Jumat, Desember 14

Misi Kepercayaan

Haloo apa kabar? saya melewatkan bulan November :(
Tak apalah, Desember belum lama berjarak, dan izinkan saya menyampah lagi di tengah-tengah garapan City Hotel saya. Gara-gara Pak Jo*et mau nikahan tanggal 21, jadi kelompok saya mesti ngumpul gambar tanggal 18 :((. Padahal yang lain masih jauuuh tanggal 8 Januari nanti. Kalo nggak kiamat kali ya haha.

Tapi masalahnya mau nyampah apaan?

*krik*

Di depan saya anak-anak lagi ngerjain sayembara Futurarc. Lalu saya bertanya (pada diri saya)? kapan bakal ikut sayembara? payah nih, gapernah nyoba hingga detik ini pun. Kenapa ya, mungkin gapernah sempet, atau saya yang terlalu malas, atau yang lain-lainnya. Tapi masih ada niat kok semoga -,- nunggu saya selow aja sih.

Sotoy-sotoy-anku: Arsitek itu mestinya bisa menguasai berbagai macam bahasa. Nggak cuma bahasa arsitek tok. Dia mungkin boleh berkoar-koar tentang konsepnya, keunggulannya, kecanggihannya, kefilosofiannya, ketransformasinya. Kadang mahasiswa seringkali terjebak dalam hal itu (subyek nyata: saya). Dan yang diubek-ubek ya ituu aja. Keindahan fisik itu sangat penting memang. Selama dosen melihat apiknya gambar kita, sedapnya poster presentasi kita, itu dianggap cukup. Bisa diartikan mahasiswa itu hanya mengejar nilai saja.
mungkin masih bisa ditolerir jika hanya dalam tingkat tugas kuliah. Coba kalau proyek nyata. (saya agak bingung ini mengarah kemana haha). mungkin jadinya adalah segala yang serba fungsional.

Kemarin waktu kuliah Arsitektur Vernakular, Pak Pradip cerita tentang bergesernya nilai-nilai kepercayaan manusia jaman sekarang. Tentang makrokosmos dan mikrokosmos. Di Jogja, ada suatu nilai tentang gunung dan laut. dimana antara gunung dan laut adalah sebuah garis orientasi bagi masyarakat. Gunung dan laut adalah utara dan selatan. Lalu diantaranya ada sebuah keraton tempat sultan bertahta. Makannya orientasi keraton adalah utara-selatan, ada alun-alun lor dan alun-alun kidul. Di gununglah tempat bersemayam 'Dewa', dan di laut ada sebuah kerajaan besar yang dikuasai Nyi Roro Kidul. Pada titik tengah keduanya berdirilah pihak 'netral', yang menghubungkan gunung dan laut, yakni keraton. Pun muncullah berbagai macam 'ritual' yang berhubungan dengan ketiganya. Dan keraton masih melestarikannya hingga kini.

Berbicara mengenai Keraton berbicara pula tentang Sri Sultan. Awalnya saya gak tahu menahu tentang kisah kesultanan Jogja ini, dan diantara semua sultan, yang paling saya sering denger kisah-kisah 'kehebatannya' adalah Sultan HB ke-IX. Mungkin Sultan IX betul-betul luar biasa pada jamannya, coba saja search sendiri infonya. Mungkin saya juga takjub karena mendengar kisahnya dari orang yang pernah 'bertemu' dengan Sri Sultan sendiri.

*boleh dong ya cerita dikit*

Suatu ketika saya pergi caving ke daerah Purworejo, bagian perbatasan Jogja. Gua Seplawan namanya, bagi warga sekitar gua tersebut tidaklah asing karena memang telah dijadikan obyek wisata. Kami singgah di sebuah basecamp yang tak asing pula bagi mapala-mapala yang sering bermain ke Purworejo. Basecamp tersebut adalah rumah seorang pria paruh baya yang akrab kami panggil 'Mbah Cokro'. Rumah sederhana dengan dinding gedek dan lantai tanah. Beliaulah yang menemukan sebuah arca emas di dalam Gua Seplawan, arca berupa sepasang pengantin berukuran tinggi sekitar 30 cm. Imbalannya, beliau diberi penghargaan berupa nominal uang yang sangat besar pada jamannya (lupa saya jumlahnya) dan sebuah sertifikat jadul tulisan tangan yang dilaminating. Mbah tidak sungkan memperlihatkan sertifikat tersebut beserta foto arca aslinya (yang sudah lusuh pula). Katanya sih sekarang arca emas tersebut disimpan dalam museum (entah apa), tapi beliau lebih percaya bahwa arca telah berpindah tangan ke seorang kolektor di luar negeri. Tak ada yang tahu.

Mbah Cokro cerita panjang lebar tentang masa dulu, sebagian besar menggunakan bahasa Kromo inggil. Saya bersyukur masih bisa kromo dikit-dikit *haha fail*. Kalo ndegerin paham lah, tapi kalo ngomong yaa gitu deh. Intinya saya masih bisa menikmati cerita Mbah Cokro, apalagi waktu cerita tentang Sultan HB IX. Kata beliau, dulu Sultan pernah mengunjungi Gua Seplawan, katanya hanya Sultan yang bisa 'melihat' hal-hal lain di dalam gua. Sultan datang untuk 'berziarah' kepada leluhur-leluhur. Mbah Cokro pantas berbangga hati karena diutus menemani kanjeng sultan menelusuri gua. Karena memang Mbah Cokro yang paling mengerti isi dalam gua. Kanjeng Sultan, Mbah Cokro, dan Pendamping sultan lainnya memasuki gua dan pada suatu titik (sekarang katanya pas bagian batas terakhir pengunjung) Sultan menangis. Saya lupa tepatnya karena apa, tapi di titik tersebut Sultan membaca sebuah tulisan sanskerta yang bermakna tentang perintah-perintah kepada umat manusia. Ada banyak  kalimat, salah satunya bermakna: Jangan sombong jika tidak ingin celaka. Beberapa kalimat lain tidak tepat saya pahami karena keterbatasan kromo inggil saya :(. Dari beliau, saya bisa merasakan 'aura' istimewanya Sri Sultan Hamengkubuwono ke-IX. Ya, karena Mbah Cokro bercerita tidak hanya dari mulut, tapi juga mata dan hatinya (ciah). Dan saya bersyukur masih bisa melihat bukti-bukti adanya nilai kepercayaan (berhubungan denga kuliah Arsitektur Vernakular tadi).

Selain tentang Sri Sultan beliau juga berkisah tentang Bung Karno, Bung Hatta, dan sejarah-sejarah lain yang mungkin tidak tertulis di buku sejarah sekolah-sekolah. By the way, Mbah pernah salaman sama Bung Karno lhoo *applause*. Ya, cerita yang istimewa, terlepas anda percaya atau tidak hadir dalam saksi-saksi sejarah yang kian lama kian buram. "Saya itu ndak pintar, tapi tahu" kata beliau dengan rendah hati.

Saya menikmati, entah dari gaya Mbah Cokro berbicara (sangat santun), ketajaman ingatannya, sikap menerima beliau terhadap siapapun yang berkunjung padanya. Seolah Beliau tidak sungkan-sungkan bercerita tentang hal yang sama berulangkali kepada tamunya. Mungkin kalau saya kesana lagipun, saya akan tetap bahagia mendengar kisah yang sama :D.


ini cucunya Mbah Cokro, dia joget karena Mbah niruin suara gamelan (dengan indahnya)



mulut Gua Seplawan (ga keliatan ya?)

Well selalu menarik membahas nilai-nilai ini. Dan caving memang selalu dekat dengan local wisdom, that's why i like it haha. Karena saya berusaha mencari 'nilai-nilai' itu pula dalam setiap perjalanan, kemanapun.

Kata Pak Pradip lagi, setiap karya itu membawa suatu 'misi'. Diantara semuanya, 'misi' kepercayaanlah yang paling kuat. Tapi semakin lama 'misi' itu semakin geser, kepercayaan semakin kabur. Pesan pak Pradip sebelum kuliah usai:

"kalian boleh membuat yang macem-macem, neko-neko, tidak masalah kok teknologi, modern dan sebagainya, asal kalian masih memegang nilai-nilai tersebut"

Semoga mahasiswa arsitektur sekarang sanggup demikian. Termasuk saya haha. Semoga. (makannya jangan males)

Mungkin selain bahasa arsitektur, ada juga bahasa kemanusiaan, bahasa kesederhanaan, bahasa nusantara. Daaan sadar atau tidak kayaknya tulisan ini pun masih dipengaruhi novel Bilangan Fu :D

selamat menjadi arsitek yang berbesar jiwa dan bijaksana!

Rabu, Oktober 24

Fluktuasi Hidup


Kangen nulis, kangen cerita, dan mulai saja kuketik tulisan tak beralur ini.


Bilangan Fu.

Pernah baca?

Aku baru saja menyelesaikannya, yang kupaksakan membaca lembar-lembar terakhirnya –setelah sekian lama menyicil- tepat di bawah tebing pancasila, parangdok. Hanya kebetulan saja aku membacanya di tengah-tengah momen yang mengharuskanku pergi ke goa dan tebing. Yang lokasinya -sangat kebetulan- ada di laut selatan. Mumpung. Aku tidak hendak mengulas isi novelnya secara rinci (baca saja sendiri). Aku hanya menyampaikan keterkaitan isi novel dengan kegiatanku akhir-akhir ini.

Tapi yang begitu mengesankan mengenai novelnya, sedikit berat memang, tapi perlahan aku bisa mencerna. Tentang budaya yang mulai terkikis zaman. Tentang postmodern dan laku-kritiknya. Tentang kepercayaan lokal, yang harusnya kita hormati bukannya basmi dengan kekerasan (terkait dengan takhayul, kepercayaan adanya Nyi Roro Kidul). Tentang monoteisme yang agaknya bergeser makna. Tentang menjaga alam. Tentang dunia karst. Tentang Yuda dan Parang jati. Cukup sedih lho endingnya.. nambah lagi daftar author lokal yang keren, Ayu Utami

Tau nggak, hidup kadang bisa terlalu mengejutkan. Kalo dibikin grafik, fluktuasinya bisa saja dataar terus, lalu menurun, dan bahkan meningkat secara tajam di suatu ketika. Begitulah, pun dengan hidupku dan mungkin hidup kalian.

Dan kuberi saja sebuah contoh, aku pernah mengalami hari terburuk di sebuah minggu (yang kuniatkan untuk menulisnya langsung di blog tapi tak jadi). Di suatu Selasa selepas display studio  yang begitu membabi buta kerjanya (baca: begadang), siangnya berniat pulang kos sejenak dan kembali ke sekret satub karena berjanji mengajari SRT ke anak-anak baru jam 3. Namanya habis begadang kalo liat kasur sudah hukum pasti akan tertidur, meski berjanji hanya sejenak menyenderkan kepala. Aku bangun tepat jam 3 yang berarti akan molor SRT-an nya sekitar setengah jam. Teman-teman mungkin kesal karena aku belum juga datang padahal yang akan dilatih sudah berkumpul. Dan memang benar beberapa orang memberi sindiran karena keterlambatanku. oke memang salahku, kenapa tak kuberi pesan orang yang bisa membantu mempersiapkan lintasan tali nya dahulu. Hei mana sempat kupikirkan, mata kuliah 6 sks sangat menyita perhatianku. Tapi biarlah aku terlalu malas (dan lelah) untuk menjelaskan pembelaan. Lagipula, aku sedang ingin mengurangi segala keluhan yang timbul. Usai mengajari anak baru sekitar jam 7 malam. Kita lanjut rapat dan aku baru ingat belum makan nasi hari ini dan hari kemarin (pantas saja lemas). Aku sangat sangat ingin kembali pulang ke kos dengan membeli sebungkus nasi terlebih dahulu. kubayangkan nikmatnya tidur di kasur dengan perut kenyang.

Setelah semua urusan kelar, aku pun ke warung dekat kosan dan memesan sebungkus nasi ayam. Lalu dengan semangatnya aku kembali ke kos namun ternyata hanya untuk menyadari bahwa kunci kamar kosan tertinggal di sekret satub. DAMN. Oke, mau tak mau aku balik lagi ke kampus tanpa sadar waktu menujukkan pukul 22.30 tepat saat dimana portal kampus akan ditutup. Dengan ngebutnya aku ke kampus,

Untung portal belum tutup. Aku masih bisa masuk kampus dan kutemukan kunci surga itu di atas meja.

Ayo cepat cepat balik.

Tapi tidak seindah itu kawan, portal teknik telah ditutup di saat yang tepat sekali. Ketika motorku melaju dan belum sempat melaluinya. Oh portal fakultas yang maha kokoh, sepertinya aku terlambat hanya sekian detik. dan pak satpam yang melaju dengan motornya dan berkata ‘udah digembok!’ (agak-teriak) ketika aku akan memelas dan meminta dibukakan kembali portal agung itu. tak bisa kau bayangkan rasanya, sangat kesal tapi tak tahu untuk siapa. Mau tak mau, aku kembali lagi ke sekret satub entah bagaimana kelanjutannya. Lalu kubayangkan sebungkus nasi ayam yang baru kubeli, rasa tidak nyaman efek begadang, kasurku yang empuk. Ya, ya, aku harus kembali pulang bagaimanapun caranya. Aku sedang tidak ingin menginap di sekret meski ada beberapa orang juga disana. Kalo motor tak bisa tembus portal kenapa tak kucoba saj sepeda. Kupinjam sepeda teman di sekret dan nekat pulang kos yang cukup jauh jika ditempuh dengan naik sepeda. Ngangkat-ngangkat sepeda di portal, dan mengayuh di jalan yang telah menjadi sepi oleh malam. Aku sudah tak peduli yang penting bisa kembali pulang.

Kayuh, kayuh, kayuh..

Jujur karena nggak pernah naik sepeda, juga rasa was-was tengah malam sendiri di jalan kosong, laper parah, lalu menjadi sedikit waspada dan mudah lelah. Baru tiga perempat perjalanan, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Cu-kup-de-ras. Diulangi, cu kup de ras. Tuhan, inikah akibat dari perbuatanku selama ini. aku lelah, berkeringat dan tiba-tiba basah oleh hujan.

Oke, sebentar lagi..

Dan aku akhirnya melihat kamar kos yang rasa-rasanya bagai surga di tengah malam. Aku makan, dan sungguh bisa tidur dengan tenangnya.

Lalu ternyata hari yang mujur bisa datang juga tanpa kau duga..

Di kisah yang lain, suatu siang aku baru saja berkenalan dengan teman. Belum ada 5 menit aku diminta tolong untuk mengantarnya ke suatu tempat. well, bisa saja aku menolak dan bilang ada janji lain. Karena ini berbeda, and because it’s ‘mapala’, menolong seseorang itu sesuatu yang tak bisa kau tolak adanya. Dan tiba-tiba saja, di waktu yang terlalu cepat untuk kupercaya berlalunya, aku sudah menghabiskan sepiring nasi ayam double, nonton ‘Dredd’ di XXI, hot cappucino yang nggak murah, cemilan fish fillet plus french fried, dapet bonus pula berbungkus-bungkus nasi goreng buat anak satu sekret. Berkat teman 5-menit-ku dan kakaknya yang baik, tanpa kukeluarkan uang satu peserpun.

Lalu kejutan pun agaknya masih enggan meninggalkanku, berniat pulang kos dan menghabiskan sisa hari dengan laptop, teman kos sms :

‘eh, kamu langsung ke WS jakal ya’.

It was a damn awesome day. Dapet satu lagi traktiran ulang tahun steak plus lemon tea. Jangan kira aku tidak menolak karena penuhnya perut. Aku sedang hendak menolak dan bilang ‘aku baruu aja makan lho’ tapi ngelihat tampang teman2 dengan piring sudah kosong dan bilang ‘kita dari tadi nunggu kamu tauk masa kamu gak pesen sih’. Dan perasaan bersalah nggak ikut perayaan ulang tahun dari awal,

oke aku pesan.  

Kalo gini caranya, bisa 4 hari kedepan aku nggak makan. LOL.

Jangan mengeluh di saat terburukmu, karena saat yang baik pun akan tiba sesungguhnya. #failed quotes haha

Sabtu, Agustus 11

a little post

can't stop reading http://rarasekar.tumblr.com. seriously.
mulai dari baca post nya nuzuli aka. gepeng tentang Banda Neira, lau berlanjut ke penemuan halamannya si duo folk-ers dan lagu cantiknya mereka. Lalu berujung pada penemuan blog salah satu personilnya, mbak rara sekar. Dan begitu terpikat dengan tulisan2nya, sampai-sampai nggak bisa berhenti nge-klik tombol "next" to see another of her post, over and over again.(she has written a lot of fabulous writings). Kebanyakan dia nulis tentang kehidupan sehari-hari, bagaimana dia mengkritisi hal-hal yang simple tapi ternyata banyak dari kita yang lalai buat menyadarinya. Contohnya: perbedaan.
maybe you should have a little peek there too :)
Mungkin saya cuma nemu salah satu dari ratusan mbak-mbak atau mas-mas hebat lainnya yang nulis tulisan bermanfaat. Setidaknya. And wish i could be like them, bikin tulisan 'hebat' juga *ngarep*

lanjut lagi ke 'klik-klik' an ngawur lain, tentunya dari link-link yang pastinya lupa dari mana asal link tsb. Lalu nemu lagi band folk-indie pop lokal Afternoon Talk dari Lampung yg cukup indah pula lagunya. Unyu-unyu kayak Mocca, atau SoKo buat versi luarnya.

*idih gak mau sok ngomongin musik juga*

tapi sekali lagi nih, boleh ya boleh, saya keinget lagu sejenis dikasih tahu temen. Yang berupa musikalisasi beberapa puisi nya Sapardi Djoko Damono oleh pasangan duet 'Dua Ibu'. Salah satu puisi (yg dilaguin) judulnya 'Aku Ingin'. itu loh, yg liriknya 'Aku ingin mencintaimu dengan sederhanaa...'. Temen saya itu udah tahu sejak jaman SMA, terus katanya dulu kalo ngirim surat cinta ya nyomot bait puisinya yg itu. *ceilah*



udah deh sotoy sotoy an tentang musiknya,


what a weird night!

Selasa, Agustus 7

Cukup Sempurna


Lagi-lagi berniat menulis tentang hidup dan kerandomannya. Saya hobi banget baca-baca blog orang. Atau lebih tepat dibilang stalker. Really great stalker nyihihihi *ketawa setan*. Kalo lagi stalking bisa ampe bermenit-menit mencari segala sesuatu apapun itu, terutama tulisan tentang orang yang distalker. Paling seneng kalo udah nemu blognya, atau twitter, kalo facebook sih masih kurang representatif. Bukannya berniat jahat kok, tapi saya seneng melihat kehidupan seseorang lewat tulisan. Saya bikin blog kan gara-gara sering baca blog orang, yang sering pula menulis cerita tentang hidupnya.

Beranjak lagi, karakter orang itu banyak banget. Nget. Dan saya hanya sepersekian titik dari ribuan karakter orang di muka bumi. Saya bukannya mau mematenkan karakter seorang saya, boro-boro sih, memahami karakter diri sendiri aja belum becus. Saya hanya ingin menulis sesuatu. Entah tentang apa ini semua.

Mungkin karena semakin kesini semakin banyak ketemu macam-macam orang. Flash back kehidupan sebelumnya, yang terpaksa monoton oleh peraturan. Perempuan lugu ini pun baru melihat kehidupan yang sebenarnya. Jeng jeeng.. Toh ruang lingkup hidup saya sekarang ini Cuma di sekitaran Jogja, kampus terutama. Ke Pekalongan sesekali kalo lagi pulang kampung. So campus life is the real stage for now. Dan cukup representatif untuk kehidupan remajawan dan remajawati jaman sekarang.

Manusia sewajarnya memilih gaya hidupnya sendiri. Juga bagaimana kisah-kisah dalam dirinya harus berjalan. Tentu,dengan pertimbangan berbagai macam faktor yang mempengaruhi. Bagaimana si A bergaul dengan B karena memiliki kesamaan faktor. Bagaimana si C dan D bisa bertemu karena faktor tertentu.

And when i saw someone, with her/his perfect life. Kadang merasa ‘iri’ dengan hidup sempurnanya. Do you feel so? Wajar nggak sih? Atau saya yang nggak normal nih. Well, i mean, perfect life isn’t just someone who surrounded by money. Itu bisa jadi salah satunya. Mungkin orang-orang yang punya keberuntungan lebih yang tidak saya miliki. Dalam hal apapun itu. Apapun. I won’t mention it, but you’ve got what i mean.

Bukan pula berarti penyesalan. Tidak, saya berusaha tidak menyesali apapun. Karena pilihan buruk pun bukan untuk disesali. Setiap manusia itu punya hidup sempurnanya masing-masing. Saya tak luput pula dari seorang ‘manusia’. Saya sepatutnya senang melihat teman-teman lama yang kini punya keuntungannya sendiri. Atau teman teman arsitek yang begitu dilimpahi ke-perfect-an skill nya. Atau orang-orang yang saya kenal punya keunikan nya masing-masing. Nggak ada yang nggak baik. Kita hanya hidup dalam frekuensi yang berbeda-beda *apadeh*.

Hidup saya cukup sempurna, meski beasiswa PPA nya nggak diterima karena IP kurang *sedih*. Cukup sempurna, dengan teman-teman yang hidup di sekitar saya. Cukup sempurna, dengan makan masakan mama selagi buka puasa. Cukup sempurna, dengan mukena dan sajadah lima kali sehari. Cukup sempurna, dengan baju seadanya. Cukup sempurna, dengan menghirup segarnya udara gunung dan melihat awan dari puncak. Cukup sempurna, dengan secangkir kopi dan sepiring gorengan di lincak satub serta diiringi nyanyian santai sore hari.
J

Sabtu, Agustus 4

Supernova the series

Jadi jarang nulis nih sedihnya. niatan buat memenuhi target tiap bulannya mem-publish tulisan pun gagal. Nggak tau kenapa akhir-akhir ini ngerasa nggak pede sama tulisan sendiri. yang isinya menurut saya kurang worth-it. Dulu sih fine-fine aja mau nulis hal gak penting, tapi sekarang pengennya lebih selektif.

Dan seringkali 'bakal' tulisan saya beberapa berakhir hanya untuk terkubur di draft. Entah itu cuma setengah jadi -lalu hilang mood melanjutkan. Atau udah jadi tapi nggak sempet dipublish dan akhinya lupa. Padahal banyak cerita-cerita (umumnya bertema traveling) yang nggak sempat terpublish.

Daripada daripada, mending saya nulis something nih tentang serial novel SUPERNOVA

Novel super cool, saya ngikutin dari yang pertama Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh sampe yang baru keluar (keempat) supernova: Partikel. And i'm dying to read the fifth and sixth, tapi mesti sabar karena belum keluar.

Awalnya baca yang seri pertama tuh tahun lalu (2011). padahal novelnya udah terbit tahun 2001. Waktu itu lagi nemenin mbak sepupu ke rental komik dia mau pinjem komik sekalian aja saya pinjem bacaan, dan terpilihlan Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh. Eh kok bagus, pengen pinjem lanjutannya lagi tapi nggak sempet-sempet mampir ke rental itu lagi. Dan karena sedang berpikiran ekonomis -nggak mungkin beli novelnya- (mungkin lagi kere waktu itu) kenapa nggak cari e-book nya aja terus download. Cari-cari di internet ternyata nemu, langsung didownload lah tuh dua seri Supernova: Akar & Supernova: Petir. Belum kebayang aja kalo baca di laptop tuh lebih nggak enak ketimbang baca di buku. Tapi toh saya terhanyut juga sama dua novel ini meski bacanya sambil mantengin laptop berjam-jam.

Terus Dewi Lestari ngerilis lanjutannya tahun ini, Supernova: Partikel. jaraknya jauh banget sama tiga novel sebelumnya, tapi masih nggak menghilangkan esensi kisah supernova (yaiyalah) dan bahkan makin bagus di seri Partikel ini. Kalo yang tiga novel sebelumnya saya nggak bermodal, yang keempat ini saya bela belain beli loh. Harga asli Rp 79.000,00 tapi dapet diskon jadi Rp 63.000,00 mayan lah. Tadinya mau patungan sama temen, tapi karena bener-bener nggak sabar pas mampir Toga Mas langsung nyamber Partikel dan bayar.


ini cover seri terbarunya, lebih simple

Dari empat novel, Partikel yang paling bagus. Suer. Ceritanya sangat 'berbobot'. Ngak menye-menye (?). Sok aja di googling deskripsi singkat ceritanya. Tapi tokoh favorit saya tetep si Elektra Wijaya di Supernova: Petir gimana kisah hidupnya sama si Watti. Kalo yang seri pertama masih terlalu 'maksa'. Jadi repot karena mesti baca footnote buat beberapa istilah asing. Yang kedua (akar) mulai asik karena settingnya ada di beberapa negara ASEAN.

yaudahlah
Salut sama Dewi Lestari, ditunggu aja dua seri lanjutannya..

Sabtu, Juli 28

Kuliah Kerja Arsitektur

 Well, kemarin kami Arsitektur UGM 2010 baru aja rampung KKA alias Kuliah Kerja Arsitektur yang dilaksanain di Thailand. Nggak tau kenapa jurusan saya ini gaya banget sampe luar negeri segala. Tapi toh emang ini acara tahunan, jadi emang ada waktunya kita ngerasain gimana keadaan luar buat membandingkan, yah seenggaknya buat Indonesia lebih baik kenapa enggak. Banyak pertimbangan-pertimbangan kenapa bisa dipilih Thailand, tapi nggak bakal saya jabarkan di sini deh. Panjang.

Tema KKA sekarang adalah Architecture for Saving Life. Intinya arsitektur sebagai sarana ‘penyelamat’ kehidupan. Contohnya slum upgrading. Gimana caranya sebuah sistem pembangunan ‘ruang-ruang’ bisa dibentuk dan akhirnya berguna bagi orang-orang yang membutuhkan. Pokoknya gitu. Bingung juga kata-katanya hehe. Tapi sejujurnya motifasi utama saya sih pengen ngerasain hawa-hawa luar itu gimana. Toh saya juga nggak tau kapan lagi bisa keluar kalo nggak ada acara beginian. Karena sekedar jalan-jalan keluar negeri itu di luar kemampuan seorang saya.

Total 5 hari kami berkegiatan. 3 hari yang bener-bener full di sana. Karena hari pertama dan hari terakhir otomatis habis di perjalanan. Tapi lumayan worth it.

Hari pertama, 15 Juli 2012.

Not really special, karena pantat tepos duduk di pesawat terus. Penerbangan Jogja –Jakarta pukul 08.00 tapi kami siap di bandara dari jam 6. Karena ribet ngurus boarding passlah, bagasilah, kelengkapan kelompoklah (maklum, yang ikut 93 anak), pembagian ini itu lah. pokoknya rempong deh liat bocah-bocah banyak ini. Jogja-Jakarta Cuma 50 menit. Di jakarta yang lama, transitnya sampe 4 jam lebih karena penerbangan Jakarta-bangkok baru pukul 14.10. Jadilah kita makin ngalay di bandara. bayangin aja bocah 93 duduk-duduk lesehan, ngobrol, foto-foto, teriak-teriak. Jadi wajar aja kalo orang-orang yang lewat pasti ngasih lirikan maut. Kalo saya sih, stay cool aja sambil baca novel.

Jam 14.00 akhirnya terbang juga. Pesawat internasional ternyata beda sama domestik meski sama-sama kelas ekonomi. Yakali disamain. Pengennya sih tidur di perjalanan. Tapi ini mata nggak bisa merem meski dipaksain. Akhirnya Cuma ngutak-ngatik tv-touch (apalah itu namanya), pencet sana-sini kayak wong ndeso baru liat mainan canggih. Tapi ternyata bisa merem juga saat menit-menit terakhir mau landing. Perjalanan JKT-Bangkok makan waktu 3 jam 5 menit.

Welcome Bangkok!

Yang pertama dilihat: Airportnya, sooo modern. Namanya juga bocah-bocah arsitektur, komentarnya sama aja: wah ini, strukturnya pake baja, terus kaca-kacanya dominasi banget, gede ya, itu bahan apa sih langit-langitnya... blah blah dan blah blah lainnya. Habis ngelewatin imigrasi yang awalnya bikin merinding karena takut dikira TKI *engga kok*, kita keluar airport dan disambut dua mbak-mbak pake baju macem kemben sama mas mas fotografer. Foto! Foto! Katanya, saya bingung aja baru jejek keluar mbak-mbaknya ngalungin kembang-kembang ke tiap bocah sambil nyuruh liat kamera. Wah, bisa pegel atuh mbak ngalungin 93 anak. Ternyata itu sambutan awal buat kita, so sweet :3

Kita dibagi tiga kelompok/bis dan dengan guide lokal tiap kelompoknya. Eh ternyata guide lokalnya lancar banget bahasa indonesianya, meski ada logat-logat anehnya sih. Saya kebagian guide Om Arun namanya, beliau orang asli Thailand dan pernah ke Jogja katanya. Dia kalo bilang ‘Jakarta’ jadi ‘Jakatar’. Kadang kalo ngasih joke rada garing *ampun om*

Karena kita nyampe udah sore menjelang maghrib gitu langsung menuju restauran. Kata om arun ini tempat makan gede banget, pelayannya aja sampe pada pake sepatu roda. Ohyah, nggak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Jakarta, sama-sama WIB. Tapi meski udah jam 7 malem masih terang sodara-sodara. Balik lagi ke tempat makan, emang gede banget ternyata. Spot kita pas di depan panggung pertunjukan tari gitu. Panggungnya ada di tengah semacam kolam. pas kita dateng ada dua mbak-mbak lagi nari, lucu deh. Rasa makanannya masih wajar lah di lidah kita. Pas mau selesai, tiba-tiba Wuuush.. ada mas mas gaya pendekar gitu terbang meluncur dari sisi kanan kami ke arah kiri. Semacam flying fox-an. Tapi dengan dandanan rambut panjang dikuncir dan gaya terbang sambil bawa nampan ada api-apinya gitu. Kaget deh, ngeliatnya justru pengen ketawa. Hmpf.


Kita langsung ke hotel. Ternyata di depan hotel udah ada spanduk “welcome to Bangkok, Thailand. Department of Architechture, Gadjah Mada University Jogjakarta 15-19th July 2012” (ada dua kata yang salah penulisannya :p). Di hotel bocah-bocah pada mencar, ada yang langsung jalan kemanaa gitu, ada yang tidur, ada yang Cuma duduk-duduk di lobby. Ternyata sepanjang jalan banyak banget “Seven-Eleven” mini market. Ya kayak indomaret gitu, tiap inchi jalan ada aja. Tapi katanya Sev-el ini membantu banget buat turis-turis yang dateng. Karena kebanyakan orang Thailand sendiri susah berbahasa Inggris. Jadi jika anda lapar, butuh sesuatu, dan bingung mau cari dimana? Datang aja ke Seven-Eleven, dijamin lengkap.


Hari Kedua 16 Juli 2012

Our Activities start today! Firs destination: visiting Chulalongkorn University. Of course we’re heading to Architecture Departement. Kampus ini katanya yang paling tua. Cukup terkenal. Dan semua mahasiswa-siswi wajib pake seragam. Seragamnya simple, yang cewek rok hitam kemeja putih, yang cowok celana panjang hitam kemeja putih. Kalo di bayangan kami: seragam ospek. Seneng deh ngelihat wajah-wajah mereka, mbak-mbaknya cantik-cantik, mas-masnya juga ganteng-ganteng.




Kita lecturing sama profesor dari sana, temanya permasalahan global. Menurut saya agak kurang nyambung sama tema KKA. Tapi ya tetep berguna sih, masa enggak. Habis itu jalan-jalan keliling kampus. Dan kita *mungkin* seperti segerombolan weirdo bagi mahasiswa sana. Tapi biasalah, muka batu, tetep pada foto-foto dimanapun dan kapanpun.

Sorenya jalan-jalan di Siam. Ini spot banyak banget Mall nya. Ada yang mirip mangga dua kalo di Jakarta, namanya MBK. Pas masuk beneran rame. Segala macam jenis turis ada di sana. Jadi nggak bakal dianggap aneh karena memang semua orang aneh disitu haha. Nggak berniat nyari apa-apa juga sih. Toh mall ada juga di Indonesia. Cuma iseng ngeliatin keadaan sekitar aja. Gimana ramenya Bangkok. Ada juga Madame Tussauds, itu loh yang patung lilin orang-orang terkenal mirip banget sama aslinya. Ada di lantai paling atas Mall Siam Discovery. Katanya sih di Asia Cuma ada di Thailand sama Hongkong. Bayarnya 600 Baht (1 Baht = 315 rupiah) itung sendiri jadi berapa. Banyak yang kesana, tapi saya masih mikir-mikir saving money buat hari berikutnya. Maklum, nggak bawa duit banyak.

Hari Ketiga, 17 Juli 2012

Keluar kota, Ke Arsom Silp Institute. Ini semacam sekolahan buat TK sampe SMA. Jadi luaaas banget. Yang kita ambil sih pemakaian material alam (kayu) pada bangunan-bangunannya. Jadi kalo ngelihat sekolah ini kayak sekolah alam. Soo nature. Ruang-ruang nya terpisah-pisah. Rimbun sama pepohonan. Adem. Bahkan ada danau kecil di bagian tengahnya. Kita disambut hangat. Ada sesi lecturing lagi. kali ini ngebahas tentang Arsom Silp, juga proyek-proyek yang udah berhasil dari studionya. Salah satu yang menarik perhatian adalah slum upgradingnya. Dijelasin dari awal membangun sampe akhirnya behasil bikin pemukiman asri pengganti kawasan kumuh. Uniknya pas break kita dikasih snack buah manggis sama minuman sari buah. Enak :9. Pas waktunya anak sekolahan pulang ternyata ada ‘pasar’ dadakan yang jualan sayuran, jajanan pasar (mirip lho sama di Indo), puding, buah, dsb.

Habis dari Arsom sore-sore langsung makan malam di sebuah restauran gaya-gaya arab. Tapi sebelahan sama gedungnya ‘bencong-show’ kata om arun. Dan pas kesana emang ada bencong seliweran di gedung itu. Makan malam kali ini yang rasanya paling nggak jelas. Rata-rata masakan Thailand itu asyem. Rasa-rasa tom-yam gitulah. Ada sesuatu di bumbunya yang bikin asem. Walhasil nggak doyan, Cuma makan dikit. Baru pukul 18.30 di restauran ini ada pertunjukan tari daerah. Ternyata mirip-mirip ramayana kalo di Prambanan, ada kisah kisahnya.

Pulang ke hotel, acara bebas. Muter-muter jalanan depan hotel. Mirip jalan solo, banyak spot-spot turis, toko-toko, mall. Ohya di setiap jalanan pasti ada sudut-sudut yang buat ibadah. Ada patung Buddha, banyak yang jual kembang juga. Nggak heran kalo orang-orang yang lewat, atau habis belanja nyempetin berdo’a sejenak.

Hari keempat, 18 Juli 2012

Berkunjung ke Community Organization Development Institute (CODI). Diskusi tentang gimana mengurusi sebuah komunitas yang bergerak di bidang pembangunan. Lagi-lagi contohnya slum upgrading, intinya sih CODI ini membantu warga untuk membentuk sebuah komunitas yang saling bergotong royong menyelesaikan proyek perbaikan wilayah kumuh. Sesi ini ternyata nggak cuman diikuti kita-kita mhasiswa indo. Ternyata ada beberapa orang Vietnam, dan satu orang dari Kambodja.

Karena hari terakhir berkegiatan sepulangnya dari CODI kita jalan-jalan ke Chaop Phraya River. Naik kapal nelusurin sungai. Di tengah jalan berhenti ke Wat Arun Temple. Candinya bagus, ornamen-ornamen dindingnya disusun dari pecahan keramik warna-warni. Meriah. Di situ ada toko-toko souvenir yang ternyata pedagangnya bisa bahasa Indonesia, bahkan bayar pake rupiah pun mereka mau. Langsunglah pada ngeborong. Nawar. Riweuh banget karena orangnya banyak.

Sorenya, beberapa anak (hampir satu bis) diturunin di sekitaran MBK karena mereka mau beli jersey bola. Katanya sih di daerah situ ada toko yang jual jersey KW tapi mendekati asli. Kebanyakan para lelaki tuh, yang cewek paling beliin buat cowoknya, temennya, ato sodaranya. Because i'm not that kind of very-big-soccer-club-fans jadi nggak ikutan beli. Kalo yang mau cari, ada di deket National Stadium, harganya 250 Baht-an. bisa tawar menawar. Emang pas liat barangnya, bagus banget. Sablonannya aluuus, dan tebal. baru liat ada sablonan begituan haha.

Malemnya saya berencana ke sebuah Night Market bernama Pat Pong. Menurut anak-anak yang udah kesana katanya serem. Tapi saya penasaran banget, pengen lihat jajanan-jajanan aneh macem kecoak, kalajengking, ulet, yang sering disiarin di TV itu looh. Kesana naik kereta BTS. Lumayan Cuma 20 Baht. Ngelewatin 2 stasiun baru turun dan lanjut jalan kaki sebentar. Dagangannya bervariasi kayak malioboro gitu deh.  Tapi oh tapi ini lebih dari sekedar gorengan serangga. Dan sama temen saya dilihatin semacam red distric areanya. Katanya sih lebih dari sarkem atau dolly kalo di Indonesia. Saya yang polos ini Cuma sekedar lewat aja sih, mau moto juga takut.

Hari Terakhir 19 Juli 2012

Pulang.

(foto-fotnya nanti ditmabah lagi deh.)

Senin, April 9

useless

Saya seringkali tiba pada suatu pemikiran: saya tidak berguna In some case, you know. Kenapa saya tidak sepintar orang-orang, kenapa saya tidak seberani mereka, kenapa saya tidak se-ini dan se-itu yang lainnya. Saya tahu setiap orang pasti punya porsinya. Keunggulannya. Kecanggihannya. Tapi tetep aja dalam kondisi tertentu, saya tidak merasa memberi manfaat apapun terhadap apapun. Masa bodoh orang bilang kamu jago ini kok, kamu hebat di situ kok. ya saya tau itu. biarlah saya berpikir i’m useless sejenak. Terkadang orang butuh merasa jatuh untuk bisa bangkit.

Jumat, Maret 2

Nano nano

Written at Wednesday, 29 February 2012

I’ve just came back from gramedia, menemani mbak monges who looked for a new novel but unfortunately it hasn’t been sold. So i read a book about aya kito (i’m not sure i write her name correctly). Oke sebenarnya saya ingin menulis segala tulisan yang bisa saya buat dalam bahasa inggris. But sometimes some words (because of my low ability in english) can not exspressed what i feel that time. So mungkin bakal setengah-setengah nulisnya.

Betapa tulisan bisa mempengaruhi dunia. Seorang aya, yang mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan manfaat bahkan bagi orang-orang dengan jumlah yang tak pernah ia bayangkan sendiri. termasuk saya. Di gramed, saya menyempatan membaca buku ‘Last letter’ (atau apa ya tadi judulnya?) yang jelas itu mengenai surat-surat aya yang ditujukan kepada tiga orang sahabatnya.

Surat menyurat. Saya mendapatkan kesan tersendiri dengan membaca surat-surat tersebut. Banyak kesan yang ditimbulkan dengan komunikasi melalui tulisan. Kamu hanya bisa mendapatkan informasi dengan membaca, tanpa melihat maupun mendengar. Tapi itu sangat menakjubkan. Aya begitu senang mendapat surat balasan dari sahabat-sahabatnya, di tengah keadaannya yang kian hari kian memburuk. Dengan mendengar cerita sahabatnya mengenai kabar sekolah lewat tulisan, ia menanggapi dengan bahagia setiap kata yang dibaca meski hanya dengan membayangkan.

Sekarang teknologi begitu canggih, berkomunikasi sangat mudah dilakukan. Tanpa harus menunggu lama, orang pun mampu bertatap muka langsung meski dengan jarak yang saling berjauhan. Karena begitu mudah pula, tak ada ‘kesan’ menyenangkan yang didapat, itu menurutku. Apakah orang yang mendapat kabar dengan bertatap muka melalui webcam akan sebahagia orang yang hanya menerima surat, sebulan sekali? Apakah kesenangan itu memang akan berkurang seiring waktu yang bergeser? Teknologi yang bertambah?

*tiba-tiba ganti topik*

Tadi ada konser tiga artis: kotak, ari laso, citra skolastika. In case of celebrating engineering faculty’s birthday, there were some events held on my faculty. one of the events was inauguration our new library. And because of this pembangunan was sponsored by ‘ciggaret’ company who claim as Djarum education foundation, acara ini mendatangkan beberapa band for music performed. Pertunjukan that ‘good’ enough for engineering faculty because we’ve never got this before. Apalagi ini gratis dan held in front of engineering faculty headquarter office or we called it KPFT. KPFT where i through it every day. Where my friends and i come together for a serious meeting. Where i have a agama class.

But from those 3 bands, i watched nothing. Sama sekali. Padahal KPFT itu deket sedeket alis sama ujung hidung. Tinggal nongol sedikit. Tapi saya melewatkan ketiganya. I know i’m not big fan of those 3 bands. (Atau saya agak lebay karena nggak pernah liat konser).But if there is a free concert held on your faculty, and not much people come, and it was a damn close from my campus, and it was FREE, and you just let your feet melangkah sebentar just for seeing them. Who want to let it go?

Itu semua karena studio, Yang entah kenapa hari ini serasa spot jantung ketika pak ika datang. Dan kami sekelompok tidak ada yang benar-benar selesai mengerjakan tugas. But luckily beliau tidak mengecek satu persatu anak yang telah mengerjakan tugasnya. *lega*
Pak ika baru datang sekitar jam 3 sore. Padahal konsernya dimulai jam setengah empat. Andaipun pak ika datang lebih awal, pasti beliau akan meninggalkan kami lebih awal pula. But he did not. Beliau menyelesaikan asistensinya hingga betul-betul tepat jam 5. Dimana ketiga band telah selesai beraksi.

Jadi apalah mau dikata, pas ketemu fani, yana, salma who were walking into KPFT i said to them that the concert was over. “boteeek?” fani said. But that’s true fani, we’re not so lucky today. Jurusan kita tidak terlalu peduli dengan acara ini haha.
Finally i only could see the empty stage, and few people walked out from KPFT.

*wow baru sadar udah ngetik cukup banyak *

I’ts okay then, tadi sepanjang perjalanan dari gramedia ke kosan saya memikirkan banyak hal untuk akhirnya ditulis di sini. Tapi ini masih banyak yang ingin saya tulis. Yang mungkin pada akhirnya akan berujung kemalasan melanjutkan, seperti tulisan-tulisan sebelumnya.
Saya sbetulnya ingin menulis tentang hal lain. Random.

Mengapa saya naik gunung?

Kalo kata soe hok gie, “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Kata saya, naik gunung itu hal yang keren, awalnya.

Tapi ternyata tidak sekedar keren. Saya menyesal karena hanya memilih alasan ‘keren’. Saya kira bener kata mas anton, humanity is not achievement, but humanity is a habit.

Kalo naik gunung hanya sekali dua kali, tidak akan merasakan makna yang lebih indah. Naik gunung akan semakin dekat dengan alam (alasan klise). Naik gunung akan melatihmu bertahan hidup.menyadari bahwa saya tidak memiliki apa-apa. Sederhana. (entah kenapa ingat Yu Sing)

Sederhana karena saya hanya perlu membawa hal-hal penting. Membawa bekal secukupnya. Dan punya kesempatan merenungkan segalanya dengan free. Tanpa ada teknologi, lalu lintas ramai, debu-debu jalan. Tanpa memikirkan ke’matchingan’ baju yang dipakai.

Yang terpenting, saya bisa mengamati manusia dengan lebih peka. Tersenyum ketika berpas-pasan dengan warga lokal. Yang selalu mereka balas dengan senyuman pula. Tidak ada orang jutek. Tidak ada mata tajam yang memandang ‘rendah’ saya, dan saya tidak akan pernah memandang mereka ‘rendah’.

Mungkin saya agak sok-sok an karena baru tiga kali naik gunung. Lebih tepatnya saya akan malu jika ada orang satub yang benar-benar membaca ini (saya harap tidak). Karena mereka pasti lebih berpengalaman dalam hal gunung-gunungan.

agaknya tulisan yang aneh untuk malam ini.

Sabtu, Februari 18

jejaring sosial, eh (?)

Harusnya saya nulis sesuatu yang lebih berguna ketimbang kata kata aneh yang lebih tepat ditulis di twitter, ato facebook. oh tidak tidak, saya entah kenapa justru lebih enggan membuat dua account saya lebih berwarna. Di saat semua orang -mayoritas ding- telah menghabiskan belasan ribu tweets nya untuk berceloteh ria. Saya sampai saat ini pun belum mencapai angka 200 tweets. Bangga? enggak. Malu? ngapain amat. Dan kian saya mengingat pertama kalinya membuat account twitter tiga tahun lalu, kian saya merasa ketika itu hanya mengikuti arus pemuda pemudi yang mulai hidup di zaman internet. Saya menyebut ini  fenomena.Dan setiap orang tidak harus masuk dalam fenomena itu bukan? Toh saya juga masih meng-update-nya, dalam intensitas waktu yang lebih lama dari rata-rata anak muda Indonesia, apalagi dunia. Dengan kata lain, parameter ke-update-an saya dalam dunia per-twitter-an berada di bawah rata-rata. Dengan kata lain lagi, saya ketinggalan jaman (?)

Faktanya, dunia jejaring sosial menjadikan seseorang lebih terbuka akan hal-hal pribadinya. Segala keluh kesah bisa dengan mudah diungkapkan dan diketahui banyak orang. Meski itu cuma sekedar duh, capek nih, atau gue ngantuk dan celotehan-celotehan ringan lainnya. Saya lebih cenderung mengamati ketika sedang log in. Jujur saja terkadang merasa njuk ngopo? ketika melihat beberapa komentar yang ehm, tidak penting. Tapi itulah fenomena, takdir, dan tidak ada yang salah memang. Dan karena jejaring sosial itu pulalah segala macam hal bisa dibagi dengan semua orang. Manfaatnya juga banyak. Tidak saya pungkiri.
No offense yah everyone!

Selasa, Januari 31

why?

kenapa kenapa kenapa AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA