Saya menulis lagi. Rasa-rasanya belakangan saya hanya menulis
jika saya ingin menulis, dan saya ingin menulis
ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan sistem perputaran di hidup
saya. Namun jujur saya pun tidak ingin beberapa kisah yang saya tulis diketahui
banyak orang, beberapa kali saya pengen ngetwit atau
nulis gamblang di blog, tapi
terlalu terumbar rasanya, saya kan pemalu haha. Sudah terlalu lama saya vakum
dari dunia tulis menulis di dunia maya. Entahlah, mungkin saya bosan dengan
keadaan yang terlalu cepat ini. Hambar. Saya juga memiliki banyak stok
foto-foto yang kiranya bagus untuk saya posting, sehingga beberapa kali berniat
membuat akun instagram. Tapi lagi lagi, berujung pada kehambaran. Mungkin
sebenarnya saya lebih ke arah plin plan, apakah seharusnya saya masuk ke dalam
euforia trend hidup manusia jaman sekarang? atau saya hanya memandanginya saja
dari kejauhan? menertawakan pun tenggelam dalam keragu-raguan. Hmm, dasar
tukang plin-plan.
so here’s the story begin.. dari tadi juga udah mulai sih, haha.
Sebetulnya toh ini tulisan
mainstream anak muda 20an yang belum benar benar paham arah hidupnya mau
kemana. ya, lagi-lagi.
Tapi sadar nggak sih
semakin kamu banyak melihat kehidupan, semakin banyak bertemu orang. Semakin
segala sesuatunya kembali lagi ke nol. Semacam mempertanyakan diri sendiri
sebenernya kamu ini siapa? dimana? sedang apa? mau apa? yakin dengan yang kamu
lakukan?
Saya sedang membantu sebuah
proyek penelitian dosen saya mengenenai ruang hidup lansia di suatu kampung
padat di Yogyakarta. Dan ini cukup menyenangkan karena saya harus mengunjungi
150 responden lansia di setiap rumah mereka. Betapa kehidupan seseorang bisa
dengan jelas terlihat dari sebuah ‘ruang’ yang disebut rumah. Bagaimanapun
wujud rumahnya, si pemiliklah yang pada akhirnya menjadikannya sebagai cerminan
watak-watak, identitas, dari apa yang telah mereka perbuat semasa hidupnya.
Pun karena yang diwawancara
adalah lansia, dimana mereka telah melalui pahit manis kehidupan. Dan memiliki
segudang kisah dan nasihat hidup. Sangat menyenangkan bisa mendengarkan
bagaimana mereka bercerita tentang rumah mereka. Saya pada dasarnya senang
mendengarkan orang lain bercerita. Terkhususnya para lansia, yang jika
bercerita, sorot matanya seolah menghisap saya dan saya turut masuk ke dalam
setting peristiwa yang mereka ingat seperti menonton layar lebar. Tapi bioskopnya
di dalam pikiran mereka, haha ngaco. Dan ketika menanyakan mengenai peristiwa
yang terjadi dahulu kala, maka mereka akan memalingkan arah pandangan sembari
mengernyitkan dahi, mencoba mengingat ngingat. Lalu saya akan menemukan senyum
jika yang mereka ingat adalah kisah kisah bahagia. Dan tentu saja, saya pun
ikut senang. Simple ya.
Meski kadang ceritanya jadi
ngelantur kemana-mana, dan saya jadi perlu diingatkan rekan saya agar
segera menuntaskan wawancaranya haha. Terima kasih Bapak dan Ibu yang rumahnya
saya rusuhi, terima kasih atas cerita ceritanya, terima kasih. Semoga sehat
selalu. Pada akhirnya kita semua akan menua, dan kiranya rumah pun perlu
dipersiapkan agar bisa dinikmati di masa tua, bukannya menyusahkan.
Menua itu pasti. Dewasa itu
pilihan. Ciah. Katanya orang-orang sih.
Saya kira saya pun sedang
berproses dalam tahap ‘dewasa’. Bagaimana berdamai dengan
permasalahan-permasalahan. Segalanya harus dipikirkan matang-matang, and just calm down for anything, girl.
Usia 20an udah bukan jamannya nangis nggerung-nggerung
kalo lagi banyak masalah, atau teriak teriak manja kalo lagi puyeng. Atau
bertingkah tanpa mempertimbangkan akibatnya. Hmm, sotoy ya saya. Eh, tapi saya
juga nggak gitu gitu amat kok haha. Jadi kalo pada saatnya terpuruk, pun kayaknya
nggak terlalu baik kalo terlarut terlalu dalam. Atau kalau terlalu senang, hmm,
ya disyukuri aja sih. Kadang terlalu senang itu pun bisa menjatuhkan jika dibalik
kesenangan ternyata ada masalah besar. Duh ribet yak hidup haha. Yang
sedang-sedang aja deh, just be slow and
steady,
Atau mungkin saya sedang
dalam masalah besar?






Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayo sini dikomen dikomeen :)