Sebetulnya saya tidak selalu ingin menceritakan diri saya sendiri. Saya sebagai obyek, bukannya subyek. Tapi topik agak simple ini rasanya unik dan cukup mendesak saya untuk akhirnya menulis dan membagikannya ke kalian, para pembaca.
Ini tentang nama saya: Shabrina Tamimi
mungkin ketika orang berkenalan dan ketika namanya ditanyakan, ia menggoda dengan menjawab: apalah arti sebuah nama
yaampun please deh tinggal nyebut nama aja susahnya minta ampun.
Sejak saya lahir dan tercatatkanlah secara resmi dalam acara aqiqahan nama saya. Sejak itu pula saya memiliki nama panggilan: Tami. Dimulai dari sepupu-sepupu saya yg lebih tua memanggil 'dek Tami', atau yang lebih muda dengan 'mbak Tami'. Lalu saya mempunyai teman-teman sebaya yang meneriakkan 'TAAAM, TAAAAAMI! (jeda) TAAAAM, TAAAAAMI!' (dengan nada yang sama layaknya anak seantero negri ini memanggil nama temannya) di depan pintu rumah ketika mereka mengajak saya untuk bermain di kebon tetangga atau hanya halaman rumah saja. Beranjak ke SD lokal yang muridnya sekelas cuma 25 anak, nama saya tetaplah Tami. Tami yang pada akhirya mengikuti jejak kakak masuk pesantren di Solo. Teman-teman baru dan suasana yang amat sangat baru bagi saya, entah kenapa di mungkin di tahun ketiga saya mendapat julukan Tim-Tam karena seorang teman yang iseng iseng panggil saya pake merk coklat. Mungkin kala itu saya masih semanis dan serenyah biskuit coklat Tim-Tam :9.
Masuk ke masa SMA yang semakin jauh merantau ke Tangerang, entah siapa yang memulai, beberapa teman mulai memanggil nama: Temi. Mungkin itu salah satu cara membuat 'gaul' sebuah nama. Saya terima-terima aja karena kayanya emang jadi tambah gaul ya haha. Atau mungkin karena ada nuansa 'baru' dalam nama Temi, anak muda cenderung suka sama yang baru-baru kan? Panggilan jadi beragam, ada yang nambah huruf 's' kalo manggil : 'teeeeems, lo udah ngerjain tugas beloom?' (gila gaul banget gak sih) atau nge-inggris-in pelafalan huruf 'i' : "temaaaai gue pinjem catetan lo dong!" atau manggil lengkap nama belakang saya: 'tamimiiii! lo harus dengerin lagu barunya si A!'. Selain itu beberapa orang guru mengenal saya dengan : Shabrina. Yaiyalah kan guru biasanya cuma mengenal muridnya dengan nama depan yang biasa dilihat di daftar absen.
Lalu sebuah 'masalah' (it's not a problem actually) muncul ketika saya masuk dunia perkuliahan. Satu angkatan ada dua anak yang namanya Tami. Kala itu kami semacam membuat perjanjian siapa yang mau dipanggil Tami? atau dua duanya saja biar seangkatan jadi chaos manggil Tami yang mana yang nengok yang mana. Setelah dipikir-pikir, saya masih menganggap nama Temi lebih gaul dari Tami haha. Jadi saya semacam 'mengalah' yaudah deh kamu aja yang dipanggil Tami. Lagian seiring berjalannya waktu Tami yang satu ternyata lebih tenar di kalangan kampus, jadi saya mungkin tidak dianggap kalo masih pake nama Tami haha (bercanda tam!) dari sini saya mulai terbiasa memanggil nama diri saya sendiri (loh?) maksudnya nggak reflek nengok kalo ada yang manggil 'tam!' saya mulai tahu rasanya berbagi nama dengan orang lain haha. lagipula teman-teman kos masih memanggil saya Tami, jadi harus terbiasa bahwa saya adalah Tami di kosan dan Temi di kampus. (kok ribet ya)
Ini sebelum akhirnya saya masuk klub mapala, yang punya tradisi ngasih nama baru bagi anggota barunya. Ada tata cara pemberian namanya loh, biasanya nama seorang anggota mula berhubungan dengan apa yang dilakukannya ketika proses pendidikan dasar. Oke ini sebetulnya sejarah yang memalukan, karena saya sempat jatuh ke jurang yang ajaibnya tidak merusak suatu apapun dalam fisik saya kecuali muka yang sedikit lebam. Sekitar mata kiri saya menghitam seperti habis ditonjok orang. Lebam sama dengan bengep. Jadilah nama julukan saya: Bengep (jangan ditiru ya ngasih nama-nama beginian). Dan ini hanya dikalangan mapala kok, jadi jika saya berkenalan dengan anak mapala lain nama saya tetap bengep. Hampir semua mapala di Indonesia memakai tradisi begini. Jadi saya tidak malu untuk berkenalan dengan nama demikian, karena ternyata ada yang lebih aneh lagi, seperti: jamban (saya ngakak waktu kenalan), atau sapi, atau kopet, atau nama-nama yang (mungkin) menjijikkan lainnya. Sebetulnya tradisi beginian juga semakin mengakrabkan hubungan antar teman-teman mapala. Seru loh! Tapi lagi-lagi entah siapa yang memulai, mulailah ada tambahan 'dek' di depan nama lapangan saya: dek beng (dua huruf terkhir dihilangkan). Sebetulnya saya makin bingung dengan nama panggilan saya, tapi saya tetap terima-terima saja karena tidak terlalu peduli juga. Semacam punya rasa 'terserah deh mau dipanggil apaan'. Bahkan di dalam dunia mapala pun saya punya dua panggilan.
Belum selesai teman-teman. Suatu ketika saya masuk ke dunia caving yang orang-orangnya nggak cuma dari kalangan mapala, ada beberapa orang yang mungkin lebih dewasa dan menghargai orang untuk tidak memanggil nama lapangan. Beberapa orang (tanpa saya minta) memanggil saya Shabrina. Mungkin berawal dari daftar nama absen pada suatu kursus, saya mulai dipanggil shabrina meski saya memperkenalkan nama lapangan saya: Bengep (kalo udah gini saya jadi tampak bodoh tetap kenalan dengan nama 'menjijikkan'). Dipanggil Shabrina di hari-hari biasa (bukan cuma absen) sejujurnya hal baru bagi saya. Entahlah, aura nama 'Shabrina' kayaknya lebih berharga daripada 'Tami', 'Temi', apalagi 'Bengep'. Mungkin kalo dibikin kasta, kasta nama Shabrina lah yang paling tinggi haha. Seolah kalau orang manggil 'Shabrina' saya akan memperbaiki sikap dan nggak bisa seurakan kalau dipanggil 'Bengep'. Masih ada bawaan bahwa yang memanggil nama Shabrina adalah kalangan guru yang tentunya lebih saya hormati ketimbang teman-teman sebaya. Oke, sejak itu dalam perkenalan-perkenalan di antara orang-orang caving, saya mulai menyebut Shabrina sebagai nama saya.
Wow, di jaman kuliahan saja saya udah punya lebih dari 3 nama. Dan pada akhirnya saya merasa, di setiap nama panggilan saya, seolah ada karakter yang berbeda. Tami yang dikenal teman-teman SMA saya tentu akan jauh berbeda dengan Bengep yang dikenal teman-teman mapala. Temi yang dilihat teman kampus juga pasti beda rasanya ketika dilihat teman-teman ketika SD. Apalagi nama baru Shabrina, seolah saya harus menjelma menjadi lebih bijaksana. Seolah ada 'tanggungan' di setiap nama panggilan saya. Atau sebetulnya saya hanya bingung dengan beberapa nama tersebut?
Ya, jujur saya bingung.
Coba bayangkan, ketika saya telah beranjak lebih tua dan berada di komunitas baru yang mana keluar dari hingar-bingar perkuliahan. Maksud saya, orang-orang yang benar-benar baru tanpa ada relasi sebelumnya. Dan ketika orang itu menjulurkan tangan menyebutkan namanya, lantas saya akan terdiam beberapa detik untuk memikirkan tepatnya nama apa yang akan saya sebut. Nama kecil saya, atau nama bijaksana saya (haha), yang pasti bukan nama lapangan. Atau saya akan membuat nama baru?
Adakah saran??
Atau lebih baik saya bilang: TERSERAH!
Pada akhirnya, saya mengerti. Mungkin kalimat tanya 'apalah arti sebuah nama?' itu benar adanya. Saya bisa jadi berbeda dengan saya ketika kecil. Bahkan berbeda dalam waktu yang sama saat berada di kos dan di kampus. Saya orang yang sama dengan 'saya' yang lain. Yang membedakan itu hanya sikap apa yang wajar jika dilakukan pada suatu stuasi dan kondisi tertentu. Saya nggak mungkin bisa benar-benar mengabaikan 'kewajaran' yang dianut umat manusia bukan? Meski begitu saya tetaplah orang yang sama dengan saya yang lalu. Dengan julukan nama apapun, saya masih sama bagi saya sendiri. Hanya sedikit banyak bertransformasi menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Jadi apa arti sebuah nama bagimu?
Sabtu, Januari 11
Sabtu, Oktober 12
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 1)
Di perjalanan
pulang kembali ke Ambon, ketika saya dan tim akan meninggalkan pulau ini saya
berpikir untuk menuliskan semua hal yang terjadi selama enam minggu kebelakang.
Ketika kapal cepat penyeberangan keluar Pulau Seram akan segera berangkat pukul
14.00, tanpa disadari ada air mata yang menitiki sudut mata saya. Kenapa
perpisahan selalu diiringi dengan haru, dan kenapa 7 rekan saya justru tampak
baik-baik saja? Mungkin setiap manusia akan berbeda dalam menyikapi
‘perpisahan’. Saya pun sesungguhnya tidak mengerti apa yang ditangisi. Saya
hanya tidak menyangka 6 minggu ini terlalui begitu saja. Ada harga yang harus
dibayar untuk mendapatkan sesuatu. Dan kami telah membayar semuanya untuk
mendapat sebuah pengalaman luar biasa. Sejak awal memulai perjalanan lalu
memasuki pedalaman hutan Binaiya dan bertemu orang-orang yang membuat kami
belajar bertahan hidup, hingga akhirnya turun dan menemukan peradaban kembali. Dan
di kapal yang akan segera melaju ini, melalui laut yang akhirnya memisahkan
kami dengan Pulau Seram, kami mengakhiri kegiatan pelaksanaan ekspedisi SATU
BUMI. Saya kira semua ini harus dituangkan dalam sebuah tulisan yang patut
dibaca, orang-orang biasa menyebutnya: berbagi pengalaman. Walau saya masih
berpikir keras untuk meringkas semua hal-hal yang terjadi menjadi tulisan yang
tidak terlalu panjang. Jadi di sinilah, di blog pribadi saya, saya akan mencoba
bercerita tentang perjalanan yang saya dan 7 orang lain alami. Tentunya cerita
versi saya sendiri, gaya bahasa dalam perspektif saya yang mungkin tidak sama
dengan teman tim saya. Terimakasih untuk mau membacanya.
NB: Foto-foto yang ditampilkan
sebagian besar diambil oleh tim dokumentasi
28 Agustus – 1 September 2013
“Across The Ocean”
the great Lambelu ship
barang bawaan kami (sumpah itu berat)
Kami
baru menaiki kapal Lambelu pukul 07.00
WIB pagi harinya namun harus menunggu 2 jam lagi untuk proses loading-unloading dan kapal baru benar
benar berjalan pukul 10.30 WIB. Sayangnya kami tidak mendapatkan tempat cukup
layak. Status “ekonomi” membuat kami harus berebut tempat bersama ratusan
penumpang ekonomi lain. Kapal yang datang dari Jakarta ini telah mengangkut
cukup banyak penumpang dan membuat kami harus “ngemper” lagi diantara
barang-barang yang tidak seharusnya berada di lorong lorong kapal. Belakangan
kami mendapat tempat di dek setelah beberapa penumpang turun di Makassar. Semua
dek kapal telah penuh, lorong-lorong juga penuh orang dan barang, bahkan hingga
ke tangga-tangga. Saya khawatir jangan-jangan kapal ini overloaded dan bisa tenggelam di laut lepas.
barang-barang yang sembarang saja diletakkan hingga ke tangga-tangga
| tempat kami sebelum akhirnya pindah ke yg lebih layak |
beranda kapal
Port of Bau-Bau, anak-anak 'memamerkan' kebolehannya mendayung
when we got bored, we sat there to enjoy the wind, and sun
Musholla, the most comfort place in the whole ship
our deck
ratusan orang yang berebut dan saling mendorong, jangan sampe jatuh ke lautan itu!
Kedatangan kami di Ambon disambut dengan gerimis dan langit yang sudah gelap. Dan karena gelap jadi kami memutuskan untuk menginap semalam di pelabuhan dan baru esok paginya berangkat ke Pulau Seram. Kami makan malam nasi padang yang enak luar biasa setelah selama ini hanya ikan mentah. Lalu mencari kamar mandi di masjid Agung. Ambon baru saja terkena bencana banjir badang. Terlihat di jalan jalan masih tersisa lumpur dan sampah yang menggenang. Beberapa orang sedang membersihkannya dengan semprotan air. Saya akhirnya mandi setelah 5 hari yang lalu tidak berani ke kamar mandi.
Kedatangan kami di Ambon disambut dengan gerimis dan langit yang sudah gelap. Dan karena gelap jadi kami memutuskan untuk menginap semalam di pelabuhan dan baru esok paginya berangkat ke Pulau Seram. Kami makan malam nasi padang yang enak luar biasa setelah selama ini hanya ikan mentah. Lalu mencari kamar mandi di masjid Agung. Ambon baru saja terkena bencana banjir badang. Terlihat di jalan jalan masih tersisa lumpur dan sampah yang menggenang. Beberapa orang sedang membersihkannya dengan semprotan air. Saya akhirnya mandi setelah 5 hari yang lalu tidak berani ke kamar mandi.
2 – 5 September 2013
“East of Indonesia”
Tidak
pernah menyangka untuk menginjakkan kaki di timur Indonesia, dengan waktu 2 jam
lebih cepat daripada di Jawa. Suasana yang berbeda, dengan wajah-wajah timur di
sekitar yang hampir susah membedakan satu sama lain. Logat yang sedikit keras.
Dan pagi ini kami langsung menaiki 2 angkot yang membawa kami ke pelabuhan
Tulehu di ujung pulau lalu naik kapal cepat menyeberang ke pulau tujuan. Hanya
ada 2 kali keberangkatan kapal cepat dalam satu hari, pukul 09.00 dan 14.00. berangkat pukul 09.20 WIT dengan tiket Rp
110.000,00 setiap orang. Laut sedang tidak bersahabat, sedikit gerimis dan
gelombang cukup membuat beberapa orang muntah di kapal itu. Saya habiskan waktu
dengan tidur dan 2 jam kemudian sampailah kami di pelabuhan Amahai. Kami begitu
mencolok dengan barang bawaan yang super banyak. Gerimis reda dan kami langsung
naik angkot menuju ibu kota Pulau, Masohi. Jalanan di Masohi begitu sepi, pasti
sangat berbeda dengan jalur mudik pantura yang saat ini masih padat merayap.
Tujuan kami di Kota Masohi adalah Mess Balai Taman Nasional Manusela. Mess ini
sebuah rumah bagi para pegawai balai yang katanya masih bujang. Namun ternyata
sepi karena semua sedang mudik.
Kebetulan
Taman Nasional juga sedang kedatangan tamu dari IPB (Himakova) dengan jumlah peserta
80 orang. Mereka sedang berkegiatan di lapangan sehingga beberapa orang TN juga
tengah menemani mereka. Di Masohi kami mempersiapkan segalanya, logistik,
konsumsi, surat izin masuk TN, transportasi, dll. Meski Masohi itu kecil, tapi
pusat kotanya tertata dengan rapih dan masih hijau. Katanya Pak Sukarno yang
merangcang tata kotanya. Siang itu kami langsung berjalan menuju Kantor Taman
Nasional Manusela untuk meberitahu tujuan kami juga mengurus simaksi. Di Kantor
kami disambut dengan hangat oleh beberapa pegawai, lalu kami mempresentasikan
secara lisan tujuan dan program-program yang akan kami lakukan selama satu
bulan lebih. Mereka heran di saat semua orang kembali ke kampung halaman kami
malah pergi menjauh menuju pedalaman yang bahkan penduduknya tidak merayakan lebaran.
Kami
berangkat menuju Masihulan,yang terletak di daerah Seram bagian utara.
Masihulan merupakan desa dimana terdapat
basecamp yang berfungsi
sebagai Pusat Informasi TN, gerbang
utama sebelum menaiki Gunung Binaiya jalur utara. Dengan menggunakan truk
tronton milik Kabaresi, dimana yang menyupir adalah tentara terlatih. Jadilah
truk berjalan rock ‘n roll di jalan
yang berkelok-kelok naik turun bukit, melintasi belantara gelap gulita karena
tidak ada lampu jalanan. Sesekali kami melihat pohon yang penuh dengan
kunang-kunang (karena waktu itu malam hari). Kami tiba di Pusat Informasi tengah
malam dan di sana sudah penuh dengan anak Himakova IPB yang baru selesai
berkegiatan. Jadi kami memang saling bergantian, mereka besok kembali ke kota
dan kami baru memulai kegiatan.
6-11 Agustus 2013
“Lumpur Jahanam”
Masih
dengan truk, esok paginya kami berangkat menuju ke halte Huaulu yang merupakan
pintu masuk jalur pendakian. Disitulah sinyal terakhir yang bisa kami akses,
dan saya berpamitan kepada keluarga saya karena sebentar lagi lebaran dan saya
tidak mungkin bisa menghubungi mereka selama sebulan ke depan. kami langsung
berjalan kaki menuju desa pertama, Huaulu, yang jaraknya sekitar 5 Km dari
halte. Awalnya jalan terasa biasa saja karena medan yang datar-datar saja.
Namun ternyata beban yang saya bawa, carrier
80 L di belakang dan daypack di
depan, semakin lama semakin terasa berat. Mungkin ini beban terberat yang
pernah saya bawa, begitu pun 2 rekan perempuan saya (karena yang laki-laki
tampak biasa saja). Khawatir terjadi kelainan pada boyok, kami bertiga
memutuskan untuk menyewa satu porter khusus untuk barang kami pada perjalanan
berikutnya. Jalanan juga agak becek karena hujan, dan kami juga harus
menyeberangi sebuah sungai yang jembatannya rusak. Mau tidak mau harus
nyemplung, untung tidak terlalu dalam.
Ketika
sampai di Desa Huaulu, semua penghuni rumah seolah melongokkan kepalanya dengan tatapan oh ada tamu dari luar. Mereka sudah terbiasa dengan kedatangan orang asing. Yang saya kagumi dari desa ini
adalah kecantikan rumah-rumahnya. Konon, meski yang paling dekat dengan kota,
Huaulu justru yang paling menjaga keaslian adat istiadatnya. Masyarakatnya
masih animisme, dan rumah-rumahnya juga begitu menarik bagi saya. Tipikal rumah
panggung dengan dinding terbuat dari pelepah sagu. Dan ketika kami singgah di
sebuah rumah yang paling besar di desa itu, beberapa bapak sedang membuat atap
dari daun sagu. Mereka bergotong royong membantu membangun sebuah rumah yang
belum beratap milik seorang keturunan Papua. Tempat kami singgah bernama
bale... Kami memesan porter dari desa Masihulan, namun karena esok harinya
porter yang kami sewa belum juga datang, kami menetap di Huaulu selama 2 hari.
Tanggal
8 yang merupakan hari besar umat muslim, kami masih di Huaulu. Dan suasana
begitu sepi karena desa ini tidak merayakan Idul Fitri. Cukup sedih, tapi
tentunya ada pemaknaan lebih berlebaran dalam situasi seperti ini. Perayaan
kami hanya sebatas maaf maafan sesama tim. Mama yang punya rumah memasakkan kami
papeda. Lalu pendakian pun dimulai kembali, tujuannya adalah camp Wasamata. Medan yang dilewati
adalah sungai, bukan sekedar menyeberangi tapi justru menyusuri lika liku
sungainya selama satu jam. Karena hari itu hujan, beberapa bagian sungai
menjadi terlalu dalam dan membuat kami harus menunggu hingga surut. Bahkan di
sungai sebelum memasuki desa Roho, debit air terlalu deras sehingga
penyeberangan menjadi lebih ekstrim. Kami membuat lifeline dari sambungan 6 webbing
untuk menyeberangi sungai karena memang tidak ada jembatan. Perjalanan ke desa kedua, Roho, yang
harusnya ditempuh 4 jam molor menjadi 6 jam.
it's Huaulu village, such a peaceful place
Huaulu people
Keberangkatan
selanjutnya adalah ke Kanikeh, desa tujuan kami. Namun karena beban yang masih
saja berat, kami tidak bisa langsung ke Kanikeh pada hari itu dan menginap
semalam di camp Wasamata. Perjalanan
dari Roho ke Wasamata bisa dibilang yang paling tidak menyenangkan. Kami harus
berjalan 8 km di medan yang datar, hutan tropis yang panas, penuh pacet dan
lumpur. Ini mimpi buruk bagi saya, karena pacet adalah hal yang paling saya hindari
ketika pendakian. Jalur yang membuat kami stress.
Jalan jalan dan jalan sampai bodoh. Tidak cukup menyenangkan dengan keparnoan
saya terhadap pacet sehingga saya memilih jalan terus ketimbang istirahat
duduk. Akhirnya sampai di camp Wasamata
dimana terdapat sebuah bangunan shelter
yang dibuat pihak TN. Wasamata adalah nama sebuah sungai jernih dan indah.
Semua sungai yang ada di sini cantik-cantik. Pada malam harinya teman saya
berburu udang di sungai ini dan hasilnya lumayan, dapat satu plastik kresek
untuk lauk.
Perjalanan
ke Kanikeh dilanjutkan esok paginya, dan yang saya ingat hanya lumpur.
Lumpurnya tiada ampun, kadang memakan sepatu, kadang kami terpeleset. Mungkin
predikat gunung paling berlumpur cocok diberikan kepada Gunung Binaiya. Lebih baik
menggunakan sepatu boot ketimbang sepatu trekking.
Berakhirnya perjalanan kami ditandai dengan sebuah jembatan mengagumkan terbuat
dari bambu. Jembatan ini menyeberangi sungai Huaule, sungai yang menghidupi
Desa Kanikeh. Jembatan itu bukti kearifan lokal terhadap bahan bahan alam
terutama bambu super besar, dan seolah didukung alam semesta dengan perkuatan
pohon besar yang saling berseberangan. Tali-tali rotan yang mengikat di setiap
sambungannya. Hmm, teman-teman arsitek saya pasti akan mengaguminya jika mereka
sempat melihat.
amazing bridge made from bamboo
Akhirnya
sampai di Kanikeh pada sore hari yang rintik, dengan semua pandangan masyarakat
tertuju pada kami dan kami sudah terbiasa dengan tatapan itu. Kanikeh juga
tidak kalah mengagumkan dari 2 desa sebelumnya, hamparan rumput yang lebih
luas, dan diapit dua gunung di selatan dan utara. Jumlah rumah disini lebih
banyak, sekitar 54 unit dengan berbagai macam tipe. Di ketinggian 600 mdpl,
udaranya cukup membuat kami menggigil sore itu dengan baju kami yang basah dan
kotor oleh lumpur. Desa Kanikeh yang normalnya ditempuh dalam waktu 3 hari dari
halte, menjadi 5 hari karena satu dan lain hal. Dan disinilah akhirnya kami
akan berkegiatan selama 3 minggu.
Kanikeh Village
Childern of Kanikeh
Ps: Untuk membaca bagian selanjutnya ada di link berikut:
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 2)
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 3)
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 3)
Selasa, Juni 4
Riweuh
Lama.
Terlalu lama saya tidak menulis. Terakhir kapan? Oh bulan Maret kemarin, 2
bulan lebih eh. Saya ini sok sibuk atau gimana ya, tapi minat nulis teralihkan
bulan bulan kemarin. Dunia lain telah mengalihkan saya e. (harus pake akhiran
‘e’ gitu ala orang Jogja). Dan event yang baru baru ini selesai adalah:
Wiswakharman Expo 2013. Emang sih saya bukan orang yang punya jabatan penting
di kepanitiaan ini, hanya jadi bawahan mak. Cuma dunia yang lain juga berjejal
di to-do-list saya. Ada Ekspedisi SATU BUMI ke
P. Seram, dan mau nggak mau harus memikirkan, kalo nggak bisa gagal berangkat
nih terus dimusuhin warga satub kan repot. Ada latihan rutin Acintyacunyata
Speleological Club, tiap rabu, mana kalo kesana pake membelah kota Jogja ke
Jalan Kusumanegara pula. Dan hampir setiap habis latihan
pulang tengah malam nyaris pagi buta. Tak apalah demi menuntut ilmu. Intinya
mobilitas cukup tinggi dan menguras tenaga rupanya, syukurlah daripada berdiam
diri mengembangbiakkan lemak.
Mari
mulai dari Wiswakharman Expo. Acara final Kuliah Kerja Arsitektur angkatan 2010
yang tempo hari saya ceritakan perjalanan kami ke Thailand. Jadi dari sana kami
belajar lalu mengaplikasikannya dalam bentuk desain, di kota Yogyakarta. Lalu
hasil desain kami pamerkan dalam event Wiswakharman Expo selama 3 hari.
Acaranya di benteng vredeburg dan jobdesk saya di panitia adalah publikasi.
Nggak jauh-jauh dari nempel poster. Tapi saya sering gabut nih karena harus
kongkalikong dengan gawean lain. Tapi seru kok pas pembukaan dan penutupan saya
ikut pawai jalan sepanjang malioboro. Kirain bakal malu-maluin, tapi ternyata
emang malu-maluin haha. pembukaan pawai kolaborasi dengan pengamen malioboro
yang notabene mainin musik dangdut semi keroncong dan sukses menarik perhatian pengunjung
malioboro. Kami berjalan berbaris macem marchingband dan arak-arakan
dimas-diajeng Jogja yang juga turut meramaikan pawai. Kok jadi keterusan cerita
pawainya haha, udahlah.
pawaai..
Inti
acaranya sih pameran, juga final pemenang sayembara arsitektur dan fotografi.
Acara pendukungnya ada art performance dari band-band Jogja juga
komunitas-komunitas luar biasa seperti Kota Untuk Manusia, Deaf Art Community,
Sanggar Anak SAKI, juga Pecha Kucha Jogja. Yang paling berkesan sih, bagian
performance nya Deaf Art Community (komunitas tuli). Ohya btw karena tema
acaranya “ruang empati untuk jogja”, maka komunitas-komunitas yg diundang jg
berhubungan dengan ‘empati’ itu sendiri. Dan Deaf Art Community (DAC)
menampilkan anak anak dan remaja yang punya different abilities. Mereka tuli
tapi bisa ngedance lho, diiringi oleh Beat Box Community Jogja. Bahkan dengan
tempo yang serempak, tidak ada gerakan yang tertinggal satu sama lainnya.
Awalnya saya kaget, kok bisa? Ternyata mereka mendengar musik melalui getaran
yang timbul dari suara mas mas beat box. Dari getaran itu kemudian membuat
detakan jantung mereka lebih ‘kenceng’ dan bisa ‘mendengar’ suara musiknya.
Terharu. Lalu kami applause dengan silent claps, tepuk tangan yang bukan
‘menepuk’ kedua tangan (they won’t hear), tapi menggoyang-goyangkan kedua
tangan. Katanya jangan sebut orang tuli itu dengan ‘Tuna Rungu’ karena akan menyinggung mereka. Tuna Rungu berarti
tidak bisa mendengar, padahal mereka jelas-jelas bisa ‘mendengar’. Sebut saja
Tuli atau deaf sekalian.
Saya
bergabung dengan Acintyacunyata Speleological Club (ASC) bulan Maret 2013
kemarin. Memang sih sudah agak terlambat mengingat ini tahun ketiga saya
kuliah. Tapi toh tidak ada alasan untuk berkata tidak, ketika teman saya
menyuruh unutuk mendaftar klub ini. Apalagi kalo alasannya tahun-tahun
akhir harus fokus kuliah, kok kayaknya alasan itu tidak mempengaruhi saya untuk
‘mencoba-coba’ hal baru lainnya. Tpi ternyata dampaknya cukup menyita waktu, karena
serangkaian latihan rutin tiap minggu diwajibkan bagi anggota baru (calon
anggota actually). Sedikit brief, ASC
ini club cukup ‘keren’ di dunia caving Jogja. Emang sih, kayaknya nggak banyak
orang tahu. Banyak prestasi-prestasi yang telah dilakukan sejak tahun 1983
*promosi*. Cek di website resminya. ASC organisasi yang berdiri sendiri,
maksudnya nggak dibawah universitas, ato instasi manapun. Jadi anggotanya bisa
dari mana aja, usia berapapun, yang penting dia berminat di bidang speleologi. nah, jadi nambah temen baru lagi.
logo ASC
Nah
yang terakhir nih, ada ekspedisi SATU BUMI ke Pulau Seram. Dan saya ikutan :D.
Waktunya Agustus-September besok. Dan otomatis saya nggak bisa ngambil KKN
maupun KP. Agak sedih sebenarnya, tapi yasudah, kan memang harus memilih.
Mungkin saya dapat ilmu lebih ketika Ekspedisi. Rencana sih, lokasinya di
Kanikeh, desa terakhir jalur pendakian Gunung Binaiya (jalur utara), Pulau
Seram, Maluku. Ada berbagai macam program, sosial masyarakat, riset, cave
survei. Tidak saya jelaskan detailnya sih, yang jelas banyak hal yang mesti
dilakukan menjelang ekspedisi yang tinggal 2 bulan kurang ini. Latihan-latihan
segala macem. Juga menyita waktu dan tenaga.
Intinya,
saya mencoba enjoy dengan apapun yang sedang saya lakukan. Membuat semuanya
menjadi menyenangkan, dan ambil sisi positifnya. Mungkin saya sedikit
tertinggal dengan teman-teman jurusan saya yang udah pada KP dan KKN. Tapi
tidak mengecilkan semangat saya huehe. Meyakinkan diri sendiri, banyak
pelajaran yang bisa didapat diluar kuliah. Selambat-lambatnya sih, nggak bakal
lebih dari 5 tahun kuliah, amin amin.
Jumat, Maret 22
berduka
Saya
masih dirundung duka atas musibah yang menimpa ketiga rekan kami di dunia
caving. Dari ketiga rekan itu, salah satunya saya mengenalnya, Dian, dari
Matalabiogama Faklutas Biologi UGM. Mereka sedang mengikuti acara nasional Kursus
Dasar dan Kursus Lanjutan (KDKL) Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia
(Hikespi) 2013. Acara yang sama yang saya ikuti tahun lalu.
Saya merasa
bersimpati dari semua hal yang terlibat. Keluarga korban, juga panitia yang
menyelenggarakan. Karena saya pun turut menjadi simpatisan panitia karena
status saya sebagai alumni KDKL tahun lalu. Rasanya baru kemarin hari sabtu
minggu saya menjenguk ke Jomblang, Gunung Kidul dengan niat bantu-bantu, meski
lebih sering gabut dan guling-guling saja di pendopo. Tapi setidaknya turut
menceriakan suasana, dengan guyon-guyon ala manusia-manusia itu ber haha hihi. Rasanya
semuanya masih berjalan normal ketika akhirnya saya dapat kabar pada hari
selasa malam akan musibah yang menimpa mereka. Saya yang saat itu sudah kembali
lagi ke Jogja, tepatnya di sekret ASC (Acintyacunyata Speleological Club)
tengah mempersiapkan alat untuk latihan pada esok harinya. Tiba-tiba suasana
berubah tegang karena kabar tersebut. Mendadak sekret rame karena ASC diminta
potensi rescue nya oleh SARDA. Saya yang cuma anak baru di situ hanya turut
membantu mempersiapkan alat rescue dan juga berdoa yang terbaik bagi
rekan-rekan di Jomblang. Karena saat itu berita yang masuk masih tidak jelas,
apakah hanya kecelakaan kecil atau bagaimana. Saya tidak berharap yang terburuk
akan terjadi, toh mereka teman-teman saya juga.
Pada akhirnya
berita mengenai 3 orang meninggal pun dikonfirmasi kebenarannya pada sekitar
pukul 2 dini hari. Sedikit lemas, karena mengenal salah seorang korban. Dan
sedikit tidak percaya karena saya cukup dekat dengan dunia ini. Musibah yang
cukup fatal :’(
Untuk kronologi
kejadian saya tidak berani menceritakannya karena saya sendiri hanya mendengar
berita simpang siur. Yang jelas 3 rekan itu meninggal karena terguyur air bah
yang masuk ke dalam gua. Air hujan yang menjadi bah itu menyebabkan mereka
kesulitan bernafas dan lemas karena tidak kuat menahan tekanan ‘air terjun’
yang menimpa mereka. Hingga kini saya pun masih menunggu berita kronologi pasti
dari teman-teman panitia.
Kegiatan
petualangan memang beresiko. Namun jadi tampak terlalu ‘besar’ dan ‘buruk’
karena media yang berlebihan dalam memberitakannya. Padahal tak sedikit pula
orang mengalami musibah kecelakaan di jalan raya, dan orang masih tidak merasa
takut dalam mengendarai motor di jalan raya.
Peristiwa
ini merupakan pembelajaran pribadi bagi saya. Dalam berkegiatan tidak
seharusnya menyepelekan berbagai macam faktor. Harus lebih berhati-hati, dan
Tuhan bersama orang-orang yang berani.
Yang berduka,
T.
Jumat, Januari 4
HA
hi there! i would like to talk a little about my newbie trip: going to Slamet mountain with dad :D
i didn't guess at first while dad ask me to go to Slamet with him. i thought it was just a 'fun' trip to the 'foot' of mountain, get on together with friends of my dad. Yes, it was kind of a reunion event for dad and his 'mapala' friends at his young life. Then i asked 'is there anyone who want to take summit? or just party event for daddies-club beneath the mountain, cheated up about their old memories'. 'of course, there are some who want to take summit and i'm one of them' he said, 'okay, i'm going with you dad'(excitedly)
Then the journey begin. dad and i, with 9 others (4 above 50th years old and the rest still on my age). So it was like trip for 2 generations, for daddies and their sons, and daughter (wich was only me who became a daughter).
it's beyond my expectation that my dad still has his strength while his age turn 52th. I predicted it wouldn't work that maybe we couldn't get the summit, or we only reach half of mountain height. Sorry for underestimating you dad haha, but not, you're stronger than i expected. You're still as strong as 20 y old boy.
But, unfortunately, we didn't get the summit. Because almost of member group were too weak. And the top had been misty already. But it doesn't matter. Slamet mountain has around 3.400 meters high above the sea, and we had reached 3.200. So it was still 200 meters before the summit!. i was statisfied enough to reach this height with my lovely dad. It feels like one of my-50 things to do before i die- has already done. haha.
you're the best dad!
by the way Slamet Mountain is wonderful! harus kesana lagi :D
what are you looking for, dad?
edelweis tapi ga berbunga
ilalang dan cemara. LIKE BANGET
Jumat, Desember 14
Misi Kepercayaan
Haloo apa kabar? saya melewatkan bulan November :(
Tak apalah, Desember belum lama berjarak, dan izinkan saya menyampah lagi di tengah-tengah garapan City Hotel saya. Gara-gara Pak Jo*et mau nikahan tanggal 21, jadi kelompok saya mesti ngumpul gambar tanggal 18 :((. Padahal yang lain masih jauuuh tanggal 8 Januari nanti. Kalo nggak kiamat kali ya haha.
Tapi masalahnya mau nyampah apaan?
*krik*
Di depan saya anak-anak lagi ngerjain sayembara Futurarc. Lalu saya bertanya (pada diri saya)? kapan bakal ikut sayembara? payah nih, gapernah nyoba hingga detik ini pun. Kenapa ya, mungkin gapernah sempet, atau saya yang terlalu malas, atau yang lain-lainnya. Tapi masih ada niat kok semoga -,- nunggu saya selow aja sih.
Sotoy-sotoy-anku: Arsitek itu mestinya bisa menguasai berbagai macam bahasa. Nggak cuma bahasa arsitek tok. Dia mungkin boleh berkoar-koar tentang konsepnya, keunggulannya, kecanggihannya, kefilosofiannya, ketransformasinya. Kadang mahasiswa seringkali terjebak dalam hal itu (subyek nyata: saya). Dan yang diubek-ubek ya ituu aja. Keindahan fisik itu sangat penting memang. Selama dosen melihat apiknya gambar kita, sedapnya poster presentasi kita, itu dianggap cukup. Bisa diartikan mahasiswa itu hanya mengejar nilai saja.
mungkin masih bisa ditolerir jika hanya dalam tingkat tugas kuliah. Coba kalau proyek nyata. (saya agak bingung ini mengarah kemana haha). mungkin jadinya adalah segala yang serba fungsional.
Kemarin waktu kuliah Arsitektur Vernakular, Pak Pradip cerita tentang bergesernya nilai-nilai kepercayaan manusia jaman sekarang. Tentang makrokosmos dan mikrokosmos. Di Jogja, ada suatu nilai tentang gunung dan laut. dimana antara gunung dan laut adalah sebuah garis orientasi bagi masyarakat. Gunung dan laut adalah utara dan selatan. Lalu diantaranya ada sebuah keraton tempat sultan bertahta. Makannya orientasi keraton adalah utara-selatan, ada alun-alun lor dan alun-alun kidul. Di gununglah tempat bersemayam 'Dewa', dan di laut ada sebuah kerajaan besar yang dikuasai Nyi Roro Kidul. Pada titik tengah keduanya berdirilah pihak 'netral', yang menghubungkan gunung dan laut, yakni keraton. Pun muncullah berbagai macam 'ritual' yang berhubungan dengan ketiganya. Dan keraton masih melestarikannya hingga kini.
Berbicara mengenai Keraton berbicara pula tentang Sri Sultan. Awalnya saya gak tahu menahu tentang kisah kesultanan Jogja ini, dan diantara semua sultan, yang paling saya sering denger kisah-kisah 'kehebatannya' adalah Sultan HB ke-IX. Mungkin Sultan IX betul-betul luar biasa pada jamannya, coba saja search sendiri infonya. Mungkin saya juga takjub karena mendengar kisahnya dari orang yang pernah 'bertemu' dengan Sri Sultan sendiri.
*boleh dong ya cerita dikit*
Suatu ketika saya pergi caving ke daerah Purworejo, bagian perbatasan Jogja. Gua Seplawan namanya, bagi warga sekitar gua tersebut tidaklah asing karena memang telah dijadikan obyek wisata. Kami singgah di sebuah basecamp yang tak asing pula bagi mapala-mapala yang sering bermain ke Purworejo. Basecamp tersebut adalah rumah seorang pria paruh baya yang akrab kami panggil 'Mbah Cokro'. Rumah sederhana dengan dinding gedek dan lantai tanah. Beliaulah yang menemukan sebuah arca emas di dalam Gua Seplawan, arca berupa sepasang pengantin berukuran tinggi sekitar 30 cm. Imbalannya, beliau diberi penghargaan berupa nominal uang yang sangat besar pada jamannya (lupa saya jumlahnya) dan sebuah sertifikat jadul tulisan tangan yang dilaminating. Mbah tidak sungkan memperlihatkan sertifikat tersebut beserta foto arca aslinya (yang sudah lusuh pula). Katanya sih sekarang arca emas tersebut disimpan dalam museum (entah apa), tapi beliau lebih percaya bahwa arca telah berpindah tangan ke seorang kolektor di luar negeri. Tak ada yang tahu.
Mbah Cokro cerita panjang lebar tentang masa dulu, sebagian besar menggunakan bahasa Kromo inggil. Saya bersyukur masih bisa kromo dikit-dikit *haha fail*. Kalo ndegerin paham lah, tapi kalo ngomong yaa gitu deh. Intinya saya masih bisa menikmati cerita Mbah Cokro, apalagi waktu cerita tentang Sultan HB IX. Kata beliau, dulu Sultan pernah mengunjungi Gua Seplawan, katanya hanya Sultan yang bisa 'melihat' hal-hal lain di dalam gua. Sultan datang untuk 'berziarah' kepada leluhur-leluhur. Mbah Cokro pantas berbangga hati karena diutus menemani kanjeng sultan menelusuri gua. Karena memang Mbah Cokro yang paling mengerti isi dalam gua. Kanjeng Sultan, Mbah Cokro, dan Pendamping sultan lainnya memasuki gua dan pada suatu titik (sekarang katanya pas bagian batas terakhir pengunjung) Sultan menangis. Saya lupa tepatnya karena apa, tapi di titik tersebut Sultan membaca sebuah tulisan sanskerta yang bermakna tentang perintah-perintah kepada umat manusia. Ada banyak kalimat, salah satunya bermakna: Jangan sombong jika tidak ingin celaka. Beberapa kalimat lain tidak tepat saya pahami karena keterbatasan kromo inggil saya :(. Dari beliau, saya bisa merasakan 'aura' istimewanya Sri Sultan Hamengkubuwono ke-IX. Ya, karena Mbah Cokro bercerita tidak hanya dari mulut, tapi juga mata dan hatinya (ciah). Dan saya bersyukur masih bisa melihat bukti-bukti adanya nilai kepercayaan (berhubungan denga kuliah Arsitektur Vernakular tadi).
Selain tentang Sri Sultan beliau juga berkisah tentang Bung Karno, Bung Hatta, dan sejarah-sejarah lain yang mungkin tidak tertulis di buku sejarah sekolah-sekolah. By the way, Mbah pernah salaman sama Bung Karno lhoo *applause*. Ya, cerita yang istimewa, terlepas anda percaya atau tidak hadir dalam saksi-saksi sejarah yang kian lama kian buram. "Saya itu ndak pintar, tapi tahu" kata beliau dengan rendah hati.
Saya menikmati, entah dari gaya Mbah Cokro berbicara (sangat santun), ketajaman ingatannya, sikap menerima beliau terhadap siapapun yang berkunjung padanya. Seolah Beliau tidak sungkan-sungkan bercerita tentang hal yang sama berulangkali kepada tamunya. Mungkin kalau saya kesana lagipun, saya akan tetap bahagia mendengar kisah yang sama :D.
ini cucunya Mbah Cokro, dia joget karena Mbah niruin suara gamelan (dengan indahnya)
mulut Gua Seplawan (ga keliatan ya?)
Well selalu menarik membahas nilai-nilai ini. Dan caving memang selalu dekat dengan local wisdom, that's why i like it haha. Karena saya berusaha mencari 'nilai-nilai' itu pula dalam setiap perjalanan, kemanapun.
Kata Pak Pradip lagi, setiap karya itu membawa suatu 'misi'. Diantara semuanya, 'misi' kepercayaanlah yang paling kuat. Tapi semakin lama 'misi' itu semakin geser, kepercayaan semakin kabur. Pesan pak Pradip sebelum kuliah usai:
"kalian boleh membuat yang macem-macem, neko-neko, tidak masalah kok teknologi, modern dan sebagainya, asal kalian masih memegang nilai-nilai tersebut"
Semoga mahasiswa arsitektur sekarang sanggup demikian. Termasuk saya haha. Semoga. (makannya jangan males)
Mungkin selain bahasa arsitektur, ada juga bahasa kemanusiaan, bahasa kesederhanaan, bahasa nusantara. Daaan sadar atau tidak kayaknya tulisan ini pun masih dipengaruhi novel Bilangan Fu :D
selamat menjadi arsitek yang berbesar jiwa dan bijaksana!
Tak apalah, Desember belum lama berjarak, dan izinkan saya menyampah lagi di tengah-tengah garapan City Hotel saya. Gara-gara Pak Jo*et mau nikahan tanggal 21, jadi kelompok saya mesti ngumpul gambar tanggal 18 :((. Padahal yang lain masih jauuuh tanggal 8 Januari nanti. Kalo nggak kiamat kali ya haha.
Tapi masalahnya mau nyampah apaan?
*krik*
Di depan saya anak-anak lagi ngerjain sayembara Futurarc. Lalu saya bertanya (pada diri saya)? kapan bakal ikut sayembara? payah nih, gapernah nyoba hingga detik ini pun. Kenapa ya, mungkin gapernah sempet, atau saya yang terlalu malas, atau yang lain-lainnya. Tapi masih ada niat kok semoga -,- nunggu saya selow aja sih.
Sotoy-sotoy-anku: Arsitek itu mestinya bisa menguasai berbagai macam bahasa. Nggak cuma bahasa arsitek tok. Dia mungkin boleh berkoar-koar tentang konsepnya, keunggulannya, kecanggihannya, kefilosofiannya, ketransformasinya. Kadang mahasiswa seringkali terjebak dalam hal itu (subyek nyata: saya). Dan yang diubek-ubek ya ituu aja. Keindahan fisik itu sangat penting memang. Selama dosen melihat apiknya gambar kita, sedapnya poster presentasi kita, itu dianggap cukup. Bisa diartikan mahasiswa itu hanya mengejar nilai saja.
mungkin masih bisa ditolerir jika hanya dalam tingkat tugas kuliah. Coba kalau proyek nyata. (saya agak bingung ini mengarah kemana haha). mungkin jadinya adalah segala yang serba fungsional.
Kemarin waktu kuliah Arsitektur Vernakular, Pak Pradip cerita tentang bergesernya nilai-nilai kepercayaan manusia jaman sekarang. Tentang makrokosmos dan mikrokosmos. Di Jogja, ada suatu nilai tentang gunung dan laut. dimana antara gunung dan laut adalah sebuah garis orientasi bagi masyarakat. Gunung dan laut adalah utara dan selatan. Lalu diantaranya ada sebuah keraton tempat sultan bertahta. Makannya orientasi keraton adalah utara-selatan, ada alun-alun lor dan alun-alun kidul. Di gununglah tempat bersemayam 'Dewa', dan di laut ada sebuah kerajaan besar yang dikuasai Nyi Roro Kidul. Pada titik tengah keduanya berdirilah pihak 'netral', yang menghubungkan gunung dan laut, yakni keraton. Pun muncullah berbagai macam 'ritual' yang berhubungan dengan ketiganya. Dan keraton masih melestarikannya hingga kini.
Berbicara mengenai Keraton berbicara pula tentang Sri Sultan. Awalnya saya gak tahu menahu tentang kisah kesultanan Jogja ini, dan diantara semua sultan, yang paling saya sering denger kisah-kisah 'kehebatannya' adalah Sultan HB ke-IX. Mungkin Sultan IX betul-betul luar biasa pada jamannya, coba saja search sendiri infonya. Mungkin saya juga takjub karena mendengar kisahnya dari orang yang pernah 'bertemu' dengan Sri Sultan sendiri.
*boleh dong ya cerita dikit*
Suatu ketika saya pergi caving ke daerah Purworejo, bagian perbatasan Jogja. Gua Seplawan namanya, bagi warga sekitar gua tersebut tidaklah asing karena memang telah dijadikan obyek wisata. Kami singgah di sebuah basecamp yang tak asing pula bagi mapala-mapala yang sering bermain ke Purworejo. Basecamp tersebut adalah rumah seorang pria paruh baya yang akrab kami panggil 'Mbah Cokro'. Rumah sederhana dengan dinding gedek dan lantai tanah. Beliaulah yang menemukan sebuah arca emas di dalam Gua Seplawan, arca berupa sepasang pengantin berukuran tinggi sekitar 30 cm. Imbalannya, beliau diberi penghargaan berupa nominal uang yang sangat besar pada jamannya (lupa saya jumlahnya) dan sebuah sertifikat jadul tulisan tangan yang dilaminating. Mbah tidak sungkan memperlihatkan sertifikat tersebut beserta foto arca aslinya (yang sudah lusuh pula). Katanya sih sekarang arca emas tersebut disimpan dalam museum (entah apa), tapi beliau lebih percaya bahwa arca telah berpindah tangan ke seorang kolektor di luar negeri. Tak ada yang tahu.
Mbah Cokro cerita panjang lebar tentang masa dulu, sebagian besar menggunakan bahasa Kromo inggil. Saya bersyukur masih bisa kromo dikit-dikit *haha fail*. Kalo ndegerin paham lah, tapi kalo ngomong yaa gitu deh. Intinya saya masih bisa menikmati cerita Mbah Cokro, apalagi waktu cerita tentang Sultan HB IX. Kata beliau, dulu Sultan pernah mengunjungi Gua Seplawan, katanya hanya Sultan yang bisa 'melihat' hal-hal lain di dalam gua. Sultan datang untuk 'berziarah' kepada leluhur-leluhur. Mbah Cokro pantas berbangga hati karena diutus menemani kanjeng sultan menelusuri gua. Karena memang Mbah Cokro yang paling mengerti isi dalam gua. Kanjeng Sultan, Mbah Cokro, dan Pendamping sultan lainnya memasuki gua dan pada suatu titik (sekarang katanya pas bagian batas terakhir pengunjung) Sultan menangis. Saya lupa tepatnya karena apa, tapi di titik tersebut Sultan membaca sebuah tulisan sanskerta yang bermakna tentang perintah-perintah kepada umat manusia. Ada banyak kalimat, salah satunya bermakna: Jangan sombong jika tidak ingin celaka. Beberapa kalimat lain tidak tepat saya pahami karena keterbatasan kromo inggil saya :(. Dari beliau, saya bisa merasakan 'aura' istimewanya Sri Sultan Hamengkubuwono ke-IX. Ya, karena Mbah Cokro bercerita tidak hanya dari mulut, tapi juga mata dan hatinya (ciah). Dan saya bersyukur masih bisa melihat bukti-bukti adanya nilai kepercayaan (berhubungan denga kuliah Arsitektur Vernakular tadi).
Selain tentang Sri Sultan beliau juga berkisah tentang Bung Karno, Bung Hatta, dan sejarah-sejarah lain yang mungkin tidak tertulis di buku sejarah sekolah-sekolah. By the way, Mbah pernah salaman sama Bung Karno lhoo *applause*. Ya, cerita yang istimewa, terlepas anda percaya atau tidak hadir dalam saksi-saksi sejarah yang kian lama kian buram. "Saya itu ndak pintar, tapi tahu" kata beliau dengan rendah hati.
Saya menikmati, entah dari gaya Mbah Cokro berbicara (sangat santun), ketajaman ingatannya, sikap menerima beliau terhadap siapapun yang berkunjung padanya. Seolah Beliau tidak sungkan-sungkan bercerita tentang hal yang sama berulangkali kepada tamunya. Mungkin kalau saya kesana lagipun, saya akan tetap bahagia mendengar kisah yang sama :D.
Well selalu menarik membahas nilai-nilai ini. Dan caving memang selalu dekat dengan local wisdom, that's why i like it haha. Karena saya berusaha mencari 'nilai-nilai' itu pula dalam setiap perjalanan, kemanapun.
Kata Pak Pradip lagi, setiap karya itu membawa suatu 'misi'. Diantara semuanya, 'misi' kepercayaanlah yang paling kuat. Tapi semakin lama 'misi' itu semakin geser, kepercayaan semakin kabur. Pesan pak Pradip sebelum kuliah usai:
"kalian boleh membuat yang macem-macem, neko-neko, tidak masalah kok teknologi, modern dan sebagainya, asal kalian masih memegang nilai-nilai tersebut"
Semoga mahasiswa arsitektur sekarang sanggup demikian. Termasuk saya haha. Semoga. (makannya jangan males)
Mungkin selain bahasa arsitektur, ada juga bahasa kemanusiaan, bahasa kesederhanaan, bahasa nusantara. Daaan sadar atau tidak kayaknya tulisan ini pun masih dipengaruhi novel Bilangan Fu :D
selamat menjadi arsitek yang berbesar jiwa dan bijaksana!
Langganan:
Postingan (Atom)

