Rabu, Januari 13

Drama

Terlalu banyak drama di sekitar kita, rasanya.

Drama permusuhan
Drama percintaan
Drama penghianatan
Juga drama kasih tak sampai,

Saya memahami ada hal-hal yang pada akhirnya tidak mampu, atau belum mampu -kalau kau orang yang begitu optimis- diperoleh sebagaimanapun kita menginginkannya. Sebesar apapun kita memperjuangkannya. Sedalam apapun kita merapalkannya dalam doa. Senyata itu kita memimpikannya setiap malam.

Kita begitu bingung terhadap peperangan yang tak kunjung usai. Begitu jengkel dengan tidak becusnya bapak-bapak pengambil kebijakan. Bertanya-tanya mengapa serangan kanker darah pada seorang kerabat bisa tiba-tiba saja merenggut nyawa. Terpukul karena mendengar kabar kawan yang diputus pertemanannya secara resmi karena, penghianatan?

Ada orang-orang yang bersimpati mengenai kisah perjuangan cinta yang tak kunjung disambut. Ada yang memilih untuk menyimpannya dalam rahasia. Yang menyadurnya dalam sajak di tengah derasnya hujan. Juga yang memutuskan untuk menjelma jasad tak bernyawa, ketika kenyataan terlalu pahit.

Begitu saja kita memilih untuk melakukan sesuatu. Begitu saja kita berjuang.

Saya, kamu, dia, kalian, mereka, kita, tidak pernah tahu bagaimana ini akan berakhir bukan?

Dan mengapa kehidupan tidak bisa berputar sesuai dengan yang kita inginkan? Satu yang saya tahu, karena kita kan bukan Tuhan. 

Rabu, Oktober 28

Beauty Industry

Saya menyadari ketika akhirnya teman-teman wanita saya satu persatu mulai memperhatikan penampilannya hingga paling tidak mereka memiliki seperangkat alat make up yang minimalnya berisi krim pelembab, bedak, lipstik dan eyeliner, mungkin juga pensil alis. (alat kecantikan di luar wajah seperti body lotion dll tidak masuk hitungan).

Tidak mudah bagi saya untuk mengenali alat-alat kecantikan diatas level bedak dan parfum. Karena saya beranjak dewasa di lingkungan asrama muslim dari usia SMP hingga SMA yang tidak memiliki suatu urgensi untuk ber make up ria. Dan asrama juga menjauhkan saya dari mama saya yang cantik dan katanya sudah menggunakan lipstik sejak kuliah (semacam hilangnya panutan yang paling dekat). Hijab fashion pun belum masuk pada masa itu. Apalagi asrama memiliki aturan mengenai model hijab yang harus dipakai. Dulu setahu saya, orang dandan hanya jika ada acara khusus seperti pernikahan dan wisuda. Jadilah masa remaja saya yang pengetahuan standar kecantikannya cuma level kerudung mancung (jaman SMP) dan asal rapih dan bersih aja. Mungkin pada masa itu bagi remaja yang tidak berkerudung semacam rambut lurus panjang, poni miring, behel juga boleh, lalu senyum bibir tipis dan selfie dengan angle kamera dari atas. Ya, semacam itu yang saya lihat di foto profil Friendster orang-orang.

Lalu memasuki bangku kuliah, lingkungan saya pun diisi dengan teman-teman wanita yang sudah mulai aware dengan penampilannya. Memang sudah selayaknya wanita urban usia 20-an, make-up pun menjadi salah satu identitas dewasanya seseorang. Dan akhirnya saya punya teman dengan gaya rambut yang berbeda-beda, karena sebelumnya di asrama semua teman saya berhijab. Dan saya rasa, rambut panjang masih mendominasi klasemen pemilihan standar kecantikan. Meski ada beberapa yang mempertahankan style tertentu seperti rambut pendek cepak.

Lalu entah mungkin sekitar tahun 2011/2012 ke atas mulai ada beberapa hijaber yang merubah gaya hijabnya. Sedikit perubahan dari yang model biasa kerudung paris segiempat menjadi ada tambahan inner hijab / daleman kerudung yang terlihat. Sebelum akhirnya berkembang jadi lilit melilit kain , atau yang lebar ala model syar’i, dan sebagainya. Sepertinya pada tahun itu juga banyak bermunculan teman-teman muslim yang tadinya tidak berhijab menjadi berhijab. Subhanallah ya.. Bersamaan pula dengan awal mula populernya aplikasi instagram, dimana semua foto yang ditampilkan tampak begitu indah dan menarik. So pasti siapa sih yang nggak pengen terlihat cantik di instagram?

Tahun berikutnya, ketika hampir semua orang memiliki ponsel pintar dan sangat mudah mengakses instagram, ditambah dengan menjamurnya online shop, semua orang menjadi tahu fashion! Sangat mudah sekali untuk mengakses apapun: tutorial make-up, membeli baju secara online, referensi mode dari selebgram, Kabar baik untuk industri kecantikan.

Media memang berperan besar dalam hal ini. Misalnya iklan kosmetik. Oke iklan kosmetik mana sih yang modelnya nggak cantik? Jelas kecantikan para model iklan ini sangat mengiming-imingi dan menjanjikan bahwa hasil yang akan didapat akan terlihat seperti mereka. Padahal yang dasarnya udah cantik mah mau diotak-atik bagaimanapun tetap cantik. Jadi kadang mikir, ah ini emang orangnya aja udah cantik, mau pakai kosmetik merk ini itu sama aja, mau dia iklan baju, kerudung, detergen, juga sama aja. Ehehe, tapi ini mungkin sayanya aja yang terlalu skeptis. Bukan bermaksud bilang juga kalo yang tidak cantik nggak akan jadi cantik dengan make-up. Saya pribadi kadang takjub dengan kekuatan make-up yang sukses pada wajah orang-orang. Masih ingat kan kasus seorang wanita yang dituntut suaminya karena setelah menikah wajahnya menjadi berubah drastis ketika make-upnya dihapus? Luar biasa bukan..

Saya ambil salah satu contoh kasus, anggaplah si mawar (bukan nama sebenarnya) merasa tidak percaya diri karena teman-temannya kini mulai berdandan ketika beraktifitas. Mawar mulai mencari-cari tutorial make-up di internet, berbekal meminjam make up milik temannya, atau Mawar meminta temannya mengajari cara berdandan. Mawar yang merasa wajahnya tidak jelek-jelek amat, tetapi juga kurang cantik merasa takjub ketika sentuhan make-up mampu membuat wajahnya menjadi sangat cantik. Lalu teman mawar memuji yang juga dengan takjubnya, “Gilaa, cantik banget kamuu..”. Mawar merasa ia harus memilikinya sendiri. Ia pun mulai mengoleksi alat kosmetik pelan-pelan hingga lengkap dan cukup untuk membuatnya cantik ketika beraktifitas.

Percaya deh, dukungan dari teman dapat menambah 200% kepercayaan diri anda. And that’s what friends are for, right?

Juga kerasa banget kok ketika di Jogja banyak bermuculan klinik-klinik kecantikan yang baru. Yang beberapa waktu sempat mendominasi baliho-baliho jalanan. Tapi beneran deh, promosi klinik kecantikan ini memang nggak tanggung-tanggung, baliho selebar jalan kaliurang diisi wajah doang. Ini artinya pasar industri kecantikan mulai meluas. Banyak orang yang ingin tampil cantik dan menarik. Rela membayar lebih untuk menjelma ‘sempurna’.

Belum lagi di negara lain, Korea Selatan misalnya, yang trend cantiknya udah level operasi plastik. Ketika menurut mereka cantik adalah memiliki wajah kaukasian: hidung mancung dan mata lebar. Bagaimana mungkin akhirnya anak muda di sana memilih menyisihkan uangnya untuk bekal operasi plastik? Belakangan saya kepo in tentang operasi plastik di Korsel, dan takjub banget lihat gambar-gambar before-after nya orang-orang yang melakukan operasi.

Sejujurnya saya toh ikut senang ketika pasar kecantikan memberi dampak positif ke teman-teman. Beberapa yang akhirnya membuka bisnis jilbab, atau yang keahlian meriasnya telah merambah menjadi make-up artis,  dan teman-teman yang akhirnya jadi pinter dandan lalu menjadi percaya diri dan bahagia. Ada juga yang selalu tampak berapi-api mempromosikan produk kosmetik merk tertentu yang belakangan saya ketahui adalah bisnis sistem MLM. Hmm, ya ya..

Tapi rasanya kembali lagi ke definisi cantik itu apa sih?

Kalau menurut KBBI:
Cantik /can-tik/ 1 elok; molek (tentang wajah, muka perempuan); 2 indah dalam bentuk dan buatannya: meja ini – sekali; -- molek 1 sangat rupawan (tentang orang perempuan); 2 cantik (bagus) sekali (antara bentuk, rupa, dan lainnya tampak serasi);

Hmm, kalu berdasarkan kamus, cantik memang merujuk kearah fisik. Jadi sah-sah saja jika menilai kecantikan seseorang hanya berdasarkan fisik (wajah) nya saja. Meskipun menurut saya mengartikan cantik masihlah terlalu rumit. Terkadang saya terprovokasi slogan-slogan mengenai cantik yang sederhana saja. Tapi toh saya juga mengagumi orang-orang yang piawai menggunakan riasannya. Tergantung mood deh hehe. Yah, pada akhirnya penilaian cantik pun berdasarkan selera. Subjektif sekali bukan. 

Tenang saja, tulisan ini tidak diakhiri dengan kesimpulan bijak mengenai kecantikan yang apa adanya seperti “cantik dari dalam hati” atau ajakan “Cintailah tubuhmu apa adanya” dan semacamnya. Saya kira hal-hal semacam itu sudah banyak dijadikan topik tulisan, video, lagu, iklan. Atau yang bisa anda temukan pada artikel tipikal hipwe* : “10 tanda-tanda kalau kamu benar-benar cantik”!

Dan tulisan ini pun hanya secuil opini tentang fenomena kecantikan wajah. Hmm, saya jadi penasaran standar cantik 100 tahun lagi kayak apa ya?

The end

PS: Nih saya kasih bonus ketika pertama kalinya saya menggunakan make up,

pucat, dan menyedihkan

Kamis, Oktober 15

Antara Ego, Kata Hati, dan Teman Lama

Hari ini libur tahun baru Islam, jadi saya putuskan untuk mengisi kembali kehampaan blog yang tampaknya per 3-5 bulanan baru diisi lagi (insert laugh but crying emoticon here). Tapi kok klise banget ya nulis intro macem gini hehe. Sok sok bersalah nggak pernah nulis, dan akhirnya mengawali tulisan dengan kata –kata ‘sudah lama tidak menulis! akhirnya mengisi kembali and so and so…’ Nah berhubung ada yang request buat nulis lagi juga, so here we go..

Teringat obrolan dengan seorang kawan mengenai ego dan kata hati. Terkadang kita nggak pernah benar-benar tahu apa yang kita inginkan bukan? Am I doing it right? Or not?

Katanya, ada hal-hal yang kita kekeuh melakukannya padahal di sisi terdalam hati kecil ada perasaan ‘this is just not right’ yang akhirnya diabaikan. Karena memang hanya sekedar bisikan kecil yang lewat begitu saja. Padahal pada suatu waktu ‘this is just not right’ itulah yang muncul kembali dan membuktikan bahwa jalan yang kita ambil sebelumnya adalah ‘salah’. Dan ini sih menurut pengalaman seseorang yang saya belum pernah benar-benar merasakannya, atau saya bahkan tidak pernah sadar merasakannya? Hmm, bisa jadi. Katanya sih itu namanya ego, memaksakan kehendak. Dan jika ego sudah muncul, maka ia akan membenarkan segala hal yang dilakukan. Makannya lihat kembali, apa yang dilakukan itu betul-betul menuruti kata hati? Atau semata-mata memaksakan ego? Dan lalu mempertahankannya hingga bertahun-tahun dan hanya mendapat kecewa ketika yang diinginkan tidak berhasil terpenuhi.

Hmm sejujurnya sayapun kurang bisa membedakan mana yang ego dan mana yang kata hati sesungguhnya hehe. Bukankah orang yang benar-benar yakin dengan yang dilakukannya –terlepas dari itu ego atau bukan- adalah orang yang kepribadiannya begitu kuat? Mungkin saya yang tidak terlalu memikirkan sebutan dari sebuah perasaan yang namanya kata hati. Tapi entah apapun yang orang-orang lakukan, termasuk saya, jika memaksakan ego maka ada suatu waktu kita akan belajar darinya. Bahwa sesuatu yang dilakukan harus dipertimbangkan baik-baik.

Padahal saya sering banget melakukan sesuatu tanpa pikir panjang, pada awalnya haha. Memang ketika ada sebuah kesempatan yang tiba-tiba datang, dan kita berpikir tidak akan ada kesempatan kedua maka siapa sih yang mau pikir panjang? Nah, barulah ditelaah dan pertimbangkan segala hal setelah mengambil keputusan tersebut. So if there’s a chance, go grab it! Tapi tanggung sendiri resikonya hehe. Tapi yang penting, bagaimana caranya untuk menjalani dan mengatasinya jika ada hal-hal yang tidak sreg di hati. Dan jangan pernah lupa untuk mendengarkan kata hati.

Ganti topik ah…

Belakangan saya ketemu teman-teman lama, sebut saja reuni MTs. Senang sekali waktu akhirnya melihat wajah-wajah mereka kembali setelah, emm, 9 tahun lamanya? Dari yang tadinya belum puber sampai sekarang jadi tante-tante cantik. Apalagi yang dulu pernah jadi teman geng dan melakukan hal-hal konyol bersama. Rasanya ada momen luar biasa dimana para wanita-wanita ini berpelukan dan berteriak ketika bertemu kembali. Bukan satu atau dua orang, tapi puluhan. Dengan wajah yang semakin dewasa (you have no idea betapa bocahnya saya waktu itu). Ya, saya rasa sensasi reuni yang paling kena ya bagian ketemu di awalnya itu saja haha. Sensasi kaget ketika melihat orang yang sama telah banyak berubah. Telah menjalani hidup masing-masing. Dan dalam periode waktu 9 tahun itu kisah hidup masing-masing telah merubah mereka sekarang dari yang pernah kita ingat. Ada yang dipeluk lama bersamaan dengan munculnya kenangan-kenangan masa bocah. Ada yang sekedar cipika-cipiki, karena dulu kami tidak pernah mengenal secara dekat. Ada yang dilupakan namanya (yang ini sih sedih).

Di lain kesempatan saya juga bertemu teman lama lain yang sudah jadi staf kementrian sekarang. Dan pas ada dinas ke Jogja saya jadi malah nebeng nginep di hotel bintang banyak yang tak disangka ternyata suasana di dalamnya wow so luxurious, ketimbang yang cuma kelihatan dari pinggir jalan selama ini. Hotel-hotel semacam ini di Jogja ternyata banyak dan akan bertambah banyak lagi dan lagi. Dan kita mengobrol banyak di pagi hari. Yang tidak kusangka dia sangat berterimakasih dengan obrolan pagi itu. Rasanya bahagia ketika ada orang berterimakasih secara tiba-tiba tanpa saya sadari saya telah melakukan entah apa yang membuatnya berterimakasih. Ah, memang selalu ada hal-hal menakjubkan di pagi hari. Bersamaan dengan dimulainya hari ternyata semesta juga mengisi jiwa-jiwa yang mau bersyukur dengah kebahagiaan. Saya sering menyesali karena belakangan malah tidur kembali setelah Sholat Subuh. Jadi semoga pagi berikutnya bisa lebih bermakna.




"One small positive thought in the morning can change your whole day" -Unknown


Agak kemana-mana sih topiknya, yang penting nulis deh hehe Well, this absurd thoughts is dedicated to Mbak Feb tentang obrolan mengenai ego dan kata hatinya. And also to Aspe tentang obrolan di pagi hari.

Senin, Mei 18

Such an Elderly

Saya menulis lagi. Rasa-rasanya belakangan saya hanya menulis jika saya ingin menulis, dan saya ingin menulis ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan sistem perputaran di hidup saya. Namun jujur saya pun tidak ingin beberapa kisah yang saya tulis diketahui banyak orang, beberapa kali saya pengen ngetwit atau nulis gamblang di blog,  tapi terlalu terumbar rasanya, saya kan pemalu haha. Sudah terlalu lama saya vakum dari dunia tulis menulis di dunia maya. Entahlah, mungkin saya bosan dengan keadaan yang terlalu cepat ini. Hambar. Saya juga memiliki banyak stok foto-foto yang kiranya bagus untuk saya posting, sehingga beberapa kali berniat membuat akun instagram. Tapi lagi lagi, berujung pada kehambaran. Mungkin sebenarnya saya lebih ke arah plin plan, apakah seharusnya saya masuk ke dalam euforia trend hidup manusia jaman sekarang? atau saya hanya memandanginya saja dari kejauhan? menertawakan pun tenggelam dalam keragu-raguan. Hmm, dasar tukang plin-plan.

 so here’s the story begin.. dari tadi juga udah mulai sih, haha.


Sebetulnya toh ini tulisan mainstream anak muda 20an yang belum benar benar paham arah hidupnya mau kemana. ya, lagi-lagi.
Tapi sadar nggak sih semakin kamu banyak melihat kehidupan, semakin banyak bertemu orang. Semakin segala sesuatunya kembali lagi ke nol. Semacam mempertanyakan diri sendiri sebenernya kamu ini siapa? dimana? sedang apa? mau apa? yakin dengan yang kamu lakukan?
Saya sedang membantu sebuah proyek penelitian dosen saya mengenenai ruang hidup lansia di suatu kampung padat di Yogyakarta. Dan ini cukup menyenangkan karena saya harus mengunjungi 150 responden lansia di setiap rumah mereka. Betapa kehidupan seseorang bisa dengan jelas terlihat dari sebuah ‘ruang’ yang disebut rumah. Bagaimanapun wujud rumahnya, si pemiliklah yang pada akhirnya menjadikannya sebagai cerminan watak-watak, identitas, dari apa yang telah mereka perbuat semasa hidupnya.

Pun karena yang diwawancara adalah lansia, dimana mereka telah melalui pahit manis kehidupan. Dan memiliki segudang kisah dan nasihat hidup. Sangat menyenangkan bisa mendengarkan bagaimana mereka bercerita tentang rumah mereka. Saya pada dasarnya senang mendengarkan orang lain bercerita. Terkhususnya para lansia, yang jika bercerita, sorot matanya seolah menghisap saya dan saya turut masuk ke dalam setting peristiwa yang mereka ingat seperti menonton layar lebar. Tapi bioskopnya di dalam pikiran mereka, haha ngaco. Dan ketika menanyakan mengenai peristiwa yang terjadi dahulu kala, maka mereka akan memalingkan arah pandangan sembari mengernyitkan dahi, mencoba mengingat ngingat. Lalu saya akan menemukan senyum jika yang mereka ingat adalah kisah kisah bahagia. Dan tentu saja, saya pun ikut senang. Simple ya.
Meski kadang ceritanya jadi ngelantur kemana-mana, dan saya jadi perlu diingatkan rekan saya agar segera menuntaskan wawancaranya haha. Terima kasih Bapak dan Ibu yang rumahnya saya rusuhi, terima kasih atas cerita ceritanya, terima kasih. Semoga sehat selalu. Pada akhirnya kita semua akan menua, dan kiranya rumah pun perlu dipersiapkan agar bisa dinikmati di masa tua, bukannya menyusahkan.
Menua itu pasti. Dewasa itu pilihan. Ciah. Katanya orang-orang sih.
Saya kira saya pun sedang berproses dalam tahap ‘dewasa’. Bagaimana berdamai dengan permasalahan-permasalahan. Segalanya harus dipikirkan matang-matang, and just calm down for anything, girl. Usia 20an udah bukan jamannya nangis nggerung-nggerung kalo lagi banyak masalah, atau teriak teriak manja kalo lagi puyeng. Atau bertingkah tanpa mempertimbangkan akibatnya. Hmm, sotoy ya saya. Eh, tapi saya juga nggak gitu gitu amat kok haha. Jadi kalo pada saatnya terpuruk, pun kayaknya nggak terlalu baik kalo terlarut terlalu dalam. Atau kalau terlalu senang, hmm, ya disyukuri aja sih. Kadang terlalu senang itu pun bisa menjatuhkan jika dibalik kesenangan ternyata ada masalah besar. Duh ribet yak hidup haha. Yang sedang-sedang aja deh, just be slow and steady,

Atau mungkin saya sedang dalam masalah besar?

Senin, Februari 2

Blah-blah Thing

Oh, I think I forget for having this miserable blog (sorry blog L).  And I don’t remember how to write some fun stories as I used to do. I will graduate soon (congratulate me then haha). After couple of months being super busy in studio, and now I was like really have nothing to do. I mean, not really, but I finally write something here right? In this time of nothing-to-do, I’m bubbling around with myself. I am worrying a lot for what will happen in the next phase of life. I should’ve known for long time before, but never this bad. You’ll know it when it comes to you.

Of course, I have a lot of big dreams. It’s like too many dreams until I can’t really know which one I should choose? Let’s get back to 4-5 years ago when I started my college. I interested in many many things. I like drawing, sometimes doodling clothes until I even thought to study in fashion designer school. Then I ended up with architecture. In architecture, I found that everybody love drawing too (of course!) some of friends are even the real artist. You know, like they are born to be an artist. For people who have standard skill like me just started to panic at first (thanks God for TKAD). Then I was like, not really interested in drawing like I used to do. Because drawing is a must. And everybody did it. Something that used to be an anti main stream (in my past life) becomes main stream now. But don’t worry I didn't give up drawing. I still, and I know how to draw a house now. Because everyone who met me and when they know that I’m an architecture student they were like asking me “can you draw my future house?” or “can you make my dream house, with extra discount? Come on we’re friend right?” and other blah-blah things.

People are changing by different way its change right?

But that’s just one of my hobby and I’m not gonna talk about the rest. It’s too much and some are private hehe. And sometimes, dreams or future goal and hobbies are just equal. People wanted something due to what they really like in life. So when I have lot of interests, it means I have a lot of dreams too. But then when hobbies become a duty, it lost some meaning as it was before. Then the question, is there any other options? You want to end up with doing something you don’t like and make hobby become happiest thing in life that you do beside your boring work? It’s your option then, that’s how life goes. People are free to choose which way they like most.
And whaat’s the point of this blah-blah thing? I don’t even know. I’m asking myself too. At least I write something, for the first time in this year. Oh, happy new year then.



Ngemeng apa sih uwe.

Kamis, Oktober 9

Duh, Oktober!

Halo Oktober!

Bulan yang aneh, Perencanaan agenda untuk bulan ini begitu memusingkan. Toh pada akhirnya saya mencoret beberapa rencana *sambil nangis* karena budget tidak memungkinkan. Bulan November adalah final tugas akhir yang membutuhkan modal paling banyak. Mahasiswa arsitek pasti paham, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk kepentingan cetak gambar dan bikin maket. Jadi saya harus menghemat pengeluaran jauh-jauh hari sebelumnya. Apalagi tugas akhir yang mesti 'sempurna', ga main-main kayak proyek studio-studio sebelumnya. (jadi selama ini kamu cuma main main? bah!)

Bulan ini banyak juga teman-teman saya yang akan mengakhiri masa-masa lajangnya dan mengikat janji untuk hidup bersama dengan lelaki pilihannya. Kalo ada lima orang teman yang menikah di minggu ketiga bulan Oktober itu lumayan banyak kan ya? Temen MTs, temen IC, teman KKN, teman kos, mantan teman kosan. Lagipula mereka resepsi di empat kota yang berbeda, sampai sekarang pun saya belum memutuskan akan menghadiri yang mana? Ada yang ingin sekali saya datangi resepsinya, tapi apa daya budgetlah yang pada akhirnya menentukan, hiks. Terlepas siapa yang mau saya datengin, happy wedding all :') semoga dilancarkan acaranya. Semoga kalian benar-benar mendapat pendamping hidup yang tepat dan hidupnya berkah setelah ini :') *terharu nih*

Bulan ini juga banyak agenda berkaitan dengan Speleologi. Cave Rescue-nya Arisan Caving Yogyakarta, Speleogathering-nya (siapa?), paska Ekspedisi Gombong-nya ASC, persiapan KDKL 2014 nya HIKESPI. Mau dateng yang mana? entahlah. Mikirin banyaknya acara aja udah pusing haha. Kalo ada waktu lowong, saya akan berusaha membantu siapapun. Cuma lagi-lagi budget (dan waktu) saya ga bisa ikutan Speleogathering di Cibubur yang padahal acaranya keren. Banyak bahasan ilmiahnya.

Ah sudahlah,

Yang saya utamakan untuk bulan ini tetap masalah akademik. Mending saya duduk manis di depan komputer studio TGA, fokus ke tugas akhir. Sejenak mari kurangi mobilitas yang tinggi di bulan ini. Simpan uang untuk produk TA.
And be ready to find the good things at the end!



Sabtu, Agustus 2

Di Balik Tudung Suci

Ini apa banget deh judulnya. Tau tau pengen ngasih judul ituu aja. Padahal mana tau dah isi postingannya tentang apaan. Don't expect too much haha.

Sudah lama tidak menulis, jadi saya awali saja dengan sapaan Hai! selamat datang bulan Agustus (ga tau kenapa banyak banget yang ngetwit gitu). Tapi postingannya bukan tentang Agustus kok. Bentar lagi udah masuk Studio Tugas Akhir, masih ada 4 bulan sebelum akhirnya bisa leyeh-leyeh (iya apa?). At least, (semoga) udah bisa jadi sarjana.

Masih pada inget kan foto fenomenal ini (belum terlalu basi kan?):


Iya, ini fotonya tante Syahrini, yang cukup bikin heboh lebaran kemarin. Si tante posting foto Instagram pake mukena renda-renda dan berpose di zam zam clock tower hotel Madinah. Nggak kok, nggak mau komentar nyinyir ato sejenisnya tentang si tante. Ini foto di like 19 ribu orang, dengan berbagai perang komentar antara yang ngejek sama yang mbelain di IG nya. Saya lucu aja, dan salut sama tante Syahrini karena selalu bikin segala hal miliknya jadi heboh. Bahkan sering banget foto-fotonya diedit jadi meme-meme, masa foto syahrini pake mukena ini dicrop terus dijejerin sama tenda-tenda camping. Ato dikasih gagang payung. Ato diselipin ke potongan pizza. Kurang ajar si yang ngedit, tapi tetep bikin ngakak :'D. Ayo tante lanjutkan fenomenamu, ramaikan dunia nyinyir-nyinyiran, makin banyak yang ngomongin katanya makin banyak dapet pahala kan? Toh si tante nggak pernah peduliin ejekan orang dan tetap bahagia selalu dengan koleksi hermes dan jet pribadinya. I LOVE YOU TANTE!

Lupakan kehebohan Syahrini. Sekarang saya mau promosiin barang. Saya sebenernya anti sama iklan spam spam yang selalu negrusuhin akun akun manapun. Tapi namanya juga jualan, pasti ada usaha buat promosiin dagangannya, entah bakal disukain ato malah dibenci. Kayak fotonya tante tadi.

Saya mau bantuin mama saya dagang mukena (Nah, nyambung kan sama Syahrini tadi). Kali aja ada yang lagi cari mas kawin #eh. Tapi ini bukan mukena renda-renda heboh kok. Bisa ditebak lah karena saya dari Pekalongan, mukenanya mukena batik. Kasian sama si mama nggak ngerti internet jadi saya bantuin promosi online di blog. Yah, meski pembacanya nggak banyak seenggaknya udah usaha. 

Bahan mukenanya kain mori halus, terus banyak macem warna dan coraknya. Semuanya full color (belum bikin yang dasarnya putih). Ceritanya ini yang mbatik orang-orang deket rumah, jadi coraknya random gitu terserah yang mbatik (saking banyaknya corak batik). Antar satu mukena dan yang lain beda-beda coraknya.

Baru dibikin juga akun instagramnya di @arumyuniast (padahal nggak pernah mainan instagram). Yowes, maapin atas ketidaksinkronan antara judul, Syahrini, dan dagangan. Yang penting mukenahnya. Last statement: yuk diorder sis ;)