Jumat, Maret 22

berduka


                Saya masih dirundung duka atas musibah yang menimpa ketiga rekan kami di dunia caving. Dari ketiga rekan itu, salah satunya saya mengenalnya, Dian, dari Matalabiogama Faklutas Biologi UGM. Mereka sedang mengikuti acara nasional Kursus Dasar dan Kursus Lanjutan (KDKL) Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (Hikespi) 2013. Acara yang sama yang saya ikuti tahun lalu.
                Saya merasa bersimpati dari semua hal yang terlibat. Keluarga korban, juga panitia yang menyelenggarakan. Karena saya pun turut menjadi simpatisan panitia karena status saya sebagai alumni KDKL tahun lalu. Rasanya baru kemarin hari sabtu minggu saya menjenguk ke Jomblang, Gunung Kidul dengan niat bantu-bantu, meski lebih sering gabut dan guling-guling saja di pendopo. Tapi setidaknya turut menceriakan suasana, dengan guyon-guyon ala manusia-manusia itu ber haha hihi. Rasanya semuanya masih berjalan normal ketika akhirnya saya dapat kabar pada hari selasa malam akan musibah yang menimpa mereka. Saya yang saat itu sudah kembali lagi ke Jogja, tepatnya di sekret ASC (Acintyacunyata Speleological Club) tengah mempersiapkan alat untuk latihan pada esok harinya. Tiba-tiba suasana berubah tegang karena kabar tersebut. Mendadak sekret rame karena ASC diminta potensi rescue nya oleh SARDA. Saya yang cuma anak baru di situ hanya turut membantu mempersiapkan alat rescue dan juga berdoa yang terbaik bagi rekan-rekan di Jomblang. Karena saat itu berita yang masuk masih tidak jelas, apakah hanya kecelakaan kecil atau bagaimana. Saya tidak berharap yang terburuk akan terjadi, toh mereka teman-teman saya juga.
                Pada akhirnya berita mengenai 3 orang meninggal pun dikonfirmasi kebenarannya pada sekitar pukul 2 dini hari. Sedikit lemas, karena mengenal salah seorang korban. Dan sedikit tidak percaya karena saya cukup dekat dengan dunia ini. Musibah yang cukup fatal :’(
                Untuk kronologi kejadian saya tidak berani menceritakannya karena saya sendiri hanya mendengar berita simpang siur. Yang jelas 3 rekan itu meninggal karena terguyur air bah yang masuk ke dalam gua. Air hujan yang menjadi bah itu menyebabkan mereka kesulitan bernafas dan lemas karena tidak kuat menahan tekanan ‘air terjun’ yang menimpa mereka. Hingga kini saya pun masih menunggu berita kronologi pasti dari teman-teman panitia.
                Kegiatan petualangan memang beresiko. Namun jadi tampak terlalu ‘besar’ dan ‘buruk’ karena media yang berlebihan dalam memberitakannya. Padahal tak sedikit pula orang mengalami musibah kecelakaan di jalan raya, dan orang masih tidak merasa takut dalam mengendarai motor di jalan raya.
                Peristiwa ini merupakan pembelajaran pribadi bagi saya. Dalam berkegiatan tidak seharusnya menyepelekan berbagai macam faktor. Harus lebih berhati-hati, dan Tuhan bersama orang-orang yang berani.

Yang berduka,
T.

Jumat, Januari 4

HA


hi there! i would like to talk a little about my newbie trip: going to Slamet mountain with dad :D

i didn't guess at first while dad ask me to go to Slamet with him. i thought it was just a 'fun' trip to the 'foot' of mountain,  get on together with friends of my dad. Yes, it was kind of a reunion event for dad and his 'mapala' friends at his young life. Then i asked 'is there anyone who want to take summit? or just party event for daddies-club beneath the mountain, cheated up about their old memories'. 'of course, there are some who want to take summit and i'm one of them' he said, 'okay, i'm going with you dad'(excitedly)

Then the journey begin. dad and i, with 9 others (4 above 50th years old and the rest still on my age). So it was like trip for 2 generations, for daddies and their sons, and daughter (wich was only me who became a daughter).
it's beyond my expectation that my dad still has his strength while his age turn 52th. I predicted it wouldn't work that maybe we couldn't get the summit, or we only reach half of mountain height. Sorry for underestimating you dad haha, but not, you're stronger than i expected. You're still as strong as 20 y old boy.
But, unfortunately, we didn't get the summit. Because almost of member group were too weak. And the top had been misty already. But it doesn't matter. Slamet mountain has around 3.400 meters high above the sea, and we had reached 3.200. So it was still 200 meters before the summit!. i was statisfied enough to reach this height with my lovely dad. It feels like one of my-50 things to do before i die- has already done. haha.
you're the best dad!

by the way Slamet Mountain is wonderful! harus kesana lagi :D


what are you looking for, dad?

edelweis tapi ga berbunga




ilalang dan cemara. LIKE BANGET


Jumat, Desember 14

Misi Kepercayaan

Haloo apa kabar? saya melewatkan bulan November :(
Tak apalah, Desember belum lama berjarak, dan izinkan saya menyampah lagi di tengah-tengah garapan City Hotel saya. Gara-gara Pak Jo*et mau nikahan tanggal 21, jadi kelompok saya mesti ngumpul gambar tanggal 18 :((. Padahal yang lain masih jauuuh tanggal 8 Januari nanti. Kalo nggak kiamat kali ya haha.

Tapi masalahnya mau nyampah apaan?

*krik*

Di depan saya anak-anak lagi ngerjain sayembara Futurarc. Lalu saya bertanya (pada diri saya)? kapan bakal ikut sayembara? payah nih, gapernah nyoba hingga detik ini pun. Kenapa ya, mungkin gapernah sempet, atau saya yang terlalu malas, atau yang lain-lainnya. Tapi masih ada niat kok semoga -,- nunggu saya selow aja sih.

Sotoy-sotoy-anku: Arsitek itu mestinya bisa menguasai berbagai macam bahasa. Nggak cuma bahasa arsitek tok. Dia mungkin boleh berkoar-koar tentang konsepnya, keunggulannya, kecanggihannya, kefilosofiannya, ketransformasinya. Kadang mahasiswa seringkali terjebak dalam hal itu (subyek nyata: saya). Dan yang diubek-ubek ya ituu aja. Keindahan fisik itu sangat penting memang. Selama dosen melihat apiknya gambar kita, sedapnya poster presentasi kita, itu dianggap cukup. Bisa diartikan mahasiswa itu hanya mengejar nilai saja.
mungkin masih bisa ditolerir jika hanya dalam tingkat tugas kuliah. Coba kalau proyek nyata. (saya agak bingung ini mengarah kemana haha). mungkin jadinya adalah segala yang serba fungsional.

Kemarin waktu kuliah Arsitektur Vernakular, Pak Pradip cerita tentang bergesernya nilai-nilai kepercayaan manusia jaman sekarang. Tentang makrokosmos dan mikrokosmos. Di Jogja, ada suatu nilai tentang gunung dan laut. dimana antara gunung dan laut adalah sebuah garis orientasi bagi masyarakat. Gunung dan laut adalah utara dan selatan. Lalu diantaranya ada sebuah keraton tempat sultan bertahta. Makannya orientasi keraton adalah utara-selatan, ada alun-alun lor dan alun-alun kidul. Di gununglah tempat bersemayam 'Dewa', dan di laut ada sebuah kerajaan besar yang dikuasai Nyi Roro Kidul. Pada titik tengah keduanya berdirilah pihak 'netral', yang menghubungkan gunung dan laut, yakni keraton. Pun muncullah berbagai macam 'ritual' yang berhubungan dengan ketiganya. Dan keraton masih melestarikannya hingga kini.

Berbicara mengenai Keraton berbicara pula tentang Sri Sultan. Awalnya saya gak tahu menahu tentang kisah kesultanan Jogja ini, dan diantara semua sultan, yang paling saya sering denger kisah-kisah 'kehebatannya' adalah Sultan HB ke-IX. Mungkin Sultan IX betul-betul luar biasa pada jamannya, coba saja search sendiri infonya. Mungkin saya juga takjub karena mendengar kisahnya dari orang yang pernah 'bertemu' dengan Sri Sultan sendiri.

*boleh dong ya cerita dikit*

Suatu ketika saya pergi caving ke daerah Purworejo, bagian perbatasan Jogja. Gua Seplawan namanya, bagi warga sekitar gua tersebut tidaklah asing karena memang telah dijadikan obyek wisata. Kami singgah di sebuah basecamp yang tak asing pula bagi mapala-mapala yang sering bermain ke Purworejo. Basecamp tersebut adalah rumah seorang pria paruh baya yang akrab kami panggil 'Mbah Cokro'. Rumah sederhana dengan dinding gedek dan lantai tanah. Beliaulah yang menemukan sebuah arca emas di dalam Gua Seplawan, arca berupa sepasang pengantin berukuran tinggi sekitar 30 cm. Imbalannya, beliau diberi penghargaan berupa nominal uang yang sangat besar pada jamannya (lupa saya jumlahnya) dan sebuah sertifikat jadul tulisan tangan yang dilaminating. Mbah tidak sungkan memperlihatkan sertifikat tersebut beserta foto arca aslinya (yang sudah lusuh pula). Katanya sih sekarang arca emas tersebut disimpan dalam museum (entah apa), tapi beliau lebih percaya bahwa arca telah berpindah tangan ke seorang kolektor di luar negeri. Tak ada yang tahu.

Mbah Cokro cerita panjang lebar tentang masa dulu, sebagian besar menggunakan bahasa Kromo inggil. Saya bersyukur masih bisa kromo dikit-dikit *haha fail*. Kalo ndegerin paham lah, tapi kalo ngomong yaa gitu deh. Intinya saya masih bisa menikmati cerita Mbah Cokro, apalagi waktu cerita tentang Sultan HB IX. Kata beliau, dulu Sultan pernah mengunjungi Gua Seplawan, katanya hanya Sultan yang bisa 'melihat' hal-hal lain di dalam gua. Sultan datang untuk 'berziarah' kepada leluhur-leluhur. Mbah Cokro pantas berbangga hati karena diutus menemani kanjeng sultan menelusuri gua. Karena memang Mbah Cokro yang paling mengerti isi dalam gua. Kanjeng Sultan, Mbah Cokro, dan Pendamping sultan lainnya memasuki gua dan pada suatu titik (sekarang katanya pas bagian batas terakhir pengunjung) Sultan menangis. Saya lupa tepatnya karena apa, tapi di titik tersebut Sultan membaca sebuah tulisan sanskerta yang bermakna tentang perintah-perintah kepada umat manusia. Ada banyak  kalimat, salah satunya bermakna: Jangan sombong jika tidak ingin celaka. Beberapa kalimat lain tidak tepat saya pahami karena keterbatasan kromo inggil saya :(. Dari beliau, saya bisa merasakan 'aura' istimewanya Sri Sultan Hamengkubuwono ke-IX. Ya, karena Mbah Cokro bercerita tidak hanya dari mulut, tapi juga mata dan hatinya (ciah). Dan saya bersyukur masih bisa melihat bukti-bukti adanya nilai kepercayaan (berhubungan denga kuliah Arsitektur Vernakular tadi).

Selain tentang Sri Sultan beliau juga berkisah tentang Bung Karno, Bung Hatta, dan sejarah-sejarah lain yang mungkin tidak tertulis di buku sejarah sekolah-sekolah. By the way, Mbah pernah salaman sama Bung Karno lhoo *applause*. Ya, cerita yang istimewa, terlepas anda percaya atau tidak hadir dalam saksi-saksi sejarah yang kian lama kian buram. "Saya itu ndak pintar, tapi tahu" kata beliau dengan rendah hati.

Saya menikmati, entah dari gaya Mbah Cokro berbicara (sangat santun), ketajaman ingatannya, sikap menerima beliau terhadap siapapun yang berkunjung padanya. Seolah Beliau tidak sungkan-sungkan bercerita tentang hal yang sama berulangkali kepada tamunya. Mungkin kalau saya kesana lagipun, saya akan tetap bahagia mendengar kisah yang sama :D.


ini cucunya Mbah Cokro, dia joget karena Mbah niruin suara gamelan (dengan indahnya)



mulut Gua Seplawan (ga keliatan ya?)

Well selalu menarik membahas nilai-nilai ini. Dan caving memang selalu dekat dengan local wisdom, that's why i like it haha. Karena saya berusaha mencari 'nilai-nilai' itu pula dalam setiap perjalanan, kemanapun.

Kata Pak Pradip lagi, setiap karya itu membawa suatu 'misi'. Diantara semuanya, 'misi' kepercayaanlah yang paling kuat. Tapi semakin lama 'misi' itu semakin geser, kepercayaan semakin kabur. Pesan pak Pradip sebelum kuliah usai:

"kalian boleh membuat yang macem-macem, neko-neko, tidak masalah kok teknologi, modern dan sebagainya, asal kalian masih memegang nilai-nilai tersebut"

Semoga mahasiswa arsitektur sekarang sanggup demikian. Termasuk saya haha. Semoga. (makannya jangan males)

Mungkin selain bahasa arsitektur, ada juga bahasa kemanusiaan, bahasa kesederhanaan, bahasa nusantara. Daaan sadar atau tidak kayaknya tulisan ini pun masih dipengaruhi novel Bilangan Fu :D

selamat menjadi arsitek yang berbesar jiwa dan bijaksana!

Rabu, Oktober 24

Fluktuasi Hidup


Kangen nulis, kangen cerita, dan mulai saja kuketik tulisan tak beralur ini.


Bilangan Fu.

Pernah baca?

Aku baru saja menyelesaikannya, yang kupaksakan membaca lembar-lembar terakhirnya –setelah sekian lama menyicil- tepat di bawah tebing pancasila, parangdok. Hanya kebetulan saja aku membacanya di tengah-tengah momen yang mengharuskanku pergi ke goa dan tebing. Yang lokasinya -sangat kebetulan- ada di laut selatan. Mumpung. Aku tidak hendak mengulas isi novelnya secara rinci (baca saja sendiri). Aku hanya menyampaikan keterkaitan isi novel dengan kegiatanku akhir-akhir ini.

Tapi yang begitu mengesankan mengenai novelnya, sedikit berat memang, tapi perlahan aku bisa mencerna. Tentang budaya yang mulai terkikis zaman. Tentang postmodern dan laku-kritiknya. Tentang kepercayaan lokal, yang harusnya kita hormati bukannya basmi dengan kekerasan (terkait dengan takhayul, kepercayaan adanya Nyi Roro Kidul). Tentang monoteisme yang agaknya bergeser makna. Tentang menjaga alam. Tentang dunia karst. Tentang Yuda dan Parang jati. Cukup sedih lho endingnya.. nambah lagi daftar author lokal yang keren, Ayu Utami

Tau nggak, hidup kadang bisa terlalu mengejutkan. Kalo dibikin grafik, fluktuasinya bisa saja dataar terus, lalu menurun, dan bahkan meningkat secara tajam di suatu ketika. Begitulah, pun dengan hidupku dan mungkin hidup kalian.

Dan kuberi saja sebuah contoh, aku pernah mengalami hari terburuk di sebuah minggu (yang kuniatkan untuk menulisnya langsung di blog tapi tak jadi). Di suatu Selasa selepas display studio  yang begitu membabi buta kerjanya (baca: begadang), siangnya berniat pulang kos sejenak dan kembali ke sekret satub karena berjanji mengajari SRT ke anak-anak baru jam 3. Namanya habis begadang kalo liat kasur sudah hukum pasti akan tertidur, meski berjanji hanya sejenak menyenderkan kepala. Aku bangun tepat jam 3 yang berarti akan molor SRT-an nya sekitar setengah jam. Teman-teman mungkin kesal karena aku belum juga datang padahal yang akan dilatih sudah berkumpul. Dan memang benar beberapa orang memberi sindiran karena keterlambatanku. oke memang salahku, kenapa tak kuberi pesan orang yang bisa membantu mempersiapkan lintasan tali nya dahulu. Hei mana sempat kupikirkan, mata kuliah 6 sks sangat menyita perhatianku. Tapi biarlah aku terlalu malas (dan lelah) untuk menjelaskan pembelaan. Lagipula, aku sedang ingin mengurangi segala keluhan yang timbul. Usai mengajari anak baru sekitar jam 7 malam. Kita lanjut rapat dan aku baru ingat belum makan nasi hari ini dan hari kemarin (pantas saja lemas). Aku sangat sangat ingin kembali pulang ke kos dengan membeli sebungkus nasi terlebih dahulu. kubayangkan nikmatnya tidur di kasur dengan perut kenyang.

Setelah semua urusan kelar, aku pun ke warung dekat kosan dan memesan sebungkus nasi ayam. Lalu dengan semangatnya aku kembali ke kos namun ternyata hanya untuk menyadari bahwa kunci kamar kosan tertinggal di sekret satub. DAMN. Oke, mau tak mau aku balik lagi ke kampus tanpa sadar waktu menujukkan pukul 22.30 tepat saat dimana portal kampus akan ditutup. Dengan ngebutnya aku ke kampus,

Untung portal belum tutup. Aku masih bisa masuk kampus dan kutemukan kunci surga itu di atas meja.

Ayo cepat cepat balik.

Tapi tidak seindah itu kawan, portal teknik telah ditutup di saat yang tepat sekali. Ketika motorku melaju dan belum sempat melaluinya. Oh portal fakultas yang maha kokoh, sepertinya aku terlambat hanya sekian detik. dan pak satpam yang melaju dengan motornya dan berkata ‘udah digembok!’ (agak-teriak) ketika aku akan memelas dan meminta dibukakan kembali portal agung itu. tak bisa kau bayangkan rasanya, sangat kesal tapi tak tahu untuk siapa. Mau tak mau, aku kembali lagi ke sekret satub entah bagaimana kelanjutannya. Lalu kubayangkan sebungkus nasi ayam yang baru kubeli, rasa tidak nyaman efek begadang, kasurku yang empuk. Ya, ya, aku harus kembali pulang bagaimanapun caranya. Aku sedang tidak ingin menginap di sekret meski ada beberapa orang juga disana. Kalo motor tak bisa tembus portal kenapa tak kucoba saj sepeda. Kupinjam sepeda teman di sekret dan nekat pulang kos yang cukup jauh jika ditempuh dengan naik sepeda. Ngangkat-ngangkat sepeda di portal, dan mengayuh di jalan yang telah menjadi sepi oleh malam. Aku sudah tak peduli yang penting bisa kembali pulang.

Kayuh, kayuh, kayuh..

Jujur karena nggak pernah naik sepeda, juga rasa was-was tengah malam sendiri di jalan kosong, laper parah, lalu menjadi sedikit waspada dan mudah lelah. Baru tiga perempat perjalanan, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Cu-kup-de-ras. Diulangi, cu kup de ras. Tuhan, inikah akibat dari perbuatanku selama ini. aku lelah, berkeringat dan tiba-tiba basah oleh hujan.

Oke, sebentar lagi..

Dan aku akhirnya melihat kamar kos yang rasa-rasanya bagai surga di tengah malam. Aku makan, dan sungguh bisa tidur dengan tenangnya.

Lalu ternyata hari yang mujur bisa datang juga tanpa kau duga..

Di kisah yang lain, suatu siang aku baru saja berkenalan dengan teman. Belum ada 5 menit aku diminta tolong untuk mengantarnya ke suatu tempat. well, bisa saja aku menolak dan bilang ada janji lain. Karena ini berbeda, and because it’s ‘mapala’, menolong seseorang itu sesuatu yang tak bisa kau tolak adanya. Dan tiba-tiba saja, di waktu yang terlalu cepat untuk kupercaya berlalunya, aku sudah menghabiskan sepiring nasi ayam double, nonton ‘Dredd’ di XXI, hot cappucino yang nggak murah, cemilan fish fillet plus french fried, dapet bonus pula berbungkus-bungkus nasi goreng buat anak satu sekret. Berkat teman 5-menit-ku dan kakaknya yang baik, tanpa kukeluarkan uang satu peserpun.

Lalu kejutan pun agaknya masih enggan meninggalkanku, berniat pulang kos dan menghabiskan sisa hari dengan laptop, teman kos sms :

‘eh, kamu langsung ke WS jakal ya’.

It was a damn awesome day. Dapet satu lagi traktiran ulang tahun steak plus lemon tea. Jangan kira aku tidak menolak karena penuhnya perut. Aku sedang hendak menolak dan bilang ‘aku baruu aja makan lho’ tapi ngelihat tampang teman2 dengan piring sudah kosong dan bilang ‘kita dari tadi nunggu kamu tauk masa kamu gak pesen sih’. Dan perasaan bersalah nggak ikut perayaan ulang tahun dari awal,

oke aku pesan.  

Kalo gini caranya, bisa 4 hari kedepan aku nggak makan. LOL.

Jangan mengeluh di saat terburukmu, karena saat yang baik pun akan tiba sesungguhnya. #failed quotes haha

Sabtu, Agustus 11

a little post

can't stop reading http://rarasekar.tumblr.com. seriously.
mulai dari baca post nya nuzuli aka. gepeng tentang Banda Neira, lau berlanjut ke penemuan halamannya si duo folk-ers dan lagu cantiknya mereka. Lalu berujung pada penemuan blog salah satu personilnya, mbak rara sekar. Dan begitu terpikat dengan tulisan2nya, sampai-sampai nggak bisa berhenti nge-klik tombol "next" to see another of her post, over and over again.(she has written a lot of fabulous writings). Kebanyakan dia nulis tentang kehidupan sehari-hari, bagaimana dia mengkritisi hal-hal yang simple tapi ternyata banyak dari kita yang lalai buat menyadarinya. Contohnya: perbedaan.
maybe you should have a little peek there too :)
Mungkin saya cuma nemu salah satu dari ratusan mbak-mbak atau mas-mas hebat lainnya yang nulis tulisan bermanfaat. Setidaknya. And wish i could be like them, bikin tulisan 'hebat' juga *ngarep*

lanjut lagi ke 'klik-klik' an ngawur lain, tentunya dari link-link yang pastinya lupa dari mana asal link tsb. Lalu nemu lagi band folk-indie pop lokal Afternoon Talk dari Lampung yg cukup indah pula lagunya. Unyu-unyu kayak Mocca, atau SoKo buat versi luarnya.

*idih gak mau sok ngomongin musik juga*

tapi sekali lagi nih, boleh ya boleh, saya keinget lagu sejenis dikasih tahu temen. Yang berupa musikalisasi beberapa puisi nya Sapardi Djoko Damono oleh pasangan duet 'Dua Ibu'. Salah satu puisi (yg dilaguin) judulnya 'Aku Ingin'. itu loh, yg liriknya 'Aku ingin mencintaimu dengan sederhanaa...'. Temen saya itu udah tahu sejak jaman SMA, terus katanya dulu kalo ngirim surat cinta ya nyomot bait puisinya yg itu. *ceilah*



udah deh sotoy sotoy an tentang musiknya,


what a weird night!

Selasa, Agustus 7

Cukup Sempurna


Lagi-lagi berniat menulis tentang hidup dan kerandomannya. Saya hobi banget baca-baca blog orang. Atau lebih tepat dibilang stalker. Really great stalker nyihihihi *ketawa setan*. Kalo lagi stalking bisa ampe bermenit-menit mencari segala sesuatu apapun itu, terutama tulisan tentang orang yang distalker. Paling seneng kalo udah nemu blognya, atau twitter, kalo facebook sih masih kurang representatif. Bukannya berniat jahat kok, tapi saya seneng melihat kehidupan seseorang lewat tulisan. Saya bikin blog kan gara-gara sering baca blog orang, yang sering pula menulis cerita tentang hidupnya.

Beranjak lagi, karakter orang itu banyak banget. Nget. Dan saya hanya sepersekian titik dari ribuan karakter orang di muka bumi. Saya bukannya mau mematenkan karakter seorang saya, boro-boro sih, memahami karakter diri sendiri aja belum becus. Saya hanya ingin menulis sesuatu. Entah tentang apa ini semua.

Mungkin karena semakin kesini semakin banyak ketemu macam-macam orang. Flash back kehidupan sebelumnya, yang terpaksa monoton oleh peraturan. Perempuan lugu ini pun baru melihat kehidupan yang sebenarnya. Jeng jeeng.. Toh ruang lingkup hidup saya sekarang ini Cuma di sekitaran Jogja, kampus terutama. Ke Pekalongan sesekali kalo lagi pulang kampung. So campus life is the real stage for now. Dan cukup representatif untuk kehidupan remajawan dan remajawati jaman sekarang.

Manusia sewajarnya memilih gaya hidupnya sendiri. Juga bagaimana kisah-kisah dalam dirinya harus berjalan. Tentu,dengan pertimbangan berbagai macam faktor yang mempengaruhi. Bagaimana si A bergaul dengan B karena memiliki kesamaan faktor. Bagaimana si C dan D bisa bertemu karena faktor tertentu.

And when i saw someone, with her/his perfect life. Kadang merasa ‘iri’ dengan hidup sempurnanya. Do you feel so? Wajar nggak sih? Atau saya yang nggak normal nih. Well, i mean, perfect life isn’t just someone who surrounded by money. Itu bisa jadi salah satunya. Mungkin orang-orang yang punya keberuntungan lebih yang tidak saya miliki. Dalam hal apapun itu. Apapun. I won’t mention it, but you’ve got what i mean.

Bukan pula berarti penyesalan. Tidak, saya berusaha tidak menyesali apapun. Karena pilihan buruk pun bukan untuk disesali. Setiap manusia itu punya hidup sempurnanya masing-masing. Saya tak luput pula dari seorang ‘manusia’. Saya sepatutnya senang melihat teman-teman lama yang kini punya keuntungannya sendiri. Atau teman teman arsitek yang begitu dilimpahi ke-perfect-an skill nya. Atau orang-orang yang saya kenal punya keunikan nya masing-masing. Nggak ada yang nggak baik. Kita hanya hidup dalam frekuensi yang berbeda-beda *apadeh*.

Hidup saya cukup sempurna, meski beasiswa PPA nya nggak diterima karena IP kurang *sedih*. Cukup sempurna, dengan teman-teman yang hidup di sekitar saya. Cukup sempurna, dengan makan masakan mama selagi buka puasa. Cukup sempurna, dengan mukena dan sajadah lima kali sehari. Cukup sempurna, dengan baju seadanya. Cukup sempurna, dengan menghirup segarnya udara gunung dan melihat awan dari puncak. Cukup sempurna, dengan secangkir kopi dan sepiring gorengan di lincak satub serta diiringi nyanyian santai sore hari.
J

Sabtu, Agustus 4

Supernova the series

Jadi jarang nulis nih sedihnya. niatan buat memenuhi target tiap bulannya mem-publish tulisan pun gagal. Nggak tau kenapa akhir-akhir ini ngerasa nggak pede sama tulisan sendiri. yang isinya menurut saya kurang worth-it. Dulu sih fine-fine aja mau nulis hal gak penting, tapi sekarang pengennya lebih selektif.

Dan seringkali 'bakal' tulisan saya beberapa berakhir hanya untuk terkubur di draft. Entah itu cuma setengah jadi -lalu hilang mood melanjutkan. Atau udah jadi tapi nggak sempet dipublish dan akhinya lupa. Padahal banyak cerita-cerita (umumnya bertema traveling) yang nggak sempat terpublish.

Daripada daripada, mending saya nulis something nih tentang serial novel SUPERNOVA

Novel super cool, saya ngikutin dari yang pertama Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh sampe yang baru keluar (keempat) supernova: Partikel. And i'm dying to read the fifth and sixth, tapi mesti sabar karena belum keluar.

Awalnya baca yang seri pertama tuh tahun lalu (2011). padahal novelnya udah terbit tahun 2001. Waktu itu lagi nemenin mbak sepupu ke rental komik dia mau pinjem komik sekalian aja saya pinjem bacaan, dan terpilihlan Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh. Eh kok bagus, pengen pinjem lanjutannya lagi tapi nggak sempet-sempet mampir ke rental itu lagi. Dan karena sedang berpikiran ekonomis -nggak mungkin beli novelnya- (mungkin lagi kere waktu itu) kenapa nggak cari e-book nya aja terus download. Cari-cari di internet ternyata nemu, langsung didownload lah tuh dua seri Supernova: Akar & Supernova: Petir. Belum kebayang aja kalo baca di laptop tuh lebih nggak enak ketimbang baca di buku. Tapi toh saya terhanyut juga sama dua novel ini meski bacanya sambil mantengin laptop berjam-jam.

Terus Dewi Lestari ngerilis lanjutannya tahun ini, Supernova: Partikel. jaraknya jauh banget sama tiga novel sebelumnya, tapi masih nggak menghilangkan esensi kisah supernova (yaiyalah) dan bahkan makin bagus di seri Partikel ini. Kalo yang tiga novel sebelumnya saya nggak bermodal, yang keempat ini saya bela belain beli loh. Harga asli Rp 79.000,00 tapi dapet diskon jadi Rp 63.000,00 mayan lah. Tadinya mau patungan sama temen, tapi karena bener-bener nggak sabar pas mampir Toga Mas langsung nyamber Partikel dan bayar.


ini cover seri terbarunya, lebih simple

Dari empat novel, Partikel yang paling bagus. Suer. Ceritanya sangat 'berbobot'. Ngak menye-menye (?). Sok aja di googling deskripsi singkat ceritanya. Tapi tokoh favorit saya tetep si Elektra Wijaya di Supernova: Petir gimana kisah hidupnya sama si Watti. Kalo yang seri pertama masih terlalu 'maksa'. Jadi repot karena mesti baca footnote buat beberapa istilah asing. Yang kedua (akar) mulai asik karena settingnya ada di beberapa negara ASEAN.

yaudahlah
Salut sama Dewi Lestari, ditunggu aja dua seri lanjutannya..