Sabtu, Agustus 11

a little post

can't stop reading http://rarasekar.tumblr.com. seriously.
mulai dari baca post nya nuzuli aka. gepeng tentang Banda Neira, lau berlanjut ke penemuan halamannya si duo folk-ers dan lagu cantiknya mereka. Lalu berujung pada penemuan blog salah satu personilnya, mbak rara sekar. Dan begitu terpikat dengan tulisan2nya, sampai-sampai nggak bisa berhenti nge-klik tombol "next" to see another of her post, over and over again.(she has written a lot of fabulous writings). Kebanyakan dia nulis tentang kehidupan sehari-hari, bagaimana dia mengkritisi hal-hal yang simple tapi ternyata banyak dari kita yang lalai buat menyadarinya. Contohnya: perbedaan.
maybe you should have a little peek there too :)
Mungkin saya cuma nemu salah satu dari ratusan mbak-mbak atau mas-mas hebat lainnya yang nulis tulisan bermanfaat. Setidaknya. And wish i could be like them, bikin tulisan 'hebat' juga *ngarep*

lanjut lagi ke 'klik-klik' an ngawur lain, tentunya dari link-link yang pastinya lupa dari mana asal link tsb. Lalu nemu lagi band folk-indie pop lokal Afternoon Talk dari Lampung yg cukup indah pula lagunya. Unyu-unyu kayak Mocca, atau SoKo buat versi luarnya.

*idih gak mau sok ngomongin musik juga*

tapi sekali lagi nih, boleh ya boleh, saya keinget lagu sejenis dikasih tahu temen. Yang berupa musikalisasi beberapa puisi nya Sapardi Djoko Damono oleh pasangan duet 'Dua Ibu'. Salah satu puisi (yg dilaguin) judulnya 'Aku Ingin'. itu loh, yg liriknya 'Aku ingin mencintaimu dengan sederhanaa...'. Temen saya itu udah tahu sejak jaman SMA, terus katanya dulu kalo ngirim surat cinta ya nyomot bait puisinya yg itu. *ceilah*



udah deh sotoy sotoy an tentang musiknya,


what a weird night!

Selasa, Agustus 7

Cukup Sempurna


Lagi-lagi berniat menulis tentang hidup dan kerandomannya. Saya hobi banget baca-baca blog orang. Atau lebih tepat dibilang stalker. Really great stalker nyihihihi *ketawa setan*. Kalo lagi stalking bisa ampe bermenit-menit mencari segala sesuatu apapun itu, terutama tulisan tentang orang yang distalker. Paling seneng kalo udah nemu blognya, atau twitter, kalo facebook sih masih kurang representatif. Bukannya berniat jahat kok, tapi saya seneng melihat kehidupan seseorang lewat tulisan. Saya bikin blog kan gara-gara sering baca blog orang, yang sering pula menulis cerita tentang hidupnya.

Beranjak lagi, karakter orang itu banyak banget. Nget. Dan saya hanya sepersekian titik dari ribuan karakter orang di muka bumi. Saya bukannya mau mematenkan karakter seorang saya, boro-boro sih, memahami karakter diri sendiri aja belum becus. Saya hanya ingin menulis sesuatu. Entah tentang apa ini semua.

Mungkin karena semakin kesini semakin banyak ketemu macam-macam orang. Flash back kehidupan sebelumnya, yang terpaksa monoton oleh peraturan. Perempuan lugu ini pun baru melihat kehidupan yang sebenarnya. Jeng jeeng.. Toh ruang lingkup hidup saya sekarang ini Cuma di sekitaran Jogja, kampus terutama. Ke Pekalongan sesekali kalo lagi pulang kampung. So campus life is the real stage for now. Dan cukup representatif untuk kehidupan remajawan dan remajawati jaman sekarang.

Manusia sewajarnya memilih gaya hidupnya sendiri. Juga bagaimana kisah-kisah dalam dirinya harus berjalan. Tentu,dengan pertimbangan berbagai macam faktor yang mempengaruhi. Bagaimana si A bergaul dengan B karena memiliki kesamaan faktor. Bagaimana si C dan D bisa bertemu karena faktor tertentu.

And when i saw someone, with her/his perfect life. Kadang merasa ‘iri’ dengan hidup sempurnanya. Do you feel so? Wajar nggak sih? Atau saya yang nggak normal nih. Well, i mean, perfect life isn’t just someone who surrounded by money. Itu bisa jadi salah satunya. Mungkin orang-orang yang punya keberuntungan lebih yang tidak saya miliki. Dalam hal apapun itu. Apapun. I won’t mention it, but you’ve got what i mean.

Bukan pula berarti penyesalan. Tidak, saya berusaha tidak menyesali apapun. Karena pilihan buruk pun bukan untuk disesali. Setiap manusia itu punya hidup sempurnanya masing-masing. Saya tak luput pula dari seorang ‘manusia’. Saya sepatutnya senang melihat teman-teman lama yang kini punya keuntungannya sendiri. Atau teman teman arsitek yang begitu dilimpahi ke-perfect-an skill nya. Atau orang-orang yang saya kenal punya keunikan nya masing-masing. Nggak ada yang nggak baik. Kita hanya hidup dalam frekuensi yang berbeda-beda *apadeh*.

Hidup saya cukup sempurna, meski beasiswa PPA nya nggak diterima karena IP kurang *sedih*. Cukup sempurna, dengan teman-teman yang hidup di sekitar saya. Cukup sempurna, dengan makan masakan mama selagi buka puasa. Cukup sempurna, dengan mukena dan sajadah lima kali sehari. Cukup sempurna, dengan baju seadanya. Cukup sempurna, dengan menghirup segarnya udara gunung dan melihat awan dari puncak. Cukup sempurna, dengan secangkir kopi dan sepiring gorengan di lincak satub serta diiringi nyanyian santai sore hari.
J

Sabtu, Agustus 4

Supernova the series

Jadi jarang nulis nih sedihnya. niatan buat memenuhi target tiap bulannya mem-publish tulisan pun gagal. Nggak tau kenapa akhir-akhir ini ngerasa nggak pede sama tulisan sendiri. yang isinya menurut saya kurang worth-it. Dulu sih fine-fine aja mau nulis hal gak penting, tapi sekarang pengennya lebih selektif.

Dan seringkali 'bakal' tulisan saya beberapa berakhir hanya untuk terkubur di draft. Entah itu cuma setengah jadi -lalu hilang mood melanjutkan. Atau udah jadi tapi nggak sempet dipublish dan akhinya lupa. Padahal banyak cerita-cerita (umumnya bertema traveling) yang nggak sempat terpublish.

Daripada daripada, mending saya nulis something nih tentang serial novel SUPERNOVA

Novel super cool, saya ngikutin dari yang pertama Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh sampe yang baru keluar (keempat) supernova: Partikel. And i'm dying to read the fifth and sixth, tapi mesti sabar karena belum keluar.

Awalnya baca yang seri pertama tuh tahun lalu (2011). padahal novelnya udah terbit tahun 2001. Waktu itu lagi nemenin mbak sepupu ke rental komik dia mau pinjem komik sekalian aja saya pinjem bacaan, dan terpilihlan Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh. Eh kok bagus, pengen pinjem lanjutannya lagi tapi nggak sempet-sempet mampir ke rental itu lagi. Dan karena sedang berpikiran ekonomis -nggak mungkin beli novelnya- (mungkin lagi kere waktu itu) kenapa nggak cari e-book nya aja terus download. Cari-cari di internet ternyata nemu, langsung didownload lah tuh dua seri Supernova: Akar & Supernova: Petir. Belum kebayang aja kalo baca di laptop tuh lebih nggak enak ketimbang baca di buku. Tapi toh saya terhanyut juga sama dua novel ini meski bacanya sambil mantengin laptop berjam-jam.

Terus Dewi Lestari ngerilis lanjutannya tahun ini, Supernova: Partikel. jaraknya jauh banget sama tiga novel sebelumnya, tapi masih nggak menghilangkan esensi kisah supernova (yaiyalah) dan bahkan makin bagus di seri Partikel ini. Kalo yang tiga novel sebelumnya saya nggak bermodal, yang keempat ini saya bela belain beli loh. Harga asli Rp 79.000,00 tapi dapet diskon jadi Rp 63.000,00 mayan lah. Tadinya mau patungan sama temen, tapi karena bener-bener nggak sabar pas mampir Toga Mas langsung nyamber Partikel dan bayar.


ini cover seri terbarunya, lebih simple

Dari empat novel, Partikel yang paling bagus. Suer. Ceritanya sangat 'berbobot'. Ngak menye-menye (?). Sok aja di googling deskripsi singkat ceritanya. Tapi tokoh favorit saya tetep si Elektra Wijaya di Supernova: Petir gimana kisah hidupnya sama si Watti. Kalo yang seri pertama masih terlalu 'maksa'. Jadi repot karena mesti baca footnote buat beberapa istilah asing. Yang kedua (akar) mulai asik karena settingnya ada di beberapa negara ASEAN.

yaudahlah
Salut sama Dewi Lestari, ditunggu aja dua seri lanjutannya..