Selasa, April 2

Memories

I just casually opened email in my phone and a reminder from google photo got my attention. It is said I should look at some memories I made from photos I've taken on March several years ago.
It showed me some collage of pictures which immediately I tapped on it,
that was when my memories from 4 years ago come out. It was the day when I had a little vacation with some friends on the beach.


What really bring up my emotion was when I remember that was a vacation with a really good friend of mine who passed away a couple of months ago.


We came to his place where he has community for children around his village.



The pictures are as beautiful as I can remember how it felt like that day. As beautiful as I can remember how he was back then. It's good that I only have good memories of him. How kind and sincere he was and how all people around him just love him the way he was.


The sky was so pretty that day I couldn't stop my self to take a photograph every time it change its color.










 





Kamis, Oktober 18



❤❤❤

Rabu, Juli 11

Tentang Thailand Cave Rescue


Euforia piala dunia 2018 sedang perlahan menuju klimaksnya ketika ada hal lain yang mengalihkan perhatian dunia: tragedi penyelamatan 12 anak laki-laki dan seorang pelatih yang terjebak dalam gua.

Awal mula mendengar berita 13 orang terjebak dalam gua dan kala itu mereka belum ditemukan, saya turut bersimpati. Mendengar 1000 orang lebih termasuk di dalamnya dari luar negara Thailand turut serta membantu dalam tim penyelamatan, saya cukup optimis. Saya masih tidak banyak mencari informasi mengenai kondisi gua, di mana letak gua, siapa yang terlibat, dan sebagainya. Saya hanya salut karena tim sudah bekerja keras saling membantu mencari 13 orang yang tentu saja belum diketahui apakah mereka selamat atau tidak. Hingga akhirnya muncul kabar bahwa tim telah ditemukan dalam kondisi bernafas, saya bahagia.

Tapi belum.

Suatu sore kabar gugurnya Saman Kunan, salah satu sukarelawan penyelam yang membantu menyuplai stok oksigen, menampar saya. Beberapa kenyataan semakin meningkatkan kekhawatiran saya. Bahwa hujan masih akan mengguyur area gua, bahwa oksigen di dalam chamber tempat 13 orang itu bertahan semakin menipis, bahwa diameter terkecil salah satu bagian lorong yang harus dilewati hanya 38 cm, bahwa penyelam yang telah berhasil menemukan penyintas butuh waktu 6 jam berangkat dan 5 jam pergi, bahwa sebagian dari anak-anak tsb. tidak bisa berenang sama sekali, dan bahwa kemungkinan terburuknya adalah chamber tempat mereka bertahan akan tertutup air sepenuhnya jika tidak segera keluar.

Yang pada awalnya pilihan menunggu selama 4 bulan hingga hujan benar-benar berhenti adalah pilihan paling aman, menjadi tidak relevan sama sekali sehingga pilihan terbaiknya adalah: anak-anak dan pelatihnya keluar gua dengan penyelaman yang beresiko tinggi.

My heart beats faster

Mengapa saya begitu terlarut dalam kisah ini?

Saya sendiri pernah melakukan kegiatan penelusuran gua. Meskipun rekor terlama saya berada di dalam gua hanya masuk jam 8 pagi keluar menjelang Isya, saya mencoba berimajinasi bagaimana rasanya berada di posisi anak-anak tersebut. Walau begitu tidak akan pernah ada yang merasakannya selain 13 orang tsb. Tidak ada yang mau kejadian ini terulang kembali bukan?. Terjebak banjir yang untungnya mereka berhasil menemukan area yang cukup tinggi. Saya mungkin, di posisi mereka, membayangkan ketika berhasil menempati tanah tinggi akan mencoba tenang dan berpikir positif bahwa air akan segera surut dalam waktu beberapa jam ke depan selayaknya ketika mereka masuk ke dalam gua. Tapi hari telah berganti dalam kegelapan, alat penerangan semakin redup, persediaan makanan habis, badan semakin lemas tanpa asupan makanan, waktu demi waktu terlalui tanpa kepastian. Buruk, buruk sekali . Saya kira salah satu faktor yang bisa menguatkan mereka adalah tetap berada dalam satu grup tanpa berkurang satu orangpun. Saling menenangkan, bahkan konon kabarnya sang pelatih mengajak bermeditasi untuk menyimpan tenaga.

Fakta bahwa kondisi pencarian yang begitu sulit, tidak hanya harus menelusur gua, tapi juga menyelam di dalam gua lalu cara apa lagi yang bisa ditempuh dalam misi penyelamatan kalau bukan memanggil tim ahlinya?. British Cave Rescue Council (BCRC) saya kira masuk dalam daftar utama tim yang dipastikan akan membantu banyak. Reputasi mereka dalam penyelamatan kecelakaan gua internasional sungguh baik. Terutama lagi kabarnya mereka memiliki penyelam gua terbaik sedunia. Meskipun dalam laman Facebooknya BCRA tidak menyebutkan nama penyelam gua tersebut demi menjaga privasi, media telah menyebarluaskan foto dan nama dua sosok penyelamat tersebut: Richard Stanton dan John Volanthen.

Cave diving adalah salah satu jenis kegiatan ekstrim yang paling mematikan di dunia. Resikonya sungguh tinggi. Kegiatan penelusuran gua sendiri cukup menantang dan berbahaya jika tidak dilakukan sesuai prosedur. Penyelaman juga membutuhkan keahlian khusus serta peralatan yang tidak sederhana. Lalu bayangkan dua olahraga itu digabung, caving & diving, butuh berkali-kali lipat keahlian, keterampilan, ketenangan, kelengkapan alat, stamina, dll. Harus pula melakukan latihan berkali-kali untuk akhirnya menguasai cave diving. Para penyelam yang sangat ahli di lautan pun belum tentu bisa melakukan cave diving.

Penemuan ketiga belas anak itu pertama kalinya oleh dua penyelam dari Inggris membuktikan bahwa masih ada harapan bahkan dalam kondisi yang sulit dan berbahaya sekalipun. Meskipun nyawa seorang Saman menjadi korban, kerja keras tim semakin solid. Semakin banyak tim internasional yang bergabung, semakin banyak dukungan dari penjuru dunia, semakin banyak doa dan harapan yang terpanjat, semakin meningkat pula harapan akan selamatnya para korban tanpa kurang suatu apapun.

Hal lainnya adalah, para penyintas adalah anggota klub bola Wild boars. Bertepatan dengan momen piala dunia membuat kejadian yang menimpa tim speak bola remaja ini semakin menjadi pusat perhatian. Tak terkecuali presiden FIFA dan para bintang sepak bola. Kejadian sini, selayaknya marvel, semacam mengumpulkan banyak universe untuk memberi dukungan. Universe dari caving, diving, sepak bola, dan yang lebih menyenangkan saya adalah bahwa semua orang jadi mendapat informasi mengenai penelusuran gua, kecelakaan gua, bahkan bagaimana melihat peta gua.

Ohya, tak terkecuali saya tuliskan di sini seorang Elon Musk, yang akun twitternya saya ikuti beberapa bulan lalu, juga menjadi bagian dari cerita penyelamatan. Usaha membuat kapsul-selam ukuran anak-anak patut diapresiasi meski pada akhirnya tim penyelamat tidak menggunakannya. Mungkin bisa berguna di kemudian hari, tapi sekali lagi tidak ada yang mau kejadian seperti ini terulang kan? Saya sendiri mendengar Mr. Musk dalam waktu singkat membantu mencari solusi dengan membuat kapsul tersebut sedikit mempertanyakan. Has he, or at least his team, ever done caving? Lalu mendengar bahwa Elon dan tim telah berdiskusi dengan tim penyelam membuat mereka menjadi lebih relevan untuk melanjutkan misinya. Meski dalam hati saya tetap bertanya-tanya, bagaimana dengan bebatuan tajam yang akan merusak tabungnya? bagaimana dengan tim penyelam yang harus mengeluarkan tenaga dua kali lipat mengangkat tabung berisi manusia saat berjalan di jalur non-banjir? Terlepas dari itu semua Elon telah bekerja beberapa langkah jauh di depan daripada sebagian besar manusia di bumi ini, termasuk saya, yang hanya bisa mamantau dari internet dan mendoakan keberhasilannya. Terlebih saat terakhir dia mengkonfirmasi di akun twitternya mengenai korespendensinya dengan penyelam bahwa pembuatan kapsul tersebut karena penyelam meminta ‘please keep working on the capsule’. Good job Elon! And probably you’ll have interest to know more about speleology.

Kecelakaan ini sesungguhnya membuat orang bertanya-tanya. Paling tidak saya pun merenunginya, mengapa bisa terjadi dan salah siapa? Banyak yang menyalahkan sang pelatih, Ekapol (25), karena mengajak anak-anak tersebut masuk gua saat cuaca buruk, meski mereka masuk saat hujan belum turun. Namun melihat bahwa mereka memasuki gua dengan perlengkapan seadanya: baju bola dan celana pendek, tanpa helm, tanpa sepatu boot, mungkin hanya sedikit penerangan. Saya pun melihat mereka hanya penduduk lokal yang sesekali memasuki gua untuk bermain dan tidak dibekali pengetahuan tentang bahaya dan keselamatan diri sendiri. Pengetahuan mengenai prosedur keselamatan menelusuri gua umumnya diketahui oleh para penelusur gua yang mendapat akses informasi dari buku-buku atau petunjuk-petunjuk yang telah disepakati secara global. Sehingga menjadi cukup dimengerti bahwa kesadaran dan pengetahuan mereka, terutama pelatihnya, akan keselamatan masihlah kurang untuk akhirnya terjadilah kejadian yang menjadi sorotan dunia. Namun setelah kecelakaan terjadi yang harus diutamakan adalah keselamatan korban. Tidak ada salah-menyalahkan sesiapa. Kerja tim penyelamat yang solid adalah kunci keberhasilan penyelamatan ini. Terlebih lagi 12 anak-anak dan pelatihnya sangat hebat dan kooperatif terutama dalam kondisi kritis 9 hari pertama setelah mereka terjebak. Sehingga pada tanggal 10 Juli 2018, di hari 17 terjebaknya mereka, seluruh negeri bersorak sorai atas berhasilnya misi penyelamatan The Wild Boars. Sayapun, turut bersorak dalam hati saat melihat siaran langsung dari salah satu saluran di Youtube setelah hari-hari yang cukup menegangkan.


Selasa, April 24

Overheard Emak-Emak Sedang Piknik di Pantai

Di suatu pagi yang cerah alumni sebuah SMP milik Ibu saya yang berarti sekelompok emak-emak dan bapak-bapak berusia kisaran 50 tahunan sedang piknik di pantai. Setiap orang yang datang wajib membawa makanan yang dibebaskan jenisnya.

*Percakapan 1*
Emak A : Eh jeng tadi aku nelpon si Bapak A nanya bawa makanan apa, dia bilang bawa lontong, lumayan ya jeng bisa kenyang makan lontong
Emak B : Lah jeng kok situ percaya aja si bapak bilang gitu
Emak A : Ya percaya lah jeng kenapa enggak
Emak B : Si Bapak ya udah pasti bawa lontong lah, satu lontong sama dua telor.
Emak A : !@*@$(*&$(#
Saya       : (mencuri dengar) *^#(*)$@#)$#*(!!!!

*Percakapan 2*
Emak A : ini loh aku nelpon si Titit nggak diangkat-angkat dari tadi, coba jeng kamu yang telpon
Emak  B : Ya mungkin Titit lagi di jalan jeng, belum bisa angkat telponnya
Saya       : (Bertanya kepada Ibu) HAH, TITIT?
Ibu         : iya, Namanya Tuti, karena ada dua orang yang namanya Tuti jadi yang satu dipanggil Titit.
Saya       : %@#^%@#&^*@$(@$*)_@%)(_!!!


PS: Don’t judge me

Selasa, Maret 27

Internet

Apa kabar dunia persilatan?

Setelah gonjang-ganjing pemanfaatan data akun facebook secara ilegal, some people might delete their account yet many of world populations still using it and don’t even give a shit about what just happened. Kadang lucu juga melihat fenomena dunia maya ini. Migrasi-tutup-buka akun media sosial dari satu ke yang lain adalah hak setiap nitijen yang terhormat. Seorang sutradara terkenal memutuskan menutup akun twitternya, bikin kepala pecah katanya. Probably reading too many mocks or critics on his new movie? (just guessing, lol). Ada yang mulai jenuh dengan kepalsuan foto-foto Instagram, sehingga memutuskan untuk menutup akunnya dan lebih bergembira ria dengan dunia twitter dengan segala jokesnya. Ah ya, sayangnya Tumblr diblokir, padahal saya udah bela-belain memilih Tumblr dibanding Instagram untuk berbagi foto, tapi ternyata tidak direstui juga, haha. Ada juga pas jaman-jaman blogging pada migrasi dari domain blogspot ke wordpress atau sebaliknya, ya mungkin cuma nyoba-nyoba aja sih. Tapi beberapa orang yang blognya saya baca punya alasan sama, bahwa pas masih di blogspot adalah masa masa labil abg yang mana ingin menjadi dewasa dengan tulisan barunya di wordpress, haha. Beda lagi dengan dunia videografer. Sekarang banyak sekali yang menghasilkan uang dari Youtube. I’m enjoying watching Youtube video dengan berbagai macam jenisnya itu, tapi belakangan jadi banyak iklan (yaiyalah tam kan makin banyak yang cari uang disono). Namun di antara banyaknya Youtuber-Youtuber yang bermunculan dan semakin kaya itu, ada juga loh yang lebih memilih membagikan videonya melalui Facebook ketimbang Youtube. Sila dicek Nas Daily, pasti udah pada pernah nonton kan paling engga salah satu videonya yang nyeritain kehidupan orang selama satu menit dengan tagline “That’s one minute, see you tomorrow”. Ketimbang meng’uang’kan hasil kerja kerasnya di Youtube dia membagikan video-video kerennya setiap hari di Facebook yang tidak menghasilkan uang. Alesannya sederhana, di Youtube orang-orangnya tidak nyata karena kebanyakan tidak pakai nama sebenarnya. Pengguna Facebook mayortitas adalah nyata dan menggunakan nama asli sehingga mas Nas ini bisa berkomunikasi dengan lebih nyata. Lagipula dia tidak menyukai uang hasil iklan yang mana penghasilan utama di Youtube adalah dari iklan tersebut. Wow. Fyi video-video belio yang tersebar di Youtube tentu disebar oleh orang lain yang mengaku-ngaku dirinya. Nah, jadi apa ya haha, intinya cuma pengen cerita aja kalau alasan setiap nitijen ini berbeda-beda dan bagaimana setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menggunakan media social. Termasuk saya dan klean-klean ini.
Jadi, that’s one paragraph, see you tomorrow!

Minggu, Maret 18

Jalanan

Saya mau ngomongin serba-serbi jalanan; lalu lintas; berkendara; dan sejenisnya itu lah. Berhubung udah hamper 8 tahunan berkendara motor jadi ada lah ya yang bias diceritain dikit-dikit, hehe. Tapi sebelumnya Ya Allah jauhkanlah hamba dari menjadi emak-emak yang ngasih sein kanan tapi belok kiri.

Jadi, satu satunya tempat yang selalu bikin saya bisa mengumpat ya di jalanan. Lalu lintas dengan segala maha benar kelakuan penggunanya, juga jenis-jenis jalan yang gak semuanya semulus muka mbak-mbak beauty vlogger yang pakai 10 tahap skincare tiap pagi. Saya antara senang dan merdeka karena bisa sok sok ngumpat tapi nggak ada yang denger dan lihat. Jadi saya bisa tetep terlihat innocent di luar jalanan huehehe. Ohya, termasuk nyanyi sendiri atau kalo lagi sedih dan pengen nangis.

Jadi jenis pengendara yang bikin kesel ada macem-macem, tapi mari kita tidak usah membahas emak sein-kanan-belok-kiri karena udah terlalu basi sering diomongin di mana-mana salah satunya di awal tulisan ini, haha. Nah berhubung saya belum bisa nyetir mobil, jadi konteks tulisan ini saya sebagai pengendara motor aja ya..

- Yang jalan di tengah tapi pelan-pelan.
Hmm, asumsi saya sih pengendara jenis ini baru belajar naik motor. Seringnya ngeliat ibu-ibu, kalo nggak cewek-cewek abg yang pake seragam SMP/SMA. Mereka ini nggak tahu dan nggak mau tahu apa yang sedang terjadi di belakangnya. Mungkin pengendara mobil ya yang jadi susah kalo mau nyalip mesti ikutan jauh ke kanan jaraknya. Kadang kesel sih, tapi rasa keselnya berangsur-angsur berubah jadi kasian, karena kalo mereka baru belajar naik motor jadi merekanya beresiko terjadi apa-apa. Entah kepepet orang nyaliplah, diklakson yang bikin kaget lah, diteriakin lah.

- Yang mau belok kanan tapi melipir ke kiri dulu.
Nah, ini nggak jauh beda dari yang pertama, pasti baru belajar naik motor atau mungkin nggak biasa di jalanan. Kalo mau belok kanan yang motong nyeberang, entah mau mampir ke warung atau masuk gang yang posisinya di kanan, bukannya ancang-ancang melipir kanan sambal nunggu sepi eh malah melipir ke kiri baru nengok ke belakang.

- Yang dikejar target penumpang.
Siapa lagi kalo bukan those A**HOLE BUS DRIVERS!! nah kan ngumpat. Kalo udah ketemu bis jangan macem-macem deh pokoknya, entah itu trans jogja ataupun bis antar kota antar propinsi macem eka-mira. Kalau berkendara di pantura dan merasa tenang-tenang saja karena belakang anda sepi, jangan terkecoh, tiba-tiba mendadak muncul muka si kotak besi yang dari spion yang jaraknya udah deket banget. Baru-baru ini saya ngalamin, saya terlena beberapa detik nggak ngecek spion kan karena jalanan masih wajar, tiba tiba diklakson bis yang jaraknya udah deket banget. Kaget banget untung gak sampe jatuh ya, gimana yang jantungan. Nah biasanya kalo udah gitu sopir bus bakal jengkel banget karena kesalahan saya yang 'ngalangin jalan' gimanapun pasti mereka merasa benar haha. Jadi buru-buru menjauhlah dari bus tersebut. Saya habis kaget langsung ngebut cari sisi aman karena emang lagi agak macet, jadi si bus itu pun percuma nglakson2 saya karena depan saya pun lagi macet! pas udah keluar dari kemacetan dan posisi saya di depan bus itu lalu buru2 mepet samping kiri ceritanya mempersilahkan doi biar nyalip saya. Nyalipnya nggak santaaeeee berasa sengaja dipepet, mungkin masih kesel kali saya ngalangin jalan dia.

- Yang lampu baru ijo tapi langsung bunyiin klakson.
Ingin kuteriak: maburo!

- Yang udah jalan pas lampu belum ijo.
Ini biasanya sih akamsi yang udah apal banget kapan gilirannya lampu merah dan ijo nyala, atau kapan ada celah sepi meski belum gilirannya ijo. Iya sih, cuma kurang 5 detik lagi baru ijo, tapi jadinya saya kaget sendiri dan suka kebawa pengen ikutan ngegas.

- Yang dikit-dikit nglakson
Sering banget kaget karena klakson2 yang entah dibunyikan untuk apa. Beda urusan kalo pas lg viral Om Telolet Om. Cuma sering banget dikagetin sama klakson yang padahal saya nggak ngerasa ngalangin jalan mereka. Atau sayanya aja yang emang nggak ngerasa ya, haha.

- Yang lagi nyari alamat.
Kadang mereka suka berhenti secara mendadak padahal belum ngasih lampu sein. Ya mungkin kalo emang lagi nyari alamat, mbok di awal pelan-pelan aja bisa loh. Kalo yang ini berhak mendapatkan bunyi klakson karena bisa membahayakan pengendara belakangnya yang ikutan berhenti mendadak juga.

- Yang sambil ngerokok.
Keseel banget kalo abu rokoknya terbang-terbang kena ke pengendara belakangnya. Nggak semua orang nutup kaca helm kaaan.

- Yang nggak pake helm tapi ngebut.
Abege-abege yang lagi boncengin pacarnya, udah gitu suara knalpotnya tuh looh, bikin pengang.

Udahan deh, nanti tambahin lagi kalo nemu yang unik-unik di jalanan.

Selasa, Desember 12

Before This Year End

It’s been a very looooong time without posting anything in this page. Since I’ve never been updating my life things anywhere in the internet, (instead of some tumblr pictures, and couple of whatsapp status), (well, I’m not that anti-social right?), probably will write some more words just to fill this blog before this year end. Yasss, 3 more weeks before 2018! I think it’s a non-structural post, I just randomly put all stories and some thoughts that I can write at this year-end.

Oh, what did I do? I left this page on April. Yes, there were moments. Kindly forget some, and lost tons of details but this early year there was a little change in my life habit. I resigned from my office (been 2 years there) and move to another project which require me to move from place to place. I wasn’t totally leave Jogja as I expected when I first joined that project.  But yeah, this government-project thing makes me take lot of flights I’ve never thought it would be this much. So, it took 4 trips in 4-5 months to finish this program and I’m not gonna write the detail of what I was exactly doing. But let me make it short: First trip: Excitement à Second trip: woa, what I’m gonna do, almost 24 hours work every day à 3rd trip: drama drama dramaà 4th trip: finally, kind of happy ending. But yeah, thank you for the experience and the opportunity to explore new places in South Borneo. I think this project still needs more improvement, for the better goals.

So afterwards, I become unemployed again (?). but I feel blessed enjoying my free time while doing couple of things like: attending friend’s wedding (which become midlife’s routine I guess); finding new places to live, and designing it; learning how to drive a car (and I wish ‘kopling’ motorcycle too); hiking Semeru mountain (which my last summit was 4 years ago); being obsessed by some real criminal stories (found this site: www.parkaman.com); streaming movies and YouTube that I couldn’t help but wasting my time on it! It’s interesting to watch ton of youtubers I’ve just known, I knew some names but you know, when you open a page it brings you to another page and page and page and so on.

Well, the internet thing goes really crazy now. I realize that I spend most of my time to see what’s on my phone screen, or laptop. At the end of the day I kind of feel bad for scrolling through social media timeline that much. Why did I waste most of my precious time by seeing some clickbait news, celebrities life, friends achievement (just to make me feel more insecure, lol). But on the next day, still, I’ll repeat it again haha.

In line with this internet things, or technology, I’ll recommend you a great drama series called ‘Black Mirror’. Most of episodes just left me thrill. Each episode is a stand-alone story so no need to start from first episode to understand. The stories are mostly dark and illustrate modern-future day where technology drives human life and how it affects them. The serial has 3 seasons which consists 13 episodes. The 4th season will be aired this December (can’t wait!). I love almost every single episode, probably only 2 which I think has uninteresting story. It worries me how our future will be on the next 10 years maybe? Which one of this ‘black mirror’ technology will be real and also the horrifying side effect.

Let's say that I rely on google maps (despite of the other google features) for looking for places. I even registered as Local Guide. I remember life before google maps. Not so long time ago, I’m not good at memorizing routes. I did it because I get used to the route, so it took more than one trip to memorize the route. Now I got GPS on my hand every time I need it. I admit that google map helps me a lot. Let me hope I don’t lose my instinct of looking around the road without the help of technology. In other hand, I wonder why some people don’t optimize the use of their smartphone as if they have GPS but they don’t know how to use it. You know, like saving or plotting places and stuff. But I understand not all people see it as important thing.

And about Semeru, it was MAGICAL place though the rain never let us feel the warm sun more than an hour per day. The mist which always covered all over the area makes it became more mystical place. I did my summit and it was a hell but worth to see. I never see the famous ‘5cm’ movie before, but Mahameru is not easy place to hike with its slippery sand and unstable rock. Fortunately, it was rainy season so the sand we step on was solid enough and no need to use mask coz the air was clear from dust. Over all, Semeru track is quite easy except the Mahameru. A lot of amazing scenery from Ranu Pani until Kalimati camping ground, it is the combination of lake and sabana. Surprisingly I met a cat at Ranu Kumbolo, perhaps a mountain cat coz he looks so strong (?). The best of the best was the uncrowded situation, very few number of hikers (thanks to the bad weather). There were no more than 20 tents build at Ranu Kumbolo camping ground. Only 3-4 groups which took the summit with us. Here are some pictures: