Sabtu, November 12

Cerita Pagi

Pagi yang dingin tadi saya memutuskan untuk lari pagi di GSP. Pagi tadi Jogja dingin, dan saya harus bergerak. Jadi bersiap-siaplah saya setelah sholat subuh yang memang sudah agak telat karena langit sudah terang, haha.
Lalu saya keluar kamar dan mulai membuka gembok pintu gerbang kosan. Pintu terbuka dan saya dikejutkan oleh dua ekor kucing di dekat pintu yang juga terkejut dan melotot ke arah saya. Lucu! haha. Mereka jadi patung sejenak sebelum akhirnya menghindari saya beberapa meter. Ah, kucing punya tetangga yang lucu tapi sayangnya sombong. Tidak mau dipegang yang bukan pemiliknya. Baru kemudian saya sadar ada banyak laron beterbangan ke segala penjuru. Kucing-kucing ini sedang bermain dan menangkapi laron rupanya.

Saya lanjutkan perjalanan sambil mengamati jalanan. Tampaknya pesta tangkap laron ini juga dimeriahkan oleh peserta lainnya. Selain kucing, ayam-ayam juga bergerombol mematuki laron tanpa sayap yang telah jatuh di tanah. Maju lagi ada rombongan kucing lain yang sedang lompat-lompat. Di lapak yang lain saya juga melihat anak-anak kecil berbekal kantong plastik kresek sedang memunguti laron. Wah, menang banyak dong pakai plastik dik, kucing dan ayam harus kerja lebih keras lagi nih. Ngomong-ngomong ini bocah-bocah nggak pada persiapan sekolah apa? Oh, masih pagi ya, tak ada salahnya menyempatkan diri bermain laron terlebih dahulu.

Jadi tadi pagi cukup meriah, hanya melihat ayam-kucing-anak kecil saja cukup membahagiakan pagi saya. Saya lupa kapan terakhir kali bahagia karena laron. Yang ada sih sering mengeluh karena laron yang bertebaran bikin kotor teras rumah. Atau kesal karena harus repot mematikan lampu yang mengundang ratusan laron. Cuma orang dewasa saja ini yang sekarang hidupnya pada nggak nyantai.

Postingan singkat ini saya dedikasikan untuk laron, yang hidupnya cuma sebentar. Tadinya saya mau update di timeline line tentang pagi tadi. Tapi saya urungkan karena dipikir-pikir nggak penting isinya, haha. Mending tulis di sini saja deh itung-itung menuh-menuhin blog lagi. Anyway, saya mulai uninstall aplikasi path di ponsel pintar saya. Selain karena boros paketan data, hidup saya ternyata lebih tenang tanpa melihat-lihat kehidupan orang. Nanti deh kalo saya mulai kangen dengan teman-teman baru saya install lagi. haha.

Semoga orang-orang dewasa bisa lebih sering berbahagia, juga mampu membuat bahagia tanpa harus mereka sadari.

Kamis, November 10

Overcoming Fear: Sleep Paralyze, and How I Deal With It

Yang sering tindihan atau sleep paralyze mana suaranyaaaaa?

Saya mau cerita, penting nggak penting sih, tentang serba-serbi alam bawah sadar yang pernah saya alami. Ini mungkin kisah singkat saya dalam menangani masalah sleep paralyze atau yang disebut tindihan oleh orang lokal. Saya yakin ada banyak orang pernah mengalami sleep paralyze. Apa yang jika terjadi, otak atau pikiran akan merasa sadar padahal tubuh tidak bisa bergerak. Bagi anda yang tidak pernah mengalaminya, congratulation! karena ini sangat mengerikan. Sangat mengerikan sampai-sampai ketika mengalaminya saya seperti dekat dengan maut dan akan diambil nyawanya. Berlebihan ya? haha.

Sebutlah sejak SD saya mulai mengalami tindihan ini. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain berusaha untuk bangun ketika sleep paralyze terjadi. Artinya saya harus melawan dengan bersusah payah menggerakkan tubuh saya yang notabene masih dalam keadaan off. Tidak mudah, bahkan menggerakkan satu jari saja beratnya minta ampun. Yang pernah mengalaminya pasti paham maksud saya. Nafas seolah tersengal. Ingin berteriak tapi tercekat di tenggorokan, kadang teriakan-teriakan tersebut hanya muncul sebagai suara aneh yang oleh orang disebut mengigau. Menjadi lebih buruk ketika saat kejadian saya berpikir yang aneh-aneh karena sungguh hal yang dipikirkan kala itu menjadi dilipatgandakan. Contohnya, ketika saya tindihan saya mulai berpikir mengenai suara-suara aneh di sekitar saya, dan suara-suara tersebut menjadi demikian nyata terdengar. Jadi jika saya memikirkan suara perempuan tertawa, maka suaranya akan jelas masuk ke telinga saya. Pikiran saya kala tindihan terjadi adalah saya nggak mau mati.

Sebagian orang mengaitkan peristiwa seperti tindihan ini dengan hal-hal mistis. Beruntung sejak dimulainya tindihan saya sudah bisa berpikir lebih rasional untuk mengaitkannya dengan hal-hal logis. Saya dahulu percaya peristiwa ini bisa dijelaskan secara medis meski tidak tahu apa tepatnya. Yang jelas, kondisi otak/syaraf dan tubuh yang tidak sinkron.

Bagaimanapun, selogis-logisnya saya waktu itu TETEP AJA NGERI setiap kali fase-fase tindihan datang. Meski tidak setiap hari, tapi relatif sering untuk kejadian yang tidak saya inginkan. Seringnya terjadi ketika saya memulai tidur malam saya. Kadang muncul di waktu-waktu saya merasa lelah. Bahkan waktu saya mengantuk dan tertidur dalam posisi duduk seusai menjalankan ibadah sholat. Satu dua kali ketika tidur di kelas masa SMP/SMA, haha.

Saya cerita bagian seremnya dulu ya. Ada masa-masa saya cukup lelah dan mulai mengaitkannya dengan hal yang nggak rasional. Sebagai catatan, indra yang sering terasa nyata ketika tindihan adalah pendengaran, lalu penglihatan, dan jika sedang sial, indra peraba pun bisa merasakannya! kenapa sial? karena siapa di dunia ini yang mau ada benda asing muncul dan tersentuh ketika kita bahkan tidak bisa menggerakkan tubuh dan tidak bisa berteriak minta tolong? Sebutlah saya sedang tidur siang di asrama ketika kelas satu. Entah kenapa saya mulai paham akan terjadi tindihan. Saya setengah sadar tanpa bisa bergerak, seperti biasa. Ada yang aneh ketika saya merasa bagian tangan kiri saya terasa sangat berat dan tertindih sesuatu. Saya bahkan tidak dapat menengok untuk melihatnya, namun terasa ada sesuatu yang asing. Saya tidak menyebutnya sosok karena tidak cukup besar untuk itu, tapi semakin saya memikirkan 'itu' adalah sebuah sosok, maka semakin tersirat bayang-bayang rambutnya! saya semakin kencang berdoa, karena tangan kiri saya sungguh merasakan tertindih sesuatu. Entah bagaimana saya berhasil bangun dan turun dari kasur tingkat (posisi kasur saya di atas) lalu langsung keluar kamar dan menangis! teman-teman kamar saya tidak ada di kamar waktu itu. Yang saya heran proses saya berdamai dengan ketakutan tersebut bisa begitu cepat. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menjadi normal kembali dan beraktifitas seperti biasa. Mungkin saking seringnya ya?

Saya ambil dua peristiwa lagi ya yang cukup berkesan. Flashback ke masa SMP yang juga di asrama. Saya sekamar dengan tiga teman saya. Ketika sudah waktunya tidur kami berempat tertib mengenai waktu tidur, sekitar jam 10 malam. Kala itu saya punya kebiasaan aneh menutup mata dengan bantal jika saya menginginkannya. Mungkin juga semacam perlindungan diri agar tidak melihat apapun ketika tindihan. Setelah meletakkan bantal di muka, saya mulai terlelap dan mungkin telah melewati beberapa fase mimpi. Lalu mulailah tindihannya, dimulai dengan suara pintu yang perlahan terbuka (you know how terrible that sound is!). Sayangnya, posisi kasur saya menghadap ke arah pintu, sehingga tubuh saya membujur ke arah pintu dan tidak ada halangan bagi saya untuk memandang langsung ke arah pintu. Babak berikutnya adalah ada sosok yang mengintip. Mari mulai kisah horornya, sosok itu tampak menggunakan mukena selayaknya mukena yang kami gunakan ke masjid. Bisa saja saya berpikir itu pembimbing asrama yang sedang mengecek. Namun saja saya langsung tahu dia bukan mbak-mbak yang saya kenal karena dia seperti menggunakan bedak tebal putih di mukanya. Lalu saya teringat, perasaan tadi saya menaruh bantal di muka saya, seharusnya saya tidak melihat apa-apa kan? Lalu momen itu seperti beku sekian lamanya, kalo boleh bilang, terasa berjam-jam. Saya tidak melakukan hal lain selain berdoa dan berusaha sekuat tenaga untuk bergerak, sementara mbak-mbak asing itu mengintip saya melalui pintu yang setengah terbuka. What the f. Lalu beberapa saat kemudian saya berhasil bangun hanya untuk melihat, saya baru saja tertidur selama 15 menit! dan bantal masih menutup muka saya. Saya masih harus melalui malam yang panjang sebelum hari menjadi normal kembali. Tanpa pikir panjang, saya memutuskan tidur bersebelahan satu kasur dengan teman saya tanpa membangunkannya, karena saya begitu tidak ingin mengganggunya. Barulah pagi harinya saya cerita karena keheranannya menemukan saya di sampingnya.

Oke, satu kisah lagi. Saya sudah kuliah, dan tindihan masih menjadi teman akrab saya. Waktu itu dalam rangka menjadi anggota organisasi pecinta alam, saya bersama teman satu angkatan melakukan perjalanan panjang ke Sulawesi Selatan. Pada malam pertama kedatangan di Makassar, kami menginap di rumah kerabat senior. Saya yakin kejadian kali ini disebabkan karena kelelahan yang sangat karena siangnya mobilitas kami begitu luar biasa. Kami tidur beramai-ramai dalam ruang tengah, berjejer seperti pindang. Kanan kiri saya teman-teman perempuan saya yang langsung tertidur lelap. Beberapa orang masih mengobrol di ruang tamu. Saya langsung tahu saya belum masuk ke alam mimpi yang indah ketika terlihat sosok gelap, seperti bayangan, di depan saya. Tiba-tiba dia mulai mengeluarkan tangannya ke arah saya. Seolah-olah mau mengambil sesuatu. Sudah pasti saya tidak mau 'diajak' sosok terebut, dan saya berusaha teriak sekencang yang saya bisa. Teriakan saya rupanya betul-betul keluar sehingga terdengar teman-teman yang masih mengobrol. Saya teriak 'Jangan!' (jangan diambil). Saya langsung terbangun dan beberapa yang mendengar menanyakan saya. Teman sebelah pun ikutan terbangun dan menenangkan saya. Saya menahan tangis sepanjang malam, hehe, hingga akhirnya benar-benar tertidur. Paginya, igauan saya cukup menjadi lelucon. Semua maklum karena kami banyak memforsir tenaga sebelumnya, mimpi buruk saya adalah salah satu dampaknya. Mungkin teman-teman saya sudah melupakannya, namun sampai sekarang masih teringat jelas di benak saya.

Menurut teman saya, peristiwa semacam tindihan ini disebabkan oleh keadaan-keadaan di dunia nyata yang cukup menekan saya. Ketika alam sadar saya tidak terlalu meresponnya dan cenderung menyembunyikan dampak-dampak tekanan hidup inilah yang akhirnya muncul di dalam alam bawah sadar saya. Sehingga terjadilah momen-momen tindihan. Entah harus membenarkan atau tidak, karena alam sadar saya sendiri masih merasa baik-baik saja. Bisa saja benar karena mungkin saya langsung menyembunyikannya ke alam bawah sadar tanpa bisa saya sadari? Ah tidak tahulah..

Cukup terbayang kan, bagaimana saya harus berurusan dengan mimpi buruk yang terasa nyata selama bertahun-tahun? Hingga akhirnya saya terdampar di forum kaskus pada pertengahan kuliah, sekitar akhir tahun 2012, mungkin?

Harusnya saya bisa mencari tahu secara dalam mengenai fenomena sleep paralyze ini lebih awal lagi. Berhubung saya tidak terlalu update masalah dunia maya, di mana kaskus sudah ngetrend bertahun-tahun sebelumnya, saya hanya kebetulan saja mencet link ke forum kaskus tersebut. Saya tidak memiliki akun kaskus dan hanya menjadi silent reader, namun saya menemukan banyak informasi mengenai apa yang disebut Lucid Dream. Membacanya saja seperti membaca modul kuliah. Penjelasan lengkap beserta metode-metode yang saya juga nggak baca semuanya. Yang jelas, sleep paralyze ini masuk ke dalam penjelasan logis mengenai fase-fase tertentu yang harus dihadapi otak menjelang tertidur. Oke penjelasannya sudah banyak tersebar di mana-mana. Intinya, saya dapat satu kunci bahwa ketika sleep paralyze terjadi yang harus dilakukan adalah rileks dan tidak melawan. Awalnya saya pikir bagaimana mungkin? bisa-bisa kebablasan? namun akhirnya saya mau mecobanya ketika tindihan berikutnya terjadi.

Yang mengejutkan, metode ini berhasil!
Dalam penjelasan, disebutkan bahwa sleep paralyze adalah salah satu cara untuk memasuki lucid dream, di mana ketika bermimpi seseorang akan menyadari bahwa ia sedang bermimpi. Hebatnya ia bisa melakukan kontrol atas mimpi tersebut. Ketika ingin merasakan terbang, atau berjalan-jalan di awan, dan hal-hal menakjubkan lainnya yang tidak akan pernah terjadi di dunia nyata dapat terjadi ketika lucid dream. How awesome is that?

Saya sendiri sudah merasa puas dengan metode rileks dan tidak melawan ketika sleep paralyze terjadi. Karena hanya itu yang selama ini saya butuhkan, bagaimana saya tidak perlu merasa resah akan datangnya momen buruk dalam tidur-tidur saya. Saya simpulkan saya telah sembuh dari tindihan, meski tidak sepenuhnya. (Tetap merasa ngeri ketika merasakan sensasi menyeramkan dalam kepasrahan, halah)

Mengenai lucid dream, ini bonus bagi saya. Beberapa anggota forum kaskus begitu rajin mempraktikkan lucid dream tersebut. Saya baru benar-benar merasakannya ketika dalam tindihan berikutnya saya berniat untuk masuk ke dalam lucid dream. Saya tidak akan cerita detail karena tampaknya tulisan ini mulai bertele-tele nantinya, haha. Lalu ketika fase Sleep Paralyze terlalui saya memulai mimpi sadar saya dengan melihat telapak tangan saya sendiri dan secara ajaib (kok ajaib sih, memangnya sulap?) kesadaran dalam mimpi saya menjadi tahan lama. Metode lainnya adalah dengan menutup hidung dan menyadari saya masih bisa bernafas. Sensasinya kocak aneh. Yang membuat bahagia, ketika saya akhirnya berhasil mencoba terbang. Sesungguhnya masih bisa dihitung jari pengalaman lucid dream saya. Tidak terlalu memiliki obsesi menjadi lucid dreamer juga sih. Tetapi setidaknya saya bisa memanfaatkan hal yang menakutkan untuk sesuatu yang memungkinkan untuk menjadi hal yang menyenangkan. Lalu apakah saya masih sering tindihan? jawabannya: tidak sesering dahulu. Jika yang dikatakan teman saya mengenai tekanan dalam hidup itu benar, apakah artinya saya mulai tidak tertekan? semoga saja demikian, hehe..

Ah, ada satu yang lupa saya ceritakan. Bagaimana ternyata ibu saya sendiri pun mengalami peristiwa sleep paralyze yang lebih ekstrim dari apa yang saya alami. Tapi saya tidak ingin menakut-nakuti diri saya karena sudah tengah malam. Sekian.


Selasa, November 8

Arsitektur Untuk Siapa?

Setelah memaksakan diri beberapa waktu terakhir untuk menulis, di tengah-tengah minat menulis yang kian menghilang saya mencoba memilih topik ini, hehe.
Mungkin pertanyaannya bukan ‘Arsitektur Untuk Siapa?’ Mestinya sebelum ke sana, diawali dulu dengan ‘Arsitektur Untuk Apa?’ Hmm, Kalau boleh jujur saya selalu menghindari pertanyaan-pertanyaan filsafat semacam ini, haha. Selayaknya ada pertanyaan ‘Kamu hidup di dunia itu untuk apa?’ mending pura-pura amnesia aja deh sambil berbinar-binar memandang bintang-bintang di langit. Saya nggak pernah merasa pintar untuk bisa mengurai jawaban yang bisa membuat saya terlihat keren. Jadi rasanya jawaban-jawaban yang muncul hanya berulang-ulang berputar di benak saya tanpa pernah bisa keluar baik melalui verbal maupun tulisan. Lalu akhirnya tersesat dan mentok. Sekian.
Semoga kali ini tidak.
Jadi, setelah hampir 2 tahun dinyatakan lulus dari universitas itu sebagai sarjana arsitektur, saya belum benar-benar mengenal dunia ini. Nggak tau sih ya kalau yang lain.
Sepengamatan saya terhadap orang-orang di sekitar, arsitektur itu selalu dianggap eksklusif, sophisticated, hanya bisa diraih kalangan tertentu. Saya rasa itu benar! Berapa persen dari seluruh masyarakat kita menggunakan jasa arsitek untuk membangun rumahnya? Jika skalanya sudah gedung tiga lantai ke atas atau fasilitas publik skala besar, okelah sudah pasti menggunakan jasa arsitek, setidaknya ada campur tangan ahli bangunan. Faktanya yang mampu membangun gedung di atas dua lantai sudah pasti memiliki uang untuk tukang gambar bukan?
Lalu bagaimana untuk rumah tinggal?
Saya teringat seorang ibu juragan toko bahan bangunan di suatu daerah. Suatu ketika kantor saya sedang ada proyek di dekat tempat ibu tersebut. Otomatis semua material untuk proyek dipesan ke toko beliau. Beberapa kali ibu ikut mengantar material ke proyek dan melihat perkembangan rumah yang sedang dibangun. Ketika sedang transaksi, ibu berkata: “Gimana sih kok bisa bagus gitu rumahnya? saya bikin rumah kok jelek ya” yang kemudian oleh teman saya dijawab “Iya Bu, soalnya kami memakai jasa arsitek, jadi bisa bagus”
Dari percakapan sederhana itu, saya menyimpulkan bahwa sang ibu menganggap rumah dalam proyek tersebut masuk dalam kategori ‘bagus’. Sebagai catatan, rumah yang sedang dibangun tersebut adalah rancangan rumah ala-ala developer, bentuk kavling dengan tipe tertentu. Terbayang kan? Baguskah? Relatif, sebagian orang akan menganggap bagus dan sebagian tidak. Sebagian orang bermimpi memiliki rumah di salah satu kavling tersebut, sebagian mengutuki pembukaan lahan untuk kavling-kavling perumahan baru. Biasa terjadi bukan? yang iya dan yang tidak. Yang senang dan yang benci.
Sejujurnya saya sedikit bersimpati karena ibu yang notabene juragan tajir di wilayahnya dan harusnya mampu membayar jasa arsitek, tidak mendapatkan rumah yang diinginkannya karena dirasa jelek. Ibu yang mestinya bisa memiliki rumah dengan kualitas ruang yang baik tidak mendapatkannya karena ketidakpahaman beliau mengenai jasa arsitek. Padahal ibu ini paham betul masalah material bangunan.
Saya sering web-walking, melihat-lihat website para arsitek atau konsultan yang sudah terkenal di Indonesia, atau yang menuju terkenal. Sok atuh googling daftar konsultan arsitektur Indonesia dan buka websitenya satu persatu. Karya-karyanya keren, tampilan websitenya dengan desain yang sangat masa kini -simple yet elegant. Sungguh terpoles dengan sempurna! Yang saya amati, hampir semuanya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama websitenya. Syukur-syukur jika ada pilihan bahasa Indonesianya. Jadi siapakah kemungkinan calon klien yang akan menggunakan jasa mereka?
Saya memahami bahasa Inggris membuat kesan yang modern, futuristik, dan berkelas. Saya juga masih sok keminggris kok pada tulisan-tulisan di blog ini, hehe. Juga saya akui dalam berbahasa setengah Inggris ini saya memiliki tujuan-tujuan politis untuk terlihat lebih berkelas. Positif saya, penggunaan bahasa Inggris ini memang sebuah upaya untuk maju, agar tak tertinggal zaman, dan agar dunia internasional mengakui arsitektur Indonesia pantas bersaing di kancah global. Agar karya anak bangsa kita diakui dunia!
Sampai sini saya semakin bingung. Jadi berarsitektur itu untuk siapa? ‘for everyone’ kata salah satu website. Betulkah? Or ‘for those who can afford to pay’?
Sebentar, sepertinya perlu dibalik pertanyaannya, siapa yang butuh berarsitektur?
Singkat saya berlaku arsitektur maknanya juga tidak sesempit berprofesi arsitek. Manusia awal yang pertama kali membangun rumah, tidak sekedar numpang neduh di gua, juga sudah berlaku arsitektur bukan? Sejak kapan akhirnya muncul jasa perencana bangunan ya? Atau mungkin lama kelamaan manusia merasa kurang puas dan jenuh dengan ruang yang mereka tinggali lalu membutuhkan tambahan estetika sehingga bam! Muncullah terminologi arsitektur. Toh pada akhirnya dalam suatu kelompok masyarakat, yang mampu membangun sebuah rumah terspesialisasi kepada orang-orang tertentu. Jika pada masa purba tiap kepala rumah tangga mampu membuat rumahnya sendiri, semakin kemari hanya tukang yang mampu membuatnya.
Jadi kelihatan sekali ini jika saya masih kurang banyak membaca sejarah tentang dunia arsitektur, haha.
Hmm, jadi sementara bisa saya simpulkan di sini, semua orang berlaku arsitektur tapi masih terbagi-bagi lagi menjadi pelaku dalam profesi arsitek sebagai jasa perencana bangunan dan pelaku dalam bentuk masyarakat yang membangun rumahnya berdasarkan pengalaman (entah itu turun menurun, tradisi, atau meniru dari bentuk-bentuk rumah di sekitarnya).
Pertanyaan berikutnya menjadi siapa yang butuh jasa arsitek? (masih dalam lingkup rumah tinggal)
Pertama, orang yang menginginkan rumahnya terbangun secara berkualitas. Kedua, dia memiliki modal untuk tidak hanya sekedar membangun rumah, tetapi juga menyewa jasa arsitek. Untuk yang ini masih saling berkesinambungan, arsitek juga akan menyesuaikan budget klien dalam merancang rumahnya. Ketiga, hmm mungkin dia mesti paham mengenai adanya arsitek sebagai penyedia jasa perancangan rumah.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pasar jasa arsitek hanya ramai di area urban. Kebutuhan begitu besar di sana. Terlihat persentase teman angkatan saya yang memilih untuk bekerja  (tentunya yang belum keluar dari jalur profesi arsitek) di Jakarta ketimbang di daerah. Mungkin yang membutuhkan memang hanya masyarakat urban, kaum menengah ke atas. Masyarakat yang masih menjaga tradisi dalam pembangunan rumah tinggalnya sesungguhnya tidak memerlukan jasa arsitek, karena mereka sudah turun temurun memiliki tata cara pembangunan rumahnya sendiri. Dengan catatan tradisi tersebut belum tercampuri unsur-unsur modern.

Sedikit intermezzo, saya teringat ketika mengikuti ekspedisi ke Pulau Seram bersama mapala Satu Bumi, kami mengunjungi desa bernama Huaulu di kaki Gunung Binaiya. Penduduk desa tersebut tergolong penganut animisme dan memiliki bentuk rumah yang masih tradisional. Bentuk rumah berupa rumah panggung kayu setinggi kurang lebih satu meter. Dindingnya terbuat dari susunan pelepah pohon sagu yang ditumpuk vertikal. Atapnya menggunakan rumbai. Penataan ruangnya hampir seragam, ruang depan sangat bersifat publik dengan dinding yang terbuka (orang dari luar dapat melihat aktifitas di dalamnya). Ruang yang tertutup hanyalah ruang untuk tidur. Seperti terlihat pada gambar berikut:





Lalu, tersebutlah seorang keluarga pendatang yang akan membangun rumah di antara rumah-rumah penduduk asli desa. Keluarga terebut kabarnya berasal dari Papua. Saya pribadi hanya sempat melihat namun tidak mengobrol dengan mereka, jadi tidak tahu menahu cerita kenapa akhirnya mereka datang ke Huaulu. Keluarga pendatang ini sedang dalam proses membangun rumahnya yang notabene memiliki bentuk berbeda dari rumah penduduk asli:


Saya langsung dapat menilai rumah keluarga pendatang ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Dindingnya tidak menggunakan pelepah sagu melainkan papan kayu yang menutup full sehingga dari luar orang tidak dapat melihat aktifitas di dalamnya. Perkuatan strukturnya menggunakan paku. Setelah sekian tahun lamanya desa Huaulu ini memiliki konfigurasi rumah-rumah tradisional yang tipikal, kemudian di waktu yang sama tepat ketika saya dan teman-teman mengunjunginya di tengah tahun 2013 muncullah satu rumah yang berbeda. Saya bertanya-tanya, apa yang akan terjadi setelahnya ya? apakah satu rumah ini akan membawa dampak bagi orang-orang setempat? Mungkinkah kehadirannya dapat membuat penduduk lain meniru apa yang dibawa oleh pendatang tersebut karena rumah dengan papan kayu terbukti lebih kuat ketimbang menggunakan pelepah pohon sagu? Ego pribadi saya, dampak yang terlihat adalah ketidakserasian antara rumah yang baru dengan rumah yang sudah ada terlebih dahulu. Sehingga rasanya ada yang mengganjal ketika memandang hamparan rumah-rumah tersebut, ada satu yang berbeda. Saya agak kurang paham sih teori-teori apa yang dapat menjelaskannya. Di luar itu semua, perubahan tampaknya akan selalu terjadi. Positif negatifnya, silahkan dinilai masing-masing saja.

Selain itu menurut saya ada golongan lain lagi, yakni masyarakat daerah dari kalangan berada yang berkeinginan untuk menjadi modern, namun belum sepenuhnya memiliki pengetahuan perihal arsitektur. Yang kemudian terjadi adalah mereka mengadaptasi bentuk-bentuk megah tanpa benar-benar menerapkan prinsip-prinsip arsitektural. Beberapa saya temui rumah megah besar, namun sirkulasi udara tidak berjalan maksimal sehingga begitu pengap ketika malam hari semua pintu ditutup.
Golongan masyarakat lainnya, nanti saya pikirkan lagi.
Sekarang mari kita lihat dari sisi para arsiteknya. Saya rasa merupakan pilihan  masing-masing arsitek untuk menentukan arah mana jasa arsitek yang mereka tawarkan. Pasar mana yang akan mereka sasar. Objek arsitektur apa yang akan mereka buat. Banyak tokoh-tokoh besar arsitektur di negara ini yang telah melahirkan karya-karya luar biasa. Dari aliran futuristik hingga yang melokal. Dari yang nilai proyeknya miliaran hingga yang super hemat di bawah 100 jutaan atau bahkan puluhan juta. Dari yang kliennya hanya kalangan elit hingga yang rela membantu tanpa bayaran. Saya salut dengan arsitek yang mampu membuat karya yang baik tanpa harus mengeluarkan biaya banyak. Jadi permasalahan arsitektur untuk siapa tidak lepas dari peran para arsitek itu sendiri. Tinggal seberapa bijaksanakah keputusan yang diambil arsitek dalam berlaku arsitektur.
Hmm, sepertinya saya sudahi saja tulisan ini. Lalu apakah sudah terjawab pertanyaan dalam judul di atas? Saya sendiri masih belum benar-benar tahu dan tampak akan terus mencari jawabannya. Setidaknya rindu menulis saya sedikit terbayar, hehe. Semoga berkenan.
Sudah ah, saya mau membaca ulang buku pengantar arsitektur dulu..