Senin, Februari 2

Blah-blah Thing

Oh, I think I forget for having this miserable blog (sorry blog L).  And I don’t remember how to write some fun stories as I used to do. I will graduate soon (congratulate me then haha). After couple of months being super busy in studio, and now I was like really have nothing to do. I mean, not really, but I finally write something here right? In this time of nothing-to-do, I’m bubbling around with myself. I am worrying a lot for what will happen in the next phase of life. I should’ve known for long time before, but never this bad. You’ll know it when it comes to you.

Of course, I have a lot of big dreams. It’s like too many dreams until I can’t really know which one I should choose? Let’s get back to 4-5 years ago when I started my college. I interested in many many things. I like drawing, sometimes doodling clothes until I even thought to study in fashion designer school. Then I ended up with architecture. In architecture, I found that everybody love drawing too (of course!) some of friends are even the real artist. You know, like they are born to be an artist. For people who have standard skill like me just started to panic at first (thanks God for TKAD). Then I was like, not really interested in drawing like I used to do. Because drawing is a must. And everybody did it. Something that used to be an anti main stream (in my past life) becomes main stream now. But don’t worry I didn't give up drawing. I still, and I know how to draw a house now. Because everyone who met me and when they know that I’m an architecture student they were like asking me “can you draw my future house?” or “can you make my dream house, with extra discount? Come on we’re friend right?” and other blah-blah things.

People are changing by different way its change right?

But that’s just one of my hobby and I’m not gonna talk about the rest. It’s too much and some are private hehe. And sometimes, dreams or future goal and hobbies are just equal. People wanted something due to what they really like in life. So when I have lot of interests, it means I have a lot of dreams too. But then when hobbies become a duty, it lost some meaning as it was before. Then the question, is there any other options? You want to end up with doing something you don’t like and make hobby become happiest thing in life that you do beside your boring work? It’s your option then, that’s how life goes. People are free to choose which way they like most.
And whaat’s the point of this blah-blah thing? I don’t even know. I’m asking myself too. At least I write something, for the first time in this year. Oh, happy new year then.



Ngemeng apa sih uwe.

Kamis, Oktober 9

Duh, Oktober!

Halo Oktober!

Bulan yang aneh, Perencanaan agenda untuk bulan ini begitu memusingkan. Toh pada akhirnya saya mencoret beberapa rencana *sambil nangis* karena budget tidak memungkinkan. Bulan November adalah final tugas akhir yang membutuhkan modal paling banyak. Mahasiswa arsitek pasti paham, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk kepentingan cetak gambar dan bikin maket. Jadi saya harus menghemat pengeluaran jauh-jauh hari sebelumnya. Apalagi tugas akhir yang mesti 'sempurna', ga main-main kayak proyek studio-studio sebelumnya. (jadi selama ini kamu cuma main main? bah!)

Bulan ini banyak juga teman-teman saya yang akan mengakhiri masa-masa lajangnya dan mengikat janji untuk hidup bersama dengan lelaki pilihannya. Kalo ada lima orang teman yang menikah di minggu ketiga bulan Oktober itu lumayan banyak kan ya? Temen MTs, temen IC, teman KKN, teman kos, mantan teman kosan. Lagipula mereka resepsi di empat kota yang berbeda, sampai sekarang pun saya belum memutuskan akan menghadiri yang mana? Ada yang ingin sekali saya datangi resepsinya, tapi apa daya budgetlah yang pada akhirnya menentukan, hiks. Terlepas siapa yang mau saya datengin, happy wedding all :') semoga dilancarkan acaranya. Semoga kalian benar-benar mendapat pendamping hidup yang tepat dan hidupnya berkah setelah ini :') *terharu nih*

Bulan ini juga banyak agenda berkaitan dengan Speleologi. Cave Rescue-nya Arisan Caving Yogyakarta, Speleogathering-nya (siapa?), paska Ekspedisi Gombong-nya ASC, persiapan KDKL 2014 nya HIKESPI. Mau dateng yang mana? entahlah. Mikirin banyaknya acara aja udah pusing haha. Kalo ada waktu lowong, saya akan berusaha membantu siapapun. Cuma lagi-lagi budget (dan waktu) saya ga bisa ikutan Speleogathering di Cibubur yang padahal acaranya keren. Banyak bahasan ilmiahnya.

Ah sudahlah,

Yang saya utamakan untuk bulan ini tetap masalah akademik. Mending saya duduk manis di depan komputer studio TGA, fokus ke tugas akhir. Sejenak mari kurangi mobilitas yang tinggi di bulan ini. Simpan uang untuk produk TA.
And be ready to find the good things at the end!



Sabtu, Agustus 2

Di Balik Tudung Suci

Ini apa banget deh judulnya. Tau tau pengen ngasih judul ituu aja. Padahal mana tau dah isi postingannya tentang apaan. Don't expect too much haha.

Sudah lama tidak menulis, jadi saya awali saja dengan sapaan Hai! selamat datang bulan Agustus (ga tau kenapa banyak banget yang ngetwit gitu). Tapi postingannya bukan tentang Agustus kok. Bentar lagi udah masuk Studio Tugas Akhir, masih ada 4 bulan sebelum akhirnya bisa leyeh-leyeh (iya apa?). At least, (semoga) udah bisa jadi sarjana.

Masih pada inget kan foto fenomenal ini (belum terlalu basi kan?):


Iya, ini fotonya tante Syahrini, yang cukup bikin heboh lebaran kemarin. Si tante posting foto Instagram pake mukena renda-renda dan berpose di zam zam clock tower hotel Madinah. Nggak kok, nggak mau komentar nyinyir ato sejenisnya tentang si tante. Ini foto di like 19 ribu orang, dengan berbagai perang komentar antara yang ngejek sama yang mbelain di IG nya. Saya lucu aja, dan salut sama tante Syahrini karena selalu bikin segala hal miliknya jadi heboh. Bahkan sering banget foto-fotonya diedit jadi meme-meme, masa foto syahrini pake mukena ini dicrop terus dijejerin sama tenda-tenda camping. Ato dikasih gagang payung. Ato diselipin ke potongan pizza. Kurang ajar si yang ngedit, tapi tetep bikin ngakak :'D. Ayo tante lanjutkan fenomenamu, ramaikan dunia nyinyir-nyinyiran, makin banyak yang ngomongin katanya makin banyak dapet pahala kan? Toh si tante nggak pernah peduliin ejekan orang dan tetap bahagia selalu dengan koleksi hermes dan jet pribadinya. I LOVE YOU TANTE!

Lupakan kehebohan Syahrini. Sekarang saya mau promosiin barang. Saya sebenernya anti sama iklan spam spam yang selalu negrusuhin akun akun manapun. Tapi namanya juga jualan, pasti ada usaha buat promosiin dagangannya, entah bakal disukain ato malah dibenci. Kayak fotonya tante tadi.

Saya mau bantuin mama saya dagang mukena (Nah, nyambung kan sama Syahrini tadi). Kali aja ada yang lagi cari mas kawin #eh. Tapi ini bukan mukena renda-renda heboh kok. Bisa ditebak lah karena saya dari Pekalongan, mukenanya mukena batik. Kasian sama si mama nggak ngerti internet jadi saya bantuin promosi online di blog. Yah, meski pembacanya nggak banyak seenggaknya udah usaha. 

Bahan mukenanya kain mori halus, terus banyak macem warna dan coraknya. Semuanya full color (belum bikin yang dasarnya putih). Ceritanya ini yang mbatik orang-orang deket rumah, jadi coraknya random gitu terserah yang mbatik (saking banyaknya corak batik). Antar satu mukena dan yang lain beda-beda coraknya.

Baru dibikin juga akun instagramnya di @arumyuniast (padahal nggak pernah mainan instagram). Yowes, maapin atas ketidaksinkronan antara judul, Syahrini, dan dagangan. Yang penting mukenahnya. Last statement: yuk diorder sis ;)









Sabtu, Juli 26

She's Leaving Home

Wednesday morning at five o'clock as the day begins
Silently closing her bedroom door
Leaving the note that she hoped would say more
She goes downstairs to the kitchen clutching her hankerchief
Quietly turning the backdoor key
Stepping outside she is free

She (We gave her most of our lives)
Is leaving (Sacraficed most of our lives)
Home (We gave her everything money could buy)
She's leaving home after living alone
For so many years (Bye bye)

Father snores as his wife gets into her dressing gown
Picks up the letter that's lying there
Standing alone at the top of the stairs
She breaks down and cries to her husband "Daddy our baby's gone
Why would she treat us so thoughtlessly?
How could she do this to me?"

She (We never thought of ourselves)
Is leaving (Never a thought for ourselves)
Home (We struggled hard all our lives to get by)
She's leaving home after living alone
For so many years (Bye bye)

Friday morning at nine o'clock she is far away
Waiting to keep the appointment she made
Meeting a man from the motor trade

She (What did we do that was wrong)
Is having (We didn't know it was wrong)
Fun (Fun is the one thing that money can't buy)
Something inside that was always denied
For so many years (Bye bye)

She's leaving home
Bye bye

-The Beatles, on Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band

Rabu, Juli 23

Kemana Aja?

In some parking lot,
Friend: motormu berapa lama ga dicuci?
Me: sejuta taon

In one of pasta resto in Jogja (well, my first time there), a waitress put down the food ordered by a friend. Some creamy roast with spinach and a yellow clod of something..
Me: Ini apaan? kok ada es krimnyaa??
Friend: Es krim?? ini MASHED POTATOES!

Rabu, Maret 19

Bukan tentang KKN kok

Awal pekan terakhir di tempat KKN, lebih banyak menganggur karena hampir semua program telah selesai. Ya, menganggur seperti sekarang ini. Saya bisa saja langsung pulang ke Jogja meski toh sama-sama menganggur juga. Tapi saya juga malas ke Jogja. Padahal tingkat pengangguran di jogja akan lebih berkurang dengan banyak hal-hal yang bisa dikerjakan. Tapi saya tetap malas. Tulisan ini juga malas. Saya juga tidak sedang akan mencertiakan mengenai KKN saya di Pengasih yang hampir kelar ini. Oh ya, satu lagi, kemalasan juga hinggap pada pengerjaan praTA saya. Untung dapet dosen yang selow, tenang, saya sudah meminta izin beliau bahwa saya sedang KKN. Jadi tidak perlu dikhawatirkan untuk saat ini. Untuk apa khawatir?
Belakangan, karena efek menganggur di tempat KKN. Oh ya, sebagai catatan, sebetulnya saya tidak menganggur-nganggur amat. Ada proyek bikin peta dan desain taman dusun. Tapi karena malas, saya lebih memilih menganggur sejenak dan berniat mengerjakan nanti di hari-hari menjelang perpisahan. Lanjut, karena efek “menganggur”, saya lebih sering berada di dalam dunia pikiran saya. Saya menemukan kegiatan: flashback peristiwa lampau. Contohnya, saya mencoba mengingat-ngingat kembali apa yang dilakukan ketika ospek fakultas 4 tahun lalu, dimulai hari pertama saya bertemu teman-teman baru sampai berpisah. Setiap detailnya saya mencoba ingat. Lalu saya menjadi bertanya-tanya, sekarang kemana mereka semua dan apa yang dilakukan mereka sekarang? Adakah yang masih berteman dengan baik? Saya jamin tidak akan banyak. Beberapa wajah di ingatan saya juga saya lupakan namanya. Artinya yang tersisa di banyak ingatan ’mantan’ teman-teman saya juga hanya rupa. Oke, tulisannya amat sangat tidak penting bukan?
Lalu saya mencoba mengingat ke zaman yang lebih dulu, waktu saya mengikuti Jambore Nasional 2006 di Jatinangor. Apa yang saya ingat? Tidak terlalu banyak. Sejak hari pertama datang ke bumi perkemahan, berkenalan dengan orang-orang yang lebih ‘liar’. Bagaimana saya ingat seorang anak cantik dari Manado, yang saya lupa namanya. Tapi saya masih ingat mengobrol dengannya, bahwa dia datang ke Jatinangor dengan menggunakan pesawat Hercules. Katanya tidak enak, berisik dan bikin mual. Saya ingat, karena ia cantik. Lalu saya merasa marah karena mendengar omongan para pemuda yang sedang membicarakan keseksian teman Manado saya itu. Pada hari berikutnya saya berpapasan dengannya dalam suatu jalan (berpapasan dengan orang yang dikenal saat jamnas itu sedikit kemungkinannya karena ribuan peserta pasti lalu lalang). “selamat sore..” (sapaku duluan) “oh.. soree..” dari ekspresi menjawabnya, tampaknya ia telah lupa siapa saya. Bertahun-tahun kemudian saya masih mengingatnya, masihkah ia? Dimana ia sekarang? Bagaimana saya bisa ‘kepo’ di facebooknya, namanya saja tidak saya ingat.
Dan pernahkah kamu mencoba mengingat hal pertama kali yang kamu ingat sejak kamu dilahirkan? Saya mungkin mengingat entah itu usia berapa. Saya mencoba meraih gambar tiga lingkaran di sudut atas tv di rumah, dan tangan saya tidak bisa mencapainya, pun meski telah dengan berjinjit. Atau ketika ingatan saya bercampur, saya pernah mengingat sebuah momen dimana saya sedang duduk diapit kedua orang tua saya. Kami sedang duduk di semacam kursi mobil yang berjalan di jalanan yang kanan kirinya rumah tingkat (saya selalu berkeyakinan rumah-rumah tersebut berada di dalam kota tempat tinggal saya). Entah kenapa di setiap beranda lantai 2 rumah tersebut terdapat boneka-boneka bergerak-gerak, tangannya melambai lambai ke arah kami. Orang tua saya dengan bahagianya menunjuk-nunjuk ke arah boneka-boneka tersebut, menyuruh saya turut bahagia melihat ke arah mereka. Saya yakin itu bukan mimpi karena memang pernah mengalaminya. Namun semakin bertambah usia saya semakin bingung mana ada boneka bergerak melambai-lambai di rumah-rumah yang berderet? Mungkin pernah ada karnaval atau semacamnya? Lalu sekitar usia SMP saya baru bisa menyimpulkan sendiri bahwa ingatan saya tentang boneka itu adalah peristiwa ketika saya liburan ke Istana boneka di dunia fantasi Jakarta. LOL.
Baiklah, sekian cerita tidak penting dari saya di penghujung KKN ini. Terimakasih.

















Sabtu, Januari 11

Apalah Arti Sebuah Nama

Sebetulnya saya tidak selalu ingin menceritakan diri saya sendiri. Saya sebagai obyek, bukannya subyek. Tapi topik agak simple ini rasanya unik dan cukup mendesak saya untuk akhirnya menulis dan membagikannya ke kalian, para pembaca.

Ini tentang nama saya: Shabrina Tamimi

mungkin ketika orang berkenalan dan ketika namanya ditanyakan, ia menggoda dengan menjawab: apalah arti sebuah nama

yaampun please deh tinggal nyebut nama aja susahnya minta ampun.

Sejak saya lahir dan tercatatkanlah secara resmi dalam acara aqiqahan nama saya. Sejak itu pula saya memiliki nama panggilan: Tami. Dimulai dari sepupu-sepupu saya yg lebih tua memanggil 'dek Tami', atau yang lebih muda dengan 'mbak Tami'. Lalu saya mempunyai teman-teman sebaya yang meneriakkan 'TAAAM, TAAAAAMI! (jeda) TAAAAM, TAAAAAMI!' (dengan nada yang sama layaknya anak seantero negri ini memanggil nama temannya) di depan pintu rumah ketika mereka mengajak saya untuk bermain di kebon tetangga atau hanya halaman rumah saja. Beranjak ke SD lokal yang muridnya sekelas cuma 25 anak, nama saya tetaplah Tami. Tami yang pada akhirya mengikuti jejak kakak masuk pesantren di Solo. Teman-teman baru dan suasana yang amat sangat baru bagi saya, entah kenapa di mungkin di tahun ketiga saya mendapat julukan Tim-Tam karena seorang teman yang iseng iseng panggil saya pake merk coklat. Mungkin kala itu saya masih semanis dan serenyah biskuit coklat Tim-Tam :9.

Masuk ke masa SMA yang semakin jauh merantau ke Tangerang, entah siapa yang memulai, beberapa teman mulai memanggil nama: Temi. Mungkin itu salah satu cara membuat 'gaul' sebuah nama. Saya terima-terima aja karena kayanya emang jadi tambah gaul ya haha. Atau mungkin karena ada nuansa 'baru' dalam nama Temi, anak muda cenderung suka sama yang baru-baru kan? Panggilan jadi beragam, ada yang nambah huruf 's' kalo manggil : 'teeeeems, lo udah ngerjain tugas beloom?' (gila gaul banget gak sih) atau nge-inggris-in pelafalan huruf 'i' : "temaaaai gue pinjem catetan lo dong!" atau manggil lengkap nama belakang saya: 'tamimiiii! lo harus dengerin lagu barunya si A!'. Selain itu beberapa orang guru mengenal saya dengan : Shabrina. Yaiyalah kan guru biasanya cuma mengenal muridnya dengan nama depan yang biasa dilihat di daftar absen.

Lalu sebuah 'masalah' (it's not a problem actually) muncul ketika saya masuk dunia perkuliahan. Satu angkatan ada dua anak yang namanya Tami. Kala itu kami semacam membuat perjanjian siapa yang mau dipanggil Tami? atau dua duanya saja biar seangkatan jadi chaos manggil Tami yang mana yang nengok yang mana. Setelah dipikir-pikir, saya masih menganggap nama Temi lebih gaul dari Tami haha. Jadi saya semacam 'mengalah' yaudah deh kamu aja yang dipanggil Tami. Lagian seiring berjalannya waktu Tami yang satu ternyata lebih tenar di kalangan kampus, jadi saya mungkin tidak dianggap kalo masih pake nama Tami haha (bercanda tam!) dari sini saya mulai terbiasa memanggil nama diri saya sendiri (loh?) maksudnya nggak reflek nengok kalo ada yang manggil 'tam!' saya mulai tahu rasanya berbagi nama dengan orang lain haha. lagipula teman-teman kos masih memanggil saya Tami, jadi harus terbiasa bahwa saya adalah Tami di kosan dan Temi di kampus. (kok ribet ya)

Ini sebelum akhirnya saya masuk klub mapala, yang punya tradisi ngasih nama baru bagi anggota barunya. Ada tata cara pemberian namanya loh, biasanya nama seorang anggota mula berhubungan dengan apa yang dilakukannya ketika proses pendidikan dasar. Oke ini sebetulnya sejarah yang memalukan, karena saya sempat jatuh ke jurang yang ajaibnya tidak merusak suatu apapun dalam fisik saya kecuali muka yang sedikit lebam. Sekitar mata kiri saya menghitam seperti habis ditonjok orang. Lebam sama dengan bengep. Jadilah nama julukan saya: Bengep (jangan ditiru ya ngasih nama-nama beginian). Dan ini hanya dikalangan mapala kok, jadi jika saya berkenalan dengan anak mapala lain nama saya tetap bengep. Hampir semua mapala di Indonesia memakai tradisi begini. Jadi saya tidak malu untuk berkenalan dengan nama demikian, karena ternyata ada yang lebih aneh lagi, seperti: jamban (saya ngakak waktu kenalan), atau sapi, atau kopet, atau nama-nama yang (mungkin) menjijikkan lainnya. Sebetulnya tradisi beginian juga semakin mengakrabkan hubungan antar teman-teman mapala. Seru loh! Tapi lagi-lagi entah siapa yang memulai, mulailah ada tambahan 'dek' di depan nama lapangan saya: dek beng (dua huruf terkhir dihilangkan). Sebetulnya saya makin bingung dengan nama panggilan saya, tapi saya tetap terima-terima saja karena tidak terlalu peduli juga. Semacam punya rasa 'terserah deh mau dipanggil apaan'. Bahkan di dalam dunia mapala pun saya punya dua panggilan.

Belum selesai teman-teman. Suatu ketika saya masuk ke dunia caving yang orang-orangnya nggak cuma dari kalangan mapala, ada beberapa orang yang mungkin lebih dewasa dan menghargai orang untuk tidak memanggil nama lapangan. Beberapa orang (tanpa saya minta) memanggil saya Shabrina. Mungkin berawal dari daftar nama absen pada suatu kursus, saya mulai dipanggil shabrina meski saya memperkenalkan nama lapangan saya: Bengep (kalo udah gini saya jadi tampak bodoh tetap kenalan dengan nama 'menjijikkan'). Dipanggil Shabrina di hari-hari biasa (bukan cuma absen) sejujurnya hal baru bagi saya. Entahlah, aura nama 'Shabrina' kayaknya lebih berharga daripada 'Tami', 'Temi', apalagi 'Bengep'. Mungkin kalo dibikin kasta, kasta nama Shabrina lah yang paling tinggi haha. Seolah kalau orang manggil 'Shabrina' saya akan memperbaiki sikap dan nggak bisa seurakan kalau dipanggil 'Bengep'. Masih ada bawaan bahwa yang memanggil nama Shabrina adalah kalangan guru yang tentunya lebih saya hormati ketimbang teman-teman sebaya. Oke, sejak itu dalam perkenalan-perkenalan di antara orang-orang caving, saya mulai menyebut Shabrina sebagai nama saya.

Wow, di jaman kuliahan saja saya udah punya lebih dari 3 nama. Dan pada akhirnya saya merasa, di setiap nama panggilan saya, seolah ada karakter yang berbeda. Tami yang dikenal teman-teman SMA saya tentu akan jauh berbeda dengan Bengep yang dikenal teman-teman mapala. Temi yang dilihat teman kampus juga pasti beda rasanya ketika dilihat teman-teman ketika SD. Apalagi nama baru Shabrina, seolah saya harus menjelma menjadi lebih bijaksana. Seolah ada 'tanggungan' di setiap nama panggilan saya. Atau sebetulnya saya hanya bingung dengan beberapa nama tersebut?

Ya, jujur saya bingung.

Coba bayangkan, ketika saya telah beranjak lebih tua dan berada di komunitas baru yang mana keluar dari hingar-bingar perkuliahan. Maksud saya, orang-orang yang benar-benar baru tanpa ada relasi sebelumnya. Dan ketika orang itu menjulurkan tangan menyebutkan namanya, lantas saya akan terdiam beberapa detik untuk memikirkan tepatnya nama apa yang akan saya sebut. Nama kecil saya, atau nama bijaksana saya (haha), yang pasti bukan nama lapangan. Atau saya akan membuat nama baru?

Adakah saran??

Atau lebih baik saya bilang: TERSERAH!

Pada akhirnya, saya mengerti. Mungkin kalimat tanya 'apalah arti sebuah nama?' itu benar adanya. Saya bisa jadi berbeda dengan saya ketika kecil. Bahkan berbeda dalam waktu yang sama saat berada di kos dan di kampus. Saya orang yang sama dengan 'saya' yang lain. Yang membedakan itu hanya sikap apa yang wajar jika dilakukan pada suatu stuasi dan kondisi tertentu. Saya nggak mungkin bisa benar-benar mengabaikan 'kewajaran' yang dianut umat manusia bukan? Meski begitu saya tetaplah orang yang sama dengan saya yang lalu. Dengan julukan nama apapun, saya masih sama bagi saya sendiri. Hanya sedikit banyak bertransformasi menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Jadi apa arti sebuah nama bagimu?