Senin, April 9
useless
Saya seringkali tiba pada suatu pemikiran: saya tidak berguna
In some case, you know. Kenapa saya tidak sepintar orang-orang, kenapa saya tidak seberani mereka, kenapa saya tidak se-ini dan se-itu yang lainnya. Saya tahu setiap orang pasti punya porsinya. Keunggulannya. Kecanggihannya. Tapi tetep aja dalam kondisi tertentu, saya tidak merasa memberi manfaat apapun terhadap apapun. Masa bodoh orang bilang kamu jago ini kok, kamu hebat di situ kok. ya saya tau itu. biarlah saya berpikir i’m useless sejenak. Terkadang orang butuh merasa jatuh untuk bisa bangkit.
Jumat, Maret 2
Nano nano
Written at Wednesday, 29 February 2012
I’ve just came back from gramedia, menemani mbak monges who looked for a new novel but unfortunately it hasn’t been sold. So i read a book about aya kito (i’m not sure i write her name correctly). Oke sebenarnya saya ingin menulis segala tulisan yang bisa saya buat dalam bahasa inggris. But sometimes some words (because of my low ability in english) can not exspressed what i feel that time. So mungkin bakal setengah-setengah nulisnya.
Betapa tulisan bisa mempengaruhi dunia. Seorang aya, yang mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan manfaat bahkan bagi orang-orang dengan jumlah yang tak pernah ia bayangkan sendiri. termasuk saya. Di gramed, saya menyempatan membaca buku ‘Last letter’ (atau apa ya tadi judulnya?) yang jelas itu mengenai surat-surat aya yang ditujukan kepada tiga orang sahabatnya.
Surat menyurat. Saya mendapatkan kesan tersendiri dengan membaca surat-surat tersebut. Banyak kesan yang ditimbulkan dengan komunikasi melalui tulisan. Kamu hanya bisa mendapatkan informasi dengan membaca, tanpa melihat maupun mendengar. Tapi itu sangat menakjubkan. Aya begitu senang mendapat surat balasan dari sahabat-sahabatnya, di tengah keadaannya yang kian hari kian memburuk. Dengan mendengar cerita sahabatnya mengenai kabar sekolah lewat tulisan, ia menanggapi dengan bahagia setiap kata yang dibaca meski hanya dengan membayangkan.
Sekarang teknologi begitu canggih, berkomunikasi sangat mudah dilakukan. Tanpa harus menunggu lama, orang pun mampu bertatap muka langsung meski dengan jarak yang saling berjauhan. Karena begitu mudah pula, tak ada ‘kesan’ menyenangkan yang didapat, itu menurutku. Apakah orang yang mendapat kabar dengan bertatap muka melalui webcam akan sebahagia orang yang hanya menerima surat, sebulan sekali? Apakah kesenangan itu memang akan berkurang seiring waktu yang bergeser? Teknologi yang bertambah?
*tiba-tiba ganti topik*
Tadi ada konser tiga artis: kotak, ari laso, citra skolastika. In case of celebrating engineering faculty’s birthday, there were some events held on my faculty. one of the events was inauguration our new library. And because of this pembangunan was sponsored by ‘ciggaret’ company who claim as Djarum education foundation, acara ini mendatangkan beberapa band for music performed. Pertunjukan that ‘good’ enough for engineering faculty because we’ve never got this before. Apalagi ini gratis dan held in front of engineering faculty headquarter office or we called it KPFT. KPFT where i through it every day. Where my friends and i come together for a serious meeting. Where i have a agama class.
But from those 3 bands, i watched nothing. Sama sekali. Padahal KPFT itu deket sedeket alis sama ujung hidung. Tinggal nongol sedikit. Tapi saya melewatkan ketiganya. I know i’m not big fan of those 3 bands. (Atau saya agak lebay karena nggak pernah liat konser).But if there is a free concert held on your faculty, and not much people come, and it was a damn close from my campus, and it was FREE, and you just let your feet melangkah sebentar just for seeing them. Who want to let it go?
Itu semua karena studio, Yang entah kenapa hari ini serasa spot jantung ketika pak ika datang. Dan kami sekelompok tidak ada yang benar-benar selesai mengerjakan tugas. But luckily beliau tidak mengecek satu persatu anak yang telah mengerjakan tugasnya. *lega*
Pak ika baru datang sekitar jam 3 sore. Padahal konsernya dimulai jam setengah empat. Andaipun pak ika datang lebih awal, pasti beliau akan meninggalkan kami lebih awal pula. But he did not. Beliau menyelesaikan asistensinya hingga betul-betul tepat jam 5. Dimana ketiga band telah selesai beraksi.
Jadi apalah mau dikata, pas ketemu fani, yana, salma who were walking into KPFT i said to them that the concert was over. “boteeek?” fani said. But that’s true fani, we’re not so lucky today. Jurusan kita tidak terlalu peduli dengan acara ini haha.
Finally i only could see the empty stage, and few people walked out from KPFT.
*wow baru sadar udah ngetik cukup banyak *
I’ts okay then, tadi sepanjang perjalanan dari gramedia ke kosan saya memikirkan banyak hal untuk akhirnya ditulis di sini. Tapi ini masih banyak yang ingin saya tulis. Yang mungkin pada akhirnya akan berujung kemalasan melanjutkan, seperti tulisan-tulisan sebelumnya.
Saya sbetulnya ingin menulis tentang hal lain. Random.
Mengapa saya naik gunung?
Kalo kata soe hok gie, “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
Kata saya, naik gunung itu hal yang keren, awalnya.
Tapi ternyata tidak sekedar keren. Saya menyesal karena hanya memilih alasan ‘keren’. Saya kira bener kata mas anton, humanity is not achievement, but humanity is a habit.
Kalo naik gunung hanya sekali dua kali, tidak akan merasakan makna yang lebih indah. Naik gunung akan semakin dekat dengan alam (alasan klise). Naik gunung akan melatihmu bertahan hidup.menyadari bahwa saya tidak memiliki apa-apa. Sederhana. (entah kenapa ingat Yu Sing)
Sederhana karena saya hanya perlu membawa hal-hal penting. Membawa bekal secukupnya. Dan punya kesempatan merenungkan segalanya dengan free. Tanpa ada teknologi, lalu lintas ramai, debu-debu jalan. Tanpa memikirkan ke’matchingan’ baju yang dipakai.
Yang terpenting, saya bisa mengamati manusia dengan lebih peka. Tersenyum ketika berpas-pasan dengan warga lokal. Yang selalu mereka balas dengan senyuman pula. Tidak ada orang jutek. Tidak ada mata tajam yang memandang ‘rendah’ saya, dan saya tidak akan pernah memandang mereka ‘rendah’.
Mungkin saya agak sok-sok an karena baru tiga kali naik gunung. Lebih tepatnya saya akan malu jika ada orang satub yang benar-benar membaca ini (saya harap tidak). Karena mereka pasti lebih berpengalaman dalam hal gunung-gunungan.
agaknya tulisan yang aneh untuk malam ini.
I’ve just came back from gramedia, menemani mbak monges who looked for a new novel but unfortunately it hasn’t been sold. So i read a book about aya kito (i’m not sure i write her name correctly). Oke sebenarnya saya ingin menulis segala tulisan yang bisa saya buat dalam bahasa inggris. But sometimes some words (because of my low ability in english) can not exspressed what i feel that time. So mungkin bakal setengah-setengah nulisnya.
Betapa tulisan bisa mempengaruhi dunia. Seorang aya, yang mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan manfaat bahkan bagi orang-orang dengan jumlah yang tak pernah ia bayangkan sendiri. termasuk saya. Di gramed, saya menyempatan membaca buku ‘Last letter’ (atau apa ya tadi judulnya?) yang jelas itu mengenai surat-surat aya yang ditujukan kepada tiga orang sahabatnya.
Surat menyurat. Saya mendapatkan kesan tersendiri dengan membaca surat-surat tersebut. Banyak kesan yang ditimbulkan dengan komunikasi melalui tulisan. Kamu hanya bisa mendapatkan informasi dengan membaca, tanpa melihat maupun mendengar. Tapi itu sangat menakjubkan. Aya begitu senang mendapat surat balasan dari sahabat-sahabatnya, di tengah keadaannya yang kian hari kian memburuk. Dengan mendengar cerita sahabatnya mengenai kabar sekolah lewat tulisan, ia menanggapi dengan bahagia setiap kata yang dibaca meski hanya dengan membayangkan.
Sekarang teknologi begitu canggih, berkomunikasi sangat mudah dilakukan. Tanpa harus menunggu lama, orang pun mampu bertatap muka langsung meski dengan jarak yang saling berjauhan. Karena begitu mudah pula, tak ada ‘kesan’ menyenangkan yang didapat, itu menurutku. Apakah orang yang mendapat kabar dengan bertatap muka melalui webcam akan sebahagia orang yang hanya menerima surat, sebulan sekali? Apakah kesenangan itu memang akan berkurang seiring waktu yang bergeser? Teknologi yang bertambah?
*tiba-tiba ganti topik*
Tadi ada konser tiga artis: kotak, ari laso, citra skolastika. In case of celebrating engineering faculty’s birthday, there were some events held on my faculty. one of the events was inauguration our new library. And because of this pembangunan was sponsored by ‘ciggaret’ company who claim as Djarum education foundation, acara ini mendatangkan beberapa band for music performed. Pertunjukan that ‘good’ enough for engineering faculty because we’ve never got this before. Apalagi ini gratis dan held in front of engineering faculty headquarter office or we called it KPFT. KPFT where i through it every day. Where my friends and i come together for a serious meeting. Where i have a agama class.
But from those 3 bands, i watched nothing. Sama sekali. Padahal KPFT itu deket sedeket alis sama ujung hidung. Tinggal nongol sedikit. Tapi saya melewatkan ketiganya. I know i’m not big fan of those 3 bands. (Atau saya agak lebay karena nggak pernah liat konser).But if there is a free concert held on your faculty, and not much people come, and it was a damn close from my campus, and it was FREE, and you just let your feet melangkah sebentar just for seeing them. Who want to let it go?
Itu semua karena studio, Yang entah kenapa hari ini serasa spot jantung ketika pak ika datang. Dan kami sekelompok tidak ada yang benar-benar selesai mengerjakan tugas. But luckily beliau tidak mengecek satu persatu anak yang telah mengerjakan tugasnya. *lega*
Pak ika baru datang sekitar jam 3 sore. Padahal konsernya dimulai jam setengah empat. Andaipun pak ika datang lebih awal, pasti beliau akan meninggalkan kami lebih awal pula. But he did not. Beliau menyelesaikan asistensinya hingga betul-betul tepat jam 5. Dimana ketiga band telah selesai beraksi.
Jadi apalah mau dikata, pas ketemu fani, yana, salma who were walking into KPFT i said to them that the concert was over. “boteeek?” fani said. But that’s true fani, we’re not so lucky today. Jurusan kita tidak terlalu peduli dengan acara ini haha.
Finally i only could see the empty stage, and few people walked out from KPFT.
*wow baru sadar udah ngetik cukup banyak *
I’ts okay then, tadi sepanjang perjalanan dari gramedia ke kosan saya memikirkan banyak hal untuk akhirnya ditulis di sini. Tapi ini masih banyak yang ingin saya tulis. Yang mungkin pada akhirnya akan berujung kemalasan melanjutkan, seperti tulisan-tulisan sebelumnya.
Saya sbetulnya ingin menulis tentang hal lain. Random.
Mengapa saya naik gunung?
Kalo kata soe hok gie, “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
Kata saya, naik gunung itu hal yang keren, awalnya.
Tapi ternyata tidak sekedar keren. Saya menyesal karena hanya memilih alasan ‘keren’. Saya kira bener kata mas anton, humanity is not achievement, but humanity is a habit.
Kalo naik gunung hanya sekali dua kali, tidak akan merasakan makna yang lebih indah. Naik gunung akan semakin dekat dengan alam (alasan klise). Naik gunung akan melatihmu bertahan hidup.menyadari bahwa saya tidak memiliki apa-apa. Sederhana. (entah kenapa ingat Yu Sing)
Sederhana karena saya hanya perlu membawa hal-hal penting. Membawa bekal secukupnya. Dan punya kesempatan merenungkan segalanya dengan free. Tanpa ada teknologi, lalu lintas ramai, debu-debu jalan. Tanpa memikirkan ke’matchingan’ baju yang dipakai.
Yang terpenting, saya bisa mengamati manusia dengan lebih peka. Tersenyum ketika berpas-pasan dengan warga lokal. Yang selalu mereka balas dengan senyuman pula. Tidak ada orang jutek. Tidak ada mata tajam yang memandang ‘rendah’ saya, dan saya tidak akan pernah memandang mereka ‘rendah’.
Mungkin saya agak sok-sok an karena baru tiga kali naik gunung. Lebih tepatnya saya akan malu jika ada orang satub yang benar-benar membaca ini (saya harap tidak). Karena mereka pasti lebih berpengalaman dalam hal gunung-gunungan.
agaknya tulisan yang aneh untuk malam ini.
Sabtu, Februari 18
jejaring sosial, eh (?)
Harusnya saya nulis sesuatu yang lebih berguna ketimbang kata kata aneh yang lebih tepat ditulis di twitter, ato facebook. oh tidak tidak, saya entah kenapa justru lebih enggan membuat dua account saya lebih berwarna. Di saat semua orang -mayoritas ding- telah menghabiskan belasan ribu tweets nya untuk berceloteh ria. Saya sampai saat ini pun belum mencapai angka 200 tweets. Bangga? enggak. Malu? ngapain amat. Dan kian saya mengingat pertama kalinya membuat account twitter tiga tahun lalu, kian saya merasa ketika itu hanya mengikuti arus pemuda pemudi yang mulai hidup di zaman internet. Saya menyebut ini fenomena.Dan setiap orang tidak harus masuk dalam fenomena itu bukan? Toh saya juga masih meng-update-nya, dalam intensitas waktu yang lebih lama dari rata-rata anak muda Indonesia, apalagi dunia. Dengan kata lain, parameter ke-update-an saya dalam dunia per-twitter-an berada di bawah rata-rata. Dengan kata lain lagi, saya ketinggalan jaman (?)
Faktanya, dunia jejaring sosial menjadikan seseorang lebih terbuka akan hal-hal pribadinya. Segala keluh kesah bisa dengan mudah diungkapkan dan diketahui banyak orang. Meski itu cuma sekedar duh, capek nih, atau gue ngantuk dan celotehan-celotehan ringan lainnya. Saya lebih cenderung mengamati ketika sedang log in. Jujur saja terkadang merasa njuk ngopo? ketika melihat beberapa komentar yang ehm, tidak penting. Tapi itulah fenomena, takdir, dan tidak ada yang salah memang. Dan karena jejaring sosial itu pulalah segala macam hal bisa dibagi dengan semua orang. Manfaatnya juga banyak. Tidak saya pungkiri.
No offense yah everyone!
Faktanya, dunia jejaring sosial menjadikan seseorang lebih terbuka akan hal-hal pribadinya. Segala keluh kesah bisa dengan mudah diungkapkan dan diketahui banyak orang. Meski itu cuma sekedar duh, capek nih, atau gue ngantuk dan celotehan-celotehan ringan lainnya. Saya lebih cenderung mengamati ketika sedang log in. Jujur saja terkadang merasa njuk ngopo? ketika melihat beberapa komentar yang ehm, tidak penting. Tapi itulah fenomena, takdir, dan tidak ada yang salah memang. Dan karena jejaring sosial itu pulalah segala macam hal bisa dibagi dengan semua orang. Manfaatnya juga banyak. Tidak saya pungkiri.
No offense yah everyone!
Selasa, Januari 31
Selasa, Desember 20
Some
Kamis, Desember 15
my apologize
Teruntuk yang tiba-tiba tidak saya pedulikan, that's not what i need but i had to. Momen-momen berharga yang dengan bodohnya tidak saya ikuti. and i'm feeling like getting away from you guys. Mungkin ada yang menganggap saya begitu arogan tidak mengorbankan waktu untuk kalian.Tapi saya juga bukan Tuhan yang bisa mengatur masa depan.
Jogja ternyata begitu menyita waktu saya. arsitektur dan satu bumi, seolah nyawa saya tersedot oleh dua hal itu.
tapi hidup memang pilihan, dan saya harus menjalani apa yang telah saya mulai kini.
yah, someday, i'll have a time to meet you guys
for my big IC family :')
Kamis, November 17
Kuliah Yu Sing
(ditulis 10 November 2011)
Jam 12:17 dan baru aja saya selesai ikut kuliahnya dosen tamu, Yu Sing. Alhamdulillah banget saya merasa sangat bersyukur bisa dengerin beliau. Segala macam pengalaman beliau dalam proyek, mendesain, dan segalamacemnya. Orang pintar itu memang terlihat dari jam terbangnya. saya merasa beliau sangat ber-jam terbang tinggi, jika dibandingkan dengan umurnya yang relatif muda. Beliau kaya akan ‘pengalaman’ nggak Cuma pengalaman mendesain tok, tapi juga pengalaman berinteraksi dengan orang, pengalaman menghargai alam, menghargai hal-hal sederhana. Nah itu poinnya, kalo bisa simple kenapa mesti ribet sih. Kalo bisa ke kampus pake baju sederhana kenapa harus yang glamour. Tiba-tiba lagi saya merasa bersyukur dengan kehidupan saya sekarang. Meski saya nggak punya ‘banyak’ uang saku, yang bisa buat beli apapun. Yang punya apapun. Yang bisa kemanapun. Dengan menghargai hal-hal sederhana di sekitar kita sebenarnya bisa ‘memperkaya’ jiwa.
Yu Sing selalu mempertimbangkan hal-hal sederhana untuk kemudian menjadikannya sangat luar biasa. Kebanyakan proyeknya beliau sering menggunakan bahan-bahan bekas yang ternyata masih bisa dipake, bahkan sangat menghemat biaya dan energi. Penghargaan terhadap alam juga unsur penting untuk membuat ‘pengalaman ruang’ menjadi nyaman. Beliau baru-baru ini dapet pengetahuan dari kliennya bahwa menanam pohon berbuah itu perlu, karena pohon itu semut rang-rang hidup. Dan dari semut itulah rayap dapat dibasmi secara alami. Tidak perlu repot-repot membasmi dengan bahan kimia.
Waktu Bu Nia bilang perkayalah jiwa kita dengan sering-sering mencari pengalaman, saya sadar, harusnya saya bersyukur dengan hidup saya sekarang. Dengan teman-teman yang selalu mengajarkan ‘pengalaman’. Kata beliau jaga agar jiwa kita tidak kering. Karena dengan itulah justru akan meningkatkan kualitas desain kita. katanya banyak kasus mahasiswa yang hampir DO karena mereka kerjaannya Cuma kos-kampus-kos-kampus. Dengan menyeimbangkan hidup kita antara akademik dan pengalaman, akan menambah ilmu. Dan ilmu itu tidak terbatas.
Yah, mungkin saya juga jarang menyertakan Allah dalam hati saya. Jadinya akhir-akhir ini justru sering menyesali kehidupan. Bukannya bersyukur. Padahal saya punya banyak kesempatan untuk belajar mengenai ‘kesederhanaan’ itu. Padahal saya hidup di sekitaran Jogja dimana ‘kesederhanaan’ masih cukup banyak terjadi. Dan sering ke Gunung Kidul juga. Padahal di Gunung Kidul banyak joglo-joglo yang sederhana namun bermakna untuk dipelajari. Mengenai masyarakatnya, mengenai kehidupan mereka. Terima kasih Yu Sing, karena secara mendadak anda menyadarkan saya. Mendadak anda menginspirasi saya. Karena simple itu keren!
(lagi suntuk sama tugas dan organisasi)
ini Yu Sing

ini kita foto bareng beliau

(lah mana Yu Singnya?? cari yang di tengah pake baju batik warna putih)
oh ya, blognya Yu Sing juga keren, saya suka membaca tulisan-tulisannya.. :)
Jam 12:17 dan baru aja saya selesai ikut kuliahnya dosen tamu, Yu Sing. Alhamdulillah banget saya merasa sangat bersyukur bisa dengerin beliau. Segala macam pengalaman beliau dalam proyek, mendesain, dan segalamacemnya. Orang pintar itu memang terlihat dari jam terbangnya. saya merasa beliau sangat ber-jam terbang tinggi, jika dibandingkan dengan umurnya yang relatif muda. Beliau kaya akan ‘pengalaman’ nggak Cuma pengalaman mendesain tok, tapi juga pengalaman berinteraksi dengan orang, pengalaman menghargai alam, menghargai hal-hal sederhana. Nah itu poinnya, kalo bisa simple kenapa mesti ribet sih. Kalo bisa ke kampus pake baju sederhana kenapa harus yang glamour. Tiba-tiba lagi saya merasa bersyukur dengan kehidupan saya sekarang. Meski saya nggak punya ‘banyak’ uang saku, yang bisa buat beli apapun. Yang punya apapun. Yang bisa kemanapun. Dengan menghargai hal-hal sederhana di sekitar kita sebenarnya bisa ‘memperkaya’ jiwa.
Yu Sing selalu mempertimbangkan hal-hal sederhana untuk kemudian menjadikannya sangat luar biasa. Kebanyakan proyeknya beliau sering menggunakan bahan-bahan bekas yang ternyata masih bisa dipake, bahkan sangat menghemat biaya dan energi. Penghargaan terhadap alam juga unsur penting untuk membuat ‘pengalaman ruang’ menjadi nyaman. Beliau baru-baru ini dapet pengetahuan dari kliennya bahwa menanam pohon berbuah itu perlu, karena pohon itu semut rang-rang hidup. Dan dari semut itulah rayap dapat dibasmi secara alami. Tidak perlu repot-repot membasmi dengan bahan kimia.
Waktu Bu Nia bilang perkayalah jiwa kita dengan sering-sering mencari pengalaman, saya sadar, harusnya saya bersyukur dengan hidup saya sekarang. Dengan teman-teman yang selalu mengajarkan ‘pengalaman’. Kata beliau jaga agar jiwa kita tidak kering. Karena dengan itulah justru akan meningkatkan kualitas desain kita. katanya banyak kasus mahasiswa yang hampir DO karena mereka kerjaannya Cuma kos-kampus-kos-kampus. Dengan menyeimbangkan hidup kita antara akademik dan pengalaman, akan menambah ilmu. Dan ilmu itu tidak terbatas.
Yah, mungkin saya juga jarang menyertakan Allah dalam hati saya. Jadinya akhir-akhir ini justru sering menyesali kehidupan. Bukannya bersyukur. Padahal saya punya banyak kesempatan untuk belajar mengenai ‘kesederhanaan’ itu. Padahal saya hidup di sekitaran Jogja dimana ‘kesederhanaan’ masih cukup banyak terjadi. Dan sering ke Gunung Kidul juga. Padahal di Gunung Kidul banyak joglo-joglo yang sederhana namun bermakna untuk dipelajari. Mengenai masyarakatnya, mengenai kehidupan mereka. Terima kasih Yu Sing, karena secara mendadak anda menyadarkan saya. Mendadak anda menginspirasi saya. Karena simple itu keren!
(lagi suntuk sama tugas dan organisasi)
ini Yu Sing

ini kita foto bareng beliau

(lah mana Yu Singnya?? cari yang di tengah pake baju batik warna putih)
oh ya, blognya Yu Sing juga keren, saya suka membaca tulisan-tulisannya.. :)
Langganan:
Postingan (Atom)