Rabu, Juli 11

Tentang Thailand Cave Rescue


Euforia piala dunia 2018 sedang perlahan menuju klimaksnya ketika ada hal lain yang mengalihkan perhatian dunia: tragedi penyelamatan 12 anak laki-laki dan seorang pelatih yang terjebak dalam gua.

Awal mula mendengar berita 13 orang terjebak dalam gua dan kala itu mereka belum ditemukan, saya turut bersimpati. Mendengar 1000 orang lebih termasuk di dalamnya dari luar negara Thailand turut serta membantu dalam tim penyelamatan, saya cukup optimis. Saya masih tidak banyak mencari informasi mengenai kondisi gua, di mana letak gua, siapa yang terlibat, dan sebagainya. Saya hanya salut karena tim sudah bekerja keras saling membantu mencari 13 orang yang tentu saja belum diketahui apakah mereka selamat atau tidak. Hingga akhirnya muncul kabar bahwa tim telah ditemukan dalam kondisi bernafas, saya bahagia.

Tapi belum.

Suatu sore kabar gugurnya Saman Kunan, salah satu sukarelawan penyelam yang membantu menyuplai stok oksigen, menampar saya. Beberapa kenyataan semakin meningkatkan kekhawatiran saya. Bahwa hujan masih akan mengguyur area gua, bahwa oksigen di dalam chamber tempat 13 orang itu bertahan semakin menipis, bahwa diameter terkecil salah satu bagian lorong yang harus dilewati hanya 38 cm, bahwa penyelam yang telah berhasil menemukan penyintas butuh waktu 6 jam berangkat dan 5 jam pergi, bahwa sebagian dari anak-anak tsb. tidak bisa berenang sama sekali, dan bahwa kemungkinan terburuknya adalah chamber tempat mereka bertahan akan tertutup air sepenuhnya jika tidak segera keluar.

Yang pada awalnya pilihan menunggu selama 4 bulan hingga hujan benar-benar berhenti adalah pilihan paling aman, menjadi tidak relevan sama sekali sehingga pilihan terbaiknya adalah: anak-anak dan pelatihnya keluar gua dengan penyelaman yang beresiko tinggi.

My heart beats faster

Mengapa saya begitu terlarut dalam kisah ini?

Saya sendiri pernah melakukan kegiatan penelusuran gua. Meskipun rekor terlama saya berada di dalam gua hanya masuk jam 8 pagi keluar menjelang Isya, saya mencoba berimajinasi bagaimana rasanya berada di posisi anak-anak tersebut. Walau begitu tidak akan pernah ada yang merasakannya selain 13 orang tsb. Tidak ada yang mau kejadian ini terulang kembali bukan?. Terjebak banjir yang untungnya mereka berhasil menemukan area yang cukup tinggi. Saya mungkin, di posisi mereka, membayangkan ketika berhasil menempati tanah tinggi akan mencoba tenang dan berpikir positif bahwa air akan segera surut dalam waktu beberapa jam ke depan selayaknya ketika mereka masuk ke dalam gua. Tapi hari telah berganti dalam kegelapan, alat penerangan semakin redup, persediaan makanan habis, badan semakin lemas tanpa asupan makanan, waktu demi waktu terlalui tanpa kepastian. Buruk, buruk sekali . Saya kira salah satu faktor yang bisa menguatkan mereka adalah tetap berada dalam satu grup tanpa berkurang satu orangpun. Saling menenangkan, bahkan konon kabarnya sang pelatih mengajak bermeditasi untuk menyimpan tenaga.

Fakta bahwa kondisi pencarian yang begitu sulit, tidak hanya harus menelusur gua, tapi juga menyelam di dalam gua lalu cara apa lagi yang bisa ditempuh dalam misi penyelamatan kalau bukan memanggil tim ahlinya?. British Cave Rescue Council (BCRC) saya kira masuk dalam daftar utama tim yang dipastikan akan membantu banyak. Reputasi mereka dalam penyelamatan kecelakaan gua internasional sungguh baik. Terutama lagi kabarnya mereka memiliki penyelam gua terbaik sedunia. Meskipun dalam laman Facebooknya BCRA tidak menyebutkan nama penyelam gua tersebut demi menjaga privasi, media telah menyebarluaskan foto dan nama dua sosok penyelamat tersebut: Richard Stanton dan John Volanthen.

Cave diving adalah salah satu jenis kegiatan ekstrim yang paling mematikan di dunia. Resikonya sungguh tinggi. Kegiatan penelusuran gua sendiri cukup menantang dan berbahaya jika tidak dilakukan sesuai prosedur. Penyelaman juga membutuhkan keahlian khusus serta peralatan yang tidak sederhana. Lalu bayangkan dua olahraga itu digabung, caving & diving, butuh berkali-kali lipat keahlian, keterampilan, ketenangan, kelengkapan alat, stamina, dll. Harus pula melakukan latihan berkali-kali untuk akhirnya menguasai cave diving. Para penyelam yang sangat ahli di lautan pun belum tentu bisa melakukan cave diving.

Penemuan ketiga belas anak itu pertama kalinya oleh dua penyelam dari Inggris membuktikan bahwa masih ada harapan bahkan dalam kondisi yang sulit dan berbahaya sekalipun. Meskipun nyawa seorang Saman menjadi korban, kerja keras tim semakin solid. Semakin banyak tim internasional yang bergabung, semakin banyak dukungan dari penjuru dunia, semakin banyak doa dan harapan yang terpanjat, semakin meningkat pula harapan akan selamatnya para korban tanpa kurang suatu apapun.

Hal lainnya adalah, para penyintas adalah anggota klub bola Wild boars. Bertepatan dengan momen piala dunia membuat kejadian yang menimpa tim speak bola remaja ini semakin menjadi pusat perhatian. Tak terkecuali presiden FIFA dan para bintang sepak bola. Kejadian sini, selayaknya marvel, semacam mengumpulkan banyak universe untuk memberi dukungan. Universe dari caving, diving, sepak bola, dan yang lebih menyenangkan saya adalah bahwa semua orang jadi mendapat informasi mengenai penelusuran gua, kecelakaan gua, bahkan bagaimana melihat peta gua.

Ohya, tak terkecuali saya tuliskan di sini seorang Elon Musk, yang akun twitternya saya ikuti beberapa bulan lalu, juga menjadi bagian dari cerita penyelamatan. Usaha membuat kapsul-selam ukuran anak-anak patut diapresiasi meski pada akhirnya tim penyelamat tidak menggunakannya. Mungkin bisa berguna di kemudian hari, tapi sekali lagi tidak ada yang mau kejadian seperti ini terulang kan? Saya sendiri mendengar Mr. Musk dalam waktu singkat membantu mencari solusi dengan membuat kapsul tersebut sedikit mempertanyakan. Has he, or at least his team, ever done caving? Lalu mendengar bahwa Elon dan tim telah berdiskusi dengan tim penyelam membuat mereka menjadi lebih relevan untuk melanjutkan misinya. Meski dalam hati saya tetap bertanya-tanya, bagaimana dengan bebatuan tajam yang akan merusak tabungnya? bagaimana dengan tim penyelam yang harus mengeluarkan tenaga dua kali lipat mengangkat tabung berisi manusia saat berjalan di jalur non-banjir? Terlepas dari itu semua Elon telah bekerja beberapa langkah jauh di depan daripada sebagian besar manusia di bumi ini, termasuk saya, yang hanya bisa mamantau dari internet dan mendoakan keberhasilannya. Terlebih saat terakhir dia mengkonfirmasi di akun twitternya mengenai korespendensinya dengan penyelam bahwa pembuatan kapsul tersebut karena penyelam meminta ‘please keep working on the capsule’. Good job Elon! And probably you’ll have interest to know more about speleology.

Kecelakaan ini sesungguhnya membuat orang bertanya-tanya. Paling tidak saya pun merenunginya, mengapa bisa terjadi dan salah siapa? Banyak yang menyalahkan sang pelatih, Ekapol (25), karena mengajak anak-anak tersebut masuk gua saat cuaca buruk, meski mereka masuk saat hujan belum turun. Namun melihat bahwa mereka memasuki gua dengan perlengkapan seadanya: baju bola dan celana pendek, tanpa helm, tanpa sepatu boot, mungkin hanya sedikit penerangan. Saya pun melihat mereka hanya penduduk lokal yang sesekali memasuki gua untuk bermain dan tidak dibekali pengetahuan tentang bahaya dan keselamatan diri sendiri. Pengetahuan mengenai prosedur keselamatan menelusuri gua umumnya diketahui oleh para penelusur gua yang mendapat akses informasi dari buku-buku atau petunjuk-petunjuk yang telah disepakati secara global. Sehingga menjadi cukup dimengerti bahwa kesadaran dan pengetahuan mereka, terutama pelatihnya, akan keselamatan masihlah kurang untuk akhirnya terjadilah kejadian yang menjadi sorotan dunia. Namun setelah kecelakaan terjadi yang harus diutamakan adalah keselamatan korban. Tidak ada salah-menyalahkan sesiapa. Kerja tim penyelamat yang solid adalah kunci keberhasilan penyelamatan ini. Terlebih lagi 12 anak-anak dan pelatihnya sangat hebat dan kooperatif terutama dalam kondisi kritis 9 hari pertama setelah mereka terjebak. Sehingga pada tanggal 10 Juli 2018, di hari 17 terjebaknya mereka, seluruh negeri bersorak sorai atas berhasilnya misi penyelamatan The Wild Boars. Sayapun, turut bersorak dalam hati saat melihat siaran langsung dari salah satu saluran di Youtube setelah hari-hari yang cukup menegangkan.


Selasa, April 24

Overheard Emak-Emak Sedang Piknik di Pantai

Di suatu pagi yang cerah alumni sebuah SMP milik Ibu saya yang berarti sekelompok emak-emak dan bapak-bapak berusia kisaran 50 tahunan sedang piknik di pantai. Setiap orang yang datang wajib membawa makanan yang dibebaskan jenisnya.

*Percakapan 1*
Emak A : Eh jeng tadi aku nelpon si Bapak A nanya bawa makanan apa, dia bilang bawa lontong, lumayan ya jeng bisa kenyang makan lontong
Emak B : Lah jeng kok situ percaya aja si bapak bilang gitu
Emak A : Ya percaya lah jeng kenapa enggak
Emak B : Si Bapak ya udah pasti bawa lontong lah, satu lontong sama dua telor.
Emak A : !@*@$(*&$(#
Saya       : (mencuri dengar) *^#(*)$@#)$#*(!!!!

*Percakapan 2*
Emak A : ini loh aku nelpon si Titit nggak diangkat-angkat dari tadi, coba jeng kamu yang telpon
Emak  B : Ya mungkin Titit lagi di jalan jeng, belum bisa angkat telponnya
Saya       : (Bertanya kepada Ibu) HAH, TITIT?
Ibu         : iya, Namanya Tuti, karena ada dua orang yang namanya Tuti jadi yang satu dipanggil Titit.
Saya       : %@#^%@#&^*@$(@$*)_@%)(_!!!


PS: Don’t judge me

Selasa, Maret 27

Internet

Apa kabar dunia persilatan?

Setelah gonjang-ganjing pemanfaatan data akun facebook secara ilegal, some people might delete their account yet many of world populations still using it and don’t even give a shit about what just happened. Kadang lucu juga melihat fenomena dunia maya ini. Migrasi-tutup-buka akun media sosial dari satu ke yang lain adalah hak setiap nitijen yang terhormat. Seorang sutradara terkenal memutuskan menutup akun twitternya, bikin kepala pecah katanya. Probably reading too many mocks or critics on his new movie? (just guessing, lol). Ada yang mulai jenuh dengan kepalsuan foto-foto Instagram, sehingga memutuskan untuk menutup akunnya dan lebih bergembira ria dengan dunia twitter dengan segala jokesnya. Ah ya, sayangnya Tumblr diblokir, padahal saya udah bela-belain memilih Tumblr dibanding Instagram untuk berbagi foto, tapi ternyata tidak direstui juga, haha. Ada juga pas jaman-jaman blogging pada migrasi dari domain blogspot ke wordpress atau sebaliknya, ya mungkin cuma nyoba-nyoba aja sih. Tapi beberapa orang yang blognya saya baca punya alasan sama, bahwa pas masih di blogspot adalah masa masa labil abg yang mana ingin menjadi dewasa dengan tulisan barunya di wordpress, haha. Beda lagi dengan dunia videografer. Sekarang banyak sekali yang menghasilkan uang dari Youtube. I’m enjoying watching Youtube video dengan berbagai macam jenisnya itu, tapi belakangan jadi banyak iklan (yaiyalah tam kan makin banyak yang cari uang disono). Namun di antara banyaknya Youtuber-Youtuber yang bermunculan dan semakin kaya itu, ada juga loh yang lebih memilih membagikan videonya melalui Facebook ketimbang Youtube. Sila dicek Nas Daily, pasti udah pada pernah nonton kan paling engga salah satu videonya yang nyeritain kehidupan orang selama satu menit dengan tagline “That’s one minute, see you tomorrow”. Ketimbang meng’uang’kan hasil kerja kerasnya di Youtube dia membagikan video-video kerennya setiap hari di Facebook yang tidak menghasilkan uang. Alesannya sederhana, di Youtube orang-orangnya tidak nyata karena kebanyakan tidak pakai nama sebenarnya. Pengguna Facebook mayortitas adalah nyata dan menggunakan nama asli sehingga mas Nas ini bisa berkomunikasi dengan lebih nyata. Lagipula dia tidak menyukai uang hasil iklan yang mana penghasilan utama di Youtube adalah dari iklan tersebut. Wow. Fyi video-video belio yang tersebar di Youtube tentu disebar oleh orang lain yang mengaku-ngaku dirinya. Nah, jadi apa ya haha, intinya cuma pengen cerita aja kalau alasan setiap nitijen ini berbeda-beda dan bagaimana setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menggunakan media social. Termasuk saya dan klean-klean ini.
Jadi, that’s one paragraph, see you tomorrow!

Minggu, Maret 18

Jalanan

Saya mau ngomongin serba-serbi jalanan; lalu lintas; berkendara; dan sejenisnya itu lah. Berhubung udah hamper 8 tahunan berkendara motor jadi ada lah ya yang bias diceritain dikit-dikit, hehe. Tapi sebelumnya Ya Allah jauhkanlah hamba dari menjadi emak-emak yang ngasih sein kanan tapi belok kiri.

Jadi, satu satunya tempat yang selalu bikin saya bisa mengumpat ya di jalanan. Lalu lintas dengan segala maha benar kelakuan penggunanya, juga jenis-jenis jalan yang gak semuanya semulus muka mbak-mbak beauty vlogger yang pakai 10 tahap skincare tiap pagi. Saya antara senang dan merdeka karena bisa sok sok ngumpat tapi nggak ada yang denger dan lihat. Jadi saya bisa tetep terlihat innocent di luar jalanan huehehe. Ohya, termasuk nyanyi sendiri atau kalo lagi sedih dan pengen nangis.

Jadi jenis pengendara yang bikin kesel ada macem-macem, tapi mari kita tidak usah membahas emak sein-kanan-belok-kiri karena udah terlalu basi sering diomongin di mana-mana salah satunya di awal tulisan ini, haha. Nah berhubung saya belum bisa nyetir mobil, jadi konteks tulisan ini saya sebagai pengendara motor aja ya..

- Yang jalan di tengah tapi pelan-pelan.
Hmm, asumsi saya sih pengendara jenis ini baru belajar naik motor. Seringnya ngeliat ibu-ibu, kalo nggak cewek-cewek abg yang pake seragam SMP/SMA. Mereka ini nggak tahu dan nggak mau tahu apa yang sedang terjadi di belakangnya. Mungkin pengendara mobil ya yang jadi susah kalo mau nyalip mesti ikutan jauh ke kanan jaraknya. Kadang kesel sih, tapi rasa keselnya berangsur-angsur berubah jadi kasian, karena kalo mereka baru belajar naik motor jadi merekanya beresiko terjadi apa-apa. Entah kepepet orang nyaliplah, diklakson yang bikin kaget lah, diteriakin lah.

- Yang mau belok kanan tapi melipir ke kiri dulu.
Nah, ini nggak jauh beda dari yang pertama, pasti baru belajar naik motor atau mungkin nggak biasa di jalanan. Kalo mau belok kanan yang motong nyeberang, entah mau mampir ke warung atau masuk gang yang posisinya di kanan, bukannya ancang-ancang melipir kanan sambal nunggu sepi eh malah melipir ke kiri baru nengok ke belakang.

- Yang dikejar target penumpang.
Siapa lagi kalo bukan those A**HOLE BUS DRIVERS!! nah kan ngumpat. Kalo udah ketemu bis jangan macem-macem deh pokoknya, entah itu trans jogja ataupun bis antar kota antar propinsi macem eka-mira. Kalau berkendara di pantura dan merasa tenang-tenang saja karena belakang anda sepi, jangan terkecoh, tiba-tiba mendadak muncul muka si kotak besi yang dari spion yang jaraknya udah deket banget. Baru-baru ini saya ngalamin, saya terlena beberapa detik nggak ngecek spion kan karena jalanan masih wajar, tiba tiba diklakson bis yang jaraknya udah deket banget. Kaget banget untung gak sampe jatuh ya, gimana yang jantungan. Nah biasanya kalo udah gitu sopir bus bakal jengkel banget karena kesalahan saya yang 'ngalangin jalan' gimanapun pasti mereka merasa benar haha. Jadi buru-buru menjauhlah dari bus tersebut. Saya habis kaget langsung ngebut cari sisi aman karena emang lagi agak macet, jadi si bus itu pun percuma nglakson2 saya karena depan saya pun lagi macet! pas udah keluar dari kemacetan dan posisi saya di depan bus itu lalu buru2 mepet samping kiri ceritanya mempersilahkan doi biar nyalip saya. Nyalipnya nggak santaaeeee berasa sengaja dipepet, mungkin masih kesel kali saya ngalangin jalan dia.

- Yang lampu baru ijo tapi langsung bunyiin klakson.
Ingin kuteriak: maburo!

- Yang udah jalan pas lampu belum ijo.
Ini biasanya sih akamsi yang udah apal banget kapan gilirannya lampu merah dan ijo nyala, atau kapan ada celah sepi meski belum gilirannya ijo. Iya sih, cuma kurang 5 detik lagi baru ijo, tapi jadinya saya kaget sendiri dan suka kebawa pengen ikutan ngegas.

- Yang dikit-dikit nglakson
Sering banget kaget karena klakson2 yang entah dibunyikan untuk apa. Beda urusan kalo pas lg viral Om Telolet Om. Cuma sering banget dikagetin sama klakson yang padahal saya nggak ngerasa ngalangin jalan mereka. Atau sayanya aja yang emang nggak ngerasa ya, haha.

- Yang lagi nyari alamat.
Kadang mereka suka berhenti secara mendadak padahal belum ngasih lampu sein. Ya mungkin kalo emang lagi nyari alamat, mbok di awal pelan-pelan aja bisa loh. Kalo yang ini berhak mendapatkan bunyi klakson karena bisa membahayakan pengendara belakangnya yang ikutan berhenti mendadak juga.

- Yang sambil ngerokok.
Keseel banget kalo abu rokoknya terbang-terbang kena ke pengendara belakangnya. Nggak semua orang nutup kaca helm kaaan.

- Yang nggak pake helm tapi ngebut.
Abege-abege yang lagi boncengin pacarnya, udah gitu suara knalpotnya tuh looh, bikin pengang.

Udahan deh, nanti tambahin lagi kalo nemu yang unik-unik di jalanan.

Selasa, Desember 12

Before This Year End

It’s been a very looooong time without posting anything in this page. Since I’ve never been updating my life things anywhere in the internet, (instead of some tumblr pictures, and couple of whatsapp status), (well, I’m not that anti-social right?), probably will write some more words just to fill this blog before this year end. Yasss, 3 more weeks before 2018! I think it’s a non-structural post, I just randomly put all stories and some thoughts that I can write at this year-end.

Oh, what did I do? I left this page on April. Yes, there were moments. Kindly forget some, and lost tons of details but this early year there was a little change in my life habit. I resigned from my office (been 2 years there) and move to another project which require me to move from place to place. I wasn’t totally leave Jogja as I expected when I first joined that project.  But yeah, this government-project thing makes me take lot of flights I’ve never thought it would be this much. So, it took 4 trips in 4-5 months to finish this program and I’m not gonna write the detail of what I was exactly doing. But let me make it short: First trip: Excitement à Second trip: woa, what I’m gonna do, almost 24 hours work every day à 3rd trip: drama drama dramaà 4th trip: finally, kind of happy ending. But yeah, thank you for the experience and the opportunity to explore new places in South Borneo. I think this project still needs more improvement, for the better goals.

So afterwards, I become unemployed again (?). but I feel blessed enjoying my free time while doing couple of things like: attending friend’s wedding (which become midlife’s routine I guess); finding new places to live, and designing it; learning how to drive a car (and I wish ‘kopling’ motorcycle too); hiking Semeru mountain (which my last summit was 4 years ago); being obsessed by some real criminal stories (found this site: www.parkaman.com); streaming movies and YouTube that I couldn’t help but wasting my time on it! It’s interesting to watch ton of youtubers I’ve just known, I knew some names but you know, when you open a page it brings you to another page and page and page and so on.

Well, the internet thing goes really crazy now. I realize that I spend most of my time to see what’s on my phone screen, or laptop. At the end of the day I kind of feel bad for scrolling through social media timeline that much. Why did I waste most of my precious time by seeing some clickbait news, celebrities life, friends achievement (just to make me feel more insecure, lol). But on the next day, still, I’ll repeat it again haha.

In line with this internet things, or technology, I’ll recommend you a great drama series called ‘Black Mirror’. Most of episodes just left me thrill. Each episode is a stand-alone story so no need to start from first episode to understand. The stories are mostly dark and illustrate modern-future day where technology drives human life and how it affects them. The serial has 3 seasons which consists 13 episodes. The 4th season will be aired this December (can’t wait!). I love almost every single episode, probably only 2 which I think has uninteresting story. It worries me how our future will be on the next 10 years maybe? Which one of this ‘black mirror’ technology will be real and also the horrifying side effect.

Let's say that I rely on google maps (despite of the other google features) for looking for places. I even registered as Local Guide. I remember life before google maps. Not so long time ago, I’m not good at memorizing routes. I did it because I get used to the route, so it took more than one trip to memorize the route. Now I got GPS on my hand every time I need it. I admit that google map helps me a lot. Let me hope I don’t lose my instinct of looking around the road without the help of technology. In other hand, I wonder why some people don’t optimize the use of their smartphone as if they have GPS but they don’t know how to use it. You know, like saving or plotting places and stuff. But I understand not all people see it as important thing.

And about Semeru, it was MAGICAL place though the rain never let us feel the warm sun more than an hour per day. The mist which always covered all over the area makes it became more mystical place. I did my summit and it was a hell but worth to see. I never see the famous ‘5cm’ movie before, but Mahameru is not easy place to hike with its slippery sand and unstable rock. Fortunately, it was rainy season so the sand we step on was solid enough and no need to use mask coz the air was clear from dust. Over all, Semeru track is quite easy except the Mahameru. A lot of amazing scenery from Ranu Pani until Kalimati camping ground, it is the combination of lake and sabana. Surprisingly I met a cat at Ranu Kumbolo, perhaps a mountain cat coz he looks so strong (?). The best of the best was the uncrowded situation, very few number of hikers (thanks to the bad weather). There were no more than 20 tents build at Ranu Kumbolo camping ground. Only 3-4 groups which took the summit with us. Here are some pictures:



 


Kamis, April 6

Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 3)


1-2 September 2013
“Perpisahan”
my host family, bareng sama anggota tim perempuan lain

Pada akhirnya tibalah saat kami harus selesai dengan segala macam kegiatan kami selama kurang lebih satu bulan di Binaiya ini. Artinya kami harus berpisah dengan orang-orang yang kami temui selama di sini. Keluarga-keluarga yang rumahnya kami tinggali, Pak Sonri selaku sekretaris desa, Bang Ampi, seluruh anak-anak sekolah yang sempat kami ajar, bu guru dan pak guru, yang tidak bisa kami bantu lebih lama lagi daam mengajar murid-murid. Terlebih, kami akan segera meninggalkan megahnya gunung Binaiya dengan beberapa titiknya yang kami sempat singgahi.
Sebelum benar benar pergi, kami melakukan rapat koordinasi pada dua malam terakhir kami di Kanikeh. Kami membahas segala hal yang kami dapat selama ekspedisi dan apa kira-kira yang dapat kami berikan sebelum meninggalkan orang-orang yang telah banyak membantu kami. Beberapa masalah dibahas untuk kemudian disampaikan kepada pengurus desa ataupun guru-guru. Kami juga mendengar kabar ahwa nona guru akan mengajak penduduk setempat untuk mengadakan ‘pesta’ pelepasan kami yang akan sekaligus kami manfaatkan untuk momen perpisahan.
Keesokan harinya, tak seperti biasanya kami makan begitu banyak. Pagi hari, mama tempat kami menginap memasakkan udang dan ubi-ubian (yang sangat jarang sekali mereka lakukan). Siang harinya, acara perpisahan diadakan di ruang kelas. Saat kami datang, makanan telah dihidangkan di meja tengah. Saya cukup terharu karena sejujurnya untuk makanan sehari-hari mereka pun tidak mudah mendapatkannya. Pada momen ini, masing-masing keluarga menyumbangkan makanannya demi melepas kami. Acara diawali dengan sambutan dari nona guru dan ucapan terimakasihnya untuk kami. Dilanjutkan oleh Pak guru, dan pak Sonri. Lalu kami, diwakili oleh Adoy selaku ketua tim, juga menyampaikan ungkapan terimakasih dan beberapa pesan singkat untuk mereka. Selanjutnya kami langsung menyantap hidangan. Semua yang hadir turut bersuka cita menyantap papeda, patatas, kasbi, dan lauk pauknya. Sisa hari itu kami habiskan untuk packing dan persiapan terakhir sebelum turun.

suasana perpisahan

anak-anak yang menghadiri acara perpisahan

3-4 September 2013
“Duriannya benar-benar Runtuh”

Sepertinya saya harus menyediakan satu judul sendiri untuk peristiwa yang kami alami ini selama perjalanan pulang dari Kanikeh. Di hutan sebelum kami mencapai Desa Huaulu, kami akan melewati sebuah area hutan yang ditumbuhi pohon-pohon durian. Ajaibnya, pohon-pohon ini memiliki musimnya sendiri. Berbeda dari musim durian pada umumnya, pohon-pohon durian di sini akan berbuah dua kali dalam setahun. Saat perjalanan kami pulang itu adalah saat yang tepat ketika durian-durian sudah mulai matang. Kami tidak mendapatinya ketika perjalanan berangkat satu bulan yang lalu karena memang belum saatnya matang. Menurut sumber, hutan durian ini sebelumnya pernah mendapat suntikan dari bule yang pernah datang. Saya sendiri kurang paham suntikan macam apa dan atas dasar apa bule ini menyuntikkan sesuatu di pepohonan durian ini. Kabar matangnya durian ini tentunya sudah tersebar ke penduduk setempat. Entah itu di desa-desa gunung maupun desa pesisir. Ketika kami masih di Kanikeh pun, orang-orang yang naik ke Kanikeh dari bawah membawa barang satu-dua durian dan mengabarkan ke kami bahwa di bawah sudah mulai matang duriannya. Membuat kami tak sabar untuk menikmatinya sendiri.
Pagi itu dari Kanikeh kami akan langsung turun karena packingan kami telah siap. Kami sudah berpamitan hari sebelumnya sehingga pagi ini kami hanya pamit kepada masing masing keluarga inapan kami. Sembari jalan turun melalui rumah-rumah penduduk, kami hanya melambaikan tangan dan tersenyum. Semua ata menatap kami, seorang ibu yang duduk di teras rumahnya meneriaki kami selamat jalan, selamat pulang kembali ke jogjakrta! Kami merencanakan turun dalam waktu dua hari agar perjalanan terasa santai. Pun kami sudah ingin menikmati pesta durian di bawah yang artinya kami harus menyiapkan cukup waktu untuk berpesta, haha. Hari pertama kami hanya habiskan sampai Desa Roho. Kami menginap di tempat warga, yang malamnya berbaik hati memasakkan kami kasbi (singkong) goreng.
Besok harinya kami melanjutkan perjalanan di pagi hari. Kami hanya tinggal melewati satu desa sebelum kembali menemui aspal dan melihat kendaraan lalu lalang. Mendekati punggungan terakhir sebelum desa huaulu, aroma durian mulai tercium. Kami mempercepat langkah kami karena kami tahu waktu pesta akan segera tiba.
Saya seorang penikmat durian, jadi saya akan menceritakan betapa surgawinya tempat ini. Sungguh. Kami berjalan di antara pepohonan durian matang. Saat itu hanya ada kami yang sedang berjalan di area tersebut. Karena biasanya beberapa warga pun mencari-cari durian untuk kemudian dijual di desa. Karena hutan begitu sepi maka sesekali terdengar suara bedebum, tanda durian jatuh dari pohonnya. Saat itu pula tanpa ba bi bu kami bergegeas ke arah suara. Satu buah langsung kami sikat dalam waktu beberapa menit. Saya pribadi sedikit was-was dan tetap melihat-lihat ke arah atas, berjaga-jaga jika duriannya tiba-tiiba jatuh ke kepala.
Saya gambarkan, dalam beberapa jam ke depan kegiatan kami hanyalah cari durian jatuh-datangi-buka-makan-cari lagi-buka-makan-cari lagi-buka-makan. Saya mendapati diri saya ikut-ikutan nggragas. Siapa yang akan menolak mendapat durian gratis langsung dari pohonnya! Hingga akhirnya kami benar-benar mabok. Para lelaki sepertinya memiliki kapasitas lambung yang lebih besar daripada saya. Ketika saya memutuskan menyerah, mereka masih sibuk mencari lagi. Bahkan di detik detik terakhir, mereka sudah melupakan etika membuka durian dengan baik dan benar. Mereka semakin buas karena membuka kulit durian dengan cara menginjak dengan kaki! (maafkan teman-teman saya ya, pembaca, situasinya memang panas, haha). Oke, mungkin benar-benar sudah mabok. Sebelum mereka mulai membuka kulit durian hanya dengan gigi dan melakukan praktik debus, kami rasa kami harus hentikan semua ini dan kembali melanjutkan perjalanan. Itu adalah pesta durian terbesar yang pernah saya alami, dan mungkin tidak akan saya dapatkan di tempat lain. Ohya, kami memutuskan tidak banyak berfoto-foto dalam pesta durian ini, karena kami tidak ingin membuat teman-teman kami di jogja iri. Terlebih lagi, kami benar-benar sibuk makan durian dan lebih memilih untuk menikmatinya ketimbang harus berfoto-foto.
Siangnya kami singgah di rumah mama tempat kami tinggal di hari-hari keberangkatan kami sebelumnya. Mama menyambut kami dengan hangat karena memang telah mengetahui bahwa kami akan datang hari itu. Beliau telah menyiapkan makanan favorit kami semua: nasi!. Setelah berminggu-minggu memakan sagu dan ubi-ubian, kami mendapat hadiah nasi dari mama karena tahu kami pasti rindu makanan pokok kami yang mayoritas orang Jawa ini. Betapa berterimakasihnya kami terhadap beliau.  Dengan lauk pauk ikan, kami yang baru saja pesta durian ini masih dengan nikmat menyantap makanan mama. Sesudahnya, kami langsung berpamitan kembali untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan kami hari itu, Pusat Informasi Masihulan.

5-6 September
“Holiday”
naik long boat milik Bang Alay

Setelah satu bulan penuh melaksanakan program kegiatan yang terjadwal, kami menyisihkan waktu di penghujung hari-hari kami di pulau ini untuk berlibur. Sudah tentu pantai adalah lokasi yang kami pilih untuk menghibur diri setelah lama berada di gunung dan hutan tropis lembab. Lucunya, hampir semua kaki kami terkena serangan kutu air. Kondisi hutan yang lembab dan kaki yang tidak pernah benar-benar keringlah yang menyebabkan kaki kami terserang kutu yang tidak kasat mata itu, dan air laut adalah obat yang ampuh untuk membasmi mereka tanpa ampun. Oke, saya kurang paham korelasinya bagaimana, haha, yang jelas kaki saya sembuh karena main air laut dan terpapar sinar matahari.
Kami akan berlibur selama dua hari dan Sawai adalah lokasi yang kami kunjungi karena sangat dekat dari lokasi basecamp kami di Pusat Informasi Masihulan. Kami hanya butuh mencegat truk yang lewat ke arah timur untuk menumpang beberapa kilomater sebelum turun di pinggir jalan untuk berjalan kaki ke arah pantai. Kami sudah merencanakan untuk meminjam sebuah basecamp tepat di tepi laut milik Taman Nasional. Lalu menyewa perahu (biasa disebut long boat) milik Bang Alay (beserta Bang Alaynya sebagai sopir, haha) selama kami liburan.
Setelah berjalan kaki, kami menuju arah tanaman bakau yang menandakan batas daratan untuk bertemu Bang Alay yang telah menanti kami dengan perahunya. Kami langsung dengan semangat menaiki perahu tersebut dan langsung bergerak melalui hutan bakau sebelum akhirnya keluar ke laut lepas. Untuk menuju basecamp milik Taman Nasional ini memang lebih mudah ditempuh melalui jalur laut ketimbang darat karena letaknya yang benar-benar di tepi laut. Sebelum sampai ke lokasi, kami mampir dulu di desa untuk mengisi amunisi perut kami yang telah habis ini.
                Basecamp yang kami singgahi berupa bangunan panggung kayu mungil dengan dermaga kecil di depannya. Tidak ada kasur, namun kami sudah siap sedia dengan perlengkapan outdoor kami. Kami juga dipinjami beberapa buah alat senorkling milik Taman Nasional. Sisa hari itu kami habiskan untuk senorkling di beberapa titik laut, menikmati kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya, memancing ikan, atau hanya bermalas-malasan di dermaga. Malamnya, Bang Alay mengajak beberapa orang untuk memancing ikan, dan bahkan beliau sendiri akan unjuk kebolehan menyelam sambil menombak ikan. Saya  tidak ikut karena memilih bermalas-malasan di basecamp sambil ngobrol-ngobrol, because it’s laaazy time. Beberapa saat kemudian yang pergi mencari ikan kembali dengan hasil buruan yang cukup banyak. Kami melewati malam dengan membakar ikan dan menyantapnya di tepian dermaga, bahkan beberapa ikan berwarna bagus dan tampak sayang untuk dimakan, haha.
basecamp milik TN Manusela

Pertama kalinya main snorkeling

numpang foto di penginapan sebelah
                Esok harinya kami hanya punya waktu setengah hari, karena harus mengejar waktu untuk kembali lagi ke Masohi. Kami telah menyewa tronton Kabaresi lagi untuk mengangkut kami kembali. Pagi hari sebelum kembali pulang ke daratan, kami mampir sejenak ke resort yang cukup mewah dan terkenal, pantai ora. Kabarnya tempat ini adalah yang paling mahal di sini karena fasilitasnya standar bule. Arsitekturnya juga menarik. Kami hanya berfoto-foto sejenak, namun sebagian besar dari kami memang sudah tidak berminat berfoto-foto ria. Berakhir dengan mutungnya seksi dokumentasi kami yang sudah susah payah memasang kamera di tripod dan mencari angle untuk foto tim, namun tidak ditanggapi kami-kami, haha. Setelahnya kami menyempatkan untuk sekali lagi bermain snorkling di satu titik. Karena tepat pada hari Jum’at, teman-teman lelaki yang muslim akan melaksanakan sholat jum’at di masjid setempat (setelah melewati setiap jum’at di gunung tanpa masjid, haha). Lalu kami para wanita memutuskan untuk mandi di pemandian umum. Sekilas tempat ini seperti kolam renang umum karena telah terpasang keramik-keramik pada tepian kolamnya, namun sebenarnya air di kolam ini adalah mata air yang mengalir dengan sangat perlahan. Kami bertiga berbaur dengan penduduk setempat yang juga memanfaatkan kolam ini untuk berbagai keperluan seperti mandi, mencuci, atau sekedar bermain-main saja.
bakar-bakar ikan

kolam yang airnya mengalir perlahan

                Sebelum kembali ke Pusat Informasi, kami disuruh mampir ke rumah seorang ibu yang pernah disinggahi rekan-rekan kami dari ASC daris Jogja pada dua tahun sebelumnya. Karena kami juga dari Jogja dan saya pun mengenal tim ASC yang waktu itu juga melakukan ekspedisi di Seram, Ibu tersebut senang sekali kami mau mampir. Beliau juga menunjukkan fotonya bersama tim ASC. Kami disuguh makan siang ikan dan sambal colo-colo, sungguh nikmat. Setelah mengobrol
                Kami menunggu datangnya truk tronton Kabaresi karena tim transportasi sudah mengurus dan membayar sewa tronton tersebut. Namun dua jam kemudian, truk yang ditunggu tak kunjung datang. Kami coba menghubungi komandan kabaresi yang telah berjanji menjemput kami, namun tak pernah ada respon meskipun sinyal telah kami dapat kembali. Menit-menit berlalu tanpa kejelasan dan kami hanya berdiam diri di tepi jalanan. Menjelang magrib, ada sebuah mobil Ford Ranger lewat dan kami coba bertanya apakah bisa menumpang sampai Masohi dengan merundingkan ongkos imbalan. Mereka menyanggupinya dan kami bisa bernafas lega karena bisa benar-benar pulang hari itu ke Masohi.
Tak disangka, pemegang kemudi mobil itu benar-benar ‘handal’ dan tak lebih dari 2 jam kami bisa sampai di Masohi. Padahal waktu tempuh normal adalah 4 jam. Dengan kecepatan yang sungguh tinggi di medan yang berliku-liku, kami harus menanggung derita pusing-pusing dan mual-mual, haha. Bahkan beberapa orang teman lelaki yang menempati bagian belakang sampai muntah-muntah. Namun kami sudah sangat bersyukur bisa mendapat tumpangan sampai ke Masohi. Sekitar pukul 19.00 kami sampai di rumah dinas kepala Balai Taman Nasional yang baru saja pensiun, Pak Zulkifli. Beliau telah pulang kembali ke Bogor ketika kami datang ke Seram. Namun masih berbaik hati untuk meminjamkan rumah dinasnya kepada kami untuk disinggahi sejenak. Di situ kami benar-benar merasakan kembali ke rumah, dengan kasur empuk dan AC. Kami beristirahat dengan nyenyak malam itu.

7-11 September 2013
“Back Home”
                Kami masih memiliki tanggungan program ekspedisi, yakni melakukan presentasi ke orang-orang di balai taman nasional sebagai bentuk pertanggungjawaban kami berkegiatan di area Taman Nasional Manusela.Jadwal kami presentasi adalah besok tanggal 9 september, sehingga hari ini kami gunakan untuk persiapan materi presentasi esok hari.
Kami diundang Bang Ato ke rumahnya untuk jamuan makan siang sekaligus menunjungi keluarganya. Bang Ato memiliki empat anak laki-laki yang uniknya kesemua anaknya diberi nama jawa yang berawalan 'su' salah satunya sugiono (sayangnya saya melupakan 3 nama lainnya, haha) . Padahal baik Bang Ato maupun istri tidak memiliki darah jawa sama sekali. Harapan beliau, keempat anaknya dapat tumbuh menjadi orang besar selayaknya Sukarno, Suharto, dan Susilo, ketiga presiden Republik Indonesia yang orang jawa dengan nama ‘Su’ di konsonan pertamanya. Amin ya bang, haha. Cukup lama kami habiskan waktu di rumah Bang Ato, dan memberikan tanda terima kasih berupa sembako untuk keluarganya. Kami rasa sembako memang tidak cukup untuk membalas jasa Bang Ato yang menemani kami selama berkegiatan. Kelak jika kami bertemu kembali, kami akan selalu mengingat kebaikannya dan membantu apa yang kami bisa jika beliau membutuhkan bantuan apapun.
Sisa hari itu kami habiskan sebagai waktu bebas masing-masing. Saya mencoba mengunjungi warung internet setempat karena penasaran setelah berminggu-minggu terisolasi dari dunia luar. Sedikit gagu pada awalnya, dan cukup aneh melihat layar komputer. Tapi selang beberapa menit saya terlarut dengan sosial media. Tujuan utama mengecek dan membalas pesan, kalau kalau ada yang mengirimkan saya ucapan ulang tahun bulan lalu melalui dunia maya, haha.
Malamnya kami serius kembali menyiapkan presentasi, sambil menonton televisi yang pada malam hari itu sedang ada acara pemilihan putri indonesia. Kami sendiri telah melakukan diskusi khusus terkait hasil yang kami dapat di lapangan pada hari-hari terakhir kami di Kanikeh. Kami juga bersiap-siap packing barang bawaan karena setelah presentasi kami akan langsung berangkat ke Ambon. Kami sudah memesan tiket pesawat untuk keberangkatan tanggal 10 siang. Acara presentasi sekaligus momen kami untuk berpamitan dengan pulau ini.
Presentasi dimulai pagi itu tanggal 9 September. Pegawai balai taman nasional berkumpul, meskipun tidak lengkap semua datang. Setelah pembukaan oleh ketua tim kami, Adoy, presentasi dilanjutkan oleh masing-masing bidang sembari kami bercerita mengenai apa yang kami dapat di sana. Saya mendapat jatah menyampaikan beberapa hasil eksplorasi karst. Hasil yang kami sampaikan ditanggapi dengan baik oleh pegawai balai. Kami saling berdiskusi mengenai saran-saran yang kami sampaikan berdasarkan diskusi kami di lapangan.
suasana presentasi di Balai TN Manusela

Siangnya, kami langsung pergi ke arah pelabuhan Amahai untuk kemudian menaiki kapal cepat, menyeberangi laut menuju Pelabuhan Tulehu di Ambon. Sesampainya di Ambon kami mendatangi mess milik pegawai dinas KSDA Ambon yang kebetulan salah satunya adalah alumni Kehutanan UGM. Kami menginap semalam dan keesokan harinya kami harus ke bandara untuk mengambil penerbangan ke Surabaya pada pukul 10.00.
pulaaang

Bagian sebelumnya:
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (Bagian 2)
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 1)

Minggu, April 2

Blogspot

Berada di domain blogspot milik blogger ini sesungguhnya suatu hal yang patut diapresiasi. Atau selebrasi? Meski secara terseok-seok saya mengisinya dengan tulisan-tulisan yang tidak pernah benar-benar konsisten, mengganti tema berulang kali, saya tidak melupakannya hingga detik ini. Teringat bagaimana saya pernah berniat pindah ke domain wordpress hanya karena saya melihat banyak orang migrasi dari blogspot ke wordpress. Polanya sama, meninggalkan cerita-cerita klasik masa ABG atau curhatan-curhatan yang tidak ada korelasinya pada masa yang lebih baru untuk kemudian memulai lembaran baru dengan jiwa yang lebih dewasa. Sederhananya, blogspot adalah masa alay dan tidak jelas yang tidak ingin dilibatkan dalam ceritera baru. Cukup subyektif, tapi bisa dipertanggung jawabkan untuk beberapa contoh kasus yang saya amati. Lalu niat pindah tersebut saya urungkan, karena saya tidak begitu yakin untuk mejadi lebih konsisten pada tempat baru nanti. Daripada menjadi suatu hal yang cukup sia-sia, saya memilih melanjutkan cerita yang saya mulai di tahun 2009 dimana era kejayaan blogspot berlangsung.


Cukup bersyukur karena peselancar dunia maya tidak begitu banyak meminati gaya lama dunia blog (dalam hal ini, blogspot) yang artinya saya bisa lebih menjadi diri sendiri tanpa perlu merasa insecure demi memikirkan pendapat pembaca. Sedikit porsi insecure itu tetap ada dan mungkin lebih tepat dikatakan porsi menyaring apa-apa yang akan saya tuliskan. Syukurlah peselancar dunia maya yang budiman lebih banyak menghabiskan menitnya untuk memandangi laman instagram. Tidak bermaksud menjadi generasi yang sok senior, karena setiap masa memiliki romantismenya masing-masing.


Jadi, terimakasih blogspot!
kesetiaan saya dan pengguna blogspot lainnyalah yang membuat orang-orang di perusahaan ini dapet duit