Rabu, Maret 19

Bukan tentang KKN kok

Awal pekan terakhir di tempat KKN, lebih banyak menganggur karena hampir semua program telah selesai. Ya, menganggur seperti sekarang ini. Saya bisa saja langsung pulang ke Jogja meski toh sama-sama menganggur juga. Tapi saya juga malas ke Jogja. Padahal tingkat pengangguran di jogja akan lebih berkurang dengan banyak hal-hal yang bisa dikerjakan. Tapi saya tetap malas. Tulisan ini juga malas. Saya juga tidak sedang akan mencertiakan mengenai KKN saya di Pengasih yang hampir kelar ini. Oh ya, satu lagi, kemalasan juga hinggap pada pengerjaan praTA saya. Untung dapet dosen yang selow, tenang, saya sudah meminta izin beliau bahwa saya sedang KKN. Jadi tidak perlu dikhawatirkan untuk saat ini. Untuk apa khawatir?
Belakangan, karena efek menganggur di tempat KKN. Oh ya, sebagai catatan, sebetulnya saya tidak menganggur-nganggur amat. Ada proyek bikin peta dan desain taman dusun. Tapi karena malas, saya lebih memilih menganggur sejenak dan berniat mengerjakan nanti di hari-hari menjelang perpisahan. Lanjut, karena efek “menganggur”, saya lebih sering berada di dalam dunia pikiran saya. Saya menemukan kegiatan: flashback peristiwa lampau. Contohnya, saya mencoba mengingat-ngingat kembali apa yang dilakukan ketika ospek fakultas 4 tahun lalu, dimulai hari pertama saya bertemu teman-teman baru sampai berpisah. Setiap detailnya saya mencoba ingat. Lalu saya menjadi bertanya-tanya, sekarang kemana mereka semua dan apa yang dilakukan mereka sekarang? Adakah yang masih berteman dengan baik? Saya jamin tidak akan banyak. Beberapa wajah di ingatan saya juga saya lupakan namanya. Artinya yang tersisa di banyak ingatan ’mantan’ teman-teman saya juga hanya rupa. Oke, tulisannya amat sangat tidak penting bukan?
Lalu saya mencoba mengingat ke zaman yang lebih dulu, waktu saya mengikuti Jambore Nasional 2006 di Jatinangor. Apa yang saya ingat? Tidak terlalu banyak. Sejak hari pertama datang ke bumi perkemahan, berkenalan dengan orang-orang yang lebih ‘liar’. Bagaimana saya ingat seorang anak cantik dari Manado, yang saya lupa namanya. Tapi saya masih ingat mengobrol dengannya, bahwa dia datang ke Jatinangor dengan menggunakan pesawat Hercules. Katanya tidak enak, berisik dan bikin mual. Saya ingat, karena ia cantik. Lalu saya merasa marah karena mendengar omongan para pemuda yang sedang membicarakan keseksian teman Manado saya itu. Pada hari berikutnya saya berpapasan dengannya dalam suatu jalan (berpapasan dengan orang yang dikenal saat jamnas itu sedikit kemungkinannya karena ribuan peserta pasti lalu lalang). “selamat sore..” (sapaku duluan) “oh.. soree..” dari ekspresi menjawabnya, tampaknya ia telah lupa siapa saya. Bertahun-tahun kemudian saya masih mengingatnya, masihkah ia? Dimana ia sekarang? Bagaimana saya bisa ‘kepo’ di facebooknya, namanya saja tidak saya ingat.
Dan pernahkah kamu mencoba mengingat hal pertama kali yang kamu ingat sejak kamu dilahirkan? Saya mungkin mengingat entah itu usia berapa. Saya mencoba meraih gambar tiga lingkaran di sudut atas tv di rumah, dan tangan saya tidak bisa mencapainya, pun meski telah dengan berjinjit. Atau ketika ingatan saya bercampur, saya pernah mengingat sebuah momen dimana saya sedang duduk diapit kedua orang tua saya. Kami sedang duduk di semacam kursi mobil yang berjalan di jalanan yang kanan kirinya rumah tingkat (saya selalu berkeyakinan rumah-rumah tersebut berada di dalam kota tempat tinggal saya). Entah kenapa di setiap beranda lantai 2 rumah tersebut terdapat boneka-boneka bergerak-gerak, tangannya melambai lambai ke arah kami. Orang tua saya dengan bahagianya menunjuk-nunjuk ke arah boneka-boneka tersebut, menyuruh saya turut bahagia melihat ke arah mereka. Saya yakin itu bukan mimpi karena memang pernah mengalaminya. Namun semakin bertambah usia saya semakin bingung mana ada boneka bergerak melambai-lambai di rumah-rumah yang berderet? Mungkin pernah ada karnaval atau semacamnya? Lalu sekitar usia SMP saya baru bisa menyimpulkan sendiri bahwa ingatan saya tentang boneka itu adalah peristiwa ketika saya liburan ke Istana boneka di dunia fantasi Jakarta. LOL.
Baiklah, sekian cerita tidak penting dari saya di penghujung KKN ini. Terimakasih.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ayo sini dikomen dikomeen :)