Senin, Desember 7

My Neighborhood in 90’s

Terkadang ingatan masa-masa kecil muncul begitu saja dan lalu mengalir begitu jelasnya. Dengan derasnya ingatan tentang masa-masa saya dan teman sepermainan saya dulu, saya mencoba menulisnya di sini. Agar supaya tahun 2020 ada stok tulisan di blog ini juga hahaha.

Pada siang yang cerah, kami menyadari ada keluarga baru datang menempati tanah kosong di sebelah rumah. Tepatnya selang dua rumah di sebelah rumah kami. Umur saya mungkin masih 3 atau 4 tahun, usia yang tepat untuk selalu merasa penasaran akan hal baru di lingkungan sekitar. Mereka membangun rumah dari kayu, yang sepertinya adalah keahlian mereka untuk mengolah balok-balok kayu menjadi sesuatu yang berguna. Mereka adalah keluarga tukang kayu dari Indramayu dan lahan kosong tersebut lalu menjadi penuh dengan kayu dan bising suara mesin pemotong kayu menjadi akrab di telinga saya pada tahun-tahun berikutnya.

Keluarga baru tersebut ternyata juga memiliki anggota yang sepantaran dengan saya, dua orang perempuan. Sambutan yang saya lakukan untuk mereka adalah sambutan yang buruk. Kakak dan sepupu saya, yang adalah lelaki, tentunya cukup usil mengetahui ada dua anak baru. Saya melihat mereka memakai topeng badut untuk menakut-nakuti anak baru itu hingga menangis. Saya pikir saya tidak ikut mengusili tapi hanya tertawa-tawa saja, yang ternyata sama buruknya. Saya tidak ingat bagaimana mereka memaafkan kami dan akhirnya berkenalan, tapi salah satu anak perempuan itu sama tahun lahirnya dengan saya, namanya Devi. Tidak lama kami pun menjadi teman akrab dan sering sekali bermain bersama-sama. Saya ingat bau kayu di rumahnya ketika saya diajak masuk ke dalam. Juga pompa air dari besi yang pengungkitnya setinggi ukuran tubuhnya, sehingga untuk mengisi air ke dalam ember, ia harus mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil berjinjit lalu menggantungkan badannya agar pengungkit tersebut ikut turun. Ia juga sering main ke rumah saya, bermain masak-masakan atau rumah-rumahan. Tetangga saya, yang rumahnya berada di antara rumah saya dan devi, adalah tiga orang lansia yang anak-anaknya sudah tinggal di rumah masing-masing. Tetangga saya di sisi lainnya adalah tempat usaha oli dan cuci mobil. Depan rumah adalah pertigaan yang cukup ramai lalu lalang kendaraan karena jalan tersebut cukup besar, jalur penghubung antara pantura dan ibukota kabupaten. Kehadiran Devi dan keluarganya membuat saya menjadi memiliki teman perempuan yang pada akhirnya membuat saya lebih berani untuk bermain ke lingkungan anak-anak yang lebih jauh dari sekedar tetangga samping rumah.

Bisa dibilang lingkungan kami adalah kampung pinggiran yang mulai padat. Terutama karena berada tepat di pinggir jalan lebar yang ramai kendaraan dan bukan berada dalam gang. Namun jika menjelajah lebih dalam di area belakang rumah, banyak kebun dan sawah dan suasana kampung yang masih asri. Di situlah saya dan Devi lalu menjelajahi tempat-tempat baru dengan bersepeda, bermain ke kelompok anak-anak yang lain yang lebih besar. Saya dan Devi berada di sekolah dasar yang berbeda, Devi masuk sekolah negeri yang dekat rumah sedang saya masuk ke madrasah yang cukup jauh hingga harus diantar jemput orang tua. Meski berbeda, kami memasuki TPA yang sama. Sehabis pulang sekolah, saya segera bersiap-siap untuk berangkat TPA sambil menunggu Devi menjemput saya lalu kami berjalan kaki bersama.

Sesekali kami bersepeda sedikit lebih jauh. Ke sawah belakang, ke kelompok anak-anak yang tidak saya kenali, atau ke mendatangi sepupu Devi. Devi berbicara dalam bahasa yang tak saya pahami jika ia bertemu dengan sepupunya yang juga keluarga tukang kayu. Saya kagum karena Devi bisa bicara banyak bahasa yang asing di telinga saya. Bahasa Indramayu tentunya bukan bahasa yang saya pahami karena sudah merupakan campuran bahasa Jawa, ngapak, dan mungkin sunda. Saya dan Devi tentunya sering juga berjalan kaki mendatangi kelompok anak lain yang tidak jauh yang lebih bervariasi usianya, lebih muda atau lebih tua dari kami. Dengan jumlah anak yang banyak, banyak pula permainan seru yang dapat dimainkan. Hal yang paling saya ingat dari pertemanan saya dengan kelompok tersebut adalah kami patungan untuk menyewa vcd film India yang saya lupa film apa (mungkin Kuch-Kuch Ho ta Hai). Film tersebut diputar di rumah salah satu anak di kelompok tersebut dan kami menonton beramai-ramai selama beberapa hari.

Di antara rumah saya dan Devi adalah rumah milik tiga orang lansia yang dua di antaranya adalah perempuan bernama Mbah Mas dan Mbah Mu. Mbah Mas lebih muda dari Mbah Mu dan perawakannya kecil dengan nada suara yang tinggi. Sedangkan Mbah Mu adalah kakak kandung dari Mbah Mas dengan badan yang lebih besar dan lebih gemuk, dengan nada suara lebih rendah. Keduanya seolah saling melengkapi seperti karakter pasangan jenaka di komik atau kartun di mana yang satu selalu kurus dan yang satu selalu gemuk. Pakaian mereka bergaya sama, jarik dan kebaya sederhana. Namun mereka selalu mengenakan penutup kepala yang berbeda. Mbah Mas memakai kerudung topi yang ngetrend dipakai ibu-ibu haji pada masa itu, semacam turban yang instan. Sedang Mbah Mu penutup kepalanya seperti kain yang dililit-lilit menyerupai atap rumah gadang (?). Di depan rumah mereka ada pohon mangga apel yang selalu berbuah lebat. Saya senang melihat pohon tersebut berbuah karena saya cukup takjub saat itu dengan konsep buah mangga yang berbentuk seperti apel. Mbah Mas sering memasak peyek dan menjualnya di depan rumah yang juga terdapat warung mungil. Peyek yang dibuat Mbah Mas tidak pernah saya temui di tempat lain. Teksturnya renyah, kacangnya banyak, dan lembaran peyeknya cukup tebal, enak sekali. Di depan rumah Mbah Mas ada pagar tembok yang rendah yang bisa dipakai duduk-duduk dan orang-orang yang lebih dewasa sering berkumpul mengobrol di situ.

Karena rumah kami berada di pertigaan yang cukup besar, pernah suatu ketika pada malam hari ada semacam tawuran di pertigaan tersebut entah kelompok pemuda dari mana. Paginya Mbah Mas memberitahu saya ada yang menyembunyikan senjata tajam di pipa saluran depan rumahnya. Ketika saya mendekat untuk melihat, Mbah Mas menarik sesuatu yang panjang dari pipa saluran tersebut dan menunjukkan saya pedang lengkap dengan tutup sarungnya. Saya begidik dan langsung kabur. Di pertigaan tersebut juga sering terjadi kecelakaan. Ayah saya beberapa kali menolong orang yang jatuh tersungkur, bahkan ada yang mulutnya berbusa ketika beliau membalikkan badannya. Kata orang, rumah di posisi tusuk sate tidak baik peruntungannya. Saya kira wajar karena banyak orang tidak berhati-hati dalam menyeberang dan banyak kendaraan ngebut.

Tetangga saya di sisi satunya lagi, adalah toko oli dan minyak yang memiliki halaman depan cukup luas untuk parkir. Karena pada siang hari digunakan untuk jual beli, maka ketika malam hari dan mereka telah tutup, halaman parkir tersebut dijadikan tempat bermain banyak anak. Saya pun diperbolehkan ikut main karena hanya berada di sebelah rumah. Suatu ketika kami pernah masuk ke dalam belakang toko tersebut yang ternyata amat sangat luas sekali. Rumah tinggalnya masih agak jauh di belakang toko dan area cuci mobil. Pemiliknya adalah pak haji yang usahanya cukup banyak. Kabarnya juga punya istri banyak. Yang saya ingat salah satu istrinya menyukai kucing dan saya pernah menemuinya menggendong kucing saat kami masuk ke rumahnya. Hanya itu saya bertemu dengan istri pak haji. Belakangan Ibu saya cerita bahwa istri yang itu beberapa tahun lalu kabur membawa harta benda.

Cerita-cerita saya bersama tetangga teman sepermainan perlahan mulai berkurang. Akhir sekolah dasar saya mulai ikut les di kota. Saya juga pindah TPA dan tak lagi bersama Devi, yang disesalkan ibunya Devi karena kami tak bisa berangkat bersama lagi. Saya juga menjadi lebih intens dengan teman-teman sekolah yang adalah pertemanan yang berbeda dari lingkungan rumah karena sd saya ada di kelurahan lain. Hal yang paling saya sesali bahkan hingga kini adalah saya pernah membuat Devi amat sangat marah. Saya pernah mendapat oleh-oleh gelang dari bude saya yang baru pulang haji. Saya memakainya saat bermain bersama Devi, lalu ibu Devi melihatnya dan ingin sekali memilikinya. Saya dengan senang hati lalu memberikannya. Beberapa hari kemudian entah apa yang membuat saya berubah pikiran, saya meminta gelang itu kembali melalui Devi. Devi lalu memberikan gelangnya kembali beserta sebuah surat yang isinya adalah kemarahannya karena saya meminta sesuatu yang telah diberikan. Saya takut sekali Devi marah, saya juga menyesal kenapa memintanya kembali, namun terlalu gengsi untuk mengembalikannya lagi. Mungkin kami cukup lama berdiam-diaman. Lalu saya mencoba meminta maaf dengan memberi penjepit rambut cantik sebagai penggantinya dan surat permintaan maaf. Tak lama semuanya menjadi baik-baik saja, tapi ingatan tentang betapa tidak eloknya perlakuan saya saat itu masih terngiang. Belakangan saya berpikir kelakuan saya meminta barang pemberian waktu itu mungkin karena saya memberi hadiah dari bude ke orang lain lagi tanpa sepengetahuan ibu dan mbak pengasuh saya waktu itu sehingga di sisi lain saya juga merasa bersalah.

Memasuki masa smp pertemanan saya dengan Devi lalu cukup drastis terpotong karena saya masuk pesantren di Solo. Kami sempat bertukar foto. Saya pulang ke rumah hanya dua kali setiap tahunnya. Di saat itu saya bertemu Devi hanya beberapa kali. Saya pernah meminta Devi untuk mengirimi saya surat ke alamat pesantren karena saya akan sangat bahagia sekali. Namun tidak pernah ada surat dari Devi. Begitupun ketika memasuki SMA, saya akan semakin jauh tinggal di asrama. Ibu saya bilang, ibunya Devi minta saran dan menimbang-nimbang apa akan menyekolahkan Devi SMA atau hanya kursus menjahit di suatu tempat. Ibu saya menyarankan sekolahlan saja Devi di SMA dekat rumah. Tapi akhirnya Devi pergi kembali ke kampung halamannya. Kabarnya menikah. Saya hanya mendengar cerita dari Mbah Mas ketika saya pulang di masa-masa liburan SMA saya. Saya hanya pernah sekali bertemu dengan Devi setelah ia menikah, di masa-masa saya libur SMA. Tidak banyak yang dibicarakan, karena kami sangat lama tidak bersama. Devi tampak dewasa sekali saat itu, dan gerak-geriknya juga seperti wanita dewasa. Saya tidak banyak bertanya tentang pernikahannya karena saya pikir itu sangat pribadi. Tahun-tahun berikutnya, Devi dan ibunya serta anggota keluarga yang perempuan kembali ke Indramayu. Kabarnya, ibunya Devi lalu bekerja di sawah dan ayah Devi merantau ke Jakarta. Rumah kayu Devi cukup lama tertutup hingga akhirnya dibongkar dan menjadi tanah kosong kembali. Saya tidak pernah tau kabar Devi hingga kini.

Pada masa saya berkuliah, kabar atas meninggalnya Mbah Mu lalu terdengar. Lalu pada waktu-waktu berikutnya, Mbah Mas juga menyusul. Rumah Mbah Mas direnovasi anaknya. Tidak ada lagi pohon mangga apel dan warung kecil Mbah Mas. Satu persatu lingkungan masa kecil saya pun berubah. Begitupula rumah saya dan keluarga, karena satu dan lain hal kami harus menjualnya dan pak haji juragan samping kami berbaik hati membelinya. Saya sekeluarga pindah ke rt lain, tak lagi tinggal di tusuk sate yang ramai. Pak haji juragan lalu membongkar rumah saya serta tokonya sendiri agar cukup luas untuk dijadikan area pombensin, prospek usaha yang sangat menjanjikan. Baru seminggu kemarin pombensin tersebut resmi beroperasi.

Well, it's kinda sad to see my childhood place is slowly disappeared, where I used to spend most of my time before. I couldn't back to see the room I used to sleep, or cry, or play. It is strange that all the memories about my old house show in my night dream. When my dream took place in my old house, it left dark feeling right after I wake up. Maybe because I knew that the house doesn't exist anymore. Like when I met deceased person, but it's a deceased house, I knew the house has 'died' so the dream always been related to dark feeling.


Selasa, April 2

Memories

I just casually opened email in my phone and a reminder from google photo got my attention. It is said I should look at some memories I made from photos I've taken on March several years ago.
It showed me some collage of pictures which immediately I tapped on it,
that was when my memories from 4 years ago come out. It was the day when I had a little vacation with some friends on the beach.


What really bring up my emotion was when I remember that was a vacation with a really good friend of mine who passed away a couple of months ago.


We came to his place where he has community for children around his village.



The pictures are as beautiful as I can remember how it felt like that day. As beautiful as I can remember how he was back then. It's good that I only have good memories of him. How kind and sincere he was and how all people around him just love him the way he was.


The sky was so pretty that day I couldn't stop my self to take a photograph every time it change its color.










 





Kamis, Oktober 18



❤❤❤

Rabu, Juli 11

Tentang Thailand Cave Rescue


Euforia piala dunia 2018 sedang perlahan menuju klimaksnya ketika ada hal lain yang mengalihkan perhatian dunia: tragedi penyelamatan 12 anak laki-laki dan seorang pelatih yang terjebak dalam gua.

Awal mula mendengar berita 13 orang terjebak dalam gua dan kala itu mereka belum ditemukan, saya turut bersimpati. Mendengar 1000 orang lebih termasuk di dalamnya dari luar negara Thailand turut serta membantu dalam tim penyelamatan, saya cukup optimis. Saya masih tidak banyak mencari informasi mengenai kondisi gua, di mana letak gua, siapa yang terlibat, dan sebagainya. Saya hanya salut karena tim sudah bekerja keras saling membantu mencari 13 orang yang tentu saja belum diketahui apakah mereka selamat atau tidak. Hingga akhirnya muncul kabar bahwa tim telah ditemukan dalam kondisi bernafas, saya bahagia.

Tapi belum.

Suatu sore kabar gugurnya Saman Kunan, salah satu sukarelawan penyelam yang membantu menyuplai stok oksigen, menampar saya. Beberapa kenyataan semakin meningkatkan kekhawatiran saya. Bahwa hujan masih akan mengguyur area gua, bahwa oksigen di dalam chamber tempat 13 orang itu bertahan semakin menipis, bahwa diameter terkecil salah satu bagian lorong yang harus dilewati hanya 38 cm, bahwa penyelam yang telah berhasil menemukan penyintas butuh waktu 6 jam berangkat dan 5 jam pergi, bahwa sebagian dari anak-anak tsb. tidak bisa berenang sama sekali, dan bahwa kemungkinan terburuknya adalah chamber tempat mereka bertahan akan tertutup air sepenuhnya jika tidak segera keluar.

Yang pada awalnya pilihan menunggu selama 4 bulan hingga hujan benar-benar berhenti adalah pilihan paling aman, menjadi tidak relevan sama sekali sehingga pilihan terbaiknya adalah: anak-anak dan pelatihnya keluar gua dengan penyelaman yang beresiko tinggi.

My heart beats faster

Mengapa saya begitu terlarut dalam kisah ini?

Saya sendiri pernah melakukan kegiatan penelusuran gua. Meskipun rekor terlama saya berada di dalam gua hanya masuk jam 8 pagi keluar menjelang Isya, saya mencoba berimajinasi bagaimana rasanya berada di posisi anak-anak tersebut. Walau begitu tidak akan pernah ada yang merasakannya selain 13 orang tsb. Tidak ada yang mau kejadian ini terulang kembali bukan?. Terjebak banjir yang untungnya mereka berhasil menemukan area yang cukup tinggi. Saya mungkin, di posisi mereka, membayangkan ketika berhasil menempati tanah tinggi akan mencoba tenang dan berpikir positif bahwa air akan segera surut dalam waktu beberapa jam ke depan selayaknya ketika mereka masuk ke dalam gua. Tapi hari telah berganti dalam kegelapan, alat penerangan semakin redup, persediaan makanan habis, badan semakin lemas tanpa asupan makanan, waktu demi waktu terlalui tanpa kepastian. Buruk, buruk sekali . Saya kira salah satu faktor yang bisa menguatkan mereka adalah tetap berada dalam satu grup tanpa berkurang satu orangpun. Saling menenangkan, bahkan konon kabarnya sang pelatih mengajak bermeditasi untuk menyimpan tenaga.

Fakta bahwa kondisi pencarian yang begitu sulit, tidak hanya harus menelusur gua, tapi juga menyelam di dalam gua lalu cara apa lagi yang bisa ditempuh dalam misi penyelamatan kalau bukan memanggil tim ahlinya?. British Cave Rescue Council (BCRC) saya kira masuk dalam daftar utama tim yang dipastikan akan membantu banyak. Reputasi mereka dalam penyelamatan kecelakaan gua internasional sungguh baik. Terutama lagi kabarnya mereka memiliki penyelam gua terbaik sedunia. Meskipun dalam laman Facebooknya BCRA tidak menyebutkan nama penyelam gua tersebut demi menjaga privasi, media telah menyebarluaskan foto dan nama dua sosok penyelamat tersebut: Richard Stanton dan John Volanthen.

Cave diving adalah salah satu jenis kegiatan ekstrim yang paling mematikan di dunia. Resikonya sungguh tinggi. Kegiatan penelusuran gua sendiri cukup menantang dan berbahaya jika tidak dilakukan sesuai prosedur. Penyelaman juga membutuhkan keahlian khusus serta peralatan yang tidak sederhana. Lalu bayangkan dua olahraga itu digabung, caving & diving, butuh berkali-kali lipat keahlian, keterampilan, ketenangan, kelengkapan alat, stamina, dll. Harus pula melakukan latihan berkali-kali untuk akhirnya menguasai cave diving. Para penyelam yang sangat ahli di lautan pun belum tentu bisa melakukan cave diving.

Penemuan ketiga belas anak itu pertama kalinya oleh dua penyelam dari Inggris membuktikan bahwa masih ada harapan bahkan dalam kondisi yang sulit dan berbahaya sekalipun. Meskipun nyawa seorang Saman menjadi korban, kerja keras tim semakin solid. Semakin banyak tim internasional yang bergabung, semakin banyak dukungan dari penjuru dunia, semakin banyak doa dan harapan yang terpanjat, semakin meningkat pula harapan akan selamatnya para korban tanpa kurang suatu apapun.

Hal lainnya adalah, para penyintas adalah anggota klub bola Wild boars. Bertepatan dengan momen piala dunia membuat kejadian yang menimpa tim speak bola remaja ini semakin menjadi pusat perhatian. Tak terkecuali presiden FIFA dan para bintang sepak bola. Kejadian sini, selayaknya marvel, semacam mengumpulkan banyak universe untuk memberi dukungan. Universe dari caving, diving, sepak bola, dan yang lebih menyenangkan saya adalah bahwa semua orang jadi mendapat informasi mengenai penelusuran gua, kecelakaan gua, bahkan bagaimana melihat peta gua.

Ohya, tak terkecuali saya tuliskan di sini seorang Elon Musk, yang akun twitternya saya ikuti beberapa bulan lalu, juga menjadi bagian dari cerita penyelamatan. Usaha membuat kapsul-selam ukuran anak-anak patut diapresiasi meski pada akhirnya tim penyelamat tidak menggunakannya. Mungkin bisa berguna di kemudian hari, tapi sekali lagi tidak ada yang mau kejadian seperti ini terulang kan? Saya sendiri mendengar Mr. Musk dalam waktu singkat membantu mencari solusi dengan membuat kapsul tersebut sedikit mempertanyakan. Has he, or at least his team, ever done caving? Lalu mendengar bahwa Elon dan tim telah berdiskusi dengan tim penyelam membuat mereka menjadi lebih relevan untuk melanjutkan misinya. Meski dalam hati saya tetap bertanya-tanya, bagaimana dengan bebatuan tajam yang akan merusak tabungnya? bagaimana dengan tim penyelam yang harus mengeluarkan tenaga dua kali lipat mengangkat tabung berisi manusia saat berjalan di jalur non-banjir? Terlepas dari itu semua Elon telah bekerja beberapa langkah jauh di depan daripada sebagian besar manusia di bumi ini, termasuk saya, yang hanya bisa mamantau dari internet dan mendoakan keberhasilannya. Terlebih saat terakhir dia mengkonfirmasi di akun twitternya mengenai korespendensinya dengan penyelam bahwa pembuatan kapsul tersebut karena penyelam meminta ‘please keep working on the capsule’. Good job Elon! And probably you’ll have interest to know more about speleology.

Kecelakaan ini sesungguhnya membuat orang bertanya-tanya. Paling tidak saya pun merenunginya, mengapa bisa terjadi dan salah siapa? Banyak yang menyalahkan sang pelatih, Ekapol (25), karena mengajak anak-anak tersebut masuk gua saat cuaca buruk, meski mereka masuk saat hujan belum turun. Namun melihat bahwa mereka memasuki gua dengan perlengkapan seadanya: baju bola dan celana pendek, tanpa helm, tanpa sepatu boot, mungkin hanya sedikit penerangan. Saya pun melihat mereka hanya penduduk lokal yang sesekali memasuki gua untuk bermain dan tidak dibekali pengetahuan tentang bahaya dan keselamatan diri sendiri. Pengetahuan mengenai prosedur keselamatan menelusuri gua umumnya diketahui oleh para penelusur gua yang mendapat akses informasi dari buku-buku atau petunjuk-petunjuk yang telah disepakati secara global. Sehingga menjadi cukup dimengerti bahwa kesadaran dan pengetahuan mereka, terutama pelatihnya, akan keselamatan masihlah kurang untuk akhirnya terjadilah kejadian yang menjadi sorotan dunia. Namun setelah kecelakaan terjadi yang harus diutamakan adalah keselamatan korban. Tidak ada salah-menyalahkan sesiapa. Kerja tim penyelamat yang solid adalah kunci keberhasilan penyelamatan ini. Terlebih lagi 12 anak-anak dan pelatihnya sangat hebat dan kooperatif terutama dalam kondisi kritis 9 hari pertama setelah mereka terjebak. Sehingga pada tanggal 10 Juli 2018, di hari 17 terjebaknya mereka, seluruh negeri bersorak sorai atas berhasilnya misi penyelamatan The Wild Boars. Sayapun, turut bersorak dalam hati saat melihat siaran langsung dari salah satu saluran di Youtube setelah hari-hari yang cukup menegangkan.


Selasa, April 24

Overheard Emak-Emak Sedang Piknik di Pantai

Di suatu pagi yang cerah alumni sebuah SMP milik Ibu saya yang berarti sekelompok emak-emak dan bapak-bapak berusia kisaran 50 tahunan sedang piknik di pantai. Setiap orang yang datang wajib membawa makanan yang dibebaskan jenisnya.

*Percakapan 1*
Emak A : Eh jeng tadi aku nelpon si Bapak A nanya bawa makanan apa, dia bilang bawa lontong, lumayan ya jeng bisa kenyang makan lontong
Emak B : Lah jeng kok situ percaya aja si bapak bilang gitu
Emak A : Ya percaya lah jeng kenapa enggak
Emak B : Si Bapak ya udah pasti bawa lontong lah, satu lontong sama dua telor.
Emak A : !@*@$(*&$(#
Saya       : (mencuri dengar) *^#(*)$@#)$#*(!!!!

*Percakapan 2*
Emak A : ini loh aku nelpon si Titit nggak diangkat-angkat dari tadi, coba jeng kamu yang telpon
Emak  B : Ya mungkin Titit lagi di jalan jeng, belum bisa angkat telponnya
Saya       : (Bertanya kepada Ibu) HAH, TITIT?
Ibu         : iya, Namanya Tuti, karena ada dua orang yang namanya Tuti jadi yang satu dipanggil Titit.
Saya       : %@#^%@#&^*@$(@$*)_@%)(_!!!


PS: Don’t judge me

Selasa, Maret 27

Internet

Apa kabar dunia persilatan?

Setelah gonjang-ganjing pemanfaatan data akun facebook secara ilegal, some people might delete their account yet many of world populations still using it and don’t even give a shit about what just happened. Kadang lucu juga melihat fenomena dunia maya ini. Migrasi-tutup-buka akun media sosial dari satu ke yang lain adalah hak setiap nitijen yang terhormat. Seorang sutradara terkenal memutuskan menutup akun twitternya, bikin kepala pecah katanya. Probably reading too many mocks or critics on his new movie? (just guessing, lol). Ada yang mulai jenuh dengan kepalsuan foto-foto Instagram, sehingga memutuskan untuk menutup akunnya dan lebih bergembira ria dengan dunia twitter dengan segala jokesnya. Ah ya, sayangnya Tumblr diblokir, padahal saya udah bela-belain memilih Tumblr dibanding Instagram untuk berbagi foto, tapi ternyata tidak direstui juga, haha. Ada juga pas jaman-jaman blogging pada migrasi dari domain blogspot ke wordpress atau sebaliknya, ya mungkin cuma nyoba-nyoba aja sih. Tapi beberapa orang yang blognya saya baca punya alasan sama, bahwa pas masih di blogspot adalah masa masa labil abg yang mana ingin menjadi dewasa dengan tulisan barunya di wordpress, haha. Beda lagi dengan dunia videografer. Sekarang banyak sekali yang menghasilkan uang dari Youtube. I’m enjoying watching Youtube video dengan berbagai macam jenisnya itu, tapi belakangan jadi banyak iklan (yaiyalah tam kan makin banyak yang cari uang disono). Namun di antara banyaknya Youtuber-Youtuber yang bermunculan dan semakin kaya itu, ada juga loh yang lebih memilih membagikan videonya melalui Facebook ketimbang Youtube. Sila dicek Nas Daily, pasti udah pada pernah nonton kan paling engga salah satu videonya yang nyeritain kehidupan orang selama satu menit dengan tagline “That’s one minute, see you tomorrow”. Ketimbang meng’uang’kan hasil kerja kerasnya di Youtube dia membagikan video-video kerennya setiap hari di Facebook yang tidak menghasilkan uang. Alesannya sederhana, di Youtube orang-orangnya tidak nyata karena kebanyakan tidak pakai nama sebenarnya. Pengguna Facebook mayortitas adalah nyata dan menggunakan nama asli sehingga mas Nas ini bisa berkomunikasi dengan lebih nyata. Lagipula dia tidak menyukai uang hasil iklan yang mana penghasilan utama di Youtube adalah dari iklan tersebut. Wow. Fyi video-video belio yang tersebar di Youtube tentu disebar oleh orang lain yang mengaku-ngaku dirinya. Nah, jadi apa ya haha, intinya cuma pengen cerita aja kalau alasan setiap nitijen ini berbeda-beda dan bagaimana setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menggunakan media social. Termasuk saya dan klean-klean ini.
Jadi, that’s one paragraph, see you tomorrow!

Minggu, Maret 18

Jalanan

Saya mau ngomongin serba-serbi jalanan; lalu lintas; berkendara; dan sejenisnya itu lah. Berhubung udah hamper 8 tahunan berkendara motor jadi ada lah ya yang bias diceritain dikit-dikit, hehe. Tapi sebelumnya Ya Allah jauhkanlah hamba dari menjadi emak-emak yang ngasih sein kanan tapi belok kiri.

Jadi, satu satunya tempat yang selalu bikin saya bisa mengumpat ya di jalanan. Lalu lintas dengan segala maha benar kelakuan penggunanya, juga jenis-jenis jalan yang gak semuanya semulus muka mbak-mbak beauty vlogger yang pakai 10 tahap skincare tiap pagi. Saya antara senang dan merdeka karena bisa sok sok ngumpat tapi nggak ada yang denger dan lihat. Jadi saya bisa tetep terlihat innocent di luar jalanan huehehe. Ohya, termasuk nyanyi sendiri atau kalo lagi sedih dan pengen nangis.

Jadi jenis pengendara yang bikin kesel ada macem-macem, tapi mari kita tidak usah membahas emak sein-kanan-belok-kiri karena udah terlalu basi sering diomongin di mana-mana salah satunya di awal tulisan ini, haha. Nah berhubung saya belum bisa nyetir mobil, jadi konteks tulisan ini saya sebagai pengendara motor aja ya..

- Yang jalan di tengah tapi pelan-pelan.
Hmm, asumsi saya sih pengendara jenis ini baru belajar naik motor. Seringnya ngeliat ibu-ibu, kalo nggak cewek-cewek abg yang pake seragam SMP/SMA. Mereka ini nggak tahu dan nggak mau tahu apa yang sedang terjadi di belakangnya. Mungkin pengendara mobil ya yang jadi susah kalo mau nyalip mesti ikutan jauh ke kanan jaraknya. Kadang kesel sih, tapi rasa keselnya berangsur-angsur berubah jadi kasian, karena kalo mereka baru belajar naik motor jadi merekanya beresiko terjadi apa-apa. Entah kepepet orang nyaliplah, diklakson yang bikin kaget lah, diteriakin lah.

- Yang mau belok kanan tapi melipir ke kiri dulu.
Nah, ini nggak jauh beda dari yang pertama, pasti baru belajar naik motor atau mungkin nggak biasa di jalanan. Kalo mau belok kanan yang motong nyeberang, entah mau mampir ke warung atau masuk gang yang posisinya di kanan, bukannya ancang-ancang melipir kanan sambal nunggu sepi eh malah melipir ke kiri baru nengok ke belakang.

- Yang dikejar target penumpang.
Siapa lagi kalo bukan those A**HOLE BUS DRIVERS!! nah kan ngumpat. Kalo udah ketemu bis jangan macem-macem deh pokoknya, entah itu trans jogja ataupun bis antar kota antar propinsi macem eka-mira. Kalau berkendara di pantura dan merasa tenang-tenang saja karena belakang anda sepi, jangan terkecoh, tiba-tiba mendadak muncul muka si kotak besi yang dari spion yang jaraknya udah deket banget. Baru-baru ini saya ngalamin, saya terlena beberapa detik nggak ngecek spion kan karena jalanan masih wajar, tiba tiba diklakson bis yang jaraknya udah deket banget. Kaget banget untung gak sampe jatuh ya, gimana yang jantungan. Nah biasanya kalo udah gitu sopir bus bakal jengkel banget karena kesalahan saya yang 'ngalangin jalan' gimanapun pasti mereka merasa benar haha. Jadi buru-buru menjauhlah dari bus tersebut. Saya habis kaget langsung ngebut cari sisi aman karena emang lagi agak macet, jadi si bus itu pun percuma nglakson2 saya karena depan saya pun lagi macet! pas udah keluar dari kemacetan dan posisi saya di depan bus itu lalu buru2 mepet samping kiri ceritanya mempersilahkan doi biar nyalip saya. Nyalipnya nggak santaaeeee berasa sengaja dipepet, mungkin masih kesel kali saya ngalangin jalan dia.

- Yang lampu baru ijo tapi langsung bunyiin klakson.
Ingin kuteriak: maburo!

- Yang udah jalan pas lampu belum ijo.
Ini biasanya sih akamsi yang udah apal banget kapan gilirannya lampu merah dan ijo nyala, atau kapan ada celah sepi meski belum gilirannya ijo. Iya sih, cuma kurang 5 detik lagi baru ijo, tapi jadinya saya kaget sendiri dan suka kebawa pengen ikutan ngegas.

- Yang dikit-dikit nglakson
Sering banget kaget karena klakson2 yang entah dibunyikan untuk apa. Beda urusan kalo pas lg viral Om Telolet Om. Cuma sering banget dikagetin sama klakson yang padahal saya nggak ngerasa ngalangin jalan mereka. Atau sayanya aja yang emang nggak ngerasa ya, haha.

- Yang lagi nyari alamat.
Kadang mereka suka berhenti secara mendadak padahal belum ngasih lampu sein. Ya mungkin kalo emang lagi nyari alamat, mbok di awal pelan-pelan aja bisa loh. Kalo yang ini berhak mendapatkan bunyi klakson karena bisa membahayakan pengendara belakangnya yang ikutan berhenti mendadak juga.

- Yang sambil ngerokok.
Keseel banget kalo abu rokoknya terbang-terbang kena ke pengendara belakangnya. Nggak semua orang nutup kaca helm kaaan.

- Yang nggak pake helm tapi ngebut.
Abege-abege yang lagi boncengin pacarnya, udah gitu suara knalpotnya tuh looh, bikin pengang.

Udahan deh, nanti tambahin lagi kalo nemu yang unik-unik di jalanan.