Halo Oktober!
Bulan yang aneh, Perencanaan agenda untuk bulan ini begitu memusingkan. Toh pada akhirnya saya mencoret beberapa rencana *sambil nangis* karena budget tidak memungkinkan. Bulan November adalah final tugas akhir yang membutuhkan modal paling banyak. Mahasiswa arsitek pasti paham, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk kepentingan cetak gambar dan bikin maket. Jadi saya harus menghemat pengeluaran jauh-jauh hari sebelumnya. Apalagi tugas akhir yang mesti 'sempurna', ga main-main kayak proyek studio-studio sebelumnya. (jadi selama ini kamu cuma main main? bah!)
Bulan ini banyak juga teman-teman saya yang akan mengakhiri masa-masa lajangnya dan mengikat janji untuk hidup bersama dengan lelaki pilihannya. Kalo ada lima orang teman yang menikah di minggu ketiga bulan Oktober itu lumayan banyak kan ya? Temen MTs, temen IC, teman KKN, teman kos, mantan teman kosan. Lagipula mereka resepsi di empat kota yang berbeda, sampai sekarang pun saya belum memutuskan akan menghadiri yang mana? Ada yang ingin sekali saya datangi resepsinya, tapi apa daya budgetlah yang pada akhirnya menentukan, hiks. Terlepas siapa yang mau saya datengin, happy wedding all :') semoga dilancarkan acaranya. Semoga kalian benar-benar mendapat pendamping hidup yang tepat dan hidupnya berkah setelah ini :') *terharu nih*
Bulan ini juga banyak agenda berkaitan dengan Speleologi. Cave Rescue-nya Arisan Caving Yogyakarta, Speleogathering-nya (siapa?), paska Ekspedisi Gombong-nya ASC, persiapan KDKL 2014 nya HIKESPI. Mau dateng yang mana? entahlah. Mikirin banyaknya acara aja udah pusing haha. Kalo ada waktu lowong, saya akan berusaha membantu siapapun. Cuma lagi-lagi budget (dan waktu) saya ga bisa ikutan Speleogathering di Cibubur yang padahal acaranya keren. Banyak bahasan ilmiahnya.
Ah sudahlah,
Yang saya utamakan untuk bulan ini tetap masalah akademik. Mending saya duduk manis di depan komputer studio TGA, fokus ke tugas akhir. Sejenak mari kurangi mobilitas yang tinggi di bulan ini. Simpan uang untuk produk TA.
And be ready to find the good things at the end!
Kamis, Oktober 9
Sabtu, Agustus 2
Di Balik Tudung Suci
Ini apa banget deh judulnya. Tau tau pengen ngasih judul ituu aja. Padahal mana tau dah isi postingannya tentang apaan. Don't expect too much haha.
Sudah lama tidak menulis, jadi saya awali saja dengan sapaan Hai! selamat datang bulan Agustus (ga tau kenapa banyak banget yang ngetwit gitu). Tapi postingannya bukan tentang Agustus kok. Bentar lagi udah masuk Studio Tugas Akhir, masih ada 4 bulan sebelum akhirnya bisa leyeh-leyeh (iya apa?). At least, (semoga) udah bisa jadi sarjana.
Masih pada inget kan foto fenomenal ini (belum terlalu basi kan?):
Sudah lama tidak menulis, jadi saya awali saja dengan sapaan Hai! selamat datang bulan Agustus (ga tau kenapa banyak banget yang ngetwit gitu). Tapi postingannya bukan tentang Agustus kok. Bentar lagi udah masuk Studio Tugas Akhir, masih ada 4 bulan sebelum akhirnya bisa leyeh-leyeh (iya apa?). At least, (semoga) udah bisa jadi sarjana.
Masih pada inget kan foto fenomenal ini (belum terlalu basi kan?):
Iya, ini fotonya tante Syahrini, yang cukup bikin heboh lebaran kemarin. Si tante posting foto Instagram pake mukena renda-renda dan berpose di zam zam clock tower hotel Madinah. Nggak kok, nggak mau komentar nyinyir ato sejenisnya tentang si tante. Ini foto di like 19 ribu orang, dengan berbagai perang komentar antara yang ngejek sama yang mbelain di IG nya. Saya lucu aja, dan salut sama tante Syahrini karena selalu bikin segala hal miliknya jadi heboh. Bahkan sering banget foto-fotonya diedit jadi meme-meme, masa foto syahrini pake mukena ini dicrop terus dijejerin sama tenda-tenda camping. Ato dikasih gagang payung. Ato diselipin ke potongan pizza. Kurang ajar si yang ngedit, tapi tetep bikin ngakak :'D. Ayo tante lanjutkan fenomenamu, ramaikan dunia nyinyir-nyinyiran, makin banyak yang ngomongin katanya makin banyak dapet pahala kan? Toh si tante nggak pernah peduliin ejekan orang dan tetap bahagia selalu dengan koleksi hermes dan jet pribadinya. I LOVE YOU TANTE!
Lupakan kehebohan Syahrini. Sekarang saya mau promosiin barang. Saya sebenernya anti sama iklan spam spam yang selalu negrusuhin akun akun manapun. Tapi namanya juga jualan, pasti ada usaha buat promosiin dagangannya, entah bakal disukain ato malah dibenci. Kayak fotonya tante tadi.
Saya mau bantuin mama saya dagang mukena (Nah, nyambung kan sama Syahrini tadi). Kali aja ada yang lagi cari mas kawin #eh. Tapi ini bukan mukena renda-renda heboh kok. Bisa ditebak lah karena saya dari Pekalongan, mukenanya mukena batik. Kasian sama si mama nggak ngerti internet jadi saya bantuin promosi online di blog. Yah, meski pembacanya nggak banyak seenggaknya udah usaha.
Bahan mukenanya kain mori halus, terus banyak macem warna dan coraknya. Semuanya full color (belum bikin yang dasarnya putih). Ceritanya ini yang mbatik orang-orang deket rumah, jadi coraknya random gitu terserah yang mbatik (saking banyaknya corak batik). Antar satu mukena dan yang lain beda-beda coraknya.
Baru dibikin juga akun instagramnya di @arumyuniast (padahal nggak pernah mainan instagram). Yowes, maapin atas ketidaksinkronan antara judul, Syahrini, dan dagangan. Yang penting mukenahnya. Last statement: yuk diorder sis ;)
Sabtu, Juli 26
She's Leaving Home
Wednesday morning at five o'clock as the day begins
Silently closing her bedroom door
Leaving the note that she hoped would say more
She goes downstairs to the kitchen clutching her hankerchief
Quietly turning the backdoor key
Stepping outside she is free
She (We gave her most of our lives)
Is leaving (Sacraficed most of our lives)
Home (We gave her everything money could buy)
She's leaving home after living alone
For so many years (Bye bye)
Father snores as his wife gets into her dressing gown
Picks up the letter that's lying there
Standing alone at the top of the stairs
She breaks down and cries to her husband "Daddy our baby's gone
Why would she treat us so thoughtlessly?
How could she do this to me?"
She (We never thought of ourselves)
Is leaving (Never a thought for ourselves)
Home (We struggled hard all our lives to get by)
She's leaving home after living alone
For so many years (Bye bye)
Friday morning at nine o'clock she is far away
Waiting to keep the appointment she made
Meeting a man from the motor trade
She (What did we do that was wrong)
Is having (We didn't know it was wrong)
Fun (Fun is the one thing that money can't buy)
Something inside that was always denied
For so many years (Bye bye)
She's leaving home
Bye bye
Silently closing her bedroom door
Leaving the note that she hoped would say more
She goes downstairs to the kitchen clutching her hankerchief
Quietly turning the backdoor key
Stepping outside she is free
She (We gave her most of our lives)
Is leaving (Sacraficed most of our lives)
Home (We gave her everything money could buy)
She's leaving home after living alone
For so many years (Bye bye)
Father snores as his wife gets into her dressing gown
Picks up the letter that's lying there
Standing alone at the top of the stairs
She breaks down and cries to her husband "Daddy our baby's gone
Why would she treat us so thoughtlessly?
How could she do this to me?"
She (We never thought of ourselves)
Is leaving (Never a thought for ourselves)
Home (We struggled hard all our lives to get by)
She's leaving home after living alone
For so many years (Bye bye)
Friday morning at nine o'clock she is far away
Waiting to keep the appointment she made
Meeting a man from the motor trade
She (What did we do that was wrong)
Is having (We didn't know it was wrong)
Fun (Fun is the one thing that money can't buy)
Something inside that was always denied
For so many years (Bye bye)
She's leaving home
Bye bye
-The Beatles, on Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band
Rabu, Juli 23
Kemana Aja?
In some parking lot,
Friend: motormu berapa lama ga dicuci?
Me: sejuta taon
In one of pasta resto in Jogja (well, my first time there), a waitress put down the food ordered by a friend. Some creamy roast with spinach and a yellow clod of something..
Me: Ini apaan? kok ada es krimnyaa??
Friend: Es krim?? ini MASHED POTATOES!
Friend: motormu berapa lama ga dicuci?
Me: sejuta taon
In one of pasta resto in Jogja (well, my first time there), a waitress put down the food ordered by a friend. Some creamy roast with spinach and a yellow clod of something..
Me: Ini apaan? kok ada es krimnyaa??
Friend: Es krim?? ini MASHED POTATOES!
Rabu, Maret 19
Bukan tentang KKN kok
Awal pekan terakhir di tempat
KKN, lebih banyak menganggur karena hampir semua program telah selesai. Ya,
menganggur seperti sekarang ini. Saya bisa saja langsung pulang ke Jogja meski
toh sama-sama menganggur juga. Tapi saya juga malas ke Jogja. Padahal tingkat
pengangguran di jogja akan lebih berkurang dengan banyak hal-hal yang bisa
dikerjakan. Tapi saya tetap malas. Tulisan ini juga malas. Saya juga tidak
sedang akan mencertiakan mengenai KKN saya di Pengasih yang hampir kelar ini.
Oh ya, satu lagi, kemalasan juga hinggap pada pengerjaan praTA saya. Untung
dapet dosen yang selow, tenang, saya sudah meminta izin beliau bahwa saya
sedang KKN. Jadi tidak perlu dikhawatirkan untuk saat ini. Untuk apa khawatir?
Belakangan, karena efek
menganggur di tempat KKN. Oh ya, sebagai catatan, sebetulnya saya tidak
menganggur-nganggur amat. Ada proyek bikin peta dan desain taman dusun. Tapi
karena malas, saya lebih memilih menganggur sejenak dan berniat mengerjakan
nanti di hari-hari menjelang perpisahan. Lanjut, karena efek “menganggur”, saya
lebih sering berada di dalam dunia pikiran saya. Saya menemukan kegiatan:
flashback peristiwa lampau. Contohnya, saya mencoba mengingat-ngingat kembali
apa yang dilakukan ketika ospek fakultas 4 tahun lalu, dimulai hari pertama saya
bertemu teman-teman baru sampai berpisah. Setiap detailnya saya mencoba ingat.
Lalu saya menjadi bertanya-tanya, sekarang kemana mereka semua dan apa yang
dilakukan mereka sekarang? Adakah yang masih berteman dengan baik? Saya jamin
tidak akan banyak. Beberapa wajah di ingatan saya juga saya lupakan namanya.
Artinya yang tersisa di banyak ingatan ’mantan’ teman-teman saya juga hanya
rupa. Oke, tulisannya amat sangat tidak penting bukan?
Lalu saya mencoba mengingat ke
zaman yang lebih dulu, waktu saya mengikuti Jambore Nasional 2006 di
Jatinangor. Apa yang saya ingat? Tidak terlalu banyak. Sejak hari pertama
datang ke bumi perkemahan, berkenalan dengan orang-orang yang lebih ‘liar’.
Bagaimana saya ingat seorang anak cantik dari Manado, yang saya lupa namanya.
Tapi saya masih ingat mengobrol dengannya, bahwa dia datang ke Jatinangor
dengan menggunakan pesawat Hercules. Katanya tidak enak, berisik dan bikin
mual. Saya ingat, karena ia cantik. Lalu saya merasa marah karena mendengar
omongan para pemuda yang sedang membicarakan keseksian teman Manado saya itu.
Pada hari berikutnya saya berpapasan dengannya dalam suatu jalan (berpapasan
dengan orang yang dikenal saat jamnas itu sedikit kemungkinannya karena ribuan
peserta pasti lalu lalang). “selamat sore..” (sapaku duluan) “oh.. soree..”
dari ekspresi menjawabnya, tampaknya ia telah lupa siapa saya. Bertahun-tahun
kemudian saya masih mengingatnya, masihkah ia? Dimana ia sekarang? Bagaimana
saya bisa ‘kepo’ di facebooknya, namanya saja tidak saya ingat.
Dan pernahkah kamu mencoba
mengingat hal pertama kali yang kamu ingat sejak kamu dilahirkan? Saya mungkin
mengingat entah itu usia berapa. Saya mencoba meraih gambar tiga lingkaran di
sudut atas tv di rumah, dan tangan saya tidak bisa mencapainya, pun meski telah
dengan berjinjit. Atau ketika ingatan saya bercampur, saya pernah mengingat sebuah
momen dimana saya sedang duduk diapit kedua orang tua saya. Kami sedang duduk
di semacam kursi mobil yang berjalan di jalanan yang kanan kirinya rumah
tingkat (saya selalu berkeyakinan rumah-rumah tersebut berada di dalam kota
tempat tinggal saya). Entah kenapa di setiap beranda lantai 2 rumah tersebut
terdapat boneka-boneka bergerak-gerak, tangannya melambai lambai ke arah kami. Orang
tua saya dengan bahagianya menunjuk-nunjuk ke arah boneka-boneka tersebut,
menyuruh saya turut bahagia melihat ke arah mereka. Saya yakin itu bukan mimpi
karena memang pernah mengalaminya. Namun semakin bertambah usia saya semakin bingung
mana ada boneka bergerak melambai-lambai di rumah-rumah yang berderet? Mungkin pernah
ada karnaval atau semacamnya? Lalu sekitar usia SMP saya baru bisa menyimpulkan
sendiri bahwa ingatan saya tentang boneka itu adalah peristiwa ketika saya
liburan ke Istana boneka di dunia fantasi Jakarta. LOL.
Baiklah, sekian cerita tidak
penting dari saya di penghujung KKN ini. Terimakasih.
Sabtu, Januari 11
Apalah Arti Sebuah Nama
Sebetulnya saya tidak selalu ingin menceritakan diri saya sendiri. Saya sebagai obyek, bukannya subyek. Tapi topik agak simple ini rasanya unik dan cukup mendesak saya untuk akhirnya menulis dan membagikannya ke kalian, para pembaca.
Ini tentang nama saya: Shabrina Tamimi
mungkin ketika orang berkenalan dan ketika namanya ditanyakan, ia menggoda dengan menjawab: apalah arti sebuah nama
yaampun please deh tinggal nyebut nama aja susahnya minta ampun.
Sejak saya lahir dan tercatatkanlah secara resmi dalam acara aqiqahan nama saya. Sejak itu pula saya memiliki nama panggilan: Tami. Dimulai dari sepupu-sepupu saya yg lebih tua memanggil 'dek Tami', atau yang lebih muda dengan 'mbak Tami'. Lalu saya mempunyai teman-teman sebaya yang meneriakkan 'TAAAM, TAAAAAMI! (jeda) TAAAAM, TAAAAAMI!' (dengan nada yang sama layaknya anak seantero negri ini memanggil nama temannya) di depan pintu rumah ketika mereka mengajak saya untuk bermain di kebon tetangga atau hanya halaman rumah saja. Beranjak ke SD lokal yang muridnya sekelas cuma 25 anak, nama saya tetaplah Tami. Tami yang pada akhirya mengikuti jejak kakak masuk pesantren di Solo. Teman-teman baru dan suasana yang amat sangat baru bagi saya, entah kenapa di mungkin di tahun ketiga saya mendapat julukan Tim-Tam karena seorang teman yang iseng iseng panggil saya pake merk coklat. Mungkin kala itu saya masih semanis dan serenyah biskuit coklat Tim-Tam :9.
Masuk ke masa SMA yang semakin jauh merantau ke Tangerang, entah siapa yang memulai, beberapa teman mulai memanggil nama: Temi. Mungkin itu salah satu cara membuat 'gaul' sebuah nama. Saya terima-terima aja karena kayanya emang jadi tambah gaul ya haha. Atau mungkin karena ada nuansa 'baru' dalam nama Temi, anak muda cenderung suka sama yang baru-baru kan? Panggilan jadi beragam, ada yang nambah huruf 's' kalo manggil : 'teeeeems, lo udah ngerjain tugas beloom?' (gila gaul banget gak sih) atau nge-inggris-in pelafalan huruf 'i' : "temaaaai gue pinjem catetan lo dong!" atau manggil lengkap nama belakang saya: 'tamimiiii! lo harus dengerin lagu barunya si A!'. Selain itu beberapa orang guru mengenal saya dengan : Shabrina. Yaiyalah kan guru biasanya cuma mengenal muridnya dengan nama depan yang biasa dilihat di daftar absen.
Lalu sebuah 'masalah' (it's not a problem actually) muncul ketika saya masuk dunia perkuliahan. Satu angkatan ada dua anak yang namanya Tami. Kala itu kami semacam membuat perjanjian siapa yang mau dipanggil Tami? atau dua duanya saja biar seangkatan jadi chaos manggil Tami yang mana yang nengok yang mana. Setelah dipikir-pikir, saya masih menganggap nama Temi lebih gaul dari Tami haha. Jadi saya semacam 'mengalah' yaudah deh kamu aja yang dipanggil Tami. Lagian seiring berjalannya waktu Tami yang satu ternyata lebih tenar di kalangan kampus, jadi saya mungkin tidak dianggap kalo masih pake nama Tami haha (bercanda tam!) dari sini saya mulai terbiasa memanggil nama diri saya sendiri (loh?) maksudnya nggak reflek nengok kalo ada yang manggil 'tam!' saya mulai tahu rasanya berbagi nama dengan orang lain haha. lagipula teman-teman kos masih memanggil saya Tami, jadi harus terbiasa bahwa saya adalah Tami di kosan dan Temi di kampus. (kok ribet ya)
Ini sebelum akhirnya saya masuk klub mapala, yang punya tradisi ngasih nama baru bagi anggota barunya. Ada tata cara pemberian namanya loh, biasanya nama seorang anggota mula berhubungan dengan apa yang dilakukannya ketika proses pendidikan dasar. Oke ini sebetulnya sejarah yang memalukan, karena saya sempat jatuh ke jurang yang ajaibnya tidak merusak suatu apapun dalam fisik saya kecuali muka yang sedikit lebam. Sekitar mata kiri saya menghitam seperti habis ditonjok orang. Lebam sama dengan bengep. Jadilah nama julukan saya: Bengep (jangan ditiru ya ngasih nama-nama beginian). Dan ini hanya dikalangan mapala kok, jadi jika saya berkenalan dengan anak mapala lain nama saya tetap bengep. Hampir semua mapala di Indonesia memakai tradisi begini. Jadi saya tidak malu untuk berkenalan dengan nama demikian, karena ternyata ada yang lebih aneh lagi, seperti: jamban (saya ngakak waktu kenalan), atau sapi, atau kopet, atau nama-nama yang (mungkin) menjijikkan lainnya. Sebetulnya tradisi beginian juga semakin mengakrabkan hubungan antar teman-teman mapala. Seru loh! Tapi lagi-lagi entah siapa yang memulai, mulailah ada tambahan 'dek' di depan nama lapangan saya: dek beng (dua huruf terkhir dihilangkan). Sebetulnya saya makin bingung dengan nama panggilan saya, tapi saya tetap terima-terima saja karena tidak terlalu peduli juga. Semacam punya rasa 'terserah deh mau dipanggil apaan'. Bahkan di dalam dunia mapala pun saya punya dua panggilan.
Belum selesai teman-teman. Suatu ketika saya masuk ke dunia caving yang orang-orangnya nggak cuma dari kalangan mapala, ada beberapa orang yang mungkin lebih dewasa dan menghargai orang untuk tidak memanggil nama lapangan. Beberapa orang (tanpa saya minta) memanggil saya Shabrina. Mungkin berawal dari daftar nama absen pada suatu kursus, saya mulai dipanggil shabrina meski saya memperkenalkan nama lapangan saya: Bengep (kalo udah gini saya jadi tampak bodoh tetap kenalan dengan nama 'menjijikkan'). Dipanggil Shabrina di hari-hari biasa (bukan cuma absen) sejujurnya hal baru bagi saya. Entahlah, aura nama 'Shabrina' kayaknya lebih berharga daripada 'Tami', 'Temi', apalagi 'Bengep'. Mungkin kalo dibikin kasta, kasta nama Shabrina lah yang paling tinggi haha. Seolah kalau orang manggil 'Shabrina' saya akan memperbaiki sikap dan nggak bisa seurakan kalau dipanggil 'Bengep'. Masih ada bawaan bahwa yang memanggil nama Shabrina adalah kalangan guru yang tentunya lebih saya hormati ketimbang teman-teman sebaya. Oke, sejak itu dalam perkenalan-perkenalan di antara orang-orang caving, saya mulai menyebut Shabrina sebagai nama saya.
Wow, di jaman kuliahan saja saya udah punya lebih dari 3 nama. Dan pada akhirnya saya merasa, di setiap nama panggilan saya, seolah ada karakter yang berbeda. Tami yang dikenal teman-teman SMA saya tentu akan jauh berbeda dengan Bengep yang dikenal teman-teman mapala. Temi yang dilihat teman kampus juga pasti beda rasanya ketika dilihat teman-teman ketika SD. Apalagi nama baru Shabrina, seolah saya harus menjelma menjadi lebih bijaksana. Seolah ada 'tanggungan' di setiap nama panggilan saya. Atau sebetulnya saya hanya bingung dengan beberapa nama tersebut?
Ya, jujur saya bingung.
Coba bayangkan, ketika saya telah beranjak lebih tua dan berada di komunitas baru yang mana keluar dari hingar-bingar perkuliahan. Maksud saya, orang-orang yang benar-benar baru tanpa ada relasi sebelumnya. Dan ketika orang itu menjulurkan tangan menyebutkan namanya, lantas saya akan terdiam beberapa detik untuk memikirkan tepatnya nama apa yang akan saya sebut. Nama kecil saya, atau nama bijaksana saya (haha), yang pasti bukan nama lapangan. Atau saya akan membuat nama baru?
Adakah saran??
Atau lebih baik saya bilang: TERSERAH!
Pada akhirnya, saya mengerti. Mungkin kalimat tanya 'apalah arti sebuah nama?' itu benar adanya. Saya bisa jadi berbeda dengan saya ketika kecil. Bahkan berbeda dalam waktu yang sama saat berada di kos dan di kampus. Saya orang yang sama dengan 'saya' yang lain. Yang membedakan itu hanya sikap apa yang wajar jika dilakukan pada suatu stuasi dan kondisi tertentu. Saya nggak mungkin bisa benar-benar mengabaikan 'kewajaran' yang dianut umat manusia bukan? Meski begitu saya tetaplah orang yang sama dengan saya yang lalu. Dengan julukan nama apapun, saya masih sama bagi saya sendiri. Hanya sedikit banyak bertransformasi menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Jadi apa arti sebuah nama bagimu?
Ini tentang nama saya: Shabrina Tamimi
mungkin ketika orang berkenalan dan ketika namanya ditanyakan, ia menggoda dengan menjawab: apalah arti sebuah nama
yaampun please deh tinggal nyebut nama aja susahnya minta ampun.
Sejak saya lahir dan tercatatkanlah secara resmi dalam acara aqiqahan nama saya. Sejak itu pula saya memiliki nama panggilan: Tami. Dimulai dari sepupu-sepupu saya yg lebih tua memanggil 'dek Tami', atau yang lebih muda dengan 'mbak Tami'. Lalu saya mempunyai teman-teman sebaya yang meneriakkan 'TAAAM, TAAAAAMI! (jeda) TAAAAM, TAAAAAMI!' (dengan nada yang sama layaknya anak seantero negri ini memanggil nama temannya) di depan pintu rumah ketika mereka mengajak saya untuk bermain di kebon tetangga atau hanya halaman rumah saja. Beranjak ke SD lokal yang muridnya sekelas cuma 25 anak, nama saya tetaplah Tami. Tami yang pada akhirya mengikuti jejak kakak masuk pesantren di Solo. Teman-teman baru dan suasana yang amat sangat baru bagi saya, entah kenapa di mungkin di tahun ketiga saya mendapat julukan Tim-Tam karena seorang teman yang iseng iseng panggil saya pake merk coklat. Mungkin kala itu saya masih semanis dan serenyah biskuit coklat Tim-Tam :9.
Masuk ke masa SMA yang semakin jauh merantau ke Tangerang, entah siapa yang memulai, beberapa teman mulai memanggil nama: Temi. Mungkin itu salah satu cara membuat 'gaul' sebuah nama. Saya terima-terima aja karena kayanya emang jadi tambah gaul ya haha. Atau mungkin karena ada nuansa 'baru' dalam nama Temi, anak muda cenderung suka sama yang baru-baru kan? Panggilan jadi beragam, ada yang nambah huruf 's' kalo manggil : 'teeeeems, lo udah ngerjain tugas beloom?' (gila gaul banget gak sih) atau nge-inggris-in pelafalan huruf 'i' : "temaaaai gue pinjem catetan lo dong!" atau manggil lengkap nama belakang saya: 'tamimiiii! lo harus dengerin lagu barunya si A!'. Selain itu beberapa orang guru mengenal saya dengan : Shabrina. Yaiyalah kan guru biasanya cuma mengenal muridnya dengan nama depan yang biasa dilihat di daftar absen.
Lalu sebuah 'masalah' (it's not a problem actually) muncul ketika saya masuk dunia perkuliahan. Satu angkatan ada dua anak yang namanya Tami. Kala itu kami semacam membuat perjanjian siapa yang mau dipanggil Tami? atau dua duanya saja biar seangkatan jadi chaos manggil Tami yang mana yang nengok yang mana. Setelah dipikir-pikir, saya masih menganggap nama Temi lebih gaul dari Tami haha. Jadi saya semacam 'mengalah' yaudah deh kamu aja yang dipanggil Tami. Lagian seiring berjalannya waktu Tami yang satu ternyata lebih tenar di kalangan kampus, jadi saya mungkin tidak dianggap kalo masih pake nama Tami haha (bercanda tam!) dari sini saya mulai terbiasa memanggil nama diri saya sendiri (loh?) maksudnya nggak reflek nengok kalo ada yang manggil 'tam!' saya mulai tahu rasanya berbagi nama dengan orang lain haha. lagipula teman-teman kos masih memanggil saya Tami, jadi harus terbiasa bahwa saya adalah Tami di kosan dan Temi di kampus. (kok ribet ya)
Ini sebelum akhirnya saya masuk klub mapala, yang punya tradisi ngasih nama baru bagi anggota barunya. Ada tata cara pemberian namanya loh, biasanya nama seorang anggota mula berhubungan dengan apa yang dilakukannya ketika proses pendidikan dasar. Oke ini sebetulnya sejarah yang memalukan, karena saya sempat jatuh ke jurang yang ajaibnya tidak merusak suatu apapun dalam fisik saya kecuali muka yang sedikit lebam. Sekitar mata kiri saya menghitam seperti habis ditonjok orang. Lebam sama dengan bengep. Jadilah nama julukan saya: Bengep (jangan ditiru ya ngasih nama-nama beginian). Dan ini hanya dikalangan mapala kok, jadi jika saya berkenalan dengan anak mapala lain nama saya tetap bengep. Hampir semua mapala di Indonesia memakai tradisi begini. Jadi saya tidak malu untuk berkenalan dengan nama demikian, karena ternyata ada yang lebih aneh lagi, seperti: jamban (saya ngakak waktu kenalan), atau sapi, atau kopet, atau nama-nama yang (mungkin) menjijikkan lainnya. Sebetulnya tradisi beginian juga semakin mengakrabkan hubungan antar teman-teman mapala. Seru loh! Tapi lagi-lagi entah siapa yang memulai, mulailah ada tambahan 'dek' di depan nama lapangan saya: dek beng (dua huruf terkhir dihilangkan). Sebetulnya saya makin bingung dengan nama panggilan saya, tapi saya tetap terima-terima saja karena tidak terlalu peduli juga. Semacam punya rasa 'terserah deh mau dipanggil apaan'. Bahkan di dalam dunia mapala pun saya punya dua panggilan.
Belum selesai teman-teman. Suatu ketika saya masuk ke dunia caving yang orang-orangnya nggak cuma dari kalangan mapala, ada beberapa orang yang mungkin lebih dewasa dan menghargai orang untuk tidak memanggil nama lapangan. Beberapa orang (tanpa saya minta) memanggil saya Shabrina. Mungkin berawal dari daftar nama absen pada suatu kursus, saya mulai dipanggil shabrina meski saya memperkenalkan nama lapangan saya: Bengep (kalo udah gini saya jadi tampak bodoh tetap kenalan dengan nama 'menjijikkan'). Dipanggil Shabrina di hari-hari biasa (bukan cuma absen) sejujurnya hal baru bagi saya. Entahlah, aura nama 'Shabrina' kayaknya lebih berharga daripada 'Tami', 'Temi', apalagi 'Bengep'. Mungkin kalo dibikin kasta, kasta nama Shabrina lah yang paling tinggi haha. Seolah kalau orang manggil 'Shabrina' saya akan memperbaiki sikap dan nggak bisa seurakan kalau dipanggil 'Bengep'. Masih ada bawaan bahwa yang memanggil nama Shabrina adalah kalangan guru yang tentunya lebih saya hormati ketimbang teman-teman sebaya. Oke, sejak itu dalam perkenalan-perkenalan di antara orang-orang caving, saya mulai menyebut Shabrina sebagai nama saya.
Wow, di jaman kuliahan saja saya udah punya lebih dari 3 nama. Dan pada akhirnya saya merasa, di setiap nama panggilan saya, seolah ada karakter yang berbeda. Tami yang dikenal teman-teman SMA saya tentu akan jauh berbeda dengan Bengep yang dikenal teman-teman mapala. Temi yang dilihat teman kampus juga pasti beda rasanya ketika dilihat teman-teman ketika SD. Apalagi nama baru Shabrina, seolah saya harus menjelma menjadi lebih bijaksana. Seolah ada 'tanggungan' di setiap nama panggilan saya. Atau sebetulnya saya hanya bingung dengan beberapa nama tersebut?
Ya, jujur saya bingung.
Coba bayangkan, ketika saya telah beranjak lebih tua dan berada di komunitas baru yang mana keluar dari hingar-bingar perkuliahan. Maksud saya, orang-orang yang benar-benar baru tanpa ada relasi sebelumnya. Dan ketika orang itu menjulurkan tangan menyebutkan namanya, lantas saya akan terdiam beberapa detik untuk memikirkan tepatnya nama apa yang akan saya sebut. Nama kecil saya, atau nama bijaksana saya (haha), yang pasti bukan nama lapangan. Atau saya akan membuat nama baru?
Adakah saran??
Atau lebih baik saya bilang: TERSERAH!
Pada akhirnya, saya mengerti. Mungkin kalimat tanya 'apalah arti sebuah nama?' itu benar adanya. Saya bisa jadi berbeda dengan saya ketika kecil. Bahkan berbeda dalam waktu yang sama saat berada di kos dan di kampus. Saya orang yang sama dengan 'saya' yang lain. Yang membedakan itu hanya sikap apa yang wajar jika dilakukan pada suatu stuasi dan kondisi tertentu. Saya nggak mungkin bisa benar-benar mengabaikan 'kewajaran' yang dianut umat manusia bukan? Meski begitu saya tetaplah orang yang sama dengan saya yang lalu. Dengan julukan nama apapun, saya masih sama bagi saya sendiri. Hanya sedikit banyak bertransformasi menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Jadi apa arti sebuah nama bagimu?
Sabtu, Oktober 12
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 1)
Di perjalanan
pulang kembali ke Ambon, ketika saya dan tim akan meninggalkan pulau ini saya
berpikir untuk menuliskan semua hal yang terjadi selama enam minggu kebelakang.
Ketika kapal cepat penyeberangan keluar Pulau Seram akan segera berangkat pukul
14.00, tanpa disadari ada air mata yang menitiki sudut mata saya. Kenapa
perpisahan selalu diiringi dengan haru, dan kenapa 7 rekan saya justru tampak
baik-baik saja? Mungkin setiap manusia akan berbeda dalam menyikapi
‘perpisahan’. Saya pun sesungguhnya tidak mengerti apa yang ditangisi. Saya
hanya tidak menyangka 6 minggu ini terlalui begitu saja. Ada harga yang harus
dibayar untuk mendapatkan sesuatu. Dan kami telah membayar semuanya untuk
mendapat sebuah pengalaman luar biasa. Sejak awal memulai perjalanan lalu
memasuki pedalaman hutan Binaiya dan bertemu orang-orang yang membuat kami
belajar bertahan hidup, hingga akhirnya turun dan menemukan peradaban kembali. Dan
di kapal yang akan segera melaju ini, melalui laut yang akhirnya memisahkan
kami dengan Pulau Seram, kami mengakhiri kegiatan pelaksanaan ekspedisi SATU
BUMI. Saya kira semua ini harus dituangkan dalam sebuah tulisan yang patut
dibaca, orang-orang biasa menyebutnya: berbagi pengalaman. Walau saya masih
berpikir keras untuk meringkas semua hal-hal yang terjadi menjadi tulisan yang
tidak terlalu panjang. Jadi di sinilah, di blog pribadi saya, saya akan mencoba
bercerita tentang perjalanan yang saya dan 7 orang lain alami. Tentunya cerita
versi saya sendiri, gaya bahasa dalam perspektif saya yang mungkin tidak sama
dengan teman tim saya. Terimakasih untuk mau membacanya.
NB: Foto-foto yang ditampilkan
sebagian besar diambil oleh tim dokumentasi
28 Agustus – 1 September 2013
“Across The Ocean”
the great Lambelu ship
barang bawaan kami (sumpah itu berat)
Kami
baru menaiki kapal Lambelu pukul 07.00
WIB pagi harinya namun harus menunggu 2 jam lagi untuk proses loading-unloading dan kapal baru benar
benar berjalan pukul 10.30 WIB. Sayangnya kami tidak mendapatkan tempat cukup
layak. Status “ekonomi” membuat kami harus berebut tempat bersama ratusan
penumpang ekonomi lain. Kapal yang datang dari Jakarta ini telah mengangkut
cukup banyak penumpang dan membuat kami harus “ngemper” lagi diantara
barang-barang yang tidak seharusnya berada di lorong lorong kapal. Belakangan
kami mendapat tempat di dek setelah beberapa penumpang turun di Makassar. Semua
dek kapal telah penuh, lorong-lorong juga penuh orang dan barang, bahkan hingga
ke tangga-tangga. Saya khawatir jangan-jangan kapal ini overloaded dan bisa tenggelam di laut lepas.
barang-barang yang sembarang saja diletakkan hingga ke tangga-tangga
| tempat kami sebelum akhirnya pindah ke yg lebih layak |
beranda kapal
Port of Bau-Bau, anak-anak 'memamerkan' kebolehannya mendayung
when we got bored, we sat there to enjoy the wind, and sun
Musholla, the most comfort place in the whole ship
our deck
ratusan orang yang berebut dan saling mendorong, jangan sampe jatuh ke lautan itu!
Kedatangan kami di Ambon disambut dengan gerimis dan langit yang sudah gelap. Dan karena gelap jadi kami memutuskan untuk menginap semalam di pelabuhan dan baru esok paginya berangkat ke Pulau Seram. Kami makan malam nasi padang yang enak luar biasa setelah selama ini hanya ikan mentah. Lalu mencari kamar mandi di masjid Agung. Ambon baru saja terkena bencana banjir badang. Terlihat di jalan jalan masih tersisa lumpur dan sampah yang menggenang. Beberapa orang sedang membersihkannya dengan semprotan air. Saya akhirnya mandi setelah 5 hari yang lalu tidak berani ke kamar mandi.
Kedatangan kami di Ambon disambut dengan gerimis dan langit yang sudah gelap. Dan karena gelap jadi kami memutuskan untuk menginap semalam di pelabuhan dan baru esok paginya berangkat ke Pulau Seram. Kami makan malam nasi padang yang enak luar biasa setelah selama ini hanya ikan mentah. Lalu mencari kamar mandi di masjid Agung. Ambon baru saja terkena bencana banjir badang. Terlihat di jalan jalan masih tersisa lumpur dan sampah yang menggenang. Beberapa orang sedang membersihkannya dengan semprotan air. Saya akhirnya mandi setelah 5 hari yang lalu tidak berani ke kamar mandi.
2 – 5 September 2013
“East of Indonesia”
Tidak
pernah menyangka untuk menginjakkan kaki di timur Indonesia, dengan waktu 2 jam
lebih cepat daripada di Jawa. Suasana yang berbeda, dengan wajah-wajah timur di
sekitar yang hampir susah membedakan satu sama lain. Logat yang sedikit keras.
Dan pagi ini kami langsung menaiki 2 angkot yang membawa kami ke pelabuhan
Tulehu di ujung pulau lalu naik kapal cepat menyeberang ke pulau tujuan. Hanya
ada 2 kali keberangkatan kapal cepat dalam satu hari, pukul 09.00 dan 14.00. berangkat pukul 09.20 WIT dengan tiket Rp
110.000,00 setiap orang. Laut sedang tidak bersahabat, sedikit gerimis dan
gelombang cukup membuat beberapa orang muntah di kapal itu. Saya habiskan waktu
dengan tidur dan 2 jam kemudian sampailah kami di pelabuhan Amahai. Kami begitu
mencolok dengan barang bawaan yang super banyak. Gerimis reda dan kami langsung
naik angkot menuju ibu kota Pulau, Masohi. Jalanan di Masohi begitu sepi, pasti
sangat berbeda dengan jalur mudik pantura yang saat ini masih padat merayap.
Tujuan kami di Kota Masohi adalah Mess Balai Taman Nasional Manusela. Mess ini
sebuah rumah bagi para pegawai balai yang katanya masih bujang. Namun ternyata
sepi karena semua sedang mudik.
Kebetulan
Taman Nasional juga sedang kedatangan tamu dari IPB (Himakova) dengan jumlah peserta
80 orang. Mereka sedang berkegiatan di lapangan sehingga beberapa orang TN juga
tengah menemani mereka. Di Masohi kami mempersiapkan segalanya, logistik,
konsumsi, surat izin masuk TN, transportasi, dll. Meski Masohi itu kecil, tapi
pusat kotanya tertata dengan rapih dan masih hijau. Katanya Pak Sukarno yang
merangcang tata kotanya. Siang itu kami langsung berjalan menuju Kantor Taman
Nasional Manusela untuk meberitahu tujuan kami juga mengurus simaksi. Di Kantor
kami disambut dengan hangat oleh beberapa pegawai, lalu kami mempresentasikan
secara lisan tujuan dan program-program yang akan kami lakukan selama satu
bulan lebih. Mereka heran di saat semua orang kembali ke kampung halaman kami
malah pergi menjauh menuju pedalaman yang bahkan penduduknya tidak merayakan lebaran.
Kami
berangkat menuju Masihulan,yang terletak di daerah Seram bagian utara.
Masihulan merupakan desa dimana terdapat
basecamp yang berfungsi
sebagai Pusat Informasi TN, gerbang
utama sebelum menaiki Gunung Binaiya jalur utara. Dengan menggunakan truk
tronton milik Kabaresi, dimana yang menyupir adalah tentara terlatih. Jadilah
truk berjalan rock ‘n roll di jalan
yang berkelok-kelok naik turun bukit, melintasi belantara gelap gulita karena
tidak ada lampu jalanan. Sesekali kami melihat pohon yang penuh dengan
kunang-kunang (karena waktu itu malam hari). Kami tiba di Pusat Informasi tengah
malam dan di sana sudah penuh dengan anak Himakova IPB yang baru selesai
berkegiatan. Jadi kami memang saling bergantian, mereka besok kembali ke kota
dan kami baru memulai kegiatan.
6-11 Agustus 2013
“Lumpur Jahanam”
Masih
dengan truk, esok paginya kami berangkat menuju ke halte Huaulu yang merupakan
pintu masuk jalur pendakian. Disitulah sinyal terakhir yang bisa kami akses,
dan saya berpamitan kepada keluarga saya karena sebentar lagi lebaran dan saya
tidak mungkin bisa menghubungi mereka selama sebulan ke depan. kami langsung
berjalan kaki menuju desa pertama, Huaulu, yang jaraknya sekitar 5 Km dari
halte. Awalnya jalan terasa biasa saja karena medan yang datar-datar saja.
Namun ternyata beban yang saya bawa, carrier
80 L di belakang dan daypack di
depan, semakin lama semakin terasa berat. Mungkin ini beban terberat yang
pernah saya bawa, begitu pun 2 rekan perempuan saya (karena yang laki-laki
tampak biasa saja). Khawatir terjadi kelainan pada boyok, kami bertiga
memutuskan untuk menyewa satu porter khusus untuk barang kami pada perjalanan
berikutnya. Jalanan juga agak becek karena hujan, dan kami juga harus
menyeberangi sebuah sungai yang jembatannya rusak. Mau tidak mau harus
nyemplung, untung tidak terlalu dalam.
Ketika
sampai di Desa Huaulu, semua penghuni rumah seolah melongokkan kepalanya dengan tatapan oh ada tamu dari luar. Mereka sudah terbiasa dengan kedatangan orang asing. Yang saya kagumi dari desa ini
adalah kecantikan rumah-rumahnya. Konon, meski yang paling dekat dengan kota,
Huaulu justru yang paling menjaga keaslian adat istiadatnya. Masyarakatnya
masih animisme, dan rumah-rumahnya juga begitu menarik bagi saya. Tipikal rumah
panggung dengan dinding terbuat dari pelepah sagu. Dan ketika kami singgah di
sebuah rumah yang paling besar di desa itu, beberapa bapak sedang membuat atap
dari daun sagu. Mereka bergotong royong membantu membangun sebuah rumah yang
belum beratap milik seorang keturunan Papua. Tempat kami singgah bernama
bale... Kami memesan porter dari desa Masihulan, namun karena esok harinya
porter yang kami sewa belum juga datang, kami menetap di Huaulu selama 2 hari.
Tanggal
8 yang merupakan hari besar umat muslim, kami masih di Huaulu. Dan suasana
begitu sepi karena desa ini tidak merayakan Idul Fitri. Cukup sedih, tapi
tentunya ada pemaknaan lebih berlebaran dalam situasi seperti ini. Perayaan
kami hanya sebatas maaf maafan sesama tim. Mama yang punya rumah memasakkan kami
papeda. Lalu pendakian pun dimulai kembali, tujuannya adalah camp Wasamata. Medan yang dilewati
adalah sungai, bukan sekedar menyeberangi tapi justru menyusuri lika liku
sungainya selama satu jam. Karena hari itu hujan, beberapa bagian sungai
menjadi terlalu dalam dan membuat kami harus menunggu hingga surut. Bahkan di
sungai sebelum memasuki desa Roho, debit air terlalu deras sehingga
penyeberangan menjadi lebih ekstrim. Kami membuat lifeline dari sambungan 6 webbing
untuk menyeberangi sungai karena memang tidak ada jembatan. Perjalanan ke desa kedua, Roho, yang
harusnya ditempuh 4 jam molor menjadi 6 jam.
it's Huaulu village, such a peaceful place
Huaulu people
Keberangkatan
selanjutnya adalah ke Kanikeh, desa tujuan kami. Namun karena beban yang masih
saja berat, kami tidak bisa langsung ke Kanikeh pada hari itu dan menginap
semalam di camp Wasamata. Perjalanan
dari Roho ke Wasamata bisa dibilang yang paling tidak menyenangkan. Kami harus
berjalan 8 km di medan yang datar, hutan tropis yang panas, penuh pacet dan
lumpur. Ini mimpi buruk bagi saya, karena pacet adalah hal yang paling saya hindari
ketika pendakian. Jalur yang membuat kami stress.
Jalan jalan dan jalan sampai bodoh. Tidak cukup menyenangkan dengan keparnoan
saya terhadap pacet sehingga saya memilih jalan terus ketimbang istirahat
duduk. Akhirnya sampai di camp Wasamata
dimana terdapat sebuah bangunan shelter
yang dibuat pihak TN. Wasamata adalah nama sebuah sungai jernih dan indah.
Semua sungai yang ada di sini cantik-cantik. Pada malam harinya teman saya
berburu udang di sungai ini dan hasilnya lumayan, dapat satu plastik kresek
untuk lauk.
Perjalanan
ke Kanikeh dilanjutkan esok paginya, dan yang saya ingat hanya lumpur.
Lumpurnya tiada ampun, kadang memakan sepatu, kadang kami terpeleset. Mungkin
predikat gunung paling berlumpur cocok diberikan kepada Gunung Binaiya. Lebih baik
menggunakan sepatu boot ketimbang sepatu trekking.
Berakhirnya perjalanan kami ditandai dengan sebuah jembatan mengagumkan terbuat
dari bambu. Jembatan ini menyeberangi sungai Huaule, sungai yang menghidupi
Desa Kanikeh. Jembatan itu bukti kearifan lokal terhadap bahan bahan alam
terutama bambu super besar, dan seolah didukung alam semesta dengan perkuatan
pohon besar yang saling berseberangan. Tali-tali rotan yang mengikat di setiap
sambungannya. Hmm, teman-teman arsitek saya pasti akan mengaguminya jika mereka
sempat melihat.
amazing bridge made from bamboo
Akhirnya
sampai di Kanikeh pada sore hari yang rintik, dengan semua pandangan masyarakat
tertuju pada kami dan kami sudah terbiasa dengan tatapan itu. Kanikeh juga
tidak kalah mengagumkan dari 2 desa sebelumnya, hamparan rumput yang lebih
luas, dan diapit dua gunung di selatan dan utara. Jumlah rumah disini lebih
banyak, sekitar 54 unit dengan berbagai macam tipe. Di ketinggian 600 mdpl,
udaranya cukup membuat kami menggigil sore itu dengan baju kami yang basah dan
kotor oleh lumpur. Desa Kanikeh yang normalnya ditempuh dalam waktu 3 hari dari
halte, menjadi 5 hari karena satu dan lain hal. Dan disinilah akhirnya kami
akan berkegiatan selama 3 minggu.
Kanikeh Village
Childern of Kanikeh
Ps: Untuk membaca bagian selanjutnya ada di link berikut:
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 2)
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 3)
Catatan Perjalanan Ekspedisi Binaiya, Pulau Seram (bagian 3)
Langganan:
Postingan (Atom)





