Kamis, April 6

Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 3)


1-2 September 2013
“Perpisahan”
my host family, bareng sama anggota tim perempuan lain

Pada akhirnya tibalah saat kami harus selesai dengan segala macam kegiatan kami selama kurang lebih satu bulan di Binaiya ini. Artinya kami harus berpisah dengan orang-orang yang kami temui selama di sini. Keluarga-keluarga yang rumahnya kami tinggali, Pak Sonri selaku sekretaris desa, Bang Ampi, seluruh anak-anak sekolah yang sempat kami ajar, bu guru dan pak guru, yang tidak bisa kami bantu lebih lama lagi daam mengajar murid-murid. Terlebih, kami akan segera meninggalkan megahnya gunung Binaiya dengan beberapa titiknya yang kami sempat singgahi.
Sebelum benar benar pergi, kami melakukan rapat koordinasi pada dua malam terakhir kami di Kanikeh. Kami membahas segala hal yang kami dapat selama ekspedisi dan apa kira-kira yang dapat kami berikan sebelum meninggalkan orang-orang yang telah banyak membantu kami. Beberapa masalah dibahas untuk kemudian disampaikan kepada pengurus desa ataupun guru-guru. Kami juga mendengar kabar ahwa nona guru akan mengajak penduduk setempat untuk mengadakan ‘pesta’ pelepasan kami yang akan sekaligus kami manfaatkan untuk momen perpisahan.
Keesokan harinya, tak seperti biasanya kami makan begitu banyak. Pagi hari, mama tempat kami menginap memasakkan udang dan ubi-ubian (yang sangat jarang sekali mereka lakukan). Siang harinya, acara perpisahan diadakan di ruang kelas. Saat kami datang, makanan telah dihidangkan di meja tengah. Saya cukup terharu karena sejujurnya untuk makanan sehari-hari mereka pun tidak mudah mendapatkannya. Pada momen ini, masing-masing keluarga menyumbangkan makanannya demi melepas kami. Acara diawali dengan sambutan dari nona guru dan ucapan terimakasihnya untuk kami. Dilanjutkan oleh Pak guru, dan pak Sonri. Lalu kami, diwakili oleh Adoy selaku ketua tim, juga menyampaikan ungkapan terimakasih dan beberapa pesan singkat untuk mereka. Selanjutnya kami langsung menyantap hidangan. Semua yang hadir turut bersuka cita menyantap papeda, patatas, kasbi, dan lauk pauknya. Sisa hari itu kami habiskan untuk packing dan persiapan terakhir sebelum turun.

suasana perpisahan

anak-anak yang menghadiri acara perpisahan

3-4 September 2013
“Duriannya benar-benar Runtuh”

Sepertinya saya harus menyediakan satu judul sendiri untuk peristiwa yang kami alami ini selama perjalanan pulang dari Kanikeh. Di hutan sebelum kami mencapai Desa Huaulu, kami akan melewati sebuah area hutan yang ditumbuhi pohon-pohon durian. Ajaibnya, pohon-pohon ini memiliki musimnya sendiri. Berbeda dari musim durian pada umumnya, pohon-pohon durian di sini akan berbuah dua kali dalam setahun. Saat perjalanan kami pulang itu adalah saat yang tepat ketika durian-durian sudah mulai matang. Kami tidak mendapatinya ketika perjalanan berangkat satu bulan yang lalu karena memang belum saatnya matang. Menurut sumber, hutan durian ini sebelumnya pernah mendapat suntikan dari bule yang pernah datang. Saya sendiri kurang paham suntikan macam apa dan atas dasar apa bule ini menyuntikkan sesuatu di pepohonan durian ini. Kabar matangnya durian ini tentunya sudah tersebar ke penduduk setempat. Entah itu di desa-desa gunung maupun desa pesisir. Ketika kami masih di Kanikeh pun, orang-orang yang naik ke Kanikeh dari bawah membawa barang satu-dua durian dan mengabarkan ke kami bahwa di bawah sudah mulai matang duriannya. Membuat kami tak sabar untuk menikmatinya sendiri.
Pagi itu dari Kanikeh kami akan langsung turun karena packingan kami telah siap. Kami sudah berpamitan hari sebelumnya sehingga pagi ini kami hanya pamit kepada masing masing keluarga inapan kami. Sembari jalan turun melalui rumah-rumah penduduk, kami hanya melambaikan tangan dan tersenyum. Semua ata menatap kami, seorang ibu yang duduk di teras rumahnya meneriaki kami selamat jalan, selamat pulang kembali ke jogjakrta! Kami merencanakan turun dalam waktu dua hari agar perjalanan terasa santai. Pun kami sudah ingin menikmati pesta durian di bawah yang artinya kami harus menyiapkan cukup waktu untuk berpesta, haha. Hari pertama kami hanya habiskan sampai Desa Roho. Kami menginap di tempat warga, yang malamnya berbaik hati memasakkan kami kasbi (singkong) goreng.
Besok harinya kami melanjutkan perjalanan di pagi hari. Kami hanya tinggal melewati satu desa sebelum kembali menemui aspal dan melihat kendaraan lalu lalang. Mendekati punggungan terakhir sebelum desa huaulu, aroma durian mulai tercium. Kami mempercepat langkah kami karena kami tahu waktu pesta akan segera tiba.
Saya seorang penikmat durian, jadi saya akan menceritakan betapa surgawinya tempat ini. Sungguh. Kami berjalan di antara pepohonan durian matang. Saat itu hanya ada kami yang sedang berjalan di area tersebut. Karena biasanya beberapa warga pun mencari-cari durian untuk kemudian dijual di desa. Karena hutan begitu sepi maka sesekali terdengar suara bedebum, tanda durian jatuh dari pohonnya. Saat itu pula tanpa ba bi bu kami bergegeas ke arah suara. Satu buah langsung kami sikat dalam waktu beberapa menit. Saya pribadi sedikit was-was dan tetap melihat-lihat ke arah atas, berjaga-jaga jika duriannya tiba-tiiba jatuh ke kepala.
Saya gambarkan, dalam beberapa jam ke depan kegiatan kami hanyalah cari durian jatuh-datangi-buka-makan-cari lagi-buka-makan-cari lagi-buka-makan. Saya mendapati diri saya ikut-ikutan nggragas. Siapa yang akan menolak mendapat durian gratis langsung dari pohonnya! Hingga akhirnya kami benar-benar mabok. Para lelaki sepertinya memiliki kapasitas lambung yang lebih besar daripada saya. Ketika saya memutuskan menyerah, mereka masih sibuk mencari lagi. Bahkan di detik detik terakhir, mereka sudah melupakan etika membuka durian dengan baik dan benar. Mereka semakin buas karena membuka kulit durian dengan cara menginjak dengan kaki! (maafkan teman-teman saya ya, pembaca, situasinya memang panas, haha). Oke, mungkin benar-benar sudah mabok. Sebelum mereka mulai membuka kulit durian hanya dengan gigi dan melakukan praktik debus, kami rasa kami harus hentikan semua ini dan kembali melanjutkan perjalanan. Itu adalah pesta durian terbesar yang pernah saya alami, dan mungkin tidak akan saya dapatkan di tempat lain. Ohya, kami memutuskan tidak banyak berfoto-foto dalam pesta durian ini, karena kami tidak ingin membuat teman-teman kami di jogja iri. Terlebih lagi, kami benar-benar sibuk makan durian dan lebih memilih untuk menikmatinya ketimbang harus berfoto-foto.
Siangnya kami singgah di rumah mama tempat kami tinggal di hari-hari keberangkatan kami sebelumnya. Mama menyambut kami dengan hangat karena memang telah mengetahui bahwa kami akan datang hari itu. Beliau telah menyiapkan makanan favorit kami semua: nasi!. Setelah berminggu-minggu memakan sagu dan ubi-ubian, kami mendapat hadiah nasi dari mama karena tahu kami pasti rindu makanan pokok kami yang mayoritas orang Jawa ini. Betapa berterimakasihnya kami terhadap beliau.  Dengan lauk pauk ikan, kami yang baru saja pesta durian ini masih dengan nikmat menyantap makanan mama. Sesudahnya, kami langsung berpamitan kembali untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan kami hari itu, Pusat Informasi Masihulan.

5-6 September
“Holiday”
naik long boat milik Bang Alay

Setelah satu bulan penuh melaksanakan program kegiatan yang terjadwal, kami menyisihkan waktu di penghujung hari-hari kami di pulau ini untuk berlibur. Sudah tentu pantai adalah lokasi yang kami pilih untuk menghibur diri setelah lama berada di gunung dan hutan tropis lembab. Lucunya, hampir semua kaki kami terkena serangan kutu air. Kondisi hutan yang lembab dan kaki yang tidak pernah benar-benar keringlah yang menyebabkan kaki kami terserang kutu yang tidak kasat mata itu, dan air laut adalah obat yang ampuh untuk membasmi mereka tanpa ampun. Oke, saya kurang paham korelasinya bagaimana, haha, yang jelas kaki saya sembuh karena main air laut dan terpapar sinar matahari.
Kami akan berlibur selama dua hari dan Sawai adalah lokasi yang kami kunjungi karena sangat dekat dari lokasi basecamp kami di Pusat Informasi Masihulan. Kami hanya butuh mencegat truk yang lewat ke arah timur untuk menumpang beberapa kilomater sebelum turun di pinggir jalan untuk berjalan kaki ke arah pantai. Kami sudah merencanakan untuk meminjam sebuah basecamp tepat di tepi laut milik Taman Nasional. Lalu menyewa perahu (biasa disebut long boat) milik Bang Alay (beserta Bang Alaynya sebagai sopir, haha) selama kami liburan.
Setelah berjalan kaki, kami menuju arah tanaman bakau yang menandakan batas daratan untuk bertemu Bang Alay yang telah menanti kami dengan perahunya. Kami langsung dengan semangat menaiki perahu tersebut dan langsung bergerak melalui hutan bakau sebelum akhirnya keluar ke laut lepas. Untuk menuju basecamp milik Taman Nasional ini memang lebih mudah ditempuh melalui jalur laut ketimbang darat karena letaknya yang benar-benar di tepi laut. Sebelum sampai ke lokasi, kami mampir dulu di desa untuk mengisi amunisi perut kami yang telah habis ini.
                Basecamp yang kami singgahi berupa bangunan panggung kayu mungil dengan dermaga kecil di depannya. Tidak ada kasur, namun kami sudah siap sedia dengan perlengkapan outdoor kami. Kami juga dipinjami beberapa buah alat senorkling milik Taman Nasional. Sisa hari itu kami habiskan untuk senorkling di beberapa titik laut, menikmati kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya, memancing ikan, atau hanya bermalas-malasan di dermaga. Malamnya, Bang Alay mengajak beberapa orang untuk memancing ikan, dan bahkan beliau sendiri akan unjuk kebolehan menyelam sambil menombak ikan. Saya  tidak ikut karena memilih bermalas-malasan di basecamp sambil ngobrol-ngobrol, because it’s laaazy time. Beberapa saat kemudian yang pergi mencari ikan kembali dengan hasil buruan yang cukup banyak. Kami melewati malam dengan membakar ikan dan menyantapnya di tepian dermaga, bahkan beberapa ikan berwarna bagus dan tampak sayang untuk dimakan, haha.
basecamp milik TN Manusela

Pertama kalinya main snorkeling

numpang foto di penginapan sebelah
                Esok harinya kami hanya punya waktu setengah hari, karena harus mengejar waktu untuk kembali lagi ke Masohi. Kami telah menyewa tronton Kabaresi lagi untuk mengangkut kami kembali. Pagi hari sebelum kembali pulang ke daratan, kami mampir sejenak ke resort yang cukup mewah dan terkenal, pantai ora. Kabarnya tempat ini adalah yang paling mahal di sini karena fasilitasnya standar bule. Arsitekturnya juga menarik. Kami hanya berfoto-foto sejenak, namun sebagian besar dari kami memang sudah tidak berminat berfoto-foto ria. Berakhir dengan mutungnya seksi dokumentasi kami yang sudah susah payah memasang kamera di tripod dan mencari angle untuk foto tim, namun tidak ditanggapi kami-kami, haha. Setelahnya kami menyempatkan untuk sekali lagi bermain snorkling di satu titik. Karena tepat pada hari Jum’at, teman-teman lelaki yang muslim akan melaksanakan sholat jum’at di masjid setempat (setelah melewati setiap jum’at di gunung tanpa masjid, haha). Lalu kami para wanita memutuskan untuk mandi di pemandian umum. Sekilas tempat ini seperti kolam renang umum karena telah terpasang keramik-keramik pada tepian kolamnya, namun sebenarnya air di kolam ini adalah mata air yang mengalir dengan sangat perlahan. Kami bertiga berbaur dengan penduduk setempat yang juga memanfaatkan kolam ini untuk berbagai keperluan seperti mandi, mencuci, atau sekedar bermain-main saja.
bakar-bakar ikan

kolam yang airnya mengalir perlahan

                Sebelum kembali ke Pusat Informasi, kami disuruh mampir ke rumah seorang ibu yang pernah disinggahi rekan-rekan kami dari ASC daris Jogja pada dua tahun sebelumnya. Karena kami juga dari Jogja dan saya pun mengenal tim ASC yang waktu itu juga melakukan ekspedisi di Seram, Ibu tersebut senang sekali kami mau mampir. Beliau juga menunjukkan fotonya bersama tim ASC. Kami disuguh makan siang ikan dan sambal colo-colo, sungguh nikmat. Setelah mengobrol
                Kami menunggu datangnya truk tronton Kabaresi karena tim transportasi sudah mengurus dan membayar sewa tronton tersebut. Namun dua jam kemudian, truk yang ditunggu tak kunjung datang. Kami coba menghubungi komandan kabaresi yang telah berjanji menjemput kami, namun tak pernah ada respon meskipun sinyal telah kami dapat kembali. Menit-menit berlalu tanpa kejelasan dan kami hanya berdiam diri di tepi jalanan. Menjelang magrib, ada sebuah mobil Ford Ranger lewat dan kami coba bertanya apakah bisa menumpang sampai Masohi dengan merundingkan ongkos imbalan. Mereka menyanggupinya dan kami bisa bernafas lega karena bisa benar-benar pulang hari itu ke Masohi.
Tak disangka, pemegang kemudi mobil itu benar-benar ‘handal’ dan tak lebih dari 2 jam kami bisa sampai di Masohi. Padahal waktu tempuh normal adalah 4 jam. Dengan kecepatan yang sungguh tinggi di medan yang berliku-liku, kami harus menanggung derita pusing-pusing dan mual-mual, haha. Bahkan beberapa orang teman lelaki yang menempati bagian belakang sampai muntah-muntah. Namun kami sudah sangat bersyukur bisa mendapat tumpangan sampai ke Masohi. Sekitar pukul 19.00 kami sampai di rumah dinas kepala Balai Taman Nasional yang baru saja pensiun, Pak Zulkifli. Beliau telah pulang kembali ke Bogor ketika kami datang ke Seram. Namun masih berbaik hati untuk meminjamkan rumah dinasnya kepada kami untuk disinggahi sejenak. Di situ kami benar-benar merasakan kembali ke rumah, dengan kasur empuk dan AC. Kami beristirahat dengan nyenyak malam itu.

7-11 September 2013
“Back Home”
                Kami masih memiliki tanggungan program ekspedisi, yakni melakukan presentasi ke orang-orang di balai taman nasional sebagai bentuk pertanggungjawaban kami berkegiatan di area Taman Nasional Manusela.Jadwal kami presentasi adalah besok tanggal 9 september, sehingga hari ini kami gunakan untuk persiapan materi presentasi esok hari.
Kami diundang Bang Ato ke rumahnya untuk jamuan makan siang sekaligus menunjungi keluarganya. Bang Ato memiliki empat anak laki-laki yang uniknya kesemua anaknya diberi nama jawa yang berawalan 'su' salah satunya sugiono (sayangnya saya melupakan 3 nama lainnya, haha) . Padahal baik Bang Ato maupun istri tidak memiliki darah jawa sama sekali. Harapan beliau, keempat anaknya dapat tumbuh menjadi orang besar selayaknya Sukarno, Suharto, dan Susilo, ketiga presiden Republik Indonesia yang orang jawa dengan nama ‘Su’ di konsonan pertamanya. Amin ya bang, haha. Cukup lama kami habiskan waktu di rumah Bang Ato, dan memberikan tanda terima kasih berupa sembako untuk keluarganya. Kami rasa sembako memang tidak cukup untuk membalas jasa Bang Ato yang menemani kami selama berkegiatan. Kelak jika kami bertemu kembali, kami akan selalu mengingat kebaikannya dan membantu apa yang kami bisa jika beliau membutuhkan bantuan apapun.
Sisa hari itu kami habiskan sebagai waktu bebas masing-masing. Saya mencoba mengunjungi warung internet setempat karena penasaran setelah berminggu-minggu terisolasi dari dunia luar. Sedikit gagu pada awalnya, dan cukup aneh melihat layar komputer. Tapi selang beberapa menit saya terlarut dengan sosial media. Tujuan utama mengecek dan membalas pesan, kalau kalau ada yang mengirimkan saya ucapan ulang tahun bulan lalu melalui dunia maya, haha.
Malamnya kami serius kembali menyiapkan presentasi, sambil menonton televisi yang pada malam hari itu sedang ada acara pemilihan putri indonesia. Kami sendiri telah melakukan diskusi khusus terkait hasil yang kami dapat di lapangan pada hari-hari terakhir kami di Kanikeh. Kami juga bersiap-siap packing barang bawaan karena setelah presentasi kami akan langsung berangkat ke Ambon. Kami sudah memesan tiket pesawat untuk keberangkatan tanggal 10 siang. Acara presentasi sekaligus momen kami untuk berpamitan dengan pulau ini.
Presentasi dimulai pagi itu tanggal 9 September. Pegawai balai taman nasional berkumpul, meskipun tidak lengkap semua datang. Setelah pembukaan oleh ketua tim kami, Adoy, presentasi dilanjutkan oleh masing-masing bidang sembari kami bercerita mengenai apa yang kami dapat di sana. Saya mendapat jatah menyampaikan beberapa hasil eksplorasi karst. Hasil yang kami sampaikan ditanggapi dengan baik oleh pegawai balai. Kami saling berdiskusi mengenai saran-saran yang kami sampaikan berdasarkan diskusi kami di lapangan.
suasana presentasi di Balai TN Manusela

Siangnya, kami langsung pergi ke arah pelabuhan Amahai untuk kemudian menaiki kapal cepat, menyeberangi laut menuju Pelabuhan Tulehu di Ambon. Sesampainya di Ambon kami mendatangi mess milik pegawai dinas KSDA Ambon yang kebetulan salah satunya adalah alumni Kehutanan UGM. Kami menginap semalam dan keesokan harinya kami harus ke bandara untuk mengambil penerbangan ke Surabaya pada pukul 10.00.
pulaaang

Bagian sebelumnya:
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (Bagian 2)
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 1)

Minggu, April 2

Blogspot

Berada di domain blogspot milik blogger ini sesungguhnya suatu hal yang patut diapresiasi. Atau selebrasi? Meski secara terseok-seok saya mengisinya dengan tulisan-tulisan yang tidak pernah benar-benar konsisten, mengganti tema berulang kali, saya tidak melupakannya hingga detik ini. Teringat bagaimana saya pernah berniat pindah ke domain wordpress hanya karena saya melihat banyak orang migrasi dari blogspot ke wordpress. Polanya sama, meninggalkan cerita-cerita klasik masa ABG atau curhatan-curhatan yang tidak ada korelasinya pada masa yang lebih baru untuk kemudian memulai lembaran baru dengan jiwa yang lebih dewasa. Sederhananya, blogspot adalah masa alay dan tidak jelas yang tidak ingin dilibatkan dalam ceritera baru. Cukup subyektif, tapi bisa dipertanggung jawabkan untuk beberapa contoh kasus yang saya amati. Lalu niat pindah tersebut saya urungkan, karena saya tidak begitu yakin untuk mejadi lebih konsisten pada tempat baru nanti. Daripada menjadi suatu hal yang cukup sia-sia, saya memilih melanjutkan cerita yang saya mulai di tahun 2009 dimana era kejayaan blogspot berlangsung.


Cukup bersyukur karena peselancar dunia maya tidak begitu banyak meminati gaya lama dunia blog (dalam hal ini, blogspot) yang artinya saya bisa lebih menjadi diri sendiri tanpa perlu merasa insecure demi memikirkan pendapat pembaca. Sedikit porsi insecure itu tetap ada dan mungkin lebih tepat dikatakan porsi menyaring apa-apa yang akan saya tuliskan. Syukurlah peselancar dunia maya yang budiman lebih banyak menghabiskan menitnya untuk memandangi laman instagram. Tidak bermaksud menjadi generasi yang sok senior, karena setiap masa memiliki romantismenya masing-masing.


Jadi, terimakasih blogspot!
kesetiaan saya dan pengguna blogspot lainnyalah yang membuat orang-orang di perusahaan ini dapet duit
 

Sabtu, April 1

Barangkali


Barangkali hidup orang lain bukan semata-mata menjadi patokan bagaimana hidupmu harus berlangsung. Barangkali menyelesaikan satu tulisan utuh tanpa harus menetapkan standar juga akan terasa menyenangkan. Selayaknya yang terjadi pada saya belakangan ini. Barangkali saya hanya perlu membangkitkan semangat dari lamunan begitu panjang untuk merasa bahwa saya memiliki secuil nyala api. Semoga saja tidak pernah redup.
Merasa kecil telah menjadi bagian besar di hidup saya. Merasa besar, adalah sedikit bagian lainnya. Tidak ambisius, tidak pandai bicara, socially awkward, cari aman, adalah turunannya. Saya khawatir, cemas, namun saya cukup lihai menyembunyikan apa yang tampaknya tak baik-baik. Intensi tulisan ini pun tidak untuk menunjukkan bahwa saya dalam hal tidak baik-baik. Rasa ketidakpedulian saya terhadap sinyal-sinyal semacam ini lebih besar daripada yang bisa saya kira.
Bagaimanapun ada hal-hal di luar kemurungan yang patut diapresiasi. And if you’re still breathing you’re the lucky one. Kata sebuah lagu. Saya pun bersyukur karena masih memiliki nafas. Yang terjadi selanjutnya adalah bertahan hidup. Apapun wujud hidup itu. Akan selalu ada berbagai rupa-rupa pemeran antagonis. Juga rupa-rupa yang mampu menyelipkan tawa di selingannya.
Ada berbagai macam keputusan orang yang mungkin berdampak pada hidupnya. Barangkali pensiun dari media sosial adalah hal yang tepat bagi sebagian orang untuk melepaskan jerat keirian hati. Namun menjadi fatal bagi sebagian lain yang merasa dihidupi oleh publisitas. Pun tidak memiliki akun media sosial bukan berarti bebas dari tidak-benar-benar-tahu-hidup-orang yang memicu lagi keirian hati.
Penelusuran salah satu kisah orang pada laman blogspot seseorang yang lain yang saya pernah sekilas bertemu memberi saya sentilan tentang kata kedalaman. Saya rasa benar adanya jika saya masih jauh dari kedalaman. Kedalaman berpikir, kedalaman memahami, kedalaman merasakan, dan verba lain yang pantas disandingkan dengan ‘kedalaman’. Semoga saya mampu meraih kedalaman selanjutnya, sembari menjaga secuil nyala apinya.
Lalu mari saya lanjutkan petikan lain lagunya..
And if you’re still bleeding you’re the lucky one
And if you’re in love then you are the lucky one

Senin, Februari 20

Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 2)


11-17 Agustus 2013
“Selamat Pagi Kakak”

               Kanikeh memang sudah tampak lebih modern. Terdapat bangunan Sekolah Dasar, balai desa, dan gereja. Semua penduduk disini sudah beragama kristen. Berbeda dengan Huaulu yang masih Animisme, padahal Kanikeh berada lebih jauh di pedalaman. Dua hari pertama kami habiskan dengan berbagai persiapan, pembagian rumah tinggal, penjelasan maksud dan tujuan kepada sekretaris desa, Bapak Sonri. Lucunya, Raja Kanikeh tidak tinggal di sini, justru di Desa Wai Putih-putih yang terletak di dekat pantai. Desa Wai putih-putih adalah pecahan desa Kanikeh yang berada di bawah, penduduknya juga berasal dari Kanikeh. Konon banyak orang yang tadinya tinggal di Kanikeh setelah turun ke Waiputih-putih tidak kembali lagi ke atas. Wah, mungkin Kanikeh bisa punah jika begini terus.
                Hari ketiga kami melakukan upacara adat, yang wajib dilakukan pendatang yang akan berkegiatan apapun di sekitar sini, termasuk pendakian Gunung Binaiya. Upacarnya disebut upacara sirih pinang yang dilakukan di rumah adat, upacara yang saya pikir dihadiri orang sekampung ternyata hanya kami dan bapak ibu adat. Ditemani pak Son dan bapak guru. Upacara hanya sebatas “perestuan” akan kegiatan yang kami lakukan. Bapak adat memegang kain merah dan mengucap “doa” dalam bahasa mereka. Setelahnya kami dipersilahkan mengunyah sirih dan pinang beserta bubuk kapur yang membuatnya menjadi berwarna merah. Ugh, rasanya aneh, daripada berlama-lama di mulut langsung saja saya telan tanpa dikunyah halus. Setelahnya ludah saya memang jadi berwarna merah, padahal hanya beberapa kunyahan. Dan beberapa saat saya menertawakan apa yang telah kami lakukan, teman-teman saya juga tampak berekspresi aneh ketika mengunyahnya. Kebiasaan masyarakat pegunungan sini adalah “nginang” sperti merokok, mereka harus menginang setiap waktu, hingga banyak bekas ludahan yang berwarna merah di tanah tanah. Awalnya tampak menyeramkan setiap melihat mereka meringis karena gigi yang kemerah-merahan lebih terlihat seperti darah.

Upacara adat yang ditutup dengan menyantap sirih pinang
                Suatu sore kami diundang ke rumah Pak Son untuk menikmati sebuah cemilan bernama Kana, terbuat dari sagu dan kelapa yang dibakar sehingga terasa renyah. Entahlah, ketika itu rasanya enak, mungkin sedang lapar. Padahal rasanya hambar. Lalu kami bernyanyi bersama-sama dengan seorang musisi lokal yang pandai bermain sejenis ukulele padahal ia buta. Masyarakat timur memang memiliki suara yang merdu. Kami bernyanyi dari lagu timur hingga lagi wajib nasional (supaya sama-sama bisa bernyanyi), kami bernyanyi hingga larut malam, hingga semua warga kampung berkerumun di depan rumah. Mungkin suara kami memang terdengar seluruh desa dan membuat mereka penasaran dengan orang-orang asing yang baru datang ini.

Candle Light dinner: pesta papeda di rumah Pak Sonri
   
                 Menjelang 17 Agustus, setiap rumah mendirikan tiang bendera di depan rumahnya masing-masing. Sekolah memang sedang libur, namun pada tanggal 17 kami berupacara di  halaman sekolah, begitu pula seluruh warga kampung. Halaman sekolah cukup untuk seisi desa berbaris dengan hikmat. Padahal sebelumnya tidak pernah dilakukan upacara 17-an, tahun ini memang sedikit istimewa karena kehadiran seorang bapak guru dan seorang nona guru yang mempersiapkan pelaksanaan upacara ini. Saya pribadi juga telah lama tidak merasakan upacara betulan setelah lulus SMA. Melihat bocah-bocah SD yang menjadi petugas upacara, pemimpin upacara yang grogi, dan kami berbaris tepat di samping barisan kelas satu yang kecilnya minta ampun. Saya ingin selalu tertawa melihat wajah-wajah mereka, wajah-wajah generasi penerus Kanikeh. Dengan seragam yang lusuh, ada yang bersepatu ada yang tanpa alas kaki. ada yang takut-takut ketika kami berusaha senyum ke arah mereka. Setelah upacara barulah pesta dimulai. Ada beberapa pentas seni dari anak-anak, joget poco-poco, juga tari-tarian lucu dengan kostum jerami-jerami. Lalu kami diminta nona guru untuk menjadi panitia perlombaan. Dengan senang hati kami mengurusi anak-anak itu. lomba balap karung, sendok kelereng, memasukkan paku ke dalam botol, dan lomba joget balon. Dan membuat kami berkeringat karena matahari begitu terik, tapi kami senang melihat tingkah mereka yang kocak. Barulah setelah diumumkan pemenang lomba, kami dipersilahkan menyantap hidangan yang dibuat oleh mama-mamanya. Pisang goreng tanpa rasa karena masih muda, ubi-ubian dan daging rusa. Sayangnya sebagian anggota tim tidak bisa mengikuti perayaan ini karena sedang melakukan program summit Binaiya.

Upacara 17 Agustus bersama seluruh penduduk desa
Pengibaran bendera merah putih
Lomba kelereng. Salah satu anak yang wajahnya mengingatkan saya pada tokoh kartun
Lomba balon joget
                Beruntung seorang pendamping dari Taman Nasional, Bang Ato, menyusul kami di Kanikeh. Dan mari saya perkenalkan tokoh baru, Bang Ato ini banyak membantu kami dalam pelaksanaan kegiatan ini. Beliau seorang polisi hutan yang sering berpatroli ke lapangan. Beliau juga pernah bertemu saya dalam sebuah kursus speleologi di Yogyakarta (diklat ASC XVI). Jadi kami memang sudah saling kontak sejak sebelum pelaksanaan ekspedisi.

18-23 Agustus 2013

“Dunia Lumut”
                Setelah perayaan 17-an, saya dengan 4 anggota tim lain serta Bang Ato berangkat ke atas dengan tujuan puncak. Tim yang lain melakukan kegiatan di Kanikeh. Perjalanan ke puncak memakan waktu 3 hari karena barang bawaan yang cukup berat sedikit menghambat kecepatan (terutama) saya. Rencana setelah memuncak ini saya bersama anggota tim caving akan melanjutkan kegiatan di camp Waihuhu untuk kegiatan survei goa dan pemetaan. Sebelum menuju puncak, akan ada 3 camp yang harus dilewati, camp Waisanutuni, camp Waensela, dan camp Waihuhu. Jadi barang bawaan kepentingan caving seperti logam-logaman yang amat berat ini kami bawa hingga Waihuhu. 2 hari pertama kami habiskan di camp Waensela dan Waihuhu. Medan perjalanan tidak jauh-jauh dari yang namanya lumpur. Baru keluar dari kanikeh saja saya sudah kotor berlumuran lumpur karena sering jatuh. Baru di hari ketiga kami lanjutkan perjalanan ke puncak tanpa membawa beban berat yang kami tinggal di Waihuhu.


Perjalanan ke puncak
                Perjalanan ke puncak lebih menyenangkan daripada 2 hari sebelumnya, tentu selain karena ringan tidak membawa beban, pemandangan juga lebih menarik karena ketinggian telah mencapai 2000 meter ke atas. Kiri kanan terlihat cantik karena tanah dan pohon diselimuti oleh berbagai macam jenis lumut. Lumutnya empuk, dan secara alami terbentuk bentukan-bentukan mirip sofa, atau kasur yang kadang dengan seenaknya kita tidurin. Kata Bang Ato jalur pendakian selatan lebih kaya akan lumutnya, lebih bagus dari yang kita lihat sekarang. Lain kali harus dicoba. Sesekali juga terdengar cicitan burung nuri yang ramai karena tahu ada manusia-manusia sedang berjalan di bawah mereka. Medan semakin terjal karena sudah dekat dengan puncak, yang tadinya vegetasi pohon dan lumut berubah menjadi bebatuan yang mudah tergelinding, harus super hati-hati melewatinya. Kami melihat bangkai seekor anak rusa yang belum membusuk.
                Binaiya memiliki 2 buah puncak yang biasa didatangi pendaki. Puncak 3027 dan 3035, 2 puncak ini berbeda ketinggiannya hanya 8 meter namun terpisah cukup jauh. Dan tujuan kami hanya puncak 3027. Beberapa meter sebelum sampai di puncak 3027, terdapat sebuah kolam besar atau lebih tepatnya genangan air yang jarang kering. Di sekitar genangan air adalah hamparan rumput yang luas. Cukup luas bagi saya untuk bisa berguling-guling di atasnya. Lokasi ini dinamakan camp Waifuku. Genangan air ini terbentuk karena bentukan lahan yang cekung, sehingga setiap kali hujan terkumpullah air dari segala sisi area puncak ini. Juga sebagai sumber air makhluk hidup di sekitarnya, kabarnya rusa-rusa juga akan berdatangan untuk minum jika tidak ada pendaki di sekitarnya. Tidak sampai 5 menit dari Waifuku kami mencapai puncak 3027. Dari situ bisa terlihat puncak 3035 dengan jelas. Kami berfoto ria tak sampai 1 jam turun kembali ke Waifuku untuk makan siang. Lalu turun kembali ke Waihuhu dengan riangnya karena tanah yang empuk oleh lumut membuat kami bisa senantiasa bermain-main.

Area puncak 3027, dengan background genangan air
               

24-31 Agustus 2013

“Antah Berantah”
Konsep kegiatan survei goa ini terbagi menjadi 3 termin. Termin pertama kami habiskan 5 hari di Waihuhu, termin kedua 5 hari di Waensela, dan ketiga 4 hari di Waisanutuni. Setelah pemuncakan dimulailah kegiatan survei goa di Waihuhu. Tim dibagi 2, saya kebagian dengan Bang Ato. Tentunya dilengkapi peralatan navigasi seperti kompas, GPS, peta. Kami berjalan ke belantara betulan yang kata Bang Ato belum pernah ada yang kesitu selain kami. Saya memang pernah berangan-angan untuk bisa berjalan di hutan yang ‘beneran’ hutan. Biasanya kan hanya sebatas jalan di jalur pendakian, lewat begitu saja tidak benar-benar mengeksplorasi isi dalam hutan. Agak horor ketika kami menemukan tulang belulang rusa, Bang Ato memprediksi rusa itu bekas dimakan binatang buas, kemungkinan ular besar. Saya langsung parno dan ga berani jauh-jauh dari Bang Ato yang sudah berpengalaman. Tapi lama-lama toh tidak muncul juga hewan-hewan aneh yang saya bayangkan. Malah hutan lebih sepi dari yang saya kira (yaiyalah!). Saya berharap melihat rusa berjalan karena banyak sekali kami melihat jejak-jejak dan kotoran rusa yang masih fresh. Kata Bang Ato rusa berlari lebih cepat dari yang kita kira, bahkan sebelum kita sadar mereka telah kabur mengetahui ada manusia yang akan lewat. Hutan di ketinggian 2000-an sungguh cantik, pepohonan yang tinggi diselimuti lumut hijau juga hawa yang sejuk. Tidak lama kemudian saya mendengar suara deras air. Setelah kami dekati ternyata sungai dengan air terjun yang tidak terlalu tinggi tapi cantik! Kami makan siang disamping air terjun tersebut. Di penghujung hari barulah kami menemukan satu entrance goa di sebuah dolin kecil. Goa tidak terlalu dalam dan banyak reruntuhan batu. Hanya mengecek dan mendata lalu kembali lagi ke camp. Tim satunya juga menemukan 3 buah entrance.


Lebatnya hutan di area Waihuhu.

Barulah sisa hari kami di Waihuhu dihabiskan untuk memetakan 3 buah goa yang telah dipilih. Masuk goa di ketinggian lebih dari 2000 mdpl itu bagai masuk kulkas, batu-batuannya sedingin es. Rasanya kebelet pipis terus. Di atas tanah saja sudah dingin minta ampun, gimana di bawah tanah. Goa di Waihuhu ini rata-rata tidak terlalu dalam, tidak sedalam goa di daerah pantai Seram. Mungkin karena daerah gunung Binaiya ini berusia tua, sehingga sudah banyak tertutup sedimen-sedimen. Sedang di daerah pantai Seram yang masih lebih muda, banyak sekali goa-goa vertikal dalam seperti Hatusaka yang kedalamannya mencapai 300 meter.

Memasuki Gua di Waihuhu.
Selesai di Waihuhu, kami pindah ke camp Waensela yang ketinggiannya lebih rendah. Kondisi hutannya juga sedikit berbeda, lebih banyak semak-semak dan hawa yang tidak terlalu dingin. Kami memutuskan untuk libur pada hari pertama di Waensela. Jadi seharian kerjaannya hanya bersantai dan menikmati suasana hutan. 
Tim Satu Bumi, di depan mulut Gua
Hari kedua di Waensela, juga bertepatan dengan hari lahir saya yang kini mencapai 21 tahun. Di hutan, dan hanya ada tiga orang teman. Mungkin ulang tahun teraneh saya. No signal, no electricity, no facebook, no twitter, tanpa harus khawatir dan harap-harap cemas menghitung berapa orang yang mengucapkan selamat. Bebas. Hutan Waensela yang menunggu untuk dieksplorasi menjadikan saya bersemangat hari itu. Saya dan bang Ato berjalan ke arah puncakan di dekat camp, lalu menjelang puncak kami menemukan suatu hamparan luas tanaman paku-pakuan yang tampaknya terlihat sebagai tempat tinggal rusa. Banyak sekali jejak-jejak kaki rusa yang masih baru, seperti baru saja berlari meninggalkan kami. Dan ketika saya memandangi seluruh kawasan, tanpa sengaja menangkap dua sosok besar bertanduk kokoh yang berdiri sekitar 20 m disamping saya. Yap, saya melihat dua ekor rusa yang juga sedang memerhatikan gerak-gerik kami berdua. Tidak bisa menyembunyikan kekagetan saya, saya berteriak “rusa!” yang sayangnya membuat mereka langsung lari terbirit-birit menjauh. Bang Ato pun hanya sempat melihat sebentar mendngar teriakan saya, dia bilang coba saya tidak berteriak mereka juga akan tetap berdiri santai. Yaah, sedikit menyesal harusnya bisa melihat mereka lebih lama lagi. Tapi, terimakasih Tuhan, akhirnya saya benar-benar melihat rusa liar, saya anggap ini hadiah ulang tahun saya.
Selama berada di Waensela, kami berempat menemukan sekitar 5 buah gua dan memetakannya. Dari 5 gua tersebut, kami katakan mungkin hanya 2 gua yang benar benar ‘cukup panjang’ untuk bisa dieksplorasi. Ada sebuah peristiwa bodoh, dimana pada sebuah gua dengan bentuk vertikal, kami memetakannya hingga hari benar-benar gelap. Karena mungkin lelah dan kurang berhati-hati, ketika sampai di camp kami menyadari data yang saya tuliskan di kertas kodaktris anti air tersebut terhapus pada bagian yang paling penting: arah kompas. Meskipun hanya empat angka yang terhapus, namun sangat fatal akibatnya karena tidak dapat kami gambar secara benar nantinya. Lebih-lebih, itu gua yang paling ‘bagus’ (ornamen dan fauna yang lebih variatif) selama kami menemukan gua dalam kegiatan ini. Sehingga malam itu kami habiskan dengan penyesalan, haha, karena besok adalah jadwal kami berpindah area survey. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan esok hari kami terpisah menjadi 2, 2 orang kembali mengambil data di gua tersebut, dan 2 orang langsung berpindah camp ke lokasi berikutnya: Waisanutuni.
Medan di area ketiga ini lebih datar ketimbang sebelumnya. Ketinggiannya memang lebih rendah sehingga hawanya lebih sumuk. Vegetasi area ini didominasi oleh semak belukar dan rotan! Kami harus lebih berhati-hati karena lebih sulit untuk melewati rotan berduri. Saya pribadi baru merasakan berjalan-jalan di hutan penuh dengan rotan, tanaman yang banyak manfaatnya ini. Saya sempat takjub dengan bentuk tanaman rotan yang sangat panjang melungker-lungker, satu tanaman saja rotannya bisa mencapai panjang puluhan meter. Satu hal yang menarik, di area ini terdapat air terjun Waisanutuni yang memang cukup sering didatangi pendaki. Air terjun ini tingginya 20 meter. Kami diajak Bang Ato melihat air terjun tersebut, dan rekan-rekan lelaki saya langsung mandi-mandi. Saya sih kepengen, tapi nggak punya temen wanita haha. Jadi mending besok saja saya melipir sendirian cari spot di sungai. Harus berani.

Salah satu air terjun yang ditemui.
Hari kedua di Waisanutuni, seperti biasanya kami berpencar untuk mencari gua. Sepanjang penelusuran, hingga siang hari saya dan Bang Ato tidak berhasil menemukan satu gua pun. Kami melihat sebuah tebing dan menduga ada gua pada bagian atasnya karena kami seperti melihat bercak-bercak kotoran kelelawar di tepiannya, namun apadaya kami tidak mengeceknya karena cukup tinggi. Hingga akhirnya kami hanya menelusuri sungai, ke arah atas dan selalu takjub ketika menemukan air terjun-air terjun mini di sepanjang alirannya. Sampai-sampai saya berpikiran untuk membuat divisi susur sungai saja ketimbang susur gua, haha. Ketika hari mulai sore, kami mengeplot posisi kami di peta dan ternyata kami jalan cukup jauh dan hampir masuk area termin sebelumnya di Waensela. Akhirnya kami putuskan kembali lagi ke camp. Di perjalanan pulang Bang Ato mengambil rebung untuk makan malam kami nanti. Sampai di camp, saya melipir ke sungai menjauhi camp untuk mandi yang tetep aja bikin parno meskipun saya tahu tidak akan ada orang di hutan belantara ini yang bakalan mengintip, haha. Malamnya kami pesta makan rebung (bambu muda) dan sayur paku. Kata Bang Ato kami kalo boker bisa-bisa keluarnya pagar (got this joke eh?).
Hari-hari terakhir kami survey gua tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Waisanutuni rupanya masih belum berbaik hati untuk menyingkapkan gua-guanya kepada kami. Karena tidak menemukan satu pun gua, kami memutuskan kembali ke Desa Kanikeh untuk rehat sejenak sebelum lanjut lagi ke Hatu Mere-Mere, area di bawahnya Kanikeh dimana kami melihat bentukan alam yang cukup unik: batu besar di tengah hutan. Teman teman kami yang di Desa Kanikeh heran karena kami kembali lebih cepat dua hari daripada jadwal. Kami pun grasak-grusuk cuci alat dulu di sungai dan packing-packing untuk kembali survey esok harinya ke Hatu Mere-Mere. Perjalanan ke Hatu Mere-Mere tidak lama, satu jam dari Kanikeh kami langsung dapat melihat batuan besar yang langsung kami eksplorasi bagian dalamnya. Lagi-lagi kami tidak menemukan apapun. Hanya batuan besar yang ada di tengah hutan, aneh dan nampak seperti alien. Walhasil hari itu kami langsung kembali lagi ke Kanikeh, dan bergabung bersama tim untuk membantu kegiatan yang mereka lakukan. Masih ada hari besok dimana mereka akan memasang pipa-pipa untuk mengalirkan air dari sungai menuju keran air yang berada di tengah desa.
Ohiya, saya tidak menceritakan dengan lengkap kegiatan yang dilakukan teman-teman di luar tim caving karena saya memang tidak melakukannya langsung. Lebih khususnya kegiatan di desa Kanikeh yang hari-harinya diisi dengan kegiatan belajar mengajar, penelitian arsitektur desa, penelitian sungai, sosialisasi porter, sosialisasi bambu, dan pemasangan pipa air. Pada hari-hari terakhir di Kanikeh di mana persediaan makanan telah habis, dua orang teman saya dibantu anak anak desa berburu bekicot 2 plastik, hoek. Saya sendiri tidak doyan, dan tidak turut memakannya yang berujung dimarahin tim konsumsi yang sudah bersusah payah memasakkannya, haha maafkan saya.


Bagian Sebelumnya:





Senin, Desember 12

Teaser


Oke, awalnya saya malas memberi judul postingan-postingan tidak berfaedah macem gini, tapi ya harus dikasih judul. Masa tinggal ngasih barang satu kata doang susah. Mau jadi apa saya. Nah kan malah mbulet sendiri. Sebenernya malu udah gede gini kualitas tulisannya kok nggak meningkat ya. Tapi ya kenapa banget saya mesti mikirin, hadapilah kenyataan bahwa memang tulisanmu masih begini-gini aja. Ckck. Baiklah. Sebelum saya berantem sama diri sendiri perihal judul, saya mulai saja tulisan tidak berfaedahnya. Dan akhirnya saya nemu judul: teaser. Apalah, haha, agak nggak nyambung.

Jadi, saya mau memperkenalkan blog baru saya (kayak nggak cukup satu aje lu tam). Satu ini aja jarang ngisi banget. HAHA. Tapi ini bukan blog-blog berisi tulisan sih. Jadi lebih kepada photoblog, visual diary, dengan caption yang singkat-singkat saja. Oke sampai detik ini saya masih menolak untuk membuat akun instagram. Tapi saya ternyata pingin ikut-ikutan posting foto. Maklumi saya ya guys, saya juga produk anak milenial. Ya, alasan utama lebih karena saya punya beberapa koleksi gambar yang menurut saya bisa merepresentasi hidup saya tanpa harus secara gamblang mengekspose diri. Karena untuk membuat akun instagram, saya agak malas jikalau harus tertuntut untuk follow orang ketika saya difollow orang. Huaha. Suombong betul.

Orang-orang dekat saya, atau yang sering kepoin blog ini, pasti tahu kalau platform blospot ini media sosial yang paling saya update secara tulus ketimbang yang lain. Jadi saya iklan blog baru di sini pun yang akan langsung menuju kesana adalah kalian kalian yang setia melihat laman ini. Saya akhirnya memilih platform tumblr sebagai sarana photoblog saya, hehe, baiklah maka saya perkenalkan saja photoblog saya (best viewed on desktop). Rada nggak kreatif sih ngasih nama domainnya, tapi ya saya nggak ngerti lagi mesti kasih domain apaan.

Teaser kedua adalah, saya akan melanjutkan cerita perjalanan ekspedisi saya di tahun 2013 lalu. Kurang lama tam, ngelanjutinnya haha. Oke, dilihat-lihat traffic yang paling tinggi selalu ada di postingan catper ekspedisi part satu. Catatan itu adalah hampir sepertiga total cerita utuhnya. Jujur waktu itu saya telah menulis lebih dari setengah. Tapi memang baru sempat posting part satu, waktu itu niatnya bakal diposting lagi jika saya telah menyelesaikan cerita utuhnya, yang tidak pernah terjadi. Hingga akhirnya pas beberes file di hardisk saya menemukannya kembali tulisan yang terlupakan itu. Lalu saya mulai tergerak untuk melanjutkannya lagi. Karena mungkin banyak juga orang nyasar kemari ketika googling dengan kata kunci trip ke Binaiya. udah baca eh nanggung cuma ada part 1 doang. Kan kasian haha. So, I'm still working on this. Semoga nggak terlalu basi karena bagian-bagian akhir saya nulisnya baru baru ini.


Sekian

Sabtu, November 12

Cerita Pagi

Pagi yang dingin tadi saya memutuskan untuk lari pagi di GSP. Pagi tadi Jogja dingin, dan saya harus bergerak. Jadi bersiap-siaplah saya setelah sholat subuh yang memang sudah agak telat karena langit sudah terang, haha.
Lalu saya keluar kamar dan mulai membuka gembok pintu gerbang kosan. Pintu terbuka dan saya dikejutkan oleh dua ekor kucing di dekat pintu yang juga terkejut dan melotot ke arah saya. Lucu! haha. Mereka jadi patung sejenak sebelum akhirnya menghindari saya beberapa meter. Ah, kucing punya tetangga yang lucu tapi sayangnya sombong. Tidak mau dipegang yang bukan pemiliknya. Baru kemudian saya sadar ada banyak laron beterbangan ke segala penjuru. Kucing-kucing ini sedang bermain dan menangkapi laron rupanya.

Saya lanjutkan perjalanan sambil mengamati jalanan. Tampaknya pesta tangkap laron ini juga dimeriahkan oleh peserta lainnya. Selain kucing, ayam-ayam juga bergerombol mematuki laron tanpa sayap yang telah jatuh di tanah. Maju lagi ada rombongan kucing lain yang sedang lompat-lompat. Di lapak yang lain saya juga melihat anak-anak kecil berbekal kantong plastik kresek sedang memunguti laron. Wah, menang banyak dong pakai plastik dik, kucing dan ayam harus kerja lebih keras lagi nih. Ngomong-ngomong ini bocah-bocah nggak pada persiapan sekolah apa? Oh, masih pagi ya, tak ada salahnya menyempatkan diri bermain laron terlebih dahulu.

Jadi tadi pagi cukup meriah, hanya melihat ayam-kucing-anak kecil saja cukup membahagiakan pagi saya. Saya lupa kapan terakhir kali bahagia karena laron. Yang ada sih sering mengeluh karena laron yang bertebaran bikin kotor teras rumah. Atau kesal karena harus repot mematikan lampu yang mengundang ratusan laron. Cuma orang dewasa saja ini yang sekarang hidupnya pada nggak nyantai.

Postingan singkat ini saya dedikasikan untuk laron, yang hidupnya cuma sebentar. Tadinya saya mau update di timeline line tentang pagi tadi. Tapi saya urungkan karena dipikir-pikir nggak penting isinya, haha. Mending tulis di sini saja deh itung-itung menuh-menuhin blog lagi. Anyway, saya mulai uninstall aplikasi path di ponsel pintar saya. Selain karena boros paketan data, hidup saya ternyata lebih tenang tanpa melihat-lihat kehidupan orang. Nanti deh kalo saya mulai kangen dengan teman-teman baru saya install lagi. haha.

Semoga orang-orang dewasa bisa lebih sering berbahagia, juga mampu membuat bahagia tanpa harus mereka sadari.

Kamis, November 10

Overcoming Fear: Sleep Paralyze, and How I Deal With It

Yang sering tindihan atau sleep paralyze mana suaranyaaaaa?

Saya mau cerita, penting nggak penting sih, tentang serba-serbi alam bawah sadar yang pernah saya alami. Ini mungkin kisah singkat saya dalam menangani masalah sleep paralyze atau yang disebut tindihan oleh orang lokal. Saya yakin ada banyak orang pernah mengalami sleep paralyze. Apa yang jika terjadi, otak atau pikiran akan merasa sadar padahal tubuh tidak bisa bergerak. Bagi anda yang tidak pernah mengalaminya, congratulation! karena ini sangat mengerikan. Sangat mengerikan sampai-sampai ketika mengalaminya saya seperti dekat dengan maut dan akan diambil nyawanya. Berlebihan ya? haha.

Sebutlah sejak SD saya mulai mengalami tindihan ini. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain berusaha untuk bangun ketika sleep paralyze terjadi. Artinya saya harus melawan dengan bersusah payah menggerakkan tubuh saya yang notabene masih dalam keadaan off. Tidak mudah, bahkan menggerakkan satu jari saja beratnya minta ampun. Yang pernah mengalaminya pasti paham maksud saya. Nafas seolah tersengal. Ingin berteriak tapi tercekat di tenggorokan, kadang teriakan-teriakan tersebut hanya muncul sebagai suara aneh yang oleh orang disebut mengigau. Menjadi lebih buruk ketika saat kejadian saya berpikir yang aneh-aneh karena sungguh hal yang dipikirkan kala itu menjadi dilipatgandakan. Contohnya, ketika saya tindihan saya mulai berpikir mengenai suara-suara aneh di sekitar saya, dan suara-suara tersebut menjadi demikian nyata terdengar. Jadi jika saya memikirkan suara perempuan tertawa, maka suaranya akan jelas masuk ke telinga saya. Pikiran saya kala tindihan terjadi adalah saya nggak mau mati.

Sebagian orang mengaitkan peristiwa seperti tindihan ini dengan hal-hal mistis. Beruntung sejak dimulainya tindihan saya sudah bisa berpikir lebih rasional untuk mengaitkannya dengan hal-hal logis. Saya dahulu percaya peristiwa ini bisa dijelaskan secara medis meski tidak tahu apa tepatnya. Yang jelas, kondisi otak/syaraf dan tubuh yang tidak sinkron.

Bagaimanapun, selogis-logisnya saya waktu itu TETEP AJA NGERI setiap kali fase-fase tindihan datang. Meski tidak setiap hari, tapi relatif sering untuk kejadian yang tidak saya inginkan. Seringnya terjadi ketika saya memulai tidur malam saya. Kadang muncul di waktu-waktu saya merasa lelah. Bahkan waktu saya mengantuk dan tertidur dalam posisi duduk seusai menjalankan ibadah sholat. Satu dua kali ketika tidur di kelas masa SMP/SMA, haha.

Saya cerita bagian seremnya dulu ya. Ada masa-masa saya cukup lelah dan mulai mengaitkannya dengan hal yang nggak rasional. Sebagai catatan, indra yang sering terasa nyata ketika tindihan adalah pendengaran, lalu penglihatan, dan jika sedang sial, indra peraba pun bisa merasakannya! kenapa sial? karena siapa di dunia ini yang mau ada benda asing muncul dan tersentuh ketika kita bahkan tidak bisa menggerakkan tubuh dan tidak bisa berteriak minta tolong? Sebutlah saya sedang tidur siang di asrama ketika kelas satu. Entah kenapa saya mulai paham akan terjadi tindihan. Saya setengah sadar tanpa bisa bergerak, seperti biasa. Ada yang aneh ketika saya merasa bagian tangan kiri saya terasa sangat berat dan tertindih sesuatu. Saya bahkan tidak dapat menengok untuk melihatnya, namun terasa ada sesuatu yang asing. Saya tidak menyebutnya sosok karena tidak cukup besar untuk itu, tapi semakin saya memikirkan 'itu' adalah sebuah sosok, maka semakin tersirat bayang-bayang rambutnya! saya semakin kencang berdoa, karena tangan kiri saya sungguh merasakan tertindih sesuatu. Entah bagaimana saya berhasil bangun dan turun dari kasur tingkat (posisi kasur saya di atas) lalu langsung keluar kamar dan menangis! teman-teman kamar saya tidak ada di kamar waktu itu. Yang saya heran proses saya berdamai dengan ketakutan tersebut bisa begitu cepat. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menjadi normal kembali dan beraktifitas seperti biasa. Mungkin saking seringnya ya?

Saya ambil dua peristiwa lagi ya yang cukup berkesan. Flashback ke masa SMP yang juga di asrama. Saya sekamar dengan tiga teman saya. Ketika sudah waktunya tidur kami berempat tertib mengenai waktu tidur, sekitar jam 10 malam. Kala itu saya punya kebiasaan aneh menutup mata dengan bantal jika saya menginginkannya. Mungkin juga semacam perlindungan diri agar tidak melihat apapun ketika tindihan. Setelah meletakkan bantal di muka, saya mulai terlelap dan mungkin telah melewati beberapa fase mimpi. Lalu mulailah tindihannya, dimulai dengan suara pintu yang perlahan terbuka (you know how terrible that sound is!). Sayangnya, posisi kasur saya menghadap ke arah pintu, sehingga tubuh saya membujur ke arah pintu dan tidak ada halangan bagi saya untuk memandang langsung ke arah pintu. Babak berikutnya adalah ada sosok yang mengintip. Mari mulai kisah horornya, sosok itu tampak menggunakan mukena selayaknya mukena yang kami gunakan ke masjid. Bisa saja saya berpikir itu pembimbing asrama yang sedang mengecek. Namun saja saya langsung tahu dia bukan mbak-mbak yang saya kenal karena dia seperti menggunakan bedak tebal putih di mukanya. Lalu saya teringat, perasaan tadi saya menaruh bantal di muka saya, seharusnya saya tidak melihat apa-apa kan? Lalu momen itu seperti beku sekian lamanya, kalo boleh bilang, terasa berjam-jam. Saya tidak melakukan hal lain selain berdoa dan berusaha sekuat tenaga untuk bergerak, sementara mbak-mbak asing itu mengintip saya melalui pintu yang setengah terbuka. What the f. Lalu beberapa saat kemudian saya berhasil bangun hanya untuk melihat, saya baru saja tertidur selama 15 menit! dan bantal masih menutup muka saya. Saya masih harus melalui malam yang panjang sebelum hari menjadi normal kembali. Tanpa pikir panjang, saya memutuskan tidur bersebelahan satu kasur dengan teman saya tanpa membangunkannya, karena saya begitu tidak ingin mengganggunya. Barulah pagi harinya saya cerita karena keheranannya menemukan saya di sampingnya.

Oke, satu kisah lagi. Saya sudah kuliah, dan tindihan masih menjadi teman akrab saya. Waktu itu dalam rangka menjadi anggota organisasi pecinta alam, saya bersama teman satu angkatan melakukan perjalanan panjang ke Sulawesi Selatan. Pada malam pertama kedatangan di Makassar, kami menginap di rumah kerabat senior. Saya yakin kejadian kali ini disebabkan karena kelelahan yang sangat karena siangnya mobilitas kami begitu luar biasa. Kami tidur beramai-ramai dalam ruang tengah, berjejer seperti pindang. Kanan kiri saya teman-teman perempuan saya yang langsung tertidur lelap. Beberapa orang masih mengobrol di ruang tamu. Saya langsung tahu saya belum masuk ke alam mimpi yang indah ketika terlihat sosok gelap, seperti bayangan, di depan saya. Tiba-tiba dia mulai mengeluarkan tangannya ke arah saya. Seolah-olah mau mengambil sesuatu. Sudah pasti saya tidak mau 'diajak' sosok terebut, dan saya berusaha teriak sekencang yang saya bisa. Teriakan saya rupanya betul-betul keluar sehingga terdengar teman-teman yang masih mengobrol. Saya teriak 'Jangan!' (jangan diambil). Saya langsung terbangun dan beberapa yang mendengar menanyakan saya. Teman sebelah pun ikutan terbangun dan menenangkan saya. Saya menahan tangis sepanjang malam, hehe, hingga akhirnya benar-benar tertidur. Paginya, igauan saya cukup menjadi lelucon. Semua maklum karena kami banyak memforsir tenaga sebelumnya, mimpi buruk saya adalah salah satu dampaknya. Mungkin teman-teman saya sudah melupakannya, namun sampai sekarang masih teringat jelas di benak saya.

Menurut teman saya, peristiwa semacam tindihan ini disebabkan oleh keadaan-keadaan di dunia nyata yang cukup menekan saya. Ketika alam sadar saya tidak terlalu meresponnya dan cenderung menyembunyikan dampak-dampak tekanan hidup inilah yang akhirnya muncul di dalam alam bawah sadar saya. Sehingga terjadilah momen-momen tindihan. Entah harus membenarkan atau tidak, karena alam sadar saya sendiri masih merasa baik-baik saja. Bisa saja benar karena mungkin saya langsung menyembunyikannya ke alam bawah sadar tanpa bisa saya sadari? Ah tidak tahulah..

Cukup terbayang kan, bagaimana saya harus berurusan dengan mimpi buruk yang terasa nyata selama bertahun-tahun? Hingga akhirnya saya terdampar di forum kaskus pada pertengahan kuliah, sekitar akhir tahun 2012, mungkin?

Harusnya saya bisa mencari tahu secara dalam mengenai fenomena sleep paralyze ini lebih awal lagi. Berhubung saya tidak terlalu update masalah dunia maya, di mana kaskus sudah ngetrend bertahun-tahun sebelumnya, saya hanya kebetulan saja mencet link ke forum kaskus tersebut. Saya tidak memiliki akun kaskus dan hanya menjadi silent reader, namun saya menemukan banyak informasi mengenai apa yang disebut Lucid Dream. Membacanya saja seperti membaca modul kuliah. Penjelasan lengkap beserta metode-metode yang saya juga nggak baca semuanya. Yang jelas, sleep paralyze ini masuk ke dalam penjelasan logis mengenai fase-fase tertentu yang harus dihadapi otak menjelang tertidur. Oke penjelasannya sudah banyak tersebar di mana-mana. Intinya, saya dapat satu kunci bahwa ketika sleep paralyze terjadi yang harus dilakukan adalah rileks dan tidak melawan. Awalnya saya pikir bagaimana mungkin? bisa-bisa kebablasan? namun akhirnya saya mau mecobanya ketika tindihan berikutnya terjadi.

Yang mengejutkan, metode ini berhasil!
Dalam penjelasan, disebutkan bahwa sleep paralyze adalah salah satu cara untuk memasuki lucid dream, di mana ketika bermimpi seseorang akan menyadari bahwa ia sedang bermimpi. Hebatnya ia bisa melakukan kontrol atas mimpi tersebut. Ketika ingin merasakan terbang, atau berjalan-jalan di awan, dan hal-hal menakjubkan lainnya yang tidak akan pernah terjadi di dunia nyata dapat terjadi ketika lucid dream. How awesome is that?

Saya sendiri sudah merasa puas dengan metode rileks dan tidak melawan ketika sleep paralyze terjadi. Karena hanya itu yang selama ini saya butuhkan, bagaimana saya tidak perlu merasa resah akan datangnya momen buruk dalam tidur-tidur saya. Saya simpulkan saya telah sembuh dari tindihan, meski tidak sepenuhnya. (Tetap merasa ngeri ketika merasakan sensasi menyeramkan dalam kepasrahan, halah)

Mengenai lucid dream, ini bonus bagi saya. Beberapa anggota forum kaskus begitu rajin mempraktikkan lucid dream tersebut. Saya baru benar-benar merasakannya ketika dalam tindihan berikutnya saya berniat untuk masuk ke dalam lucid dream. Saya tidak akan cerita detail karena tampaknya tulisan ini mulai bertele-tele nantinya, haha. Lalu ketika fase Sleep Paralyze terlalui saya memulai mimpi sadar saya dengan melihat telapak tangan saya sendiri dan secara ajaib (kok ajaib sih, memangnya sulap?) kesadaran dalam mimpi saya menjadi tahan lama. Metode lainnya adalah dengan menutup hidung dan menyadari saya masih bisa bernafas. Sensasinya kocak aneh. Yang membuat bahagia, ketika saya akhirnya berhasil mencoba terbang. Sesungguhnya masih bisa dihitung jari pengalaman lucid dream saya. Tidak terlalu memiliki obsesi menjadi lucid dreamer juga sih. Tetapi setidaknya saya bisa memanfaatkan hal yang menakutkan untuk sesuatu yang memungkinkan untuk menjadi hal yang menyenangkan. Lalu apakah saya masih sering tindihan? jawabannya: tidak sesering dahulu. Jika yang dikatakan teman saya mengenai tekanan dalam hidup itu benar, apakah artinya saya mulai tidak tertekan? semoga saja demikian, hehe..

Ah, ada satu yang lupa saya ceritakan. Bagaimana ternyata ibu saya sendiri pun mengalami peristiwa sleep paralyze yang lebih ekstrim dari apa yang saya alami. Tapi saya tidak ingin menakut-nakuti diri saya karena sudah tengah malam. Sekian.