Senin, Desember 7

My Neighborhood in 90’s

Terkadang ingatan masa-masa kecil muncul begitu saja dan lalu mengalir begitu jelasnya. Dengan derasnya ingatan tentang masa-masa saya dan teman sepermainan saya dulu, saya mencoba menulisnya di sini. Agar supaya tahun 2020 ada stok tulisan di blog ini juga hahaha.

Pada siang yang cerah, kami menyadari ada keluarga baru datang menempati tanah kosong di sebelah rumah. Tepatnya selang dua rumah di sebelah rumah kami. Umur saya mungkin masih 3 atau 4 tahun, usia yang tepat untuk selalu merasa penasaran akan hal baru di lingkungan sekitar. Mereka membangun rumah dari kayu, yang sepertinya adalah keahlian mereka untuk mengolah balok-balok kayu menjadi sesuatu yang berguna. Mereka adalah keluarga tukang kayu dari Indramayu dan lahan kosong tersebut lalu menjadi penuh dengan kayu dan bising suara mesin pemotong kayu menjadi akrab di telinga saya pada tahun-tahun berikutnya.

Keluarga baru tersebut ternyata juga memiliki anggota yang sepantaran dengan saya, dua orang perempuan. Sambutan yang saya lakukan untuk mereka adalah sambutan yang buruk. Kakak dan sepupu saya, yang adalah lelaki, tentunya cukup usil mengetahui ada dua anak baru. Saya melihat mereka memakai topeng badut untuk menakut-nakuti anak baru itu hingga menangis. Saya pikir saya tidak ikut mengusili tapi hanya tertawa-tawa saja, yang ternyata sama buruknya. Saya tidak ingat bagaimana mereka memaafkan kami dan akhirnya berkenalan, tapi salah satu anak perempuan itu sama tahun lahirnya dengan saya, namanya Devi. Tidak lama kami pun menjadi teman akrab dan sering sekali bermain bersama-sama. Saya ingat bau kayu di rumahnya ketika saya diajak masuk ke dalam. Juga pompa air dari besi yang pengungkitnya setinggi ukuran tubuhnya, sehingga untuk mengisi air ke dalam ember, ia harus mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil berjinjit lalu menggantungkan badannya agar pengungkit tersebut ikut turun. Ia juga sering main ke rumah saya, bermain masak-masakan atau rumah-rumahan. Tetangga saya, yang rumahnya berada di antara rumah saya dan devi, adalah tiga orang lansia yang anak-anaknya sudah tinggal di rumah masing-masing. Tetangga saya di sisi lainnya adalah tempat usaha oli dan cuci mobil. Depan rumah adalah pertigaan yang cukup ramai lalu lalang kendaraan karena jalan tersebut cukup besar, jalur penghubung antara pantura dan ibukota kabupaten. Kehadiran Devi dan keluarganya membuat saya menjadi memiliki teman perempuan yang pada akhirnya membuat saya lebih berani untuk bermain ke lingkungan anak-anak yang lebih jauh dari sekedar tetangga samping rumah.

Bisa dibilang lingkungan kami adalah kampung pinggiran yang mulai padat. Terutama karena berada tepat di pinggir jalan lebar yang ramai kendaraan dan bukan berada dalam gang. Namun jika menjelajah lebih dalam di area belakang rumah, banyak kebun dan sawah dan suasana kampung yang masih asri. Di situlah saya dan Devi lalu menjelajahi tempat-tempat baru dengan bersepeda, bermain ke kelompok anak-anak yang lain yang lebih besar. Saya dan Devi berada di sekolah dasar yang berbeda, Devi masuk sekolah negeri yang dekat rumah sedang saya masuk ke madrasah yang cukup jauh hingga harus diantar jemput orang tua. Meski berbeda, kami memasuki TPA yang sama. Sehabis pulang sekolah, saya segera bersiap-siap untuk berangkat TPA sambil menunggu Devi menjemput saya lalu kami berjalan kaki bersama.

Sesekali kami bersepeda sedikit lebih jauh. Ke sawah belakang, ke kelompok anak-anak yang tidak saya kenali, atau ke mendatangi sepupu Devi. Devi berbicara dalam bahasa yang tak saya pahami jika ia bertemu dengan sepupunya yang juga keluarga tukang kayu. Saya kagum karena Devi bisa bicara banyak bahasa yang asing di telinga saya. Bahasa Indramayu tentunya bukan bahasa yang saya pahami karena sudah merupakan campuran bahasa Jawa, ngapak, dan mungkin sunda. Saya dan Devi tentunya sering juga berjalan kaki mendatangi kelompok anak lain yang tidak jauh yang lebih bervariasi usianya, lebih muda atau lebih tua dari kami. Dengan jumlah anak yang banyak, banyak pula permainan seru yang dapat dimainkan. Hal yang paling saya ingat dari pertemanan saya dengan kelompok tersebut adalah kami patungan untuk menyewa vcd film India yang saya lupa film apa (mungkin Kuch-Kuch Ho ta Hai). Film tersebut diputar di rumah salah satu anak di kelompok tersebut dan kami menonton beramai-ramai selama beberapa hari.

Di antara rumah saya dan Devi adalah rumah milik tiga orang lansia yang dua di antaranya adalah perempuan bernama Mbah Mas dan Mbah Mu. Mbah Mas lebih muda dari Mbah Mu dan perawakannya kecil dengan nada suara yang tinggi. Sedangkan Mbah Mu adalah kakak kandung dari Mbah Mas dengan badan yang lebih besar dan lebih gemuk, dengan nada suara lebih rendah. Keduanya seolah saling melengkapi seperti karakter pasangan jenaka di komik atau kartun di mana yang satu selalu kurus dan yang satu selalu gemuk. Pakaian mereka bergaya sama, jarik dan kebaya sederhana. Namun mereka selalu mengenakan penutup kepala yang berbeda. Mbah Mas memakai kerudung topi yang ngetrend dipakai ibu-ibu haji pada masa itu, semacam turban yang instan. Sedang Mbah Mu penutup kepalanya seperti kain yang dililit-lilit menyerupai atap rumah gadang (?). Di depan rumah mereka ada pohon mangga apel yang selalu berbuah lebat. Saya senang melihat pohon tersebut berbuah karena saya cukup takjub saat itu dengan konsep buah mangga yang berbentuk seperti apel. Mbah Mas sering memasak peyek dan menjualnya di depan rumah yang juga terdapat warung mungil. Peyek yang dibuat Mbah Mas tidak pernah saya temui di tempat lain. Teksturnya renyah, kacangnya banyak, dan lembaran peyeknya cukup tebal, enak sekali. Di depan rumah Mbah Mas ada pagar tembok yang rendah yang bisa dipakai duduk-duduk dan orang-orang yang lebih dewasa sering berkumpul mengobrol di situ.

Karena rumah kami berada di pertigaan yang cukup besar, pernah suatu ketika pada malam hari ada semacam tawuran di pertigaan tersebut entah kelompok pemuda dari mana. Paginya Mbah Mas memberitahu saya ada yang menyembunyikan senjata tajam di pipa saluran depan rumahnya. Ketika saya mendekat untuk melihat, Mbah Mas menarik sesuatu yang panjang dari pipa saluran tersebut dan menunjukkan saya pedang lengkap dengan tutup sarungnya. Saya begidik dan langsung kabur. Di pertigaan tersebut juga sering terjadi kecelakaan. Ayah saya beberapa kali menolong orang yang jatuh tersungkur, bahkan ada yang mulutnya berbusa ketika beliau membalikkan badannya. Kata orang, rumah di posisi tusuk sate tidak baik peruntungannya. Saya kira wajar karena banyak orang tidak berhati-hati dalam menyeberang dan banyak kendaraan ngebut.

Tetangga saya di sisi satunya lagi, adalah toko oli dan minyak yang memiliki halaman depan cukup luas untuk parkir. Karena pada siang hari digunakan untuk jual beli, maka ketika malam hari dan mereka telah tutup, halaman parkir tersebut dijadikan tempat bermain banyak anak. Saya pun diperbolehkan ikut main karena hanya berada di sebelah rumah. Suatu ketika kami pernah masuk ke dalam belakang toko tersebut yang ternyata amat sangat luas sekali. Rumah tinggalnya masih agak jauh di belakang toko dan area cuci mobil. Pemiliknya adalah pak haji yang usahanya cukup banyak. Kabarnya juga punya istri banyak. Yang saya ingat salah satu istrinya menyukai kucing dan saya pernah menemuinya menggendong kucing saat kami masuk ke rumahnya. Hanya itu saya bertemu dengan istri pak haji. Belakangan Ibu saya cerita bahwa istri yang itu beberapa tahun lalu kabur membawa harta benda.

Cerita-cerita saya bersama tetangga teman sepermainan perlahan mulai berkurang. Akhir sekolah dasar saya mulai ikut les di kota. Saya juga pindah TPA dan tak lagi bersama Devi, yang disesalkan ibunya Devi karena kami tak bisa berangkat bersama lagi. Saya juga menjadi lebih intens dengan teman-teman sekolah yang adalah pertemanan yang berbeda dari lingkungan rumah karena sd saya ada di kelurahan lain. Hal yang paling saya sesali bahkan hingga kini adalah saya pernah membuat Devi amat sangat marah. Saya pernah mendapat oleh-oleh gelang dari bude saya yang baru pulang haji. Saya memakainya saat bermain bersama Devi, lalu ibu Devi melihatnya dan ingin sekali memilikinya. Saya dengan senang hati lalu memberikannya. Beberapa hari kemudian entah apa yang membuat saya berubah pikiran, saya meminta gelang itu kembali melalui Devi. Devi lalu memberikan gelangnya kembali beserta sebuah surat yang isinya adalah kemarahannya karena saya meminta sesuatu yang telah diberikan. Saya takut sekali Devi marah, saya juga menyesal kenapa memintanya kembali, namun terlalu gengsi untuk mengembalikannya lagi. Mungkin kami cukup lama berdiam-diaman. Lalu saya mencoba meminta maaf dengan memberi penjepit rambut cantik sebagai penggantinya dan surat permintaan maaf. Tak lama semuanya menjadi baik-baik saja, tapi ingatan tentang betapa tidak eloknya perlakuan saya saat itu masih terngiang. Belakangan saya berpikir kelakuan saya meminta barang pemberian waktu itu mungkin karena saya memberi hadiah dari bude ke orang lain lagi tanpa sepengetahuan ibu dan mbak pengasuh saya waktu itu sehingga di sisi lain saya juga merasa bersalah.

Memasuki masa smp pertemanan saya dengan Devi lalu cukup drastis terpotong karena saya masuk pesantren di Solo. Kami sempat bertukar foto. Saya pulang ke rumah hanya dua kali setiap tahunnya. Di saat itu saya bertemu Devi hanya beberapa kali. Saya pernah meminta Devi untuk mengirimi saya surat ke alamat pesantren karena saya akan sangat bahagia sekali. Namun tidak pernah ada surat dari Devi. Begitupun ketika memasuki SMA, saya akan semakin jauh tinggal di asrama. Ibu saya bilang, ibunya Devi minta saran dan menimbang-nimbang apa akan menyekolahkan Devi SMA atau hanya kursus menjahit di suatu tempat. Ibu saya menyarankan sekolahlan saja Devi di SMA dekat rumah. Tapi akhirnya Devi pergi kembali ke kampung halamannya. Kabarnya menikah. Saya hanya mendengar cerita dari Mbah Mas ketika saya pulang di masa-masa liburan SMA saya. Saya hanya pernah sekali bertemu dengan Devi setelah ia menikah, di masa-masa saya libur SMA. Tidak banyak yang dibicarakan, karena kami sangat lama tidak bersama. Devi tampak dewasa sekali saat itu, dan gerak-geriknya juga seperti wanita dewasa. Saya tidak banyak bertanya tentang pernikahannya karena saya pikir itu sangat pribadi. Tahun-tahun berikutnya, Devi dan ibunya serta anggota keluarga yang perempuan kembali ke Indramayu. Kabarnya, ibunya Devi lalu bekerja di sawah dan ayah Devi merantau ke Jakarta. Rumah kayu Devi cukup lama tertutup hingga akhirnya dibongkar dan menjadi tanah kosong kembali. Saya tidak pernah tau kabar Devi hingga kini.

Pada masa saya berkuliah, kabar atas meninggalnya Mbah Mu lalu terdengar. Lalu pada waktu-waktu berikutnya, Mbah Mas juga menyusul. Rumah Mbah Mas direnovasi anaknya. Tidak ada lagi pohon mangga apel dan warung kecil Mbah Mas. Satu persatu lingkungan masa kecil saya pun berubah. Begitupula rumah saya dan keluarga, karena satu dan lain hal kami harus menjualnya dan pak haji juragan samping kami berbaik hati membelinya. Saya sekeluarga pindah ke rt lain, tak lagi tinggal di tusuk sate yang ramai. Pak haji juragan lalu membongkar rumah saya serta tokonya sendiri agar cukup luas untuk dijadikan area pombensin, prospek usaha yang sangat menjanjikan. Baru seminggu kemarin pombensin tersebut resmi beroperasi.

Well, it's kinda sad to see my childhood place is slowly disappeared, where I used to spend most of my time before. I couldn't back to see the room I used to sleep, or cry, or play. It is strange that all the memories about my old house show in my night dream. When my dream took place in my old house, it left dark feeling right after I wake up. Maybe because I knew that the house doesn't exist anymore. Like when I met deceased person, but it's a deceased house, I knew the house has 'died' so the dream always been related to dark feeling.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ayo sini dikomen dikomeen :)