Kamis, Januari 27

Pesan si mbah

Ada catetan menarik dari salah seorang senior gue. Senior banget deh, makanya dipanggil mbah, mbah jarod.
Sebenernya ini pesen buat anak-anak satu bumi, tapi makna pesennya sih menurut gue global, ngena buat siapa aja terutama generasi sekarang. Yang hidup di jaman serba berteknologi.
so buat yg baca, ambil maknanya yaa
(ijin copas ya mbah)
Laptop berbicara seni?..tapi lebih baik kertas yang berbicara seni..:)
oleh Jarody Hestu pada 19 Januari 2011 jam 0:30

Dear bray, yang selalu saja tetap ayu-ayu dan bagus-bagus di tengah aktivitas kalian di lembah code..:)

Just intermezzo saja. Kutulis di fesbuk dengan tag nama-nama kalian, yahh..berhubung sudah tak jaman lagi menulis di septictank yang tinggal kenangan masa lampau. (~nyindir pengurus yang tak juga nongol dengan janji septictank barunyah~) :p

Hmm, tanyalah topik apa yang kubicarakan..dan kujawab, ini tentang fotografi.

Adik-adikku (yahh, karena tentu saja yang ku-tag di note ini lebih muda dari aku)..sangat bodoh sekali jika aku membicarakan teknik fotografi di sini, karena tentu saja banyak sekali dewa-dewa fotografi di lembah Code yang mengintipku dari balik pintu dengan sinis..hihihi. Yang kubicarakan di sini adalah tentang...hmmm, begini saja..ini filsafat fotografi, bagaimana fotografi bisa "membuat kita berkeliling dunia". :)

Beberapa hari yang lalu aku iseng melihat puluhan album foto lama di lemari sekret kita. Ada sekitar 50-60 an album foto yang terbingkai semenjak 10-12 tahun yang lalu. Lucu, mengharukan, dan serasa ingin kembali kepada pendakian-pendakian masa lalu. Toh, mereka (kakak-kakakmu) yang ada di foto itu tentu saja sekarang autis dengan kesibukannya di meja proyek, laut, pertambangan ataupun merawat anak-anak mereka. Kembali mendaki bersama mereka tentu saja kini menjadi sesuatu yang fantastis untuk diwujudkan saat ini. Untukku dan selalu menjadi keinginanku mendaki bersama mereka kembali.

Lalu adakah yang salah dengan album-album foto itu. Gotcha..ada yang aneh, karena aku hanya dapat melihat petualangan di masa yang lalu. Tak dapat kulihat petualangan kita di masa sekarang. Melihat lagi album-album foto itu, tak ada album foto yang baru. Tak ada petualangan-petualangan kita di 2009 dan 2010. Hampir semua album adalah petualangan di bawah tahun 2008. Ahh, bosan tentu saja melihat tampang narkobis si Karat di situ, ataupun tampang kemanthil si Kampret, si gundul jon Gabot gajah bothak, tampang mesum Isnan pantat besar, si jail Nurcholis Dee, klan pemuja bulan dan kakak-kakakmu yang lain.

Lalu di album foto mana dapat kulihat tampang-tampang gaul adik-adikku yang sering berkeliaran di lembah Code sekarang ini ?

Pertanyaan yang retoris bukan, karena tentu saja kita semua setuju dengan sebuah jawaban, ...facebook.

Semua petualangan baru kita telah terapdet seketika di jaman facebook ini, dan memenuhi space di komputer sekret sebesar 18 GB (beberapa minggu yang lalu sebesar 24 GB, lalu saya perkecil size sebagian besar foto). Teknik fotografi digital benar-benar membuat pemuda-pemuda modern menjadi raja digital pula. 

Lalu, di mana filsafatnya??

Fotografi klasik mempelajari penyajian fotografi dari mengambil gambar hingga menyajikan ke penikmat foto dalam bentuk cetakan kertas. Inilah..metamorfosa seperti inilah yang tetap harus dilalui seorang pemotret, pun kamera telah berganti digital. Cetaklah foto di atas kertas..karena seni sebenarnya seni akan terlihat di atas kertas. Tak mungkin kiranya seorang fotografer ulung menyelenggarakan pameran foto dengan ratusan laptop menyala di dinding pameran, bukan ratusan kertas. Ya, kecuali si fotografer adalah seniman gila dengan karya seni instalasi berjudul "Laptop Berbicara Seni".

Fotografi, "dari dunia mengajak kita berkeliling dunia"..lihatlah foto itu dik, begitu cantik bukan dan niscaya kau pasti ingin menginjak tempat itu. Fotografi menyampaikan pesan kepada mereka yang melihatnya dari atas kertas. Riuh orang, sendu alam, gembira nestapa segalanya ada. 

Kau lihat foto Everest, dan semoga 25 tahun lagi kau mampu mendaki puncaknya. Fotografi menggoda kita untuk selalu berpetualangan, selalu mendaki gunung di usia mapan, selalu berani menjelajahi wilayah-wilayah yang belum tentu rimbanya. Dan seketika kau takjub bahwa di bingkai kertas album lusuh itu terkumpul foto bersama kita 20 tahun yang lalu hingga entah, lalu kau haru. Perasaan seperti itu hanya ada ketika kau melihat foto di bingkai kertas, bukan di monitor laptop.

Coba cerna kesimpulannya, maksudku sudah jelas kok..:)

Aku mengajak kita semua untuk kembali mengabadikan petualangan-petualangan kita. Berpetualanglah sebanyak-banyaknya dan jepretlah foto sebanyak-banyaknya, lalu cetak di atas kertas, kabarkan kepada dunia tentang petualangan kita. 

Hehe, ngapunten bray..diriku hidup dari berpetualang, dan fotografi bersama tulisan adalah cara paling indah untuk menghargai petualangan-petualanganku..sampunn, pareng sedherek mawon, matur nuwunn :)

..kasihan sekali foto-foto itu merana di dalam laptop..

~ hestu
19 januari 2011

p.s. eh iya..sampai saat ini aku belum pernah sekalipun melihat foto-foto ekspedisi Leuser kita, yahh..aku tak menemukannya di lemari album sekret kita. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ayo sini dikomen dikomeen :)