Tampilkan postingan dengan label Thoughts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thoughts. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 8

Arsitektur Untuk Siapa?

Setelah memaksakan diri beberapa waktu terakhir untuk menulis, di tengah-tengah minat menulis yang kian menghilang saya mencoba memilih topik ini, hehe.
Mungkin pertanyaannya bukan ‘Arsitektur Untuk Siapa?’ Mestinya sebelum ke sana, diawali dulu dengan ‘Arsitektur Untuk Apa?’ Hmm, Kalau boleh jujur saya selalu menghindari pertanyaan-pertanyaan filsafat semacam ini, haha. Selayaknya ada pertanyaan ‘Kamu hidup di dunia itu untuk apa?’ mending pura-pura amnesia aja deh sambil berbinar-binar memandang bintang-bintang di langit. Saya nggak pernah merasa pintar untuk bisa mengurai jawaban yang bisa membuat saya terlihat keren. Jadi rasanya jawaban-jawaban yang muncul hanya berulang-ulang berputar di benak saya tanpa pernah bisa keluar baik melalui verbal maupun tulisan. Lalu akhirnya tersesat dan mentok. Sekian.
Semoga kali ini tidak.
Jadi, setelah hampir 2 tahun dinyatakan lulus dari universitas itu sebagai sarjana arsitektur, saya belum benar-benar mengenal dunia ini. Nggak tau sih ya kalau yang lain.
Sepengamatan saya terhadap orang-orang di sekitar, arsitektur itu selalu dianggap eksklusif, sophisticated, hanya bisa diraih kalangan tertentu. Saya rasa itu benar! Berapa persen dari seluruh masyarakat kita menggunakan jasa arsitek untuk membangun rumahnya? Jika skalanya sudah gedung tiga lantai ke atas atau fasilitas publik skala besar, okelah sudah pasti menggunakan jasa arsitek, setidaknya ada campur tangan ahli bangunan. Faktanya yang mampu membangun gedung di atas dua lantai sudah pasti memiliki uang untuk tukang gambar bukan?
Lalu bagaimana untuk rumah tinggal?
Saya teringat seorang ibu juragan toko bahan bangunan di suatu daerah. Suatu ketika kantor saya sedang ada proyek di dekat tempat ibu tersebut. Otomatis semua material untuk proyek dipesan ke toko beliau. Beberapa kali ibu ikut mengantar material ke proyek dan melihat perkembangan rumah yang sedang dibangun. Ketika sedang transaksi, ibu berkata: “Gimana sih kok bisa bagus gitu rumahnya? saya bikin rumah kok jelek ya” yang kemudian oleh teman saya dijawab “Iya Bu, soalnya kami memakai jasa arsitek, jadi bisa bagus”
Dari percakapan sederhana itu, saya menyimpulkan bahwa sang ibu menganggap rumah dalam proyek tersebut masuk dalam kategori ‘bagus’. Sebagai catatan, rumah yang sedang dibangun tersebut adalah rancangan rumah ala-ala developer, bentuk kavling dengan tipe tertentu. Terbayang kan? Baguskah? Relatif, sebagian orang akan menganggap bagus dan sebagian tidak. Sebagian orang bermimpi memiliki rumah di salah satu kavling tersebut, sebagian mengutuki pembukaan lahan untuk kavling-kavling perumahan baru. Biasa terjadi bukan? yang iya dan yang tidak. Yang senang dan yang benci.
Sejujurnya saya sedikit bersimpati karena ibu yang notabene juragan tajir di wilayahnya dan harusnya mampu membayar jasa arsitek, tidak mendapatkan rumah yang diinginkannya karena dirasa jelek. Ibu yang mestinya bisa memiliki rumah dengan kualitas ruang yang baik tidak mendapatkannya karena ketidakpahaman beliau mengenai jasa arsitek. Padahal ibu ini paham betul masalah material bangunan.
Saya sering web-walking, melihat-lihat website para arsitek atau konsultan yang sudah terkenal di Indonesia, atau yang menuju terkenal. Sok atuh googling daftar konsultan arsitektur Indonesia dan buka websitenya satu persatu. Karya-karyanya keren, tampilan websitenya dengan desain yang sangat masa kini -simple yet elegant. Sungguh terpoles dengan sempurna! Yang saya amati, hampir semuanya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama websitenya. Syukur-syukur jika ada pilihan bahasa Indonesianya. Jadi siapakah kemungkinan calon klien yang akan menggunakan jasa mereka?
Saya memahami bahasa Inggris membuat kesan yang modern, futuristik, dan berkelas. Saya juga masih sok keminggris kok pada tulisan-tulisan di blog ini, hehe. Juga saya akui dalam berbahasa setengah Inggris ini saya memiliki tujuan-tujuan politis untuk terlihat lebih berkelas. Positif saya, penggunaan bahasa Inggris ini memang sebuah upaya untuk maju, agar tak tertinggal zaman, dan agar dunia internasional mengakui arsitektur Indonesia pantas bersaing di kancah global. Agar karya anak bangsa kita diakui dunia!
Sampai sini saya semakin bingung. Jadi berarsitektur itu untuk siapa? ‘for everyone’ kata salah satu website. Betulkah? Or ‘for those who can afford to pay’?
Sebentar, sepertinya perlu dibalik pertanyaannya, siapa yang butuh berarsitektur?
Singkat saya berlaku arsitektur maknanya juga tidak sesempit berprofesi arsitek. Manusia awal yang pertama kali membangun rumah, tidak sekedar numpang neduh di gua, juga sudah berlaku arsitektur bukan? Sejak kapan akhirnya muncul jasa perencana bangunan ya? Atau mungkin lama kelamaan manusia merasa kurang puas dan jenuh dengan ruang yang mereka tinggali lalu membutuhkan tambahan estetika sehingga bam! Muncullah terminologi arsitektur. Toh pada akhirnya dalam suatu kelompok masyarakat, yang mampu membangun sebuah rumah terspesialisasi kepada orang-orang tertentu. Jika pada masa purba tiap kepala rumah tangga mampu membuat rumahnya sendiri, semakin kemari hanya tukang yang mampu membuatnya.
Jadi kelihatan sekali ini jika saya masih kurang banyak membaca sejarah tentang dunia arsitektur, haha.
Hmm, jadi sementara bisa saya simpulkan di sini, semua orang berlaku arsitektur tapi masih terbagi-bagi lagi menjadi pelaku dalam profesi arsitek sebagai jasa perencana bangunan dan pelaku dalam bentuk masyarakat yang membangun rumahnya berdasarkan pengalaman (entah itu turun menurun, tradisi, atau meniru dari bentuk-bentuk rumah di sekitarnya).
Pertanyaan berikutnya menjadi siapa yang butuh jasa arsitek? (masih dalam lingkup rumah tinggal)
Pertama, orang yang menginginkan rumahnya terbangun secara berkualitas. Kedua, dia memiliki modal untuk tidak hanya sekedar membangun rumah, tetapi juga menyewa jasa arsitek. Untuk yang ini masih saling berkesinambungan, arsitek juga akan menyesuaikan budget klien dalam merancang rumahnya. Ketiga, hmm mungkin dia mesti paham mengenai adanya arsitek sebagai penyedia jasa perancangan rumah.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pasar jasa arsitek hanya ramai di area urban. Kebutuhan begitu besar di sana. Terlihat persentase teman angkatan saya yang memilih untuk bekerja  (tentunya yang belum keluar dari jalur profesi arsitek) di Jakarta ketimbang di daerah. Mungkin yang membutuhkan memang hanya masyarakat urban, kaum menengah ke atas. Masyarakat yang masih menjaga tradisi dalam pembangunan rumah tinggalnya sesungguhnya tidak memerlukan jasa arsitek, karena mereka sudah turun temurun memiliki tata cara pembangunan rumahnya sendiri. Dengan catatan tradisi tersebut belum tercampuri unsur-unsur modern.

Sedikit intermezzo, saya teringat ketika mengikuti ekspedisi ke Pulau Seram bersama mapala Satu Bumi, kami mengunjungi desa bernama Huaulu di kaki Gunung Binaiya. Penduduk desa tersebut tergolong penganut animisme dan memiliki bentuk rumah yang masih tradisional. Bentuk rumah berupa rumah panggung kayu setinggi kurang lebih satu meter. Dindingnya terbuat dari susunan pelepah pohon sagu yang ditumpuk vertikal. Atapnya menggunakan rumbai. Penataan ruangnya hampir seragam, ruang depan sangat bersifat publik dengan dinding yang terbuka (orang dari luar dapat melihat aktifitas di dalamnya). Ruang yang tertutup hanyalah ruang untuk tidur. Seperti terlihat pada gambar berikut:





Lalu, tersebutlah seorang keluarga pendatang yang akan membangun rumah di antara rumah-rumah penduduk asli desa. Keluarga terebut kabarnya berasal dari Papua. Saya pribadi hanya sempat melihat namun tidak mengobrol dengan mereka, jadi tidak tahu menahu cerita kenapa akhirnya mereka datang ke Huaulu. Keluarga pendatang ini sedang dalam proses membangun rumahnya yang notabene memiliki bentuk berbeda dari rumah penduduk asli:


Saya langsung dapat menilai rumah keluarga pendatang ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Dindingnya tidak menggunakan pelepah sagu melainkan papan kayu yang menutup full sehingga dari luar orang tidak dapat melihat aktifitas di dalamnya. Perkuatan strukturnya menggunakan paku. Setelah sekian tahun lamanya desa Huaulu ini memiliki konfigurasi rumah-rumah tradisional yang tipikal, kemudian di waktu yang sama tepat ketika saya dan teman-teman mengunjunginya di tengah tahun 2013 muncullah satu rumah yang berbeda. Saya bertanya-tanya, apa yang akan terjadi setelahnya ya? apakah satu rumah ini akan membawa dampak bagi orang-orang setempat? Mungkinkah kehadirannya dapat membuat penduduk lain meniru apa yang dibawa oleh pendatang tersebut karena rumah dengan papan kayu terbukti lebih kuat ketimbang menggunakan pelepah pohon sagu? Ego pribadi saya, dampak yang terlihat adalah ketidakserasian antara rumah yang baru dengan rumah yang sudah ada terlebih dahulu. Sehingga rasanya ada yang mengganjal ketika memandang hamparan rumah-rumah tersebut, ada satu yang berbeda. Saya agak kurang paham sih teori-teori apa yang dapat menjelaskannya. Di luar itu semua, perubahan tampaknya akan selalu terjadi. Positif negatifnya, silahkan dinilai masing-masing saja.

Selain itu menurut saya ada golongan lain lagi, yakni masyarakat daerah dari kalangan berada yang berkeinginan untuk menjadi modern, namun belum sepenuhnya memiliki pengetahuan perihal arsitektur. Yang kemudian terjadi adalah mereka mengadaptasi bentuk-bentuk megah tanpa benar-benar menerapkan prinsip-prinsip arsitektural. Beberapa saya temui rumah megah besar, namun sirkulasi udara tidak berjalan maksimal sehingga begitu pengap ketika malam hari semua pintu ditutup.
Golongan masyarakat lainnya, nanti saya pikirkan lagi.
Sekarang mari kita lihat dari sisi para arsiteknya. Saya rasa merupakan pilihan  masing-masing arsitek untuk menentukan arah mana jasa arsitek yang mereka tawarkan. Pasar mana yang akan mereka sasar. Objek arsitektur apa yang akan mereka buat. Banyak tokoh-tokoh besar arsitektur di negara ini yang telah melahirkan karya-karya luar biasa. Dari aliran futuristik hingga yang melokal. Dari yang nilai proyeknya miliaran hingga yang super hemat di bawah 100 jutaan atau bahkan puluhan juta. Dari yang kliennya hanya kalangan elit hingga yang rela membantu tanpa bayaran. Saya salut dengan arsitek yang mampu membuat karya yang baik tanpa harus mengeluarkan biaya banyak. Jadi permasalahan arsitektur untuk siapa tidak lepas dari peran para arsitek itu sendiri. Tinggal seberapa bijaksanakah keputusan yang diambil arsitek dalam berlaku arsitektur.
Hmm, sepertinya saya sudahi saja tulisan ini. Lalu apakah sudah terjawab pertanyaan dalam judul di atas? Saya sendiri masih belum benar-benar tahu dan tampak akan terus mencari jawabannya. Setidaknya rindu menulis saya sedikit terbayar, hehe. Semoga berkenan.
Sudah ah, saya mau membaca ulang buku pengantar arsitektur dulu..


Rabu, Oktober 28

Beauty Industry

Saya menyadari ketika akhirnya teman-teman wanita saya satu persatu mulai memperhatikan penampilannya hingga paling tidak mereka memiliki seperangkat alat make up yang minimalnya berisi krim pelembab, bedak, lipstik dan eyeliner, mungkin juga pensil alis. (alat kecantikan di luar wajah seperti body lotion dll tidak masuk hitungan).

Tidak mudah bagi saya untuk mengenali alat-alat kecantikan diatas level bedak dan parfum. Karena saya beranjak dewasa di lingkungan asrama muslim dari usia SMP hingga SMA yang tidak memiliki suatu urgensi untuk ber make up ria. Dan asrama juga menjauhkan saya dari mama saya yang cantik dan katanya sudah menggunakan lipstik sejak kuliah (semacam hilangnya panutan yang paling dekat). Hijab fashion pun belum masuk pada masa itu. Apalagi asrama memiliki aturan mengenai model hijab yang harus dipakai. Dulu setahu saya, orang dandan hanya jika ada acara khusus seperti pernikahan dan wisuda. Jadilah masa remaja saya yang pengetahuan standar kecantikannya cuma level kerudung mancung (jaman SMP) dan asal rapih dan bersih aja. Mungkin pada masa itu bagi remaja yang tidak berkerudung semacam rambut lurus panjang, poni miring, behel juga boleh, lalu senyum bibir tipis dan selfie dengan angle kamera dari atas. Ya, semacam itu yang saya lihat di foto profil Friendster orang-orang.

Lalu memasuki bangku kuliah, lingkungan saya pun diisi dengan teman-teman wanita yang sudah mulai aware dengan penampilannya. Memang sudah selayaknya wanita urban usia 20-an, make-up pun menjadi salah satu identitas dewasanya seseorang. Dan akhirnya saya punya teman dengan gaya rambut yang berbeda-beda, karena sebelumnya di asrama semua teman saya berhijab. Dan saya rasa, rambut panjang masih mendominasi klasemen pemilihan standar kecantikan. Meski ada beberapa yang mempertahankan style tertentu seperti rambut pendek cepak.

Lalu entah mungkin sekitar tahun 2011/2012 ke atas mulai ada beberapa hijaber yang merubah gaya hijabnya. Sedikit perubahan dari yang model biasa kerudung paris segiempat menjadi ada tambahan inner hijab / daleman kerudung yang terlihat. Sebelum akhirnya berkembang jadi lilit melilit kain , atau yang lebar ala model syar’i, dan sebagainya. Sepertinya pada tahun itu juga banyak bermunculan teman-teman muslim yang tadinya tidak berhijab menjadi berhijab. Subhanallah ya.. Bersamaan pula dengan awal mula populernya aplikasi instagram, dimana semua foto yang ditampilkan tampak begitu indah dan menarik. So pasti siapa sih yang nggak pengen terlihat cantik di instagram?

Tahun berikutnya, ketika hampir semua orang memiliki ponsel pintar dan sangat mudah mengakses instagram, ditambah dengan menjamurnya online shop, semua orang menjadi tahu fashion! Sangat mudah sekali untuk mengakses apapun: tutorial make-up, membeli baju secara online, referensi mode dari selebgram, Kabar baik untuk industri kecantikan.

Media memang berperan besar dalam hal ini. Misalnya iklan kosmetik. Oke iklan kosmetik mana sih yang modelnya nggak cantik? Jelas kecantikan para model iklan ini sangat mengiming-imingi dan menjanjikan bahwa hasil yang akan didapat akan terlihat seperti mereka. Padahal yang dasarnya udah cantik mah mau diotak-atik bagaimanapun tetap cantik. Jadi kadang mikir, ah ini emang orangnya aja udah cantik, mau pakai kosmetik merk ini itu sama aja, mau dia iklan baju, kerudung, detergen, juga sama aja. Ehehe, tapi ini mungkin sayanya aja yang terlalu skeptis. Bukan bermaksud bilang juga kalo yang tidak cantik nggak akan jadi cantik dengan make-up. Saya pribadi kadang takjub dengan kekuatan make-up yang sukses pada wajah orang-orang. Masih ingat kan kasus seorang wanita yang dituntut suaminya karena setelah menikah wajahnya menjadi berubah drastis ketika make-upnya dihapus? Luar biasa bukan..

Saya ambil salah satu contoh kasus, anggaplah si mawar (bukan nama sebenarnya) merasa tidak percaya diri karena teman-temannya kini mulai berdandan ketika beraktifitas. Mawar mulai mencari-cari tutorial make-up di internet, berbekal meminjam make up milik temannya, atau Mawar meminta temannya mengajari cara berdandan. Mawar yang merasa wajahnya tidak jelek-jelek amat, tetapi juga kurang cantik merasa takjub ketika sentuhan make-up mampu membuat wajahnya menjadi sangat cantik. Lalu teman mawar memuji yang juga dengan takjubnya, “Gilaa, cantik banget kamuu..”. Mawar merasa ia harus memilikinya sendiri. Ia pun mulai mengoleksi alat kosmetik pelan-pelan hingga lengkap dan cukup untuk membuatnya cantik ketika beraktifitas.

Percaya deh, dukungan dari teman dapat menambah 200% kepercayaan diri anda. And that’s what friends are for, right?

Juga kerasa banget kok ketika di Jogja banyak bermuculan klinik-klinik kecantikan yang baru. Yang beberapa waktu sempat mendominasi baliho-baliho jalanan. Tapi beneran deh, promosi klinik kecantikan ini memang nggak tanggung-tanggung, baliho selebar jalan kaliurang diisi wajah doang. Ini artinya pasar industri kecantikan mulai meluas. Banyak orang yang ingin tampil cantik dan menarik. Rela membayar lebih untuk menjelma ‘sempurna’.

Belum lagi di negara lain, Korea Selatan misalnya, yang trend cantiknya udah level operasi plastik. Ketika menurut mereka cantik adalah memiliki wajah kaukasian: hidung mancung dan mata lebar. Bagaimana mungkin akhirnya anak muda di sana memilih menyisihkan uangnya untuk bekal operasi plastik? Belakangan saya kepo in tentang operasi plastik di Korsel, dan takjub banget lihat gambar-gambar before-after nya orang-orang yang melakukan operasi.

Sejujurnya saya toh ikut senang ketika pasar kecantikan memberi dampak positif ke teman-teman. Beberapa yang akhirnya membuka bisnis jilbab, atau yang keahlian meriasnya telah merambah menjadi make-up artis,  dan teman-teman yang akhirnya jadi pinter dandan lalu menjadi percaya diri dan bahagia. Ada juga yang selalu tampak berapi-api mempromosikan produk kosmetik merk tertentu yang belakangan saya ketahui adalah bisnis sistem MLM. Hmm, ya ya..

Tapi rasanya kembali lagi ke definisi cantik itu apa sih?

Kalau menurut KBBI:
Cantik /can-tik/ 1 elok; molek (tentang wajah, muka perempuan); 2 indah dalam bentuk dan buatannya: meja ini – sekali; -- molek 1 sangat rupawan (tentang orang perempuan); 2 cantik (bagus) sekali (antara bentuk, rupa, dan lainnya tampak serasi);

Hmm, kalu berdasarkan kamus, cantik memang merujuk kearah fisik. Jadi sah-sah saja jika menilai kecantikan seseorang hanya berdasarkan fisik (wajah) nya saja. Meskipun menurut saya mengartikan cantik masihlah terlalu rumit. Terkadang saya terprovokasi slogan-slogan mengenai cantik yang sederhana saja. Tapi toh saya juga mengagumi orang-orang yang piawai menggunakan riasannya. Tergantung mood deh hehe. Yah, pada akhirnya penilaian cantik pun berdasarkan selera. Subjektif sekali bukan. 

Tenang saja, tulisan ini tidak diakhiri dengan kesimpulan bijak mengenai kecantikan yang apa adanya seperti “cantik dari dalam hati” atau ajakan “Cintailah tubuhmu apa adanya” dan semacamnya. Saya kira hal-hal semacam itu sudah banyak dijadikan topik tulisan, video, lagu, iklan. Atau yang bisa anda temukan pada artikel tipikal hipwe* : “10 tanda-tanda kalau kamu benar-benar cantik”!

Dan tulisan ini pun hanya secuil opini tentang fenomena kecantikan wajah. Hmm, saya jadi penasaran standar cantik 100 tahun lagi kayak apa ya?

The end

PS: Nih saya kasih bonus ketika pertama kalinya saya menggunakan make up,

pucat, dan menyedihkan

Kamis, Oktober 15

Antara Ego, Kata Hati, dan Teman Lama

Hari ini libur tahun baru Islam, jadi saya putuskan untuk mengisi kembali kehampaan blog yang tampaknya per 3-5 bulanan baru diisi lagi (insert laugh but crying emoticon here). Tapi kok klise banget ya nulis intro macem gini hehe. Sok sok bersalah nggak pernah nulis, dan akhirnya mengawali tulisan dengan kata –kata ‘sudah lama tidak menulis! akhirnya mengisi kembali and so and so…’ Nah berhubung ada yang request buat nulis lagi juga, so here we go..

Teringat obrolan dengan seorang kawan mengenai ego dan kata hati. Terkadang kita nggak pernah benar-benar tahu apa yang kita inginkan bukan? Am I doing it right? Or not?

Katanya, ada hal-hal yang kita kekeuh melakukannya padahal di sisi terdalam hati kecil ada perasaan ‘this is just not right’ yang akhirnya diabaikan. Karena memang hanya sekedar bisikan kecil yang lewat begitu saja. Padahal pada suatu waktu ‘this is just not right’ itulah yang muncul kembali dan membuktikan bahwa jalan yang kita ambil sebelumnya adalah ‘salah’. Dan ini sih menurut pengalaman seseorang yang saya belum pernah benar-benar merasakannya, atau saya bahkan tidak pernah sadar merasakannya? Hmm, bisa jadi. Katanya sih itu namanya ego, memaksakan kehendak. Dan jika ego sudah muncul, maka ia akan membenarkan segala hal yang dilakukan. Makannya lihat kembali, apa yang dilakukan itu betul-betul menuruti kata hati? Atau semata-mata memaksakan ego? Dan lalu mempertahankannya hingga bertahun-tahun dan hanya mendapat kecewa ketika yang diinginkan tidak berhasil terpenuhi.

Hmm sejujurnya sayapun kurang bisa membedakan mana yang ego dan mana yang kata hati sesungguhnya hehe. Bukankah orang yang benar-benar yakin dengan yang dilakukannya –terlepas dari itu ego atau bukan- adalah orang yang kepribadiannya begitu kuat? Mungkin saya yang tidak terlalu memikirkan sebutan dari sebuah perasaan yang namanya kata hati. Tapi entah apapun yang orang-orang lakukan, termasuk saya, jika memaksakan ego maka ada suatu waktu kita akan belajar darinya. Bahwa sesuatu yang dilakukan harus dipertimbangkan baik-baik.

Padahal saya sering banget melakukan sesuatu tanpa pikir panjang, pada awalnya haha. Memang ketika ada sebuah kesempatan yang tiba-tiba datang, dan kita berpikir tidak akan ada kesempatan kedua maka siapa sih yang mau pikir panjang? Nah, barulah ditelaah dan pertimbangkan segala hal setelah mengambil keputusan tersebut. So if there’s a chance, go grab it! Tapi tanggung sendiri resikonya hehe. Tapi yang penting, bagaimana caranya untuk menjalani dan mengatasinya jika ada hal-hal yang tidak sreg di hati. Dan jangan pernah lupa untuk mendengarkan kata hati.

Ganti topik ah…

Belakangan saya ketemu teman-teman lama, sebut saja reuni MTs. Senang sekali waktu akhirnya melihat wajah-wajah mereka kembali setelah, emm, 9 tahun lamanya? Dari yang tadinya belum puber sampai sekarang jadi tante-tante cantik. Apalagi yang dulu pernah jadi teman geng dan melakukan hal-hal konyol bersama. Rasanya ada momen luar biasa dimana para wanita-wanita ini berpelukan dan berteriak ketika bertemu kembali. Bukan satu atau dua orang, tapi puluhan. Dengan wajah yang semakin dewasa (you have no idea betapa bocahnya saya waktu itu). Ya, saya rasa sensasi reuni yang paling kena ya bagian ketemu di awalnya itu saja haha. Sensasi kaget ketika melihat orang yang sama telah banyak berubah. Telah menjalani hidup masing-masing. Dan dalam periode waktu 9 tahun itu kisah hidup masing-masing telah merubah mereka sekarang dari yang pernah kita ingat. Ada yang dipeluk lama bersamaan dengan munculnya kenangan-kenangan masa bocah. Ada yang sekedar cipika-cipiki, karena dulu kami tidak pernah mengenal secara dekat. Ada yang dilupakan namanya (yang ini sih sedih).

Di lain kesempatan saya juga bertemu teman lama lain yang sudah jadi staf kementrian sekarang. Dan pas ada dinas ke Jogja saya jadi malah nebeng nginep di hotel bintang banyak yang tak disangka ternyata suasana di dalamnya wow so luxurious, ketimbang yang cuma kelihatan dari pinggir jalan selama ini. Hotel-hotel semacam ini di Jogja ternyata banyak dan akan bertambah banyak lagi dan lagi. Dan kita mengobrol banyak di pagi hari. Yang tidak kusangka dia sangat berterimakasih dengan obrolan pagi itu. Rasanya bahagia ketika ada orang berterimakasih secara tiba-tiba tanpa saya sadari saya telah melakukan entah apa yang membuatnya berterimakasih. Ah, memang selalu ada hal-hal menakjubkan di pagi hari. Bersamaan dengan dimulainya hari ternyata semesta juga mengisi jiwa-jiwa yang mau bersyukur dengah kebahagiaan. Saya sering menyesali karena belakangan malah tidur kembali setelah Sholat Subuh. Jadi semoga pagi berikutnya bisa lebih bermakna.




"One small positive thought in the morning can change your whole day" -Unknown


Agak kemana-mana sih topiknya, yang penting nulis deh hehe Well, this absurd thoughts is dedicated to Mbak Feb tentang obrolan mengenai ego dan kata hatinya. And also to Aspe tentang obrolan di pagi hari.

Senin, Mei 18

Such an Elderly

Saya menulis lagi. Rasa-rasanya belakangan saya hanya menulis jika saya ingin menulis, dan saya ingin menulis ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan sistem perputaran di hidup saya. Namun jujur saya pun tidak ingin beberapa kisah yang saya tulis diketahui banyak orang, beberapa kali saya pengen ngetwit atau nulis gamblang di blog,  tapi terlalu terumbar rasanya, saya kan pemalu haha. Sudah terlalu lama saya vakum dari dunia tulis menulis di dunia maya. Entahlah, mungkin saya bosan dengan keadaan yang terlalu cepat ini. Hambar. Saya juga memiliki banyak stok foto-foto yang kiranya bagus untuk saya posting, sehingga beberapa kali berniat membuat akun instagram. Tapi lagi lagi, berujung pada kehambaran. Mungkin sebenarnya saya lebih ke arah plin plan, apakah seharusnya saya masuk ke dalam euforia trend hidup manusia jaman sekarang? atau saya hanya memandanginya saja dari kejauhan? menertawakan pun tenggelam dalam keragu-raguan. Hmm, dasar tukang plin-plan.

 so here’s the story begin.. dari tadi juga udah mulai sih, haha.


Sebetulnya toh ini tulisan mainstream anak muda 20an yang belum benar benar paham arah hidupnya mau kemana. ya, lagi-lagi.
Tapi sadar nggak sih semakin kamu banyak melihat kehidupan, semakin banyak bertemu orang. Semakin segala sesuatunya kembali lagi ke nol. Semacam mempertanyakan diri sendiri sebenernya kamu ini siapa? dimana? sedang apa? mau apa? yakin dengan yang kamu lakukan?
Saya sedang membantu sebuah proyek penelitian dosen saya mengenenai ruang hidup lansia di suatu kampung padat di Yogyakarta. Dan ini cukup menyenangkan karena saya harus mengunjungi 150 responden lansia di setiap rumah mereka. Betapa kehidupan seseorang bisa dengan jelas terlihat dari sebuah ‘ruang’ yang disebut rumah. Bagaimanapun wujud rumahnya, si pemiliklah yang pada akhirnya menjadikannya sebagai cerminan watak-watak, identitas, dari apa yang telah mereka perbuat semasa hidupnya.

Pun karena yang diwawancara adalah lansia, dimana mereka telah melalui pahit manis kehidupan. Dan memiliki segudang kisah dan nasihat hidup. Sangat menyenangkan bisa mendengarkan bagaimana mereka bercerita tentang rumah mereka. Saya pada dasarnya senang mendengarkan orang lain bercerita. Terkhususnya para lansia, yang jika bercerita, sorot matanya seolah menghisap saya dan saya turut masuk ke dalam setting peristiwa yang mereka ingat seperti menonton layar lebar. Tapi bioskopnya di dalam pikiran mereka, haha ngaco. Dan ketika menanyakan mengenai peristiwa yang terjadi dahulu kala, maka mereka akan memalingkan arah pandangan sembari mengernyitkan dahi, mencoba mengingat ngingat. Lalu saya akan menemukan senyum jika yang mereka ingat adalah kisah kisah bahagia. Dan tentu saja, saya pun ikut senang. Simple ya.
Meski kadang ceritanya jadi ngelantur kemana-mana, dan saya jadi perlu diingatkan rekan saya agar segera menuntaskan wawancaranya haha. Terima kasih Bapak dan Ibu yang rumahnya saya rusuhi, terima kasih atas cerita ceritanya, terima kasih. Semoga sehat selalu. Pada akhirnya kita semua akan menua, dan kiranya rumah pun perlu dipersiapkan agar bisa dinikmati di masa tua, bukannya menyusahkan.
Menua itu pasti. Dewasa itu pilihan. Ciah. Katanya orang-orang sih.
Saya kira saya pun sedang berproses dalam tahap ‘dewasa’. Bagaimana berdamai dengan permasalahan-permasalahan. Segalanya harus dipikirkan matang-matang, and just calm down for anything, girl. Usia 20an udah bukan jamannya nangis nggerung-nggerung kalo lagi banyak masalah, atau teriak teriak manja kalo lagi puyeng. Atau bertingkah tanpa mempertimbangkan akibatnya. Hmm, sotoy ya saya. Eh, tapi saya juga nggak gitu gitu amat kok haha. Jadi kalo pada saatnya terpuruk, pun kayaknya nggak terlalu baik kalo terlarut terlalu dalam. Atau kalau terlalu senang, hmm, ya disyukuri aja sih. Kadang terlalu senang itu pun bisa menjatuhkan jika dibalik kesenangan ternyata ada masalah besar. Duh ribet yak hidup haha. Yang sedang-sedang aja deh, just be slow and steady,

Atau mungkin saya sedang dalam masalah besar?

Jumat, September 2

The Messenger

I've read this one:




On this holiday, i found that my father was reading this book. He left it on his bed so i decided to read it as well.
Judulnya MUHAMMAD, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik karangan Martin Lings. Kadang ayah saya sedang tidak membacanya dan pada kesempatan itulah saya sempatkan membaca.
Saya memang telah mempelajari sejarah tentang Nabi sejak bangku SD kelas 5 (kalo nggak salah). Namun saya merasa belum benar-benar mengenal beliau seperti yang seharusnya, mengingat telah belajar selama itu.

Kadang saya berpikir, kenapa saya nggak ngerasain "cinta" terhadap beliau seperti yang diperintahkan dalam Al-quran dan Hadits. Dan saya yakin banyak juga yang ngerasain hal sama. Mungkin pengetahuan saya yang kurang, atau saya yang selalu meremehkan pelajaran SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), atau saya yang belum dapet hidayah, naudzubillah. Sehingga rasanya mencintai Rasulullah SAW hanya sekedar 'ya, saya cinta beliau karena orang tua dan guru saya menyuruh demikian' padahal hati belum benar-benar merasakan.

But reading this book, i think, make me more figure out about the best person in the world. Wich deserves to be loved more than anyone else. Even your parents or sister.

Mungkin saya banyak melupakan pelajaran SKI, terutama kisah hidup Rasulullah SAW. Sehingga saya ingin mendalaminya lagi. Lebih memahami karakter Nabi Muhammad SAW. Dengan begitu saya akan lebih paham mengapa saya harus mencintai beliau. Mengirimkan sholawat dan salam kepada beliau dan para sahabatnya.

Maybe it's to late for me to do this, But i try to do something better (apalagi habis lebaran). Dan kita tidak akan pernah tahu kapan kematian datang, juga hari kiamat.

Mengenai buku ini, (saya kutip dari bagian belakang buku):

Martin Lings mampu menghadirkan kesederhanaan maupun keagungan cerita. Karena itu, Muhammad dapat dibaca dengan sama nikmatnya baik oleh mereka yang sudah akrab dengan biografi Nabi maupun para "pendatang baru" yang membacanya untuk pertama kali.


Buku ini terpilih sebagai biografi Nabi terbaik dalam bahasa Inggris pada konferensi Sirah Nasional di Islamabad tahun 1983. Sejak itu karya ini telah dipublikasikan dalam bahasa Prancis, Italia, Spanyol, Turki, Belanda, Tamil, Arab, Jerman, Urdu, dan sekarang, Indonesia. Pada 1990, setelah buku ini berhasil mencuri perhatian Universitas al-Azhar Kairo, penulisnya menerima bintang kehormatan dari Presiden Hosni Mubarak.





Nah, bagian favorit saya saat masa perang. Bagaimana perjuangan beliau melawan pasukan kafir Quraisy pada perang Badr. Pasukan Muslim saat itu mendapat bala bantuan dari malaikat Jibril dan pasukannya. Membuat pasukan kafir Quraisy kalang kabut mendapat serangan 'ghaib'.

Juga kisah-kisah lainnya yang patut dibaca. Dan diteladani. Maka dari itu wahai anak muda nggak ada salahnya kok baca buku ini. InsyaAllah manfaat :) sebelum terlambat (lho?).

Minggu, April 24

Toleransi

Just wanna share about this :)
enam tahun sekolah di boarding school berbasis Islam, enam tahun pula saya belajar teori mengenai toleransi antar umat beragama. Tapi untuk kehidupan nyata, faktanya saya baru merasakan praktek toleransi waktu jadi mahasiswi. dari lahir sampai kelas tiga SMA saya belum pernah punya temen yang beda agama. Temen disini artinya yang bener-bener kenal dalam waktu lama lho. Bukannya sekedar kenalan pas acara jambore, atau lomba2an. Bukan sekedar aku tami, kamu siapa? lantas namanya saya lupa begitu saja. Terkukung di asrama membuat saya berteman dengan orang-orang yang homogen.  Dan saya baru menyadari bahwa begitu banyak karakter orang di dunia.
Begitu banyak orang Islam yang tidak melaksanakan sholat. Begitu banyak orang Islam yang meminum bir. Tak jarang pula orang non Islam yang fasih ber-kosakata Islam. Sampai saya bingung dia ini apa agamanya.
Dan saya baru merasakan berteman dengan orang-orang yang seperti itu. Shock awalnya, karena sangat berbeda dengan kehidupan asrama yang biasa saya jalani.
Tapi perbedaan itu bisa menjadi indah. Saya selalu ambil sisi baik dari setiap orang yang saya temui. Meski susah, kadang saya berusaha buat ngingetin khususnya orang Islam, buat ngelaksanain kewajibannya.
Sekali lagi, saya sadar, dunia itu sangat luas. Maha Besar Sang Pencipta.

Senin, Februari 14

Hanya Jenuh

One of you guys, has ever told me : ada saatnya kalian merasa jenuh (entah mengapa) kepada kami. I might be too early. Tahu apa saya soal jenuh? but yes, there's nothing words i can say but jenuh. Ask me why, my answer: i don't know.
It's just two months, i firstly joined on this great club. And i've gained so much great experiences. ini cuma jenuh, it doesn't mean i don't like this.
Let me take my time, to breath, to keep away from terrible cigarette smoke, from people who didn't actually pay attention to me (yes, i know i don't have so much contributions)

that was all my conscience,
never mind,

Kamis, Januari 27

Pesan si mbah

Ada catetan menarik dari salah seorang senior gue. Senior banget deh, makanya dipanggil mbah, mbah jarod.
Sebenernya ini pesen buat anak-anak satu bumi, tapi makna pesennya sih menurut gue global, ngena buat siapa aja terutama generasi sekarang. Yang hidup di jaman serba berteknologi.
so buat yg baca, ambil maknanya yaa
(ijin copas ya mbah)
Laptop berbicara seni?..tapi lebih baik kertas yang berbicara seni..:)
oleh Jarody Hestu pada 19 Januari 2011 jam 0:30

Dear bray, yang selalu saja tetap ayu-ayu dan bagus-bagus di tengah aktivitas kalian di lembah code..:)

Just intermezzo saja. Kutulis di fesbuk dengan tag nama-nama kalian, yahh..berhubung sudah tak jaman lagi menulis di septictank yang tinggal kenangan masa lampau. (~nyindir pengurus yang tak juga nongol dengan janji septictank barunyah~) :p

Hmm, tanyalah topik apa yang kubicarakan..dan kujawab, ini tentang fotografi.

Adik-adikku (yahh, karena tentu saja yang ku-tag di note ini lebih muda dari aku)..sangat bodoh sekali jika aku membicarakan teknik fotografi di sini, karena tentu saja banyak sekali dewa-dewa fotografi di lembah Code yang mengintipku dari balik pintu dengan sinis..hihihi. Yang kubicarakan di sini adalah tentang...hmmm, begini saja..ini filsafat fotografi, bagaimana fotografi bisa "membuat kita berkeliling dunia". :)

Beberapa hari yang lalu aku iseng melihat puluhan album foto lama di lemari sekret kita. Ada sekitar 50-60 an album foto yang terbingkai semenjak 10-12 tahun yang lalu. Lucu, mengharukan, dan serasa ingin kembali kepada pendakian-pendakian masa lalu. Toh, mereka (kakak-kakakmu) yang ada di foto itu tentu saja sekarang autis dengan kesibukannya di meja proyek, laut, pertambangan ataupun merawat anak-anak mereka. Kembali mendaki bersama mereka tentu saja kini menjadi sesuatu yang fantastis untuk diwujudkan saat ini. Untukku dan selalu menjadi keinginanku mendaki bersama mereka kembali.

Lalu adakah yang salah dengan album-album foto itu. Gotcha..ada yang aneh, karena aku hanya dapat melihat petualangan di masa yang lalu. Tak dapat kulihat petualangan kita di masa sekarang. Melihat lagi album-album foto itu, tak ada album foto yang baru. Tak ada petualangan-petualangan kita di 2009 dan 2010. Hampir semua album adalah petualangan di bawah tahun 2008. Ahh, bosan tentu saja melihat tampang narkobis si Karat di situ, ataupun tampang kemanthil si Kampret, si gundul jon Gabot gajah bothak, tampang mesum Isnan pantat besar, si jail Nurcholis Dee, klan pemuja bulan dan kakak-kakakmu yang lain.

Lalu di album foto mana dapat kulihat tampang-tampang gaul adik-adikku yang sering berkeliaran di lembah Code sekarang ini ?

Pertanyaan yang retoris bukan, karena tentu saja kita semua setuju dengan sebuah jawaban, ...facebook.

Semua petualangan baru kita telah terapdet seketika di jaman facebook ini, dan memenuhi space di komputer sekret sebesar 18 GB (beberapa minggu yang lalu sebesar 24 GB, lalu saya perkecil size sebagian besar foto). Teknik fotografi digital benar-benar membuat pemuda-pemuda modern menjadi raja digital pula. 

Lalu, di mana filsafatnya??

Fotografi klasik mempelajari penyajian fotografi dari mengambil gambar hingga menyajikan ke penikmat foto dalam bentuk cetakan kertas. Inilah..metamorfosa seperti inilah yang tetap harus dilalui seorang pemotret, pun kamera telah berganti digital. Cetaklah foto di atas kertas..karena seni sebenarnya seni akan terlihat di atas kertas. Tak mungkin kiranya seorang fotografer ulung menyelenggarakan pameran foto dengan ratusan laptop menyala di dinding pameran, bukan ratusan kertas. Ya, kecuali si fotografer adalah seniman gila dengan karya seni instalasi berjudul "Laptop Berbicara Seni".

Fotografi, "dari dunia mengajak kita berkeliling dunia"..lihatlah foto itu dik, begitu cantik bukan dan niscaya kau pasti ingin menginjak tempat itu. Fotografi menyampaikan pesan kepada mereka yang melihatnya dari atas kertas. Riuh orang, sendu alam, gembira nestapa segalanya ada. 

Kau lihat foto Everest, dan semoga 25 tahun lagi kau mampu mendaki puncaknya. Fotografi menggoda kita untuk selalu berpetualangan, selalu mendaki gunung di usia mapan, selalu berani menjelajahi wilayah-wilayah yang belum tentu rimbanya. Dan seketika kau takjub bahwa di bingkai kertas album lusuh itu terkumpul foto bersama kita 20 tahun yang lalu hingga entah, lalu kau haru. Perasaan seperti itu hanya ada ketika kau melihat foto di bingkai kertas, bukan di monitor laptop.

Coba cerna kesimpulannya, maksudku sudah jelas kok..:)

Aku mengajak kita semua untuk kembali mengabadikan petualangan-petualangan kita. Berpetualanglah sebanyak-banyaknya dan jepretlah foto sebanyak-banyaknya, lalu cetak di atas kertas, kabarkan kepada dunia tentang petualangan kita. 

Hehe, ngapunten bray..diriku hidup dari berpetualang, dan fotografi bersama tulisan adalah cara paling indah untuk menghargai petualangan-petualanganku..sampunn, pareng sedherek mawon, matur nuwunn :)

..kasihan sekali foto-foto itu merana di dalam laptop..

~ hestu
19 januari 2011

p.s. eh iya..sampai saat ini aku belum pernah sekalipun melihat foto-foto ekspedisi Leuser kita, yahh..aku tak menemukannya di lemari album sekret kita. :)

Selasa, Januari 25

when i'm talking about love



Being an 18'th girl wouldn't be far away with something called love.
Gue memang pernah punya rasa dengan seseorang (who doesn't?). Tapi gue nggak yakin kalo ini disebut cinta. because i used to be afraid if this feel would just disappear. 
Apa cinta itu abadi?
Yang gue hindari sebenarnya adalah "ritual" dari hubungan itu sendiri. Being with him, just "two of us" is extremely not in my mind. Mungkin kalo konteksnya adalah teman, murni tanpa ada perasaan sama sekali, gak jadi masalah buat gue. Tapi kalau ada rasa, meski ada kesepakatan bahwa kami adalah teman, gue tetap merasa aneh.
Dengan adanya seseorang di hati kita, bukankah pasti ada suatu keharusan buat menjaga perasaan itu. Bagaimana jika perasaan itu hilang? salahkah orang yang nggak bisa menjaganya benar-benar?
gue memang pernah melakukan kesalahan, berjanji dengan seseorang bakal menjaga perasaan itu sampe kapanpun. but then i realize that was a big false. And i've apologized.


Gue selalu berpikiran, hubungan orang yang pacaran tuh nggak bakal lama. Pada akhirnya pasti bubar, apalagi buat yang berumur antara 16-20an tahun.
That's why, gue nggak pengen terlalu bermain main dengan cinta.


normalkah?
lalu darimana gue belajar cinta?


just let it flow. i believe in my heart. Mengikuti kata hati gue, senyaman mungkin.


that's all i call menjaga hati,
Gue memang bukan golongan cewek abege layaknya remaja-remaja which having a boyfriend is a must thing to do.
bukannya gue gak punya cinta, bukannya gue menghindari cinta, tapi untuk saat ini (entah untuk berapa tahun ke depan) rasanya lebih bahagia kalau gak ngurusin cinta.


gue percaya, jodoh nggak kemana.


nomatter what people said
i walk on my own way
just me being me




"Love is a temporary madness. It erupts like an earthquake and then subsides. And when it subsides you have to make a decision. You have to work out whether your roots have become so entwined together that it is inconceivable that you should ever part. Because this is what love is. Love is not breathlessness, it is not excitement, it is not the promulgation of promises of eternal passion. That is just being "in love" which any of us can convince ourselves we are. Love itself is what is left over when being in love has burned away, and this is both an art and a fortunate accident. Your mother and I had it, we had roots that grew towards each other underground, and when all the pretty blossoms had fallen from our branches we found that we were one tree and not two."
            -St. Augustine

Selasa, Juli 20

life life life

seolah baru saja saya mendapat pencerahan (ahahaii)
life isn't that hard, tapi perlu perjuangan menjalankannya.
hidup bukanlah sesuatu yang konstan,
ada kalanya bangkit, juga jatuh

kenapa harus menyerah
jika ada banyak kesempatan untuk bangkit


tapi pohon besar yang kokoh juga bisa tersambar petir
kalo jadi pohon saya akan tumbuh menyamai tinggi pohon-pohon lain,
karena si petir bingung mau nyamber yang mana, *lol


change is needed when you have desire


i think i need a change

merubah hal-hal negatif,
oke, mengurangi setidaknya,

Sabtu, Juli 10

when i'm falling down

Saya tidak banyak bicara mengenai kelebihan saya. Karena kenyataannya saya lebih banyak memiliki kekurangan. Tapi siapa yang tahu, saya sebagai manusia biasa hanya memiliki pemikiran sempit. Hanya Tuhan yang tahu kadar dari keduanya.

Saya seringkali menganggap diri saya payah. Dalam hal apapun.
Yang pertama ibadah. Hidup di insan cendekia memang amat sangat mempertebal keimanan saya. Saya giat melaksanakan ibadah sunah, setiap senin dan kamis saya usahakan untuk berpuasa. Memiliki teman kamar yang rajin tahajud juga memotivasi saya untuk bangun tengah hari. Saya merasa sering dekat dengan Allah.
Sekarang saya telah meninggalkan sekolah dan berada di rumah untuk menunggu kuliah saya. Dan apa yang terjadi, saya mlempem. Nggak pernah sekalipun puasa sunah. Ingat hari saja tidak. Saya seolah terjun kembali ke dalam kesesatan. Meski sholat lima waktu tidak pernah saya tinggalkan, saya merasa payah, payah, payah, payah.
Keluarga saya memang bukan muslim fanatik. Asal kewajiban dilaksanakan dengan sempurna, tidak menjadi masalah, itu yang saya bisa tangkap dari perilaku mereka. Saya tahu harusnya saya yang mengajak, memulainya dari awal. Tapi saya belum sampai pada tahap itu. Oleh karena itu sekali lagi saya payah.

Saya seperti orang idiot, bodoh, pengecut, gagu.
Lagaknya saja berani, padahal saya penakut. Saya tidak bisa menyampaikan pemikiran saya. Saya terbelakang dalam masalah sosial. Selalu menjadi pengikut, bukan pemimpin. Saya tidak bisa memanfaatkan kepintaran saya.
Mau bicara di hadapan khalayak banyak seperti mau dihukum pancung rasanya. Gemetar, gagap, pucat, payah.


suck,


Saya mungkin mengerti perasaan orang, tapi tidak sanggup untuk memasukinya. Saya tempat curhat yang payah. Solusi saya tidak pernah tepat.
Bisa jadi ini alasan saya tidak benar-benar memliki sahabat sejati. Saya punya, tapi sahabat sejati saya yang selalu curhat, tidak saya. Saya selalu memendamnya dan berlagak bisa memecahkan solusinya sendirian.
Saya tidak pernah ingin menjadi populer.
Saya tidak punya apa-apa!
Kisah cinta saya juga begitu aneh, dan saya yakin ini gara-gara saya.
Saya sering berpikiran pesimis, mungkin ini yang menjadi penghambat.




Ugh, this is dumb,


tolol.


i just don't wanna talk about my superiority


peace
tami

Minggu, Maret 14

Berlarilah, nikmati hidup!

Hei, kali ini aku mengubah kata ganti pertama yang biasanya menggunakan 'gue', sekarang entah mengapa ingin sekali menggantinya menjadi 'aku'. Tau diri deh, wong ndeso nan katro' saking Jowo gini kok berani-beraninya make bahasa gaul gaya-gaya A-GE-JHE (Anak Gaul Jakarta). Yah, tidak penting, lupakan saja. Yang jelas mungkin sewaktu-waktu aku bisa kembali lagi menggunakan 'gue' atau 'saya' atau apapun itu mengikuti kata hatiku saat itu.

Tiba-tiba merasa bahwa hidup itu harus dinikmati, tadi pagi, saat lari pagi ke sebuah taman kota samping sekolah bersama kawan. Setelah berminggu-minggu lamanya dikurung oleh tetek bengek urusan sekolah (berkali-kali try out UN, pra-UN, persiapan tes masuk PTN), aku berlari. Lari yang tak biasa. Aku merasa amat sangat lama tidak berlari. Jasadku mungkin akan berkata -aku bebas!-. Ya, ini yang kukhawatirkan. Aku tak pernah berolahraga. Dalam jangka pendek memang tak akan terlihat perubahan drastis keadaan tubuhku, atau tinggiku yang memendek, atau punggungku yang membungkuk. Tiba-tiba saja saat tua, aku menderita osteophorosis, encok, penyakit orang tua lainnya. Tidak, tidak, aku tidak mau itu terjadi. Jadi tadi pagi aku berlari, dengan pikiran yang berontak 'aku harus olahraga, apapun itu!'

Tidak lebih dari setengah jam, aku berlari. Meski sesekali berhenti, hal yang dulu tak pernah kulakukan. Kau tahu, dulu setiap ku berlari, aku akan berusaha tidak akan berhenti hingga sampai tujuan. Aku selalu berhasil melakukan itu. Aku tahu aku bisa meski mau mati rasanya. Tapi, yang terjadi sekarang tidak. Aku mudah sekali lelah. Tak lebih dari seratus meterpun sudah ngos-ngosan.
Mengapa ini? apa daya tahan tubuhku mengalami penurunan? apa karena aku tak pernah melatihnya?

Mungkin yang terakhir itu masalahnya. Aku tak pernah berlatih T_T. Aku terpengaruh kawan-kawan yang setiap minggu selalu nongkrong di depan komputer living room dan entah mengapa, selalu menonton hal yang sama : Korea.
Kalau boleh kubilang, mereka sudah sakit akut memuja-muja lelaki tampan -oke, kuakui memang tampan- bertigabelas. Menari-nari dengan dahsyatnya. Atau boyband yang satunya lagi, SHINEE, yang sama saja seperti ketigabelas lelaki itu. Jujur, aku pernah terjebak dalam 'pemujaan' mereka berhari-hari. Dimana aku mencoba menghafal nama ketigabelas lelaki itu. Dengan susah payah aku membedakan wajah oriental mereka. Dan sepertinya aku berhasil menghafalnya (aku lupa apa aku berhasil atau tidak). Dan hingga kini, hanya beberapa saja yang masih kuingat seperti kyuhyun, yang menurutku paling ganteng (hehe), atau shiwoon, donghae, hae cul, bla.. bla.. tidak tahulah bagaimana menulis nama mereka (kawan-kawanku akn memrotesnya jika mereka membaca ini). Oh tidak! sudahi saja SUJU-nya.

Tunggu, tambah satu lagi korea-koreaannya, setelah demam boyband, muncul baru demam 'girlband'. Masih seperti lelaki-lelaki itu, para wanita-wanita koreapun tak mau kalah. Kadang aku mengagumi mereka. Tubuh indah, muka rupawan cantik jelita, pintar menari, suara merdu. Tapi aku berpikir, hidup mereka pasti tak indah, dipenuhi tuntutan karir. Menjaga tubuh, membatasi makanan, berlatih menari setiap hari.
Aku bersyukur, tidak menjadi seperti mereka. Terimakasih Allah.

Kali ini benar-benar menyudahi.

Melanjutkan topik sebelumnya. Menikmati hidup, meski sesungguhnya kau dalam banyak masalah. Menikmati hidup, meski kau baru saja dicampakkan seseorang. Jangan, jangan membencinya. Karena kau akan menyesal telah membenci seseorang. Dalam hidupku, aku akan selalu berusaha untuk tidak membuat orang lain marah. Selama tujuh belas tahun ini. Tapi siapa yang tahu kau sedang dibenci seseorang atau tidak. Mungkin aku pernah bersalah, setiap orang pasti pernah. Aku memang tidak lebih baik dari sekian banyak orang baik. Tapi aku berusaha menjadi orang baik, dengan caraku sendiri. Kadang aku menyesal melihat orang lain bisa melakukan sesuatu yang tak bisa kulakukan. Aku membenci diriku sendiri. Mengapa aku tidak? Bahkan aku pernah menyalahkan kedua orang tuaku. Kuanggap mereka salah mendidikku. Mereka tidak mengajarkanku seperti apa yang diajarkan orang tua dari anak-anak gemilang. Sampai sekarang pun perasaan itu sering muncul. Dan ternyata diriku sendirilah yang bisa menenangkan, dari perasaan menyesal. Bahwa aku dilahirkan sudah dalam keadaan terbaikku. Dalam keadaan sempurna. Apapun yang kulakukan adalah hal terbaikku. Karena apapun yang diberikan Tuhan memang yang terbaik. Dan aku menyesal telah menyalahkan kedua orang tuaku. Hingga akhirnya aku merasa bangga telah menjadi diriku yang sebenarnya. Aku berterimakasih kepada orang tuaku juga Allah.

Bersyukurlah, ribuan, jutaan kali kepada Allah, Tuhan pencipta alam.
Bahwa kau adalah orang terbaik yang pernah diciptakan-Nya, apapun itu keadaanmu.


Jadi itu yang kurasakan saat berlari tadi pagi. Lepas, bebas, meski terengah-engah.

Sebenarnya aku tidak begitu mengerti mengenai tulisanku kali ini. Sepertinya tidak terlalu berhubungan dengan topik 'menikmati hidup'. Entahlah, aku selalu bingung dalam menentukan topik. Yang penting aku ingin menulis apa yang aku tulis ini.

Sebagai orang yang awam dalam tulis menulis. Tak masalah bukan??


salam,

tami,

Minggu, Februari 14

The Meaning of Life

Hari ini valentine loh..

Siapa peduli? nggak penting.
Ulang tahun papa aja, tgl 8 Februari kemaren, gak gue kasih ucapan. Kejam ya?. Nggak juga tuh. Justru papa sendiri yang bilang, yang terpenting tu do'anya. Buat apa kasih-kasih ucapan, tapi do'anya nggak dari hati. Maksudnya cuman sekedar buat nyenengin orang, eh ternyata dia nggak sungguh-sungguh berdo'a. Gue aja perasaan terakhir kali dikasih ucapan ultah sama ortu sekitar 12 tahun yang lalu waktu umur lima tahun, perayaan ultah yang pertama dan terakhir kalinya (kali).

Mungkin karena sejak awal udah dididik begitu, gue pun tumbuh menjadi seseorang yang tak peduli akan pesta pora ulang tahun dan sejenisnya. Haha, nggak selebay itu kok tapi. Intinya sih, ucapan cuman sebagai formalitas saja. InsyaAllah do'anya dari hati kok, amin. Nyawa berkurang kok dikasih selamat.

Ngomong-ngomong soal nyawa, akhir-akhir ini gue jadi lebih bisa menghargai arti kehidupan, ceilah.

Sekitar sebulan yang lalu, (lupa tanggalnya, pokoknya hari selasa) salah satu adik kelas meninggal. Aviq namanya, dia dipanggil Allah waktu menjelang maghrib. Seisi sekolah syok. Kami semua merasa kehilangan. Jujur, meski gak kenal bahkan gak inget mukanya (baru inget waktu dikasih liat fotonya), gue juga sedih. Sedih karena kehilangan salah satu bagian keluarga. Salah satu teman seperjuangan dalam menuntut ilmu. Semoga saja Aviq diterima di sisi-Nya, dan hidup tentram di alam sana. Amin.

Belum usai kedukaan, datang lagi berita lainnya. Waktu nelpon mama hari kamisnya, katanya Mbah Mu, salah satu tetannga, meninggal dunia hari inggu sebelum Aviq dipanggil. Berita yang kedua ini menambah kesedihan gue. Gue nangis. Mbah Mu tetangga yang baik banget. Sejak kecil beliau selalu menjadi teman yang baik. Sewaktu main-main keluar rumah, pasti beliau sedang duduk di depan rumahnya. Biasanya gue dateng, salim, ngobrol. Sejak SMP-SMA di asrama, gue di rumah cuma pas waktu-waktu tertentu kayak lebaran ato liburan semesteran. And she used to say : Ooo.. Tami, lha kok wes gedhe nemen? saiki sekolah nang endi?
Yah, gue cuma bisa senyum. Meski udah bilang, kalo gue sekolah di Tangerang, Beliau tetep aja nanya. God bless you, Mbah,

Kemarin, baru nelpon mama lagi. Sekarang mama bawa berita lain lagi. Katanya simbah, Ibunya Papa, dibawa ke rumah sakit. She has been old, very old. You know, i drop my tears, when mom said that. I love her, so much. Selama ini gue males ikut papa ke toko kain (rumah simbah) buat bantu simbah ngurusin kasir. Beliau selalu nyuruh, "Tami, kok ra tau teko, ngger kene wae, rewangi simbah",, lagi-lagi gue senyum doang. Males buat bantu. Duh, ndableg banget sih gue. Sekarang aja jadi sedih, tau beliau sakit.

I'm afraid, something bad will happen. Gue cuma bisa berdo'a trhdp kesehatan beliau.

And i've just realized, how old my dad is. He's fifty now. Selama ini gue menyangka, beliau masih 40-an. Pas ngitung-ngitung lagi, lho kok ternyata udah lima puluh. Semoga papa selalu diberi kesehatan yang baik. Selalu dalam limpahan karunia-Nya.

Dari cerita-cerita di atas, disimpulkan bahwa seseorang bisa kehilangan nyawanya, kapanpun dan dimanapun. Gak ada yang tau, Kecuali-Nya. Siapa sangka Aviq meninggal sore itu, padahal siangnya masih hidup normal. Gue juga bisa meninggal kapan saja. Nggak ada yang tahu, wallahu a'lam

Gue jadi lebih menyadari pentingnya manusia hidup. Mencari bekal guna di akhirat nanti. Yah, semoga gue bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi, berguna bagi nusa dan bangsa.

Peace.

Tami.

Minggu, Januari 31

Finding my own destiny

Nasib jadi anak kelas 3 SMA rata-rata sama :

berpusing-pusing cari kuliah

mending kalo udah tau minatnya kemana, enak tinggal pilih univ manapun. Lha ini, jurusan aja nggak tau, gimana cari kuliah. Ada beberapa juga sih, yang punya pikiran : 'bodo amat jurusannya apa, yang penting gue masuk ITB (misalnya)'.

Kasian amat ya orang kayak gitu. Nggak enaknya kalo udah keterima, eh ternyata nggak suka sama sekali jurusannya itu.
Untung gue bukan termasuk orang kaya gitu. Gue harus punya minat dimana dulu, baru deh pilih tempat kuliah.

Alhamdulillah, gue udah punya pilihan. Dan sampe sekarang masih tetap berdo'a biar pilihan gue itu nggak salah, dan nggak nyesel udah milih. Gue memutuskan untuk memilih 'arsitektur' sebagai pilihan pertama. Alasannya sih simple, nggak mau ketemu fisika kima, meski ada sih fisikanya, tapi katanya nggak detail-detail amat. Lagian gue juga suka seni. Setidaknya gue bisa menyalurkan hobi yang InsyaAllah menghasilkan manfaat. Ya, bismillah aja.

Masalahnya, sampai gue menulis postingan ini, form online pendaftaran UM UGM-nya error. Gue udah ngisi sampe enam lembar, ditambah waktu buat mikir-mikir pilihan kedua-ketiga, ditambah lagi waktu buat nginget-nginget password yang kelupaan. Pas udah fix, tinggal simpen, malah nggak bisa-bisa. Mana formnya nggak bisa disimpen lagi kayak pendaftaran UI yang bisa bikin account.

Nasib emang, dapet kuliah perlu perjuangan. Hiks.

Kalo mau enak lagi sih, jadi orang pinter. Kayak nasib 10 orang temen gue yang sejak 2 minggu yang lalu udah bisa berleha-leha. Gak usah mikirin test masuk PTN lagi. Mereka beruntung udah resmi jadi mhasiswa-mahasiswi Univ. Indonesia lewat jalur PMDK.

rada menyesal juga sih, kenapa nggak dari dulu-dulu aja jadi orang rajin, tekun, pinter. Kalo nilai rapot bagus, ditambah lagi label almamater sekolah yang bisa dibanggakan. Udah deh, siapapun mau nerima. haha.

(akhirnya pendaftaran online UM UGM-nya selesai)

dan postingan inipun sampai disini..

Wish me luck :)