Hari ini valentine loh..
Siapa peduli? nggak penting.
Ulang tahun papa aja, tgl 8 Februari kemaren, gak gue kasih ucapan. Kejam ya?. Nggak juga tuh. Justru papa sendiri yang bilang, yang terpenting tu do'anya. Buat apa kasih-kasih ucapan, tapi do'anya nggak dari hati. Maksudnya cuman sekedar buat nyenengin orang, eh ternyata dia nggak sungguh-sungguh berdo'a. Gue aja perasaan terakhir kali dikasih ucapan ultah sama ortu sekitar 12 tahun yang lalu waktu umur lima tahun, perayaan ultah yang pertama dan terakhir kalinya (kali).
Mungkin karena sejak awal udah dididik begitu, gue pun tumbuh menjadi seseorang yang tak peduli akan pesta pora ulang tahun dan sejenisnya. Haha, nggak selebay itu kok tapi. Intinya sih, ucapan cuman sebagai formalitas saja. InsyaAllah do'anya dari hati kok, amin. Nyawa berkurang kok dikasih selamat.
Ngomong-ngomong soal nyawa, akhir-akhir ini gue jadi lebih bisa menghargai arti kehidupan, ceilah.
Sekitar sebulan yang lalu, (lupa tanggalnya, pokoknya hari selasa) salah satu adik kelas meninggal. Aviq namanya, dia dipanggil Allah waktu menjelang maghrib. Seisi sekolah syok. Kami semua merasa kehilangan. Jujur, meski gak kenal bahkan gak inget mukanya (baru inget waktu dikasih liat fotonya), gue juga sedih. Sedih karena kehilangan salah satu bagian keluarga. Salah satu teman seperjuangan dalam menuntut ilmu. Semoga saja Aviq diterima di sisi-Nya, dan hidup tentram di alam sana. Amin.
Belum usai kedukaan, datang lagi berita lainnya. Waktu nelpon mama hari kamisnya, katanya Mbah Mu, salah satu tetannga, meninggal dunia hari inggu sebelum Aviq dipanggil. Berita yang kedua ini menambah kesedihan gue. Gue nangis. Mbah Mu tetangga yang baik banget. Sejak kecil beliau selalu menjadi teman yang baik. Sewaktu main-main keluar rumah, pasti beliau sedang duduk di depan rumahnya. Biasanya gue dateng, salim, ngobrol. Sejak SMP-SMA di asrama, gue di rumah cuma pas waktu-waktu tertentu kayak lebaran ato liburan semesteran. And she used to say : Ooo.. Tami, lha kok wes gedhe nemen? saiki sekolah nang endi?
Yah, gue cuma bisa senyum. Meski udah bilang, kalo gue sekolah di Tangerang, Beliau tetep aja nanya. God bless you, Mbah,
Kemarin, baru nelpon mama lagi. Sekarang mama bawa berita lain lagi. Katanya simbah, Ibunya Papa, dibawa ke rumah sakit. She has been old, very old. You know, i drop my tears, when mom said that. I love her, so much. Selama ini gue males ikut papa ke toko kain (rumah simbah) buat bantu simbah ngurusin kasir. Beliau selalu nyuruh, "Tami, kok ra tau teko, ngger kene wae, rewangi simbah",, lagi-lagi gue senyum doang. Males buat bantu. Duh, ndableg banget sih gue. Sekarang aja jadi sedih, tau beliau sakit.
I'm afraid, something bad will happen. Gue cuma bisa berdo'a trhdp kesehatan beliau.
And i've just realized, how old my dad is. He's fifty now. Selama ini gue menyangka, beliau masih 40-an. Pas ngitung-ngitung lagi, lho kok ternyata udah lima puluh. Semoga papa selalu diberi kesehatan yang baik. Selalu dalam limpahan karunia-Nya.
Dari cerita-cerita di atas, disimpulkan bahwa seseorang bisa kehilangan nyawanya, kapanpun dan dimanapun. Gak ada yang tau, Kecuali-Nya. Siapa sangka Aviq meninggal sore itu, padahal siangnya masih hidup normal. Gue juga bisa meninggal kapan saja. Nggak ada yang tahu, wallahu a'lam
Gue jadi lebih menyadari pentingnya manusia hidup. Mencari bekal guna di akhirat nanti. Yah, semoga gue bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi, berguna bagi nusa dan bangsa.
Peace.
Tami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayo sini dikomen dikomeen :)