Senin, Desember 7

My Neighborhood in 90’s

Terkadang ingatan masa-masa kecil muncul begitu saja dan lalu mengalir begitu jelasnya. Dengan derasnya ingatan tentang masa-masa saya dan teman sepermainan saya dulu, saya mencoba menulisnya di sini. Agar supaya tahun 2020 ada stok tulisan di blog ini juga hahaha.

Pada siang yang cerah, kami menyadari ada keluarga baru datang menempati tanah kosong di sebelah rumah. Tepatnya selang dua rumah di sebelah rumah kami. Umur saya mungkin masih 3 atau 4 tahun, usia yang tepat untuk selalu merasa penasaran akan hal baru di lingkungan sekitar. Mereka membangun rumah dari kayu, yang sepertinya adalah keahlian mereka untuk mengolah balok-balok kayu menjadi sesuatu yang berguna. Mereka adalah keluarga tukang kayu dari Indramayu dan lahan kosong tersebut lalu menjadi penuh dengan kayu dan bising suara mesin pemotong kayu menjadi akrab di telinga saya pada tahun-tahun berikutnya.

Keluarga baru tersebut ternyata juga memiliki anggota yang sepantaran dengan saya, dua orang perempuan. Sambutan yang saya lakukan untuk mereka adalah sambutan yang buruk. Kakak dan sepupu saya, yang adalah lelaki, tentunya cukup usil mengetahui ada dua anak baru. Saya melihat mereka memakai topeng badut untuk menakut-nakuti anak baru itu hingga menangis. Saya pikir saya tidak ikut mengusili tapi hanya tertawa-tawa saja, yang ternyata sama buruknya. Saya tidak ingat bagaimana mereka memaafkan kami dan akhirnya berkenalan, tapi salah satu anak perempuan itu sama tahun lahirnya dengan saya, namanya Devi. Tidak lama kami pun menjadi teman akrab dan sering sekali bermain bersama-sama. Saya ingat bau kayu di rumahnya ketika saya diajak masuk ke dalam. Juga pompa air dari besi yang pengungkitnya setinggi ukuran tubuhnya, sehingga untuk mengisi air ke dalam ember, ia harus mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil berjinjit lalu menggantungkan badannya agar pengungkit tersebut ikut turun. Ia juga sering main ke rumah saya, bermain masak-masakan atau rumah-rumahan. Tetangga saya, yang rumahnya berada di antara rumah saya dan devi, adalah tiga orang lansia yang anak-anaknya sudah tinggal di rumah masing-masing. Tetangga saya di sisi lainnya adalah tempat usaha oli dan cuci mobil. Depan rumah adalah pertigaan yang cukup ramai lalu lalang kendaraan karena jalan tersebut cukup besar, jalur penghubung antara pantura dan ibukota kabupaten. Kehadiran Devi dan keluarganya membuat saya menjadi memiliki teman perempuan yang pada akhirnya membuat saya lebih berani untuk bermain ke lingkungan anak-anak yang lebih jauh dari sekedar tetangga samping rumah.

Bisa dibilang lingkungan kami adalah kampung pinggiran yang mulai padat. Terutama karena berada tepat di pinggir jalan lebar yang ramai kendaraan dan bukan berada dalam gang. Namun jika menjelajah lebih dalam di area belakang rumah, banyak kebun dan sawah dan suasana kampung yang masih asri. Di situlah saya dan Devi lalu menjelajahi tempat-tempat baru dengan bersepeda, bermain ke kelompok anak-anak yang lain yang lebih besar. Saya dan Devi berada di sekolah dasar yang berbeda, Devi masuk sekolah negeri yang dekat rumah sedang saya masuk ke madrasah yang cukup jauh hingga harus diantar jemput orang tua. Meski berbeda, kami memasuki TPA yang sama. Sehabis pulang sekolah, saya segera bersiap-siap untuk berangkat TPA sambil menunggu Devi menjemput saya lalu kami berjalan kaki bersama.

Sesekali kami bersepeda sedikit lebih jauh. Ke sawah belakang, ke kelompok anak-anak yang tidak saya kenali, atau ke mendatangi sepupu Devi. Devi berbicara dalam bahasa yang tak saya pahami jika ia bertemu dengan sepupunya yang juga keluarga tukang kayu. Saya kagum karena Devi bisa bicara banyak bahasa yang asing di telinga saya. Bahasa Indramayu tentunya bukan bahasa yang saya pahami karena sudah merupakan campuran bahasa Jawa, ngapak, dan mungkin sunda. Saya dan Devi tentunya sering juga berjalan kaki mendatangi kelompok anak lain yang tidak jauh yang lebih bervariasi usianya, lebih muda atau lebih tua dari kami. Dengan jumlah anak yang banyak, banyak pula permainan seru yang dapat dimainkan. Hal yang paling saya ingat dari pertemanan saya dengan kelompok tersebut adalah kami patungan untuk menyewa vcd film India yang saya lupa film apa (mungkin Kuch-Kuch Ho ta Hai). Film tersebut diputar di rumah salah satu anak di kelompok tersebut dan kami menonton beramai-ramai selama beberapa hari.

Di antara rumah saya dan Devi adalah rumah milik tiga orang lansia yang dua di antaranya adalah perempuan bernama Mbah Mas dan Mbah Mu. Mbah Mas lebih muda dari Mbah Mu dan perawakannya kecil dengan nada suara yang tinggi. Sedangkan Mbah Mu adalah kakak kandung dari Mbah Mas dengan badan yang lebih besar dan lebih gemuk, dengan nada suara lebih rendah. Keduanya seolah saling melengkapi seperti karakter pasangan jenaka di komik atau kartun di mana yang satu selalu kurus dan yang satu selalu gemuk. Pakaian mereka bergaya sama, jarik dan kebaya sederhana. Namun mereka selalu mengenakan penutup kepala yang berbeda. Mbah Mas memakai kerudung topi yang ngetrend dipakai ibu-ibu haji pada masa itu, semacam turban yang instan. Sedang Mbah Mu penutup kepalanya seperti kain yang dililit-lilit menyerupai atap rumah gadang (?). Di depan rumah mereka ada pohon mangga apel yang selalu berbuah lebat. Saya senang melihat pohon tersebut berbuah karena saya cukup takjub saat itu dengan konsep buah mangga yang berbentuk seperti apel. Mbah Mas sering memasak peyek dan menjualnya di depan rumah yang juga terdapat warung mungil. Peyek yang dibuat Mbah Mas tidak pernah saya temui di tempat lain. Teksturnya renyah, kacangnya banyak, dan lembaran peyeknya cukup tebal, enak sekali. Di depan rumah Mbah Mas ada pagar tembok yang rendah yang bisa dipakai duduk-duduk dan orang-orang yang lebih dewasa sering berkumpul mengobrol di situ.

Karena rumah kami berada di pertigaan yang cukup besar, pernah suatu ketika pada malam hari ada semacam tawuran di pertigaan tersebut entah kelompok pemuda dari mana. Paginya Mbah Mas memberitahu saya ada yang menyembunyikan senjata tajam di pipa saluran depan rumahnya. Ketika saya mendekat untuk melihat, Mbah Mas menarik sesuatu yang panjang dari pipa saluran tersebut dan menunjukkan saya pedang lengkap dengan tutup sarungnya. Saya begidik dan langsung kabur. Di pertigaan tersebut juga sering terjadi kecelakaan. Ayah saya beberapa kali menolong orang yang jatuh tersungkur, bahkan ada yang mulutnya berbusa ketika beliau membalikkan badannya. Kata orang, rumah di posisi tusuk sate tidak baik peruntungannya. Saya kira wajar karena banyak orang tidak berhati-hati dalam menyeberang dan banyak kendaraan ngebut.

Tetangga saya di sisi satunya lagi, adalah toko oli dan minyak yang memiliki halaman depan cukup luas untuk parkir. Karena pada siang hari digunakan untuk jual beli, maka ketika malam hari dan mereka telah tutup, halaman parkir tersebut dijadikan tempat bermain banyak anak. Saya pun diperbolehkan ikut main karena hanya berada di sebelah rumah. Suatu ketika kami pernah masuk ke dalam belakang toko tersebut yang ternyata amat sangat luas sekali. Rumah tinggalnya masih agak jauh di belakang toko dan area cuci mobil. Pemiliknya adalah pak haji yang usahanya cukup banyak. Kabarnya juga punya istri banyak. Yang saya ingat salah satu istrinya menyukai kucing dan saya pernah menemuinya menggendong kucing saat kami masuk ke rumahnya. Hanya itu saya bertemu dengan istri pak haji. Belakangan Ibu saya cerita bahwa istri yang itu beberapa tahun lalu kabur membawa harta benda.

Cerita-cerita saya bersama tetangga teman sepermainan perlahan mulai berkurang. Akhir sekolah dasar saya mulai ikut les di kota. Saya juga pindah TPA dan tak lagi bersama Devi, yang disesalkan ibunya Devi karena kami tak bisa berangkat bersama lagi. Saya juga menjadi lebih intens dengan teman-teman sekolah yang adalah pertemanan yang berbeda dari lingkungan rumah karena sd saya ada di kelurahan lain. Hal yang paling saya sesali bahkan hingga kini adalah saya pernah membuat Devi amat sangat marah. Saya pernah mendapat oleh-oleh gelang dari bude saya yang baru pulang haji. Saya memakainya saat bermain bersama Devi, lalu ibu Devi melihatnya dan ingin sekali memilikinya. Saya dengan senang hati lalu memberikannya. Beberapa hari kemudian entah apa yang membuat saya berubah pikiran, saya meminta gelang itu kembali melalui Devi. Devi lalu memberikan gelangnya kembali beserta sebuah surat yang isinya adalah kemarahannya karena saya meminta sesuatu yang telah diberikan. Saya takut sekali Devi marah, saya juga menyesal kenapa memintanya kembali, namun terlalu gengsi untuk mengembalikannya lagi. Mungkin kami cukup lama berdiam-diaman. Lalu saya mencoba meminta maaf dengan memberi penjepit rambut cantik sebagai penggantinya dan surat permintaan maaf. Tak lama semuanya menjadi baik-baik saja, tapi ingatan tentang betapa tidak eloknya perlakuan saya saat itu masih terngiang. Belakangan saya berpikir kelakuan saya meminta barang pemberian waktu itu mungkin karena saya memberi hadiah dari bude ke orang lain lagi tanpa sepengetahuan ibu dan mbak pengasuh saya waktu itu sehingga di sisi lain saya juga merasa bersalah.

Memasuki masa smp pertemanan saya dengan Devi lalu cukup drastis terpotong karena saya masuk pesantren di Solo. Kami sempat bertukar foto. Saya pulang ke rumah hanya dua kali setiap tahunnya. Di saat itu saya bertemu Devi hanya beberapa kali. Saya pernah meminta Devi untuk mengirimi saya surat ke alamat pesantren karena saya akan sangat bahagia sekali. Namun tidak pernah ada surat dari Devi. Begitupun ketika memasuki SMA, saya akan semakin jauh tinggal di asrama. Ibu saya bilang, ibunya Devi minta saran dan menimbang-nimbang apa akan menyekolahkan Devi SMA atau hanya kursus menjahit di suatu tempat. Ibu saya menyarankan sekolahlan saja Devi di SMA dekat rumah. Tapi akhirnya Devi pergi kembali ke kampung halamannya. Kabarnya menikah. Saya hanya mendengar cerita dari Mbah Mas ketika saya pulang di masa-masa liburan SMA saya. Saya hanya pernah sekali bertemu dengan Devi setelah ia menikah, di masa-masa saya libur SMA. Tidak banyak yang dibicarakan, karena kami sangat lama tidak bersama. Devi tampak dewasa sekali saat itu, dan gerak-geriknya juga seperti wanita dewasa. Saya tidak banyak bertanya tentang pernikahannya karena saya pikir itu sangat pribadi. Tahun-tahun berikutnya, Devi dan ibunya serta anggota keluarga yang perempuan kembali ke Indramayu. Kabarnya, ibunya Devi lalu bekerja di sawah dan ayah Devi merantau ke Jakarta. Rumah kayu Devi cukup lama tertutup hingga akhirnya dibongkar dan menjadi tanah kosong kembali. Saya tidak pernah tau kabar Devi hingga kini.

Pada masa saya berkuliah, kabar atas meninggalnya Mbah Mu lalu terdengar. Lalu pada waktu-waktu berikutnya, Mbah Mas juga menyusul. Rumah Mbah Mas direnovasi anaknya. Tidak ada lagi pohon mangga apel dan warung kecil Mbah Mas. Satu persatu lingkungan masa kecil saya pun berubah. Begitupula rumah saya dan keluarga, karena satu dan lain hal kami harus menjualnya dan pak haji juragan samping kami berbaik hati membelinya. Saya sekeluarga pindah ke rt lain, tak lagi tinggal di tusuk sate yang ramai. Pak haji juragan lalu membongkar rumah saya serta tokonya sendiri agar cukup luas untuk dijadikan area pombensin, prospek usaha yang sangat menjanjikan. Baru seminggu kemarin pombensin tersebut resmi beroperasi.

Well, it's kinda sad to see my childhood place is slowly disappeared, where I used to spend most of my time before. I couldn't back to see the room I used to sleep, or cry, or play. It is strange that all the memories about my old house show in my night dream. When my dream took place in my old house, it left dark feeling right after I wake up. Maybe because I knew that the house doesn't exist anymore. Like when I met deceased person, but it's a deceased house, I knew the house has 'died' so the dream always been related to dark feeling.


Selasa, April 2

Memories

I just casually opened email in my phone and a reminder from google photo got my attention. It is said I should look at some memories I made from photos I've taken on March several years ago.
It showed me some collage of pictures which immediately I tapped on it,
that was when my memories from 4 years ago come out. It was the day when I had a little vacation with some friends on the beach.


What really bring up my emotion was when I remember that was a vacation with a really good friend of mine who passed away a couple of months ago.


We came to his place where he has community for children around his village.



The pictures are as beautiful as I can remember how it felt like that day. As beautiful as I can remember how he was back then. It's good that I only have good memories of him. How kind and sincere he was and how all people around him just love him the way he was.


The sky was so pretty that day I couldn't stop my self to take a photograph every time it change its color.










 





Kamis, Oktober 18



❤❤❤

Rabu, Juli 11

Tentang Thailand Cave Rescue


Euforia piala dunia 2018 sedang perlahan menuju klimaksnya ketika ada hal lain yang mengalihkan perhatian dunia: tragedi penyelamatan 12 anak laki-laki dan seorang pelatih yang terjebak dalam gua.

Awal mula mendengar berita 13 orang terjebak dalam gua dan kala itu mereka belum ditemukan, saya turut bersimpati. Mendengar 1000 orang lebih termasuk di dalamnya dari luar negara Thailand turut serta membantu dalam tim penyelamatan, saya cukup optimis. Saya masih tidak banyak mencari informasi mengenai kondisi gua, di mana letak gua, siapa yang terlibat, dan sebagainya. Saya hanya salut karena tim sudah bekerja keras saling membantu mencari 13 orang yang tentu saja belum diketahui apakah mereka selamat atau tidak. Hingga akhirnya muncul kabar bahwa tim telah ditemukan dalam kondisi bernafas, saya bahagia.

Tapi belum.

Suatu sore kabar gugurnya Saman Kunan, salah satu sukarelawan penyelam yang membantu menyuplai stok oksigen, menampar saya. Beberapa kenyataan semakin meningkatkan kekhawatiran saya. Bahwa hujan masih akan mengguyur area gua, bahwa oksigen di dalam chamber tempat 13 orang itu bertahan semakin menipis, bahwa diameter terkecil salah satu bagian lorong yang harus dilewati hanya 38 cm, bahwa penyelam yang telah berhasil menemukan penyintas butuh waktu 6 jam berangkat dan 5 jam pergi, bahwa sebagian dari anak-anak tsb. tidak bisa berenang sama sekali, dan bahwa kemungkinan terburuknya adalah chamber tempat mereka bertahan akan tertutup air sepenuhnya jika tidak segera keluar.

Yang pada awalnya pilihan menunggu selama 4 bulan hingga hujan benar-benar berhenti adalah pilihan paling aman, menjadi tidak relevan sama sekali sehingga pilihan terbaiknya adalah: anak-anak dan pelatihnya keluar gua dengan penyelaman yang beresiko tinggi.

My heart beats faster

Mengapa saya begitu terlarut dalam kisah ini?

Saya sendiri pernah melakukan kegiatan penelusuran gua. Meskipun rekor terlama saya berada di dalam gua hanya masuk jam 8 pagi keluar menjelang Isya, saya mencoba berimajinasi bagaimana rasanya berada di posisi anak-anak tersebut. Walau begitu tidak akan pernah ada yang merasakannya selain 13 orang tsb. Tidak ada yang mau kejadian ini terulang kembali bukan?. Terjebak banjir yang untungnya mereka berhasil menemukan area yang cukup tinggi. Saya mungkin, di posisi mereka, membayangkan ketika berhasil menempati tanah tinggi akan mencoba tenang dan berpikir positif bahwa air akan segera surut dalam waktu beberapa jam ke depan selayaknya ketika mereka masuk ke dalam gua. Tapi hari telah berganti dalam kegelapan, alat penerangan semakin redup, persediaan makanan habis, badan semakin lemas tanpa asupan makanan, waktu demi waktu terlalui tanpa kepastian. Buruk, buruk sekali . Saya kira salah satu faktor yang bisa menguatkan mereka adalah tetap berada dalam satu grup tanpa berkurang satu orangpun. Saling menenangkan, bahkan konon kabarnya sang pelatih mengajak bermeditasi untuk menyimpan tenaga.

Fakta bahwa kondisi pencarian yang begitu sulit, tidak hanya harus menelusur gua, tapi juga menyelam di dalam gua lalu cara apa lagi yang bisa ditempuh dalam misi penyelamatan kalau bukan memanggil tim ahlinya?. British Cave Rescue Council (BCRC) saya kira masuk dalam daftar utama tim yang dipastikan akan membantu banyak. Reputasi mereka dalam penyelamatan kecelakaan gua internasional sungguh baik. Terutama lagi kabarnya mereka memiliki penyelam gua terbaik sedunia. Meskipun dalam laman Facebooknya BCRA tidak menyebutkan nama penyelam gua tersebut demi menjaga privasi, media telah menyebarluaskan foto dan nama dua sosok penyelamat tersebut: Richard Stanton dan John Volanthen.

Cave diving adalah salah satu jenis kegiatan ekstrim yang paling mematikan di dunia. Resikonya sungguh tinggi. Kegiatan penelusuran gua sendiri cukup menantang dan berbahaya jika tidak dilakukan sesuai prosedur. Penyelaman juga membutuhkan keahlian khusus serta peralatan yang tidak sederhana. Lalu bayangkan dua olahraga itu digabung, caving & diving, butuh berkali-kali lipat keahlian, keterampilan, ketenangan, kelengkapan alat, stamina, dll. Harus pula melakukan latihan berkali-kali untuk akhirnya menguasai cave diving. Para penyelam yang sangat ahli di lautan pun belum tentu bisa melakukan cave diving.

Penemuan ketiga belas anak itu pertama kalinya oleh dua penyelam dari Inggris membuktikan bahwa masih ada harapan bahkan dalam kondisi yang sulit dan berbahaya sekalipun. Meskipun nyawa seorang Saman menjadi korban, kerja keras tim semakin solid. Semakin banyak tim internasional yang bergabung, semakin banyak dukungan dari penjuru dunia, semakin banyak doa dan harapan yang terpanjat, semakin meningkat pula harapan akan selamatnya para korban tanpa kurang suatu apapun.

Hal lainnya adalah, para penyintas adalah anggota klub bola Wild boars. Bertepatan dengan momen piala dunia membuat kejadian yang menimpa tim speak bola remaja ini semakin menjadi pusat perhatian. Tak terkecuali presiden FIFA dan para bintang sepak bola. Kejadian sini, selayaknya marvel, semacam mengumpulkan banyak universe untuk memberi dukungan. Universe dari caving, diving, sepak bola, dan yang lebih menyenangkan saya adalah bahwa semua orang jadi mendapat informasi mengenai penelusuran gua, kecelakaan gua, bahkan bagaimana melihat peta gua.

Ohya, tak terkecuali saya tuliskan di sini seorang Elon Musk, yang akun twitternya saya ikuti beberapa bulan lalu, juga menjadi bagian dari cerita penyelamatan. Usaha membuat kapsul-selam ukuran anak-anak patut diapresiasi meski pada akhirnya tim penyelamat tidak menggunakannya. Mungkin bisa berguna di kemudian hari, tapi sekali lagi tidak ada yang mau kejadian seperti ini terulang kan? Saya sendiri mendengar Mr. Musk dalam waktu singkat membantu mencari solusi dengan membuat kapsul tersebut sedikit mempertanyakan. Has he, or at least his team, ever done caving? Lalu mendengar bahwa Elon dan tim telah berdiskusi dengan tim penyelam membuat mereka menjadi lebih relevan untuk melanjutkan misinya. Meski dalam hati saya tetap bertanya-tanya, bagaimana dengan bebatuan tajam yang akan merusak tabungnya? bagaimana dengan tim penyelam yang harus mengeluarkan tenaga dua kali lipat mengangkat tabung berisi manusia saat berjalan di jalur non-banjir? Terlepas dari itu semua Elon telah bekerja beberapa langkah jauh di depan daripada sebagian besar manusia di bumi ini, termasuk saya, yang hanya bisa mamantau dari internet dan mendoakan keberhasilannya. Terlebih saat terakhir dia mengkonfirmasi di akun twitternya mengenai korespendensinya dengan penyelam bahwa pembuatan kapsul tersebut karena penyelam meminta ‘please keep working on the capsule’. Good job Elon! And probably you’ll have interest to know more about speleology.

Kecelakaan ini sesungguhnya membuat orang bertanya-tanya. Paling tidak saya pun merenunginya, mengapa bisa terjadi dan salah siapa? Banyak yang menyalahkan sang pelatih, Ekapol (25), karena mengajak anak-anak tersebut masuk gua saat cuaca buruk, meski mereka masuk saat hujan belum turun. Namun melihat bahwa mereka memasuki gua dengan perlengkapan seadanya: baju bola dan celana pendek, tanpa helm, tanpa sepatu boot, mungkin hanya sedikit penerangan. Saya pun melihat mereka hanya penduduk lokal yang sesekali memasuki gua untuk bermain dan tidak dibekali pengetahuan tentang bahaya dan keselamatan diri sendiri. Pengetahuan mengenai prosedur keselamatan menelusuri gua umumnya diketahui oleh para penelusur gua yang mendapat akses informasi dari buku-buku atau petunjuk-petunjuk yang telah disepakati secara global. Sehingga menjadi cukup dimengerti bahwa kesadaran dan pengetahuan mereka, terutama pelatihnya, akan keselamatan masihlah kurang untuk akhirnya terjadilah kejadian yang menjadi sorotan dunia. Namun setelah kecelakaan terjadi yang harus diutamakan adalah keselamatan korban. Tidak ada salah-menyalahkan sesiapa. Kerja tim penyelamat yang solid adalah kunci keberhasilan penyelamatan ini. Terlebih lagi 12 anak-anak dan pelatihnya sangat hebat dan kooperatif terutama dalam kondisi kritis 9 hari pertama setelah mereka terjebak. Sehingga pada tanggal 10 Juli 2018, di hari 17 terjebaknya mereka, seluruh negeri bersorak sorai atas berhasilnya misi penyelamatan The Wild Boars. Sayapun, turut bersorak dalam hati saat melihat siaran langsung dari salah satu saluran di Youtube setelah hari-hari yang cukup menegangkan.


Selasa, April 24

Overheard Emak-Emak Sedang Piknik di Pantai

Di suatu pagi yang cerah alumni sebuah SMP milik Ibu saya yang berarti sekelompok emak-emak dan bapak-bapak berusia kisaran 50 tahunan sedang piknik di pantai. Setiap orang yang datang wajib membawa makanan yang dibebaskan jenisnya.

*Percakapan 1*
Emak A : Eh jeng tadi aku nelpon si Bapak A nanya bawa makanan apa, dia bilang bawa lontong, lumayan ya jeng bisa kenyang makan lontong
Emak B : Lah jeng kok situ percaya aja si bapak bilang gitu
Emak A : Ya percaya lah jeng kenapa enggak
Emak B : Si Bapak ya udah pasti bawa lontong lah, satu lontong sama dua telor.
Emak A : !@*@$(*&$(#
Saya       : (mencuri dengar) *^#(*)$@#)$#*(!!!!

*Percakapan 2*
Emak A : ini loh aku nelpon si Titit nggak diangkat-angkat dari tadi, coba jeng kamu yang telpon
Emak  B : Ya mungkin Titit lagi di jalan jeng, belum bisa angkat telponnya
Saya       : (Bertanya kepada Ibu) HAH, TITIT?
Ibu         : iya, Namanya Tuti, karena ada dua orang yang namanya Tuti jadi yang satu dipanggil Titit.
Saya       : %@#^%@#&^*@$(@$*)_@%)(_!!!


PS: Don’t judge me

Selasa, Maret 27

Internet

Apa kabar dunia persilatan?

Setelah gonjang-ganjing pemanfaatan data akun facebook secara ilegal, some people might delete their account yet many of world populations still using it and don’t even give a shit about what just happened. Kadang lucu juga melihat fenomena dunia maya ini. Migrasi-tutup-buka akun media sosial dari satu ke yang lain adalah hak setiap nitijen yang terhormat. Seorang sutradara terkenal memutuskan menutup akun twitternya, bikin kepala pecah katanya. Probably reading too many mocks or critics on his new movie? (just guessing, lol). Ada yang mulai jenuh dengan kepalsuan foto-foto Instagram, sehingga memutuskan untuk menutup akunnya dan lebih bergembira ria dengan dunia twitter dengan segala jokesnya. Ah ya, sayangnya Tumblr diblokir, padahal saya udah bela-belain memilih Tumblr dibanding Instagram untuk berbagi foto, tapi ternyata tidak direstui juga, haha. Ada juga pas jaman-jaman blogging pada migrasi dari domain blogspot ke wordpress atau sebaliknya, ya mungkin cuma nyoba-nyoba aja sih. Tapi beberapa orang yang blognya saya baca punya alasan sama, bahwa pas masih di blogspot adalah masa masa labil abg yang mana ingin menjadi dewasa dengan tulisan barunya di wordpress, haha. Beda lagi dengan dunia videografer. Sekarang banyak sekali yang menghasilkan uang dari Youtube. I’m enjoying watching Youtube video dengan berbagai macam jenisnya itu, tapi belakangan jadi banyak iklan (yaiyalah tam kan makin banyak yang cari uang disono). Namun di antara banyaknya Youtuber-Youtuber yang bermunculan dan semakin kaya itu, ada juga loh yang lebih memilih membagikan videonya melalui Facebook ketimbang Youtube. Sila dicek Nas Daily, pasti udah pada pernah nonton kan paling engga salah satu videonya yang nyeritain kehidupan orang selama satu menit dengan tagline “That’s one minute, see you tomorrow”. Ketimbang meng’uang’kan hasil kerja kerasnya di Youtube dia membagikan video-video kerennya setiap hari di Facebook yang tidak menghasilkan uang. Alesannya sederhana, di Youtube orang-orangnya tidak nyata karena kebanyakan tidak pakai nama sebenarnya. Pengguna Facebook mayortitas adalah nyata dan menggunakan nama asli sehingga mas Nas ini bisa berkomunikasi dengan lebih nyata. Lagipula dia tidak menyukai uang hasil iklan yang mana penghasilan utama di Youtube adalah dari iklan tersebut. Wow. Fyi video-video belio yang tersebar di Youtube tentu disebar oleh orang lain yang mengaku-ngaku dirinya. Nah, jadi apa ya haha, intinya cuma pengen cerita aja kalau alasan setiap nitijen ini berbeda-beda dan bagaimana setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menggunakan media social. Termasuk saya dan klean-klean ini.
Jadi, that’s one paragraph, see you tomorrow!

Minggu, Maret 18

Jalanan

Saya mau ngomongin serba-serbi jalanan; lalu lintas; berkendara; dan sejenisnya itu lah. Berhubung udah hamper 8 tahunan berkendara motor jadi ada lah ya yang bias diceritain dikit-dikit, hehe. Tapi sebelumnya Ya Allah jauhkanlah hamba dari menjadi emak-emak yang ngasih sein kanan tapi belok kiri.

Jadi, satu satunya tempat yang selalu bikin saya bisa mengumpat ya di jalanan. Lalu lintas dengan segala maha benar kelakuan penggunanya, juga jenis-jenis jalan yang gak semuanya semulus muka mbak-mbak beauty vlogger yang pakai 10 tahap skincare tiap pagi. Saya antara senang dan merdeka karena bisa sok sok ngumpat tapi nggak ada yang denger dan lihat. Jadi saya bisa tetep terlihat innocent di luar jalanan huehehe. Ohya, termasuk nyanyi sendiri atau kalo lagi sedih dan pengen nangis.

Jadi jenis pengendara yang bikin kesel ada macem-macem, tapi mari kita tidak usah membahas emak sein-kanan-belok-kiri karena udah terlalu basi sering diomongin di mana-mana salah satunya di awal tulisan ini, haha. Nah berhubung saya belum bisa nyetir mobil, jadi konteks tulisan ini saya sebagai pengendara motor aja ya..

- Yang jalan di tengah tapi pelan-pelan.
Hmm, asumsi saya sih pengendara jenis ini baru belajar naik motor. Seringnya ngeliat ibu-ibu, kalo nggak cewek-cewek abg yang pake seragam SMP/SMA. Mereka ini nggak tahu dan nggak mau tahu apa yang sedang terjadi di belakangnya. Mungkin pengendara mobil ya yang jadi susah kalo mau nyalip mesti ikutan jauh ke kanan jaraknya. Kadang kesel sih, tapi rasa keselnya berangsur-angsur berubah jadi kasian, karena kalo mereka baru belajar naik motor jadi merekanya beresiko terjadi apa-apa. Entah kepepet orang nyaliplah, diklakson yang bikin kaget lah, diteriakin lah.

- Yang mau belok kanan tapi melipir ke kiri dulu.
Nah, ini nggak jauh beda dari yang pertama, pasti baru belajar naik motor atau mungkin nggak biasa di jalanan. Kalo mau belok kanan yang motong nyeberang, entah mau mampir ke warung atau masuk gang yang posisinya di kanan, bukannya ancang-ancang melipir kanan sambal nunggu sepi eh malah melipir ke kiri baru nengok ke belakang.

- Yang dikejar target penumpang.
Siapa lagi kalo bukan those A**HOLE BUS DRIVERS!! nah kan ngumpat. Kalo udah ketemu bis jangan macem-macem deh pokoknya, entah itu trans jogja ataupun bis antar kota antar propinsi macem eka-mira. Kalau berkendara di pantura dan merasa tenang-tenang saja karena belakang anda sepi, jangan terkecoh, tiba-tiba mendadak muncul muka si kotak besi yang dari spion yang jaraknya udah deket banget. Baru-baru ini saya ngalamin, saya terlena beberapa detik nggak ngecek spion kan karena jalanan masih wajar, tiba tiba diklakson bis yang jaraknya udah deket banget. Kaget banget untung gak sampe jatuh ya, gimana yang jantungan. Nah biasanya kalo udah gitu sopir bus bakal jengkel banget karena kesalahan saya yang 'ngalangin jalan' gimanapun pasti mereka merasa benar haha. Jadi buru-buru menjauhlah dari bus tersebut. Saya habis kaget langsung ngebut cari sisi aman karena emang lagi agak macet, jadi si bus itu pun percuma nglakson2 saya karena depan saya pun lagi macet! pas udah keluar dari kemacetan dan posisi saya di depan bus itu lalu buru2 mepet samping kiri ceritanya mempersilahkan doi biar nyalip saya. Nyalipnya nggak santaaeeee berasa sengaja dipepet, mungkin masih kesel kali saya ngalangin jalan dia.

- Yang lampu baru ijo tapi langsung bunyiin klakson.
Ingin kuteriak: maburo!

- Yang udah jalan pas lampu belum ijo.
Ini biasanya sih akamsi yang udah apal banget kapan gilirannya lampu merah dan ijo nyala, atau kapan ada celah sepi meski belum gilirannya ijo. Iya sih, cuma kurang 5 detik lagi baru ijo, tapi jadinya saya kaget sendiri dan suka kebawa pengen ikutan ngegas.

- Yang dikit-dikit nglakson
Sering banget kaget karena klakson2 yang entah dibunyikan untuk apa. Beda urusan kalo pas lg viral Om Telolet Om. Cuma sering banget dikagetin sama klakson yang padahal saya nggak ngerasa ngalangin jalan mereka. Atau sayanya aja yang emang nggak ngerasa ya, haha.

- Yang lagi nyari alamat.
Kadang mereka suka berhenti secara mendadak padahal belum ngasih lampu sein. Ya mungkin kalo emang lagi nyari alamat, mbok di awal pelan-pelan aja bisa loh. Kalo yang ini berhak mendapatkan bunyi klakson karena bisa membahayakan pengendara belakangnya yang ikutan berhenti mendadak juga.

- Yang sambil ngerokok.
Keseel banget kalo abu rokoknya terbang-terbang kena ke pengendara belakangnya. Nggak semua orang nutup kaca helm kaaan.

- Yang nggak pake helm tapi ngebut.
Abege-abege yang lagi boncengin pacarnya, udah gitu suara knalpotnya tuh looh, bikin pengang.

Udahan deh, nanti tambahin lagi kalo nemu yang unik-unik di jalanan.

Selasa, Desember 12

Before This Year End

It’s been a very looooong time without posting anything in this page. Since I’ve never been updating my life things anywhere in the internet, (instead of some tumblr pictures, and couple of whatsapp status), (well, I’m not that anti-social right?), probably will write some more words just to fill this blog before this year end. Yasss, 3 more weeks before 2018! I think it’s a non-structural post, I just randomly put all stories and some thoughts that I can write at this year-end.

Oh, what did I do? I left this page on April. Yes, there were moments. Kindly forget some, and lost tons of details but this early year there was a little change in my life habit. I resigned from my office (been 2 years there) and move to another project which require me to move from place to place. I wasn’t totally leave Jogja as I expected when I first joined that project.  But yeah, this government-project thing makes me take lot of flights I’ve never thought it would be this much. So, it took 4 trips in 4-5 months to finish this program and I’m not gonna write the detail of what I was exactly doing. But let me make it short: First trip: Excitement à Second trip: woa, what I’m gonna do, almost 24 hours work every day à 3rd trip: drama drama dramaà 4th trip: finally, kind of happy ending. But yeah, thank you for the experience and the opportunity to explore new places in South Borneo. I think this project still needs more improvement, for the better goals.

So afterwards, I become unemployed again (?). but I feel blessed enjoying my free time while doing couple of things like: attending friend’s wedding (which become midlife’s routine I guess); finding new places to live, and designing it; learning how to drive a car (and I wish ‘kopling’ motorcycle too); hiking Semeru mountain (which my last summit was 4 years ago); being obsessed by some real criminal stories (found this site: www.parkaman.com); streaming movies and YouTube that I couldn’t help but wasting my time on it! It’s interesting to watch ton of youtubers I’ve just known, I knew some names but you know, when you open a page it brings you to another page and page and page and so on.

Well, the internet thing goes really crazy now. I realize that I spend most of my time to see what’s on my phone screen, or laptop. At the end of the day I kind of feel bad for scrolling through social media timeline that much. Why did I waste most of my precious time by seeing some clickbait news, celebrities life, friends achievement (just to make me feel more insecure, lol). But on the next day, still, I’ll repeat it again haha.

In line with this internet things, or technology, I’ll recommend you a great drama series called ‘Black Mirror’. Most of episodes just left me thrill. Each episode is a stand-alone story so no need to start from first episode to understand. The stories are mostly dark and illustrate modern-future day where technology drives human life and how it affects them. The serial has 3 seasons which consists 13 episodes. The 4th season will be aired this December (can’t wait!). I love almost every single episode, probably only 2 which I think has uninteresting story. It worries me how our future will be on the next 10 years maybe? Which one of this ‘black mirror’ technology will be real and also the horrifying side effect.

Let's say that I rely on google maps (despite of the other google features) for looking for places. I even registered as Local Guide. I remember life before google maps. Not so long time ago, I’m not good at memorizing routes. I did it because I get used to the route, so it took more than one trip to memorize the route. Now I got GPS on my hand every time I need it. I admit that google map helps me a lot. Let me hope I don’t lose my instinct of looking around the road without the help of technology. In other hand, I wonder why some people don’t optimize the use of their smartphone as if they have GPS but they don’t know how to use it. You know, like saving or plotting places and stuff. But I understand not all people see it as important thing.

And about Semeru, it was MAGICAL place though the rain never let us feel the warm sun more than an hour per day. The mist which always covered all over the area makes it became more mystical place. I did my summit and it was a hell but worth to see. I never see the famous ‘5cm’ movie before, but Mahameru is not easy place to hike with its slippery sand and unstable rock. Fortunately, it was rainy season so the sand we step on was solid enough and no need to use mask coz the air was clear from dust. Over all, Semeru track is quite easy except the Mahameru. A lot of amazing scenery from Ranu Pani until Kalimati camping ground, it is the combination of lake and sabana. Surprisingly I met a cat at Ranu Kumbolo, perhaps a mountain cat coz he looks so strong (?). The best of the best was the uncrowded situation, very few number of hikers (thanks to the bad weather). There were no more than 20 tents build at Ranu Kumbolo camping ground. Only 3-4 groups which took the summit with us. Here are some pictures:



 


Kamis, April 6

Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 3)


1-2 September 2013
“Perpisahan”
my host family, bareng sama anggota tim perempuan lain

Pada akhirnya tibalah saat kami harus selesai dengan segala macam kegiatan kami selama kurang lebih satu bulan di Binaiya ini. Artinya kami harus berpisah dengan orang-orang yang kami temui selama di sini. Keluarga-keluarga yang rumahnya kami tinggali, Pak Sonri selaku sekretaris desa, Bang Ampi, seluruh anak-anak sekolah yang sempat kami ajar, bu guru dan pak guru, yang tidak bisa kami bantu lebih lama lagi daam mengajar murid-murid. Terlebih, kami akan segera meninggalkan megahnya gunung Binaiya dengan beberapa titiknya yang kami sempat singgahi.
Sebelum benar benar pergi, kami melakukan rapat koordinasi pada dua malam terakhir kami di Kanikeh. Kami membahas segala hal yang kami dapat selama ekspedisi dan apa kira-kira yang dapat kami berikan sebelum meninggalkan orang-orang yang telah banyak membantu kami. Beberapa masalah dibahas untuk kemudian disampaikan kepada pengurus desa ataupun guru-guru. Kami juga mendengar kabar ahwa nona guru akan mengajak penduduk setempat untuk mengadakan ‘pesta’ pelepasan kami yang akan sekaligus kami manfaatkan untuk momen perpisahan.
Keesokan harinya, tak seperti biasanya kami makan begitu banyak. Pagi hari, mama tempat kami menginap memasakkan udang dan ubi-ubian (yang sangat jarang sekali mereka lakukan). Siang harinya, acara perpisahan diadakan di ruang kelas. Saat kami datang, makanan telah dihidangkan di meja tengah. Saya cukup terharu karena sejujurnya untuk makanan sehari-hari mereka pun tidak mudah mendapatkannya. Pada momen ini, masing-masing keluarga menyumbangkan makanannya demi melepas kami. Acara diawali dengan sambutan dari nona guru dan ucapan terimakasihnya untuk kami. Dilanjutkan oleh Pak guru, dan pak Sonri. Lalu kami, diwakili oleh Adoy selaku ketua tim, juga menyampaikan ungkapan terimakasih dan beberapa pesan singkat untuk mereka. Selanjutnya kami langsung menyantap hidangan. Semua yang hadir turut bersuka cita menyantap papeda, patatas, kasbi, dan lauk pauknya. Sisa hari itu kami habiskan untuk packing dan persiapan terakhir sebelum turun.

suasana perpisahan

anak-anak yang menghadiri acara perpisahan

3-4 September 2013
“Duriannya benar-benar Runtuh”

Sepertinya saya harus menyediakan satu judul sendiri untuk peristiwa yang kami alami ini selama perjalanan pulang dari Kanikeh. Di hutan sebelum kami mencapai Desa Huaulu, kami akan melewati sebuah area hutan yang ditumbuhi pohon-pohon durian. Ajaibnya, pohon-pohon ini memiliki musimnya sendiri. Berbeda dari musim durian pada umumnya, pohon-pohon durian di sini akan berbuah dua kali dalam setahun. Saat perjalanan kami pulang itu adalah saat yang tepat ketika durian-durian sudah mulai matang. Kami tidak mendapatinya ketika perjalanan berangkat satu bulan yang lalu karena memang belum saatnya matang. Menurut sumber, hutan durian ini sebelumnya pernah mendapat suntikan dari bule yang pernah datang. Saya sendiri kurang paham suntikan macam apa dan atas dasar apa bule ini menyuntikkan sesuatu di pepohonan durian ini. Kabar matangnya durian ini tentunya sudah tersebar ke penduduk setempat. Entah itu di desa-desa gunung maupun desa pesisir. Ketika kami masih di Kanikeh pun, orang-orang yang naik ke Kanikeh dari bawah membawa barang satu-dua durian dan mengabarkan ke kami bahwa di bawah sudah mulai matang duriannya. Membuat kami tak sabar untuk menikmatinya sendiri.
Pagi itu dari Kanikeh kami akan langsung turun karena packingan kami telah siap. Kami sudah berpamitan hari sebelumnya sehingga pagi ini kami hanya pamit kepada masing masing keluarga inapan kami. Sembari jalan turun melalui rumah-rumah penduduk, kami hanya melambaikan tangan dan tersenyum. Semua ata menatap kami, seorang ibu yang duduk di teras rumahnya meneriaki kami selamat jalan, selamat pulang kembali ke jogjakrta! Kami merencanakan turun dalam waktu dua hari agar perjalanan terasa santai. Pun kami sudah ingin menikmati pesta durian di bawah yang artinya kami harus menyiapkan cukup waktu untuk berpesta, haha. Hari pertama kami hanya habiskan sampai Desa Roho. Kami menginap di tempat warga, yang malamnya berbaik hati memasakkan kami kasbi (singkong) goreng.
Besok harinya kami melanjutkan perjalanan di pagi hari. Kami hanya tinggal melewati satu desa sebelum kembali menemui aspal dan melihat kendaraan lalu lalang. Mendekati punggungan terakhir sebelum desa huaulu, aroma durian mulai tercium. Kami mempercepat langkah kami karena kami tahu waktu pesta akan segera tiba.
Saya seorang penikmat durian, jadi saya akan menceritakan betapa surgawinya tempat ini. Sungguh. Kami berjalan di antara pepohonan durian matang. Saat itu hanya ada kami yang sedang berjalan di area tersebut. Karena biasanya beberapa warga pun mencari-cari durian untuk kemudian dijual di desa. Karena hutan begitu sepi maka sesekali terdengar suara bedebum, tanda durian jatuh dari pohonnya. Saat itu pula tanpa ba bi bu kami bergegeas ke arah suara. Satu buah langsung kami sikat dalam waktu beberapa menit. Saya pribadi sedikit was-was dan tetap melihat-lihat ke arah atas, berjaga-jaga jika duriannya tiba-tiiba jatuh ke kepala.
Saya gambarkan, dalam beberapa jam ke depan kegiatan kami hanyalah cari durian jatuh-datangi-buka-makan-cari lagi-buka-makan-cari lagi-buka-makan. Saya mendapati diri saya ikut-ikutan nggragas. Siapa yang akan menolak mendapat durian gratis langsung dari pohonnya! Hingga akhirnya kami benar-benar mabok. Para lelaki sepertinya memiliki kapasitas lambung yang lebih besar daripada saya. Ketika saya memutuskan menyerah, mereka masih sibuk mencari lagi. Bahkan di detik detik terakhir, mereka sudah melupakan etika membuka durian dengan baik dan benar. Mereka semakin buas karena membuka kulit durian dengan cara menginjak dengan kaki! (maafkan teman-teman saya ya, pembaca, situasinya memang panas, haha). Oke, mungkin benar-benar sudah mabok. Sebelum mereka mulai membuka kulit durian hanya dengan gigi dan melakukan praktik debus, kami rasa kami harus hentikan semua ini dan kembali melanjutkan perjalanan. Itu adalah pesta durian terbesar yang pernah saya alami, dan mungkin tidak akan saya dapatkan di tempat lain. Ohya, kami memutuskan tidak banyak berfoto-foto dalam pesta durian ini, karena kami tidak ingin membuat teman-teman kami di jogja iri. Terlebih lagi, kami benar-benar sibuk makan durian dan lebih memilih untuk menikmatinya ketimbang harus berfoto-foto.
Siangnya kami singgah di rumah mama tempat kami tinggal di hari-hari keberangkatan kami sebelumnya. Mama menyambut kami dengan hangat karena memang telah mengetahui bahwa kami akan datang hari itu. Beliau telah menyiapkan makanan favorit kami semua: nasi!. Setelah berminggu-minggu memakan sagu dan ubi-ubian, kami mendapat hadiah nasi dari mama karena tahu kami pasti rindu makanan pokok kami yang mayoritas orang Jawa ini. Betapa berterimakasihnya kami terhadap beliau.  Dengan lauk pauk ikan, kami yang baru saja pesta durian ini masih dengan nikmat menyantap makanan mama. Sesudahnya, kami langsung berpamitan kembali untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan kami hari itu, Pusat Informasi Masihulan.

5-6 September
“Holiday”
naik long boat milik Bang Alay

Setelah satu bulan penuh melaksanakan program kegiatan yang terjadwal, kami menyisihkan waktu di penghujung hari-hari kami di pulau ini untuk berlibur. Sudah tentu pantai adalah lokasi yang kami pilih untuk menghibur diri setelah lama berada di gunung dan hutan tropis lembab. Lucunya, hampir semua kaki kami terkena serangan kutu air. Kondisi hutan yang lembab dan kaki yang tidak pernah benar-benar keringlah yang menyebabkan kaki kami terserang kutu yang tidak kasat mata itu, dan air laut adalah obat yang ampuh untuk membasmi mereka tanpa ampun. Oke, saya kurang paham korelasinya bagaimana, haha, yang jelas kaki saya sembuh karena main air laut dan terpapar sinar matahari.
Kami akan berlibur selama dua hari dan Sawai adalah lokasi yang kami kunjungi karena sangat dekat dari lokasi basecamp kami di Pusat Informasi Masihulan. Kami hanya butuh mencegat truk yang lewat ke arah timur untuk menumpang beberapa kilomater sebelum turun di pinggir jalan untuk berjalan kaki ke arah pantai. Kami sudah merencanakan untuk meminjam sebuah basecamp tepat di tepi laut milik Taman Nasional. Lalu menyewa perahu (biasa disebut long boat) milik Bang Alay (beserta Bang Alaynya sebagai sopir, haha) selama kami liburan.
Setelah berjalan kaki, kami menuju arah tanaman bakau yang menandakan batas daratan untuk bertemu Bang Alay yang telah menanti kami dengan perahunya. Kami langsung dengan semangat menaiki perahu tersebut dan langsung bergerak melalui hutan bakau sebelum akhirnya keluar ke laut lepas. Untuk menuju basecamp milik Taman Nasional ini memang lebih mudah ditempuh melalui jalur laut ketimbang darat karena letaknya yang benar-benar di tepi laut. Sebelum sampai ke lokasi, kami mampir dulu di desa untuk mengisi amunisi perut kami yang telah habis ini.
                Basecamp yang kami singgahi berupa bangunan panggung kayu mungil dengan dermaga kecil di depannya. Tidak ada kasur, namun kami sudah siap sedia dengan perlengkapan outdoor kami. Kami juga dipinjami beberapa buah alat senorkling milik Taman Nasional. Sisa hari itu kami habiskan untuk senorkling di beberapa titik laut, menikmati kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya, memancing ikan, atau hanya bermalas-malasan di dermaga. Malamnya, Bang Alay mengajak beberapa orang untuk memancing ikan, dan bahkan beliau sendiri akan unjuk kebolehan menyelam sambil menombak ikan. Saya  tidak ikut karena memilih bermalas-malasan di basecamp sambil ngobrol-ngobrol, because it’s laaazy time. Beberapa saat kemudian yang pergi mencari ikan kembali dengan hasil buruan yang cukup banyak. Kami melewati malam dengan membakar ikan dan menyantapnya di tepian dermaga, bahkan beberapa ikan berwarna bagus dan tampak sayang untuk dimakan, haha.
basecamp milik TN Manusela

Pertama kalinya main snorkeling

numpang foto di penginapan sebelah
                Esok harinya kami hanya punya waktu setengah hari, karena harus mengejar waktu untuk kembali lagi ke Masohi. Kami telah menyewa tronton Kabaresi lagi untuk mengangkut kami kembali. Pagi hari sebelum kembali pulang ke daratan, kami mampir sejenak ke resort yang cukup mewah dan terkenal, pantai ora. Kabarnya tempat ini adalah yang paling mahal di sini karena fasilitasnya standar bule. Arsitekturnya juga menarik. Kami hanya berfoto-foto sejenak, namun sebagian besar dari kami memang sudah tidak berminat berfoto-foto ria. Berakhir dengan mutungnya seksi dokumentasi kami yang sudah susah payah memasang kamera di tripod dan mencari angle untuk foto tim, namun tidak ditanggapi kami-kami, haha. Setelahnya kami menyempatkan untuk sekali lagi bermain snorkling di satu titik. Karena tepat pada hari Jum’at, teman-teman lelaki yang muslim akan melaksanakan sholat jum’at di masjid setempat (setelah melewati setiap jum’at di gunung tanpa masjid, haha). Lalu kami para wanita memutuskan untuk mandi di pemandian umum. Sekilas tempat ini seperti kolam renang umum karena telah terpasang keramik-keramik pada tepian kolamnya, namun sebenarnya air di kolam ini adalah mata air yang mengalir dengan sangat perlahan. Kami bertiga berbaur dengan penduduk setempat yang juga memanfaatkan kolam ini untuk berbagai keperluan seperti mandi, mencuci, atau sekedar bermain-main saja.
bakar-bakar ikan

kolam yang airnya mengalir perlahan

                Sebelum kembali ke Pusat Informasi, kami disuruh mampir ke rumah seorang ibu yang pernah disinggahi rekan-rekan kami dari ASC daris Jogja pada dua tahun sebelumnya. Karena kami juga dari Jogja dan saya pun mengenal tim ASC yang waktu itu juga melakukan ekspedisi di Seram, Ibu tersebut senang sekali kami mau mampir. Beliau juga menunjukkan fotonya bersama tim ASC. Kami disuguh makan siang ikan dan sambal colo-colo, sungguh nikmat. Setelah mengobrol
                Kami menunggu datangnya truk tronton Kabaresi karena tim transportasi sudah mengurus dan membayar sewa tronton tersebut. Namun dua jam kemudian, truk yang ditunggu tak kunjung datang. Kami coba menghubungi komandan kabaresi yang telah berjanji menjemput kami, namun tak pernah ada respon meskipun sinyal telah kami dapat kembali. Menit-menit berlalu tanpa kejelasan dan kami hanya berdiam diri di tepi jalanan. Menjelang magrib, ada sebuah mobil Ford Ranger lewat dan kami coba bertanya apakah bisa menumpang sampai Masohi dengan merundingkan ongkos imbalan. Mereka menyanggupinya dan kami bisa bernafas lega karena bisa benar-benar pulang hari itu ke Masohi.
Tak disangka, pemegang kemudi mobil itu benar-benar ‘handal’ dan tak lebih dari 2 jam kami bisa sampai di Masohi. Padahal waktu tempuh normal adalah 4 jam. Dengan kecepatan yang sungguh tinggi di medan yang berliku-liku, kami harus menanggung derita pusing-pusing dan mual-mual, haha. Bahkan beberapa orang teman lelaki yang menempati bagian belakang sampai muntah-muntah. Namun kami sudah sangat bersyukur bisa mendapat tumpangan sampai ke Masohi. Sekitar pukul 19.00 kami sampai di rumah dinas kepala Balai Taman Nasional yang baru saja pensiun, Pak Zulkifli. Beliau telah pulang kembali ke Bogor ketika kami datang ke Seram. Namun masih berbaik hati untuk meminjamkan rumah dinasnya kepada kami untuk disinggahi sejenak. Di situ kami benar-benar merasakan kembali ke rumah, dengan kasur empuk dan AC. Kami beristirahat dengan nyenyak malam itu.

7-11 September 2013
“Back Home”
                Kami masih memiliki tanggungan program ekspedisi, yakni melakukan presentasi ke orang-orang di balai taman nasional sebagai bentuk pertanggungjawaban kami berkegiatan di area Taman Nasional Manusela.Jadwal kami presentasi adalah besok tanggal 9 september, sehingga hari ini kami gunakan untuk persiapan materi presentasi esok hari.
Kami diundang Bang Ato ke rumahnya untuk jamuan makan siang sekaligus menunjungi keluarganya. Bang Ato memiliki empat anak laki-laki yang uniknya kesemua anaknya diberi nama jawa yang berawalan 'su' salah satunya sugiono (sayangnya saya melupakan 3 nama lainnya, haha) . Padahal baik Bang Ato maupun istri tidak memiliki darah jawa sama sekali. Harapan beliau, keempat anaknya dapat tumbuh menjadi orang besar selayaknya Sukarno, Suharto, dan Susilo, ketiga presiden Republik Indonesia yang orang jawa dengan nama ‘Su’ di konsonan pertamanya. Amin ya bang, haha. Cukup lama kami habiskan waktu di rumah Bang Ato, dan memberikan tanda terima kasih berupa sembako untuk keluarganya. Kami rasa sembako memang tidak cukup untuk membalas jasa Bang Ato yang menemani kami selama berkegiatan. Kelak jika kami bertemu kembali, kami akan selalu mengingat kebaikannya dan membantu apa yang kami bisa jika beliau membutuhkan bantuan apapun.
Sisa hari itu kami habiskan sebagai waktu bebas masing-masing. Saya mencoba mengunjungi warung internet setempat karena penasaran setelah berminggu-minggu terisolasi dari dunia luar. Sedikit gagu pada awalnya, dan cukup aneh melihat layar komputer. Tapi selang beberapa menit saya terlarut dengan sosial media. Tujuan utama mengecek dan membalas pesan, kalau kalau ada yang mengirimkan saya ucapan ulang tahun bulan lalu melalui dunia maya, haha.
Malamnya kami serius kembali menyiapkan presentasi, sambil menonton televisi yang pada malam hari itu sedang ada acara pemilihan putri indonesia. Kami sendiri telah melakukan diskusi khusus terkait hasil yang kami dapat di lapangan pada hari-hari terakhir kami di Kanikeh. Kami juga bersiap-siap packing barang bawaan karena setelah presentasi kami akan langsung berangkat ke Ambon. Kami sudah memesan tiket pesawat untuk keberangkatan tanggal 10 siang. Acara presentasi sekaligus momen kami untuk berpamitan dengan pulau ini.
Presentasi dimulai pagi itu tanggal 9 September. Pegawai balai taman nasional berkumpul, meskipun tidak lengkap semua datang. Setelah pembukaan oleh ketua tim kami, Adoy, presentasi dilanjutkan oleh masing-masing bidang sembari kami bercerita mengenai apa yang kami dapat di sana. Saya mendapat jatah menyampaikan beberapa hasil eksplorasi karst. Hasil yang kami sampaikan ditanggapi dengan baik oleh pegawai balai. Kami saling berdiskusi mengenai saran-saran yang kami sampaikan berdasarkan diskusi kami di lapangan.
suasana presentasi di Balai TN Manusela

Siangnya, kami langsung pergi ke arah pelabuhan Amahai untuk kemudian menaiki kapal cepat, menyeberangi laut menuju Pelabuhan Tulehu di Ambon. Sesampainya di Ambon kami mendatangi mess milik pegawai dinas KSDA Ambon yang kebetulan salah satunya adalah alumni Kehutanan UGM. Kami menginap semalam dan keesokan harinya kami harus ke bandara untuk mengambil penerbangan ke Surabaya pada pukul 10.00.
pulaaang

Bagian sebelumnya:
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (Bagian 2)
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 1)

Minggu, April 2

Blogspot

Berada di domain blogspot milik blogger ini sesungguhnya suatu hal yang patut diapresiasi. Atau selebrasi? Meski secara terseok-seok saya mengisinya dengan tulisan-tulisan yang tidak pernah benar-benar konsisten, mengganti tema berulang kali, saya tidak melupakannya hingga detik ini. Teringat bagaimana saya pernah berniat pindah ke domain wordpress hanya karena saya melihat banyak orang migrasi dari blogspot ke wordpress. Polanya sama, meninggalkan cerita-cerita klasik masa ABG atau curhatan-curhatan yang tidak ada korelasinya pada masa yang lebih baru untuk kemudian memulai lembaran baru dengan jiwa yang lebih dewasa. Sederhananya, blogspot adalah masa alay dan tidak jelas yang tidak ingin dilibatkan dalam ceritera baru. Cukup subyektif, tapi bisa dipertanggung jawabkan untuk beberapa contoh kasus yang saya amati. Lalu niat pindah tersebut saya urungkan, karena saya tidak begitu yakin untuk mejadi lebih konsisten pada tempat baru nanti. Daripada menjadi suatu hal yang cukup sia-sia, saya memilih melanjutkan cerita yang saya mulai di tahun 2009 dimana era kejayaan blogspot berlangsung.


Cukup bersyukur karena peselancar dunia maya tidak begitu banyak meminati gaya lama dunia blog (dalam hal ini, blogspot) yang artinya saya bisa lebih menjadi diri sendiri tanpa perlu merasa insecure demi memikirkan pendapat pembaca. Sedikit porsi insecure itu tetap ada dan mungkin lebih tepat dikatakan porsi menyaring apa-apa yang akan saya tuliskan. Syukurlah peselancar dunia maya yang budiman lebih banyak menghabiskan menitnya untuk memandangi laman instagram. Tidak bermaksud menjadi generasi yang sok senior, karena setiap masa memiliki romantismenya masing-masing.


Jadi, terimakasih blogspot!
kesetiaan saya dan pengguna blogspot lainnyalah yang membuat orang-orang di perusahaan ini dapet duit
 

Sabtu, April 1

Barangkali


Barangkali hidup orang lain bukan semata-mata menjadi patokan bagaimana hidupmu harus berlangsung. Barangkali menyelesaikan satu tulisan utuh tanpa harus menetapkan standar juga akan terasa menyenangkan. Selayaknya yang terjadi pada saya belakangan ini. Barangkali saya hanya perlu membangkitkan semangat dari lamunan begitu panjang untuk merasa bahwa saya memiliki secuil nyala api. Semoga saja tidak pernah redup.
Merasa kecil telah menjadi bagian besar di hidup saya. Merasa besar, adalah sedikit bagian lainnya. Tidak ambisius, tidak pandai bicara, socially awkward, cari aman, adalah turunannya. Saya khawatir, cemas, namun saya cukup lihai menyembunyikan apa yang tampaknya tak baik-baik. Intensi tulisan ini pun tidak untuk menunjukkan bahwa saya dalam hal tidak baik-baik. Rasa ketidakpedulian saya terhadap sinyal-sinyal semacam ini lebih besar daripada yang bisa saya kira.
Bagaimanapun ada hal-hal di luar kemurungan yang patut diapresiasi. And if you’re still breathing you’re the lucky one. Kata sebuah lagu. Saya pun bersyukur karena masih memiliki nafas. Yang terjadi selanjutnya adalah bertahan hidup. Apapun wujud hidup itu. Akan selalu ada berbagai rupa-rupa pemeran antagonis. Juga rupa-rupa yang mampu menyelipkan tawa di selingannya.
Ada berbagai macam keputusan orang yang mungkin berdampak pada hidupnya. Barangkali pensiun dari media sosial adalah hal yang tepat bagi sebagian orang untuk melepaskan jerat keirian hati. Namun menjadi fatal bagi sebagian lain yang merasa dihidupi oleh publisitas. Pun tidak memiliki akun media sosial bukan berarti bebas dari tidak-benar-benar-tahu-hidup-orang yang memicu lagi keirian hati.
Penelusuran salah satu kisah orang pada laman blogspot seseorang yang lain yang saya pernah sekilas bertemu memberi saya sentilan tentang kata kedalaman. Saya rasa benar adanya jika saya masih jauh dari kedalaman. Kedalaman berpikir, kedalaman memahami, kedalaman merasakan, dan verba lain yang pantas disandingkan dengan ‘kedalaman’. Semoga saya mampu meraih kedalaman selanjutnya, sembari menjaga secuil nyala apinya.
Lalu mari saya lanjutkan petikan lain lagunya..
And if you’re still bleeding you’re the lucky one
And if you’re in love then you are the lucky one

Senin, Februari 20

Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 2)


11-17 Agustus 2013
“Selamat Pagi Kakak”

               Kanikeh memang sudah tampak lebih modern. Terdapat bangunan Sekolah Dasar, balai desa, dan gereja. Semua penduduk disini sudah beragama kristen. Berbeda dengan Huaulu yang masih Animisme, padahal Kanikeh berada lebih jauh di pedalaman. Dua hari pertama kami habiskan dengan berbagai persiapan, pembagian rumah tinggal, penjelasan maksud dan tujuan kepada sekretaris desa, Bapak Sonri. Lucunya, Raja Kanikeh tidak tinggal di sini, justru di Desa Wai Putih-putih yang terletak di dekat pantai. Desa Wai putih-putih adalah pecahan desa Kanikeh yang berada di bawah, penduduknya juga berasal dari Kanikeh. Konon banyak orang yang tadinya tinggal di Kanikeh setelah turun ke Waiputih-putih tidak kembali lagi ke atas. Wah, mungkin Kanikeh bisa punah jika begini terus.
                Hari ketiga kami melakukan upacara adat, yang wajib dilakukan pendatang yang akan berkegiatan apapun di sekitar sini, termasuk pendakian Gunung Binaiya. Upacarnya disebut upacara sirih pinang yang dilakukan di rumah adat, upacara yang saya pikir dihadiri orang sekampung ternyata hanya kami dan bapak ibu adat. Ditemani pak Son dan bapak guru. Upacara hanya sebatas “perestuan” akan kegiatan yang kami lakukan. Bapak adat memegang kain merah dan mengucap “doa” dalam bahasa mereka. Setelahnya kami dipersilahkan mengunyah sirih dan pinang beserta bubuk kapur yang membuatnya menjadi berwarna merah. Ugh, rasanya aneh, daripada berlama-lama di mulut langsung saja saya telan tanpa dikunyah halus. Setelahnya ludah saya memang jadi berwarna merah, padahal hanya beberapa kunyahan. Dan beberapa saat saya menertawakan apa yang telah kami lakukan, teman-teman saya juga tampak berekspresi aneh ketika mengunyahnya. Kebiasaan masyarakat pegunungan sini adalah “nginang” sperti merokok, mereka harus menginang setiap waktu, hingga banyak bekas ludahan yang berwarna merah di tanah tanah. Awalnya tampak menyeramkan setiap melihat mereka meringis karena gigi yang kemerah-merahan lebih terlihat seperti darah.

Upacara adat yang ditutup dengan menyantap sirih pinang
                Suatu sore kami diundang ke rumah Pak Son untuk menikmati sebuah cemilan bernama Kana, terbuat dari sagu dan kelapa yang dibakar sehingga terasa renyah. Entahlah, ketika itu rasanya enak, mungkin sedang lapar. Padahal rasanya hambar. Lalu kami bernyanyi bersama-sama dengan seorang musisi lokal yang pandai bermain sejenis ukulele padahal ia buta. Masyarakat timur memang memiliki suara yang merdu. Kami bernyanyi dari lagu timur hingga lagi wajib nasional (supaya sama-sama bisa bernyanyi), kami bernyanyi hingga larut malam, hingga semua warga kampung berkerumun di depan rumah. Mungkin suara kami memang terdengar seluruh desa dan membuat mereka penasaran dengan orang-orang asing yang baru datang ini.

Candle Light dinner: pesta papeda di rumah Pak Sonri
   
                 Menjelang 17 Agustus, setiap rumah mendirikan tiang bendera di depan rumahnya masing-masing. Sekolah memang sedang libur, namun pada tanggal 17 kami berupacara di  halaman sekolah, begitu pula seluruh warga kampung. Halaman sekolah cukup untuk seisi desa berbaris dengan hikmat. Padahal sebelumnya tidak pernah dilakukan upacara 17-an, tahun ini memang sedikit istimewa karena kehadiran seorang bapak guru dan seorang nona guru yang mempersiapkan pelaksanaan upacara ini. Saya pribadi juga telah lama tidak merasakan upacara betulan setelah lulus SMA. Melihat bocah-bocah SD yang menjadi petugas upacara, pemimpin upacara yang grogi, dan kami berbaris tepat di samping barisan kelas satu yang kecilnya minta ampun. Saya ingin selalu tertawa melihat wajah-wajah mereka, wajah-wajah generasi penerus Kanikeh. Dengan seragam yang lusuh, ada yang bersepatu ada yang tanpa alas kaki. ada yang takut-takut ketika kami berusaha senyum ke arah mereka. Setelah upacara barulah pesta dimulai. Ada beberapa pentas seni dari anak-anak, joget poco-poco, juga tari-tarian lucu dengan kostum jerami-jerami. Lalu kami diminta nona guru untuk menjadi panitia perlombaan. Dengan senang hati kami mengurusi anak-anak itu. lomba balap karung, sendok kelereng, memasukkan paku ke dalam botol, dan lomba joget balon. Dan membuat kami berkeringat karena matahari begitu terik, tapi kami senang melihat tingkah mereka yang kocak. Barulah setelah diumumkan pemenang lomba, kami dipersilahkan menyantap hidangan yang dibuat oleh mama-mamanya. Pisang goreng tanpa rasa karena masih muda, ubi-ubian dan daging rusa. Sayangnya sebagian anggota tim tidak bisa mengikuti perayaan ini karena sedang melakukan program summit Binaiya.

Upacara 17 Agustus bersama seluruh penduduk desa
Pengibaran bendera merah putih
Lomba kelereng. Salah satu anak yang wajahnya mengingatkan saya pada tokoh kartun
Lomba balon joget
                Beruntung seorang pendamping dari Taman Nasional, Bang Ato, menyusul kami di Kanikeh. Dan mari saya perkenalkan tokoh baru, Bang Ato ini banyak membantu kami dalam pelaksanaan kegiatan ini. Beliau seorang polisi hutan yang sering berpatroli ke lapangan. Beliau juga pernah bertemu saya dalam sebuah kursus speleologi di Yogyakarta (diklat ASC XVI). Jadi kami memang sudah saling kontak sejak sebelum pelaksanaan ekspedisi.

18-23 Agustus 2013

“Dunia Lumut”
                Setelah perayaan 17-an, saya dengan 4 anggota tim lain serta Bang Ato berangkat ke atas dengan tujuan puncak. Tim yang lain melakukan kegiatan di Kanikeh. Perjalanan ke puncak memakan waktu 3 hari karena barang bawaan yang cukup berat sedikit menghambat kecepatan (terutama) saya. Rencana setelah memuncak ini saya bersama anggota tim caving akan melanjutkan kegiatan di camp Waihuhu untuk kegiatan survei goa dan pemetaan. Sebelum menuju puncak, akan ada 3 camp yang harus dilewati, camp Waisanutuni, camp Waensela, dan camp Waihuhu. Jadi barang bawaan kepentingan caving seperti logam-logaman yang amat berat ini kami bawa hingga Waihuhu. 2 hari pertama kami habiskan di camp Waensela dan Waihuhu. Medan perjalanan tidak jauh-jauh dari yang namanya lumpur. Baru keluar dari kanikeh saja saya sudah kotor berlumuran lumpur karena sering jatuh. Baru di hari ketiga kami lanjutkan perjalanan ke puncak tanpa membawa beban berat yang kami tinggal di Waihuhu.


Perjalanan ke puncak
                Perjalanan ke puncak lebih menyenangkan daripada 2 hari sebelumnya, tentu selain karena ringan tidak membawa beban, pemandangan juga lebih menarik karena ketinggian telah mencapai 2000 meter ke atas. Kiri kanan terlihat cantik karena tanah dan pohon diselimuti oleh berbagai macam jenis lumut. Lumutnya empuk, dan secara alami terbentuk bentukan-bentukan mirip sofa, atau kasur yang kadang dengan seenaknya kita tidurin. Kata Bang Ato jalur pendakian selatan lebih kaya akan lumutnya, lebih bagus dari yang kita lihat sekarang. Lain kali harus dicoba. Sesekali juga terdengar cicitan burung nuri yang ramai karena tahu ada manusia-manusia sedang berjalan di bawah mereka. Medan semakin terjal karena sudah dekat dengan puncak, yang tadinya vegetasi pohon dan lumut berubah menjadi bebatuan yang mudah tergelinding, harus super hati-hati melewatinya. Kami melihat bangkai seekor anak rusa yang belum membusuk.
                Binaiya memiliki 2 buah puncak yang biasa didatangi pendaki. Puncak 3027 dan 3035, 2 puncak ini berbeda ketinggiannya hanya 8 meter namun terpisah cukup jauh. Dan tujuan kami hanya puncak 3027. Beberapa meter sebelum sampai di puncak 3027, terdapat sebuah kolam besar atau lebih tepatnya genangan air yang jarang kering. Di sekitar genangan air adalah hamparan rumput yang luas. Cukup luas bagi saya untuk bisa berguling-guling di atasnya. Lokasi ini dinamakan camp Waifuku. Genangan air ini terbentuk karena bentukan lahan yang cekung, sehingga setiap kali hujan terkumpullah air dari segala sisi area puncak ini. Juga sebagai sumber air makhluk hidup di sekitarnya, kabarnya rusa-rusa juga akan berdatangan untuk minum jika tidak ada pendaki di sekitarnya. Tidak sampai 5 menit dari Waifuku kami mencapai puncak 3027. Dari situ bisa terlihat puncak 3035 dengan jelas. Kami berfoto ria tak sampai 1 jam turun kembali ke Waifuku untuk makan siang. Lalu turun kembali ke Waihuhu dengan riangnya karena tanah yang empuk oleh lumut membuat kami bisa senantiasa bermain-main.

Area puncak 3027, dengan background genangan air
               

24-31 Agustus 2013

“Antah Berantah”
Konsep kegiatan survei goa ini terbagi menjadi 3 termin. Termin pertama kami habiskan 5 hari di Waihuhu, termin kedua 5 hari di Waensela, dan ketiga 4 hari di Waisanutuni. Setelah pemuncakan dimulailah kegiatan survei goa di Waihuhu. Tim dibagi 2, saya kebagian dengan Bang Ato. Tentunya dilengkapi peralatan navigasi seperti kompas, GPS, peta. Kami berjalan ke belantara betulan yang kata Bang Ato belum pernah ada yang kesitu selain kami. Saya memang pernah berangan-angan untuk bisa berjalan di hutan yang ‘beneran’ hutan. Biasanya kan hanya sebatas jalan di jalur pendakian, lewat begitu saja tidak benar-benar mengeksplorasi isi dalam hutan. Agak horor ketika kami menemukan tulang belulang rusa, Bang Ato memprediksi rusa itu bekas dimakan binatang buas, kemungkinan ular besar. Saya langsung parno dan ga berani jauh-jauh dari Bang Ato yang sudah berpengalaman. Tapi lama-lama toh tidak muncul juga hewan-hewan aneh yang saya bayangkan. Malah hutan lebih sepi dari yang saya kira (yaiyalah!). Saya berharap melihat rusa berjalan karena banyak sekali kami melihat jejak-jejak dan kotoran rusa yang masih fresh. Kata Bang Ato rusa berlari lebih cepat dari yang kita kira, bahkan sebelum kita sadar mereka telah kabur mengetahui ada manusia yang akan lewat. Hutan di ketinggian 2000-an sungguh cantik, pepohonan yang tinggi diselimuti lumut hijau juga hawa yang sejuk. Tidak lama kemudian saya mendengar suara deras air. Setelah kami dekati ternyata sungai dengan air terjun yang tidak terlalu tinggi tapi cantik! Kami makan siang disamping air terjun tersebut. Di penghujung hari barulah kami menemukan satu entrance goa di sebuah dolin kecil. Goa tidak terlalu dalam dan banyak reruntuhan batu. Hanya mengecek dan mendata lalu kembali lagi ke camp. Tim satunya juga menemukan 3 buah entrance.


Lebatnya hutan di area Waihuhu.

Barulah sisa hari kami di Waihuhu dihabiskan untuk memetakan 3 buah goa yang telah dipilih. Masuk goa di ketinggian lebih dari 2000 mdpl itu bagai masuk kulkas, batu-batuannya sedingin es. Rasanya kebelet pipis terus. Di atas tanah saja sudah dingin minta ampun, gimana di bawah tanah. Goa di Waihuhu ini rata-rata tidak terlalu dalam, tidak sedalam goa di daerah pantai Seram. Mungkin karena daerah gunung Binaiya ini berusia tua, sehingga sudah banyak tertutup sedimen-sedimen. Sedang di daerah pantai Seram yang masih lebih muda, banyak sekali goa-goa vertikal dalam seperti Hatusaka yang kedalamannya mencapai 300 meter.

Memasuki Gua di Waihuhu.
Selesai di Waihuhu, kami pindah ke camp Waensela yang ketinggiannya lebih rendah. Kondisi hutannya juga sedikit berbeda, lebih banyak semak-semak dan hawa yang tidak terlalu dingin. Kami memutuskan untuk libur pada hari pertama di Waensela. Jadi seharian kerjaannya hanya bersantai dan menikmati suasana hutan. 
Tim Satu Bumi, di depan mulut Gua
Hari kedua di Waensela, juga bertepatan dengan hari lahir saya yang kini mencapai 21 tahun. Di hutan, dan hanya ada tiga orang teman. Mungkin ulang tahun teraneh saya. No signal, no electricity, no facebook, no twitter, tanpa harus khawatir dan harap-harap cemas menghitung berapa orang yang mengucapkan selamat. Bebas. Hutan Waensela yang menunggu untuk dieksplorasi menjadikan saya bersemangat hari itu. Saya dan bang Ato berjalan ke arah puncakan di dekat camp, lalu menjelang puncak kami menemukan suatu hamparan luas tanaman paku-pakuan yang tampaknya terlihat sebagai tempat tinggal rusa. Banyak sekali jejak-jejak kaki rusa yang masih baru, seperti baru saja berlari meninggalkan kami. Dan ketika saya memandangi seluruh kawasan, tanpa sengaja menangkap dua sosok besar bertanduk kokoh yang berdiri sekitar 20 m disamping saya. Yap, saya melihat dua ekor rusa yang juga sedang memerhatikan gerak-gerik kami berdua. Tidak bisa menyembunyikan kekagetan saya, saya berteriak “rusa!” yang sayangnya membuat mereka langsung lari terbirit-birit menjauh. Bang Ato pun hanya sempat melihat sebentar mendngar teriakan saya, dia bilang coba saya tidak berteriak mereka juga akan tetap berdiri santai. Yaah, sedikit menyesal harusnya bisa melihat mereka lebih lama lagi. Tapi, terimakasih Tuhan, akhirnya saya benar-benar melihat rusa liar, saya anggap ini hadiah ulang tahun saya.
Selama berada di Waensela, kami berempat menemukan sekitar 5 buah gua dan memetakannya. Dari 5 gua tersebut, kami katakan mungkin hanya 2 gua yang benar benar ‘cukup panjang’ untuk bisa dieksplorasi. Ada sebuah peristiwa bodoh, dimana pada sebuah gua dengan bentuk vertikal, kami memetakannya hingga hari benar-benar gelap. Karena mungkin lelah dan kurang berhati-hati, ketika sampai di camp kami menyadari data yang saya tuliskan di kertas kodaktris anti air tersebut terhapus pada bagian yang paling penting: arah kompas. Meskipun hanya empat angka yang terhapus, namun sangat fatal akibatnya karena tidak dapat kami gambar secara benar nantinya. Lebih-lebih, itu gua yang paling ‘bagus’ (ornamen dan fauna yang lebih variatif) selama kami menemukan gua dalam kegiatan ini. Sehingga malam itu kami habiskan dengan penyesalan, haha, karena besok adalah jadwal kami berpindah area survey. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan esok hari kami terpisah menjadi 2, 2 orang kembali mengambil data di gua tersebut, dan 2 orang langsung berpindah camp ke lokasi berikutnya: Waisanutuni.
Medan di area ketiga ini lebih datar ketimbang sebelumnya. Ketinggiannya memang lebih rendah sehingga hawanya lebih sumuk. Vegetasi area ini didominasi oleh semak belukar dan rotan! Kami harus lebih berhati-hati karena lebih sulit untuk melewati rotan berduri. Saya pribadi baru merasakan berjalan-jalan di hutan penuh dengan rotan, tanaman yang banyak manfaatnya ini. Saya sempat takjub dengan bentuk tanaman rotan yang sangat panjang melungker-lungker, satu tanaman saja rotannya bisa mencapai panjang puluhan meter. Satu hal yang menarik, di area ini terdapat air terjun Waisanutuni yang memang cukup sering didatangi pendaki. Air terjun ini tingginya 20 meter. Kami diajak Bang Ato melihat air terjun tersebut, dan rekan-rekan lelaki saya langsung mandi-mandi. Saya sih kepengen, tapi nggak punya temen wanita haha. Jadi mending besok saja saya melipir sendirian cari spot di sungai. Harus berani.

Salah satu air terjun yang ditemui.
Hari kedua di Waisanutuni, seperti biasanya kami berpencar untuk mencari gua. Sepanjang penelusuran, hingga siang hari saya dan Bang Ato tidak berhasil menemukan satu gua pun. Kami melihat sebuah tebing dan menduga ada gua pada bagian atasnya karena kami seperti melihat bercak-bercak kotoran kelelawar di tepiannya, namun apadaya kami tidak mengeceknya karena cukup tinggi. Hingga akhirnya kami hanya menelusuri sungai, ke arah atas dan selalu takjub ketika menemukan air terjun-air terjun mini di sepanjang alirannya. Sampai-sampai saya berpikiran untuk membuat divisi susur sungai saja ketimbang susur gua, haha. Ketika hari mulai sore, kami mengeplot posisi kami di peta dan ternyata kami jalan cukup jauh dan hampir masuk area termin sebelumnya di Waensela. Akhirnya kami putuskan kembali lagi ke camp. Di perjalanan pulang Bang Ato mengambil rebung untuk makan malam kami nanti. Sampai di camp, saya melipir ke sungai menjauhi camp untuk mandi yang tetep aja bikin parno meskipun saya tahu tidak akan ada orang di hutan belantara ini yang bakalan mengintip, haha. Malamnya kami pesta makan rebung (bambu muda) dan sayur paku. Kata Bang Ato kami kalo boker bisa-bisa keluarnya pagar (got this joke eh?).
Hari-hari terakhir kami survey gua tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Waisanutuni rupanya masih belum berbaik hati untuk menyingkapkan gua-guanya kepada kami. Karena tidak menemukan satu pun gua, kami memutuskan kembali ke Desa Kanikeh untuk rehat sejenak sebelum lanjut lagi ke Hatu Mere-Mere, area di bawahnya Kanikeh dimana kami melihat bentukan alam yang cukup unik: batu besar di tengah hutan. Teman teman kami yang di Desa Kanikeh heran karena kami kembali lebih cepat dua hari daripada jadwal. Kami pun grasak-grusuk cuci alat dulu di sungai dan packing-packing untuk kembali survey esok harinya ke Hatu Mere-Mere. Perjalanan ke Hatu Mere-Mere tidak lama, satu jam dari Kanikeh kami langsung dapat melihat batuan besar yang langsung kami eksplorasi bagian dalamnya. Lagi-lagi kami tidak menemukan apapun. Hanya batuan besar yang ada di tengah hutan, aneh dan nampak seperti alien. Walhasil hari itu kami langsung kembali lagi ke Kanikeh, dan bergabung bersama tim untuk membantu kegiatan yang mereka lakukan. Masih ada hari besok dimana mereka akan memasang pipa-pipa untuk mengalirkan air dari sungai menuju keran air yang berada di tengah desa.
Ohiya, saya tidak menceritakan dengan lengkap kegiatan yang dilakukan teman-teman di luar tim caving karena saya memang tidak melakukannya langsung. Lebih khususnya kegiatan di desa Kanikeh yang hari-harinya diisi dengan kegiatan belajar mengajar, penelitian arsitektur desa, penelitian sungai, sosialisasi porter, sosialisasi bambu, dan pemasangan pipa air. Pada hari-hari terakhir di Kanikeh di mana persediaan makanan telah habis, dua orang teman saya dibantu anak anak desa berburu bekicot 2 plastik, hoek. Saya sendiri tidak doyan, dan tidak turut memakannya yang berujung dimarahin tim konsumsi yang sudah bersusah payah memasakkannya, haha maafkan saya.


Bagian Sebelumnya: