Jumat, September 16

Yang Kadang-Kadang diabaikan

Saya hanya perlu membunuh waktu selama 5 jam ini sebelum jemputan datang.
Jadi saya melangkah ke tempat paling ampuh untuk menyingkat waktu: toko buku.

Seraya berjalan, saya langsung dihadapkan pada rak buku best seller. Masih saja buku-buku instan picisan yang dipajang. Konsumsi yang paling mudah ditelan masyarakat. Oh, bahkan saya tidak tahu apa itu arti picisan. Kemudian judul-judul buku di rak motivasi menarik perhatian saya. Permainan kata yang ampuh untuk para makhluk yang kehilangan pijakan hidupnya, yang ketika saya lihat sekilas isinya, masihlah tidak akan membakar semangat saya. Ah, saya tidak percaya buku motivasi. Hanya membuat saya semakin lihai mencibir. Seenaknya saja menyuruh orang berubah. Memangnya dia (penulis) tau yang saya lakukan selama ini?

(Lalu ditimpukin tomat busuk sama para penggemarnya Mario Teguh)

(Karena saya tidak mengikuti berita pak mario belakangan ini, anggap saja beliau masihlah sosok yang ditunggu-tunggu siarannya di tv, siapa yang bisa menggantikan ikon super ini?)

Bergeser sedikit ada bukunya merry riana telah berulang kali dicetak. Pun ada versi jilidan yang isinya motivasi semua.

Ugh, saya rindu menulis.

Lalu saya mengutuki pencuri laptop milik saya dan adik beberapa bulan lalu. Membuat saya tidak produktif berkarya di luar jam-jam kantor saya. Lantas menyalahkan diri karena tidak sepenuhnya pencurinya bersalah, mengapa saya tidak berusaha saja memutar otak melakukan hal-hal produktif tanpa harus punya laptop? Ah, nggak mau berbohong juga, saya tetap mengutukinya.

Berulang kali tulisan tulisan saya hanya setengah matang dan numpuk di draft. Hanya karena saya tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Berulang kali saya berjanji untuk melanjutkan tulisannya, atau mempostingnya. Namun terlalu lama mengendap, niatan juga tidak akan sebesar ketika pertama kali mencetuskannya. Basi.

Selain faktor pencuri, hal hal yang membuat saya tidak produktif adalah rasa insecure saya sendiri. 24 tahun hidup, masih seperti jalan di tempat.

Bagi siapa yang mencoba mencari tahu menganai hidup saya, hell yeah, tidak akan banyak menemukannya. Saya tidak banyak bercerita terhadap siapapun bahkan terhadap diri saya sendiri pun saya tidak merasa jujur. Apakah blog ini jujur? Ya biar Tuhan saja yang menilai. Yang jelas, apapun yang disajikan untuk umum, tetaplah butuh polesan dan saringan yang bagus. Selayaknya ribuan foto selfie, yang paling terlihat kurus semampailah yang akan diunggah. Saya tetap punya rahasia rahasia yang akan saya simpan sendiri, atau saya bagikan dengan orang yang saya percayai kelak.

Oh, saya tidak selamanya jalan di tempat. Bahkan meski berkali-kali lari pagi saya selalu tidak lebih cepat daripada orang-orang, saya pernah berhasil mengalahkan rekor saya sendiri barang sekian detik.

Satu lagi, saya berhasil menulis ini semua hanya lewat ponsel pintar saya. Lalu langsung diposting. Hey, pencuri laptop, ini bukan salahmu.

Selamat menjadi misteri.

Sabtu, Februari 20

Meet Oreté

Suatu ketika pada masa tengah perkuliahan entah bagaimana saya mendapat sebuah link tentang sebuah artikel dari buzzfeed yang judulnya 10 Incredible Indonesian Bands You Should Listen to. Lalu saya membacanya dan tersebutlah 10 band indie asal Indonesia dengan sebuah lagu dari akun soundcloud yang disertakan dan bisa langsung didengarkan pada masing-masing list band tersebut.

Pada urutan ketiga, munculah band berikut:



Inilah perkenalan pertama saya dengan band yang bernama Aurette And The Polska Seeking Carnival (duh panjang betul ya namanya) yang biasa disingkat AATPSC, atau panggilannya Orete (nggak tau kenapa, mungkin dari kata Aurette jadi Orete). Sebelum saya ngomongin band-nya, saya mau menulis mengenai lagu yang saya dengarkan di artikelnya buzzfeed tersebut.

Saya langsung jatuh cinta dengan versi coverannya Postcard From Italy yang dinyanyikan mbak tea, vokalisnya AATPSC. Sebelumnya saya hanya mendengarkan beberapa lagu Beirut dan menikmatinya tanpa bisa menyanyikannya karena susah bo'. Mungkin karena yang nyanyi cowok dan bagian lagu Postcard From Italy ini bagi saya nadanya agak rendah jadi rada susah buat di sing along-in, emang nggak berbakat nyanyi banget kali ya hmm. Lalu muncul coveran lagunya yang dinyanyikan mbak-mbak. Dan yeah, bahagia, akhirnya saya bisa ikut nyanyi-nyanyi juga pake versinya AATPSC haha. Duh alasan yang absurd untuk menyukai sebuah lagu ya?

Terlepas dari itu, sebetulnya lirik lagunya juga sempat bikin saya terharu. Karena dicover sama cewek, maka pronoun she yang ada disitu diganti dengan he agar lebih sesuai dengan yang menyanyikannya. Just as like what covered song used to be. And somehow, dengan suara cantiknya mbak tea, dan segenap AATPSC yang main musiknya, this song simply touched my heart.

the times we had
oh, when the wind would blow with rain and snow
we're not all bad
we put our feet just where they had
had to go
never to go

the shattered soul
following close but nearly twice as slow
in my good times there were always golden rocks to throw
at those who
those who admit defeat to late
those were our times, those were our times

and i will love to see that day
that day is mine
when he will marry me outside
with the willow trees
and play the songs we made
they made me so
and i will love to see that day
his day was mine

Kemudian berlanjutlah perkenalan saya dengan band ini. Jadi AATPSC ini anggotanya adalah mahasiswa ISI jogja. Nggak heran lah ya kalo pada jago-jago main musiknya. Genrenya polka folk,, ya mirip-mirip Beirut gitu (sotoy). Mengusung tema-tema sirkus dan karnaval. Alat musiknya banyak seperti yang saya comot dari blognya: ada ukulele, accordion, mandolin, trumpet, trombone, clarinet, fagot, conga, perkusi, gitar, bass, drum dan mereka sering rempong sendiri buat pergantian alat musik di pergantian lagunya. Tapi saya nggak dong-dong banget ya kalo mau menjelaskan lebih lanjut haha. Yang penting asik buat di sing along-in deh.

Saya pertama kalinya nonton live mereka di akhir 2013, pada acara ketapel nada nya anak UNY. Sebetulnya tujuan utamanya adalah menonton Banda Neira, dan AATPSC waktu itu main sebelum Banda Neira. Well, nggak jauh beda sama yang saya dengar di soundcloud mereka. Venuenya cukup sederhana dengan panggung kecil dan penonton yang duduk lesehan di rerumputan. Berhubung saya bukan anak konser banget yang bisa mudah mengkritik acara jika venuenya kurang terlalu maksimal, saya cukup senang mendengarkan mereka bermain di panggung kecil yang bikin mereka berdesak-desakan dan sumuk.

Pada Januari 2014, band ini menyatakan pembubarannya di blog mereka. My heart was broken. Baru kenal eh masa udah bubar. Mereka mengaku punya kesibukan masing-masing dan tidak bisa melanjutkan AATPSC. Dan sekian. Saya kira begitu saja sudah. Senang bisa mendengarkan musik mereka dan selamat tinggal!

Sampai hampir 2 tahun kemudian, Desember 2015 mereka mengumumkan reuninya dengan panggung kecil-kecilan di cafe matchamu pogung. Hmm, jujur euforianya udah nggak seantusias dulu pas awal-awal dengerin hehe. Dan berhubung mainnya di Pogung, dimana itu wilayah kekuasaan saya sebagai anak Teknik UGM hahaha jadinya nontonlah saya. Venue kali ini lebih menarik, karena dipersiapkan khusus untuk mereka. Dengan dekorasi meriah ala-ala sirkus, panggung outdoor mereka pun unyu sekali. Tapi sayangnya acara disambut dengan hujan di waktu harusnya acara dimulai. Acara dimulai masih dengan gerimis yang bahkan tifak berhenti juga sampai akhir acara. Hmm, lumayan menambah kesyahduan.

Nggak sempet ambil foto, jadi ini nyolong aja:
Entrance venue (Courtesy: AATPSC)

Venue di Matchamu Cafe, karena hujan jadi ditambahin terpal di atasnya yang harusnya outdoor (Courtesy: Warningmagz)


In collaboration with Sisir Tanah. That rose on her head! (Courtesy: Warningmagz)


Saya pikir sudah cukup terobati kangennya melihat panggung reunian mereka. Karena bukan fans fanatik juga, pernah nonton sekali saja sudah cukup. Hanya mendengarkan soundcloudnya tanpa membeli albumnya juga cukup haha maafkan. Dan saya tidak berniat akan selalu menonton mereka setelah ini jika memang ada gigs-gigs yang menampilkan mereka. Kecuali memang jika ada banyak lagu barunya, bolehlah menyempatkan nonton lagi. 

Tapi... toh ternyata saya menonton mereka lagi hahaha. Yang mau ditonton bukan AATPSC nya sih, cuma waktu itu ada semacam resital atau lebih gampangnya pertunjukan tugas akhir sebagai syarat kelulusan buat mbak tea sebagai mahasiswi ISI. Saya penasaran bagaimana pendadaran versi anak musik ISI berlangsung, jadi lagi-lagi iseng deh nontonnya. Berhubung yang punya acara juga punya band, maka AATPSC juga ikut nampil di awal acara.

Kali ini indoor di IFI Jogja, dan lagi-lagi hujan deras mengguyur. Mungkin juga acaranya tidak terlalu digembar gemborkan (namanya juga cuma pendadaran), maka tersebutlah yang menonton, dari semua kursi penonton, hanya kurang dari 10% yang mengisi hahaha. Pas acaranya baru mulai, saya sempat menghitung hanya ada 20 penonton. Kayak kasihan gimana gitu sih. Tapi kan malah jadi terkesan eksklusif sebagai penonton, ea. Di menjelang pertunjukannya mbak tea, barulah mulai beberapa berdatangan. Termasuk dosen-dosen pengujinya. Saya sih kurang paham genre musik yang dimainin pas resital ini apaan, tapi yang jelas mbak tea ini dari jurusan etnomusikologi. Jadi ada campuran elektronik, gamelan, flute, accordeon, dan vokalnya mbak tea sendiri (masih sotoy). Keren banget pokoknya! Sayang nggak punya fotonya, malas ambil gambar sih haha, kamera ponselnya kurang bagus kalo gelap-gelap.

Yaudah sekian saja. Apapun rencana AATPSC kedepan, semoga selalu berkarya dan semoga saya juga selalu bisa menikmatinya. Bravo!


Selasa, Februari 9

Dibuang sayang: The Story of an Awkward Night

Dibuang Sayang
I remember wrote this story just after the moment had happened in November 2015. I thought that finally there’s something to write in my blog. But then I felt that it’s not an interesting story. So I was discouraged to post it haha. But then I reread this and found that I put my effort writing this story in English. So, dibuang sayang. Still not an interesting story maybe, and with quite terrible grammar HAHAHA. But here it is:

The Story of an Awkward Night

One night, on some kind of training event, my friend Mbak Feb and I were asked to help the committee to buy kiloan snack (err, what it’s called in English?) which should be ready at 9 pm. We had to feed 50 people with snacks so we might buy many.  And there we go at 8.30 pm, by riding motorcycle, we went across Kusumanegara street (which was near from event place) to find store that sell cheap kiloan snack. It was about 400 meters away that we realized we couldn’t find easily the store nearby at night. We stopped and started to google certain snack store place because we quite unfamiliar with Kusumanegara street area. We found on map one market around the street so immediately we approached the market which looked like more modern market that we doubted if they sell cheaper kiloan snack or not. And it was proven when we went inside, we couldn’t find particular snacks we need (it was full of modern snacks).

Thus we googled another place, with more specific keyword and once again found quite famous place reviewed by someone on website (it was real kiloan snack place anyway). It was 18 minutes away from our place by now. And it was closed at 9 pm; we still had 20 minutes to go. Soo I was in a rush driving into that place, unfortunately we found it had been closed!! It wasn’t even 9 o’clock yet dear… We stopped again and decided to turn around and wishing lucks to find another store on the way back, but still we found nothing. Okay, it’s almost 9 pm, and we have to find it immediately. My friend tried to call her friend if she might know any other place. But still, remain unanswered.

I knew one place near my living area but it was far far away from our location that time. A little frustrated, we down the road, from south to north Yogyakarta, From Pojok Benteng to Pogung. And it was too late night for people to open their store, and we were in hurry.  First place we reached was closed, second place closed, third place closed. And there were only a few places left. On fourth place, we found a store that half closed (its rolling door). And there was mbak-mbak inside. Oh how we were so happy! and excitedly went inside, but, mbak-mbaknya refused us because it’s time to close and she should go home. But we beg her, like… so much begging her (if you know what we’ve been through).

“Pleaseee.. please.. just one more order, we can’t find other place”.

She still refused us because she had reason “I have to go home because I have kid and it is late night already”

We still beg her

She was going inside and I wasn’t sure if it means yes or no, but we continued in choosing our snack

Then she came out and said “Okay” and started to serve our order. But, in a few seconds later there was tear falling from her eyes, oh wait, she was... crying? my friend asked her if she was okay? She said “Okay, luckily my house is near from here, how if it is far? Maybe I will not serve you”

I started to feel guilty, maybe we forced her a lot and thought of canceling my order. But she already weighed the snacks. And she said ‘okay’ before. I mean to cancel my order if she never said ‘okay’, but she served us wasn’t that mean that she agreed? But in tears? This confused me even more.

And still full of guilt I tried to offer help for her -in case she was in a rush to go back home- to shorten time by helping her packing the snacks. But she refused me and gave me her boss number instead. “If you don’t like my serving you can report it to my boss, I’m trying my best to serve you” With her trembling voice and unfriendly face.

My God! How could it be? She turned into a mad lioness already!

I was thinking that she was so nice to still serve us at this super late night. I NEVER EVEN intended to report to her boss. But she thought the opposite thing. Never have imagined to be considered as this bad person. And of course she succeeded in making me and Mbak Feb turn into evil. Everything we did was definitely always been a mistake. Even for just saying sorry.

I realized that she is a woman, and have a kid that waited her in home. Then we came and forced her.
We might hurt her, broke her heart as before we even realized it. Woman is indeed the most complicated creature that God ever made.

Not to make the thing even worse, there’s nothing we could do but standing in front of her and staring at her weighing and packing our snacks, WHILE STILL CRYING. Trust me, that was the most awkward moment I’ve ever had in my life.

Finally she was done with packaging snacks, time to pay and apologize. Then GET OUT OF HER FACE as fast as we can. She closed the rolling door while saying “Don’t ever do this again”. We were smiling awkwardly and I rushed my motorcycle.

Mbak feb: “She might have a bad day before, and we perfectly complete her whole day with the worst thing ever”

Me: “Couldn’t agree more”

Rabu, Januari 13

Drama

Terlalu banyak drama di sekitar kita, rasanya.

Drama permusuhan
Drama percintaan
Drama penghianatan
Juga drama kasih tak sampai,

Saya memahami ada hal-hal yang pada akhirnya tidak mampu, atau belum mampu -kalau kau orang yang begitu optimis- diperoleh sebagaimanapun kita menginginkannya. Sebesar apapun kita memperjuangkannya. Sedalam apapun kita merapalkannya dalam doa. Senyata itu kita memimpikannya setiap malam.

Kita begitu bingung terhadap peperangan yang tak kunjung usai. Begitu jengkel dengan tidak becusnya bapak-bapak pengambil kebijakan. Bertanya-tanya mengapa serangan kanker darah pada seorang kerabat bisa tiba-tiba saja merenggut nyawa. Terpukul karena mendengar kabar kawan yang diputus pertemanannya secara resmi karena, penghianatan?

Ada orang-orang yang bersimpati mengenai kisah perjuangan cinta yang tak kunjung disambut. Ada yang memilih untuk menyimpannya dalam rahasia. Yang menyadurnya dalam sajak di tengah derasnya hujan. Juga yang memutuskan untuk menjelma jasad tak bernyawa, ketika kenyataan terlalu pahit.

Begitu saja kita memilih untuk melakukan sesuatu. Begitu saja kita berjuang.

Saya, kamu, dia, kalian, mereka, kita, tidak pernah tahu bagaimana ini akan berakhir bukan?

Dan mengapa kehidupan tidak bisa berputar sesuai dengan yang kita inginkan? Satu yang saya tahu, karena kita kan bukan Tuhan. 

Rabu, Oktober 28

Beauty Industry

Saya menyadari ketika akhirnya teman-teman wanita saya satu persatu mulai memperhatikan penampilannya hingga paling tidak mereka memiliki seperangkat alat make up yang minimalnya berisi krim pelembab, bedak, lipstik dan eyeliner, mungkin juga pensil alis. (alat kecantikan di luar wajah seperti body lotion dll tidak masuk hitungan).

Tidak mudah bagi saya untuk mengenali alat-alat kecantikan diatas level bedak dan parfum. Karena saya beranjak dewasa di lingkungan asrama muslim dari usia SMP hingga SMA yang tidak memiliki suatu urgensi untuk ber make up ria. Dan asrama juga menjauhkan saya dari mama saya yang cantik dan katanya sudah menggunakan lipstik sejak kuliah (semacam hilangnya panutan yang paling dekat). Hijab fashion pun belum masuk pada masa itu. Apalagi asrama memiliki aturan mengenai model hijab yang harus dipakai. Dulu setahu saya, orang dandan hanya jika ada acara khusus seperti pernikahan dan wisuda. Jadilah masa remaja saya yang pengetahuan standar kecantikannya cuma level kerudung mancung (jaman SMP) dan asal rapih dan bersih aja. Mungkin pada masa itu bagi remaja yang tidak berkerudung semacam rambut lurus panjang, poni miring, behel juga boleh, lalu senyum bibir tipis dan selfie dengan angle kamera dari atas. Ya, semacam itu yang saya lihat di foto profil Friendster orang-orang.

Lalu memasuki bangku kuliah, lingkungan saya pun diisi dengan teman-teman wanita yang sudah mulai aware dengan penampilannya. Memang sudah selayaknya wanita urban usia 20-an, make-up pun menjadi salah satu identitas dewasanya seseorang. Dan akhirnya saya punya teman dengan gaya rambut yang berbeda-beda, karena sebelumnya di asrama semua teman saya berhijab. Dan saya rasa, rambut panjang masih mendominasi klasemen pemilihan standar kecantikan. Meski ada beberapa yang mempertahankan style tertentu seperti rambut pendek cepak.

Lalu entah mungkin sekitar tahun 2011/2012 ke atas mulai ada beberapa hijaber yang merubah gaya hijabnya. Sedikit perubahan dari yang model biasa kerudung paris segiempat menjadi ada tambahan inner hijab / daleman kerudung yang terlihat. Sebelum akhirnya berkembang jadi lilit melilit kain , atau yang lebar ala model syar’i, dan sebagainya. Sepertinya pada tahun itu juga banyak bermunculan teman-teman muslim yang tadinya tidak berhijab menjadi berhijab. Subhanallah ya.. Bersamaan pula dengan awal mula populernya aplikasi instagram, dimana semua foto yang ditampilkan tampak begitu indah dan menarik. So pasti siapa sih yang nggak pengen terlihat cantik di instagram?

Tahun berikutnya, ketika hampir semua orang memiliki ponsel pintar dan sangat mudah mengakses instagram, ditambah dengan menjamurnya online shop, semua orang menjadi tahu fashion! Sangat mudah sekali untuk mengakses apapun: tutorial make-up, membeli baju secara online, referensi mode dari selebgram, Kabar baik untuk industri kecantikan.

Media memang berperan besar dalam hal ini. Misalnya iklan kosmetik. Oke iklan kosmetik mana sih yang modelnya nggak cantik? Jelas kecantikan para model iklan ini sangat mengiming-imingi dan menjanjikan bahwa hasil yang akan didapat akan terlihat seperti mereka. Padahal yang dasarnya udah cantik mah mau diotak-atik bagaimanapun tetap cantik. Jadi kadang mikir, ah ini emang orangnya aja udah cantik, mau pakai kosmetik merk ini itu sama aja, mau dia iklan baju, kerudung, detergen, juga sama aja. Ehehe, tapi ini mungkin sayanya aja yang terlalu skeptis. Bukan bermaksud bilang juga kalo yang tidak cantik nggak akan jadi cantik dengan make-up. Saya pribadi kadang takjub dengan kekuatan make-up yang sukses pada wajah orang-orang. Masih ingat kan kasus seorang wanita yang dituntut suaminya karena setelah menikah wajahnya menjadi berubah drastis ketika make-upnya dihapus? Luar biasa bukan..

Saya ambil salah satu contoh kasus, anggaplah si mawar (bukan nama sebenarnya) merasa tidak percaya diri karena teman-temannya kini mulai berdandan ketika beraktifitas. Mawar mulai mencari-cari tutorial make-up di internet, berbekal meminjam make up milik temannya, atau Mawar meminta temannya mengajari cara berdandan. Mawar yang merasa wajahnya tidak jelek-jelek amat, tetapi juga kurang cantik merasa takjub ketika sentuhan make-up mampu membuat wajahnya menjadi sangat cantik. Lalu teman mawar memuji yang juga dengan takjubnya, “Gilaa, cantik banget kamuu..”. Mawar merasa ia harus memilikinya sendiri. Ia pun mulai mengoleksi alat kosmetik pelan-pelan hingga lengkap dan cukup untuk membuatnya cantik ketika beraktifitas.

Percaya deh, dukungan dari teman dapat menambah 200% kepercayaan diri anda. And that’s what friends are for, right?

Juga kerasa banget kok ketika di Jogja banyak bermuculan klinik-klinik kecantikan yang baru. Yang beberapa waktu sempat mendominasi baliho-baliho jalanan. Tapi beneran deh, promosi klinik kecantikan ini memang nggak tanggung-tanggung, baliho selebar jalan kaliurang diisi wajah doang. Ini artinya pasar industri kecantikan mulai meluas. Banyak orang yang ingin tampil cantik dan menarik. Rela membayar lebih untuk menjelma ‘sempurna’.

Belum lagi di negara lain, Korea Selatan misalnya, yang trend cantiknya udah level operasi plastik. Ketika menurut mereka cantik adalah memiliki wajah kaukasian: hidung mancung dan mata lebar. Bagaimana mungkin akhirnya anak muda di sana memilih menyisihkan uangnya untuk bekal operasi plastik? Belakangan saya kepo in tentang operasi plastik di Korsel, dan takjub banget lihat gambar-gambar before-after nya orang-orang yang melakukan operasi.

Sejujurnya saya toh ikut senang ketika pasar kecantikan memberi dampak positif ke teman-teman. Beberapa yang akhirnya membuka bisnis jilbab, atau yang keahlian meriasnya telah merambah menjadi make-up artis,  dan teman-teman yang akhirnya jadi pinter dandan lalu menjadi percaya diri dan bahagia. Ada juga yang selalu tampak berapi-api mempromosikan produk kosmetik merk tertentu yang belakangan saya ketahui adalah bisnis sistem MLM. Hmm, ya ya..

Tapi rasanya kembali lagi ke definisi cantik itu apa sih?

Kalau menurut KBBI:
Cantik /can-tik/ 1 elok; molek (tentang wajah, muka perempuan); 2 indah dalam bentuk dan buatannya: meja ini – sekali; -- molek 1 sangat rupawan (tentang orang perempuan); 2 cantik (bagus) sekali (antara bentuk, rupa, dan lainnya tampak serasi);

Hmm, kalu berdasarkan kamus, cantik memang merujuk kearah fisik. Jadi sah-sah saja jika menilai kecantikan seseorang hanya berdasarkan fisik (wajah) nya saja. Meskipun menurut saya mengartikan cantik masihlah terlalu rumit. Terkadang saya terprovokasi slogan-slogan mengenai cantik yang sederhana saja. Tapi toh saya juga mengagumi orang-orang yang piawai menggunakan riasannya. Tergantung mood deh hehe. Yah, pada akhirnya penilaian cantik pun berdasarkan selera. Subjektif sekali bukan. 

Tenang saja, tulisan ini tidak diakhiri dengan kesimpulan bijak mengenai kecantikan yang apa adanya seperti “cantik dari dalam hati” atau ajakan “Cintailah tubuhmu apa adanya” dan semacamnya. Saya kira hal-hal semacam itu sudah banyak dijadikan topik tulisan, video, lagu, iklan. Atau yang bisa anda temukan pada artikel tipikal hipwe* : “10 tanda-tanda kalau kamu benar-benar cantik”!

Dan tulisan ini pun hanya secuil opini tentang fenomena kecantikan wajah. Hmm, saya jadi penasaran standar cantik 100 tahun lagi kayak apa ya?

The end

PS: Nih saya kasih bonus ketika pertama kalinya saya menggunakan make up,

pucat, dan menyedihkan

Kamis, Oktober 15

Antara Ego, Kata Hati, dan Teman Lama

Hari ini libur tahun baru Islam, jadi saya putuskan untuk mengisi kembali kehampaan blog yang tampaknya per 3-5 bulanan baru diisi lagi (insert laugh but crying emoticon here). Tapi kok klise banget ya nulis intro macem gini hehe. Sok sok bersalah nggak pernah nulis, dan akhirnya mengawali tulisan dengan kata –kata ‘sudah lama tidak menulis! akhirnya mengisi kembali and so and so…’ Nah berhubung ada yang request buat nulis lagi juga, so here we go..

Teringat obrolan dengan seorang kawan mengenai ego dan kata hati. Terkadang kita nggak pernah benar-benar tahu apa yang kita inginkan bukan? Am I doing it right? Or not?

Katanya, ada hal-hal yang kita kekeuh melakukannya padahal di sisi terdalam hati kecil ada perasaan ‘this is just not right’ yang akhirnya diabaikan. Karena memang hanya sekedar bisikan kecil yang lewat begitu saja. Padahal pada suatu waktu ‘this is just not right’ itulah yang muncul kembali dan membuktikan bahwa jalan yang kita ambil sebelumnya adalah ‘salah’. Dan ini sih menurut pengalaman seseorang yang saya belum pernah benar-benar merasakannya, atau saya bahkan tidak pernah sadar merasakannya? Hmm, bisa jadi. Katanya sih itu namanya ego, memaksakan kehendak. Dan jika ego sudah muncul, maka ia akan membenarkan segala hal yang dilakukan. Makannya lihat kembali, apa yang dilakukan itu betul-betul menuruti kata hati? Atau semata-mata memaksakan ego? Dan lalu mempertahankannya hingga bertahun-tahun dan hanya mendapat kecewa ketika yang diinginkan tidak berhasil terpenuhi.

Hmm sejujurnya sayapun kurang bisa membedakan mana yang ego dan mana yang kata hati sesungguhnya hehe. Bukankah orang yang benar-benar yakin dengan yang dilakukannya –terlepas dari itu ego atau bukan- adalah orang yang kepribadiannya begitu kuat? Mungkin saya yang tidak terlalu memikirkan sebutan dari sebuah perasaan yang namanya kata hati. Tapi entah apapun yang orang-orang lakukan, termasuk saya, jika memaksakan ego maka ada suatu waktu kita akan belajar darinya. Bahwa sesuatu yang dilakukan harus dipertimbangkan baik-baik.

Padahal saya sering banget melakukan sesuatu tanpa pikir panjang, pada awalnya haha. Memang ketika ada sebuah kesempatan yang tiba-tiba datang, dan kita berpikir tidak akan ada kesempatan kedua maka siapa sih yang mau pikir panjang? Nah, barulah ditelaah dan pertimbangkan segala hal setelah mengambil keputusan tersebut. So if there’s a chance, go grab it! Tapi tanggung sendiri resikonya hehe. Tapi yang penting, bagaimana caranya untuk menjalani dan mengatasinya jika ada hal-hal yang tidak sreg di hati. Dan jangan pernah lupa untuk mendengarkan kata hati.

Ganti topik ah…

Belakangan saya ketemu teman-teman lama, sebut saja reuni MTs. Senang sekali waktu akhirnya melihat wajah-wajah mereka kembali setelah, emm, 9 tahun lamanya? Dari yang tadinya belum puber sampai sekarang jadi tante-tante cantik. Apalagi yang dulu pernah jadi teman geng dan melakukan hal-hal konyol bersama. Rasanya ada momen luar biasa dimana para wanita-wanita ini berpelukan dan berteriak ketika bertemu kembali. Bukan satu atau dua orang, tapi puluhan. Dengan wajah yang semakin dewasa (you have no idea betapa bocahnya saya waktu itu). Ya, saya rasa sensasi reuni yang paling kena ya bagian ketemu di awalnya itu saja haha. Sensasi kaget ketika melihat orang yang sama telah banyak berubah. Telah menjalani hidup masing-masing. Dan dalam periode waktu 9 tahun itu kisah hidup masing-masing telah merubah mereka sekarang dari yang pernah kita ingat. Ada yang dipeluk lama bersamaan dengan munculnya kenangan-kenangan masa bocah. Ada yang sekedar cipika-cipiki, karena dulu kami tidak pernah mengenal secara dekat. Ada yang dilupakan namanya (yang ini sih sedih).

Di lain kesempatan saya juga bertemu teman lama lain yang sudah jadi staf kementrian sekarang. Dan pas ada dinas ke Jogja saya jadi malah nebeng nginep di hotel bintang banyak yang tak disangka ternyata suasana di dalamnya wow so luxurious, ketimbang yang cuma kelihatan dari pinggir jalan selama ini. Hotel-hotel semacam ini di Jogja ternyata banyak dan akan bertambah banyak lagi dan lagi. Dan kita mengobrol banyak di pagi hari. Yang tidak kusangka dia sangat berterimakasih dengan obrolan pagi itu. Rasanya bahagia ketika ada orang berterimakasih secara tiba-tiba tanpa saya sadari saya telah melakukan entah apa yang membuatnya berterimakasih. Ah, memang selalu ada hal-hal menakjubkan di pagi hari. Bersamaan dengan dimulainya hari ternyata semesta juga mengisi jiwa-jiwa yang mau bersyukur dengah kebahagiaan. Saya sering menyesali karena belakangan malah tidur kembali setelah Sholat Subuh. Jadi semoga pagi berikutnya bisa lebih bermakna.




"One small positive thought in the morning can change your whole day" -Unknown


Agak kemana-mana sih topiknya, yang penting nulis deh hehe Well, this absurd thoughts is dedicated to Mbak Feb tentang obrolan mengenai ego dan kata hatinya. And also to Aspe tentang obrolan di pagi hari.

Senin, Mei 18

Such an Elderly

Saya menulis lagi. Rasa-rasanya belakangan saya hanya menulis jika saya ingin menulis, dan saya ingin menulis ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan sistem perputaran di hidup saya. Namun jujur saya pun tidak ingin beberapa kisah yang saya tulis diketahui banyak orang, beberapa kali saya pengen ngetwit atau nulis gamblang di blog,  tapi terlalu terumbar rasanya, saya kan pemalu haha. Sudah terlalu lama saya vakum dari dunia tulis menulis di dunia maya. Entahlah, mungkin saya bosan dengan keadaan yang terlalu cepat ini. Hambar. Saya juga memiliki banyak stok foto-foto yang kiranya bagus untuk saya posting, sehingga beberapa kali berniat membuat akun instagram. Tapi lagi lagi, berujung pada kehambaran. Mungkin sebenarnya saya lebih ke arah plin plan, apakah seharusnya saya masuk ke dalam euforia trend hidup manusia jaman sekarang? atau saya hanya memandanginya saja dari kejauhan? menertawakan pun tenggelam dalam keragu-raguan. Hmm, dasar tukang plin-plan.

 so here’s the story begin.. dari tadi juga udah mulai sih, haha.


Sebetulnya toh ini tulisan mainstream anak muda 20an yang belum benar benar paham arah hidupnya mau kemana. ya, lagi-lagi.
Tapi sadar nggak sih semakin kamu banyak melihat kehidupan, semakin banyak bertemu orang. Semakin segala sesuatunya kembali lagi ke nol. Semacam mempertanyakan diri sendiri sebenernya kamu ini siapa? dimana? sedang apa? mau apa? yakin dengan yang kamu lakukan?
Saya sedang membantu sebuah proyek penelitian dosen saya mengenenai ruang hidup lansia di suatu kampung padat di Yogyakarta. Dan ini cukup menyenangkan karena saya harus mengunjungi 150 responden lansia di setiap rumah mereka. Betapa kehidupan seseorang bisa dengan jelas terlihat dari sebuah ‘ruang’ yang disebut rumah. Bagaimanapun wujud rumahnya, si pemiliklah yang pada akhirnya menjadikannya sebagai cerminan watak-watak, identitas, dari apa yang telah mereka perbuat semasa hidupnya.

Pun karena yang diwawancara adalah lansia, dimana mereka telah melalui pahit manis kehidupan. Dan memiliki segudang kisah dan nasihat hidup. Sangat menyenangkan bisa mendengarkan bagaimana mereka bercerita tentang rumah mereka. Saya pada dasarnya senang mendengarkan orang lain bercerita. Terkhususnya para lansia, yang jika bercerita, sorot matanya seolah menghisap saya dan saya turut masuk ke dalam setting peristiwa yang mereka ingat seperti menonton layar lebar. Tapi bioskopnya di dalam pikiran mereka, haha ngaco. Dan ketika menanyakan mengenai peristiwa yang terjadi dahulu kala, maka mereka akan memalingkan arah pandangan sembari mengernyitkan dahi, mencoba mengingat ngingat. Lalu saya akan menemukan senyum jika yang mereka ingat adalah kisah kisah bahagia. Dan tentu saja, saya pun ikut senang. Simple ya.
Meski kadang ceritanya jadi ngelantur kemana-mana, dan saya jadi perlu diingatkan rekan saya agar segera menuntaskan wawancaranya haha. Terima kasih Bapak dan Ibu yang rumahnya saya rusuhi, terima kasih atas cerita ceritanya, terima kasih. Semoga sehat selalu. Pada akhirnya kita semua akan menua, dan kiranya rumah pun perlu dipersiapkan agar bisa dinikmati di masa tua, bukannya menyusahkan.
Menua itu pasti. Dewasa itu pilihan. Ciah. Katanya orang-orang sih.
Saya kira saya pun sedang berproses dalam tahap ‘dewasa’. Bagaimana berdamai dengan permasalahan-permasalahan. Segalanya harus dipikirkan matang-matang, and just calm down for anything, girl. Usia 20an udah bukan jamannya nangis nggerung-nggerung kalo lagi banyak masalah, atau teriak teriak manja kalo lagi puyeng. Atau bertingkah tanpa mempertimbangkan akibatnya. Hmm, sotoy ya saya. Eh, tapi saya juga nggak gitu gitu amat kok haha. Jadi kalo pada saatnya terpuruk, pun kayaknya nggak terlalu baik kalo terlarut terlalu dalam. Atau kalau terlalu senang, hmm, ya disyukuri aja sih. Kadang terlalu senang itu pun bisa menjatuhkan jika dibalik kesenangan ternyata ada masalah besar. Duh ribet yak hidup haha. Yang sedang-sedang aja deh, just be slow and steady,

Atau mungkin saya sedang dalam masalah besar?