Senin, Mei 18

Such an Elderly

Saya menulis lagi. Rasa-rasanya belakangan saya hanya menulis jika saya ingin menulis, dan saya ingin menulis ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan sistem perputaran di hidup saya. Namun jujur saya pun tidak ingin beberapa kisah yang saya tulis diketahui banyak orang, beberapa kali saya pengen ngetwit atau nulis gamblang di blog,  tapi terlalu terumbar rasanya, saya kan pemalu haha. Sudah terlalu lama saya vakum dari dunia tulis menulis di dunia maya. Entahlah, mungkin saya bosan dengan keadaan yang terlalu cepat ini. Hambar. Saya juga memiliki banyak stok foto-foto yang kiranya bagus untuk saya posting, sehingga beberapa kali berniat membuat akun instagram. Tapi lagi lagi, berujung pada kehambaran. Mungkin sebenarnya saya lebih ke arah plin plan, apakah seharusnya saya masuk ke dalam euforia trend hidup manusia jaman sekarang? atau saya hanya memandanginya saja dari kejauhan? menertawakan pun tenggelam dalam keragu-raguan. Hmm, dasar tukang plin-plan.

 so here’s the story begin.. dari tadi juga udah mulai sih, haha.

Sebetulnya toh ini tulisan mainstream anak muda 20an yang belum benar benar paham arah hidupnya mau kemana. ya, lagi-lagi.
Tapi sadar nggak sih semakin kamu banyak melihat kehidupan, semakin banyak bertemu orang. Semakin segala sesuatunya kembali lagi ke nol. Semacam mempertanyakan diri sendiri sebenernya kamu ini siapa? dimana? sedang apa? mau apa? yakin dengan yang kamu lakukan?
Saya sedang membantu sebuah proyek penelitian dosen saya mengenenai ruang hidup lansia di suatu kampung padat di Yogyakarta. Dan ini cukup menyenangkan karena saya harus mengunjungi 150 responden lansia di setiap rumah mereka. Betapa kehidupan seseorang bisa dengan jelas terlihat dari sebuah ‘ruang’ yang disebut rumah. Bagaimanapun wujud rumahnya, si pemiliklah yang pada akhirnya menjadikannya sebagai cerminan watak-watak, identitas, dari apa yang telah mereka perbuat semasa hidupnya.

Pun karena yang diwawancara adalah lansia, dimana mereka telah melalui pahit manis kehidupan. Dan memiliki segudang kisah dan nasihat hidup. Sangat menyenangkan bisa mendengarkan bagaimana mereka bercerita tentang rumah mereka. Saya pada dasarnya senang mendengarkan orang lain bercerita. Terkhususnya para lansia, yang jika bercerita, sorot matanya seolah menghisap saya dan saya turut masuk ke dalam setting peristiwa yang mereka ingat seperti menonton layar lebar. Tapi bioskopnya di dalam pikiran mereka, haha ngaco. Dan ketika menanyakan mengenai peristiwa yang terjadi dahulu kala, maka mereka akan memalingkan arah pandangan sembari mengernyitkan dahi, mencoba mengingat ngingat. Lalu saya akan menemukan senyum jika yang mereka ingat adalah kisah kisah bahagia. Dan tentu saja, saya pun ikut senang. Simple ya.
Meski kadang ceritanya jadi ngelantur kemana-mana, dan saya jadi perlu diingatkan rekan saya agar segera menuntaskan wawancaranya haha. Terima kasih Bapak dan Ibu yang rumahnya saya rusuhi, terima kasih atas cerita ceritanya, terima kasih. Semoga sehat selalu. Pada akhirnya kita semua akan menua, dan kiranya rumah pun perlu dipersiapkan agar bisa dinikmati di masa tua, bukannya menyusahkan.
Menua itu pasti. Dewasa itu pilihan. Ciah. Katanya orang-orang sih.
Saya kira saya pun sedang berproses dalam tahap ‘dewasa’. Bagaimana berdamai dengan permasalahan-permasalahan. Segalanya harus dipikirkan matang-matang, and just calm down for anything, girl. Usia 20an udah bukan jamannya nangis nggerung-nggerung kalo lagi banyak masalah, atau teriak teriak manja kalo lagi puyeng. Atau bertingkah tanpa mempertimbangkan akibatnya. Hmm, sotoy ya saya. Eh, tapi saya juga nggak gitu gitu amat kok haha. Jadi kalo pada saatnya terpuruk, pun kayaknya nggak terlalu baik kalo terlarut terlalu dalam. Atau kalau terlalu senang, hmm, ya disyukuri aja sih. Kadang terlalu senang itu pun bisa menjatuhkan jika dibalik kesenangan ternyata ada masalah besar. Duh ribet yak hidup haha. Yang sedang-sedang aja deh, just be slow and steady,

Atau mungkin saya sedang dalam masalah besar?

Senin, Februari 2

Blah-blah Thing

Oh, I think I forget for having this miserable blog (sorry blog L).  And I don’t remember how to write some fun stories as I used to do. I will graduate soon (congratulate me then haha). After couple of months being super busy in studio, and now I was like really have nothing to do. I mean, not really, but I finally write something here right? In this time of nothing-to-do, I’m bubbling around with myself. I am worrying a lot for what will happen in the next phase of life. I should’ve known for long time before, but never this bad. You’ll know it when it comes to you.

Of course, I have a lot of big dreams. It’s like too many dreams until I can’t really know which one I should choose? Let’s get back to 4-5 years ago when I started my college. I interested in many many things. I like drawing, sometimes doodling clothes until I even thought to study in fashion designer school. Then I ended up with architecture. In architecture, I found that everybody love drawing too (of course!) some of friends are even the real artist. You know, like they are born to be an artist. For people who have standard skill like me just started to panic at first (thanks God for TKAD). Then I was like, not really interested in drawing like I used to do. Because drawing is a must. And everybody did it. Something that used to be an anti main stream (in my past life) becomes main stream now. But don’t worry I didn't give up drawing. I still, and I know how to draw a house now. Because everyone who met me and when they know that I’m an architecture student they were like asking me “can you draw my future house?” or “can you make my dream house, with extra discount? Come on we’re friend right?” and other blah-blah things.

People are changing by different way its change right?

But that’s just one of my hobby and I’m not gonna talk about the rest. It’s too much and some are private hehe. And sometimes, dreams or future goal and hobbies are just equal. People wanted something due to what they really like in life. So when I have lot of interests, it means I have a lot of dreams too. But then when hobbies become a duty, it lost some meaning as it was before. Then the question, is there any other options? You want to end up with doing something you don’t like and make hobby become happiest thing in life that you do beside your boring work? It’s your option then, that’s how life goes. People are free to choose which way they like most.
And whaat’s the point of this blah-blah thing? I don’t even know. I’m asking myself too. At least I write something, for the first time in this year. Oh, happy new year then.



Ngemeng apa sih uwe.

Kamis, Oktober 9

Duh, Oktober!

Halo Oktober!

Bulan yang aneh, Perencanaan agenda untuk bulan ini begitu memusingkan. Toh pada akhirnya saya mencoret beberapa rencana *sambil nangis* karena budget tidak memungkinkan. Bulan November adalah final tugas akhir yang membutuhkan modal paling banyak. Mahasiswa arsitek pasti paham, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk kepentingan cetak gambar dan bikin maket. Jadi saya harus menghemat pengeluaran jauh-jauh hari sebelumnya. Apalagi tugas akhir yang mesti 'sempurna', ga main-main kayak proyek studio-studio sebelumnya. (jadi selama ini kamu cuma main main? bah!)

Bulan ini banyak juga teman-teman saya yang akan mengakhiri masa-masa lajangnya dan mengikat janji untuk hidup bersama dengan lelaki pilihannya. Kalo ada lima orang teman yang menikah di minggu ketiga bulan Oktober itu lumayan banyak kan ya? Temen MTs, temen IC, teman KKN, teman kos, mantan teman kosan. Lagipula mereka resepsi di empat kota yang berbeda, sampai sekarang pun saya belum memutuskan akan menghadiri yang mana? Ada yang ingin sekali saya datangi resepsinya, tapi apa daya budgetlah yang pada akhirnya menentukan, hiks. Terlepas siapa yang mau saya datengin, happy wedding all :') semoga dilancarkan acaranya. Semoga kalian benar-benar mendapat pendamping hidup yang tepat dan hidupnya berkah setelah ini :') *terharu nih*

Bulan ini juga banyak agenda berkaitan dengan Speleologi. Cave Rescue-nya Arisan Caving Yogyakarta, Speleogathering-nya (siapa?), paska Ekspedisi Gombong-nya ASC, persiapan KDKL 2014 nya HIKESPI. Mau dateng yang mana? entahlah. Mikirin banyaknya acara aja udah pusing haha. Kalo ada waktu lowong, saya akan berusaha membantu siapapun. Cuma lagi-lagi budget (dan waktu) saya ga bisa ikutan Speleogathering di Cibubur yang padahal acaranya keren. Banyak bahasan ilmiahnya.

Ah sudahlah,

Yang saya utamakan untuk bulan ini tetap masalah akademik. Mending saya duduk manis di depan komputer studio TGA, fokus ke tugas akhir. Sejenak mari kurangi mobilitas yang tinggi di bulan ini. Simpan uang untuk produk TA.
And be ready to find the good things at the end!



Sabtu, Agustus 2

Di Balik Tudung Suci

Ini apa banget deh judulnya. Tau tau pengen ngasih judul ituu aja. Padahal mana tau dah isi postingannya tentang apaan. Don't expect too much haha.

Sudah lama tidak menulis, jadi saya awali saja dengan sapaan Hai! selamat datang bulan Agustus (ga tau kenapa banyak banget yang ngetwit gitu). Tapi postingannya bukan tentang Agustus kok. Bentar lagi udah masuk Studio Tugas Akhir, masih ada 4 bulan sebelum akhirnya bisa leyeh-leyeh (iya apa?). At least, (semoga) udah bisa jadi sarjana.

Masih pada inget kan foto fenomenal ini (belum terlalu basi kan?):


Iya, ini fotonya tante Syahrini, yang cukup bikin heboh lebaran kemarin. Si tante posting foto Instagram pake mukena renda-renda dan berpose di zam zam clock tower hotel Madinah. Nggak kok, nggak mau komentar nyinyir ato sejenisnya tentang si tante. Ini foto di like 19 ribu orang, dengan berbagai perang komentar antara yang ngejek sama yang mbelain di IG nya. Saya lucu aja, dan salut sama tante Syahrini karena selalu bikin segala hal miliknya jadi heboh. Bahkan sering banget foto-fotonya diedit jadi meme-meme, masa foto syahrini pake mukena ini dicrop terus dijejerin sama tenda-tenda camping. Ato dikasih gagang payung. Ato diselipin ke potongan pizza. Kurang ajar si yang ngedit, tapi tetep bikin ngakak :'D. Ayo tante lanjutkan fenomenamu, ramaikan dunia nyinyir-nyinyiran, makin banyak yang ngomongin katanya makin banyak dapet pahala kan? Toh si tante nggak pernah peduliin ejekan orang dan tetap bahagia selalu dengan koleksi hermes dan jet pribadinya. I LOVE YOU TANTE!

Lupakan kehebohan Syahrini. Sekarang saya mau promosiin barang. Saya sebenernya anti sama iklan spam spam yang selalu negrusuhin akun akun manapun. Tapi namanya juga jualan, pasti ada usaha buat promosiin dagangannya, entah bakal disukain ato malah dibenci. Kayak fotonya tante tadi.

Saya mau bantuin mama saya dagang mukena (Nah, nyambung kan sama Syahrini tadi). Kali aja ada yang lagi cari mas kawin #eh. Tapi ini bukan mukena renda-renda heboh kok. Bisa ditebak lah karena saya dari Pekalongan, mukenanya mukena batik. Kasian sama si mama nggak ngerti internet jadi saya bantuin promosi online di blog. Yah, meski pembacanya nggak banyak seenggaknya udah usaha. 

Bahan mukenanya kain mori halus, terus banyak macem warna dan coraknya. Semuanya full color (belum bikin yang dasarnya putih). Ceritanya ini yang mbatik orang-orang deket rumah, jadi coraknya random gitu terserah yang mbatik (saking banyaknya corak batik). Antar satu mukena dan yang lain beda-beda coraknya.

Baru dibikin juga akun instagramnya di @arumyuniast (padahal nggak pernah mainan instagram). Yowes, maapin atas ketidaksinkronan antara judul, Syahrini, dan dagangan. Yang penting mukenahnya. Last statement: yuk diorder sis ;)









Sabtu, Juli 26

She's Leaving Home

Wednesday morning at five o'clock as the day begins
Silently closing her bedroom door
Leaving the note that she hoped would say more
She goes downstairs to the kitchen clutching her hankerchief
Quietly turning the backdoor key
Stepping outside she is free

She (We gave her most of our lives)
Is leaving (Sacraficed most of our lives)
Home (We gave her everything money could buy)
She's leaving home after living alone
For so many years (Bye bye)

Father snores as his wife gets into her dressing gown
Picks up the letter that's lying there
Standing alone at the top of the stairs
She breaks down and cries to her husband "Daddy our baby's gone
Why would she treat us so thoughtlessly?
How could she do this to me?"

She (We never thought of ourselves)
Is leaving (Never a thought for ourselves)
Home (We struggled hard all our lives to get by)
She's leaving home after living alone
For so many years (Bye bye)

Friday morning at nine o'clock she is far away
Waiting to keep the appointment she made
Meeting a man from the motor trade

She (What did we do that was wrong)
Is having (We didn't know it was wrong)
Fun (Fun is the one thing that money can't buy)
Something inside that was always denied
For so many years (Bye bye)

She's leaving home
Bye bye

-The Beatles, on Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band

Rabu, Juli 23

Kemana Aja?

In some parking lot,
Friend: motormu berapa lama ga dicuci?
Me: sejuta taon

In one of pasta resto in Jogja (well, my first time there), a waitress put down the food ordered by a friend. Some creamy roast with spinach and a yellow clod of something..
Me: Ini apaan? kok ada es krimnyaa??
Friend: Es krim?? ini MASHED POTATOES!

Rabu, Maret 19

Bukan tentang KKN kok

Awal pekan terakhir di tempat KKN, lebih banyak menganggur karena hampir semua program telah selesai. Ya, menganggur seperti sekarang ini. Saya bisa saja langsung pulang ke Jogja meski toh sama-sama menganggur juga. Tapi saya juga malas ke Jogja. Padahal tingkat pengangguran di jogja akan lebih berkurang dengan banyak hal-hal yang bisa dikerjakan. Tapi saya tetap malas. Tulisan ini juga malas. Saya juga tidak sedang akan mencertiakan mengenai KKN saya di Pengasih yang hampir kelar ini. Oh ya, satu lagi, kemalasan juga hinggap pada pengerjaan praTA saya. Untung dapet dosen yang selow, tenang, saya sudah meminta izin beliau bahwa saya sedang KKN. Jadi tidak perlu dikhawatirkan untuk saat ini. Untuk apa khawatir?
Belakangan, karena efek menganggur di tempat KKN. Oh ya, sebagai catatan, sebetulnya saya tidak menganggur-nganggur amat. Ada proyek bikin peta dan desain taman dusun. Tapi karena malas, saya lebih memilih menganggur sejenak dan berniat mengerjakan nanti di hari-hari menjelang perpisahan. Lanjut, karena efek “menganggur”, saya lebih sering berada di dalam dunia pikiran saya. Saya menemukan kegiatan: flashback peristiwa lampau. Contohnya, saya mencoba mengingat-ngingat kembali apa yang dilakukan ketika ospek fakultas 4 tahun lalu, dimulai hari pertama saya bertemu teman-teman baru sampai berpisah. Setiap detailnya saya mencoba ingat. Lalu saya menjadi bertanya-tanya, sekarang kemana mereka semua dan apa yang dilakukan mereka sekarang? Adakah yang masih berteman dengan baik? Saya jamin tidak akan banyak. Beberapa wajah di ingatan saya juga saya lupakan namanya. Artinya yang tersisa di banyak ingatan ’mantan’ teman-teman saya juga hanya rupa. Oke, tulisannya amat sangat tidak penting bukan?
Lalu saya mencoba mengingat ke zaman yang lebih dulu, waktu saya mengikuti Jambore Nasional 2006 di Jatinangor. Apa yang saya ingat? Tidak terlalu banyak. Sejak hari pertama datang ke bumi perkemahan, berkenalan dengan orang-orang yang lebih ‘liar’. Bagaimana saya ingat seorang anak cantik dari Manado, yang saya lupa namanya. Tapi saya masih ingat mengobrol dengannya, bahwa dia datang ke Jatinangor dengan menggunakan pesawat Hercules. Katanya tidak enak, berisik dan bikin mual. Saya ingat, karena ia cantik. Lalu saya merasa marah karena mendengar omongan para pemuda yang sedang membicarakan keseksian teman Manado saya itu. Pada hari berikutnya saya berpapasan dengannya dalam suatu jalan (berpapasan dengan orang yang dikenal saat jamnas itu sedikit kemungkinannya karena ribuan peserta pasti lalu lalang). “selamat sore..” (sapaku duluan) “oh.. soree..” dari ekspresi menjawabnya, tampaknya ia telah lupa siapa saya. Bertahun-tahun kemudian saya masih mengingatnya, masihkah ia? Dimana ia sekarang? Bagaimana saya bisa ‘kepo’ di facebooknya, namanya saja tidak saya ingat.
Dan pernahkah kamu mencoba mengingat hal pertama kali yang kamu ingat sejak kamu dilahirkan? Saya mungkin mengingat entah itu usia berapa. Saya mencoba meraih gambar tiga lingkaran di sudut atas tv di rumah, dan tangan saya tidak bisa mencapainya, pun meski telah dengan berjinjit. Atau ketika ingatan saya bercampur, saya pernah mengingat sebuah momen dimana saya sedang duduk diapit kedua orang tua saya. Kami sedang duduk di semacam kursi mobil yang berjalan di jalanan yang kanan kirinya rumah tingkat (saya selalu berkeyakinan rumah-rumah tersebut berada di dalam kota tempat tinggal saya). Entah kenapa di setiap beranda lantai 2 rumah tersebut terdapat boneka-boneka bergerak-gerak, tangannya melambai lambai ke arah kami. Orang tua saya dengan bahagianya menunjuk-nunjuk ke arah boneka-boneka tersebut, menyuruh saya turut bahagia melihat ke arah mereka. Saya yakin itu bukan mimpi karena memang pernah mengalaminya. Namun semakin bertambah usia saya semakin bingung mana ada boneka bergerak melambai-lambai di rumah-rumah yang berderet? Mungkin pernah ada karnaval atau semacamnya? Lalu sekitar usia SMP saya baru bisa menyimpulkan sendiri bahwa ingatan saya tentang boneka itu adalah peristiwa ketika saya liburan ke Istana boneka di dunia fantasi Jakarta. LOL.
Baiklah, sekian cerita tidak penting dari saya di penghujung KKN ini. Terimakasih.