Kamis, Oktober 18
Rabu, Juli 11
Tentang Thailand Cave Rescue
Euforia piala dunia
2018 sedang perlahan menuju klimaksnya ketika ada hal lain yang mengalihkan
perhatian dunia: tragedi penyelamatan 12 anak laki-laki dan seorang pelatih
yang terjebak dalam gua.
Awal mula mendengar
berita 13 orang terjebak dalam gua dan kala itu mereka belum ditemukan, saya
turut bersimpati. Mendengar 1000 orang lebih termasuk di dalamnya dari luar
negara Thailand turut serta membantu dalam tim penyelamatan, saya cukup
optimis. Saya masih tidak banyak mencari informasi mengenai kondisi gua, di
mana letak gua, siapa yang terlibat, dan sebagainya. Saya hanya salut karena tim
sudah bekerja keras saling membantu mencari 13 orang yang tentu saja belum
diketahui apakah mereka selamat atau tidak. Hingga akhirnya muncul kabar bahwa
tim telah ditemukan dalam kondisi bernafas, saya bahagia.
Tapi belum.
Suatu sore kabar gugurnya Saman Kunan, salah satu sukarelawan penyelam
yang membantu menyuplai stok oksigen, menampar saya. Beberapa kenyataan semakin
meningkatkan kekhawatiran saya. Bahwa hujan masih akan mengguyur area gua,
bahwa oksigen di dalam chamber tempat
13 orang itu bertahan semakin menipis, bahwa diameter terkecil salah satu
bagian lorong yang harus dilewati hanya 38 cm, bahwa penyelam yang telah
berhasil menemukan penyintas butuh waktu 6 jam berangkat dan 5 jam pergi, bahwa
sebagian dari anak-anak tsb. tidak bisa berenang sama sekali, dan bahwa kemungkinan
terburuknya adalah chamber tempat
mereka bertahan akan tertutup air sepenuhnya jika tidak segera keluar.
Yang pada awalnya pilihan menunggu selama 4 bulan hingga hujan benar-benar
berhenti adalah pilihan paling aman, menjadi tidak relevan sama sekali sehingga
pilihan terbaiknya adalah: anak-anak dan pelatihnya keluar gua dengan
penyelaman yang beresiko tinggi.
My heart beats faster
Mengapa saya begitu
terlarut dalam kisah ini?
Saya sendiri pernah
melakukan kegiatan penelusuran gua. Meskipun rekor terlama saya berada di dalam
gua hanya masuk jam 8 pagi keluar menjelang Isya, saya mencoba berimajinasi
bagaimana rasanya berada di posisi anak-anak tersebut. Walau begitu tidak akan
pernah ada yang merasakannya selain 13 orang tsb. Tidak ada yang mau kejadian
ini terulang kembali bukan?. Terjebak banjir yang untungnya mereka berhasil
menemukan area yang cukup tinggi. Saya mungkin, di posisi mereka, membayangkan
ketika berhasil menempati tanah tinggi akan mencoba tenang dan berpikir positif
bahwa air akan segera surut dalam waktu beberapa jam ke depan selayaknya ketika
mereka masuk ke dalam gua. Tapi hari telah berganti dalam kegelapan, alat
penerangan semakin redup, persediaan makanan habis, badan semakin lemas tanpa
asupan makanan, waktu demi waktu terlalui tanpa kepastian. Buruk, buruk sekali ☹. Saya kira
salah satu faktor yang bisa menguatkan mereka adalah tetap berada dalam satu
grup tanpa berkurang satu orangpun. Saling menenangkan, bahkan konon kabarnya
sang pelatih mengajak bermeditasi untuk menyimpan tenaga.
Fakta bahwa kondisi
pencarian yang begitu sulit, tidak hanya harus menelusur gua, tapi juga menyelam
di dalam gua lalu cara apa lagi yang bisa ditempuh dalam misi penyelamatan
kalau bukan memanggil tim ahlinya?. British Cave Rescue Council (BCRC) saya
kira masuk dalam daftar utama tim yang dipastikan akan membantu banyak.
Reputasi mereka dalam penyelamatan kecelakaan gua internasional sungguh baik.
Terutama lagi kabarnya mereka memiliki penyelam gua terbaik sedunia. Meskipun dalam
laman Facebooknya BCRA tidak menyebutkan nama penyelam gua tersebut demi
menjaga privasi, media telah menyebarluaskan foto dan nama dua sosok penyelamat
tersebut: Richard Stanton dan John Volanthen.
Cave diving adalah salah satu jenis kegiatan ekstrim yang paling mematikan di dunia.
Resikonya sungguh tinggi. Kegiatan penelusuran gua sendiri cukup menantang dan
berbahaya jika tidak dilakukan sesuai prosedur. Penyelaman juga membutuhkan keahlian
khusus serta peralatan yang tidak sederhana. Lalu bayangkan dua olahraga itu
digabung, caving & diving, butuh berkali-kali
lipat keahlian, keterampilan, ketenangan, kelengkapan alat, stamina, dll. Harus
pula melakukan latihan berkali-kali untuk akhirnya menguasai cave diving. Para penyelam yang sangat
ahli di lautan pun belum tentu bisa melakukan cave diving.
Penemuan ketiga belas
anak itu pertama kalinya oleh dua penyelam dari Inggris membuktikan bahwa masih
ada harapan bahkan dalam kondisi yang sulit dan berbahaya sekalipun. Meskipun nyawa
seorang Saman menjadi korban, kerja keras tim semakin solid. Semakin banyak tim
internasional yang bergabung, semakin banyak dukungan dari penjuru dunia,
semakin banyak doa dan harapan yang terpanjat, semakin meningkat pula harapan
akan selamatnya para korban tanpa kurang suatu apapun.
Hal lainnya adalah, para
penyintas adalah anggota klub bola Wild boars. Bertepatan dengan momen piala
dunia membuat kejadian yang menimpa tim speak bola remaja ini semakin menjadi
pusat perhatian. Tak terkecuali presiden FIFA dan para bintang sepak bola.
Kejadian sini, selayaknya marvel, semacam mengumpulkan banyak universe untuk memberi dukungan. Universe dari caving, diving, sepak bola, dan yang lebih menyenangkan saya adalah
bahwa semua orang jadi mendapat informasi mengenai penelusuran gua, kecelakaan
gua, bahkan bagaimana melihat peta gua.
Ohya, tak terkecuali
saya tuliskan di sini seorang Elon Musk, yang akun twitternya saya ikuti beberapa
bulan lalu, juga menjadi bagian dari cerita penyelamatan. Usaha membuat kapsul-selam
ukuran anak-anak patut diapresiasi meski pada akhirnya tim penyelamat tidak menggunakannya.
Mungkin bisa berguna di kemudian hari, tapi sekali lagi tidak ada yang mau
kejadian seperti ini terulang kan? Saya sendiri mendengar Mr. Musk dalam waktu
singkat membantu mencari solusi dengan membuat kapsul tersebut sedikit mempertanyakan.
Has he, or at least his team, ever done
caving? Lalu mendengar bahwa Elon dan tim telah berdiskusi dengan tim
penyelam membuat mereka menjadi lebih relevan untuk melanjutkan misinya. Meski dalam
hati saya tetap bertanya-tanya, bagaimana dengan bebatuan tajam yang akan merusak
tabungnya? bagaimana dengan tim penyelam yang harus mengeluarkan tenaga dua
kali lipat mengangkat tabung berisi manusia saat berjalan di jalur non-banjir? Terlepas
dari itu semua Elon telah bekerja beberapa langkah jauh di depan daripada
sebagian besar manusia di bumi ini, termasuk saya, yang hanya bisa mamantau dari
internet dan mendoakan keberhasilannya. Terlebih saat terakhir dia
mengkonfirmasi di akun twitternya mengenai korespendensinya dengan penyelam bahwa
pembuatan kapsul tersebut karena penyelam meminta ‘please keep working on the capsule’. Good job Elon! And probably you’ll have interest to know more about speleology.
Kecelakaan ini
sesungguhnya membuat orang bertanya-tanya. Paling tidak saya pun merenunginya,
mengapa bisa terjadi dan salah siapa? Banyak yang menyalahkan sang pelatih,
Ekapol (25), karena mengajak anak-anak tersebut masuk gua saat cuaca buruk,
meski mereka masuk saat hujan belum turun. Namun melihat bahwa mereka memasuki
gua dengan perlengkapan seadanya: baju bola dan celana pendek, tanpa helm,
tanpa sepatu boot, mungkin hanya sedikit penerangan. Saya pun melihat mereka
hanya penduduk lokal yang sesekali memasuki gua untuk bermain dan tidak dibekali
pengetahuan tentang bahaya dan keselamatan diri sendiri. Pengetahuan mengenai
prosedur keselamatan menelusuri gua umumnya diketahui oleh para penelusur gua
yang mendapat akses informasi dari buku-buku atau petunjuk-petunjuk yang telah
disepakati secara global. Sehingga menjadi cukup dimengerti bahwa kesadaran dan
pengetahuan mereka, terutama pelatihnya, akan keselamatan masihlah kurang untuk
akhirnya terjadilah kejadian yang menjadi sorotan dunia. Namun setelah
kecelakaan terjadi yang harus diutamakan adalah keselamatan korban. Tidak ada
salah-menyalahkan sesiapa. Kerja tim penyelamat yang solid adalah kunci
keberhasilan penyelamatan ini. Terlebih lagi 12 anak-anak dan pelatihnya sangat
hebat dan kooperatif terutama dalam kondisi kritis 9 hari pertama setelah
mereka terjebak. Sehingga pada tanggal 10 Juli 2018, di hari 17 terjebaknya
mereka, seluruh negeri bersorak sorai atas berhasilnya misi penyelamatan The
Wild Boars. Sayapun, turut bersorak dalam hati saat melihat siaran langsung
dari salah satu saluran di Youtube setelah hari-hari yang cukup menegangkan.
Selasa, April 24
Overheard Emak-Emak Sedang Piknik di Pantai
Di suatu pagi yang
cerah alumni sebuah SMP milik Ibu saya yang berarti sekelompok emak-emak dan
bapak-bapak berusia kisaran 50 tahunan sedang piknik di pantai. Setiap orang yang
datang wajib membawa makanan yang dibebaskan jenisnya.
*Percakapan 1*
Emak A : Eh jeng tadi aku nelpon si Bapak A nanya bawa makanan apa, dia
bilang bawa lontong, lumayan ya jeng bisa kenyang makan lontong
Emak B : Lah jeng kok situ percaya aja si bapak bilang
gitu
Emak A : Ya percaya lah jeng kenapa enggak
Emak B : Si Bapak ya udah pasti bawa lontong lah, satu
lontong sama dua telor.
Emak A : !@*@$(*&$(#
Saya : (mencuri dengar) *^#(*)$@#)$#*(!!!!
*Percakapan 2*
Emak A : ini loh aku nelpon si Titit nggak diangkat-angkat
dari tadi, coba jeng kamu yang telpon
Emak B : Ya
mungkin Titit lagi di jalan jeng, belum bisa angkat telponnya
Saya : (Bertanya kepada Ibu) HAH, TITIT?
Ibu : iya, Namanya Tuti, karena ada dua
orang yang namanya Tuti jadi yang satu dipanggil Titit.
Saya : %@#^%@#&^*@$(@$*)_@%)(_!!!
PS: Don’t judge me
Selasa, Maret 27
Internet
Apa kabar dunia
persilatan?
Setelah gonjang-ganjing
pemanfaatan data akun facebook secara ilegal, some people might delete their
account yet many of world populations still using it and don’t even give a shit
about what just happened. Kadang lucu juga melihat fenomena dunia maya ini.
Migrasi-tutup-buka akun media sosial dari satu ke yang lain adalah hak setiap nitijen
yang terhormat. Seorang sutradara terkenal memutuskan menutup akun twitternya, bikin
kepala pecah katanya. Probably reading too many mocks or critics on his new
movie? (just guessing, lol). Ada yang mulai jenuh dengan kepalsuan foto-foto Instagram,
sehingga memutuskan untuk menutup akunnya dan lebih bergembira ria dengan dunia
twitter dengan segala jokesnya. Ah ya, sayangnya Tumblr diblokir, padahal saya
udah bela-belain memilih Tumblr dibanding Instagram untuk berbagi foto, tapi
ternyata tidak direstui juga, haha. Ada juga pas jaman-jaman blogging pada
migrasi dari domain blogspot ke wordpress atau sebaliknya, ya mungkin cuma nyoba-nyoba
aja sih. Tapi beberapa orang yang blognya saya baca punya alasan sama, bahwa
pas masih di blogspot adalah masa masa labil abg yang mana ingin menjadi dewasa
dengan tulisan barunya di wordpress, haha. Beda lagi dengan dunia videografer.
Sekarang banyak sekali yang menghasilkan uang dari Youtube. I’m enjoying
watching Youtube video dengan berbagai macam jenisnya itu, tapi belakangan jadi
banyak iklan (yaiyalah tam kan makin banyak yang cari uang disono). Namun di
antara banyaknya Youtuber-Youtuber yang bermunculan dan semakin kaya itu, ada
juga loh yang lebih memilih membagikan videonya melalui Facebook ketimbang
Youtube. Sila dicek Nas Daily, pasti udah pada pernah nonton kan paling engga
salah satu videonya yang nyeritain kehidupan orang selama satu menit dengan
tagline “That’s one minute, see you tomorrow”. Ketimbang meng’uang’kan hasil kerja
kerasnya di Youtube dia membagikan video-video kerennya setiap hari di Facebook
yang tidak menghasilkan uang. Alesannya sederhana, di Youtube orang-orangnya
tidak nyata karena kebanyakan tidak pakai nama sebenarnya. Pengguna Facebook
mayortitas adalah nyata dan menggunakan nama asli sehingga mas Nas ini bisa
berkomunikasi dengan lebih nyata. Lagipula dia tidak menyukai uang hasil iklan yang
mana penghasilan utama di Youtube adalah dari iklan tersebut. Wow. Fyi video-video
belio yang tersebar di Youtube tentu disebar oleh orang lain yang mengaku-ngaku
dirinya. Nah, jadi apa ya haha, intinya cuma pengen cerita aja kalau alasan
setiap nitijen ini berbeda-beda dan bagaimana setiap orang memiliki caranya
masing-masing dalam menggunakan media social. Termasuk saya dan klean-klean ini.
Jadi, that’s one paragraph,
see you tomorrow!Minggu, Maret 18
Jalanan
Saya mau ngomongin serba-serbi jalanan; lalu lintas; berkendara; dan sejenisnya itu lah. Berhubung udah hamper 8 tahunan berkendara motor jadi ada lah ya yang bias diceritain dikit-dikit, hehe. Tapi sebelumnya Ya Allah jauhkanlah hamba dari menjadi emak-emak yang ngasih sein kanan tapi belok kiri.
Jadi, satu satunya tempat yang selalu bikin saya bisa mengumpat ya di jalanan. Lalu lintas dengan segala maha benar kelakuan penggunanya, juga jenis-jenis jalan yang gak semuanya semulus muka mbak-mbak beauty vlogger yang pakai 10 tahap skincare tiap pagi. Saya antara senang dan merdeka karena bisa sok sok ngumpat tapi nggak ada yang denger dan lihat. Jadi saya bisa tetep terlihat innocent di luar jalanan huehehe. Ohya, termasuk nyanyi sendiri atau kalo lagi sedih dan pengen nangis.
Jadi jenis pengendara yang bikin kesel ada macem-macem, tapi mari kita tidak usah membahas emak sein-kanan-belok-kiri karena udah terlalu basi sering diomongin di mana-mana salah satunya di awal tulisan ini, haha. Nah berhubung saya belum bisa nyetir mobil, jadi konteks tulisan ini saya sebagai pengendara motor aja ya..
- Yang jalan di tengah tapi pelan-pelan.
Hmm, asumsi saya sih pengendara jenis ini baru belajar naik motor. Seringnya ngeliat ibu-ibu, kalo nggak cewek-cewek abg yang pake seragam SMP/SMA. Mereka ini nggak tahu dan nggak mau tahu apa yang sedang terjadi di belakangnya. Mungkin pengendara mobil ya yang jadi susah kalo mau nyalip mesti ikutan jauh ke kanan jaraknya. Kadang kesel sih, tapi rasa keselnya berangsur-angsur berubah jadi kasian, karena kalo mereka baru belajar naik motor jadi merekanya beresiko terjadi apa-apa. Entah kepepet orang nyaliplah, diklakson yang bikin kaget lah, diteriakin lah.
- Yang dikejar target penumpang.
Siapa lagi kalo bukan those A**HOLE BUS DRIVERS!! nah kan ngumpat. Kalo udah ketemu bis jangan macem-macem deh pokoknya, entah itu trans jogja ataupun bis antar kota antar propinsi macem eka-mira. Kalau berkendara di pantura dan merasa tenang-tenang saja karena belakang anda sepi, jangan terkecoh, tiba-tiba mendadak muncul muka si kotak besi yang dari spion yang jaraknya udah deket banget. Baru-baru ini saya ngalamin, saya terlena beberapa detik nggak ngecek spion kan karena jalanan masih wajar, tiba tiba diklakson bis yang jaraknya udah deket banget. Kaget banget untung gak sampe jatuh ya, gimana yang jantungan. Nah biasanya kalo udah gitu sopir bus bakal jengkel banget karena kesalahan saya yang 'ngalangin jalan' gimanapun pasti mereka merasa benar haha. Jadi buru-buru menjauhlah dari bus tersebut. Saya habis kaget langsung ngebut cari sisi aman karena emang lagi agak macet, jadi si bus itu pun percuma nglakson2 saya karena depan saya pun lagi macet! pas udah keluar dari kemacetan dan posisi saya di depan bus itu lalu buru2 mepet samping kiri ceritanya mempersilahkan doi biar nyalip saya. Nyalipnya nggak santaaeeee berasa sengaja dipepet, mungkin masih kesel kali saya ngalangin jalan dia.
- Yang lampu baru ijo tapi langsung bunyiin klakson.
Ingin kuteriak: maburo!
- Yang udah jalan pas lampu belum ijo.
Ini biasanya sih akamsi yang udah apal banget kapan gilirannya lampu merah dan ijo nyala, atau kapan ada celah sepi meski belum gilirannya ijo. Iya sih, cuma kurang 5 detik lagi baru ijo, tapi jadinya saya kaget sendiri dan suka kebawa pengen ikutan ngegas.
- Yang dikit-dikit nglakson
Sering banget kaget karena klakson2 yang entah dibunyikan untuk apa. Beda urusan kalo pas lg viral Om Telolet Om. Cuma sering banget dikagetin sama klakson yang padahal saya nggak ngerasa ngalangin jalan mereka. Atau sayanya aja yang emang nggak ngerasa ya, haha.
- Yang lagi nyari alamat.
Kadang mereka suka berhenti secara mendadak padahal belum ngasih lampu sein. Ya mungkin kalo emang lagi nyari alamat, mbok di awal pelan-pelan aja bisa loh. Kalo yang ini berhak mendapatkan bunyi klakson karena bisa membahayakan pengendara belakangnya yang ikutan berhenti mendadak juga.
- Yang sambil ngerokok.
Keseel banget kalo abu rokoknya terbang-terbang kena ke pengendara belakangnya. Nggak semua orang nutup kaca helm kaaan.
- Yang nggak pake helm tapi ngebut.
Abege-abege yang lagi boncengin pacarnya, udah gitu suara knalpotnya tuh looh, bikin pengang.
Udahan deh, nanti tambahin lagi kalo nemu yang unik-unik di jalanan.
Jadi, satu satunya tempat yang selalu bikin saya bisa mengumpat ya di jalanan. Lalu lintas dengan segala maha benar kelakuan penggunanya, juga jenis-jenis jalan yang gak semuanya semulus muka mbak-mbak beauty vlogger yang pakai 10 tahap skincare tiap pagi. Saya antara senang dan merdeka karena bisa sok sok ngumpat tapi nggak ada yang denger dan lihat. Jadi saya bisa tetep terlihat innocent di luar jalanan huehehe. Ohya, termasuk nyanyi sendiri atau kalo lagi sedih dan pengen nangis.
Jadi jenis pengendara yang bikin kesel ada macem-macem, tapi mari kita tidak usah membahas emak sein-kanan-belok-kiri karena udah terlalu basi sering diomongin di mana-mana salah satunya di awal tulisan ini, haha. Nah berhubung saya belum bisa nyetir mobil, jadi konteks tulisan ini saya sebagai pengendara motor aja ya..
- Yang jalan di tengah tapi pelan-pelan.
Hmm, asumsi saya sih pengendara jenis ini baru belajar naik motor. Seringnya ngeliat ibu-ibu, kalo nggak cewek-cewek abg yang pake seragam SMP/SMA. Mereka ini nggak tahu dan nggak mau tahu apa yang sedang terjadi di belakangnya. Mungkin pengendara mobil ya yang jadi susah kalo mau nyalip mesti ikutan jauh ke kanan jaraknya. Kadang kesel sih, tapi rasa keselnya berangsur-angsur berubah jadi kasian, karena kalo mereka baru belajar naik motor jadi merekanya beresiko terjadi apa-apa. Entah kepepet orang nyaliplah, diklakson yang bikin kaget lah, diteriakin lah.
- Yang mau belok kanan tapi melipir ke kiri dulu.
Nah, ini nggak jauh beda dari yang pertama, pasti baru belajar naik motor atau mungkin nggak biasa di jalanan. Kalo mau belok kanan yang motong nyeberang, entah mau mampir ke warung atau masuk gang yang posisinya di kanan, bukannya ancang-ancang melipir kanan sambal nunggu sepi eh malah melipir ke kiri baru nengok ke belakang.
- Yang dikejar target penumpang.
Siapa lagi kalo bukan those A**HOLE BUS DRIVERS!! nah kan ngumpat. Kalo udah ketemu bis jangan macem-macem deh pokoknya, entah itu trans jogja ataupun bis antar kota antar propinsi macem eka-mira. Kalau berkendara di pantura dan merasa tenang-tenang saja karena belakang anda sepi, jangan terkecoh, tiba-tiba mendadak muncul muka si kotak besi yang dari spion yang jaraknya udah deket banget. Baru-baru ini saya ngalamin, saya terlena beberapa detik nggak ngecek spion kan karena jalanan masih wajar, tiba tiba diklakson bis yang jaraknya udah deket banget. Kaget banget untung gak sampe jatuh ya, gimana yang jantungan. Nah biasanya kalo udah gitu sopir bus bakal jengkel banget karena kesalahan saya yang 'ngalangin jalan' gimanapun pasti mereka merasa benar haha. Jadi buru-buru menjauhlah dari bus tersebut. Saya habis kaget langsung ngebut cari sisi aman karena emang lagi agak macet, jadi si bus itu pun percuma nglakson2 saya karena depan saya pun lagi macet! pas udah keluar dari kemacetan dan posisi saya di depan bus itu lalu buru2 mepet samping kiri ceritanya mempersilahkan doi biar nyalip saya. Nyalipnya nggak santaaeeee berasa sengaja dipepet, mungkin masih kesel kali saya ngalangin jalan dia.
- Yang lampu baru ijo tapi langsung bunyiin klakson.
Ingin kuteriak: maburo!
- Yang udah jalan pas lampu belum ijo.
Ini biasanya sih akamsi yang udah apal banget kapan gilirannya lampu merah dan ijo nyala, atau kapan ada celah sepi meski belum gilirannya ijo. Iya sih, cuma kurang 5 detik lagi baru ijo, tapi jadinya saya kaget sendiri dan suka kebawa pengen ikutan ngegas.
- Yang dikit-dikit nglakson
Sering banget kaget karena klakson2 yang entah dibunyikan untuk apa. Beda urusan kalo pas lg viral Om Telolet Om. Cuma sering banget dikagetin sama klakson yang padahal saya nggak ngerasa ngalangin jalan mereka. Atau sayanya aja yang emang nggak ngerasa ya, haha.
- Yang lagi nyari alamat.
Kadang mereka suka berhenti secara mendadak padahal belum ngasih lampu sein. Ya mungkin kalo emang lagi nyari alamat, mbok di awal pelan-pelan aja bisa loh. Kalo yang ini berhak mendapatkan bunyi klakson karena bisa membahayakan pengendara belakangnya yang ikutan berhenti mendadak juga.
- Yang sambil ngerokok.
Keseel banget kalo abu rokoknya terbang-terbang kena ke pengendara belakangnya. Nggak semua orang nutup kaca helm kaaan.
- Yang nggak pake helm tapi ngebut.
Abege-abege yang lagi boncengin pacarnya, udah gitu suara knalpotnya tuh looh, bikin pengang.
Udahan deh, nanti tambahin lagi kalo nemu yang unik-unik di jalanan.
Selasa, Desember 12
Before This Year End
It’s been a very looooong
time without posting anything in this page. Since I’ve never been updating my
life things anywhere in the internet, (instead of some tumblr pictures, and
couple of whatsapp status), (well, I’m not that anti-social right?), probably
will write some more words just to fill this blog before this year end. Yasss, 3
more weeks before 2018! I think it’s a non-structural post, I just randomly put
all stories and some thoughts that I can write at this year-end.
Oh, what did I do? I left this page on April. Yes, there were moments. Kindly forget some, and lost tons of details but this early year there was a little change in my life habit. I resigned from my office (been 2 years there) and move to another project which require me to move from place to place. I wasn’t totally leave Jogja as I expected when I first joined that project. But yeah, this government-project thing makes me take lot of flights I’ve never thought it would be this much. So, it took 4 trips in 4-5 months to finish this program and I’m not gonna write the detail of what I was exactly doing. But let me make it short: First trip: Excitement à Second trip: woa, what I’m gonna do, almost 24 hours work every day à 3rd trip: drama drama dramaà 4th trip: finally, kind of happy ending. But yeah, thank you for the experience and the opportunity to explore new places in South Borneo. I think this project still needs more improvement, for the better goals.
So afterwards, I become unemployed again (?). but I feel blessed enjoying my free time while doing couple of things like: attending friend’s wedding (which become midlife’s routine I guess); finding new places to live, and designing it; learning how to drive a car (and I wish ‘kopling’ motorcycle too); hiking Semeru mountain (which my last summit was 4 years ago); being obsessed by some real criminal stories (found this site: www.parkaman.com); streaming movies and YouTube that I couldn’t help but wasting my time on it! It’s interesting to watch ton of youtubers I’ve just known, I knew some names but you know, when you open a page it brings you to another page and page and page and so on.
Well, the internet thing goes really crazy now. I realize that I spend most of my time to see what’s on my phone screen, or laptop. At the end of the day I kind of feel bad for scrolling through social media timeline that much. Why did I waste most of my precious time by seeing some clickbait news, celebrities life, friends achievement (just to make me feel more insecure, lol). But on the next day, still, I’ll repeat it again haha.
In line with this internet things, or technology, I’ll recommend you a great drama series called ‘Black Mirror’. Most of episodes just left me thrill. Each episode is a stand-alone story so no need to start from first episode to understand. The stories are mostly dark and illustrate modern-future day where technology drives human life and how it affects them. The serial has 3 seasons which consists 13 episodes. The 4th season will be aired this December (can’t wait!). I love almost every single episode, probably only 2 which I think has uninteresting story. It worries me how our future will be on the next 10 years maybe? Which one of this ‘black mirror’ technology will be real and also the horrifying side effect.
Let's say that I rely on google maps (despite of the other google features) for looking for places. I even registered as Local Guide. I remember life before google maps. Not so long time ago, I’m not good at memorizing routes. I did it because I get used to the route, so it took more than one trip to memorize the route. Now I got GPS on my hand every time I need it. I admit that google map helps me a lot. Let me hope I don’t lose my instinct of looking around the road without the help of technology. In other hand, I wonder why some people don’t optimize the use of their smartphone as if they have GPS but they don’t know how to use it. You know, like saving or plotting places and stuff. But I understand not all people see it as important thing.
And about Semeru, it was MAGICAL place though the rain never let us feel the warm sun more than an hour per day. The mist which always covered all over the area makes it became more mystical place. I did my summit and it was a hell but worth to see. I never see the famous ‘5cm’ movie before, but Mahameru is not easy place to hike with its slippery sand and unstable rock. Fortunately, it was rainy season so the sand we step on was solid enough and no need to use mask coz the air was clear from dust. Over all, Semeru track is quite easy except the Mahameru. A lot of amazing scenery from Ranu Pani until Kalimati camping ground, it is the combination of lake and sabana. Surprisingly I met a cat at Ranu Kumbolo, perhaps a mountain cat coz he looks so strong (?). The best of the best was the uncrowded situation, very few number of hikers (thanks to the bad weather). There were no more than 20 tents build at Ranu Kumbolo camping ground. Only 3-4 groups which took the summit with us. Here are some pictures:
Oh, what did I do? I left this page on April. Yes, there were moments. Kindly forget some, and lost tons of details but this early year there was a little change in my life habit. I resigned from my office (been 2 years there) and move to another project which require me to move from place to place. I wasn’t totally leave Jogja as I expected when I first joined that project. But yeah, this government-project thing makes me take lot of flights I’ve never thought it would be this much. So, it took 4 trips in 4-5 months to finish this program and I’m not gonna write the detail of what I was exactly doing. But let me make it short: First trip: Excitement à Second trip: woa, what I’m gonna do, almost 24 hours work every day à 3rd trip: drama drama dramaà 4th trip: finally, kind of happy ending. But yeah, thank you for the experience and the opportunity to explore new places in South Borneo. I think this project still needs more improvement, for the better goals.
So afterwards, I become unemployed again (?). but I feel blessed enjoying my free time while doing couple of things like: attending friend’s wedding (which become midlife’s routine I guess); finding new places to live, and designing it; learning how to drive a car (and I wish ‘kopling’ motorcycle too); hiking Semeru mountain (which my last summit was 4 years ago); being obsessed by some real criminal stories (found this site: www.parkaman.com); streaming movies and YouTube that I couldn’t help but wasting my time on it! It’s interesting to watch ton of youtubers I’ve just known, I knew some names but you know, when you open a page it brings you to another page and page and page and so on.
Well, the internet thing goes really crazy now. I realize that I spend most of my time to see what’s on my phone screen, or laptop. At the end of the day I kind of feel bad for scrolling through social media timeline that much. Why did I waste most of my precious time by seeing some clickbait news, celebrities life, friends achievement (just to make me feel more insecure, lol). But on the next day, still, I’ll repeat it again haha.
In line with this internet things, or technology, I’ll recommend you a great drama series called ‘Black Mirror’. Most of episodes just left me thrill. Each episode is a stand-alone story so no need to start from first episode to understand. The stories are mostly dark and illustrate modern-future day where technology drives human life and how it affects them. The serial has 3 seasons which consists 13 episodes. The 4th season will be aired this December (can’t wait!). I love almost every single episode, probably only 2 which I think has uninteresting story. It worries me how our future will be on the next 10 years maybe? Which one of this ‘black mirror’ technology will be real and also the horrifying side effect.
Let's say that I rely on google maps (despite of the other google features) for looking for places. I even registered as Local Guide. I remember life before google maps. Not so long time ago, I’m not good at memorizing routes. I did it because I get used to the route, so it took more than one trip to memorize the route. Now I got GPS on my hand every time I need it. I admit that google map helps me a lot. Let me hope I don’t lose my instinct of looking around the road without the help of technology. In other hand, I wonder why some people don’t optimize the use of their smartphone as if they have GPS but they don’t know how to use it. You know, like saving or plotting places and stuff. But I understand not all people see it as important thing.
And about Semeru, it was MAGICAL place though the rain never let us feel the warm sun more than an hour per day. The mist which always covered all over the area makes it became more mystical place. I did my summit and it was a hell but worth to see. I never see the famous ‘5cm’ movie before, but Mahameru is not easy place to hike with its slippery sand and unstable rock. Fortunately, it was rainy season so the sand we step on was solid enough and no need to use mask coz the air was clear from dust. Over all, Semeru track is quite easy except the Mahameru. A lot of amazing scenery from Ranu Pani until Kalimati camping ground, it is the combination of lake and sabana. Surprisingly I met a cat at Ranu Kumbolo, perhaps a mountain cat coz he looks so strong (?). The best of the best was the uncrowded situation, very few number of hikers (thanks to the bad weather). There were no more than 20 tents build at Ranu Kumbolo camping ground. Only 3-4 groups which took the summit with us. Here are some pictures:
Kamis, April 6
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 3)
1-2 September 2013
“Perpisahan”
my host family, bareng sama anggota tim perempuan lain
Pada akhirnya
tibalah saat kami harus selesai dengan segala macam kegiatan kami selama kurang
lebih satu bulan di Binaiya ini. Artinya kami harus berpisah dengan orang-orang
yang kami temui selama di sini. Keluarga-keluarga yang rumahnya kami tinggali,
Pak Sonri selaku sekretaris desa, Bang Ampi, seluruh anak-anak sekolah yang sempat
kami ajar, bu guru dan pak guru, yang tidak bisa kami bantu lebih lama lagi
daam mengajar murid-murid. Terlebih, kami akan segera meninggalkan megahnya
gunung Binaiya dengan beberapa titiknya yang kami sempat singgahi.
Sebelum benar
benar pergi, kami melakukan rapat koordinasi pada dua malam terakhir kami di
Kanikeh. Kami membahas segala hal yang kami dapat selama ekspedisi dan apa
kira-kira yang dapat kami berikan sebelum meninggalkan orang-orang yang telah
banyak membantu kami. Beberapa masalah dibahas untuk kemudian disampaikan
kepada pengurus desa ataupun guru-guru. Kami juga mendengar kabar ahwa nona
guru akan mengajak penduduk setempat untuk mengadakan ‘pesta’ pelepasan kami
yang akan sekaligus kami manfaatkan untuk momen perpisahan.
Keesokan
harinya, tak seperti biasanya kami makan begitu banyak. Pagi hari, mama tempat
kami menginap memasakkan udang dan ubi-ubian (yang sangat jarang sekali mereka
lakukan). Siang harinya, acara perpisahan diadakan di ruang kelas. Saat kami
datang, makanan telah dihidangkan di meja tengah. Saya cukup terharu karena
sejujurnya untuk makanan sehari-hari mereka pun tidak mudah mendapatkannya.
Pada momen ini, masing-masing keluarga menyumbangkan makanannya demi melepas
kami. Acara diawali dengan sambutan dari nona guru dan ucapan terimakasihnya
untuk kami. Dilanjutkan oleh Pak guru, dan pak Sonri. Lalu kami, diwakili oleh
Adoy selaku ketua tim, juga menyampaikan ungkapan terimakasih dan beberapa
pesan singkat untuk mereka. Selanjutnya kami langsung menyantap hidangan. Semua
yang hadir turut bersuka cita menyantap papeda, patatas, kasbi, dan lauk pauknya.
Sisa hari itu kami habiskan untuk packing
dan persiapan terakhir sebelum turun.
suasana perpisahan
anak-anak yang menghadiri acara perpisahan
3-4 September 2013
“Duriannya benar-benar Runtuh”
Sepertinya
saya harus menyediakan satu judul sendiri untuk peristiwa yang kami alami ini selama
perjalanan pulang dari Kanikeh. Di hutan sebelum kami mencapai Desa Huaulu,
kami akan melewati sebuah area hutan yang ditumbuhi pohon-pohon durian.
Ajaibnya, pohon-pohon ini memiliki musimnya sendiri. Berbeda dari musim durian
pada umumnya, pohon-pohon durian di sini akan berbuah dua kali dalam setahun.
Saat perjalanan kami pulang itu adalah saat yang tepat ketika durian-durian
sudah mulai matang. Kami tidak mendapatinya ketika perjalanan berangkat satu
bulan yang lalu karena memang belum saatnya matang. Menurut sumber, hutan
durian ini sebelumnya pernah mendapat suntikan dari bule yang pernah datang.
Saya sendiri kurang paham suntikan macam apa dan atas dasar apa bule ini
menyuntikkan sesuatu di pepohonan durian ini. Kabar matangnya durian ini
tentunya sudah tersebar ke penduduk setempat. Entah itu di desa-desa gunung
maupun desa pesisir. Ketika kami masih di Kanikeh pun, orang-orang yang naik ke
Kanikeh dari bawah membawa barang satu-dua durian dan mengabarkan ke kami bahwa
di bawah sudah mulai matang duriannya. Membuat kami tak sabar untuk
menikmatinya sendiri.
Pagi itu dari
Kanikeh kami akan langsung turun karena packingan kami telah siap. Kami sudah
berpamitan hari sebelumnya sehingga pagi ini kami hanya pamit kepada masing
masing keluarga inapan kami. Sembari jalan turun melalui rumah-rumah penduduk,
kami hanya melambaikan tangan dan tersenyum. Semua ata menatap kami, seorang
ibu yang duduk di teras rumahnya meneriaki kami selamat jalan, selamat pulang
kembali ke jogjakrta! Kami merencanakan turun dalam waktu dua hari agar
perjalanan terasa santai. Pun kami sudah ingin menikmati pesta durian di bawah
yang artinya kami harus menyiapkan cukup waktu untuk berpesta, haha. Hari
pertama kami hanya habiskan sampai Desa Roho. Kami menginap di tempat warga, yang
malamnya berbaik hati memasakkan kami kasbi (singkong) goreng.
Besok harinya
kami melanjutkan perjalanan di pagi hari. Kami hanya tinggal melewati satu desa
sebelum kembali menemui aspal dan melihat kendaraan lalu lalang. Mendekati
punggungan terakhir sebelum desa huaulu, aroma durian mulai tercium. Kami
mempercepat langkah kami karena kami tahu waktu pesta akan segera tiba.
Saya seorang
penikmat durian, jadi saya akan menceritakan betapa surgawinya tempat ini.
Sungguh. Kami berjalan di antara pepohonan durian matang. Saat itu hanya ada
kami yang sedang berjalan di area tersebut. Karena biasanya beberapa warga pun
mencari-cari durian untuk kemudian dijual di desa. Karena hutan begitu sepi
maka sesekali terdengar suara bedebum, tanda durian jatuh dari pohonnya. Saat
itu pula tanpa ba bi bu kami bergegeas ke arah suara. Satu buah langsung kami
sikat dalam waktu beberapa menit. Saya pribadi sedikit was-was dan tetap
melihat-lihat ke arah atas, berjaga-jaga jika duriannya tiba-tiiba jatuh ke
kepala.
Saya gambarkan,
dalam beberapa jam ke depan kegiatan kami hanyalah cari durian jatuh-datangi-buka-makan-cari
lagi-buka-makan-cari lagi-buka-makan. Saya mendapati diri saya ikut-ikutan nggragas. Siapa yang akan menolak
mendapat durian gratis langsung dari pohonnya! Hingga akhirnya kami benar-benar
mabok. Para lelaki sepertinya memiliki kapasitas lambung yang lebih besar
daripada saya. Ketika saya memutuskan menyerah, mereka masih sibuk mencari
lagi. Bahkan di detik detik terakhir, mereka sudah melupakan etika membuka
durian dengan baik dan benar. Mereka semakin buas karena membuka kulit durian
dengan cara menginjak dengan kaki! (maafkan teman-teman saya ya, pembaca,
situasinya memang panas, haha). Oke, mungkin benar-benar sudah mabok. Sebelum
mereka mulai membuka kulit durian hanya dengan gigi dan melakukan praktik debus,
kami rasa kami harus hentikan semua ini dan kembali melanjutkan perjalanan. Itu
adalah pesta durian terbesar yang pernah saya alami, dan mungkin tidak akan
saya dapatkan di tempat lain. Ohya, kami memutuskan tidak banyak berfoto-foto
dalam pesta durian ini, karena kami tidak ingin membuat teman-teman kami di
jogja iri. Terlebih lagi, kami benar-benar sibuk makan durian dan lebih memilih
untuk menikmatinya ketimbang harus berfoto-foto.
Siangnya kami
singgah di rumah mama tempat kami tinggal di hari-hari keberangkatan kami
sebelumnya. Mama menyambut kami dengan hangat karena memang telah mengetahui
bahwa kami akan datang hari itu. Beliau telah menyiapkan makanan favorit kami
semua: nasi!. Setelah berminggu-minggu memakan sagu dan ubi-ubian, kami
mendapat hadiah nasi dari mama karena tahu kami pasti rindu makanan pokok kami
yang mayoritas orang Jawa ini. Betapa berterimakasihnya kami terhadap beliau. Dengan lauk pauk ikan, kami yang baru saja
pesta durian ini masih dengan nikmat menyantap makanan mama. Sesudahnya, kami
langsung berpamitan kembali untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan kami hari
itu, Pusat Informasi Masihulan.
5-6 September
“Holiday”
naik long boat milik Bang Alay
Setelah satu
bulan penuh melaksanakan program kegiatan yang terjadwal, kami menyisihkan
waktu di penghujung hari-hari kami di pulau ini untuk berlibur. Sudah tentu
pantai adalah lokasi yang kami pilih untuk menghibur diri setelah lama berada
di gunung dan hutan tropis lembab. Lucunya, hampir semua kaki kami terkena
serangan kutu air. Kondisi hutan yang lembab dan kaki yang tidak pernah
benar-benar keringlah yang menyebabkan kaki kami terserang kutu yang tidak
kasat mata itu, dan air laut adalah obat yang ampuh untuk membasmi mereka tanpa
ampun. Oke, saya kurang paham korelasinya bagaimana, haha, yang jelas kaki saya
sembuh karena main air laut dan terpapar sinar matahari.
Kami akan
berlibur selama dua hari dan Sawai adalah lokasi yang kami kunjungi karena
sangat dekat dari lokasi basecamp kami di Pusat Informasi Masihulan. Kami hanya
butuh mencegat truk yang lewat ke arah timur untuk menumpang beberapa kilomater
sebelum turun di pinggir jalan untuk berjalan kaki ke arah pantai. Kami sudah
merencanakan untuk meminjam sebuah basecamp tepat di tepi laut milik Taman Nasional.
Lalu menyewa perahu (biasa disebut long boat) milik Bang Alay (beserta Bang
Alaynya sebagai sopir, haha) selama kami liburan.
Setelah
berjalan kaki, kami menuju arah tanaman bakau yang menandakan batas daratan
untuk bertemu Bang Alay yang telah menanti kami dengan perahunya. Kami langsung
dengan semangat menaiki perahu tersebut dan langsung bergerak melalui hutan
bakau sebelum akhirnya keluar ke laut lepas. Untuk menuju basecamp milik Taman
Nasional ini memang lebih mudah ditempuh melalui jalur laut ketimbang darat
karena letaknya yang benar-benar di tepi laut. Sebelum sampai ke lokasi, kami
mampir dulu di desa untuk mengisi amunisi perut kami yang telah habis ini.
Basecamp
yang kami singgahi berupa bangunan panggung kayu mungil dengan dermaga kecil di
depannya. Tidak ada kasur, namun kami sudah siap sedia dengan perlengkapan outdoor kami. Kami juga dipinjami
beberapa buah alat senorkling milik
Taman Nasional. Sisa hari itu kami habiskan untuk senorkling di beberapa titik laut, menikmati kelapa muda yang
langsung dipetik dari pohonnya, memancing ikan, atau hanya bermalas-malasan di
dermaga. Malamnya, Bang Alay mengajak beberapa orang untuk memancing ikan, dan
bahkan beliau sendiri akan unjuk kebolehan menyelam sambil menombak ikan.
Saya tidak ikut karena memilih
bermalas-malasan di basecamp sambil ngobrol-ngobrol, because it’s laaazy time. Beberapa saat kemudian yang pergi mencari
ikan kembali dengan hasil buruan yang cukup banyak. Kami melewati malam dengan
membakar ikan dan menyantapnya di tepian dermaga, bahkan beberapa ikan berwarna
bagus dan tampak sayang untuk dimakan, haha.
basecamp milik TN Manusela
Pertama kalinya main snorkeling
numpang foto di penginapan sebelah
Esok
harinya kami hanya punya waktu setengah hari, karena harus mengejar waktu untuk
kembali lagi ke Masohi. Kami telah menyewa tronton Kabaresi lagi untuk mengangkut
kami kembali. Pagi hari sebelum kembali pulang ke daratan, kami mampir sejenak
ke resort yang cukup mewah dan terkenal, pantai ora. Kabarnya tempat ini adalah
yang paling mahal di sini karena fasilitasnya standar bule. Arsitekturnya juga
menarik. Kami hanya berfoto-foto sejenak, namun sebagian besar dari kami memang
sudah tidak berminat berfoto-foto ria. Berakhir dengan mutungnya seksi dokumentasi kami yang sudah susah payah memasang
kamera di tripod dan mencari angle
untuk foto tim, namun tidak
ditanggapi kami-kami, haha. Setelahnya kami menyempatkan untuk sekali lagi
bermain snorkling di satu titik. Karena
tepat pada hari Jum’at, teman-teman lelaki yang muslim akan melaksanakan sholat
jum’at di masjid setempat (setelah melewati setiap jum’at di gunung tanpa
masjid, haha). Lalu kami para wanita memutuskan untuk mandi di pemandian umum.
Sekilas tempat ini seperti kolam renang umum karena telah terpasang
keramik-keramik pada tepian kolamnya, namun sebenarnya air di kolam ini adalah
mata air yang mengalir dengan sangat perlahan. Kami bertiga berbaur dengan
penduduk setempat yang juga memanfaatkan kolam ini untuk berbagai keperluan
seperti mandi, mencuci, atau sekedar bermain-main saja.
kolam yang airnya mengalir perlahan
Kami menunggu datangnya truk tronton Kabaresi karena tim transportasi sudah mengurus dan membayar sewa tronton tersebut. Namun dua jam kemudian, truk yang ditunggu tak kunjung datang. Kami coba menghubungi komandan kabaresi yang telah berjanji menjemput kami, namun tak pernah ada respon meskipun sinyal telah kami dapat kembali. Menit-menit berlalu tanpa kejelasan dan kami hanya berdiam diri di tepi jalanan. Menjelang magrib, ada sebuah mobil Ford Ranger lewat dan kami coba bertanya apakah bisa menumpang sampai Masohi dengan merundingkan ongkos imbalan. Mereka menyanggupinya dan kami bisa bernafas lega karena bisa benar-benar pulang hari itu ke Masohi.
Tak disangka,
pemegang kemudi mobil itu benar-benar ‘handal’ dan tak lebih dari 2 jam kami
bisa sampai di Masohi. Padahal waktu tempuh normal adalah 4 jam. Dengan
kecepatan yang sungguh tinggi di medan yang berliku-liku, kami harus menanggung
derita pusing-pusing dan mual-mual, haha. Bahkan beberapa orang teman lelaki
yang menempati bagian belakang sampai muntah-muntah. Namun kami sudah sangat
bersyukur bisa mendapat tumpangan sampai ke Masohi. Sekitar pukul 19.00 kami
sampai di rumah dinas kepala Balai Taman Nasional yang baru saja pensiun, Pak
Zulkifli. Beliau telah pulang kembali ke Bogor ketika kami datang ke Seram.
Namun masih berbaik hati untuk meminjamkan rumah dinasnya kepada kami untuk
disinggahi sejenak. Di situ kami benar-benar merasakan kembali ke rumah, dengan
kasur empuk dan AC. Kami beristirahat dengan nyenyak malam itu.
7-11 September 2013
“Back Home”Kami masih memiliki tanggungan program ekspedisi, yakni melakukan presentasi ke orang-orang di balai taman nasional sebagai bentuk pertanggungjawaban kami berkegiatan di area Taman Nasional Manusela.Jadwal kami presentasi adalah besok tanggal 9 september, sehingga hari ini kami gunakan untuk persiapan materi presentasi esok hari.
Kami diundang
Bang Ato ke rumahnya untuk jamuan makan siang sekaligus menunjungi keluarganya.
Bang Ato memiliki empat anak laki-laki yang uniknya kesemua anaknya diberi nama
jawa yang berawalan 'su' salah satunya sugiono (sayangnya saya melupakan 3 nama lainnya, haha) . Padahal baik Bang Ato maupun istri tidak
memiliki darah jawa sama sekali. Harapan beliau, keempat anaknya dapat tumbuh
menjadi orang besar selayaknya Sukarno, Suharto, dan Susilo, ketiga presiden
Republik Indonesia yang orang jawa dengan nama ‘Su’ di konsonan pertamanya.
Amin ya bang, haha. Cukup lama kami habiskan waktu di rumah Bang Ato, dan
memberikan tanda terima kasih berupa sembako untuk keluarganya. Kami rasa
sembako memang tidak cukup untuk membalas jasa Bang Ato yang menemani kami
selama berkegiatan. Kelak jika kami bertemu kembali, kami akan selalu mengingat
kebaikannya dan membantu apa yang kami bisa jika beliau membutuhkan bantuan
apapun.
Sisa hari itu
kami habiskan sebagai waktu bebas masing-masing. Saya mencoba mengunjungi
warung internet setempat karena penasaran setelah berminggu-minggu terisolasi
dari dunia luar. Sedikit gagu pada awalnya, dan cukup aneh melihat layar
komputer. Tapi selang beberapa menit saya terlarut dengan sosial media. Tujuan
utama mengecek dan membalas pesan, kalau kalau ada yang mengirimkan saya ucapan
ulang tahun bulan lalu melalui dunia maya, haha.
Malamnya kami
serius kembali menyiapkan presentasi, sambil menonton televisi yang pada malam
hari itu sedang ada acara pemilihan putri indonesia. Kami sendiri telah
melakukan diskusi khusus terkait hasil yang kami dapat di lapangan pada
hari-hari terakhir kami di Kanikeh. Kami juga bersiap-siap packing barang bawaan karena setelah presentasi kami akan langsung
berangkat ke Ambon. Kami sudah memesan tiket pesawat untuk keberangkatan tanggal
10 siang. Acara presentasi sekaligus momen kami untuk berpamitan dengan pulau
ini.
Presentasi
dimulai pagi itu tanggal 9 September. Pegawai balai taman nasional berkumpul,
meskipun tidak lengkap semua datang. Setelah pembukaan oleh ketua tim kami,
Adoy, presentasi dilanjutkan oleh masing-masing bidang sembari kami bercerita
mengenai apa yang kami dapat di sana. Saya mendapat jatah menyampaikan beberapa
hasil eksplorasi karst. Hasil yang kami sampaikan ditanggapi dengan baik oleh
pegawai balai. Kami saling berdiskusi mengenai saran-saran yang kami sampaikan
berdasarkan diskusi kami di lapangan.
suasana presentasi di Balai TN Manusela
Siangnya, kami
langsung pergi ke arah pelabuhan Amahai untuk kemudian menaiki kapal cepat,
menyeberangi laut menuju Pelabuhan Tulehu di Ambon. Sesampainya di Ambon kami
mendatangi mess milik pegawai dinas KSDA Ambon yang kebetulan salah satunya
adalah alumni Kehutanan UGM. Kami menginap semalam dan keesokan harinya kami
harus ke bandara untuk mengambil penerbangan ke Surabaya pada pukul 10.00.
Bagian sebelumnya:
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (Bagian 2)
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 1)
pulaaang
Bagian sebelumnya:
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (Bagian 2)
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 1)
Langganan:
Postingan (Atom)






