurd untuk menyukai sebuah lagu ya?

Terlepas dari itu, sebetulnya lirik lagunya juga sempat bikin saya terharu. Karena dicover sama cewek, maka pronoun she yang ada disitu diganti dengan he agar lebih sesuai dengan yang menyanyikannya. Just as like what covered song used to be. And somehow, dengan suara cantiknya mbak tea, dan segenap AATPSC yang main musiknya, this song simply touched my heart.

the times we had
oh, when the wind would blow with rain and snow
we're not all bad
we put our feet just where they had
had to go
never to go

the shattered soul
following close but nearly twice as slow
in my good times there were always golden rocks to throw
at those who
those who admit defeat to late
those were our times, those were our times

and i will love to see that day
that day is mine
when he will marry me outside
with the willow trees
and play the songs we made
they made me so
and i will love to see that day
his day was mine

Kemudian berlanjutlah perkenalan saya dengan band ini. Jadi AATPSC ini anggotanya adalah mahasiswa ISI jogja. Nggak heran lah ya kalo pada jago-jago main musiknya. Genrenya polka folk,, ya mirip-mirip Beirut gitu (sotoy). Mengusung tema-tema sirkus dan karnaval. Alat musiknya banyak seperti yang saya comot dari blognya: ada ukulele, accordion, mandolin, trumpet, trombone, clarinet, fagot, conga, perkusi, gitar, bass, drum dan mereka sering rempong sendiri buat pergantian alat musik di pergantian lagunya. Tapi saya nggak dong-dong banget ya kalo mau menjelaskan lebih lanjut haha. Yang penting asik buat di sing along-in deh.

Saya pertama kalinya nonton live mereka di akhir 2013, pada acara ketapel nada nya anak UNY. Sebetulnya tujuan utamanya adalah menonton Banda Neira, dan AATPSC waktu itu main sebelum Banda Neira. Well, nggak jauh beda sama yang saya dengar di soundcloud mereka. Venuenya cukup sederhana dengan panggung kecil dan penonton yang duduk lesehan di rerumputan. Berhubung saya bukan anak konser banget yang bisa mudah mengkritik acara jika venuenya kurang terlalu maksimal, saya cukup senang mendengarkan mereka bermain di panggung kecil yang bikin mereka berdesak-desakan dan sumuk.

Pada Januari 2014, band ini menyatakan pembubarannya di blog mereka. My heart was broken. Baru kenal eh masa udah bubar. Mereka mengaku punya kesibukan masing-masing dan tidak bisa melanjutkan AATPSC. Dan sekian. Saya kira begitu saja sudah. Senang bisa mendengarkan musik mereka dan selamat tinggal!

Sampai hampir 2 tahun kemudian, Desember 2015 mereka mengumumkan reuninya dengan panggung kecil-kecilan di cafe matchamu pogung. Hmm, jujur euforianya udah nggak seantusias dulu pas awal-awal dengerin hehe. Dan berhubung mainnya di Pogung, dimana itu wilayah kekuasaan saya sebagai anak Teknik UGM hahaha jadinya nontonlah saya. Venue kali ini lebih menarik, karena dipersiapkan khusus untuk mereka. Dengan dekorasi meriah ala-ala sirkus, panggung outdoor mereka pun unyu sekali. Tapi sayangnya acara disambut dengan hujan di waktu harusnya acara dimulai. Acara dimulai masih dengan gerimis yang bahkan tifak berhenti juga sampai akhir acara. Hmm, lumayan menambah kesyahduan.

Nggak sempet ambil foto, jadi ini nyolong aja:
Entrance venue (Courtesy: AATPSC)

Venue di Matchamu Cafe, karena hujan jadi ditambahin terpal di atasnya yang harusnya outdoor (Courtesy: Warningmagz)


In collaboration with Sisir Tanah. That rose on her head! (Courtesy: Warningmagz)


Saya pikir sudah cukup terobati kangennya melihat panggung reunian mereka. Karena bukan fans fanatik juga, pernah nonton sekali saja sudah cukup. Hanya mendengarkan soundcloudnya tanpa membeli albumnya juga cukup haha maafkan. Dan saya tidak berniat akan selalu menonton mereka setelah ini jika memang ada gigs-gigs yang menampilkan mereka. Kecuali memang jika ada banyak lagu barunya, bolehlah menyempatkan nonton lagi. 

Tapi... toh ternyata saya menonton mereka lagi hahaha. Yang mau ditonton bukan AATPSC nya sih, cuma waktu itu ada semacam resital atau lebih gampangnya pertunjukan tugas akhir sebagai syarat kelulusan buat mbak tea sebagai mahasiswi ISI. Saya penasaran bagaimana pendadaran versi anak musik ISI berlangsung, jadi lagi-lagi iseng deh nontonnya. Berhubung yang punya acara juga punya band, maka AATPSC juga ikut nampil di awal acara.

Kali ini indoor di IFI Jogja, dan lagi-lagi hujan deras mengguyur. Mungkin juga acaranya tidak terlalu digembar gemborkan (namanya juga cuma pendadaran), maka tersebutlah yang menonton, dari semua kursi penonton, hanya kurang dari 10% yang mengisi hahaha. Pas acaranya baru mulai, saya sempat menghitung hanya ada 20 penonton. Kayak kasihan gimana gitu sih. Tapi kan malah jadi terkesan eksklusif sebagai penonton, ea. Di menjelang pertunjukannya mbak tea, barulah mulai beberapa berdatangan. Termasuk dosen-dosen pengujinya. Saya sih kurang paham genre musik yang dimainin pas resital ini apaan, tapi yang jelas mbak tea ini dari jurusan etnomusikologi. Jadi ada campuran elektronik, gamelan, flute, accordeon, dan vokalnya mbak tea sendiri (masih sotoy). Keren banget pokoknya! Sayang nggak punya fotonya, malas ambil gambar sih haha, kamera ponselnya kurang bagus kalo gelap-gelap.

Yaudah sekian saja. Apapun rencana AATPSC kedepan, semoga selalu berkarya dan semoga saya juga selalu bisa menikmatinya. Bravo!