Rabu, Mei 26

AXN Beyond : Ghost Adventures

I was excited when i come back to my home and i found my TV was hooked up with TV kabel. After years i merely watch local channel, just now i can see foreign chanels :P (najis, pamer gue, padahal biasa aja). Though we just subscribe bronze class (there are three level class : gold, silver,bronze), but its good enough for me to watch some nice chanels such as National Geographic, Star World, Disney Chanel, etc, and on this topic, AXN Beyond.


Why AXN beyond?


Because there is a program called "Ghost Adventures", and this is my favorite program, also both of my sisters, and my mom. Haha. It is held on 2 pm and on the night (i don't know when). Of course we prefer watching on 2 pm than night.You know why.
Looking the title, i'm sure you know what kind of program this is. This is like "Uji Nyali" on foreign verse. But a little different.
There are three man, Zak, Aaron, and Nick who bring many camera and they are locked up in most haunted place in the world. They are allowed to see only by infra red camera, without flashlight, very dark you know.


Their purpose is recording some penampakan, or some voices that sprang up around them. Hii..
Frankly, i was scare, and i would scare after watch this. But as long as i watch it together with my sist, no problem. We scare together :D.


Somehow, the sensation of watching this overcome our fears. I'm just curious about what would happen on those three man. Whether they fine, or kesurupan, or even die. And i'm curious about penampakan it self, and the unexplained noises which sometimes appear. And they recorded it clearly, wow, amazing.


But the effect is very torture for me. I'm fear being alone, imagine those penampakan, and strange noises, and i'm afraid something touch me... woaaaa,
My sister also, so that we made an agreement, that we will accompany each other when we felt scare. Does it sound ridiculous ? very absurd.


Eventually i promised myself, i don't wanna see that anymore. But you know, it's just a stupid promise i don't fulfille it exactly. LOL.


Lagi-lagi i was interested to watch it again. And finally I WATCH IT AGAIN. Never be cured..




These are some picts of them..






                           from left : zak, aaron, nick




                         They are (maybe) on haunted prison




                                          one of their action

Kamis, Mei 20

Pisah

Barusan, saya masih ngerjain layout buku tahunan. Tiba-tiba aja photoshopnya ngeheng. Nggak bisa di-klik-klik dimanapun. Padahal deadline hari ini. Si mba'-mba' ketua layout udah muring-muring, dengan semangat ngasih note lewat FB bahwa hari ini harus jadi. Haha, sori ya cenan, agak lelet. Jam 12 malem masih hari ini kan?
Lagian saya bukan orang yang berpengalaman di bidang ini. Masih belajar dikit-dikit gitu. Takutnya bikinan saya tidak memuaskan. Tapi saya sudah mengerjakannya secara maksimal! demi angkatan juga. Tugasnya di suruh ngelayout profil anak musik sama konsumtif. Yang saya kerjain musik doang. Lagian anak konsumtif fotonya nggak pada jelas, gimana mau dapet ide? Lumayan sih, udah 80 % jadi profile anak musik. Mendingan ngeblog bentar ahh...

Bentar lagi, saya wisuda, tanggal 12 Juni. Bisa dibilang rada telat daripada SMA manapun. Yaiyalah, UN udah lewat lama, wisuda baru bulan depan. Tapi saya bersyukur, wisuda masih bulan depan. Pisah sama teman-teman juga masih dibilang lama. Lagi-lagi ketemu sama namanya 'perpisahan' :(. Tiga tahun lalu, saya ninggalin masa SMP (bilang aja MTs). Ya, itulah pokoknya. Saya pisah sama temen-temen pondok saya di Assalaam. Sekarang juga bakal ninggalin SMA (bilang aja MAN). Haha, serasa aib gitu sekolah di MTs sama MAN. Enggak kok, sekolah di madrasah-madrasah itu banyak ngasih keuntungan ke saya. Apalagi MAN Insan Cendekia. Ninggalin IC bakal lebih berat dari ninggalin Assalaam.

Saya anak beasiswa penuh IC, bersama 119 teman saya. Dan yang bertahan hingga kini cuma 107 anak. Suka dukanya banyaak banget lho. Dari awal masuk, dengan menyandang gelar : angkatan beasiswa pertama. Yang 80 % anak pondokan. Kebayang lah gimana ndesonya kita kebanting sama kakak-kakak kelas yang borju. Melihat kenyataan yang demikian, mental kami pun teruji. Minder lah, malu lah, takut lah. Tapi nggak seburuk itu. Meski beberapa kakak kelas juga sedikit mendiskriminasi kita guru-guru juga sedikit hopeless, toh mereka baik sama kita (yaiyalah, masa engak). Kakak kelas relatif baik. Ada yang bilang hidup di IC nggak ada yang jahat. Semuanya putih, suci, (ceilah bahasanya).Tapi waktu itu ada masanya kami merasa tertindas dari semua kalangan. Gara-gara satu anak di angkatan kami. Kakak kelas jadi ngebenci kita semua (lebai). Trus gara-gara nilai kita ancur smt 1, guru-guru kayak hopeless gitu. Apa-apa serasa kita yang salah.

Tiga tahun digembleng. Mental kita jadi nggak seloyo dulu. Buktinya kita banyak juga yg berprestasi, ngalahin rekor IC. OSN nyampe belasan anak (lupa berapanya). Yang paling fresh ya ini, yang diterima universitas. Yang masuk NTU ada 5, lewat tes. Kalo yg tahun2 sblumnya yg masuk NTU tu gara-gara dapet medali olim internasional. Sekarang tes lho, tes, hehe. Moga aja tahun depan bisa lebih banyak. Yg lolos UM UGM, SIMAK UI juga banyak. Tapi PMBP 1 ITB cuma 15, ga sebanyak tahun lalu, masalahnya ya itu, duit. PMBP 1 ITB kan rada mahal, mana tesnya bareng UM UGM. Otomatis mayoritas kita milih UM UGM, yg bayarannya relatif murah hehe. Tapi yg ikutan PMBP 2 juga banyak kok, moga aja sukses.

Dan bentar lagi wisuda :( :(. Saya ninggalin wonderland saya. Asli, nggak bo'ong, sekolah di IC banyak manfaatnya. Sejak awal hingga terakhir ujian, kagak ada satupun muridnya yang nyontek. Suatu kejadian langka bukan?

Waduh, sepertinya saya harus melanjutkan pekerjaan saya yang baru saja ditinggal. Semangat! demi angkatan, demi IC juga!

Kamis, Mei 13

Kuliah,, kuliah,,

Ehem, kali ini saya akan bercerita tentang kisah saya melaksanakan tes-tes Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di berbagai Universitas. Sebenernya saya cuma ikut tiga, UGM, UNDIP, dan UI. Pilihan pertamanya sama : Arsitektur. Tes masuk dari masing-masing universitas itu, celakanya dilaksanakan tiga minggu berturut-turut. Saya benar-benar harus berjuang selama tiga minggu. Apalagi tepat setelah UN berlangsung.

28 Maret 2010
Hari ini ada tes UM UGM, saya berangkat bersama teman-teman ke SMA Cisauk. Dari IC, rencananya sih mau naik angkot yang udah dipesen sehari sebelumnya. Setelah kami ber-dua puluhan (kira-kira) berkumpul didepan IC, angkot tak kunjung datang. Otomatis kami khawatir, akhirnya kami berjalan ke depan (kalo mau ke jalan raya musti jalan bentar dulu). Udah jalannya bertanah merah, becek, ada perbaikan jalan gitu. Sendal kami pun jadi korban. Gumpalan tanah merah nyangkut-nyangkut di sendal kita. Akhirnya angkot datang, tanpa ba-bi-bu, kita langsung naik. Di angkot, kita belajar dikit-dikit, tanya jawab gitu. Dan pas nyampe, untungnya belum mulai. turun dari angkot, dengan sendal ber-tanah merah, kita malah terlihat kayak abis dari sawah. Rombongan kita ngotorin aspal depan SMA Cisauk tuh. Langsung kita mencari kelas tempat tes masing-masing. Ternyata kita masih harus nunggu sekitar dua puluh menitan dulu baru tesnya mulai. Saya pun belajar, dan tanpa sengaja sepatu saya yang masih bertanah merah menendang celana teman saya, Muthe', yang berwarna putih. Taulah, gimana lanjutannya, saya minta maaf berkali-kali dan membersihkan celananya dengan tissu kayak babu gitu. Akhirnya bel masuk pun berbunyi. Dengan perasaan sedikit deg-degan, saya mencari tempat duduk. Tempat duduk saya tepat di samping jendela. Singkatnya, saya mengerjakan soal-soal, matematika IPA susah banget, apalagi fisikanya. Saya maksimalkan di biologi dan kimia. Kemampuan dasar juga saya kerjakan semaksimal mungkin. Setelah selesai, saya sedikit lemas mengingat soal matematika dan fisikanya yang hanya bisa saya kerjakan tak lebih dari 50 %. Keluar kelas, saya sedikit down mendengar teman-teman saya membahas soal barusan, dan rata-rata jawaban saya berbeda dengan mereka. Saya putuskan untuk tidak lagi mebahasnya.
tambahan : UM UGM ini diadakan dua hari setelah ujian nasional selesai. Saya benar-benar belajar mati-matian dari abis UN hingga malam hari menjelang tes. Kepala udah nyut-nyutan, kamar berserakan buku-buku gak karu-karuan. Dan saya merasa tidak mengerjakan soal secara maksimal. Ini yang membuat saya merasa sangat-sangat down, takut nggak keterima. Sejak itu saya berdo'a dengan sungguh-sungguh, nadzar puasa tiga hari kalo keterima.

4 April 2010
Baru aja bernapas sejenak, tau-tau udah tes UNDIP aja. Jujur tes kali ini, saya tidak belajar se-mati-matian kayak minggu lalu. Belajar sih, dikit. Tapi sebagian besar saya mengandalkan ingatan saya minggu lalu. Tes kali ini diadakan di tenis in-door senayan. Yang ikut dari IC cuma dikit. Berangkat naik mobil IC dianter Pak Soleh. Sampe sana , Alhamdulillah belum telat. Pas masuk tenis in-doornya, busyeet... ini tes apa tes, nggak layak banget jadi tempat tes. Jumlah anaknya ribuan, tapi cuman duduk di kursi tak bermeja gitu. Kemungkinan nyontek sangat besar. Ditambah lagi nggak ada meja, cuma pake papan jlan. Ini sih namanya pembungkukan nasional. Dengan susah payah saya mencari tempat duduk saya dan akhirnya dapet tepat di depan speaker gedhe gitu, bikin saya benar-benar kaget waktu bel bunyi. Soalnya lumayan, nggak sesusah UGM sih, biologinya gampang banget. Tetep aja saya lemah di fisikanya. Bahasa Inggrisnya juga susah, tapi saya kerjakan sebisanya. Selesai tes, kami jalan-jalan ke senayan city. Lumayan, bisa ngeliat Mesty Aryotedjo sekeluarga yang sering diceritain salah seorang teman saya, Anindita Kusuma (haha,nggak penting).

11 April 2010
Nah, tes terakhir. Pengalaman tes sebelumnya, otak udah lumayan terasahlah (ciah!). Lagi-lagi naik angkot, mana kartu pelajar temen pake ketinggalan gitu, padahal angkot udah jalan lumayan jauh. Toh nyampe juga, dan nggak telat. Kali ini tes di SMA Yuppentek. Sekolahnya lumayan, adem-adem gimana gitu. Tapi nggak enaknya, saya dapet tempat duduk paling pojok, udah gitu kelasnya gelap banget. Di awal-awal tes, pas disuruh tanda tangan saya melupakan satu hal penting : pulpen!. Wow, sedikit panik, tapi saya menenangkan diri saya, jangan panik, jangan panik... Sebelum mbak pengawasnya muter, saya mencari-cari ide. Saya liat kolong-kolong meja, berharap ada seonggok pulpen tergeletak. Tapi nggak ada. Satu-satunya jalan : minjem teman depan atau samping. Saya putuskan meminjam teman depan saya. Perlu waktu untuk mengumpulkan keberanian saya memanggil atau mencolek teman depan. Usaha pertama, saya mencolek bahunya. Ternyata dia tidak menoleh. Bikin jantung saya makin berdebar-debar. Kemungkinannya hanya dua, dia tidak merasa atau dia tidak mau menoleh. Saya coba sekali lagi dan dia menoleh. Hufh, "boleh minjem pulpennya nggak", "oh, kamu nggak bawa, nih pake aja dulu" waaah, ternyata dia baiik bangeet.. Pas istirahat kita kenalan, namanya Ilma. Sampai sekarang saya masih berterima kasih padanya, makasih Ilma!
Nah, singkatnya tes SIMAK UI ini jumlah soalnya nggak sebanyak UGM, tapi biologinya yang biasanya saya andalkan malah susaaah banget. fisikanya mendinglah, nggak susah-susah amat. Bahasa Inggrisnya gampang.


Nah, dari ketiga tes itu yang paling cepet pengumumannya UNDIP, tanggal 10 April udah ada pengumumannya, hasilnya, saya diterima arsitektur UNDIP
Yang kedua, UM UGM, pengumumannya malem-malem. Kita seasrama jejeritan tiap ada yang keterima. Hasilnya 33 anak IC diterima, termasuk saya tetap dengan arsitekturnya.
Yang terakhir UI, tanggal 8 Mei. Sedikit susah ngeliatnya karena harus cari satu-satu pake nomor tes, di kompas. Hasilnya juga lumayan, sekitar 40-an anak IC sukses, juga termasuk saya yang masih setia dengan arsitekturnya.

Intinya sih, bukannya sombong, cuma saya benar-benar bersyukur, usaha saya belajar tidak sia-sia. Bimbel-bimbel dari guru IC yang udah dimulai sejak semester pertama juga nggak sia-sia. Saya cuma pengen berbagi cerita, tentang perjuangan saya ikutan tes-tes beginian. Memang kuncinya cuma ada di belajar sunguh-sungguh dan berdo'a khusyu'. Insya Allah sukses.

Semoga bermanfaat

Salam,
Tami
                                
                                                                               
LAMPIRAN