can't stop reading http://rarasekar.tumblr.com. seriously.
mulai dari baca post nya nuzuli aka. gepeng tentang Banda Neira, lau berlanjut ke penemuan halamannya si duo folk-ers dan lagu cantiknya mereka. Lalu berujung pada penemuan blog salah satu personilnya, mbak rara sekar. Dan begitu terpikat dengan tulisan2nya, sampai-sampai nggak bisa berhenti nge-klik tombol "next" to see another of her post, over and over again.(she has written a lot of fabulous writings). Kebanyakan dia nulis tentang kehidupan sehari-hari, bagaimana dia mengkritisi hal-hal yang simple tapi ternyata banyak dari kita yang lalai buat menyadarinya. Contohnya: perbedaan.
maybe you should have a little peek there too :)
Mungkin saya cuma nemu salah satu dari ratusan mbak-mbak atau mas-mas hebat lainnya yang nulis tulisan bermanfaat. Setidaknya. And wish i could be like them, bikin tulisan 'hebat' juga *ngarep*
lanjut lagi ke 'klik-klik' an ngawur lain, tentunya dari link-link yang pastinya lupa dari mana asal link tsb. Lalu nemu lagi band folk-indie pop lokal Afternoon Talk dari Lampung yg cukup indah pula lagunya. Unyu-unyu kayak Mocca, atau SoKo buat versi luarnya.
*idih gak mau sok ngomongin musik juga*
tapi sekali lagi nih, boleh ya boleh, saya keinget lagu sejenis dikasih tahu temen. Yang berupa musikalisasi beberapa puisi nya Sapardi Djoko Damono oleh pasangan duet 'Dua Ibu'. Salah satu puisi (yg dilaguin) judulnya 'Aku Ingin'. itu loh, yg liriknya 'Aku ingin mencintaimu dengan sederhanaa...'. Temen saya itu udah tahu sejak jaman SMA, terus katanya dulu kalo ngirim surat cinta ya nyomot bait puisinya yg itu. *ceilah*
udah deh sotoy sotoy an tentang musiknya,
what a weird night!
Sabtu, Agustus 11
Selasa, Agustus 7
Cukup Sempurna
Lagi-lagi berniat menulis tentang hidup dan
kerandomannya. Saya hobi banget baca-baca blog orang. Atau lebih tepat dibilang
stalker. Really great stalker nyihihihi *ketawa setan*. Kalo lagi stalking bisa
ampe bermenit-menit mencari segala sesuatu apapun itu, terutama tulisan tentang
orang yang distalker. Paling seneng kalo udah nemu blognya, atau twitter, kalo
facebook sih masih kurang representatif. Bukannya berniat jahat kok, tapi saya
seneng melihat kehidupan seseorang lewat tulisan. Saya bikin blog kan gara-gara
sering baca blog orang, yang sering pula menulis cerita tentang hidupnya.
Beranjak lagi, karakter orang itu banyak
banget. Nget. Dan saya hanya sepersekian titik dari ribuan karakter orang di
muka bumi. Saya bukannya mau mematenkan karakter seorang saya, boro-boro sih,
memahami karakter diri sendiri aja belum becus. Saya hanya ingin menulis
sesuatu. Entah tentang apa ini semua.
Mungkin karena semakin kesini semakin banyak
ketemu macam-macam orang. Flash back kehidupan sebelumnya, yang terpaksa
monoton oleh peraturan. Perempuan lugu ini pun baru melihat kehidupan yang
sebenarnya. Jeng jeeng.. Toh ruang lingkup hidup saya sekarang ini Cuma di
sekitaran Jogja, kampus terutama. Ke Pekalongan sesekali kalo lagi pulang kampung.
So campus life is the real stage for now. Dan cukup representatif untuk
kehidupan remajawan dan remajawati jaman sekarang.
Manusia sewajarnya memilih gaya hidupnya
sendiri. Juga bagaimana kisah-kisah dalam dirinya harus berjalan. Tentu,dengan
pertimbangan berbagai macam faktor yang mempengaruhi. Bagaimana si A bergaul
dengan B karena memiliki kesamaan faktor. Bagaimana si C dan D bisa bertemu karena
faktor tertentu.
And when i saw someone, with her/his perfect
life. Kadang merasa ‘iri’ dengan hidup sempurnanya. Do you feel so? Wajar nggak
sih? Atau saya yang nggak normal nih. Well, i mean, perfect life isn’t just
someone who surrounded by money. Itu bisa jadi salah satunya. Mungkin
orang-orang yang punya keberuntungan lebih yang tidak saya miliki. Dalam hal
apapun itu. Apapun. I won’t mention it, but you’ve got what i mean.
Bukan pula berarti penyesalan. Tidak, saya
berusaha tidak menyesali apapun. Karena pilihan buruk pun bukan untuk disesali.
Setiap manusia itu punya hidup sempurnanya masing-masing. Saya tak luput pula
dari seorang ‘manusia’. Saya sepatutnya senang melihat teman-teman lama yang
kini punya keuntungannya sendiri. Atau teman teman arsitek yang begitu
dilimpahi ke-perfect-an skill nya. Atau orang-orang yang saya kenal punya
keunikan nya masing-masing. Nggak ada yang nggak baik. Kita hanya hidup dalam
frekuensi yang berbeda-beda *apadeh*.
Hidup saya cukup sempurna, meski beasiswa PPA
nya nggak diterima karena IP kurang *sedih*. Cukup sempurna, dengan teman-teman
yang hidup di sekitar saya. Cukup sempurna, dengan makan masakan mama selagi
buka puasa. Cukup sempurna, dengan mukena dan sajadah lima kali sehari. Cukup
sempurna, dengan baju seadanya. Cukup sempurna, dengan menghirup segarnya udara
gunung dan melihat awan dari puncak. Cukup sempurna, dengan secangkir kopi dan
sepiring gorengan di lincak satub serta diiringi nyanyian santai sore hari.
J
Sabtu, Agustus 4
Supernova the series
Jadi jarang nulis nih sedihnya. niatan buat memenuhi target tiap bulannya mem-publish tulisan pun gagal. Nggak tau kenapa akhir-akhir ini ngerasa nggak pede sama tulisan sendiri. yang isinya menurut saya kurang worth-it. Dulu sih fine-fine aja mau nulis hal gak penting, tapi sekarang pengennya lebih selektif.
Dan seringkali 'bakal' tulisan saya beberapa berakhir hanya untuk terkubur di draft. Entah itu cuma setengah jadi -lalu hilang mood melanjutkan. Atau udah jadi tapi nggak sempet dipublish dan akhinya lupa. Padahal banyak cerita-cerita (umumnya bertema traveling) yang nggak sempat terpublish.
Daripada daripada, mending saya nulis something nih tentang serial novel SUPERNOVA
Novel super cool, saya ngikutin dari yang pertama Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh sampe yang baru keluar (keempat) supernova: Partikel. And i'm dying to read the fifth and sixth, tapi mesti sabar karena belum keluar.
Awalnya baca yang seri pertama tuh tahun lalu (2011). padahal novelnya udah terbit tahun 2001. Waktu itu lagi nemenin mbak sepupu ke rental komik dia mau pinjem komik sekalian aja saya pinjem bacaan, dan terpilihlan Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh. Eh kok bagus, pengen pinjem lanjutannya lagi tapi nggak sempet-sempet mampir ke rental itu lagi. Dan karena sedang berpikiran ekonomis -nggak mungkin beli novelnya- (mungkin lagi kere waktu itu) kenapa nggak cari e-book nya aja terus download. Cari-cari di internet ternyata nemu, langsung didownload lah tuh dua seri Supernova: Akar & Supernova: Petir. Belum kebayang aja kalo baca di laptop tuh lebih nggak enak ketimbang baca di buku. Tapi toh saya terhanyut juga sama dua novel ini meski bacanya sambil mantengin laptop berjam-jam.
Terus Dewi Lestari ngerilis lanjutannya tahun ini, Supernova: Partikel. jaraknya jauh banget sama tiga novel sebelumnya, tapi masih nggak menghilangkan esensi kisah supernova (yaiyalah) dan bahkan makin bagus di seri Partikel ini. Kalo yang tiga novel sebelumnya saya nggak bermodal, yang keempat ini saya bela belain beli loh. Harga asli Rp 79.000,00 tapi dapet diskon jadi Rp 63.000,00 mayan lah. Tadinya mau patungan sama temen, tapi karena bener-bener nggak sabar pas mampir Toga Mas langsung nyamber Partikel dan bayar.
ini cover seri terbarunya, lebih simple
Dari empat novel, Partikel yang paling bagus. Suer. Ceritanya sangat 'berbobot'. Ngak menye-menye (?). Sok aja di googling deskripsi singkat ceritanya. Tapi tokoh favorit saya tetep si Elektra Wijaya di Supernova: Petir gimana kisah hidupnya sama si Watti. Kalo yang seri pertama masih terlalu 'maksa'. Jadi repot karena mesti baca footnote buat beberapa istilah asing. Yang kedua (akar) mulai asik karena settingnya ada di beberapa negara ASEAN.
yaudahlah
Salut sama Dewi Lestari, ditunggu aja dua seri lanjutannya..
Dan seringkali 'bakal' tulisan saya beberapa berakhir hanya untuk terkubur di draft. Entah itu cuma setengah jadi -lalu hilang mood melanjutkan. Atau udah jadi tapi nggak sempet dipublish dan akhinya lupa. Padahal banyak cerita-cerita (umumnya bertema traveling) yang nggak sempat terpublish.
Daripada daripada, mending saya nulis something nih tentang serial novel SUPERNOVA
Novel super cool, saya ngikutin dari yang pertama Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh sampe yang baru keluar (keempat) supernova: Partikel. And i'm dying to read the fifth and sixth, tapi mesti sabar karena belum keluar.
Awalnya baca yang seri pertama tuh tahun lalu (2011). padahal novelnya udah terbit tahun 2001. Waktu itu lagi nemenin mbak sepupu ke rental komik dia mau pinjem komik sekalian aja saya pinjem bacaan, dan terpilihlan Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh. Eh kok bagus, pengen pinjem lanjutannya lagi tapi nggak sempet-sempet mampir ke rental itu lagi. Dan karena sedang berpikiran ekonomis -nggak mungkin beli novelnya- (mungkin lagi kere waktu itu) kenapa nggak cari e-book nya aja terus download. Cari-cari di internet ternyata nemu, langsung didownload lah tuh dua seri Supernova: Akar & Supernova: Petir. Belum kebayang aja kalo baca di laptop tuh lebih nggak enak ketimbang baca di buku. Tapi toh saya terhanyut juga sama dua novel ini meski bacanya sambil mantengin laptop berjam-jam.
Terus Dewi Lestari ngerilis lanjutannya tahun ini, Supernova: Partikel. jaraknya jauh banget sama tiga novel sebelumnya, tapi masih nggak menghilangkan esensi kisah supernova (yaiyalah) dan bahkan makin bagus di seri Partikel ini. Kalo yang tiga novel sebelumnya saya nggak bermodal, yang keempat ini saya bela belain beli loh. Harga asli Rp 79.000,00 tapi dapet diskon jadi Rp 63.000,00 mayan lah. Tadinya mau patungan sama temen, tapi karena bener-bener nggak sabar pas mampir Toga Mas langsung nyamber Partikel dan bayar.
ini cover seri terbarunya, lebih simple
Dari empat novel, Partikel yang paling bagus. Suer. Ceritanya sangat 'berbobot'. Ngak menye-menye (?). Sok aja di googling deskripsi singkat ceritanya. Tapi tokoh favorit saya tetep si Elektra Wijaya di Supernova: Petir gimana kisah hidupnya sama si Watti. Kalo yang seri pertama masih terlalu 'maksa'. Jadi repot karena mesti baca footnote buat beberapa istilah asing. Yang kedua (akar) mulai asik karena settingnya ada di beberapa negara ASEAN.
yaudahlah
Salut sama Dewi Lestari, ditunggu aja dua seri lanjutannya..
Sabtu, Juli 28
Kuliah Kerja Arsitektur
Well, kemarin kami Arsitektur UGM 2010 baru aja rampung KKA
alias Kuliah Kerja Arsitektur yang dilaksanain di Thailand. Nggak tau kenapa
jurusan saya ini gaya banget sampe luar negeri segala. Tapi toh emang ini acara
tahunan, jadi emang ada waktunya kita ngerasain gimana keadaan luar buat
membandingkan, yah seenggaknya buat Indonesia lebih baik kenapa enggak. Banyak
pertimbangan-pertimbangan kenapa bisa dipilih Thailand, tapi nggak bakal saya
jabarkan di sini deh. Panjang.
(foto-fotnya nanti ditmabah lagi deh.)
Tema KKA sekarang adalah Architecture
for Saving Life. Intinya arsitektur sebagai sarana ‘penyelamat’ kehidupan.
Contohnya slum upgrading. Gimana
caranya sebuah sistem pembangunan ‘ruang-ruang’ bisa dibentuk dan akhirnya
berguna bagi orang-orang yang membutuhkan. Pokoknya gitu. Bingung juga
kata-katanya hehe. Tapi sejujurnya motifasi utama saya sih pengen ngerasain
hawa-hawa luar itu gimana. Toh saya juga nggak tau kapan lagi bisa keluar kalo
nggak ada acara beginian. Karena sekedar jalan-jalan keluar negeri itu di luar
kemampuan seorang saya.
Total 5 hari kami berkegiatan. 3 hari yang bener-bener full di sana. Karena hari pertama dan
hari terakhir otomatis habis di perjalanan. Tapi lumayan worth it.
Hari pertama, 15 Juli 2012.
Not really special,
karena pantat tepos duduk di pesawat terus. Penerbangan Jogja –Jakarta pukul
08.00 tapi kami siap di bandara dari jam 6. Karena ribet ngurus boarding passlah, bagasilah, kelengkapan
kelompoklah (maklum, yang ikut 93 anak), pembagian ini itu lah. pokoknya
rempong deh liat bocah-bocah banyak ini. Jogja-Jakarta Cuma 50 menit. Di
jakarta yang lama, transitnya sampe 4 jam lebih karena penerbangan
Jakarta-bangkok baru pukul 14.10. Jadilah kita makin ngalay di bandara.
bayangin aja bocah 93 duduk-duduk lesehan, ngobrol, foto-foto, teriak-teriak.
Jadi wajar aja kalo orang-orang yang lewat pasti ngasih lirikan maut. Kalo saya
sih, stay cool aja sambil baca novel.
Jam 14.00 akhirnya terbang juga. Pesawat internasional
ternyata beda sama domestik meski sama-sama kelas ekonomi. Yakali disamain.
Pengennya sih tidur di perjalanan. Tapi ini mata nggak bisa merem meski
dipaksain. Akhirnya Cuma ngutak-ngatik tv-touch (apalah itu namanya), pencet
sana-sini kayak wong ndeso baru liat mainan canggih. Tapi ternyata bisa merem
juga saat menit-menit terakhir mau landing.
Perjalanan JKT-Bangkok makan waktu 3 jam 5 menit.
Welcome Bangkok!
Yang pertama dilihat: Airportnya, sooo modern. Namanya juga
bocah-bocah arsitektur, komentarnya sama aja: wah ini, strukturnya pake baja, terus kaca-kacanya dominasi banget,
gede ya, itu bahan apa sih
langit-langitnya... blah blah dan blah blah lainnya. Habis ngelewatin
imigrasi yang awalnya bikin merinding karena takut dikira TKI *engga kok*, kita
keluar airport dan disambut dua mbak-mbak pake baju macem kemben sama mas mas
fotografer. Foto! Foto! Katanya, saya
bingung aja baru jejek keluar mbak-mbaknya ngalungin kembang-kembang ke tiap
bocah sambil nyuruh liat kamera. Wah, bisa pegel atuh mbak ngalungin 93 anak.
Ternyata itu sambutan awal buat kita, so sweet :3
Kita dibagi tiga kelompok/bis dan dengan guide lokal tiap kelompoknya. Eh ternyata guide lokalnya lancar banget bahasa indonesianya, meski ada logat-logat anehnya sih. Saya kebagian guide Om Arun namanya, beliau orang asli Thailand dan pernah ke Jogja katanya. Dia kalo bilang ‘Jakarta’ jadi ‘Jakatar’. Kadang kalo ngasih joke rada garing *ampun om*
Kita dibagi tiga kelompok/bis dan dengan guide lokal tiap kelompoknya. Eh ternyata guide lokalnya lancar banget bahasa indonesianya, meski ada logat-logat anehnya sih. Saya kebagian guide Om Arun namanya, beliau orang asli Thailand dan pernah ke Jogja katanya. Dia kalo bilang ‘Jakarta’ jadi ‘Jakatar’. Kadang kalo ngasih joke rada garing *ampun om*
Karena kita nyampe udah sore menjelang maghrib gitu langsung
menuju restauran. Kata om arun ini tempat makan gede banget, pelayannya aja
sampe pada pake sepatu roda. Ohyah, nggak ada perbedaan waktu antara Bangkok
dan Jakarta, sama-sama WIB. Tapi meski udah jam 7 malem masih terang
sodara-sodara. Balik lagi ke tempat makan, emang gede banget ternyata. Spot
kita pas di depan panggung pertunjukan tari gitu. Panggungnya ada di tengah
semacam kolam. pas kita dateng ada dua mbak-mbak lagi nari, lucu deh. Rasa
makanannya masih wajar lah di lidah kita. Pas mau selesai, tiba-tiba Wuuush.. ada mas mas gaya pendekar gitu
terbang meluncur dari sisi kanan kami ke arah kiri. Semacam flying fox-an. Tapi dengan dandanan rambut panjang dikuncir dan gaya terbang
sambil bawa nampan ada api-apinya gitu. Kaget deh, ngeliatnya justru pengen
ketawa. Hmpf.
Kita langsung ke hotel. Ternyata di depan hotel udah ada
spanduk “welcome to Bangkok, Thailand.
Department of Architechture, Gadjah Mada University Jogjakarta 15-19th July
2012” (ada dua kata yang salah penulisannya :p). Di hotel bocah-bocah pada
mencar, ada yang langsung jalan kemanaa gitu, ada yang tidur, ada yang Cuma
duduk-duduk di lobby. Ternyata sepanjang jalan banyak banget “Seven-Eleven”
mini market. Ya kayak indomaret gitu, tiap inchi jalan ada aja. Tapi katanya Sev-el
ini membantu banget buat turis-turis yang dateng. Karena kebanyakan orang
Thailand sendiri susah berbahasa Inggris. Jadi jika anda lapar, butuh sesuatu,
dan bingung mau cari dimana? Datang aja ke Seven-Eleven, dijamin lengkap.
Hari Kedua 16 Juli 2012
Our Activities start today! Firs destination: visiting
Chulalongkorn University. Of course we’re heading to Architecture Departement.
Kampus ini katanya yang paling tua. Cukup terkenal. Dan semua mahasiswa-siswi
wajib pake seragam. Seragamnya simple, yang cewek rok hitam kemeja putih, yang
cowok celana panjang hitam kemeja putih. Kalo di bayangan kami: seragam ospek.
Seneng deh ngelihat wajah-wajah mereka, mbak-mbaknya cantik-cantik, mas-masnya
juga ganteng-ganteng.
Kita lecturing sama profesor dari sana, temanya permasalahan
global. Menurut saya agak kurang nyambung sama tema KKA. Tapi ya tetep berguna
sih, masa enggak. Habis itu jalan-jalan keliling kampus. Dan kita *mungkin*
seperti segerombolan weirdo bagi mahasiswa sana. Tapi biasalah, muka batu, tetep
pada foto-foto dimanapun dan kapanpun.
Sorenya jalan-jalan di Siam. Ini spot banyak banget Mall
nya. Ada yang mirip mangga dua kalo di Jakarta, namanya MBK. Pas masuk beneran
rame. Segala macam jenis turis ada di sana. Jadi nggak bakal dianggap aneh
karena memang semua orang aneh disitu haha. Nggak berniat nyari apa-apa juga
sih. Toh mall ada juga di Indonesia. Cuma iseng ngeliatin keadaan sekitar aja.
Gimana ramenya Bangkok. Ada juga Madame
Tussauds, itu loh yang patung lilin orang-orang terkenal mirip banget sama
aslinya. Ada di lantai paling atas Mall Siam
Discovery. Katanya sih di Asia Cuma ada di Thailand sama Hongkong. Bayarnya
600 Baht (1 Baht = 315 rupiah) itung sendiri jadi berapa. Banyak yang kesana,
tapi saya masih mikir-mikir saving money buat
hari berikutnya. Maklum, nggak bawa duit banyak.
Hari Ketiga, 17 Juli 2012
Keluar kota, Ke Arsom Silp Institute. Ini semacam sekolahan
buat TK sampe SMA. Jadi luaaas banget. Yang kita ambil sih pemakaian material
alam (kayu) pada bangunan-bangunannya. Jadi kalo ngelihat sekolah ini kayak
sekolah alam. Soo nature. Ruang-ruang nya terpisah-pisah. Rimbun sama
pepohonan. Adem. Bahkan ada danau kecil di bagian tengahnya. Kita disambut
hangat. Ada sesi lecturing lagi. kali ini ngebahas tentang Arsom Silp, juga proyek-proyek
yang udah berhasil dari studionya. Salah satu yang menarik perhatian adalah
slum upgradingnya. Dijelasin dari awal membangun sampe akhirnya behasil bikin
pemukiman asri pengganti kawasan kumuh. Uniknya pas break kita dikasih snack buah manggis sama minuman sari buah. Enak
:9. Pas waktunya anak sekolahan pulang ternyata ada ‘pasar’ dadakan yang jualan
sayuran, jajanan pasar (mirip lho sama di Indo), puding, buah, dsb.
Habis dari Arsom sore-sore langsung makan malam di sebuah
restauran gaya-gaya arab. Tapi sebelahan sama gedungnya ‘bencong-show’ kata om
arun. Dan pas kesana emang ada bencong seliweran di gedung itu. Makan malam
kali ini yang rasanya paling nggak jelas. Rata-rata masakan Thailand itu asyem.
Rasa-rasa tom-yam gitulah. Ada
sesuatu di bumbunya yang bikin asem. Walhasil nggak doyan, Cuma makan dikit.
Baru pukul 18.30 di restauran ini ada pertunjukan tari daerah. Ternyata
mirip-mirip ramayana kalo di
Prambanan, ada kisah kisahnya.
Pulang ke hotel, acara bebas. Muter-muter jalanan depan hotel.
Mirip jalan solo, banyak spot-spot turis, toko-toko, mall. Ohya di setiap
jalanan pasti ada sudut-sudut yang buat ibadah. Ada patung Buddha, banyak yang
jual kembang juga. Nggak heran kalo orang-orang yang lewat, atau habis belanja
nyempetin berdo’a sejenak.
Hari keempat, 18 Juli 2012
Berkunjung ke Community Organization Development Institute
(CODI). Diskusi tentang gimana mengurusi sebuah komunitas yang bergerak di
bidang pembangunan. Lagi-lagi contohnya slum upgrading, intinya sih CODI ini
membantu warga untuk membentuk sebuah komunitas yang saling bergotong royong
menyelesaikan proyek perbaikan wilayah kumuh. Sesi ini ternyata nggak cuman
diikuti kita-kita mhasiswa indo. Ternyata ada beberapa orang Vietnam, dan satu
orang dari Kambodja.
Karena hari terakhir berkegiatan sepulangnya dari CODI kita
jalan-jalan ke Chaop Phraya River.
Naik kapal nelusurin sungai. Di tengah jalan berhenti ke Wat Arun Temple. Candinya bagus, ornamen-ornamen dindingnya disusun
dari pecahan keramik warna-warni. Meriah. Di situ ada toko-toko souvenir yang
ternyata pedagangnya bisa bahasa Indonesia, bahkan bayar pake rupiah pun mereka
mau. Langsunglah pada ngeborong. Nawar. Riweuh banget karena orangnya banyak.
Sorenya, beberapa anak (hampir satu bis) diturunin di sekitaran MBK karena mereka mau beli jersey bola. Katanya sih di daerah situ ada toko yang jual jersey KW tapi mendekati asli. Kebanyakan para lelaki tuh, yang cewek paling beliin buat cowoknya, temennya, ato sodaranya. Because i'm not that kind of very-big-soccer-club-fans jadi nggak ikutan beli. Kalo yang mau cari, ada di deket National Stadium, harganya 250 Baht-an. bisa tawar menawar. Emang pas liat barangnya, bagus banget. Sablonannya aluuus, dan tebal. baru liat ada sablonan begituan haha.
Malemnya saya berencana ke sebuah Night Market bernama Pat Pong. Menurut anak-anak yang udah kesana
katanya serem. Tapi saya penasaran banget, pengen lihat jajanan-jajanan aneh
macem kecoak, kalajengking, ulet, yang sering disiarin di TV itu looh. Kesana
naik kereta BTS. Lumayan Cuma 20 Baht. Ngelewatin 2 stasiun baru turun dan
lanjut jalan kaki sebentar. Dagangannya bervariasi kayak malioboro gitu
deh. Tapi oh tapi ini lebih dari sekedar
gorengan serangga. Dan sama temen saya dilihatin semacam red distric areanya. Katanya sih lebih dari sarkem atau dolly kalo
di Indonesia. Saya yang polos ini Cuma sekedar lewat aja sih, mau moto juga
takut.
Hari Terakhir 19 Juli 2012
Pulang.
(foto-fotnya nanti ditmabah lagi deh.)
Senin, April 9
useless
Saya seringkali tiba pada suatu pemikiran: saya tidak berguna
In some case, you know. Kenapa saya tidak sepintar orang-orang, kenapa saya tidak seberani mereka, kenapa saya tidak se-ini dan se-itu yang lainnya. Saya tahu setiap orang pasti punya porsinya. Keunggulannya. Kecanggihannya. Tapi tetep aja dalam kondisi tertentu, saya tidak merasa memberi manfaat apapun terhadap apapun. Masa bodoh orang bilang kamu jago ini kok, kamu hebat di situ kok. ya saya tau itu. biarlah saya berpikir i’m useless sejenak. Terkadang orang butuh merasa jatuh untuk bisa bangkit.
Jumat, Maret 2
Nano nano
Written at Wednesday, 29 February 2012
I’ve just came back from gramedia, menemani mbak monges who looked for a new novel but unfortunately it hasn’t been sold. So i read a book about aya kito (i’m not sure i write her name correctly). Oke sebenarnya saya ingin menulis segala tulisan yang bisa saya buat dalam bahasa inggris. But sometimes some words (because of my low ability in english) can not exspressed what i feel that time. So mungkin bakal setengah-setengah nulisnya.
Betapa tulisan bisa mempengaruhi dunia. Seorang aya, yang mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan manfaat bahkan bagi orang-orang dengan jumlah yang tak pernah ia bayangkan sendiri. termasuk saya. Di gramed, saya menyempatan membaca buku ‘Last letter’ (atau apa ya tadi judulnya?) yang jelas itu mengenai surat-surat aya yang ditujukan kepada tiga orang sahabatnya.
Surat menyurat. Saya mendapatkan kesan tersendiri dengan membaca surat-surat tersebut. Banyak kesan yang ditimbulkan dengan komunikasi melalui tulisan. Kamu hanya bisa mendapatkan informasi dengan membaca, tanpa melihat maupun mendengar. Tapi itu sangat menakjubkan. Aya begitu senang mendapat surat balasan dari sahabat-sahabatnya, di tengah keadaannya yang kian hari kian memburuk. Dengan mendengar cerita sahabatnya mengenai kabar sekolah lewat tulisan, ia menanggapi dengan bahagia setiap kata yang dibaca meski hanya dengan membayangkan.
Sekarang teknologi begitu canggih, berkomunikasi sangat mudah dilakukan. Tanpa harus menunggu lama, orang pun mampu bertatap muka langsung meski dengan jarak yang saling berjauhan. Karena begitu mudah pula, tak ada ‘kesan’ menyenangkan yang didapat, itu menurutku. Apakah orang yang mendapat kabar dengan bertatap muka melalui webcam akan sebahagia orang yang hanya menerima surat, sebulan sekali? Apakah kesenangan itu memang akan berkurang seiring waktu yang bergeser? Teknologi yang bertambah?
*tiba-tiba ganti topik*
Tadi ada konser tiga artis: kotak, ari laso, citra skolastika. In case of celebrating engineering faculty’s birthday, there were some events held on my faculty. one of the events was inauguration our new library. And because of this pembangunan was sponsored by ‘ciggaret’ company who claim as Djarum education foundation, acara ini mendatangkan beberapa band for music performed. Pertunjukan that ‘good’ enough for engineering faculty because we’ve never got this before. Apalagi ini gratis dan held in front of engineering faculty headquarter office or we called it KPFT. KPFT where i through it every day. Where my friends and i come together for a serious meeting. Where i have a agama class.
But from those 3 bands, i watched nothing. Sama sekali. Padahal KPFT itu deket sedeket alis sama ujung hidung. Tinggal nongol sedikit. Tapi saya melewatkan ketiganya. I know i’m not big fan of those 3 bands. (Atau saya agak lebay karena nggak pernah liat konser).But if there is a free concert held on your faculty, and not much people come, and it was a damn close from my campus, and it was FREE, and you just let your feet melangkah sebentar just for seeing them. Who want to let it go?
Itu semua karena studio, Yang entah kenapa hari ini serasa spot jantung ketika pak ika datang. Dan kami sekelompok tidak ada yang benar-benar selesai mengerjakan tugas. But luckily beliau tidak mengecek satu persatu anak yang telah mengerjakan tugasnya. *lega*
Pak ika baru datang sekitar jam 3 sore. Padahal konsernya dimulai jam setengah empat. Andaipun pak ika datang lebih awal, pasti beliau akan meninggalkan kami lebih awal pula. But he did not. Beliau menyelesaikan asistensinya hingga betul-betul tepat jam 5. Dimana ketiga band telah selesai beraksi.
Jadi apalah mau dikata, pas ketemu fani, yana, salma who were walking into KPFT i said to them that the concert was over. “boteeek?” fani said. But that’s true fani, we’re not so lucky today. Jurusan kita tidak terlalu peduli dengan acara ini haha.
Finally i only could see the empty stage, and few people walked out from KPFT.
*wow baru sadar udah ngetik cukup banyak *
I’ts okay then, tadi sepanjang perjalanan dari gramedia ke kosan saya memikirkan banyak hal untuk akhirnya ditulis di sini. Tapi ini masih banyak yang ingin saya tulis. Yang mungkin pada akhirnya akan berujung kemalasan melanjutkan, seperti tulisan-tulisan sebelumnya.
Saya sbetulnya ingin menulis tentang hal lain. Random.
Mengapa saya naik gunung?
Kalo kata soe hok gie, “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
Kata saya, naik gunung itu hal yang keren, awalnya.
Tapi ternyata tidak sekedar keren. Saya menyesal karena hanya memilih alasan ‘keren’. Saya kira bener kata mas anton, humanity is not achievement, but humanity is a habit.
Kalo naik gunung hanya sekali dua kali, tidak akan merasakan makna yang lebih indah. Naik gunung akan semakin dekat dengan alam (alasan klise). Naik gunung akan melatihmu bertahan hidup.menyadari bahwa saya tidak memiliki apa-apa. Sederhana. (entah kenapa ingat Yu Sing)
Sederhana karena saya hanya perlu membawa hal-hal penting. Membawa bekal secukupnya. Dan punya kesempatan merenungkan segalanya dengan free. Tanpa ada teknologi, lalu lintas ramai, debu-debu jalan. Tanpa memikirkan ke’matchingan’ baju yang dipakai.
Yang terpenting, saya bisa mengamati manusia dengan lebih peka. Tersenyum ketika berpas-pasan dengan warga lokal. Yang selalu mereka balas dengan senyuman pula. Tidak ada orang jutek. Tidak ada mata tajam yang memandang ‘rendah’ saya, dan saya tidak akan pernah memandang mereka ‘rendah’.
Mungkin saya agak sok-sok an karena baru tiga kali naik gunung. Lebih tepatnya saya akan malu jika ada orang satub yang benar-benar membaca ini (saya harap tidak). Karena mereka pasti lebih berpengalaman dalam hal gunung-gunungan.
agaknya tulisan yang aneh untuk malam ini.
I’ve just came back from gramedia, menemani mbak monges who looked for a new novel but unfortunately it hasn’t been sold. So i read a book about aya kito (i’m not sure i write her name correctly). Oke sebenarnya saya ingin menulis segala tulisan yang bisa saya buat dalam bahasa inggris. But sometimes some words (because of my low ability in english) can not exspressed what i feel that time. So mungkin bakal setengah-setengah nulisnya.
Betapa tulisan bisa mempengaruhi dunia. Seorang aya, yang mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan manfaat bahkan bagi orang-orang dengan jumlah yang tak pernah ia bayangkan sendiri. termasuk saya. Di gramed, saya menyempatan membaca buku ‘Last letter’ (atau apa ya tadi judulnya?) yang jelas itu mengenai surat-surat aya yang ditujukan kepada tiga orang sahabatnya.
Surat menyurat. Saya mendapatkan kesan tersendiri dengan membaca surat-surat tersebut. Banyak kesan yang ditimbulkan dengan komunikasi melalui tulisan. Kamu hanya bisa mendapatkan informasi dengan membaca, tanpa melihat maupun mendengar. Tapi itu sangat menakjubkan. Aya begitu senang mendapat surat balasan dari sahabat-sahabatnya, di tengah keadaannya yang kian hari kian memburuk. Dengan mendengar cerita sahabatnya mengenai kabar sekolah lewat tulisan, ia menanggapi dengan bahagia setiap kata yang dibaca meski hanya dengan membayangkan.
Sekarang teknologi begitu canggih, berkomunikasi sangat mudah dilakukan. Tanpa harus menunggu lama, orang pun mampu bertatap muka langsung meski dengan jarak yang saling berjauhan. Karena begitu mudah pula, tak ada ‘kesan’ menyenangkan yang didapat, itu menurutku. Apakah orang yang mendapat kabar dengan bertatap muka melalui webcam akan sebahagia orang yang hanya menerima surat, sebulan sekali? Apakah kesenangan itu memang akan berkurang seiring waktu yang bergeser? Teknologi yang bertambah?
*tiba-tiba ganti topik*
Tadi ada konser tiga artis: kotak, ari laso, citra skolastika. In case of celebrating engineering faculty’s birthday, there were some events held on my faculty. one of the events was inauguration our new library. And because of this pembangunan was sponsored by ‘ciggaret’ company who claim as Djarum education foundation, acara ini mendatangkan beberapa band for music performed. Pertunjukan that ‘good’ enough for engineering faculty because we’ve never got this before. Apalagi ini gratis dan held in front of engineering faculty headquarter office or we called it KPFT. KPFT where i through it every day. Where my friends and i come together for a serious meeting. Where i have a agama class.
But from those 3 bands, i watched nothing. Sama sekali. Padahal KPFT itu deket sedeket alis sama ujung hidung. Tinggal nongol sedikit. Tapi saya melewatkan ketiganya. I know i’m not big fan of those 3 bands. (Atau saya agak lebay karena nggak pernah liat konser).But if there is a free concert held on your faculty, and not much people come, and it was a damn close from my campus, and it was FREE, and you just let your feet melangkah sebentar just for seeing them. Who want to let it go?
Itu semua karena studio, Yang entah kenapa hari ini serasa spot jantung ketika pak ika datang. Dan kami sekelompok tidak ada yang benar-benar selesai mengerjakan tugas. But luckily beliau tidak mengecek satu persatu anak yang telah mengerjakan tugasnya. *lega*
Pak ika baru datang sekitar jam 3 sore. Padahal konsernya dimulai jam setengah empat. Andaipun pak ika datang lebih awal, pasti beliau akan meninggalkan kami lebih awal pula. But he did not. Beliau menyelesaikan asistensinya hingga betul-betul tepat jam 5. Dimana ketiga band telah selesai beraksi.
Jadi apalah mau dikata, pas ketemu fani, yana, salma who were walking into KPFT i said to them that the concert was over. “boteeek?” fani said. But that’s true fani, we’re not so lucky today. Jurusan kita tidak terlalu peduli dengan acara ini haha.
Finally i only could see the empty stage, and few people walked out from KPFT.
*wow baru sadar udah ngetik cukup banyak *
I’ts okay then, tadi sepanjang perjalanan dari gramedia ke kosan saya memikirkan banyak hal untuk akhirnya ditulis di sini. Tapi ini masih banyak yang ingin saya tulis. Yang mungkin pada akhirnya akan berujung kemalasan melanjutkan, seperti tulisan-tulisan sebelumnya.
Saya sbetulnya ingin menulis tentang hal lain. Random.
Mengapa saya naik gunung?
Kalo kata soe hok gie, “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
Kata saya, naik gunung itu hal yang keren, awalnya.
Tapi ternyata tidak sekedar keren. Saya menyesal karena hanya memilih alasan ‘keren’. Saya kira bener kata mas anton, humanity is not achievement, but humanity is a habit.
Kalo naik gunung hanya sekali dua kali, tidak akan merasakan makna yang lebih indah. Naik gunung akan semakin dekat dengan alam (alasan klise). Naik gunung akan melatihmu bertahan hidup.menyadari bahwa saya tidak memiliki apa-apa. Sederhana. (entah kenapa ingat Yu Sing)
Sederhana karena saya hanya perlu membawa hal-hal penting. Membawa bekal secukupnya. Dan punya kesempatan merenungkan segalanya dengan free. Tanpa ada teknologi, lalu lintas ramai, debu-debu jalan. Tanpa memikirkan ke’matchingan’ baju yang dipakai.
Yang terpenting, saya bisa mengamati manusia dengan lebih peka. Tersenyum ketika berpas-pasan dengan warga lokal. Yang selalu mereka balas dengan senyuman pula. Tidak ada orang jutek. Tidak ada mata tajam yang memandang ‘rendah’ saya, dan saya tidak akan pernah memandang mereka ‘rendah’.
Mungkin saya agak sok-sok an karena baru tiga kali naik gunung. Lebih tepatnya saya akan malu jika ada orang satub yang benar-benar membaca ini (saya harap tidak). Karena mereka pasti lebih berpengalaman dalam hal gunung-gunungan.
agaknya tulisan yang aneh untuk malam ini.
Sabtu, Februari 18
jejaring sosial, eh (?)
Harusnya saya nulis sesuatu yang lebih berguna ketimbang kata kata aneh yang lebih tepat ditulis di twitter, ato facebook. oh tidak tidak, saya entah kenapa justru lebih enggan membuat dua account saya lebih berwarna. Di saat semua orang -mayoritas ding- telah menghabiskan belasan ribu tweets nya untuk berceloteh ria. Saya sampai saat ini pun belum mencapai angka 200 tweets. Bangga? enggak. Malu? ngapain amat. Dan kian saya mengingat pertama kalinya membuat account twitter tiga tahun lalu, kian saya merasa ketika itu hanya mengikuti arus pemuda pemudi yang mulai hidup di zaman internet. Saya menyebut ini fenomena.Dan setiap orang tidak harus masuk dalam fenomena itu bukan? Toh saya juga masih meng-update-nya, dalam intensitas waktu yang lebih lama dari rata-rata anak muda Indonesia, apalagi dunia. Dengan kata lain, parameter ke-update-an saya dalam dunia per-twitter-an berada di bawah rata-rata. Dengan kata lain lagi, saya ketinggalan jaman (?)
Faktanya, dunia jejaring sosial menjadikan seseorang lebih terbuka akan hal-hal pribadinya. Segala keluh kesah bisa dengan mudah diungkapkan dan diketahui banyak orang. Meski itu cuma sekedar duh, capek nih, atau gue ngantuk dan celotehan-celotehan ringan lainnya. Saya lebih cenderung mengamati ketika sedang log in. Jujur saja terkadang merasa njuk ngopo? ketika melihat beberapa komentar yang ehm, tidak penting. Tapi itulah fenomena, takdir, dan tidak ada yang salah memang. Dan karena jejaring sosial itu pulalah segala macam hal bisa dibagi dengan semua orang. Manfaatnya juga banyak. Tidak saya pungkiri.
No offense yah everyone!
Faktanya, dunia jejaring sosial menjadikan seseorang lebih terbuka akan hal-hal pribadinya. Segala keluh kesah bisa dengan mudah diungkapkan dan diketahui banyak orang. Meski itu cuma sekedar duh, capek nih, atau gue ngantuk dan celotehan-celotehan ringan lainnya. Saya lebih cenderung mengamati ketika sedang log in. Jujur saja terkadang merasa njuk ngopo? ketika melihat beberapa komentar yang ehm, tidak penting. Tapi itulah fenomena, takdir, dan tidak ada yang salah memang. Dan karena jejaring sosial itu pulalah segala macam hal bisa dibagi dengan semua orang. Manfaatnya juga banyak. Tidak saya pungkiri.
No offense yah everyone!
Langganan:
Postingan (Atom)